Bab 427: Kesungguhan Sang Raja
Sejauh yang diketahui Encrid, Krais bukanlah tipe pria yang bakal bertahan pada urusan yang sudah sirna harapannya.
“Aku tak membutuhkan dirimu,” tutur Sang Raja Tentara Bayaran.
Menyimak ucapan tersebut, Krais secara kilat menyerah dari kebiasaan merajuknya.
“Baiklah, saya paham!”
Pada kenyataannya, ia kemungkinan besar memang tak pernah mengantongi niat murni untuk mengabdi padanya sejak awal.
Jika tidak, mana mungkin ia merombak intonasi suaranya secara se-kilat ini!
“Anda melangkah datang sebagai seorang tamu, apakah Anda tak membawa hadiah apa pun?”
Krais menyerah untuk merebut rasa simpati sang raja dan sebaliknya murni mengincar emas miliknya!
Encrid pun pernah mendengarkan desas-desus sewaktu melanglang buana di benua bahwa ada gudang penampungan yang dipenuhi emas murni di Benua Timur.
Desas-desus pun berembus kencang bahwa usai mendengarkan kisah emas tersebut, gabungan guild Pencuri nekat menerobos masuk, namun tak ada satu pun yang sanggup keluar dalam kondisi bernyawa!
Encrid tak terlalu memikirkannya.
‘Emas...’
Kemungkinan besar memang ada teramat banyak.
Murni sekadar itu yang terlintas di benaknya.
Lantaran ia tak membutuhkan emas sebanyak itu, apa gunanya mengikis rincian detailnya?
hal serupa berlaku bagi Rem, Ragna, Audin, serta Jaxon.
Kompi Madmen dipenuhi oleh orang-orang yang tak mengantongi keterikatan rasa pada keping krona!
Namun Krais tidaklah demikian.
binar cahaya aneh berkilat di sepasang mata Krais.
Seolah-olah ia sedang dirasuki oleh arwah penasaran—sosok yang dikhianati oleh kekasih sumpahnya lalu terperangkap di bangunan hancur selama seratus tahun, tanpa ada yang tersisa di luar obsesi mendalam!
Hawa panas meledak membara di sepasang mata Krais sewaktu ia membahas hal emas.
Cuplikan kegilaan tampak kasat mata.
Meski begitu, Encrid membatin bahwa lawan di hadapannya murni terlampau tangguh.
“Hadiah? Apa, kamu menginginkan bagian dari emas Benua Timur?” tanya sang raja.
“Bakal teramat menyenangkan jika Anda menganugerahkannya sedikit pada saya,” sahut Krais.
“Tidak,” tolak sang raja datar.
“Saya mendengar bahwa Sang Raja dari Timur memiliki kemurahan hati seluas lautan raksasa, lantas kenapa Anda bertindak semacam ini?”
“Aku bukanlah sosok manusia yang semurah hati itu,” sahut Anu.
“Anda adalah Sang Raja dari Timur. Apakah pertemuan kita ini tak mengusung makna apa pun bagi Anda?”
“Aku tak bisa mendengarkan ucapanmu,” celoteh sang raja pura-pura tuli.
Encrid tak membatin bahwa Sang Raja dari Timur terlampau pandai berolah kata, namun ia menilai bahwa pria itu mengantongi bakat alami yang amat gemilang dalam menyeret orang lain ke dalam ritme pergerakannya sendiri!
Krais tak mendadak murka.
Ia bahkan tak menggertakkan giginya.
Ia murni terus berkata menggunakan senyuman dan intonasi yang sama persis seperti sebelumnya:
“Begitukah? Kalau begitu saya bakal melayangkan pertanyaan ini kembali besok lusa.”
Dari kejauhan, pemandangan itu bakal tampak menyerupai percakapan yang amat ramah.
Sang raja mengulas senyum lalu mengangguk.
Encrid sempat didera kecemasan walau murni sekejap.
Jika Krais menerima walau sebutir sabetan tunggal darinya, rasanya amat kecil kemungkinan ia bakal menyaksikan sosok Krais kembali di sisa hidupnya!
“Apakah kamu dalam kondisi baik-baik saja?” tanya Encrid pada Krais sewaktu pria itu melangkah keluar dari pertemuannya bersama sang raja.
Membelakangi sosok sang raja, bibir Krais merapatkan gerakan tanpa vokal suara:
‘Dia adalah keparat yang teramat pelit! Apakah Anda tak berniat menendangnya keluar?!’
Tak hanya lantaran sang raja bukanlah tipe manusia yang bakal melangkah pergi murni lantaran disuruh pergi, Encrid sendiri merasa ia masih mengantongi banyak hal untuk dipelajari darinya.
Karena itulah, pria itu adalah seorang pengajar yang amat berguna.
“Kamu menyadari siapa sosok yang sedang kamu ajak bicara, bukan?” tanya Encrid ulang.
Krais mengerutkan keningnya, mengangguk, lalu menjawab:
“Ya, saya menyadarinya.”
“Dan kamu tetap berkehendak menuntut emas darinya?”
“Ya.”
Sewaktu Encrid menatapnya menggunakan sepasang mata penuh keheranan, Krais mengibaskan jempolnya ke arah belakang bahunya lalu berucap:
“Beliau adalah Sang Raja dari Timur. Apakah sosok semacam itu bakal membantai seseorang secara asal-asalan? Paling penting dari segalanya, beliau melangkah datang ke mari diliputi kehausan untuk merekrut orang-orang berbakat. Beliau adalah sosok yang berkehendak mengukir impresi bagus ketimbang impresi buruk, jadi tentu saja beliau tak akan bertindak nekat! Di atas semua itu, ini adalah emas Benua Timur. Saya tak tahu apakah Anda menyadarinya, namun besi Lewisan berasal dari timur, dan Besi Hitam Ubersan pun meluncur dari timur! Apakah saya harus membiarkan peluang emas semacam ini terbuang sia-sia?!”
Deretan kata perdananya adalah pemicu kenapa tak ada keharusan untuk cemas.
Ia mengatakan hal itu terlebih dahulu lantaran ia secara cerdik membaca kecemasan di sepasang mata Encrid.
Konklusi yang disuarakan oleh sepasang mata membara Krais murni tetap satu dan serupa:
Emas murni!
Apakah ia bakal dibutakan oleh emas lalu tunduk pada ancaman di hadapan hidungnya?
Tidak, Krais tidaklah sedungu itu.
Seorang ksatria di jajaran Knights tak akan membantai seseorang yang melayangkan permohonan yang masuk di akal.
Pria itu adalah Sang Raja dari Timur, sehingga ia tak akan bertindak nekat.
Lebih jauh lagi, fakta bahwa ia melangkah ke mari murni mengusung dua orang tanpa ada pengawalan masif mempertontonkan wataknya yang tak mengagungkan formalitas, dan ia telah berduel tanding secara beruntun bersama komandan kompinya serta mencoba mencurahkan pengajaran.
Krais pasti telah menilai semua hal tersebut demi membaca kepribadian Sang Raja dari Timur sebelum mengeksekusi pergerakan!
Krais adalah tipe pria yang semacam itu.
“Ngomong-ngomong, Komandan Kompi.”
Pendar pendar emas yang memenuhi sepasang mata Krais meluntur sirna sewaktu ia menyapa Encrid.
“Ada apa?” tanya Encrid merampungkan seratus kali sabetan ke bawah lalu mengusap keringat yang menetes dari dagunya menggunakan punggung telapak tangannya.
“Anda tak akan meluncur pergi darinya, bukan?”
Sang Raja dari Timur memang tak menyembunyikan niatannya.
Namun fakta bahwa ia tak berkesan dibenci mempertontonkan bahwa ia adalah seorang manusia yang dipenuhi pesona alami.
Ia berniat memboyong semua orang—termasuk Encrid—meluncur ke Benua Timur.
Pada kenyataannya, Encrid sendiri tak pernah menerima penawaran semacam itu dari sang raja.
Dimulai dari Rem, Ragna, Dunbakel, Audin, hingga Teresa seluruhnya telah menerima penawaran semacam itu, namun tidak dengan Encrid sendiri.
Ia memang sempat mengatakan hal serupa sewaktu mereka pertama kali bertemu, namun bakal jauh lebih presisi untuk mengatakan bahwa ia sama sekali tak melontarkan penawaran semacam itu lagi sejak saat itu.
Apakah kebanggaan dirinya tersakiti? Apakah ia tak berkehendak mengulang apa yang telah diucapkannya?
Bukan demikian halnya.
Sang raja adalah seorang pria yang secara tekun mengulang kata-kata yang sama persis.
Ia murni hanya menahan diri untuk tidak mengeksekusinya pada Encrid.
Sebagai gantinya, ia berduel tanding dengannya dan mencurahkan nasihat sederhana.
Bagaimana jika ia memohon Encrid meluncur bersamanya? Encrid mengetahui jawabannya lewat intuisi benak:
“Aku tak akan meluncur pergi,” sahut Encrid lantaran konklusi jawabannya memang sudah terpaku sejak awal.
Krais mendesahkan napas kelegaan di dalam batin, namun ia pun merasakan kecemasan samar.
‘Jika Komandan Kompi meluncur pergi saat ini, apakah benteng tembok pertahanan lima kota di perbatasan ini sanggup dipertahankan?!’
Krais telah mendorong perluasan benteng tembok pertahanan di tiap-tiap kota yang diserahkan pada General Encrid, menyematkan perluasan distrik kota secara terselubung.
Setelahnya, ia pun menyebarkan desas-desus secara halus melalui para pedagang keliling yang melintas keluar masuk.
Tentu saja hal ini dieksekusi demi memicu beberapa efek raksasa:
Membuat kelima kota dipandang sebagai satu kesatuan utuh, ia memicu semua orang secara kasat mata mengakui sang penguasa baru, serta memancing para bangsawan penguasa dan walikota di tiap kota untuk terlibat dalam bisnis pengamanan alur alur perdagangan!
‘Skala perputaran keping krona saat ini jauh berbeda dibanding masa lalu...’
Seluruh hal ini murni dimungkinkan dengan Encrid bertindak sebagai titik poros utamanya.
Krais adalah salah satu sosok manusia yang paling menghafal apa yang dihasratkan oleh komandan kompinya.
Encrid adalah seorang pria yang berkehendak menjadi seorang ksatria—tipe ksatria yang bakal muncul di dalam kisah wiracarita perang raksasa!
Hal yang didambakannya adalah jiwa ksatria.
Kehormatan dan integritas murni.
Ia adalah sosok yang melangkah maju seraya menancapkan hal-hal seperti itu.
‘Lantas apakah Benua Timur bakal terkesan memikat bagi dirinya?’
Di sepasang mata Krais, Sang Raja dari Timur adalah seorang pria yang pesonanya tak sekadar meluap, melainkan menyembur bagaikan pancuran air raksasa!
Meskipun minatnya murni terfokus di internal peleton ini, ada beberapa sosok yang menaruh minat padanya murni dari mengamati gesturnya dari kejauhan.
Di antara mereka terdapat seorang tentara bayaran yang menjadi anggota Penjaga Perbatasan namun dulunya teramat ternama.
Beberapa ahli pedang yang dulu mengawal para bangsawan pun mempertontonkan rasa tertarik pada sang raja.
Krais pun sempat menyaksikan surat pribadi milik Sang Raja Krang yang mendarat secara mendesak tempo hari.
apa yang terkandung di dalam surat tersebut?
Itu adalah surat rahasia yang murni ditujukan untuk sepasang mata Encrid seorang.
Krais tak repot-repot mempertanyakan isi kandungan surat tersebut.
Jika Krang mengetahui situasi saat ini, selembar surat yang melayangkan janji atas berbagai hal pasti bakal meluncur secara alami.
Lantaran kebiasaan anehnya yang selalu membayangkan skenario terburuk, Krais melangkah meninggalkan area lapangan latihan disertai berbagai pergolakan pemikiran di dalam benaknya.
* * *
Rem menatap meja kayu yang baru saja diukirnya lalu memutar kapaknya di tangan.
Kapak ringan yang menjadi ciri khasnya berguling di atas jemari tangannya, melacak sebuah lengkungan aneh di udara.
“Apakah kamu mengeksekusi hal itu demi kesenangan?” tanya Sang Raja dari Timur yang melangkah mendekat dari sisi samping.
Sang ajudan pengawal raja mengekor di belakangnya.
“Ini adalah proses demi membiasakan jemari tanganku pada gagang kapak,” sahut Rem.
Memutar kapak dan merancang meja kayu dieksekusi atas pemicu yang sama persis.
Meskipun eksistensi monster berusia seratus tahun yang mengajukan pertanyaan, Rem menjawab bahkan tanpa menolehkan kepalanya!
Sama sekali tak bermakna bagi dirinya apakah musuhnya adalah Sang Raja dari Timur ataupun siapa pun.
Memang demikianlah sosok pria bernama Rem.
“Kamu adalah seorang pria yang tak mengusung kehausan rakus,” tutur sang raja.
“Apa yang sedang kamu bicarakan?” tanya Rem miring.
“Kamu murni berkesan semacam itu.”
“Aku teramat haus rakus,” sahut Rem sejujurnya.
Sang Raja dari Timur menggelengkan kepalanya lalu menyahut:
“Lantas kenapa kamu tak sudi mengikutiku meluncur ke timur?”
Jika kamu membutuhkan emas murni, maka emas murni bakal didapatkan.
Jika kamu membutuhkan wanita-wanita jelita, maka dapatkan mereka untuk dirimu sendiri!
Jika kamu membutuhkan seorang rival sejati, maka musuh yang sepadan bakal disajikan.
Namun Rem sama sekali tak menaruh hasrat pada segalanya!
Demikianlah kesan yang ditangkap oleh Sang Raja dari Timur.
“Bagaimana jika kita melangkah pergi berburu bersama?” ajak sang raja pada Rem.
Sebuah penawaran yang niat utamanya teramat sulit untuk ditebak.
“Yah... mari kita eksekusi,” sahut Rem mengangguk tanpa memikirkannya secara rumit.
Fisiknya bagaimanapun sedang gatal berhasrat bertarung!
Sewaktu Encrid menghabiskan waktunya berduel tanding bersama kakek tua gila di hadapannya, ia sendiri sedang berada di tengah-tengah proses meninjau ulang beberapa teknik.
Hal ini berlandaskan pada sebuah pencerahan kecil:
Rem pernah menggunakan keajaiban sorcery milik orang lain melalui beberapa peralatan yang didapatkannya usai membantai sang pria gila abadi.
‘Normalnya, aku pasti memperkirakan fisik tubuhku bakal terbeban berat dan dihantam oleh sumpah serapah yang dahsyat...’
Namun insiden semacam itu tak berlangsung!
Murni sekadar cuplikan teramat kerdil dari taksiran dampak kerusakan yang memanifestasi menjadi efek samping.
Itu bukanlah hal yang bakal berlangsung murni lantaran jurang perbedaan kapasitas daya tahan semata.
‘Fisik tubuhku telah berubah?!’
Meluncur ke wilayah barat adalah satu hal, namun sangat alami untuk memeriksa secara benar apa hal yang dikantonginya saat ini.
Demi mengonfirmasinya, ia telah merancang kursi dan meja kayu menggunakan kapaknya, dan kini sudah saatnya untuk berbenturan melawan sesosok monster atau binatang iblis lalu mengayunkan kapaknya secara bebas lepas!
Jika hingga saat ini ia sibuk mengendalikan kepekaan indranya yang amat presisi, kini ia merasakan desakan untuk melepaskan seluruh potensi yang dikantonginya!
“Bagus! Mari meluncur!” seru sang raja penuh antusiasme.
Menyimak seruan tersebut, Dunbakel yang mengawasi dari satu sudut mendongakkan kepalanya.
Di sepasang matanya, ia menyaksikan sang pria kapak gila yang tampak amat akrab bersama sang raja:
‘Apakah keparat itu bakal nekat mengikutinya meluncur ke timur?’
Menyaksikan dirinya begitu cocok bersama pria yang disapa sebagai Sang Raja dari Timur, hal itu terkesan teramat dimungkinkan.
Jika demikian, sosok yang bakal menghajarnya di masa depan bakal sirna!
‘Dan bakal jauh lebih sulit bagiku untuk mengasah ketangkasanku...’
Bukan berarti ia menyambut siksaan Rem, namun ia mutlak wajib mengakui satu hal: makin sering keparat itu menyiksanya, makin melesat pula ketangkasan tempurnya!
Pandangan mata Dunbakel beralih menatap Encrid.
Seolah-olah sama sekali tak merasa khawatir, Encrid tetap bersikap persis seperti biasanya.
* * *
Kegiatan berburu dari seorang bangsawan biasa tak mungkin disamaratakan dengan perburuan Sang Raja dari Timur!
Di atas semua itu, bukankah rekan berburunya adalah sosok Rem?!
Tak seorang pun dari mereka yang mengantongi niat untuk menangkap hewan sejenis rusa lincah.
“Pegunungan Pen-Hanil membentang di belakang wilayah ini. Apakah Anda pernah melangkah ke sana?” tanya Rem.
“Di masa lalu sewaktu aku aktif di benua ini, lokasi itu adalah taman bermainku,” sahut sang raja.
“Saya yakin memang demikian halnya.”
“Memang benar demikian halnya!”
Kedua pendekar saling bertukar kelakar.
Asalruhie membatin bahwa sang raja teramat menggemari pria tersebut.
Sebaliknya, pria bernama Rem pun tak mendepak sang raja keluar.
Menyaksikan mereka bersenda gurau dan tertawa terbahak-bahak, mereka terkesan bagaikan sepasang kawan lama!
Tiga pendekar tersebut melangkah menuju ke area Pegunungan Pen-Hanil.
Di gerbang masuk menuju pegunungan, terdapat sebuah menara pengawas yang sengaja dibangun oleh Krais.
Lokasi itu berukuran tiga kali lebih raksasa dibanding menara pengawas biasa, menyerupai kota kecil.
Ini adalah langkah yang ditujukan murni demi membendung monster-monster dan binatang iblis yang turun meluncur dari pegunungan.
Sedari awal, demi mengamankan jalan yang aman di wilayah ini, terdapat masalah berupa keharusan menumpas makhluk-makhluk yang merayap keluar dari Pegunungan Pen-Hanil begitu mereka muncul kasat mata.
Jika dibiarkan terbengkalai, makhluk-makhluk sejenis ghoul kelabu, lalat penghisap darah, serta lima saudara troll yang pernah ditumpas habis oleh Encrid dan peletonnya bakal muncul kembali.
Meski begitu, ada pula kendala yang menyeruak dari pembangunan menara pengawas tersebut:
Rem mengamati wujud umum dari bentang pegunungan dan menyaksikan bahwa membendung monster agar tak meluncur keluar lewat pola ini bakal memicu masalah di kemudian hari.
Area dalam bentang pegunungan adalah medan teritorial yang mengantongi begitu banyak lokasi untuk bersembunyi, berkumpul, serta bertahan!
Dengan pola semacam ini, makhluk-makhluk yang seharusnya muncul secara sporadis bakal menyaksikan menara pengawas lalu berubah waspada, dan jika mereka berkumpul, mereka secara alami bakal menjadi sebuah koloni raksasa!
Di masa depan, jumlah monster yang memuntahkan gempuran sanggup melampaui ratusan nyawa dengan gampang.
“Lihatlah hal ini! Sekadar mendirikan menara pengawas tak akan menuntaskannya. Pembantaian skala raksasa sanggup meletus lantaran hal ini!”
Sang Raja dari Timur pun menyadari kendala tersebut.
Ia secara mutlak bukanlah pria sembarangan, tak pula murni sekadar pria yang jago dalam bertarung tempur.
Ia tahu cara membaca medan teritorial dan menangkap situasi se-gemilang Rem!
“Apa yang sedang kamu tatap? Bukankah sudah kuberi tahu bahwa lokasi ini dulunya adalah taman bermainku?”
Separuh dari ucapan itu adalah gertakan gertak sambal.
Rem pun mengetahuinya.
Meski tak sejenuh Benua Timur, Pegunungan Pen-Hanil pun merupakan lokasi yang menyimpan begitu banyak rahasia terselubung.
Bukankah wilayah ini adalah tanah teritorial yang diincar pertama kali oleh para pencari reruntuhan kuno yang mengincar keuntungan raksasa?!
Lokasi semacam itu tak mungkin bisa menjadi sebuah taman bermain.
Meski demikian:
“Yah, ketangkasanmu tidak buruk,” sahut Rem.
Itu adalah sebuah ketangkasan yang layak untuk diakui.
“Tentu saja!” sahut sang raja.
Ia adalah seorang raja, namun merupakan pria yang teramat tak mengagungkan keanggupan formalitas.
Rem terbilang amat menyukai watak tersebut dari dirinya.
Kedua pendekar segera melangkah masuk ke area pegunungan.
Dengan mengendalikan pergerakan monster menggunakan menara pengawas, kewaspadaan monster di area dalam melambung naik, memicu mereka gampang membentuk koloni?
Bukan berarti Krais tak menyadari hal tersebut.
Lantaran ia menilai bahwa jauh lebih baik mengeksekusi pola ini lalu menyuruh para anggota Kompi Madmen membasmi mereka, memprioritaskan pengamanan zona aman!
Monster atau binatang iblis bisa saja muncul kapan saja, namun Anda tak akan terluka!
mengatakannya lewat pola semacam ini.
Anda tak akan menyaksikan monster atau binatang iblis, lantaran ada prajurit yang selalu bersiaga menjaga!
mengatakannya lewat intonasi semacam itu bakal diterima secara bertolak belakang oleh orang-orang yang melintas keluar masuk.
Melintas di hadapan Pegunungan Pen-Hanil sanggup merancang jalan pintas yang jauh lebih cepat dibanding alur perdagangan lainnya.
Bagaimanapun, berkat pemicu-pemicu ini, sang raja dan Rem sanggup menyaksikan sekelompok monster begitu mereka mendaratkan kaki di dalam.
Itu adalah sarang yang dihuni oleh lebih dari 30 ekor troll!
Gerbang masuknya ditutupi oleh jalinan batang pohon dan dedaunan.
Ada pendar aroma keajaiban sorcery yang amat ceroboh.
Terkadang, beberapa monster terlahir mengusung keajaiban sorcery, sihir, ataupun kemampuan khusus lainnya.
Tampaknya ada makhluk semacam itu di dalam kelompok troll ini.
“Ini lokasinya,” tutur sang raja.
“Tempat ini,” sahut Rem.
Kedua pendekar berkata lalu saling menatap sepasang mata.
Mereka tampak teramat padu dan selaras!
Kwoooar!
Seekor troll menangkap aroma bau manusia lalu munculkan kepalanya keluar.
“Bagaimana kabarmu?” sapa Rem seraya mendadak menerjang maju dan mengayunkan kapaknya!
Itu adalah tebasan vertikal lurus ke bawah.
Mata kapak membelah kepala troll tersebut seolah-olah memotong daging lunak!
Bahkan sewaktu kepalanya terbelah secara vertikal, sang troll mengayunkan tangan kirinya lebar-lebar.
Rem memotong pergelangan tangannya menggunakan kapak di tangannya yang lain.
Tepat di sampingnya, seekor troll lain munculkan kepalanya keluar.
Monster hijau tua berbongkah-bongkah—berukuran jauh lebih raksasa dibanding raga manusia—membuka mulutnya lebar.
Gigi-giginya yang tajam dan tumbuh mencengkelak terpapar kasat mata.
Menyaksikan hal tersebut, Sang Raja Anu berucap:
“Ini bakal menjadi sebuah perburuan yang teramat menyenangkan!”
Tiga puluh ekor troll bakal menjadi armada tempur yang bahkan tak akan bisa diabaikan oleh seorang Apprentice Knight, dan dengan keberadaan mahluk di antara mereka yang menggunakan keajaiban serupa sorcery, hal itu bisa saja menjadi sebuah ancaman... namun tidak bagi kedua pendekar ini!
Sang raja menghunus senjatanya.
Bukan belati jambiya miliknya, melainkan sebilah tombak panjang yang tadinya dibawa oleh sang ajudan, Asalruhie.
Sang raja menangkap tombak yang dilemparkan ajudannya, membuka balutan kain yang melilitnya, lalu mengambil posisi kuda-kuda bersiap.
Wuss! Sewaktu kain yang melilit tombak terbang melayang ditiup angin, Asalruhie mengulurkan telapak tangannya lalu menyambarnya secara presisi.
Sang raja sama sekali tak berkehendak melangkah secara main-main.
Ia mengantongi sesuatu yang berniat dipertontonkannya pada sang pendekar asal wilayah barat di sisinya:
Sesuatu yang melampaui ketangkasan tempur yang diperagakan oleh temannya, Encrid!
Sang Raja dari Timur mencurahkan sedikit dari kesungguhan hati benak sejatinya.
Bagi para troll, ini adalah sebuah tragedi yang amat memilukan.











