Eternally Regressing Knight

Bab 425: Berada di Mana Diriku Saat Ini?

2652 Kata

Bab 425: Berada di Mana Diriku Saat Ini?

Encrid merasakan bulu-bulu halus di sekujur fisiknya merinding berdiri.

Rasanya seolah-olah mata pedang milik lawan sanggup menyambar lehernya kapan saja!

Apakah ia sanggup menangkisnya?

Sepasang telapak tangan dan kakinya mengeksekusi pergerakan bahkan sebelum pertanyaan tersebut merampung tuntas di benak.

Ia merombak sudut tumpuan sepasang kakinya lalu menempatkan telapak tangannya di atas sabuk tempat bergantung pedangnya.

Itu adalah posisi kuda-kuda paling nyaman yang memungkinkannya menghunus pedang kapan saja dalam sekejap.

Sewaktu Encrid merombak posisi kuda-kudanya, puluhan metode gempuran muncul di benak fisiknya murni untuk sirna serapi saat muncul.

‘Bagaimana jika aku melempar sebilah Whistle Dagger demi memecah konsentrasinya?’

Atau bagaimana jika menerjang menyeruduk seketika menggunakan Preparing Sword?

Haruskah ia menjajal sabetan raksasa?

Keajaiban Single Point Focus aktif secara otomatis, bahkan tak mengizinkannya berkedip selama sekejap pun.

Ia sanggup menyaksikan sepasang mata musuhnya.

Sepasang mata kekuningan itu tampak mengusung pendar kilatan main-main.

Kelakar main-main itu sendiri sanggup memicu kematian mematikan.

Ya, sangat bisa.

Namun apakah hal itu merombak sesuatu?

Konsentrasi benaknya meledak membara, dan keajaiban The Eye that Sees One Inch Ahead aktif secara otomatis!

Tiap-tiap sarana gempuran bakal ditangkis.

Hal semacam itu mutlak bakal terjadi.

Lantas kenapa? Apa pedulinya pada hal seperti itu?!

Bulu-bulu halus yang merinding berdiri, detak jantung yang berpacu kencang, kucuran keringat yang mengalir deras, serta rasa dingin menyengat yang bertolak belakang dengan cuaca panas.

Encrid memutuskan untuk melupakan segalanya!

Taktik yang digunakannya demi bertahan melawan ksatria dari jajaran Knights yang ditemuinya dulu adalah melangkah maju dan melancarkan sabetan pertama.

Tanpa mengeksekusinya, ia tak mengantongi keyakinan sanggup menangkis bahkan sebutir gempuran tunggal!

Pada masa itu, itulah pencapaian terbaik yang sanggup dilancarkannya.

‘Lantas bagaimana dengan posisiku saat ini?’

Encrid—meski dihajar dan dihancurkan tak terhitung kali—melangkah dan terus melangkah, mengejar impian pudar yang kian pudar.

Ia mengayunkan pedangnya sepanjang hari tanpa ada istirahat, telapak tangannya kerap kali robek meletus.

Tak ada satu hari pun yang berlalu tanpa pola semacam itu.

Sang surya membumbung segar di tiap hari, namun Encrid tak pernah membiarkan suatu hari pun terbuang sia-sia!

‘Apakah hal itu bakal membuahkan hasil saat ini?’

Sebuah dorongan mendadak untuk mengeksekusi sesuatu menyeruak hebat di kedalaman dadanya.

Bukankah sudah sepantasnya untuk mencobanya saat ini?

Ia teramat berhasrat mengeksekusinya!

Antusiasmenya meledak gejolak, dan segala pemandangan di sekelilingnya meluntur sirna, murni menyisakan lawan di hadapannya yang tertangkap mata.

‘Apakah ini bentuk keangkuhan, atau kepercayaan diri yang terlampau berlebihan?’

Itu adalah masa lalu yang saat ini serasa teramat lampau berkat hari-hari perulangan, bahkan sebelum ia menjadi komandan peleton pembuat onar.

Di masa-masa itu, Encrid sempat menggembleng sesuatu yang menyerupai rasa percaya diri.

Bagaimana mungkin tidak?

Ia telah mengayunkan pedangnya secara berulang kali bagaikan pria gila!

Ia tak menyadari bahwa ganjaran dari sebuah kerja keras tak dibagikan secara setara pada semua orang.

Tidak, ia mengetahuinya, namun ia memilih untuk mengacuhkannya.

Kepercayaan diri yang terlahir dari hidup di antara orang-orang rata-rata memicu hasrat untuk menjajal kemampuannya sendiri:

‘Seberapa tangguh posisiku saat ini?’

Disertai pemikiran tersebut, ia melangkah mencari musuh yang layak ditantang.

Itu adalah ayunan langkah yang dieksekusi berlandaskan pada keyakinan tanpa dasar bahwa dirinya pasti telah berubah dibanding masa lalu.

Dan apakah konklusi hasilnya?

Musim semi pada usianya yang ke-27 tahun.

Encrid tersadar betapa kerdilnya potensi bakat alami miliknya!

Konklusi hasil dari sebuah perkelahian yang dilaluinya memicu fakta itu menyeruak nyata.

Murni dalam lima kali pertukaran sabetan, pedang di tangannya melayang terbang, dan sebuah lubang tembus menghantam perutnya!

Menekankan telapak tangannya di atas lubang perutnya yang bocor, Encrid bertanya:

“Kamu... berapa usiamu saat ini?”

“Dua belas tahun,” sahut bocah itu.

Dua belas tahun!

Sangat tak masuk akal.

Inilah eksistensi seorang jenius sejati.

“Mohon maaf, ini adalah pertarungan sejatiku yang pertama,” tutur bocah itu.

Ingatan itu masih teramat kasat mata di benaknya.

Ia tak akan pernah bisa melupakan raut wajah bocah jenius tersebut.

‘Meski begitu...’

Sebilah pedang yang telah kehilangan rasa percaya dirinya sanggup melukai lawan, namun tak akan pernah sanggup menumbangkannya!

“Alih-alih bertanya-tanya apakah harus menebas atau tidak, tebaskan saja!” demikian teguran Rem.

“Kamu murni hanya perlu menebasnya hingga benda itu hancur!” itulah nasihat Ragna saat menguraikan cara menebas batu karang yang tak bisa ditebas.

“Jika kesadaran jiwamu kurang, tempa fisikmu. Jika fisikmu kurang, tempa jiwa benakmu, wahai Kakak!” tutur Audin mengatakan bahwa berlatih tanpa sempat berpikir adalah konklusi jawaban sejati.

“Kamu murni bisa menusuk mereka secara terselubung,” itulah jawaban Jaxon sewaktu ditanyakan apa yang wajib dieksekusi menghadapi musuh yang tangguh.

Ia mungkin sedang menjajal ketangkasannya menggunakan kepercayaan diri tanpa dasar sekali lagi, namun...

‘Lantas kenapa jika aku memang melakukannya?!’

Ia telah mendirikan sebuah menara kerja keras dan—menemuinya masih belum cukup—ia telah merayap nekat menaiki tembok tinggi demi sampai ke posisinya saat ini!

Encrid berkehendak menjajal kemampuan dirinya sendiri!

Ia berkehendak memuaskan dahaga jiwanya!

Ia berkehendak mengarahkan mata pedangnya lurus pada musuh di hadapannya!

‘Sejauh mana aku telah melangkah?’

Jika dibandingkan sewaktu ia menghadapi ksatria dari jajaran Knights asal Kerajaan Azpen?

Atau sewaktu mata pedang bocah jenius itu menembus merobek perutnya?

Itu adalah keteguhan dan kegigihan, ketabahan dan daya juang tanpa kenal menyerah.

Lawan di hadapannya pun menyadarinya.

Membatin bahwa pria ini bakal nekat melepaskan gempuran balasan, bahkan usai ia meredam daya Intimidasinya.

Pria berompi kain menatap lurus pada Encrid lalu mengulas senyum.

Ada begitu banyak hal yang memicu kegembiraan.

Bukan sekadar kegigihan pria dungu di hadapannya, melainkan pola bagaimana orang-orang di sekelilingnya secara alami menyatu dalam alur atmosfer tempur pun teramat menarik!

“Aku pun tak tahu,” tutur pria itu seraya mengeksekusi pergerakan.

Disertai bunyi dentuman keras hentakan kaki yang memijak tanah, fisiknya terkesan memanjang sewaktu ia melesat maju ke depan.

Sebuah akselerasi kecepatan yang melompati ambang batas manusia!

Detik ia menyadarinya, mata pedang Encrid pun mengeksekusi pergerakan!

Ini bukanlah sabetan raksasa, bukan pula Preparing Sword.

Murni sekadar fisik tubuhnya yang bereaksi kilat sebelum ia sempat berpikir!

Clang!

Dentuman keras menggelegar bergema, dan Encrid merasakan fisiknya terdorong mundur ke belakang, namun ia menekuk sepasang lututnya dan merendahkan titik pusat gravitasinya demi mempertahankan pijakan.

Srak!

Sepasang kakinya terseret meluncur di atas permukaan tanah.

Dalam posisi tersebut, Encrid menarik kembali pedang yang baru saja dihantam lalu melancarkan gempuran tusukan!

Sudah teramat alami untuk memangkas alur lintasan tiap-tiap pergerakan demi mengksploitasi celah cela musuh.

Sebuah respons yang meledak muncul dari rongga alam insting, tertanam mendalam di fisiknya lewat duel tanding tak terhitung kali bersama Rem.

“Hiyah!”

Pria itu melepaskan seruan lalu menepis tusukan tersebut kembali.

Senjatanya adalah sebilah belati melengkung tebal sepanjang telapak tangan yang disapa sebagai jambiya.

Meski berbenturan lurus dengan pedang ternama Aker, belati itu tak terkikis ataupun patah!

Benda itu secara jelas adalah senjata yang tergolong ke dalam jajaran pedang-pedang ternama dunia.

Rem, Ragna, atau Audin sanggup saja menyela masuk, namun tak ada seorang pun yang melakukannya.

*Trang! Trang-trang-trang!*

Kedua senjata saling berbenturan beruntun!

Alih-alih melangkah mundur, Encrid berfokus total pada alur lintasan belati jambiya.

Secara mengagumkan, belati itu berkesan seolah sirna di momen-momen tertentu, namun di tiap-tiap momen, Encrid sanggup memprediksinya menggunakan keajaiban The Eye that Sees One Inch Ahead yang dibangkitkan oleh Will miliknya!

Itu seperti menyaksikan titik awal lalu memproyeksikan lokasi tujuan, namun dieksekusi seraya mengawasi lintasan mata pedang sampai batas tertentu berkat bantuan keajaiban mata tersebut.

Lantaran faktor ini, ia tak sanggup melancarkan teknik besar untuk mengeksekusi serangan balasan, namun ia sanggup mengawasi dan menahannya secara tipis!

Usai mengelak dan menangkis sebanyak dua belas kali, Encrid secara kilat menurunkan telapak tangan kirinya ke pinggang lalu memukulkannya ke depan.

Ia telah menggenggam belati Spark lalu melancarkan tusukan dengannya!

Jauh lebih cepat dibanding masa lalu, mata belati itu secara sempurna memanifestasikan kata 'kecepatan kilat' sewaktu melesat meluncur menjelma menjadi sebutir titik tunggal!

Dan mata belati Spark tertangkap lurus di dalam genggaman telapak tangan pria itu!

Tep.

Mata belati yang tertangkap itu terkunci seolah-olah dijepit di antara dua bongkahan batu karang, tak bergeming sedikit pun.

Belati jambiya di tangan pria itu mendadak sudah berada tepat di leher Encrid!

Ia telah menangkap mata belati Spark menggunakan satu telapak tangan, mengelak dari jangkauan lengan pemegang pedang Aker, menyusup masuk secara mahir ke pertahanan dalam Encrid, lalu mengarahkan belatinya ke leher Encrid!

“Cukup sampai di sini. Kamu adalah bocah yang teramat menarik,” tutur pria itu.

Barulah pada saat itu jangkauan penglihatan Encrid mendadak terbuka lebar.

Ia tadinya murni hanya menyaksikan pria di hadapannya, namun tak lagi demikian saat ini.

Pemandangan lingkungan sekeliling menyapu masuk ke sepasang matanya kembali:

Area lapangan latihan yang familiar, tiga pohon rindang, dan seterusnya.

Pada saat yang bersamaan, rasa nyeri tumpul menjalar menyebar di sekujur fisiknya.

Otot-ototnya didera ketegangan ekstrem, seolah-olah ia baru saja mendorong fisiknya hingga ke batas maksimal dan berlatih selama berhari-hari tanpa henti!

“Ksatria di jajaran Knights manakah Anda?” tanya Encrid.

“Ksatria? Aku sama sekali bukan eksistensi semacam itu,” sahut pria itu seraya menggidikkan bahunya.

Sikapnya berkesan amat santai.

Sebuah gestur yang tak terlalu selaras dengan fisiknya yang dipenuhi parut luka dan janggut pendeknya yang kasar.

“Bukankah Anda seharusnya mengatakan perkenalan tersebut terlebih dahulu?” tegur seorang pria berkulit cokelat yang mengenakan turban—penutup kepala dari kain lebar—seraya melangkah mendekat dan menatap semua orang.

Intonasi suaranya teramat santai, seolah-olah kekacauan sebelumnya bukanlah hal yang raksasa.

“Izinkan saya memperkenalkannya: Beliau adalah Tuan Anu, yang secara umum disapa sebagai sang Raja dari Timur.”

Menghadapi perkenalan mendadak tersebut, Encrid sekalipun sempat terpaku selama sekejap.

“Terperanjat?” tanya sang raja membuka suaranya seraya tertawa terbahak-bahak.

Sang Raja Tentara Bayaran Benua Timur, penjelajah teragung di seantero benua, master penunggang griffon, pria yang menumbangkan sesosok singa murni menggunakan sebilah pedang pada usianya yang ke-18 tahun!

“Nah, mari kita lihat. Kamu menikmati duel bertarung, bukan? Dan kudengar kamu mempertaruhkan nyawamu demi membantai para demon? Bergabunglah di bawah naunganku, dan aku bakal menghadiahi dirimu ketangkasan tempur setingkat ksatria di jajaran Knights yang sanggup membantai para demon!”

Demikianlah deretan kata yang meluncur dari sosok pria yang mengusung tak terhitung gelar agung—seorang pria yang telah membuktikan kehebatannya!

Pemicu kenapa Rem dan yang lainnya tak nekat menerjang maju sangatlah kasat mata:

Pria yang disapa sebagai Sang Raja dari Timur sama sekali tak mempertontonkan sekelumit pun niat membunuh.

Ia telah menerima kegigihan Encrid.

Itu adalah sejenis pembelajaran—sebuah duel bertarung yang teramat sulit untuk disela.

Namun bobot deretan kata yang baru saja dilontarkannya jauh berbeda!

Kata-kata itu adalah deretan kata yang bakal merombak bahkan ekspresi raut wajah Ragna—yang tadinya mendadak tenggelam dalam lamunan dengan tatapan mata kosong!

“Kepercayaan dirimu sungguh membara tinggi,” tutur Rem tak lagi sanggup berdiam diri, dan Audin pun melepaskan tawa terbahak-bahak.

Meskipun pria itu tak menyapa dirinya sebagai seorang ksatria, daya ketangkasan tempur yang dipertontonkannya secara mutlak sangat layak menyandang gelar tersebut!

Di atas semua itu, ia berdiri tegap dan berkata menggunakan kepercayaan diri yang teramat lantang.

Pancaran aura yang serupa dengan sosok Krang menyeruak menyeruak secara alami.

Rua Garne menatap tajam pada pria tersebut—pria yang mengklaim bakal mengeksekusi hal yang bahkan tak sanggup dieksekusi oleh kaum Frokk yang berani mengeksplorasi the unknown.

Gadis itu hampir tak sanggup menahan diri untuk mendengarkan bagaimana presisinya pria itu berencana mengeksekusinya.

Terik surya yang menyengat, sudut lapangan latihan tanpa ada sepetak pun naungan teduh, debu-debu di atas batu biru yang terhambur lantaran pergerakan mereka sebelum hinggap kembali.

Pancaran cahaya matahari—yang memancarkan bukan sekadar kehangatan melainkan hawa panas membakar—menyapu debu-debu dan para pendekar yang berkumpul di sana.

Keheningan singkat berlalu, dan sebelum Encrid sempat membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu...

“Junjunganku, Anda tak boleh mengikrarkan janji yang tak sanggup Anda tepati,” tutur sang ajudan.

Pria berturban yang mengekor di belakang akhirnya berkata kembali.

‘Hmm?’

Menyimak ucapan tersebut, alis mata Encrid terangkat tipis.

“Kamu membatin bahwa aku tak sanggup mengeksekusinya?!” seru sang raja bersungut-sungut.

“Bagaimana presisinya Anda bakal mengeksekusi hal itu?” tanya sang ajudan berturban balik.

“Aku bakal mengerjakannya secara bagus!”

“Sekadar mengerjakannya secara bagus tidaklah cukup,” tangkis sang ajudan.

“Secara tekun?”

“Hal itu pun tak akan berhasil.”

“Jika aku terus-menerus menekuninya, itu pasti bakal berhasil!”

Sewaktu menyemburkan deretan kata terakhir, sepasang mata sang raja meledak membara diliputi antusiasme!

Rasanya siapa pun bakal serta-merta memercayainya.

Namun sang ajudan bukanlah tipe orang yang gampang digoyahkan:

“hal yang tak bisa dieksekusi mutlak tak akan bisa dieksekusi!”

“Kamu terlampau cepat menyerah!”

“Ini bukan masalah menyerah atau tidak, melainkan masalah untuk tidak melayangkan janji yang tak sanggup ditetapi.”

Sang raja mendengus kasar.

Menyaksikan pemandangan ini, Encrid mendadak menangkap aroma kecenderungan yang mirip dengan Rem!

Tipe yang berbeda, namun mutlak merupakan seorang keparat yang gila sejati.

“Desas-desus beredar begitu luas sehingga kami mengajukan permohonan kunjungan, namun kami pada akhirnya nekat menerobos masuk semacam ini. Saya melayangkan permohonan maaf sedalam-dalamnya atas hal ini. Meski begitu, sama sekali tak ada niat jahat dari kami,” tutur sang ajudan menggunakan aksen kental benua timur.

Semua orang sanggup memahami apa maknanya:

Bahwa tak ada niat jahat dari kedatangan mereka.

Encrid sekalipun tahu bahwa pria itu murni menuruti kegigihannya sendiri.

“Selamat datang,” tutur Encrid melayangkan salam sederhana.

“Apakah diperbolehkan jika kami bermukim selama beberapa hari ke depan?” tanya Sang Raja dari Timur.

“Anda berkesan seperti tipe orang yang bakal bertindak sesuka hati bahkan jika beliau mengatakan penolakan,” celetuk Rem menyela.

Sang raja tertawa terbahak-bahak:

“Pria di sana mengantongi insting yang teramat gemilang!”

Ia memang bukanlah sosok manusia yang bakal mendengarkan bahkan jika dilarang.

Encrid sama sekali tak merasakan kejengkelan khusus atas hal tersebut.

Bukankah pria itu saat ini sudah sibuk mengajak Rem, Ragna, dan Audin mengobrol, seolah-olah ia teramat ramah?

Meski bukan berarti ketiga pendekar itu adalah tipe manusia yang gampang mengizinkan orang lain masuk ke lingkaran mereka.

“Lihatlah perawakan fisikmu! Kamu pasti teramat tangguh!” tutur sang raja pada Audin.

“Saya berada pada tingkatan yang teramat kerdil, wahai Saudara dari Benua Timur,” sahut Audin ramah.

“Aku mengantongi seorang saudara bernama Geshtarian yang teramat kuat. Bakal menjadi pemandangan mengagumkan menyaksikan kalian berdua saling berdiri bersama! Kalian semua adalah kumpulan pendekar yang amat tangguh. Bagaimana kalian semua sanggup berkumpul di tempat ini?”

Gaya suaranya terbilang aneh.

menggunakan intonasi santai, ia memperlakukan mereka semua seolah-olah mereka jauh lebih muda darinya.

“Duhai... tampaknya kami telah memicu sedikit masalah,” tutur pria yang menjabat sebagai sang ajudan menggunakan ekspresi raut wajah terganggu.

Encrid tenggelam dalam perenungan selama sekejap.

Duel pertarungan dari momen sebelumnya telah menyisakan sesuatu untuk dirinya.

Ia tak sedang membicarakan ketegangan fisik tubuhnya.

Teknik-teknik gempuran dari rongga alam insting yang telah dicoba diajarkan oleh Rem secara tak terhitung kali...

Tak peduli sekeras apa pun ia mengasahnya, ilmu itu tak akan pernah menjelma menjadi teknik yang sempurna kecuali digunakan di dalam pertarungan nyata!

Apakah ia sanggup menjajal menggunakannya melawan pria tersebut?

Dari gaya bicara sang raja, bukankah ia tampak seperti sosok yang bakal menyanggupi permohonan duel tanding kapan saja?

Paling penting dari segalanya, tidak bagaikan sewaktu berduel bersama Rem, Ragna, dan Audin, ia sanggup menggunakan seluruh teknik miliknya secara lepas dan pria itu bakal menyerapnya tanpa ada kendala!

Secara harfiah, itu bermakna ia mengantongi kesempatan untuk bertarung menggunakan seluruh tenaganya, disertai niat membunuh murni!

Encrid pada kenyataannya sudah membatin sejauh ini bahkan sebelum melontarkan sepatah kata 'Selamat datang' sebelumnya.

“Sekitar lima kali duel tanding dalam sehari seharusnya...” gumam Encrid samar.

Sang ajudan mengedipkan matanya heran lalu bertanya:

“Pardon? Apa yang baru saja Anda katakan?”

“Apakah kita sanggup mengeksekusinya sebanyak sepuluh kali?” tanya Encrid menatap sang ajudan, membatin bahwa itu tak akan buruk jika fisiknya sanggup bertahan.

“Saya meyakini Anda mendengar ucapan saya secara presisi,” tutur Encrid.

“Saya memang mendengarnya, namun...”

Sang ajudan membatin di dalam hati:

Ia selalu meyakini bahwa raja yang diabdinya adalah sosok manusia paling gila di jagat raya, namun di tempat ini ada seseorang yang persis serupa dengannya!

Dan demikianlah, masa tinggal Sang Raja dari Timur resmi diputuskan.

“Aku mengandalkan kalian, wahai para anak muda,” tutur sang raja.

“Berapa usiamu saat ini?” tanya Rem menyaksikan ketengilan tersebut.

“Aku? Usiaku sudah melampaui seratus tahun!”

Semua orang dibuat terperanjat tak percaya oleh rentang usianya yang sama sekali tak selaras dengan raut penampilannya!

Itu bukanlah sebuah kebohongan.

Seorang pria yang telah memimpin para pengikutnya dari kalangan tentara bayaran dan berbagai ahli ketangkasan demi mendirikan sebuah kerajaan di benua timur.

Kisah pendirian kerajaan tersebut telah berembus sejak lima puluh tahun yang lalu!

Sesosok monster yang telah hidup sedari masa itu hingga saat ini, masih dipenuhi gejolak vitalitas fisik yang membara: itulah sosok Anu, sang Raja Tentara Bayaran Benua Timur!

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.