190. Buka
*Kuhung!*
Manticore yang terkena hantaman itu mengeluarkan jeritan monster yang memekakkan telinga.
Binatang buas itu, yang sempat mundur seolah hendak melarikan diri, kembali menghentakkan kakinya ke tanah.
Tubuhnya yang besar melesat maju, membelah udara laksana angin ribut.
*Hwang!*
Cakarnya mencabik udara kosong.
Audin menggeser posisi kakinya dalam sekejap untuk mengubah kuda-kudanya, lalu mengayunkan tangannya.
Lebih tepatnya, ia menampar pipi manticore itu dengan telapak tangannya.
Sabetan cakar depan manticore di udara dan tamparan keras di pipinya terjadi hampir bersamaan.
Begitu cepatnya pertukaran serangan tersebut.
Telapak tangan Audin sendiri sudah seperti senjata mematikan, tetapi manticore adalah monster tingkat tinggi yang tangguh.
Kepalanya tersentak ke samping akibat tamparan itu, tetapi ia tetap bertahan pada posisinya dan kembali mengayunkan cakar depannya.
Audin mundur selangkah kecil, menghindari cakar itu sekali lagi.
*Kuhuhuhung!*
Raungan kemarahan manticore membelah kesunyian malam.
“Ugh.”
Rombongan prajurit kembali mengerang di bawah tekanan aura intimidasi khas monster tingkat tinggi.
Dan monster yang baru saja mengeluarkan jeritan yang mendominasi sekelilingnya itu...
*Plak!*
“Mau pergi ke mana kau?”
...kembali ditampar oleh Audin.
Kali ini, tamparannya jauh lebih keras dari sebelumnya.
Darah biru pekat mengalir dari sudut mulut binatang buas itu.
*Tetes*—setitik darah jatuh ke tanah.
“Hm.”
“Ehem.”
“Itu, anu...”
Para prajurit bergumam tanpa sadar.
Pemandangan itu benar-benar membuat mereka syok.
Hal itu bahkan cukup untuk meluluhkan rasa kaku yang sempat melumpuhkan tubuh mereka.
Mana ada orang waras yang menampar pipi monster hingga babak belur seperti itu?
Apakah harga dirinya terluka?
Sambil mengabaikan rasa sakit di wajahnya, manticore itu merendahkan tubuhnya.
Kemudian ia menerjang lagi, kali ini dua kali lebih cepat dari sebelumnya.
Serangannya pun tidak lagi sederhana.
Ia mengayunkan cakar depannya sembari memecutkan ekornya dari belakang.
Ekornya menyambar turun dari atas laksana sambaran petir.
Tubuh Audin pun bergerak sangat cepat hingga meninggalkan bayangan samar.
*Wwoong!*
Sekali lagi, cakar depan itu melesat.
Kemudian, dibarengi suara pecutan nyaring, ekor kalajengkingnya juga menusuk udara kosong.
Di tengah celah itu, Audin dengan sigap kembali melayangkan tangannya.
*Plak!*
Suara macam apa itu sebenarnya?
Encrid berdecak dalam hati.
Ia telah menyaksikan seluruh pertarungan itu dari awal.
Ia tidak melewatkan satu detail pun.
Jika awalnya pertarungan itu menyerupai teknik ilmu pedang tingkat tinggi, sekarang semuanya tidak lebih dari sekadar aksi tampar-menampar pipi yang sederhana.
Ini pasti pertama kalinya bagi manticore itu bertemu dengan lawan yang melampaui kemampuan fisik dan kecepatannya sendiri.
*Aku pun pasti akan kebingungan jika berada di posisi manticore itu.*
Binatang buas itu tampaknya memang kebingungan, terlihat dari kepalanya yang miring ke satu sisi.
Isi kepalanya pasti terguncang hebat akibat tamparan beruntun tersebut.
Namun, kilatan niat membunuh yang pekat kembali berkobar di matanya.
“Seekor monster memang seharusnya bersikap seperti monster. Kitab Suci mengatakan bahwa memiliki keyakinan yang berbeda dan menempuh jalan yang sesat adalah dua hal yang berbeda.”
Audin bergumam seraya melambaikan jarinya, memberi isyarat agar monster itu maju.
Pria bertubuh raksasa laksana beruang itu mempermainkan manticore dengan begitu mudahnya.
*Kuhung!*
Manticore itu menerjang maju.
*Plak!*
Dan tamparan pun mendarat di wajahnya.
Pukulan yang biasa saja sudah cukup untuk membuat kepalanya tersentak ke samping.
Hantaman yang lebih keras akan mementalkan seluruh tubuhnya ke samping.
*Gubrak, gubrak!*
Melihat monster itu terguling-guling di lantai lorong beratap layaknya kerikil yang dilemparkan ke permukaan air namun gagal memantul, siapa yang akan percaya bahwa makhluk itu adalah monster tingkat tinggi yang menjadi teror bagi para prajurit, rajanya para monster, seekor manticore?
Saat ia mengayunkan tangannya, Audin teringat kembali akan masa-masa yang telah lama berlalu.
Monster, binatang buas, para penganut sekte sesat.
Hari-hari yang ia habiskan untuk menghajar makhluk-makhluk semacam itu.
Ia memiliki banyak sekali pengalaman dalam hal ini.
Terutama dalam menghadapi monster-monster tingkat tinggi.
Wajah manticore yang terus-menerus menerjang maju meski berulang kali ditampar itu kini mulai membengkak.
Beberapa giginya yang patah menggelinding di lantai.
Rasanya sudah hampir tiba waktunya untuk mulai merasa kasihan pada makhluk malang itu.
Encrid merasakan adanya sedikit keributan di bagian bawah.
Lebih tepatnya, ia mendengar suara erangan samar dan melihat bayangan yang berkelebat di bawah sana.
“Seperminya kita kedatangan tamu di bawah, aku akan turun duluan.”
Kata Encrid.
“Silakan, Kakak.”
Audin bahkan sempat menoleh dan melemparkan senyuman yang lembut.
Melihat hal itu sebagai celah, manticore langsung menerjang maju.
Kali ini, serangannya berupa tiga kombinasi beruntun.
Setelah cakar depan, ekornya menyusul, dan yang terakhir adalah lidahnya yang menjulur panjang bagaikan ular.
Audin memutar tubuhnya untuk menghindari cakar depan, menepis bagian tengah ekor monster dengan punggung tangannya untuk mengalihkan arah serangan, dan membiarkan saja lidah yang menjulur hendak melilit lehernya.
“Tuhan berfirman bahwa ada dosa-dosa yang tidak bisa diampuni.”
Ucap Audin, sambil mengabaikan lidah yang mengarah padanya dan mengayunkan tangannya.
Dalam pertarungan jarak dekat, binatang buas atau monsterlah yang selalu berada di atas angin.
Para prajurit yang menyaksikan pertarungan itu selalu diajarkan demikian selama ini.
Lalu, pemandangan apa yang sedang mereka saksikan sekarang?
*Plakkk!*
Suara tamparan yang jauh lebih nyaring dan tajam dari sebelum-sebelumnya bergema keras.
Sabi sisi wajah manticore itu langsung amblas akibat tamparan tersebut.
Sebuah pencapaian luar biasa yang dilakukan murni hanya dengan telapak tangannya.
Para prajurit yang menyaksikannya seketika merasa ingin buang air kecil.
Monster memang menakutkan, binatang buas juga mengerikan, tetapi hal yang paling mengerikan saat ini adalah pria yang tersenyum dengan wajah penuh kebajikan tersebut.
“Kembalilah kepada Tuhan, dan hapuslah dosa-dosa yang menodai tubuhmu. Aku akan membasuh dan membersihkan jiwamu yang terkotori oleh kekotoran. Dengan demikian, kau akan memohon dan terus memohon ampunan atas dosa-dosamu.”
Nada bicaranya terdengar sangat damai.
Begitu pula dengan senyumannya.
Namun, bagaimana dengan tindakannya?
“Sepertinya aku baru saja mengompol.”
Seorang prajurit di sampingnya bergumam lirih.
Semua prajurit yang menonton memiliki perasaan yang sama.
Setelah menyaksikan pertarungan itu hingga wajah manticore itu amblas, Encrid menepuk bahu prajurit di dekatnya sesaat sebelum melangkah turun.
“Kau bau pesing.”
Setelah mengatakan itu, ia berjalan turun dari lorong beratap.
Ia menuruni anak tangga dengan sangat cepat, seolah-olah sedang menendangnya, dan melihat seorang prajurit sedang mondar-mandir di depan pintu samping kecil yang dibangun di sebelah gerbang utama di bawah sana.
Ia tidak mengenali wajah orang itu, tetapi seragam yang dikenakannya adalah seragam tentara reguler Penjaga Perbatasan.
Ia melihat pria itu meletakkan tangannya di atas grendel pintu samping tersebut.
Di sebelah pintu samping, ia juga melihat seorang prajurit yang terkapar di tanah, bersandar pada dinding benteng.
Cairan merah tua mengalir keluar dari tubuhnya yang setengah terkulai.
Saat ia mempercepat langkahnya untuk mendekat, pria yang tangannya berada di atas grendel pintu itu langsung menolehkan kepalanya dengan cepat.
Encrid mengabaikan tatapan mata pria itu dan langsung memeriksa prajurit yang terkapar di tanah.
Ia sudah bisa mengukur tingkat kemampuan lawannya dalam sekali pandang, jadi tidak akan menjadi masalah meskipun pria di belakangnya mencoba menyerang bagian belakang kepalanya.
Itu adalah rasa percaya diri yang lahir dari penilaian yang matang.
Saat ia memeriksa luka prajurit tersebut...
*Lukanya tidak terlalu dalam.*
Tidak sampai merenggut nyawanya.
Jika ia memiliki sedikit ketabahan, ia bahkan mungkin masih sanggup berjalan.
Tentu saja, itu karena standar yang dimiliki Encrid terlalu tinggi.
Prajurit yang terluka itu merasa seolah ajal sudah menjemputnya.
Rasanya sangat sakit.
Memang aneh jika tidak sakit, mengingat ada lubang menganga di perutnya.
“Kau kelihatannya masih bisa berjalan.”
Kata Encrid.
Ia sedang membungkuk.
Punggungnya terbuka lebar tanpa perlindungan.
Prajurit yang memegang grendel pintu itu tampak ragu-ragu.
*Apakah aku harus membuka gerbangnya? Atau, mungkin sebaiknya aku menusuknya sekarang juga?*
Postur tubuh Encrid yang terbuka mengundang keraguan itu.
Ia tahu betul bahwa lawannya adalah Pemimpin Pasukan Pemikat yang terkenal, tetapi...
Pada saat itu, Encrid membantu prajurit yang terluka untuk berdiri.
“Ugh, sakit... sakit sekali! Perutku ditusuk. Kubilang ini sakit sekali!”
“Kelihatannya kau masih bisa berjalan dengan baik.”
“Tidak, aku tidak bisa berjalan. Kalau aku mati, tolong beri tahu adik perempuanku ada sebuah kantong di bawah tempat tidurku...”
“Kau tidak akan mati.”
Encrid memotong ucapannya.
Orang ini benar-benar cengeng.
Bukannya ia sendiri sudah berulang kali mengalami kematian yang mengerikan selama ini?
Meskipun itu bukan jenis luka yang bisa sembuh hanya dengan diolesi air liur, luka itu juga tidak cukup parah hingga bisa menyebabkan kematian.
Ia merobek paksa sepotong kain dari lengan baju prajurit itu dan membalut lukanya, yang sedikit banyak berhasil menghentikan pendarahan.
“Ugh!”
Saat ia menekan luka itu, mata prajurit tersebut membelalak seolah hendak melayangkan protes, jadi Encrid mendorongnya dengan pelan agar ia bersandar pada dinding benteng.
“Jika kau tidak bisa berjalan, kau punya peluit, kan? Ya, itu. Awasi keadaan sekitar dan tiup peluit itu jika situasi memburuk.”
Tepat setelah selesai berbicara, Encrid membalikkan badannya.
Prajurit yang satu tangannya memegang grendel dan tangan lainnya memegang gagang belati itu langsung tersentak kaku.
Ia masih dilingkupi keraguan.
Rumor mengenai pencapaian luar biasa dari Pemimpin Pasukan Pemikat menahan tangannya untuk tidak bertindak gegabah.
Bukankah pria di hadapannya ini sudah seperti pahlawan di medan perang?
Meskipun ia tidak mengetahui secara detail mengenai insiden sarang Gnoll baru-baru ini, reputasi yang telah dibangun pria itu hingga kini memperjelas bahwa ia adalah sosok yang sangat berbahaya.
Meskipun demikian, pria itu mungkin tidak akan sanggup menghadapi sepuluh anggota Pedang Hitam (*Black Blade*) yang sedang menunggu di luar benteng.
Mana mungkin satu orang bisa melawan sepuluh orang sekaligus.
Terlebih lagi, mereka yang sedang menunggu di luar adalah para pembunuh bayaran yang sangat berpengalaman.
Hal itu sangat wajar.
Pedang Hitam datang atas permintaan Vansento, dan tujuan mereka sudah sangat jelas.
Di wilayah-wilayah ini, pertempuran yang sesungguhnya dimenangkan oleh sekelompok kecil pasukan elite.
Itu adalah sebuah ancaman, sebuah tekanan yang dilancarkan oleh kekuatan elite yang berjumlah sedikit tersebut.
Ini bukan hanya tentang jumlah sepuluh orang; fakta bahwa mereka hanya mengirimkan sepuluh orang menunjukkan betapa hebatnya kemampuan yang mereka miliki.
Tentu saja, mereka akan memastikan tidak ada yang mengetahui bahwa ini adalah ulah dari Pedang Hitam.
Mereka harus melakukannya.
Setelah memicu keributan, bagaimana jika mereka berdalih bahwa jumlah prajurit yang ada tidak cukup untuk mempertahankan wilayah ini?
Dan bagaimana jika mereka menambahkan informasi intelijen bahwa wilayah tetangga yang cukup mengancam, Martai, berada di ambang memicu perang antar-kota?
Mereka tidak akan memiliki pilihan lain selain meminta bantuan kepada kelompok Pedang Hitam.
Komando pusat kerajaan tidak akan memiliki pasukan bantuan untuk dikirim, karena mereka sedang sibuk menangani monster-monster yang bermunculan di wilayah selatan.
Pedang Hitam adalah kelompok bandit, tetapi Martai pun tidak ada bedanya dengan mereka.
Mereka adalah sebuah kota yang dibentuk oleh para tentara bayaran dari garis depan timur.
Tentara bayaran pada umumnya diperlakukan sebagaimana mestinya, tetapi tentara bayaran dari garis depan timur dikenal sangat kejam dan liar.
Ini sama saja seperti memasukkan harimau ke dalam rumah untuk mengusir serigala, tetapi mereka sengaja menyudutkan benteng ini ke dalam situasi di mana tidak ada pilihan lain yang tersedia.
Mereka sedang berada di tengah-tengah menjalankan persiapan tersebut secara metodis.
Mereka juga telah membujuk beberapa orang dalam benteng untuk memihak mereka secara rahasia.
Ini adalah rencana Vansento.
Rencana itu dimulai dengan membiarkan orang-orang yang menunggu di luar untuk masuk, jadi inilah langkah pertamanya.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
Prajurit yang sedang berkeringat dingin karena pikirannya yang rumit—bukan, mata-mata yang menyamar sebagai prajurit.
Mendengar pertanyaan Encrid, ia menelan ludahnya dengan susah payah.
Misinya adalah membuka gerbang pintu samping.
Untuk membiarkan para petarung Pedang Hitam yang menunggu di luar masuk ke dalam.
Ia baru saja menancapkan pisau ke perut seorang prajurit dan hendak membuka pintu ketika Encrid tiba-tiba turun.
Pria itu seharusnya tidak ditugaskan untuk patroli malam seperti ini, tetapi ia malah muncul entah dari mana.
Beberapa bulan telah berlalu sejak mata-mata itu mulai menyusup di kalangan Penjaga Perbatasan.
Mata-mata itu mengenal Encrid.
Ia menelan ludah lagi, seluruh ototnya terasa kaku hingga tidak bisa digerakkan sedikit pun.
Jika ada langkah yang salah, ia akan tewas dalam sekejap mata.
Mata-mata itu sadar betul bahwa ia tidak akan mampu menghadapi pria itu dengan kemampuannya sendiri.
Ia bukanlah orang yang memiliki semangat pengorbanan yang tinggi hanya demi membuka sebuah pintu gerbang.
*Seharusnya aku membuka pintunya dan langsung melarikan diri tadi.*
Keputusannya terlalu lambat.
Ia telah kehilangan kesempatan emasnya karena terlalu lama bertanya-tanya apakah pria bernama Encrid ini sedang berpura-pura lengah untuk menjebaknya.
Matanya melirik ke sana-sini, mencari jalan untuk melarikan diri.
Encrid melirik pria itu dengan santai dan langsung memahami situasi yang terjadi.
Lebih dari segalanya, ia bisa merasakan kehadiran beberapa orang di luar pintu gerbang.
Indranya yang tajam, berpadu dengan intuisinya, membisikkan sesuatu kepadanya.
*Buka gerbangnya.*
*Biarkan musuh masuk.*
Apa tujuannya? Memicu kerusuhan? Atau ada hal lain?
Ia tidak akan pernah mengetahuinya sebelum menghadapi mereka secara langsung.
Prajurit yang ditusuk itu tampaknya juga tidak mengalami luka yang mematikan.
Setelah menyelesaikan analisis dan perhitungan kasarnya dalam hati, Encrid pun bersuara.
“Buka.”
Mendengar perintah itu, sang mata-mata langsung tampak sangat kebingungan.
Ia mengedipkan matanya berulang kali, dan kedua tangannya mulai gemetar.
Ia terlihat sangat terkejut.
“... Hah?”
“Kukatakan, buka pintu gerbangnya.”
Itu adalah keputusan yang mendekati intuisi, sebuah penilaian yang didasarkan pada pengalaman dan kepekaan indra yang telah ia kumpulkan selama ini.
Kalaupun ia membiarkan mereka, orang-orang yang menunggu di luar pasti akan menemukan jalan lain untuk menyusup ke dalam benteng.
Memburu mereka setelah menyusup ke berbagai sudut benteng justru akan jauh lebih merepotkan.
Lonceng alarm akan berdentang keras, dan jika tujuan mereka adalah memicu kerusuhan, mereka pasti akan mengambil tindakan semacam itu.
Untuk saat ini keadaan masih sunyi senyap, dan situasi ini terjadi saat ia sedang patroli, jadi semuanya masih bisa diatasi dengan penanganan yang tepat.
Lagipula, jika situasi memburuk, ia tinggal meniup peluit saja, bukan?
Ini adalah wilayah Penjaga Perbatasan, dan Encrid datang bersama Audin.
Dan apa yang akan terjadi jika peluit ditiup di tempat ini?
*Wouldn't Rem come running out excitedly?* -> *Bukankah Rem pasti akan berlari keluar dengan penuh semangat?*
Pria itu tampak sangat frustrasi akhir-akhir ini.
Tentu saja, lebih dari segalanya, Encrid memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
Siapa pun atau apa pun jenis lawan yang dihadapinya, ia merasa cukup yakin bisa mengatasinya sendiri.
Apakah itu hanya rasa percaya diri yang omong kosong?
Tidak. Itu adalah keyakinan yang ia peroleh setelah bertarung dengan ratusan gnoll, berpadu dengan Indra Penghindaran miliknya.
“... Hah?”
Suara linglung itu kembali terdengar dari mulut sang mata-mata.
Mata-mata itu benar-benar dibuat bingung setengah mati.
Encrid melangkah maju dengan berani, begitu cepat hingga lawannya tidak sempat bereaksi.
Mata-mata itu secara refleks mengangkat grendel pintu.
Kemudian, ia mendorong pintu gerbang hingga terbuka lebar dan melemparkan tubuhnya ke arah yang berlawanan.
Dengan suara deburan keras, pintu samping itu berayun terbuka akibat dorongan kasarnya.
Mata-mata itu berniat untuk melarikan diri sejauh mungkin.
Ia memutar tubuhnya untuk kabur, tetapi...
Encrid, yang terus mengamatinya, mengayunkan tangannya ke udara.
Itu terlihat seperti sebuah gerakan tanpa arti yang sepele.
Setidaknya begitulah yang terlihat di mata sang mata-mata, namun dengan suara desingan nyaring, sebilah belati lempar meluncur di udara dan menancap telak di bagian belakang pahanya.
“Akh!”
Sebuah teriakan singkat yang tertahan.
Teriakan seperti itu cepat atau lambat pasti akan memancing kedatangan penjaga lain di sekitar area benteng.
Melalui pintu gerbang yang sedikit terbuka, sepasang mata yang sedari tadi menunggu di luar mulai terlihat.
Jumlah mereka tidak sedikit.
Namun, mereka juga bukan pasukan dalam jumlah besar.
Encrid melangkah mendekati pintu gerbang, mencabut pedangnya, lalu menerobos keluar.
Dengan satu tikaman pedangnya yang terarah, orang-orang yang berjaga di depan langsung mundur selangkah, dan melalui celah itu, ia melangkah keluar dari benteng.
Setelah berada di luar, Encrid menghitung jumlah mereka dengan tatapan matanya.
Jumlahnya tepat sepuluh orang.
“... Benar-benar keparat gila.”
Seorang pria yang mengenakan pakaian serbahitam dari ujung kepala hingga ujung kaki angkat bicara.
Encrid mengamati wajah pria itu di bawah siraman cahaya rembulan.
Yah, itu adalah wajah asing yang sama sekali tidak ia kenal.
Salah satu dari mereka mengangkat sudut matanya dengan tajam.
Di barisan belakang, tampak seorang wanita dengan rambut putih yang sangat mencolok.
Telinganya menyerupai telinga binatang buas, menunjukkan bahwa ia adalah seorang manusia binatang (*beastman*).
“Kau sengaja keluar padahal kau tahu kami sedang menunggu di sini, kan?”
Encrid mengangkat bahunya santai.
Itu adalah isyarat tubuh yang seolah berkata, 'pikirkan saja sendiri jawabannya.'
“Pria gila keparat.”
Pria yang berbicara pertama kali kembali mengumpat kasar.
*Sssreung.*
Salah satu pria berbaju hitam mencabut sebilah pedang pendek lalu menerjang maju dengan cepat.
Itu adalah serangan yang benar-benar tanpa kehadiran hawa keberadaan sama sekali.
Langkah kaki dan mata pedang yang terhunus itu mendekat hampir dalam satu kedipan mata saja.
Kecepatannya sungguh luar biasa.
*Wussh*—mata pedang itu menebas udara malam yang tadinya sunyi senyap hingga beberapa saat yang lalu.
Serangan itu sangat cepat, dan dipenuhi dengan niat membunuh yang pekat.
Meskipun cepat, jalurnya masih tergolong sederhana.
Encrid mengayunkan pedangnya ke atas dari arah bawah.
*Trang!*
Setelah menepis pedang pendek lawannya, ia menarik kembali pedangnya ke bawah dan bersiap mengambil posisi tebasan diagonal ke atas lagi, sementara lawannya menggeser kaki ke arah yang berlawanan.
Alih-alih melanjutkan tebasan ke atas, Encrid mengayunkan bilah pedangnya dengan santai, membentuk apa yang terlihat seperti dua lingkaran yang saling berpotongan di udara.
Setelah mengubah posisi pedangnya seperti itu, ia langsung beralih to gerakan tebasan ke bawah dengan tempo satu tingkat lebih cepat.
Lebih tepatnya, itu adalah teknik tebasan spiral, salah satu jurus dari gaya ilmu pedang baru yang baru-baru ini ia pelajari.
“Uh!”
Pria yang terkejut itu mengangkat pedang pendeknya untuk menahan serangan, tetapi sejak awal sudah ada perbedaan bobot yang besar di antara senjata mereka.
*Krang, krak!*
Encrid menekan lawannya dengan kekuatan penuh, menghancurkan pertahanan pedang pria itu dan menebasnya jatuh.
“*Kkeureok!*”
Bagian tumpul belakang dari pedang pendek pria itu sendiri malah menancap masuk ke dada pemiliknya sendiri.
*Itu baru satu.*
Setelah berhasil mengurangi jumlah musuh dalam satu gerakan sederhana, ia mengarahkan ujung pedangnya ke langit malam ke arah rembulan dan bersiap mengambil kuda-kuda.
“Serang bersama-sama. Jika kalian maju satu demi satu, kalian semua akan mati konyol.”
Wanita manusia binatang yang tampaknya merupakan pemimpin dari kelompok itu angkat bicara.
Ketegangan yang jelas terdengar dari nada bicaranya.
Bagi siapa pun yang melihatnya, Encrid tampak seperti seorang petarung dengan keahlian yang luar biasa tinggi.
Encrid mengukur kemampuan para lawannya yang tersisa.
Kemudian, ia tiba-tiba menyadari satu hal.
*Aku tidak hanya harus bertahan saja.*
Di masa lalu, ia pasti tidak akan berani melangkah maju seperti ini secara gegabah.
Ia pasti akan memutar otaknya terlebih dahulu untuk menemukan cara agar bisa bertahan hidup.
Namun, sekarang?
Aura dari orang-orang yang berdiri di hadapannya saat ini memang luar biasa kuat.
Tetapi, apakah ini pertarungan yang mustahil untuk dimenangkan?
Tidak ada satu pun pemikiran pesimistis semacam itu yang melintas di benaknya, karena itulah Encrid tidak berniat mundur selangkah pun.










