Eternally Regressing Knight

Bab 359: Jaxon Benzens.

2456 Kata

Bab 359: Jaxon Benzens.

“Masalah terbesar di ibu kota saat ini adalah faksi-faksi bangsawan. Kelompok-kelompok yang dulunya cuma saling sikut, sekarang malah terang-terangan bersiap perang,” Andrew membeberkan apa yang diketahuinya, yang kemudian dirangkai oleh Encrid dengan penuturan Rem sebelumnya.

“Nggak ada barang bagus sama sekali. Semua pedagang kayak cuma jualan barang rongsokan.”

Itulah keluhan Rem setelah berkeliling di pasar ibu kota. Pasarnya memang ramai dan barangnya melimpah, tetapi begitu ia berniat membeli sesuatu, jawaban para pedagang selalu sama: *“Waduh, nggak bisa, Mas. Barang ini sudah dipesan sama klan bangsawan Anu.”*

Senjata dan pasokan makanan ditimbun seolah-olah dipersiapkan sebagai logistik perang. Peredaran komoditas terhenti total.

Apa artinya itu?

‘Pasti faksi-faksi bangsawan itu menyiagakan pasukan mereka tak jauh dari ibu kota.’

Padahal pergerakan pasukan itu terjadi tanpa persetujuan Ratu. Mereka sengaja mengawasi situasi dari dalam ibu kota, siap memanggil pasukan begitu keadaan memburuk.

“Bahkan Pasukan Pengawal Kerajaan (*Royal Guard*) saja sekarang pecah jadi beberapa kubu. Gara-gara ini, banyak hal aneh terjadi.”

“Hal aneh?”

Encrid punya kebiasaan mengulang kata-kata terakhir lawan bicaranya dengan nada bertanya. Itu adalah caranya menunjukkan bahwa ia menyimak dengan sungguh-sungguh—sebuah bentuk penghormatan bagi si pembicara.

Andrew melanjutkannya tanpa jeda, “Ya, hal-hal aneh. Mereka saling membunuh diam-diam, lalu orang yang mengaku Inkuisitor tiba-tiba datang menangkap siapa saja sambil menuduh mereka sesat. Belakangan ini, malah sering terdengar suara raungan binatang di malam hari, dan ada saja warga yang mendadak hilang setiap beberapa hari sekali.”

“Padahal ini ibu kota.”

“Tepat sekali! Ini ibu kota. Aku paham kok, kota ini besar. Memang wajar kalau ada yang hilang di kota sekompleks ini. Tapi jumlahnya belakangan ini sudah di luar nalar! Anehnya, tak ada satu pun komandan yang mau mengusut pembunuhan atau kasus-kasus orang hilang itu. Para kapten penjaga gerbang kota kabarnya mencoba bertindak, tapi apa yang bisa mereka lakukan kalau tangan mereka diikat rapat-rapat?”

Encrid bersedekap dada.

Melintasi meja tua di antara mereka, ia bisa melihat wajah Andrew yang memerah gusar. Ini memang bukan topik yang bisa dibahas dengan kepala dingin.

Melihat raut gusar itu, Encrid pun bertanya, “Dan di tengah kekacauan seperti ini, seorang anggota keluarga kerajaan malah nekat datang ke sini?”

“Itu sama saja menyiram minyak ke dalam api! Kedatangannya justru jadi pemicu bagi para bangsawan faksi yang tadinya cuma mengamati untuk menyambar pedang mereka. Bukan berarti kami tidak tahu maksudnya. Dia bilang ingin menghentikan perang antar faksi, makanya dia masuk ke ibu kota.”

Menghentikan perang faksi? Pertanyaan alami pun mencuat di benak Encrid:

“Gimana caranya?”

Ia cuma penasaran metode apa yang akan dipakai Krang.

Andrew mengangkat kedua tangan lalu menaikkan bahunya tidak tahu, “Mana aku tahu caranya.”

Urusan Krang ya biar diurus Krang sendiri. Lalu, apa yang harus ia lakukan? Apa hal yang paling diincarnya saat memutuskan datang ke ibu kota?

‘Masa aku harus pergi dari sini tanpa sempat bertanding lawan satu anggota Ordo Ksatria pun?’

Kesempatan bertarung, kesempatan berlatih, kesempatan untuk membuka matanya lebih lebar lagi—cuma itu yang diinginkannya.

Mendengar penuturan Andrew tenang-tenang, Encrid merasa kartu-kartu rahasia milik para bangsawan faksi pun akan segera muncul ke permukaan. Mereka pasti akan datang mencari pertarungan, bertarung dengan mempertaruhkan nyawa. Pikiran itu membuat antusiasmenya membara. Seperti yang disadarinya saat mengajari murid-murid latihan, pasti ada peluang-peluang baru jika ia melangkah masuk ke dalam istana kerajaan.

Ketika pikiran rumit tidak menemukan jawaban, terkadang hal terbaik adalah mengikuti kata hati. Dan Encrid memutuskan untuk melakukan itu: berdiri di samping kawan yang disukainya sambil menarikan pedangnya.

Apakah ini keputusan impulsif?

“Pikirin apa sih sampai serius gitu?” tanya Rem dari samping.

Pria ini tipe yang bakal ikut saja ke mana pun keputusan Encrid mengarah.

“Lagi mikir, apa aku tebas saja kepala Ratu terus jadi bangsawan faksi sendiri ya?” gumam Encrid asal jeplak.

“Hah? Kau mau ngajak perang? Bagus! Mantap!”

Tampaknya si gila Rem ini cuma menangkap kata 'perang' dari gurauan asal-asalan Encrid. Khas Rem banget.

“Kau tadi ngomong apa...?”

“Cuma bercanda kok,” sahut Encrid menenangkan Andrew yang sempat jantungan.

Tepat saat ia merapikan rencana di kepalanya, Encrid merasakan hawa dingin yang mengusap punggungnya. Secara alami ia memutar tubuhnya.

Di sudut ruang tamu, bersandar pada pilar dan separuh tersembunyi di balik bayangan, berdiri Jaxon.

“Hei, mau jalan-jalan sebentar?”

Melihat sorot matanya, sepertinya Jaxon bakal berbuat ulah kalau dibiarkan sendirian. Di mana Encrid pernah melihat sorot mata seperti itu? Itu adalah tatapan ketika emosi Jaxon dan Rem mencapai puncaknya, tepat sebelum mereka menghunus pedang. Dengan kata lain, Jaxon saat ini sedang dalam mode siap bertarung.

Kenapa tiba-tiba? Apa Jaxon diserang seseorang juga?

Tidak, alasannya berbeda. Encrid bisa merasakannya secara insting.

‘Dia pernah bilang harus pergi ke istana kerajaan.’

Pasti karena itu.

“Ayo,” jawab Jaxon lalu mulai melangkah ke luar.

Entah cuma perasaannya saja atau memang pria itu sedang menahan semacam dorongan emosi.

“Tuh anak habis minum obat terlarang apa gimana sih?” gumam Rem heran.

“Aku keluar sebentar,” ujar Encrid lalu menyusul Jaxon.

***

Mereka melangkah keluar dari kediaman dan berjalan menyusuri kegelapan. Angin berhembus pelan, menerbangkan helai-helai rambut mereka. Tak lama kemudian, keduanya berjalan berdampingan.

Encrid mengangguk-angguk pelan sambil menatap pendaran cahaya bulan, bintang-bintang, dan nyala obor dari kejauhan. Mereka berjalan menyusuri tembok luar kediaman di atas rute jalan malam yang sunyi.

“Ada sesuatu yang harus kuselesaikan,” Jaxon membuka suara lebih dulu.

“Mm, oke.” Encrid mengangguk. Apa pun itu, Jaxon pasti bakal membereskannya sendiri.

“Untuk menyelesaikannya, aku harus melakukan sesuatu, tapi aku agak ragu karena ini bakal cukup merepotkan.”

“Ragu?”

Kata itu rasanya kurang cocok untuk pria seperti Jaxon. Encrid merenung sejenak. Ia ikut keluar karena merasa Jaxon punya sesuatu yang ingin disampaikan, tapi apa ada yang bisa ia bantu?

“Aku harus membunuh seseorang,” ujar Jaxon.

Benar juga, sudah kuduga. Melihat hawa yang terpancar dari tubuhnya saat ini, hal itu semakin jelas. Lalu, apa yang harus ia katakan?

Setelah berpikir sejenak, Encrid berkata, “Semoga berhasil.”

Jaxon bukan tipe orang yang bakal minta bantuan sejak awal—dia pasti membereskan sebagian besar masalahnya sendiri. Jadi, jawaban itu sudah paling pas.

Encrid mengangguk lalu menepuk-nepuk bahu Jaxon beberapa kali.

Merasakan sorot mata Jaxon terlihat lebih tenang dari sebelumnya, Encrid pun berbalik niat kembali ke dalam. Melihat itu, langkah Jaxon terhenti. Ia menatap punggung kaptennya—punggung yang melangkah maju membelah pendaran cahaya bulan dan bintang.

‘Memang dasar orang tidak normal.’ Pikiran itu mencuat lagi di benaknya. *Dia malah menyemangatiku di saat seperti ini? Karena dia percaya padaku? Rasa percaya? Keyakinan? Apa itu alasannya?*

Keraguan kembali membayang di sepasang mata Jaxon.

Encrid melangkah sambil merenung: kalau Rem dan Ragna bikin ulah, masalahnya bakal jadi kehebohan publik. Tapi Jaxon berbeda. Bukan tanpa alasan anggota tim lain memanggilnya *kucing liar licik*. Jaxon akan melakukan apa yang harus dilakukannya secara sunyi dan tersembunyi.

Saat Encrid baru saja melangkah balik...

“Ini soal musuh lamaku, dan ini soal balas dendam,” ujar Jaxon. Suaranya tidak terlalu keras tapi pas terdengar di telinga Encrid.

“Apa?” Encrid memutar tubuhnya. Ia adalah orang yang selalu mendengarkan cerita siapa saja dengan baik—hal yang sama berlaku kali ini.

Encrid berbalik sepenuhnya lalu duduk di atas dua buah batu di samping tembok. Ia mengeluarkan sepotong daging kering berbumbu dari kantongnya, lalu mengambil tempat minum kulit dari pinggangnya.

Entah ini persiapan matang atau kebetulan, tempat minum itu beraroma alkohol—bukan manis seperti cider, melainkan brandy keras.

Jaxon mengambil tempat minum kulit itu lalu meneguknya sedikit. Saat cairan panas itu tertelan, rasa hangat membakar menjalar dari perutnya sampai ke tenggorokan. Alkohol kadar tinggi.

Tentu saja Jaxon tidak akan mabuk. Ia sudah mengunyah tanaman beracun sejak kecil demi melatih daya tahan tubuhnya. Tubuh yang sanggup menahan racun tidak akan mudah tewas mabuk oleh alkohol.

Ia mendadak teringat masa-masa ketika mengunyah dan menelan tanaman beracun demi bertahan hidup. Apa dorongan utama yang membuatnya sanggup bertahan dari semua siksaan itu?

Kematian adalah awal mulanya: kematian keluarganya, orang tuanya, dan semua orang yang dikenalnya. Ia melihat kematian dan menjadikan kematian sebagai senjata—itulah jalan hidup yang ditempuh olehnya.

Encrid mengambil kembali tempat minum kulit itu, meneguknya sekali, lalu bertanya, “Siapa musuhmu?”

“Dulu ada organisasi rahasia bernama Teratai Hitam (*Black Lily*),” Jaxon memulai ceritanya dengan santai, seolah tak ada duka sama sekali di dalamnya.

***

Ayahnya adalah pria yang kejam, dan ibunya wanita tanpa belas kasihan.

“Kalau perlu, tusuk kawanmu sendiri dari belakang.” Itulah kata-kata ayahnya—dan kata-kata itu menjadi pesan terakhir sebelum kematiannya.

Setelahnya, Jaxon hidup berpatokan pada pesan terakhir itu: kalau perlu, ia akan menusuk siapa saja dari belakang.

“Dasar bajingan kejam.”

Kemudian ia bertemu gurunya, mengalami bermacam-macam hal, dan sebelum ia menyadarinya, pandangannya mulai bergeser. Itu adalah kehidupan yang dijalani dengan mengunyah tanaman beracun dan mendapatkan bekas luka di sekujur tubuhnya. Jalan yang ditapaki Jaxon berlumuran darah—tidak, ia memadatkan jalan dengan darah lalu melangkah di atasnya.

Jaxon adalah putra keluarga bangsawan: **Jaxon Benzens**, itulah nama aslinya.

Keluarga Benzens dulu adalah klan bangsawan yang cukup berpengaruh. Mereka terjun ke bisnis perdagangan dan meraih kesuksesan besar, tetapi ayahnya menginginkan kesuksesan yang lebih besar lagi. Apa itu sebuah kesalahan? Ia tidak tahu. Jaxon memutuskan untuk tidak memusingkan mana yang benar atau salah—ia menetapkan satu tujuan yang sederhana dan jelas:

*Aku akan membalas dendam. Aku akan membunuh siapa saja yang terlibat.*

“Hei, kau bakal mati muda kalau begitu terus,” gurunya menyalahkan sikapnya.

Jaxon tidak mendengarkan—ia tetap berjalan di satu jalur yang lurus.

“Kapan anak itu bisa jadi manusia yang benar?” “Pantas ya omongan begitu keluar dari mulut ketua serikat pembunuh bayaran?”

Ia teringat gurunya terkekeh saat ia membalas dengan kata-kata itu.

“Nah, begitu dong. Lebih bagus kalau kau marah. Enak dilihatnya.”

Itu cuma obrolan ringan. Tujuannya sudah jelas: ia mengumpulkan informasi dan menyelidiki. Keluarganya hancur—apa karena serangkaian nasib buruk? Mana mungkin. Itu adalah konspirasi seseorang. Jaxon memutuskan untuk menuntut tanggung jawab pada orang yang merancangnya.

Dari sinilah ia menemukan nama itu: **Teratai Hitam (*Black Lily*)**, nama organisasi rahasia tersebut.

Apa yang mereka lakukan bersama-sama? Mereka adalah orang-orang yang tujuannya memperkaya kantong sendiri. Di antara mereka, ada yang naik kekuasaan di bawah lord kejam lalu jadi kelompok penyamun; yang lain jadi bangsawan di suatu negara; dan ada juga yang melenyap bagai asap.

Orang pertama yang ditemukan Jaxon adalah pria yang sudah kehilangan segalanya dan jatuh ke kubangan sampah.

“Kenapa kau melakukannya?” tanyanya penasaran. Mereka sudah menghancurkan sebuah keluarga dan melahap beberapa serikat perdagangan. Banyak orang mati karena Teratai Hitam—pasti ada alasannya.

“Alasan? Masa bodoh sama alasan!” pria berkuasa yang sudah hancur itu terkekeh-kekeh. “Kau tahu berapa banyak uang yang bisa didapat dari merobek-robek keluarga Benzens? Bajingan. Semua orang hidup dengan saling memeras dan menipu!”

Pria yang sudah menyerah pada segalanya itu tidak lagi menghargai nyawanya sendiri. Bukankah memberinya kematian adalah sebuah kebaikan? Bukankah mengirimnya ke neraka adalah hal yang patut disyukuri? Membunuhnya secara normal dengan menggorok lehernya bakal jadi berkah—tetapi Jaxon tidak mau semudah itu.

Jaxon tidak mengotori tangannya sendiri. Alih-alih membunuhnya langsung, ia memotong urat-urat di tangan dan kakinya lalu melemparkannya ke sarang pengemis. Empat hari kemudian, pria itu tewas tercabik-cabik.

Tahun itu, karena kemarau panjang, orang-orang saling membunuh demi segenggam gandum. Dalam situasi ketika selembar akar rumput pun sangat berharga, pria itu tidak akan sanggup bertahan hidup di sarang pengemis.

Kata-kata terakhir pria mati itu bergema di telinganya: *bahwa semua orang hidup dengan saling memeras dan menipu.* Pria itu dulu adalah teman ayahnya yang kejam.

“Tatap saja ke depan dan melangkah terus. Tak perlu menengok ke belakang.” Kata-kata ibunya yang tanpa belas kasihan pun tersisa di dalam hatinya.

Apa boleh melakukan apa saja demi mencapai tujuan? Kalau memang harus begitu caranya, ia akan melakukannya. Ia menghabiskan beberapa tahun lagi mencari para pemimpin Teratai Hitam, dan pada kurun waktu itu, gurunya meninggal.

Ia tahu tidak akan pernah sanggup memahami pesan terakhir gurunya, jadi ia melupakannya, tidak mengingatnya, dan menguburnya dalam-dalam.

*“Kalau perlu, tusuk kawanmu sendiri dari belakang.”* *“Tatap saja ke depan dan melangkah terus.”*

Alih-alih mengingat gurunya, ia merenungkan kata-kata ayah dan ibunya. Kata-kata mereka bercampur di dalam benaknya bersama ungkapan pria mati itu.

Setelahnya, ia membunuh empat dalang Teratai Hitam. Barulah saat mencari yang kelima, ia tahu bahwa ada seorang pria di antara para dalang yang secara spesifik menargetkan keluarga Benzens—musuh utamanya yang sejati.

Ia tidak tahu nama atau identitasnya. Setelah deduksi berulang berdasarkan beberapa petunjuk, ia bertemu Avnaiyer. Avnaiyer memberitahunya untuk pergi ke istana kerajaan Naurilia, dan Jaxon pun tiba di istana.

Saat Encrid diserang, dan Rem, Dunbakel, serta Ragna berkeliaran di pasar mengeluhkan barang-barang murah yang dijual, Jaxon melangkah masuk ke sebuah kediaman di distrik pemukiman. Sarang laba-laba memenuhi sudut-sudut kediaman tua itu, dan jejak kehidupan manusia terasa samar.

Di sana, ia melihat sosok yang memancing dan memanggilnya: pria berambut putih yang mengenakan kacamata monokel. Tubuhnya kurus, tetapi ia memegang sebilah pedang-tongkat (*sword-stick*), dan sepasang matanya begitu sipit sampai sulit membaca ekspresinya.

Jaxon sanggup mengenali dalam sekali kerlingan: pria itu dari jenis yang sama, berada di jalur pekerjaan yang sama.

“Kau pasti dari **Belati Georg (*Georg's Dagger*)**?” sang lawan menebak asal-usulnya dengan tepat.

Itu wajar—informasi itulah yang sengaja dibocorkannya untuk bisa melangkah sejauh ini. Belati Georg adalah serikat pembunuh bayaran papan atas yang beroperasi di seluruh benua.

Namun demikian, sang lawan tidak menunjukkan rasa takut. Apa karena ia percaya diri dengan keahliannya? Tidak, itu karena sang lawan merasa memegang kartu remi kelemahan Jaxon.

“Aku tahu apa yang sedang kaucari,” ujar pria berambut putih dari profesinya itu.

“Apa itu?” tanya Jaxon. Sepasang mata cokelatnya, yang memancarkan kilatan merah di dalam kegelapan, seolah menyedot bayangan di sekelilingnya.

“Kau adalah ahli waris sah dari keluarga Benzens, kan?”

Ah ya, ia pasti tahu setidaknya sebanyak itu.

“Aku akan memberimu semua informasi yang kauinginkan. Apa saja, segalanya.”

Jaxon menunggu kata-kata berikutnya.

“Sebagai imbalannya, tusuk pria itu.”

Siapa 'pria itu'? Tak perlu ditanyakan lagi: pemilik rambut hitam dan sepasang mata biru, sang kapten regunya.

“Encrid... tusuk dia dari belakang.”

Itu adalah permintaan untuk menusuk pria yang dipanggilnya Kapten. Harganya adalah informasi yang sudah dicarinya sepanjang hidupnya.

***

Encrid duduk sunyi menatap pendaran cahaya bulan. Tempat minum kulit di tangannya gemetar, memicu suara kocokan cairan di dalamnya.

Jaxon menatapnya dan menceritakan soal pembalasan dendam serta musuhnya, dan bahwa salah satu dari mereka ada di dalam istana kerajaan, jadi ia harus masuk dan menemukannya sendiri. Ia sengaja menyembunyikan bagian tentang pertemuannya dengan pria berambut putih itu.

“Bagus, ayo kita cari orang itu,” ujar Encrid.

Tak ada sekelumit pun tawa—itu bukan gurauan. Ia bersungguh-sungguh; kata-katanya penuh ketulusan, dan niatnya untuk membantu sangat jelas.

Pria ini pasti bakal melakukannya. Kalau Jaxon tidak menolak, dia bakal membantu—malah, dia bakal mengerahkan usaha terbaiknya. Jaxon tahu itu: Encrid adalah tipe pria seperti itu.

Namun, apa mungkin mereka bisa menemukan lawan yang sudah dicarinya sekian lama tanpa hasil hanya dengan usaha biasa? Jalan pintas yang mudah terbentang di hadapan Jaxon.

Kata-kata ayah dan ibunya, serta musuh pertama yang dibunuhnya, saling bersimpangan di dalam benaknya:

*“Kalau perlu, tusuk kawanmu sendiri dari belakang.”* *“Tatap saja ke depan dan melangkah terus. Tak perlu menengok ke belakang.”* *“Semua orang hidup dengan saling memeras dan menipu.”*

Inilah jalan yang ditapaki Jaxon hingga saat ini—jalan yang diukir dengan darah, pedang, dan racun. Jalan yang cuma perlu ditempuhnya dengan cara yang sama kali ini.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.