Eternally Regressing Knight

Bab 419: Menuruti Kehendak Hati

2458 Kata

Bab 419: Menuruti Kehendak Hati

“Anda bakal menetap di benteng Penjaga Perbatasan, bukan?”

Menanggapi pertanyaan Krais, Encrid menganggukkan kepalanya.

“Saya sudah menduganya dan merancang berbagai persiapan, namun jika ada hal lain yang Anda butuhkan, tolong beri tahu saya. Kesetiaan murniku!”

Sedari menyaksikan jabatan General dan tumpukan barang berharga, sepasang mata Krais terus berkilauan bagaikan koin emas, dan kata 'kesetiaan' meluncur tanpa henti dari bibirnya.

Encrid tak menyalahkan sikap Krais.

Tak peduli apa yang diucapkan orang lain, pria itu secara konsisten menuntaskan tugasnya dengan amat gemilang.

Kamar tempat tinggalnya kini telah bertransformasi.

Jauh lebih luas, dengan jumlah kamar yang lebih banyak.

Sebuah lapangan latihan baru didirikan tepat di bagian depan.

Peleton Madmen memang sudah memiliki area latihan khusus sebelumnya, namun kali ini rancangannya bertransformasi dari fondasi dasar.

Batu-batu yang ditata rapi terhampar mengalasi area lapangan yang luas.

Di satu sudut, ia menyaksikan dedaunan hijau di atas pepohonan yang ditanam rapi, menampung bulir-bulir embun pagi.

Fajar menyingsing perlahan.

Musim panas sedang berlangsung—musim saat matahari terbit lebih awal.

Pepohonan, bunga-bunga, serta sang surya yang meninggi.

Menyaksikan dedaunan yang bergoyang ditiup angin, Encrid menarik pedangnya.

Kemudian, ia mengulang kembali tempaan latihan hariannya.

Tak ada jadwal duel tanding yang teragenda untuk hari ini.

“Mari kita saling menjajal duel begitu kapak baruku selesai ditempa,” cetus Rem seraya menggertakkan giginya.

“Greatsword miliku belum siap,” tolak Ragna ketus seraya mengerutkan kening.

“Apakah Anda berniat melancarkan tusukan dan tebasan memfungsikan pedang itu? Kakak General?”

Bahkan Audin sekalipun secara terselubung menunjukkan penolakannya.

“Aku tidak mau,” tutur Dunbakel menghindar.

“Aku sedang memesan perisai baru,” bahkan Teresa menolak halus.

“Meski pergelangan kakiku sudah tersambung kembali, namun untuk menjajal duel melawannmu saat ini, bahkan tiga pergelangan kaki pun tak akan cukup!”

Harapannya pada Rua Garne pun sirna.

Shinar bahkan sama sekali tak menampakkan batang hidungnya.

“Kurasa aku belum sanggup,” tutur Pell seraya menggelengkan kepala saat Encrid mencoba memanggilnya.

Ia menambahkan bahwa ia tak akan sanggup menang jika nekat bertarung saat ini.

Ia tampaknya tak berniat menjajal duel tanding untuk saat ini.

Bagi Encrid, kondisi ini sungguh teramat disayangkan.

Padahal ia murni hanya berniat menguji kualitas pedang Aker—pedang ternama di antara pedang-pedang ternama yang baru saja dikantonginya.

Di tengah-tengah uji coba tersebut, ia secara tak sengaja menghancurkan mata kapak Rem hingga berkeping-keping serta membelah pedang sementara yang dipungut Ragna menjadi dua bagian, namun hal itu tak bisa dihindari!

Bukankah sudah sepantasnya ia menjajal pedang barunya?

“Bukankah itu tindakan yang sedikit licik?” sindir Rem miring, namun Encrid menjawab tenang:

“Memiliki senjata yang tepat pun merupakan bagian dari kemampuan tempur seseorang.”

“Padahal sang Ratu baru saja menganugerahkannya padamu secara cuma-cuma... ah, lupakan saja!”

Rem menyerah beradu mulut.

Jauh lebih mending baginya untuk menarik energi magisnya sekali lagi ketimbang mengalahkan Encrid lewat adu mulut.

“Ayolah, wahai barbarian barat,” goda Encrid beberapa kali lagi, namun Rem yang telah memetik pelajaran memilih menutup telinganya rapat-rapat dan mengacuhkannya.

Encrid segera menepis lamunan sia-sianya lalu berfokus total pada latihan pedang.

‘Tarik, tusuk, dan tebas.’

Angin berhembus menyertai tiap ayunan pedang yang dilancarkannya seraya membayangkan bayangan musuh imajiner, memicu gemerisik dedaunan di pepohonan.

‘Selalu ada hal yang bisa diserap dari tiap-tiap yang kupandang.’

Pencerahan agung tak selalu menjadi syarat mutlak.

Mengulang manuver, mengikis kesalahan-kesalahan kecil, serta merancang pergerakan fisik yang jauh lebih presisi.

Pelajaran yang diserapnya sejauh ini secara alami berbaur dengan sabetan pedang yang dilancarkannya lewat imajinasi benak.

Menginfuskan Will dari The Moment ke dalam rantai pergerakan tusukan dan tebasan secara terus-menerus.

‘Dua manuver dalam satu tarikan napas.’

Ragna dulu pernah mengeksekusi hingga tiga manuver dalam satu tarikan napas!

Ia menyaksikannya sendiri sewaktu pria itu menebas Spirit General di hadapan sang Count.

Encrid belum sanggup mengeksekusi tingkatan semacam itu.

Hal yang diperagakan Ragna berada jauh melampaui trik biasa—mendekati Ranah Gaib murni.

Bagi Encrid, itu tampak seperti sabetan pedang yang paling mendekati sosok ksatria sejati.

‘Ulangi dan ulangi kembali.’

Seandainya sang Ferryman berdiri tepat di sampingnya saat ini, ia pasti bakal mengumpat, berucap betapa menjenuhkannya sosok pria ini.

Sebuah jurus Preparing Sword yang meluncur menyusul akselerasi kilat.

Jurus Captivating Sword merancang musuh imajiner lalu memetakan bentrokan intuisi.

Sosok musuh di hadapan matanya berganti-ganti, mulai dari pemuda jenius yang ditemuinya di masa lalu, para pendekar dari masa-masa mercenary, hingga sosok Lierbart, Rem, Ragna, dan Audin.

Tak ada satu pun pertarungan yang berlangsung gampang.

Ketangkasan Encrid saat ini memang sudah berada di barisan teratas Apprentice Knight, namun hasil medan perang sungguh berbeda dari duel tanding.

Siapa pun sanggup tewas disambar sabetan nyasar.

‘Jangan pernah mendiskusikan kemenangan ataupun kekalahan sebelum pertarungan dimulai.’

Tiga dari instruktur pelatih yang pernah mengajarinya menyuarakan hal yang sama persis.

Ajaibnya, ketiga instruktur tersebut awalnya menolak mentah-mentah mengajari Encrid, dan baru menyanggupinya usai menyaksikan kegigihan yang melompati keputusasaan murni.

Saat ia mengayunkan pedangnya berulang kali, tetesan keringat muncrat ke segala penjuru.

Sosok yang paling menyerupai seorang ksatria di sepasang mata Encrid adalah Ragna.

Cara pria itu menebas siapa pun yang menghalangi jalurnya hanya dalam sekelibat sabetan!

Kemampuan pedang yang diperagakannya sewaktu membelah lautan roh!

Dalam tiap aspek, Ragna secara jelas telah melompati tingkatan Apprentice Knight.

Maka Encrid pernah menanyakannya:

“Apakah kamu sudah mencapai ranah seorang ksatria sejati?”

“Aku tak tahu,” sahut Ragna.

“Kamu tak tahu?”

“Aku tak tahu karena aku belum pernah berdiri di ranah itu.”

Encrid sanggup menyaksikan keyakinan mutlak di balik ucapan Ragna.

Sebuah rasa percaya diri yang murni hanya sanggup dipancarkan oleh seorang jenius.

Pria itu menegaskannya lewat gestur perawakannya:

‘Aku belum pernah berdiri di sana, tetapi aku pasti bakal mencapainya.’

Sebuah iman mutlak terpancar jelas di balik sikap dan deretan tindakannya.

Encrid paham betul bahwa bakat alaminya sendiri teramat buruk, dan para jenius yang serupa dengan Ragna berdiri mengelilingi dirinya.

Rem adalah salah satunya, begitu pula Audin.

Bahkan kemampuan Dunbakel dan Teresa pun telah berkembang pesat ke tingkatan yang tak lagi bisa dibandingkan dengan masa lalu.

Mereka dianugerahi jenis bakat yang berbeda-beda.

Dan bagaimana dengan Pell? Menyaksikan caranya mengkalkulasi kemampuan musuh hanya lewat pandangan mata, ia pun lebih dari memenuhi syarat untuk disapa sebagai seorang jenius.

Bahkan Squire Ropode sekalipun—meski Encrid tak tahu apa yang dipikirkan pria itu hingga nekat mengekornya—bakat alaminya kemungkinan besar berada di atas Encrid.

Sementara Lierbart adalah seorang penyair yang terjerembel ke dalam rawa-rawa frustrasi dan keputusasaan.

Ia menyanyikan lagu keputusasaan dan menari di tengah rasa frustrasi.

Meratapi bakat alaminya, ia menapaki jalan yang sesat.

‘Hiduplah dalam frustrasi dan berputus asalah!’

Ilusi sang Ferryman melontarkan teriakan.

Encrid mengabaikan itu semua.

Kuda-kudanya tak akan goyah, dan hatinya tak akan terguncang oleh lamunan sia-sia semacam itu.

Kejadian itu berlangsung sewaktu tubuhnya mandi keringat deras.

Ia menangkap derap langkah kaki dari satu sudut.

Encrid menghentikan tebasan pedangnya lalu mengalihkan pandangannya.

Suara itu datang dari arah fajar yang merekah.

Ia menyaksikan sekelebat bayangan—yang membelakangi pancaran cahaya—melangkah mendekatinya.

Sang surya—yang telah membumbung tinggi di titik tertentu—menyinari sekeliling secara benderang.

Ia menyaksikan rambut berwarna cokelat kemerahan serta sepasang lengan yang bergoyang secara alami.

Encrid tahu bahwa belati tanpa suara sanggup melesat dari kedua tangan itu kapan saja, dan bahwa deretan bilah serta senjata tersembunyi bertebaran di sekujur fisik pria tersebut.

Jika fisik Audin adalah senjata tumpul bagaikan baja...

Maka pria yang melangkah mendekat saat ini adalah senjata bernapas yang sanggup membantai musuh murni hanya lewat deru napasnya!

Seiring ketangkasannya berkembang, jangkauan penglihatannya pun kian meluas.

Ia menangkap 'kesiapgesturan' milik Jaxon yang tak pernah tersaksikan olehnya di masa lalu.

Hal itu tersembunyi di tiap-tiap langkah kaki, di tiap-tiap gestur pergerakan.

Menyaksikan hal itu, Encrid merombak posisi kakinya, menarik sabuk pedangnya, lalu mengistirahatkan tangannya di pinggang.

Genggaman jemarinya menyatu secara alami dengan pedang Aker.

Sebuah pedang ternama yang dinamai berdasarkan sosok ksatria dalam mitos pendirian kerajaan.

Bisa disapa sebagai pedang pusaka keluarga istana kerajaan.

‘Apakah tidak apa-apa jika pedang ini sampai patah?’

‘Raja sendiri yang menganugerahkannya padaku, jadi aku tak punya pilihan lain, bukan?’

Jika Jaxon melancarkan penyergapan saat ini, Encrid merasa bahwa baik pedang Aker maupun fisiknya sendiri tak akan sanggup keluar tanpa luka.

Para pembunuh gelap memiliki tolok ukur tingkatan kemampuan tersendiri:

Mengumbar niat membunuh secara terbuka adalah tingkatan kelas tiga.

Membocorkan niat membunuh secara terselubung adalah tingkatan kelas dua.

Mendekat tanpa pancaran aura kehadiran sedikit pun adalah tingkatan kelas satu.

Dan mendekat seraya memancarkan aura rakyat biasa yang teramat normal dianggap sebagai tingkatan tertinggi.

Jaxon berkesan sama persis seperti biasanya, namun pancaindra tajam dan intuisi Encrid menyuarakan hal sebaliknya.

“Ketangkasanmu benar-benar sudah berkembang pesat,” tutur Jaxon mendekat.

“Masih jauh dari cukup.”

Encrid berkata seraya menurunkan lengannya.

Ia makin melemaskan fisik tubuhnya.

Demi melepaskan ledakan kecepatan kilat dalam sekejap, seseorang wajib berada dalam kondisi rileks murni.

“Maksudmu untuk menjelma menjadi seorang ksatria sejati?” tanya Jaxon.

Sebuah anggukan kepala.

Jaxon menghentikan langkah kakinya.

Lantaran pancaran cahaya matahari berada tepat di belakang punggungnya, murni hanya sebayang kegelapan yang membingkai raut wajahnya.

Bayangan pekat itu membuat raut wajahnya berkesan jauh lebih dingin dibanding sebelum-sebelumnya.

“Ada satu hal yang berniat kutanyakan padamu,” tutur Jaxon.

“Tanyakanlah.”

“Kenapa kamu tidak bergabung dengan sebuah ordo ksatria?”

* * *

“Apakah Anda bakal kembali pulang saat ini juga?”

Di masa lalu, pada era kekuasaan Master guild Belati Georg terdahulu, ada satu tindakan rahasia yang selalu mereka eksekusi usai misi penyusupan tuntas:

Yaitu menghabisi nyawa siapa pun yang sanggup menebak identitas asli dari anggota guild yang menyusup!

Di era saat ini, hal itu bukan lagi aturan mutlak yang wajib dipatuhi.

Namun perkaranya bertransformasi jika pihak yang dihadapi adalah sang Master guild Belati Georg sendiri.

Sang Master guild Belati Georg adalah eksistensi yang mutlak wajib terselubung di balik tirai misteri.

“Haruskah saya yang menuntaskan urusan ini?” tanya wanita kekasihnya—yang merupakan putri kandung sang Master terdahulu.

Jaxon tak memberikan jawaban.

Kata-kata tak sanggup meluncur dengan gampang dari mulutnya.

“Jika urusan ini harus dieksekusi, aku yang bakal menuntaskannya memfungsikan tanganku sendiri.”

Sang kekasih menganggukkan kepalanya paham.

Hal itu memang tepat.

Lantas kapan ia bakal menuntaskan urusan ini dan kapan ia bakal kembali pulang?

Di samping tumpukan permohonan yang menggunung, masalah yang jauh lebih raksasa adalah dengan absennya sang Master dalam waktu yang teramat lama, kedisiplinan guild mulai goyah.

Jika ia menunjukkan celah sedikit saja, ada begitu banyak keparat yang bersiap menyusun intrik demi merebut posisinya!

Sekadar membayangkannya saja, ada lebih dari lima faksi.

‘Tidak, setidaknya ada sepuluh faksi!’

Meski begitu, wanita itu menghormati sang Master dan mematuhi kehendaknya.

Bahkan tanpa alasan khusus, Jaxon tetap bertahan di sini.

Ia bisa saja melangkah pergi sebelum perang saudara pecah, ia bisa melangkah pergi setelahnya, dan ia tak harus nekat kembali ke benteng Penjaga Perbatasan.

Ada pula celah tak terhitung jumlahnya untuk membantai pria yang mencurigai identitasnya sepanjang perjalanan.

Apa alasan di balik tindakannya yang bahkan tak berani mencobanya, tanpa peduli keberhasilan ataupun kegagalan?

Ada tumpukan perkara yang membuat wanita itu penasaran dan tak sanggup memahaminya.

“Bolehkah saya bertanya apa alasannya?”

Menghadapi pertanyaan dari sang kekasih—bukan dari anggota guild yang melayani sang Master—Jaxon dibuat kehilangan kata-kata sejenak.

“Jika saya menanyakannya, kurasa saya bakal memahaminya,” tambah wanita itu.

“Memahami apa?”

“Kenapa dia tak memilih menjelma menjadi seorang ksatria.”

Bagi sang wanita, kalimat itu terdengar tanpa pemicu mendadak.

Namun tidak bagi Jaxon.

‘Master...’

Sepanjang lintasan perjalanan ke mari, deretan kata dari sang Master terdahulu terus bergema di benak Jaxon:

“Teknik tanpa dibarengi oleh kehendak hati murni tak lebih dari sekadar seni membantai nyawa, wahai pria dungu!”

Ia sempat bertanya-tanya apakah kalimat semacam itu pantas diucapkan pada seseorang yang datang murni demi menimba seni membantai nyawa.

“Apakah kamu bahagia lantaran begitu jago membantai manusia? Apakah itu terasa nikmat?”

Ia tak sering merasakannya, namun hal itu memang terasa nikmat.

“Jangan tersenyum! Menyaksikanmu tersenyum membuatku merasa bahwa pilihanku adalah sebuah kesalahan besar!”

Jaxon bahkan tak pernah penasaran pilihan apa yang dimaksudkan oleh sang Master.

Sang Master telah menyuarakan hal serupa sedari awal ia mengangkatnya:

“Jika ada sesuatu yang kamu anggap teramat berharga, hal yang awalnya murni sekadar seni membantai nyawa terkadang sanggup bertransformasi menjadi sebilah pedang yang melindungi seseorang.”

Jaxon pernah melontarkan pertanyaan balasan pada sang Master:

“Lalu apa yang sedang Anda lindungi, Master?”

“Putriku beserta keluargaku, orang-orang dungu yang hidup murni menggantungkan harapan padaku, serta pagar pembatas yang mencegah keparat seperti dirimu terlepas liar menghantam dunia!”

Sebuah kisah yang separuh dipahami dan separuh tak sanggup dimengerti.

Sebuah kisah yang sebenarnya tak terlalu krusial.

Sebuah kisah yang seharusnya murni didengarkan lalu dilepaskan berlalu.

Hal yang krusial bagi Jaxon adalah kekuatan mutlak yang dibutuhkannya demi mengeksekusi pembalasan dendam.

Kini sewaktu aksi pembalasan dendam telah tuntas, haruskah ia mencari target pembalasan dendam baru?

Haruskah ia mengulang kembali aksi mencari dan membantai sisa-sisa musuh satu per satu?

Apakah itu alur jalan yang benar?

Ia merasa itu adalah hal yang wajib dieksekusinya sebelum mempertimbangkan benar atau salah.

Karena itulah ia berdiri di sini.

“Kini, Jaxon Benzens, putra murni dari klan Benzens... apakah kamu berniat menjelma menjadi seorang pembantai gila? Apakah menyempurnakan seni membantai manusia adalah satu-satunya tujuan hidupmu? Apakah itu impianmu? Apakah itu segalanya bagimu?!”

Deretan kata dari sang Master terus bergema tanpa henti di dalam kepala Jaxon.

* * *

Encrid tenggelam dalam perenungan sejenak menanggapi pertanyaan mendadak dari Jaxon.

‘Kenapa, tanyanya?’

Ia sebenarnya tak pernah secara khusus memikirkan alasan di baliknya.

Namun jika direnungkan kembali, ia sebenarnya bisa saja menetap di jajaran Knights.

Jika ia menetap di ibu kota lalu menyuarakan keinginan bergabung dengan ordo ksatria, siapa yang berani menolaknya?

Krang bahkan tampak bersiap mendirikan ordo ksatria baru jika memang diperlukan, dan Aisha pun secara terselubung menyarankannya untuk mengenakan jubah merah Red Cloak.

Marquis of the Fertile Plains—yang kini telah menjabat sebagai seorang Duke—bahkan menyuarakan hal itu secara terang-terangan:

“Bagaimana jika kamu menetap di ibu kota lalu bergabung dengan ordo ksatria? Aku yakin ini bakal menjadi kesempatan emas bagimu.”

Jika Marquis Vaisar mencoba mengikat ikatan lewat naungan klannya, sang Duke of the Fertile Plains berkehendak agar Encrid menjelma menjadi pilar baru di tanah ini.

Encrid mengabaikan seluruh penawaran menggiurkan tersebut secara dingin.

Saat itu, seluruh hasratnya murni hanya berkehendak untuk secepatnya kembali pulang dan mengayunkan pedangnya dalam ketenangan setiap pagi dan petang.

“Murni sekadar menuruti dorongan saja.”

Menyadari bahwa ia perlu menyampaikan ucapan yang lebih spesifik, Encrid menambahkan:

“Aku murni hanya melangkah menuruti kehendak hatiku.”

Jika dikaji lebih dalam, penyebab utamanya adalah lantaran ia tak sanggup menemukan sosok ksatria sejati yang sedang dikejarnya.

Encrid tak menemukan esensi ksatria murni di sana.

Ia telah menyaksikan para ksatria di ibu kota, namun apakah ada ksatria sejati di dalam jiwa mereka? Kehormatan? Iman? Ketenangan murni?

Membantu yang lemah.

Bertarung memfungsikan pedang demi keadilan.

Medan pertempuran tempat anak-anak tak ikut bertempur.

Pertarungan dari mereka yang menjaga punggung kawan.

Hal-hal yang disapa sebagai kebajikan—hal-hal yang saat ini diacuhkan oleh dunia.

Encrid tak merasa perlu mengenakan jubah merah Red Cloak murni hanya untuk menapaki alur jalan yang didambakannya.

Itulah alasan mendasar di balik ucapannya mengenai menuruti kehendak hati.

“Ordo ksatria yang kudambakan pun tak berdiri di sana.”

Encrid—yang menyadari penjelasannya kurang lengkap—merincikan pemikirannya secara sederhana.

Bukan penjelasan yang panjang lebar, namun maknanya tersampaikan secara amat presisi.

“Kamu bermimpi teramat raksasa...”

Rem pasti bakal melontarkan kalimat semacam itu.

Namun Jaxon murni hanya mengerutkan keningnya menyimak kata-kata Encrid.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.