Eternally Regressing Knight

Bab 386: Malas Bahkan dalam Pertarungan

2695 Kata

Bab 386: Malas Bahkan dalam Pertarungan

"Jadi, belati Georg itu cuma dimainkan seorang bodoh yang mengamuk liar, memercayai penuh kekuatan sebuah artefak."

Assassin berlengan panjang berucap seraya memutar-mutar belati di jemarinya.

Salah satu matanya memancarkan pendaran aneh. Sebuah mata yang diselimuti misteri, sebilah mata buatan hasil sihir.

Mata itu sudah tampak janggal sejak awal, jadi bukan hal mengejutkan jika artefak tersebut tidak bekerja. Maka dari itu, ia tetap bersikap tenang.

Jaxon turut melirik lubang yang terkoyak di mantelnya. Itu adalah bekas yang ditinggalkan oleh tusukan belati.

Lengan assassin itu sebelumnya telah membentang secara tidak wajar, menembus mantel Jaxon sebelum menarik diri kembali. Meskipun demikian, tak ada gejolak amarah di paras Jaxon. Ia tidak terpengaruh, baik di luar maupun di dalam batinnya.

Namun, lawannya tidak berpikir demikian.

"Kau tampak panik. Harusnya kau menusuk saat aku menyuruhmu," cetus pria berambut putih yang mengenakan monokel. Nada bicaranya kental dengan gaya menguliahi.

"Apakah ada alasan untuk tetap bertahan di bawah pria itu? Ubahlah pikiranmu, bahkan sekarang belum terlambat," sahut seorang wanita.

Ia berbicara dari balik barisan kelompok assassin, suaranya telah dimodulasi agar tak dikenali. Tepatnya, ia berbicara dari tempat persembunyian yang aman. Wanita itu tipe yang sangat berhati-hati, sekaligus seorang pembohong yang ulung.

Tidak ada yang bisa didapatkan Jaxon dengan mengubah pikirannya di sini. Semua omongan itu hanyalah taktik murahan untuk membuatnya memperlihatkan celah pertahanan.

"Apa? Tertusuk? Bukankah kau merasa malu saat mengatakan hal sebalah itu?"

Pria berambut putih bermonokel tampak sangat tersulut oleh ejekan sang Kapten sebelumnya, hingga ia sengaja mengungkit topik tersebut.

"Yah, sekarang setelah kau kehilangan artefakmu, apa yang bisa kau lakukan?"

Suara ini datang dari arah belakang.

Jaxon memutar kepalanya.

Meski hari masih terang benderang, tempat asal suara itu tampak diselimuti warna suram yang pekat. Sosok itu berdiri setengah tersembunyi di balik bayang-bayang gang, seorang spesialis dalam ilmu menyembunyikan diri.

Metodenya sangat jelas. *Shadow walk*.

Sebuah teknik berpindah tempat hanya dengan memanfaatkan area bayangan, yang diajarkan sebagai dasar dalam belati Georg.

Jaxon pernah mempelajarinya, tetapi tak pernah sekalipun menggunakannya dalam pertarungan sungguhan. Itu adalah teknik yang bisa berbalik menjadi bumerang jika dipakai melawan musuh yang memiliki konsentrasi tinggi atau indra yang tajam.

*'Trik konyol seperti ini bahkan tidak bakal berhasil pada Kapten.'*

Bahkan Encrid sekalipun tidak bakal terkecoh oleh trik sekelas ini.

Jaxon melepaskan mantelnya yang koyak tanpa suara lalu melepas ikatan sabuknya.

"Menyerah?" tanya suara wanita yang dimodulasi dari antara barisan assassin.

"Haha. Bagaimana? Apakah kau mau mempertimbangkannya kembali? Ini belum terlambat. Kesempatan untuk memilih jalan berbeda adalah hak istimewa kaum muda," timpal pria berambut putih bermonokel.

"Hmph."

Assassin bertubuh mirip kera dengan lengan panjang menggelantung melengos pelan.

Sementara itu, assassin yang bersembunyi di balik bayangan menyelinap mundur secara perlahan, menyamarkan keberadaannya.

Bertolak belakang dengan kata-kata manis mereka, hawa membunuh yang pekat menusuk kulit Jaxon. Mereka sudah berada dalam kuda-kuda bertarung.

Jaxon menurunkan pandangannya dan angkat bicara.

"Aku sempat bertanya-tanya, orang gila mana yang memesan pembunuhan ini. Apakah Baronet Mernes?"

Untuk membuat beberapa guild assassin bersatu di bawah nama sebuah aliansi, sang pemesan minimal haruslah seorang bangsawan berpengaruh. Permintaan itu harus cukup besar hingga berani mempertaruhkan eksistensi guild assassin itu sendiri, jadi bangsawan kuat dipastikan terlibat.

Jika diterapkannya pada situasi saat ini, orang itu pastilah seseorang yang menonjol di antara faksi istana atau yang tengah mengkonsolidasikan kekuasaannya. Jika tidak, guild assassin pasti bakal bergerak sendiri-sendiri.

Dengan memperhitungkan pilihan musuh ke dalam persamaan, Jaxon merasa mulai paham. Ia bisa mengintip niat dari sosok yang memerintahkan semua ini. Ia dapat membaca jalan pikirannya.

*'Seseorang yang menganggap keberadaanku serba janggal dan menyulitkan.'*

Itulah alasan mereka menargetkan dirinya sejauh ini.

Mereka tidak menghentikan Encrid yang sedang menuju istana kerajaan, mereka tidak menyerang Marcus, dan mereka bahkan membiarkan orang-orang yang pergi menahan gerbang benteng. Sebaliknya, seluruh aliansi assassin dikerahkan hanya untuk memburunya.

Ini menandakan bahwa melenyapkan dirinya adalah prioritas tertinggi mereka.

Mengapa? Karena Jaxon adalah potensi ancaman yang paling merepotkan.

Ada dua tipe orang yang menjual informasi tentang Black Lily. Tipe pertama adalah mereka yang menemukannya secara tidak sengaja. Tipe kedua adalah mereka yang terlibat secara langsung.

Kali ini, pemesannya adalah tipe yang kedua. Jika tidak, mereka tidak bakal seserius ini untuk menyingkirkannya.

Sebelum situasi meletup, hal ini mungkin sulit ditebak. Namun dengan perkembangan situasi seperti sekarang, sangat mudah untuk menarik kesimpulan.

Dan begitu menyadarinya, tak ada hal yang lebih membahagiakan bagi Jaxon.

Apakah ini pengaruh Encrid? Jaxon mengekspresikan emosinya.

Ia tertawa.

Ia menunjukkan sebaris senyuman.

Melihat senyuman itu, kening assassin berambut putih makin berkerut dalam.

"Apakah kau bakal ngotot lagi kalau kau tidak tertusuk? Atau kau mau membuat klaim konyol lainnya?"

Tampaknya pria berambut putih itu masih sangat frustrasi akibat kekalahan verbalnya saat berdebat dengan Encrid sebelumnya.

Memang benar. Tepat sebelum mereka berpisah tadi, lidah sang Kapten menari-nari seperti kesurupan, bertingkah sangat liar dan tidak tahu malu.

*"Kau bilang kau bakal memberitahuku kalau aku tertusuk, lalu sekarang kau mau mengelak?"* protes si assassin saat itu.

*"Itu tadi tusukan..."*

*"Di mana kau menjual rasa percayamu! Kudengar kau membuat nama besar sebagai guild assassin di ibu kota, konyol sekali!"*

*"Bukan, itu tadi jelas-jelas tusukan..."*

*"Tutup mulutmu! Beraninya kau menggoyangkan lidah yang bahkan tidak bisa menepati janji! Bekas luka di lenganku ini membuktikan semuanya!"*

*"Bukan begitu maksudnya..."*

*"Hah, sungguh menyedihkan."*

*"Pria gila keparat. Dengarkan aku dulu!"*

*"Aku cuma mengaduh 'Aduh! Aduh!', mau apa kau?"*

Encrid terus mengoceh tanpa memedulikan apa pun yang dikatakan lawannya. Dan pada akhirnya, sembari berpura-pura menunjukkan lengan bawahnya, Encrid melempar Whistle Dagger dan menancapkan belati itu tepat di kepala seorang assassin yang menonton dengan bengong.

Pertarungan meletup saat itu juga, dan sang lawan bahkan tidak mendapat kesempatan untuk membela diri setelahnya.

Apakah hal itu cukup membuat seseorang meledak karena gemas dan murka? Sangat mungkin. Tak peduli sekeras apa pun seseorang berusaha menjaga ketenangan, sang Kapten selalu berhasil memancing emosi musuhnya. Jaxon sendiri kadang merasa panas, apalagi musuh-musuh mereka.

Jaxon menatap si assassin berambut putih lalu berucap datar tanpa ekspresi.

"Kau memang menusuknya."

Jaxon mengonfirmasi kejahilan tanpa malu sang Kapten dengan santai, yang serta-merta menghancurkan sisa kesabaran si assassin.

"Sialan, bunuh dia!"

Atas teriakan murka assassin berambut putih, dua puluh delapan assassin merangsek maju dari segala arah.

Jaxon sudah tahu jumlah mereka tepat dua puluh delapan orang. Ia telah menghitungnya sejak awal. Itu adalah sebuah kebiasaan.

Dan detik berikutnya, wujud Jaxon sirna.

"Hah!"

Assassin menyerupai kera berlengan panjang yang mengamati dengan mata sihirnya terperanjat kaget.

*THUMP!*

Suara daging tertembus terdengar nyaring.

Jaxon muncul kembali di dalam gang, tepat di balik bayang-bayang yang pekat. Salah satu petinggi aliansi assassin yang bersembunyi di sana memuntahkan darah dan roboh berlutut.

"Bagaimana bisa...?"

Bagaimana bisa gerakanmu tak tertangkap oleh mata sihir ini? Kau tidak lagi memegang artefak itu!

Tanpa sengaja teringat kembali pada Encrid, Jaxon angkat bicara.

"Dengan tekun, lewat latihan."

Itu adalah jawaban paling tepat untuk pertanyaan 'bagaimana'.

Setelah itu, wujud Jaxon terus berkali-kali lenyap dan muncul kembali.

Korban kedua yang tewas adalah assassin wanita dengan suara yang dimodulasi. Wanita itu sempat bersembunyi dengan cepat di antara kelompoknya, tetapi Jaxon yang menyamar sebagai salah satu anak buahnya menusukkan *stiletto* tepat ke perutnya dari samping.

*Stab, stab, stab!*

Tiga serangan menyerupai garpu merobek organ dalamnya hingga hancur. Jaxon telah menembus paru-paru dan jantungnya; bahkan seorang High Priest sekalipun tak bakal sanggup menyelamatkannya.

"Ugh..."

Suara yang terlepas dari tenggorokannya—bukan jeritan maupun erangan—menjadi jeritan terakhir sekaligus kata-kata pamungkasnya.

Jaxon bergerak tanpa ampun.

Artefak? Ia hanya menggunakannya karena kebetulan mendapatkannya. Ia tak pernah bergantung pada barang semacam itu sejak awal. Jadi, tak masalah jika ia tidak memegangnya lagi.

Tubuhnya terasa sangat ringan hari ini. Ia tahu apa yang harus dilakukan, dan ia bisa melihat dengan jelas ke mana ia harus melangkah.

*'Mernes.'*

Sejak awal, ia sudah menduga salah satu anggota Lily adalah seorang bangsawan. Bahkan jika Baronet Mernes bukanlah dalang utamanya, pria itu minimal pasti terlibat.

Sebab itulah, setelah membunuh mereka semua, tujuan Jaxon sudah ditetapkan.

Istana kerajaan, tempat Baronet Mernes berada.

Dan begitulah yang dilakukannya.

Ia membunuh mereka satu per satu hingga tak ada lagi yang tersisa untuk menyerangnya, lalu melangkah mantap menuju istana kerajaan.

Saat itu, matahari telah melewati puncaknya, membentangkan bayangan yang memanjang.

Memutar pandangannya ke arah matahari terbenam, Jaxon melihat pemandangan yang aneh.

Ia melihat seseorang berlari di atas atap bangunan, menghancurkan genting demi genting saat melesat maju.

Itu adalah seseorang yang mengenalnya. Tentu saja, Jaxon berpura-pura tidak mengetahuinya.

* * *

Awal dari pertarungan di benteng dimulai oleh Dunbakel.

Ia memiliki motivasi yang jauh lebih tinggi daripada Ragna, jadi ini sangat cocok. Ia melompat turun dan menerobos gerbang benteng yang terbuka lebar.

Squire Lopode sudah menyiagakan sebagian pasukannya di luar benteng.

*'Jika mereka menguasai area di depan gerbang, semuanya selesai.'*

Perbedaan jumlah pasukan sangat terlihat jelas. Dalam situasi seperti ini, mereka harus mempertahankan barisan depan.

Pemanah, anak panah, dan persiapan menghadapi pengepungan sangatlah minim, jadi mereka harus menutupi kekurangan prajurit menggunakan kekuatan dan tubuh mereka sendiri.

Tentu saja, semua ini didasarkan pada asumsi bahwa sepuluh musuh yang muncul paling awal berhasil dihentikan.

*'Jika saja kita bisa bertahan...'*

Lopode bahkan tidak berharap sepuluh musuh itu habis dibantai.

Saat itulah mata Lopode menangkap sosok Dunbakel yang melesat maju.

Dunbakel melirik sepuluh orang yang menghalangi jalannya lalu mengumbar senyuman. Itu adalah senyuman yang tampak sangat polos dan tanpa dosa, menyerupai gadis muda yang baru saja datang dari desa.

Tentu saja, ia tidak baru datang dari desa, dan senyumannya pun sama sekali tidak polos. Ia hanya mempraktikkan apa yang dipelajarinya dari Encrid.

Ilmu pedang tentara bayaran gaya Vallen: paras tersenyam-senyum.

Ia telah mengadaptasi teknik yang digunakan Encrid padanya berkali-kali ke dalam gayanya sendiri. Ini adalah hal yang luar biasa dari sebuah bakat alami. Ia tak memiliki keraguan sedikit pun dalam mencerna dan memperagakan teknik tersebut.

Rem sebelumnya telah menempahnya untuk meningkatkan kemampuan fisik secara keseluruhan, tetapi Dunbakel melatih teknik bertarung nyata secara mandiri.

Kini, latihan itu membuahkan hasil.

"Apa-apaan?"

Saat salah satu tentara bayaran melontarkan seruan heran, manusia binatang itu melesat memijak tanah dan memburu ke depan. Kakinya yang secepat macan tutul merangsek masuk ke dalam barisan musuh.

Karena ia memangkas jarak dalam sekejap mata, prajurit di barisan terdepan membeku kaku tanpa sempat mengangkat jari.

*Scimitar* mendarat tepat di kepalanya.

*THWACK, CRACK!*

Saat Dunbakel menghancurkan kepala musuh dengan sabetan tajam, seorang prajurit di sampingnya merespons dengan menusukkan tombak.

Itu adalah gerakan refleks tanpa tenaga di dalamnya, sehingga Dunbakel menghindarinya cukup dengan memiringkan kepala. Ia kemudian menekan bahunya ke pipi, menjepit gagang tombak di antara leher dan bahu, memutar tubuhnya, lalu merebut tombak itu secara paksa.

"... Ah."

Prajurit yang kehilangan tombaknya mengeluarkan suara bodoh. Ia tidak tewas. Dunbakel telah menjatuhkan tombak yang direbutnya dan terus menerjang maju ke depan.

"Hentikan wanita itu!"

Komandan musuh yang akhirnya tersadar dari keterkejutannya berteriak nyaring.

Dua prajurit di barisan depan bergerak seketika. Mereka adalah dua orang yang tidak ada tandingannya dalam hal kecepatan. Meskipun demikian, mereka hampir tidak sanggup mengimbangi kecepatan Dunbakel.

"Nyingkir dari jalanku!"

Saat Dunbakel bertransformasi ke wujud binatangnya dan berlari, para prajurit kocar-kacir memberi jalan. Mereka bukanlah kelompok tidak teratur, tetapi mereka tidak bisa disebut prajurit elit pula. Pasukan Baronet Mernes pada dasarnya adalah gabungan dari berbagai jenis kelompok prajurit, sebuah unit yang hampir tidak memiliki struktur komando yang solid.

Dunbakel mengacak-acak barisan mereka, kadang berlari di atas bahu dan kepala para prajurit, kadang mengayunkan *scimitar*-nya.

Ia menerjang seperti itu sampai mencapai sasarannya, lalu mengayunkan *scimitar*-nya tanpa ampun.

Ia tidak memotong. Ia memutar gagangnya dan menghantam menggunakan punggung bilah pedang.

*THWUMP! CRACK.*

Senjata pengepungan yang mereka siapkan adalah tiga buah ketapel kayu raksasa. Balok utama salah satu ketapel itu patah terbelah dua.

Dunbakel tahu bahwa keunggulan pihak mereka adalah tembok benteng. Berapa tahun yang sudah dihabiskannya berkelana di benua ini sebagai tentara bayaran? Ia sudah sangat berpengalaman dalam segala jenis pertempuran.

Ia hanya perlu melenyapkan ancaman terbesar terlebih dahulu. Sebab itulah ia membuat musuh menurunkan pertahanan lewat raut wajah tersenyum lalu melancarkan serbuan mendadak. Itu adalah manuver sederhana tetapi paling efektif.

"Apakah kau gila?!"

Saat itu, salah satu musuh merapat mendekatinya. Pria itu adalah salah satu dari sepuluh musuh terdepan.

Pria yang mendekat menusukkan tombak pendek. Gerakan kakinya cepat dan tangannya sangat lincah.

Dunbakel menghantam mata tombak menggunakan *scimitar*-nya, lalu memijakkan kaki kirinya kuat-kuat—*BANG!*—dan membalikkan arah tubuhnya secara drastis. Ia berlagak seolah hendak memburu lurus ke arah pria itu.

Musuh yang mencoba mendekat langsung menarik langkah mundur. Dan musuh satunya lagi yang mengejarnya ikut mengambil posisi serupa dan bersiap mengepung dari belakang Dunbakel.

"Mari kita akhiri ini."

Dunbakel mengucapkan hal itu, lalu melemparkan tubuhnya ke arah yang berlawanan secara tiba-tiba.

Itu adalah gerakan yang sangat mendadak dan tidak terduga. Tentu saja, itu adalah hal yang dipelajarinya dari Encrid.

Ilmu pedang tentara bayaran gaya Vallen: tindakan berkebalikan. Sebuah gerakan tipuan di mana seseorang berbicara dengan penuh semangat tetapi bergerak dengan cara yang sepenuhnya merusak ekspektasi lawan.

Keuntungan yang didapat darinya? Untuk mencapai tujuannya dengan lebih mudah.

Bertarung melawan dua orang ini bukanlah prioritasnya; menghancurkan ketapel kayu raksasa adalah hal yang utama.

Dua tentara bayaran yang mengejarnya sempat tersandung kaki mereka sendiri karena terkecoh.

Apa-apaan itu? Manusia binatang yang tampak sangat tangguh ini ternyata menggunakan segala jenis trik licik.

Dibandingkan dengan Encrid atau Rem, menipu dua orang ini bukanlah apa-apa, sehingga Dunbakel sangat menikmati momen tersebut. Ia bahkan merasa sedikit bersemangat. Sudah sangat lama sejak terakhir kali ia bertarung melawan musuh yang lebih lemah dari dirinya.

Saat Dunbakel membuat kekacauan di barisan belakang, pihak musuh segera melancarkan serangan balasan.

"Bantai mereka semua!" teriak pemilik helm bertanduk tunggal.

Namanya adalah Yon, seorang prajurit kelas satu dari wilayah timur.

Seorang pria berambut pirang berjalan mendekatinya dengan langkah mantap dan berat. Meskipun pasukan Baronet Mernes bergerak mendesak maju sebagai tanggapan atas teriakan Yon, pria pirang itu tampak memancarkan ketenangan yang luar biasa.

Anak panah mulai melayang di atas kepala, tetapi ia tetap tenang seolah hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Ragna, dengan pedang tebal dan panjang terselip di bahunya, membuka mulut.

"Maju bersamaan saja. Merepotkan."

"Kau."

Yon yang mengenakan helm bertanduk tunggal tidak tersulut emosi, juga tidak langsung menerjang. Sebaliknya, ia mengangkat senjata kesayangannya: sebilah *glaive*.

Bilah di ujung *glaive* memancarkan pendaran cahaya biru khas baja Gunung Valery.

Ragna menatapnya, membayangkan bagaimana rasanya jika senjata itu diambil lalu dilelehkan kembali.

"Kita lakukan bersama-sama," perintah Yon.

Beberapa orang mengernyit mendengar perkataannya, tetapi tidak ada yang membantah. Sebab sudah jelas terlihat dalam sekali pandang bahwa pria berambut pirang di hadapan mereka bukanlah musuh yang mudah ditundukkan.

"Waktu memihak kita. Kikis kekuatannya secara perlahan," ujar Yon.

Mereka menuruti instruksinya.

Seorang tentara bayaran mengayunkan rantai yang berdenting di atas kepalanya lalu mecutkannya ke depan. Pemberat runcing di ujung rantai yang terdorong gaya sentrifugal melesat lurus mengincar kepala Ragna.

*CLANG!*

Ragna, yang sudah menurunkan pedangnya secara miring, menangkis pemberat itu hingga terpental. Bongkahan logam berat di ujung rantai itu tampak cukup kuat untuk menghancurkan kepala manusia hingga hancur berkeping-keping.

"Bantai dia!"

Perjuangan, pertarungan, darah, pertempuran sengit. Yon menyukai hal-hal semacam itu. Sebab itulah ia berlari untuk menyaksikannya langsung.

Ia menerjang ke depan dan mengayunkan *glaive*-nya secara vertikal ke bawah. Cepat dan bertenaga, menimbulkan deru angin yang nyaring.

*CLANG!*

Lawan menangkisnya dengan presisi.

Detik berikutnya, di samping Yon, seorang prajurit dari pasukan Baronet menusukkan tombaknya. Gagang tombak yang lentur memecut di udara diiringi suara nyaring, memperlihatkan pergerakan yang sulit ditebak.

Pedang Ragna menepis *glaive* Yon dan secara bersamaan memukul mata tombak yang meluncur.

*CLANG!*

Tombak itu berhasil dipatahkan arahnya.

Bahkan setelah menahan tiga serangan berturut-turut yang dimulai dari pemberat rantai, serangan berikutnya langsung menyusul.

Tombak lainnya. Kali ini tidak memecut, melainkan didorong maju dengan tenaga penuh.

Itu berasal dari pria berbeda, seseorang yang percaya diri pada kekuatannya.

Ragna menangkisnya menggunakan pedangnya yang cepat dan berat.

*CLANG!*

Suara benturan baja bergema nyaring.

Setelah pertukaran satu serangan itu, Yon langsung memahami tingkat kemampuan lawannya secara kasar.

Pria ini adalah seorang monster.

Dan Ragna...

Ia bertahan hanya karena diperintahkan untuk bertindak, tetapi sejujurnya ia tidak memiliki motivasi sama sekali, sehingga ia bertarung setengah hati.

Alasan kurangnya motivasi itu? Ia bahkan tidak sudi memikirkannya. Ini hanya hari biasa lainnya. Jika ia memutuskan untuk membantai mereka semua, ia sanggup membunuh mereka dalam sekejap.

Namun, ia harus mengambil risiko. Ia bahkan mungkin menderita luka ringan. Apakah ada keperluan untuk itu? Tidak. Sang jenius yang kehilangan tujuannya bersikap malas bahkan dalam sebuah pertarungan.

Mungkin hal ini juga dipicu karena belakangan ini ia terlalu bersemangat. Ia telah bergerak sangat aktif untuk sementara waktu hingga secara paradoks, kini ia kehilangan seluruh motivasinya.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.