Bab 368: Pertarungan Sampai Akhir
Kapten Penjaga South Gate membenahi letak topinya.
Topi berhias bulu burung adalah simbol kebesarannya.
Setelah memiringkan tepi topinya beberapa kali, Sang Kapten Penjaga mendongak menatap bulan purnama yang memancar terang menerangi sekelilingnya.
*'Apa tugas utamaku?'*
Melindungi ibu kota.
Itu bukan sebuah kesadaran yang mendadak muncul. Ia selalu mengetahuinya sejak awal, namun hal itu kembali membumbung ke permukaan belakangan ini. Sosok yang menjadi bangsawan kerajaanâsang putra di luar nikah yang dikenal sebagai si anak hilang yang kembali. Pria yang memiliki darah Ratu itu telah membuktikan rasa kewajiban dan tanggung jawabnya.
Kalau begitu, ia pun harus menjalankan bagiannya.
Pada akhirnya, Sang Kapten Penjaga tak sanggup lagi berdiam diri menyaksikan makhluk yang dikenal sebagai Moonlight Beast. Maka dari itu, ia melakukan apa yang harus dilakukannya.
Mendengar kabar bahwa seorang Squire telah ditumbangkan, ia melakukan persiapan matang sebelum bergerak.
"Ayo lewat sebelah sini," ujar Sang Kapten Penjaga pada bawahannya.
"Tapi Kapten, apakah Anda yakin makhluk itu akan muncul?" tanya seorang bawahan dengan wajah brewokan yang tak terurus.
"Tentu saja."
Ada orang-orang di ibu kota yang tertarik pada keberadaan Moonlight Beast itu sendiri. Kapten Penjaga South Gate adalah salah satu di antara mereka. Ia telah menyelidiki area sekitarnya dan memprediksi lokasi yang paling memungkinkan bagi makhluk itu untuk muncul.
Dengan kata lain, ia bertindak berdasarkan alur pemikiran yang sama dengan Encrid.
*'Bulan purnama.'* *'Tempat yang jauh dari kediaman para bangsawan.'* *'Di sini.'*
Jika tebakannya meleset, ia cukup memulai kembali dari awal. Ia tak memiliki cukup prajurit untuk memeriksa seluruh penjuru wilayah. Ia hanya membawa tiga prajurit paling dipercayanya.
Bersama dirinya dan tiga bawahannya, mereka seharusnya sanggup menumbangkan seorang lycanthrope. Meski ia tak tahu bagaimana makhluk itu sanggup bersembunyi di siang hari dan hanya muncul pada malam hari.
*'Makhluk itu pasti memakai sihir aneh.'*
Itu pasti sihir yang dilantunkan oleh seorang penyihir gila.
Kapten Penjaga South Gate mengamati sekelilingnya di bawah sinar bulan. Akankah makhluk itu benar-benar muncul?
Dugaannya terbukti.
Duk!
Ia mendengar suara daging yang terkoyak, dan aroma amis darah menguar memenuhi udara. Itu berasal dari bagian dalam gang.
Ia langsung meledak berlari.
"Kapten?"
"Ikuti aku!" serunya seraya berlari. Dan tepat seperti dugaannya, seekor monster yang bersimbah darah terlihat di kegelapan gang.
Telinga runcing menegak, raga yang tidak dilapisi bulu melainkan bulu-bulu burung sekeras baja. Tingginya dua kali lipat dari tinggi manusia biasa. Lengan bawahnya setebal paha manusia. Makhluk itu seakan memenuhi seluruh lorong gang, kendati jalur itu cukup lebar untuk dilintasi tiga pria dewasa yang berjalan bersisian.
Sang Kapten Penjaga berpikir seraya menelan ludah ketakutan.
Jika kau membiarkan rasa takut menguasai raga, kau akan kalah dalam pertarungan yang seharusnya bisa kaumenangkan. Ia meneguhkan hatinya lalu bersuara.
"Jadi kau bukan werewolf, melainkan manusia burung hantuâOwlbear?"
Ia menghunus pedangnya saat berbicara. Mata bilah meluncur keluar seraya memantulkan sinar bulan. Sang Kapten Penjaga menggenggam pedangnya dengan kedua tangan dan menghadapi lawannya.
Ia bisa melihat profil Owlbear. Urat-urat merah terlihat di mata bulatnya. Urat-urat itu cukup tebal hingga sanggup terlihat murni di bawah sinar bulan saja. Ia harus mendongakkan kepalanya ke atas demi menatap matanya.
Pandangannya bermula dari mata makhluk itu, menyapu seluruh raganya, lalu jatuh ke tanah. Tanah yang bersimbah darah, sesosok mayat yang terkapar di satu sisi, cakar-cakar tajam sang monster, dan usus yang terburai tersangkut di antaranya. Daging yang terkoyak, pecahan tulang yang hancur, warnanya merah pekat kusam bahkan di bawah sinar bulan.
Setiap cakarnya menyerupai mata bilah yang tebal dan tajam secara brutal.
Owlbearâtanpa memedulikan tatapan Sang Kapten Penjagaâgemetar hebat. Melihat hal ini, Sang Kapten Penjaga secara naluriah tahu bahwa monster mirip anjing itu sedang menikmati momen ini.
Makhluk itu mabuk dalam ekstasi. Ia meresapi kenikmatan dalam pembantaian.
"Kau menikmati semua ini!"
Lindungi kota. Lindungi warga.
Adalah tugas seorang pengawal untuk membunuh monster yang menodai malam berbulan purnama dengan ketakutan.
Ia menghentak tanah lalu melesat maju, mengayunkan pedangnya dalam sabetan vertikal. Mengikis jarak dalam satu tapak, ia menghantam ke bawah. Ia tidak berniat memotong anggota tubuh atau raganya dalam sekali tebas. Namun jika ia mengambil sudut yang tepat, ia sanggup mengeruk sepotong dagingnya. Sebuah teknik yang ia sebut *Sabetan Kerebuk*, itu adalah keahlian utamanya.
Owlbear menahannya murni dengan mengayunkan armnya. Melihat sudut mata bilah yang menerjang, makhluk itu secara presisi memutar satu kuku jari telunjuknya demi menahan dengan permukaan luar kuku.
Satu kuku menahan mata bilah pedang.
Tang!
Percikan api memercik, memecahkan sinar bulan.
Segera setelah pedangnya ditahan, Sang Kapten Penjaga terburu-buru mundur. Ia tak bisa bergabung dengan Knights Order, namun ia memiliki kesaktian untuk menumbangkan sebagian besar lawan. Ia menilai kesaktiannya sendiri setidaknya berada di tingkat seorang Squire. Bagaimana lagi ia bisa menjadi seorang Kapten Penjaga?
Namun apa-apaan ini? Bukankah seorang Squire hampir saja tewas melawan hal ini?
*'Padahal aku tidak mengayun dengan seluruh kekuatanku.'*
Daya tahanan itu hampir meremukkan genggaman tangannya. Yang lebih penting, gerakan terakhir itu... itu adalah sudut dan pertahanan seolah-olah makhluk itu telah mempelajari ilmu pedang.
*'Aku kalah kelas.'* *'Jika aku bertarung sendirian, aku akan tewas.'* *'Aku akan berakhir persis seperti Squire itu.'*
Beruntung, ia tidak sendirian.
Keringat dingin membasahi punggungnya, namun alih-alih menyerah pada rasa takut, ia secara berani melompat ke belakang dan berseru.
"Kepung makhluk itu!"
Manik mata Owlbear berbelok ke arahnya. Ekstasi, hasrat, niat membunuh, permusuhan. Manik mata cokelatnya adalah campuran dari semua itu. Urat-urat merah yang menonjol memicu rasa takut. Bahkan tanpa membuka mulutnya, rasanya seolah paruh tajamnya sanggup menembus raganya.
Terutama mata itu. Mata itu sendiri menyerupai mata manusia, yang membuatnya terlihat kian ganjil.
Tentu saja, ia tak memiliki waktu untuk merisaukan hal-hal semacam itu. Saat ia mundur, Owlbear mengikutinya dengan langkah kaki yang lambat namun berat.
Ketika mencapai pintu masuk gang, tiga bawahannya mengarahkan tombak ke arahnya. Sinar bulan secara indah menerangi bagian depan gang. Berkat itu, jalur yang lebih dalam terlihat kian pekat gelap. Salah satu bawahan yang membidik tombaknya secara tegang menelan ludah.
Dalam kurun waktu itu, Sang Kapten Penjaga bersimbah keringat dingin.
Owlbear melangkah keluar secara perlahan. Langkah kakinya tenang, bertolak belakang dengan ukurannya. Begitu silap hingga jika ia memutuskan untuk menyelinap dari belakang, kau bahkan tak akan merasakannya. Tumpuan langkah seorang pemburu alami.
Makhluk itu melangkah keluar dari gang, menatap mereka yang mengepungnya, lalu menarik napas panjang. Dadanya membusung naik.
"Serang!"
Sang Kapten Penjaga berseru, menilai bahwa menyerang lebih dulu akan memberikan keunggulan. Itu adalah perjuangan nekat dari seorang pria yang dicengkeram oleh rasa takut. Kendati kekuatan musuh di luar dugaannya, rasa tanggung jawabnya tetap bertahan.
Bersamaan dengan seruan Sang Kapten Penjaga...
Ugggggh!
Monster itu meraung.
Sebuah pekikan yang menelan seruan kapten membumbung di udara. Raungan itu menunggangi udara dan menghantam telinga para prajurit.
*'Ugh.'*
Momen saat ia mendengar pekikan burung hantu itu, Sang Kapten Penjaga merasa seluruh raganya mati rasa. Jantungnya mulai berdegup kencang tak beraturan, dan otot-ototnya mengeras kaku. Raganya membeku sepenuhnya.
Mangsa yang bertemu pemangsanya tak sanggup bebas dari rasa takut. Itulah mengapa monster disebut sebagai pemangsa manusia. Di antara mereka, monster yang sangat kuat sanggup melumpuhkan raga manusia murni lewat raungan mereka saja.
Sang Kapten Penjaga melihat ilusi cakar Owlbear merobek tenggorokannya dan menghantam dadanya. Momen saat ia melihatnya, raganya membeku, dan para prajuritnya mengalami hal serupa.
*'Aku akan tewas.'*
Ketakutan akan kematian menghabiskan raganya. Itu adalah raungan yang memicu ketakutan, sebuah kekuatan yang dikabarkan hanya dimiliki oleh monster-monster tingkat tinggi. Seperti seekor tikus yang membeku di hadapan seekor kucing.
Sang monsterâyang telah menundukkan para penyergapnya dalam sekali pekikanâmengangkat cakar-cakarnya. Ia berniat memecahkan kepala mereka satu per satu lalu meminum otak mereka. Itu akan menjadi santapan yang jauh lebih lezat dibanding apa pun.
"Kuh."
Sebuah tawa meluncur keluar.
Di sini ada kenikmatan ekstrem yang tak akan pernah ditemukan dalam kehidupan manusia. Pada mulanya, ia menyesali raganya yang menjadi seperti ini, namun tidak lagi. Ini sangat menyenangkan, sungguh sangat menyenangkan. Untuk apa menampiknya? Selama ia tidak berpapasan dengan orang-orang sekelas Squire itu lagi.
Tidak, manusia mana di istana kerajaan yang berada dalam kondisi sanggup melakukan itu sekarang? Apa yang akan mereka kirim untuk menangkapnya? Dua orang Squire paling banyak? Pengawal kota?
Orang-orang yang ambruk di hadapannya sekarang menyodorkan realitas situasi. Ibu kota kini adalah ruang makan pribadinya. Dengan kelimpahan makanan yang meluap untuk dikunyah dan ditelan satu per satu, bagaimana mungkin ia tidak bersukacita?
Kenikmatan membumbung tinggi dan ekstasi menghabiskan raganya. Dalam antisipasi gairah yang bakal datang, setiap bulunya bereaksi, gemetar hebat. Otot-otot di seluruh raganya tegang dan mengendur secara berulang.
Saatnya meresapi kenikmatan.
"Kuhuhuhu."
Air liur mengalir. Ia tak sabar untuk melahap mereka. Ia baru saja hendak berhenti berpikir dan munjamkan cakarnya.
Tuk, tuk, tuk.
Suara kaki yang menghentak tanah memicu telinganya. Di belakang dan di sebelah kiri, sekitar dua puluh tapak jaraknya dalam standar manusia. Sejak mendapatkan raga Owlbear, pendengarannya kian tajam dibanding indra lainnya. Mengukur jarak lewat suara adalah hal yang mudah.
Owlbear menilai suara langkah kaki kian mendekat. Naluri sang monster bergerak lebih dulu dibanding akal sehat manusianya.
Sret! Ia memanjangkan cakarnya hingga dua kali lipat dari panjang sebelumnya dan menyilangkan kedua tangannya demi menahan bagian depannya.
Di dalam gang, di dalam kegelapan...
Penglihatan Owlbear secara jelas menangkap sosok yang melesat keluar dari dalam. Penglihatan malam harinya membuatnya sanggup melihat sekeliling secara jelas seakan hari sedang siang.
Sebuah sosok meledak keluar dari kegelapan, menyisakan bayangan putih. Sosok itu mendadak berakselerasi. Sesuatu melesat ke arahnya, tiga kali lebih cepat dibanding suara pendekatannya.
Wung!
Owlbear melihat garis-garis terlukis di hadapannya. Garis-garis itu berasal dari lengan sosok tersebut, garis yang akan membelah raganya, dan ada dua garis.
Owlbear secara refleks mengangkat kedua tangannya untuk menahan. Memegangnya sejajar dengan tanah, ia mendorongnya keluar seakan-akan perisai.
Garis-garis yang menerjang menghantam lengan bawahnya.
Duk.
Suaranya terdengar tumpul.
Owlbear merasakan dampaknya. Bulu-bulunya sekuat baja dan tidak terpotong, namun guncangan dari hantaman itu tetap tersisa. Pemilik garis-garis yang diayunkan mundur lebih cepat dibanding saat mereka menyerang.
Momen saat ia menahannya, Owlbear mendorong kaki kanannya ke tempat lawan tadinya berdiri, namun mereka telah bergerak menghindar. Cakar Owlbear menyapu tempat di mana lawannya baru saja berada.
Segera setelah menarik kembali kakinya yang terulur, sang monster menatap lawannya, memiringkan kepalanya, lalu bersuara.
"... Apa, ada orang lain selain aku? Makanan di sini ada banyak."
Itu adalah wujud dari seekor binatang. Seorang manusia binatang yang telah menjalani transformasi wujud. Namun demikian, ia membuka mulutnya dan mengucapkan kata-kata manusia secara santai. Saat ia berbicara, Owlbear menilai lewat aroma dan suara bahwa ada lebih dari satu lawan.
Namun demikian, sulit untuk memalingkan perhatiannya ke tempat lain saat ini. Aura yang membumbung dari lawan di hadapannya membuatnya demikian. Sosok yang telah melempar dua garis melayang ke arahnya melotot tajam. Manik matanya adalah warna keemasan yang memancar indah. Manik mata itu mempertahankan warnanya secara sempurna bahkan di bawah sinar bulan.
"Hei, aku ini seorang manusia binatang."
Sosok itu sedang berbicara padanya.
"Apa bedanya? Aku bisa menjadi manusia, dan aku bisa menjadi Owlbear."
Ia marah karena kenikmatan dan ekstasinya terganggu, tapi tak ada kebutuhan untuk bertarung melawan rekan sesama binatang. Makanan ada banyak, dan ruang makan ini sangat luas. Tak ada alasan untuk bertarung memperebutkan sumber kenikmatan. Di hadapan cakarnya, tak peduli apakah seorang manusia itu tua atau muda, pria atau wanita.
Lawannyaâsi manik mata emas yang telah mengidentifikasi dirinya sebagai manusia binatangâmengerutkan gigi lalu berseru.
"Dasar bajingan, tak ada burung hantu di antara manusia binatang!"
Saat Dunbakel berbicara, ia melesat maju dalam wujud Singa Putih.
Pang! Menghentak tanah, raganya membujur panjang. Di kedua tangannya ada dua pedang lengkung. Pedang itu sejangkal lebih pendek dibanding scimitar, namun ia sudah terbiasa dengan senjata-senjata itu.
Mata bilah melukiskan garis-garis saat jatuh menembus lengan bawah lawan seraya bergetar. Itu adalah teknik pedang yang diciptakannya setelah merenung berhari-hari: *Tusukan di dalam Tebasan*. Sebuah teknik yang diciptakannya kembali dalam gayanya sendiri setelah menyaksikan Encrid melatih beberapa metodenya. Tebasan menjadi tusukan, dan tusukan menjadi tebasan. Itu adalah teknik yang liar dan penuh variasi.
Namun indra super milik Owlbear menangkap semuanya. Dan raga sang monster sanggup bereaksi terhadap seluruh kecepatan dan lintasan itu.
Tang! Tang! Tang!
Ia memiliki cakar-cakar yang lebih keras dibanding baja, dan ia mengayunkannya. Ia menahan dan menangkis dengan cakarnya, mencari celah. Dalam kehidupan manusianya, ia pun menghabiskan waktu dengan berlatih. Ia tahu cara menggunakan sebagian besar teknik.
Ia menyasar celah pada diri sang manusia binatang dan sekali lagi memanjangkan kakinya. Cakarnya tumbuh panjang, terlihat seakan sanggup merobek perut Dunbakel dalam seketika.
Dunbakel memutar kaki kirinya, memutarkan raganya. Saat ia berputar, ia pun mengayunkan pedang lengkung di tangannya.
Cring!
Satu tebasan dua kali lebih cepat dibanding sebelumnya membelah udara, sejajar dengan tanah.
Owlbear hanya memanjangkan kakinya dan tidak mendesak lebih dekat.
*'Merepotkan.'*
Wanita ini bertarung jauh lebih baik dibanding Squire waktu itu. Apakah itu masalah? Ia memutuskan itu bukan masalah. Jika situasi memburuk, ia cukup kabur...
"Apa-apaan, ternyata cuma bajingan burung hantu?"
Ia tak sanggup menyelesaikan pikirannya.
Itu berasal dari belakang. Di satu sisi, ia melihat seorang pria yang memegang kapak bertangkai panjang, mengayunkannya ke sekeliling.
*'Wajah yang akrab.'*
Di mana ia pernah melihatnya? Ia mengaduk-aduk ingatannya. Ia tak tahu. Namun aura yang memancar dari raganya sungguh luar biasa.
*'Apakah aku harus kabur?'*
Ia tak boleh mengabaikan peringatan nalurinya. Akal sehatnya memberikan perintah yang sama.
"Kalau kau cuma menjawab apa yang ditanyakan, kau bisa pergi secara tenang," pangkas sebuah suara tepat dari belakangnya.
Terperanjat, ia mengayunkan sikunya secara refleks. Bulu-bulunya yang seperti baja berfungsi sebagai senjata; hantaman telak sanggup mengubah manusia biasa menjadi adonan hancur.
Lawannya tak terkena hantaman. Mereka telah berbicara lalu mundur. Tampaknya mereka telah memprediksi tindakannya. Kemunduran mereka lebih cepat dibanding serangannya. Owlbear mengetahuinya dari riak-riak di udara.
"Siapa pemimpin Black Blade?" tanya pria itu.
Owlbear seketika mengkondensasikan udara di perutnya lalu menyemburkannya keluar.
Ugggggh!
Demi menyodorkan ketakutan, ia melepaskan raungan. Kekuatan sang monster mengocok udara. Setidaknya salah satu dari mereka akan kencing di celana dan ambruk. Persis seperti para prajurit tadi. Pria bertopi bulu burung itu tampak nyaris bertahan, namun di antara prajurit lainnya, seorang telah ambruk dan kencing di celana.
Semua orang mengerutkan dahi mendengar raungan itu, namun tak satu pun dari mereka bereaksi sesuai ekspektasinya. Mengapa semua orang baik-baik saja?
Pria yang memegang kapak bahkan tersenyum lebar.
"Jangan berisik begitu, dasar monster."
Kemudian, seorang manusia lain mendekat. Seorang pria yang berjalan mantap dari satu sisi, memegang cambuk panjang di tangannya.
"Apa? Kau sedang jalan-jalan malam juga?" tanya pria yang memegang kapak.
Pria yang memegang cambuk memiliki wajah yang dikenali oleh Owlbear.
*'Dia tak boleh meninggalkan posisinya, bukan?'*
Nama pria itu adalah Matthew, seorang pengawal Kdianat Langdiers Nauril. Sosok yang telah memicu keributan di dalam istana kerajaan, menyatakan dirinya akan naik sebagai Adipati Agung. Adalah berkat pria itu ia sanggup menikmati santapannya secara bebas saat ini. Semakin kacau istana kerajaan, semakin sedikit orang yang memedulikannya. Beberapa orang menghilang di tengah malam tak akan memicu keributan raksasa. Paling banyak, hanya pengawal kota yang dikerahkan.
Moonlight Beast membidik rakyat biasa, dan rakyat miskin pula. Ia tak membidik para bangsawan dan mempertaruhkan balasan yang tak perlu. Selama ia tidak menimbulkan kerusakan di wilayah mereka, siapa yang akan melangkah maju?
Jadi, semua ini di luar dugaannya. Bagi sang makhluk, ini tak dapat dipahami. Ada orang-orang yang bertindak bukan demi keuntungan pribadi mereka sendiri, melainkan demi melindungi hal-hal seperti keselamatan warga. Ada seseorang yang mengejarnya, mempertaruhkan nyawa seraya berseru soal tanggung jawab dan kewajiban. Ada orang-orang yang telah menemukan pola perilakunya dengan pengamatan dan wawasan alamiah mereka.
Owlbear tidak mengetahui semua ini. Ia telah menjadi seekor makhluk yang mabuk oleh elemen pembantaian, persis seperti pecandu yang berburu obat mereka. Tentu saja, kendati demikian, ia tetap menganggap dirinya sebagai makhluk yang berakal sehat. Maka dari itu, ia percaya telah membuat keputusan dan bertindak berdasarkan alasan-alasan rasional. Semua itu adalah pekerjaan orang dungu. Akal sehatnya murni telah menjadi alat untuk mengejar kenikmatan. Itu adalah efek samping yang bahkan tidak disadarinya.
"Siapa kalian ini?"
Kapten Penjaga South Gate pun bangkit berdiri dan bersuara. Ia nyaris melampaui rasa takutnya. Rahangnya bergetar, namun ia mengerutkan gigi dan bertahan. Kemudian, situasinya menjadi jauh lebih baik. Atmosfer di sekelilingnya ikut berkontribusi pada ketenangannya. Atmosfer telah berbalik.
Owlbear tak sanggup meremukkan prajurit yang telah ditumbangkannya. Ia tak sanggup merobek sang manusia binatang Singa Putih yang menerjang sesuai kehendaknya. Sang monster merasakan krisis. Ia menilai suasana sedang bergeser secara ganjil.
Namun itu tak berarti ia bisa mati begitu saja.
*'Tidak akan pernah.'*
Ia telah mengecap kenikmatan. Ia tak bisa melupakannya. Ia akan bertahan hidup dan hidup seperti itu lagi. Ia akan hidup dengan mengunyah dan menelan manusia yang tak terhitung jumlahnya, memakan otak, darah, dan usus mereka.
Uuu.
Ia mengeras tekad dan pendiriannya dengan raungan pendek. Bahkan jika jalan itu salah, tekadnya jelas. Owlbear telah melukai seorang Squire secara parah. Keharmonisan kekuatan monsternya dan akal sehat yang dimilikinya sebagai manusia membuatnya memungkinkan.
"Menyedihkan!" seru Owlbear.
Makna yang terkandung dalam raualnya jelas. Mereka yang mendengarnya bereaksi.
"Kenapa makhluk itu bisa bicara selancar itu?" tanya pria berkapak.
"Apakah kau datang atas perintah sang marquis? Memang benar ia bilang akan menangani ini sendiri," Matthew memberi perhatian lebih pada orang-orang yang berdiri di sekelilingnya dibanding pada sang monster.
"Telingaku sakit, dasar monster bajingan," sang manusia binatang mengerutkan dahi.
Pria yang berdiri di belakang mereka bahkan tak menaruh tangan pada pedangnya. Ia hanya menonton secara acuh tak acuh. Namun demikian, ia tetap mengerikan.
*'Jika aku mendekatinya, aku akan tewas.'*
Itulah yang dikatakan naluri monsternya, bukan sisi manusianya. Itu benar. Ragna hanya sedang menimbang-nimbang apakah akan menebasnya atau tidak.
Dan di atas itu...
"Siapa pemimpin Black Blade? Katakan padaku. Aku akan melepasmu secara bersih, jadi kau tak perlu tewas oleh kapak si barbar itu atau dirobek oleh ahli pedang dungu itu," pangkas seseorang yang bersuara secara percaya diri dalam nada tenang dari belakang.
*'Siapa bajingan ini.'* *'Di mana ia terus-menerus bilang akan melepas tempatku?'*
"Mari pergi secara tenang," ujarnya.
Pria yang berdiri di bawah sinar bulan itu terlihat, namun buram. Ia bertanya-tanya mengapa, lalu menyadari bahwa suara mendadak mati dan keberadaan terasa samar hanya di sekitar pria itu. Jika ia kehilangan pandangan padanya, rasanya pria itu akan mendadak berada di belakangnya, munjamkan pisau ke punggungnya. Ia adalah sosok yang menciptakan kecemasan.
"Bicara."
"Aku tak tahu apa-apa soal itu."
Owlbear terhabiskan oleh keberadaan mereka. Ia menjawab tanpa menyadarinya.
"Begitu rupanya."
Lawannya bergumam lalu mengambil langkah mundur. Hal itu saja secara signifikan mengurangi tekanan. Tentu saja, itu tak berarti bahaya telah berkurang. Tepat saat ia mengangkat pertahanannya setinggi mungkin dan mencari jalur meloloskan diri...
"Kapten Penjaga?"
Sebuah suara baru mencelah masuk. Ini adalah suara yang dipastikannya ia kenali.











