Eternally Regressing Knight

Bab 437: Mereka yang Tak Mengantongi Kecerdasan

2817 Kata

Bab 437: Mereka yang Tak Mengantongi Kecerdasan

Kandungan isi dari permohonan bantuan tersebut terbilang amat sederhana.

Itu adalah sebutir permohonan dan permintaan berlandaskan pada sistem daftar tentara bayaran yang berdiri di Kerajaan Naurilia:

Melangkahlah menuju ke perbatasan wilayah iblis dan bantulah Knights Order Knights!

Terdapat pula penambahan catatan bahwa permohonan bantuan itu meluncur langsung dari tidak lain Knight Oara.

Surat itu dirancang oleh Marcus, namun terasa seolah-olah ia sanggup menyimak vokal suara Raja Krang:

“Seorang ksatria di jajaran Knights... bukankah kamu berkehendak menemui salah satu dari mereka?”

Ia memang berkehendak menemui salah satu dari mereka!

Terlebih lagi, terdapat begitu banyak hal yang terdaftar sebagai ganjaran imbalan bagi permohonan bantuan tersebut.

“hal apakah ini?! Benih kuda pejantan unggul?! Oho, dan cetak biru pula?! Disertai hal ini, terkesan kita sanggup memasang sistem saluran pembuangan air yang presisi di Penjaga Perbatasan, persis menyerupai di ibu kota, bukankah begitu?”

Ini adalah seisi dunia yang terbiasa hidup di balik tembok-tembok pertahanan benteng akibat ancaman monster dan binatang iblis.

Terdapat begitu banyak fasilitas kenyamanan yang telah dirancang, namun mayoritas darinya murni bertakhta di ibu kota.

Merek mengatakan bahwa mereka bakal menyerahkan sebagian dari teknologi tersebut!

Mereka bakal memperlihatkan seorang ksatria padanya, menganugerahinya teknologi—secara singkat mereka bakal menyerahkan semua hal padanya!

‘Mereka bahkan telah menganugerahiku pedang Aker, apakah hal ini baik-baik saja?!’

Encrid menempatkan telapak tangannya di atas hulu pedang yang bersarang di sabuk pedangnya.

Ia tak memahami perihal politik, namun untuk sekejap ia sempat cemas jika para bangsawan di sekeliling bakal melayangkan penolakan, lalu secara kilat membuang pemikiran tersebut.

Pihak yang menyerahkan teknologi tersebut adalah para bangsawan itu sendiri!

‘Tampaknya Raja Krang telah membujuk mereka secara amat baik...’

Persis sebagaimana bujukan Encrid adalah sepasang tangan, kaki, dan pedangnya, bujukan Krang pastilah deretan kata dan atmosfer.

Kecemasan itu terbilang amat singkat.

Sewaktu hal seperti itu pun krusial, hal-hal tersebut bahkan tak mendarat di pandangan matanya saat ini.

Murni deretan kata ‘Knight Oara’ yang bersarang secara jernih di dalam benak pikirannya:

‘Seorang ksatria di jajaran Knights...’

Daya kekuatan merayap masuk ke dalam tangannya secara alami!

Tali lilitan yang terikat di lengan kanannya demi sesi latihan mulai memegang tegang disertai serangkaian bunyi krek-krek.

Rasanya seolah bakal putus retak murni dengan menyematkan sedikit daya kekuatan ekstra!

Ksatria dari Kerajaan Azpen, Sang Raja Tentara Bayaran, Ragna, Shinar...

Encrid telah berduel tanding melawan mereka seluruhnya dan telah menyaksikan seperti apa seorang ksatria di jajaran Knights!

Di antara mereka, ia masih terus-menerus menampung tebasan pedang Ragna dan Shinar tanpa henti.

Ini pun bukanlah ujung akhir darinya!

Encrid berenang di dalam danau pengalaman yang dipandu oleh Rua Garne.

Dengan mengeksekusinya, ia telah melompat keluar dari kebuntuan stagnasi.

Meski begitu, di samping mengarungi semua hal tersebut, ia merasa terdapat sesuatu yang masih kurang.

Terdapat kehausan yang menyiksa mengeringkan tenggorokannya!

Mungkin saja tugas pekerjaan ini bakal memadamkan kehausan tersebut:

Knight Oara.

Ia berkehendak menemui sosok tersebut berlandaskan rasa ingin tahu murni!

Secara alami ia bahkan tak mempertimbangkan demi melayangkan penolakan.

Meski begitu, tidak seisi anggota peleton sanggup meluncur pergi.

Ia telah mendengar bahwa ini bukanlah tugas yang membutuhkan seisi peleton.

Di bawah selembar surat, sebaris catatan ditambahkan yang mengatakan bahwa daya penangkal melawan Kerajaan Azpen masih dibutuhkan.

Tak ada kebutuhan bagi seisi Kompi Madmen demi meluncur untuk tugas kerdil semacam ini.

Krais melipat surat itu secara rapi lalu berkata terlebih dahulu:

“Mari kita tinggalkan Tuan Audin di belakang. Kita membutuhkan seseorang demi bertanggung jawab mengomandoi latihan secara keseluruhan.”

Pelatihan pasukan Penjaga Perbatasan terbilang teramat menyiksa dan sukar!

Keberadaan seseorang yang sanggup mengomandoi seisi proses tanpa ada sebutir keluhan tunggal terbilang amat vital.

Pada kenyataannya siapa pun—termasuk Encrid—sanggup mengeksekusinya, namun Audin saat ini sedang mengisi peran tersebut.

Siapa pun yang telah menyaksikan kepalan tinjunya dari dekat bakal lebih memilih membelot melarikan diri alih-alih membangkang padanya!

Tentu saja Audin meyakini bahwa segalanya dilancarkan mengusung benak hati belas kasih.

Meski begitu para prajurit membatin bahwa dalam kasus Audin, belas kasih Sang Dewa Perang bertakhta di kepalan tinjunya!

“Tidak masalah jika saya tidak meluncur pergi, wahai Saudara,” tutur Audin.

Knights Order Knights telah melayangkan permohonan bantuan dukungan, namun dikatakan hal itu tidaklah amat serius.

Terdapat pula bagian yang mengatakan bahwa mereka murni butuh membendung gempuran kejutan dari monster-monster merepotkan lantaran kekurangan kuantitas prajurit.

“Aku masih mengantongi banyak hal demi diwariskan. Aku mutlak harus meluncur bersamamu!” tutur Rua Garne yang menyimak dari sisi samping.

Encrid menganggukkan kepalanya mengizinkan.

“Aku mengantongi banyak hal demi dilancarkan,” tutur Esther—seorang wanita jelita mengusung rambut memanjang dan sepasang mata biru yang memicu seseorang tak sanggup memalingkan pandangan darinya.

Hari ini gadis itu sedang berada dalam wujud manusianya.

Sewaktu ia menyisir rambut panjangnya ke belakang, beberapa prajurit yang menjaga barak di hadapan lapangan latihan tak sanggup memalingkan sepasang mata mereka darinya.

Encrid secara samar membendung pandangan mata mereka menggunakan fisiknya.

Jika mereka menatap lebih lama lagi, Encrid merasa bahwa Esther bakal sekali lagi berkata demi mencungkil keluar bola mata para prajurit tersebut!

“Aku sedang sibuk,” tutur Ragna berlagak malas.

Deretan kata semacam itu tidaklah layak disuarakan oleh si keparat paling pemalas di antara para anggota peleton!

Bukan berarti Encrid tak sanggup menerka benak pikirannya:

Lantaran ini bukanlah tugas yang berbahaya, Ragna kemungkinan besar enggan melangkah maju, dan ia pun terkesan berkehendak mengasah ketangkasannya kian jauh.

Jika ia didera frustrasi dan berkehendak menggunakan daya kekuatannya, ia murni sanggup melanglang buana di sekitar masalah terkini di Pegunungan Pen-Hanil atau di dekat lima tembok pertahanan benteng yang sempat diulas oleh Krais.

Ia telah mendengar bahwa aktivitas para monster berubah jauh lebih intens akhir-akhir ini.

“Eksekusilah sesuai kehendakmu,” sahut Encrid mengangguk kembali.

Meski Encrid tak mengetahui se-tekun apa Ragna bakal bergerak di saat ketiadaan dirinya.

Ropode pun menetap di belakang, dan Pell menetap pula.

Raut wajah Pell telah menggelap parah di beberapa hari sewaktu Encrid tidak menyaksikannya.

Hal itu lantaran jiwanya melemah akibat kehilangan rasa percaya diri, namun tak ada seorang pun yang melayangkan hiburan padanya.

Bukankah merupakan hal standar demi melompati hal seperti itu seorang diri?!

Bagi Encrid dan pendekar lainnya, hal itu adalah sebuah kewajaran mutlak.

Bagaimana jika ia tertinggal di belakang?! Kalau begitu mereka murni bakal membatin: ‘Tampaknya pendekar pedang yang dibesarkan oleh Shepherds of the Wasteland adalah si keparat yang sedikit kurang!’, lalu membiarkannya begitu saja.

Encrid pun tidak merasa cemas.

Itu adalah sesuatu yang wajib dipecahkannya sendiri.

Teresa menetap di belakang, mengatakan bahwa ia bakal membantu Audin.

“Aku berkehendak bertarung,” tutur Dunbakel menyembunyikan perasaan sejati dirinya.

Jujur saja tak ada seorang pun sosok di sini yang lebih lemah dibanding dirinya:

Teresa adalah salah satunya, begitu pula dengan sosok pria baru bernama Ropode.

Dunbakel sendiri telah melesatkan ketangkasannya sepadan dengan siksaan yang diterimanya dari Rem, namun...

‘Apakah hal ini menjadi ambang batas limit milikku?!’

Akhir-akhir ini ia kerap kali membatin pemikiran semacam itu.

Tiap kali ia memikirkan ambang batas limitnya, ia mengarungi mimpi buruk.

Terkadang ia bahkan berubah ke wujud binatang buas di tengah tidurnya.

Menatap wujud fisiknya sendiri—yang sanggup disapa sebagai sebutir kutukan—Dunbakel mengulang mimpi buruk tersebut:

Itu adalah hari sewaktu ia diusir keluar dari desa tempat ia terlahir dan dibesarkan:

“Kamu tak boleh hidup di tempat ini!”

“Enyahlah dan tewaslah secara tenang!”

“Bakal amat bijak untuk menemukan tebing lalu menghempaskan dirimu sendiri!”

apa yang telah dilancarkannya secara se-keliru itu?!

Di masa itu, kobaran api kebencian meledak di dalam benak hatinya, dan ia berkehendak menghajar tiap-tiap beastman hingga tewas, namun ia tak berkehendak menjadikan sasaran kematian semacam itu sebagai tujuan hidupnya.

Dunbakel merasakan hal yang sama persis di masa lalu seperti saat ini, dan bahkan sewaktu ia menderita kekalahan dari Encrid:

Gadis itu berkehendak demi terus bertahan hidup!

Jika ia secara gigih menahan diri di hari sewaktu diusir, ia mungkin sanggup menetap di desa tersebut.

Namun Dunbakel tidak mengeksekusinya:

‘Aku berkehendak melarikan diri...’

Lantaran hasrat demi mengelak dari ancaman bahaya—yang terlahir dari naluri murni—mendadak munculkan kepalanya!

‘Apakah aku harus menetap di suatu tempat, bekerja sebagai pengawal, lalu hidup dari gaji?!’

Meski begitu pada kenyataannya ia enggan hidup dengan pola semacam itu.

Dunbakel bahkan tak mengetahui apa yang berkehendak dilancarkannya!

Sehingga tiap kali ia merasa ingin melarikan diri, ia menatap pada sosok Encrid lalu memadatkan benak hatinya:

‘Apakah lokasi yang kamu gapai usai melarikan diri bakal menjadi sebuah surga?!’

Itu adalah deretan kata dari Kentaro—seorang pencerita, seniman, dan santo kuno yang terhormat yang saat ini telah berpulang tewas.

Tokoh itu sempat mengatakan bahwa tak ada surga di ujung akhir dari sebuah pelarian!

Dengan kata lain, mengatakan bahwa ia berkehendak bertarung saat ini murni merupakan cara demi menyembunyikan bahwa ia ingin melarikan diri.

“Eksekusilah sesuai kehendakmu,” sahut Encrid.

Tentu saja Encrid menyematkan perhatian pada perombakan benak hati Dunbakel sebagaimana sesosok ghoul bakal menyematkan tenggang rasa.

Sementara itu Rem kembali dengan darah hitam para monster memercik di sekujur fisiknya lalu mengatakan bahwa ia bakal meluncur bersama mereka.

Encrid mengatakan padanya untuk mengeksekusinya kali ini pula.

Ini bukanlah hal serius:

hal ini bakal jauh lebih menyerupai sebuah perjalanan ringan!

Bahkan jika perbatasan wilayah iblis terbilang berbahaya, benda itu tak akan se-berbahaya tanah iblis sejati atau dungeon yang bersarang di wilayah selatan sejati.

Wilayah iblis yang berbatasan bersama Kerajaan Naurilia pun berbahaya, namun merupakan pengetahuan umum bahwa tempat itu kurang berbahaya dibanding tanah iblis sejati.

“Keberangkatan dilancarkan dalam tiga hari,” tutur Encrid melepaskan lilitan tali yang mengikat kencang lengan kanannya.

Itu adalah lilitan tali yang amat kuat, namun Encrid meremukkannya murni menggunakan daya tenaga otot semata!

“Itu adalah teknik rahasia milik saya, Art of Escaping Bonds!” tutur Audin sewaktu menyaksikannya.

“Memadatkan otot-ototmu secara brutal lalu meremukkannya menggunakan daya kekuatan?!” cemooh Rem—yang hening akhir-akhir ini—memuji keagungan keahlian tersebut.

“Kamu dihajar hingga babak belur dan jiwamu diremukkan, kenapa kamu hidup kembali?!”

Menyaksikan hal tersebut, Ragna melayangkan komentar pada Rem, mengatakan bahwa teramat bagus menyaksikannya kembali ke wujud lamanya.

Sudah sekian lama tak berjumpa:

Pemandangan yang amat menghangatkan hati semacam ini!

Itu adalah pemandangan yang tak disaksikan Encrid akhir-akhir ini pula.

Rem tertawa, menyebarkan niat membantainya:

“Hehe, ya! Tiba waktunya demi menyematkan mata kapak di leherku alih-alih sebuah kepala! Mari merancang kepala dari mata kapak, mari mengganti kepalaku menggunakan mata kapak!”

Rem menyanyikan tembang menggunakan irama absurd!

Audin mengulas senyum lalu mengatakan: ‘Kalian para Saudara benar-benar menikmati memicu kekacauan!’

Ragna membiarkan pedangnya menggantung santai dalam posisi kuda-kuda rileks.

Rem menempatkan kapaknya di bahunya lalu memiringkannya.

Tampak menyerupai pertarungan bakal meledak secara seketika!

Jika dibiarkan terbengkalai, terkesan mereka bakal bertarung seraya mempertaruhkan nyawa.

Di tengah situasi tegang tersebut, sebaris sambaran halilintar menyambar jatuh di antara keduanya!

Ciaat-blarrr!

Itu bukanlah halilintar sejati, melainkan bayangan sisa yang ditinggalkan oleh sebilah pedang!

Mata pedang itu membengkok dalam pola zig-zag, dan kilatan putih merancang suara yang serupa bersama cicitan burung!

Atas sabetan pedang yang menebas udara hampa tersebut, kedua pendekar secara naluriah mengalihkan tumpuan bobot berat mereka ke belakang.

Di dalam celah tersebut, Encrid—yang telah menyambarkan pedangnya ke bawah—membuka mulutnya demi berkata:

“Tebasan milikku adalah sambaran halilintar putih.”

hal yang memotong di antara keduanya adalah sabetan pedang milik Encrid!

Itu adalah sesuatu yang dirancangnya dengan membaurkan hal yang telah dipelajari dan dikuasainya bersama Sambaran Halilintar Hitam milik Ragna.

Secara alami itu adalah sebuah teknik yang disemati oleh keajaiban Will!

Jika sabetan raksasa berkisar tentang mencurahkan daya kekuatan ledakan ke dalam sebuah pukulan tebasan,

maka ini adalah perihal membagikan sabetan gempuran tersebut di tiap-tiap momen, seolah-olah merancang titik-titik koordinat!

Benda itu dirancang melalui usaha berdarah-darah—benar-benar usaha memuntahkan darah!

Bagi Encrid halnya memang demikian.

Dan teknik yang dirancang menggunakan cara semacam itu mempertontonkan efek dampak yang sepadan:

hal yang dulunya mutlak harus dihentikannya dengan menerjang fisik masuk ke dalam, saat ini murni membutuhkan sebilah sabetan pedang tunggal!

Itu adalah sabetan pedang yang sekali lagi mengukir pada seisi pendekar yang hadir bahwa ia telah menggapai kemajuan raksasa!

“Apakah kamu meminjam dan menggunakannya kembali?” tanya Ragna mempertontonkan ketertarikan.

“Tidak, aku merombaknya dari wujud asal mula,” sahut Encrid.

Maksudnya adalah bahwa sementara dari luar tampak serupa di permukaan, elemen-elemen penyusunnya terbilang bertolak belakang.

Sambaran halilintar hitam kelam milik Ragna bermula dari pedang yang kilat dan berat.

Lantas bagaimana bersama sambaran halilintar putih beberapa detik lalu?!

Ragna menangkap karakteristik pedang yang baru saja disaksikannya:

‘Tebasan ini membagikan daya kekuatan mengusung fokus pada kecepatan!’

Kecepatan kilat!

Sebilah pedang yang se-kilat pendar berkas cahaya ditarik dalam pola zig-zag, menyisakan bayangan sisa, dan mengikut bayangan sisa yang ditarik tersebut, benda itu mencegah musuh demi memproyeksikan titik benturan gempuran!

Ini adalah hal membengkok dan membengkok kembali menggunakan daya tenaga brutal demi menyambar jatuh ke bawah.

Potensi bakat alami genius milik Ragna menangkap esensi sejati teknik tersebut murni lewat sekali pandang:

Ini bukanlah keajaiban Will yang baru.

Benda ini wajib dipandang sebagai variasi dari kecekatan kilat...

Disertai sabetan raksasa membaur masuk ke dalamnya.

“Ya, aku memahaminya,” sahut Ragna mengangguk paham.

Ragna menyanggupi, dan Encrid mengangguk lalu menepuk bahu Rem:

“Kita meluncur pergi dalam tiga hari.”

Rem mengusap hidungnya sekali lalu mengangguk:

“Paham.”

Ia mungkin bakal mengatakan sesuatu, namun Rem tak mengibaskan lidahnya lebih jauh.

Tiga hari kemudian rombongan tersebut meluncur pergi.

Perbatasan wilayah iblis bertakhta di kawasan barat laut Kerajaan Naurilia.

Di tengah perjalanan terdapat jalan utama yang mengarah menuju ke wilayah barat, dan tepat di lokasi tersebut Rem memalingkan kepalanya sejenak ke arah barat.

Seolah-olah aroma nostalgia sedang menggeletik ujung hidungnya!

“Kenapa?” tanya Encrid.

“Murni sekadar menatap,” sahut Rem.

“Alur arah itu adalah barat,” tutur Encrid tanpa alasan pemicu.

Sewaktu Encrid mengatakan hal tersebut secara acak:

“Apakah aku terkesan menyerupai orang dungu yang bahkan tak bisa menemukan jalannya?!” sergah Rem membakar amarah.

Rem meledak amarah!

Hal itu teramat sanggup dipahami:

Ia secara kasat mata baru saja dibanding-bandingkan bersama Ragna!

“Tidak, murni sekadar mengatakannya,” sahut Encrid lalu melangkah ringan.

Di tengah jalan, mereka menyaksikan beberapa kelompok penyamun, namun murni satu kelompok dari mereka yang cukup nekat untuk melepaskan gempuran serangan.

Encrid menilai hal tersebut cukup aneh:

Rombongan mereka mencakup seorang Frokk dan bersenjata lengkap secara seragam.

Jika mereka menerjang maju bahkan usai menyaksikan hal ini, teramat layak untuk mempertanyakan kecerdasan para penyamun tersebut!

Atau mungkin saja mereka mengantongi sesuatu demi diandalkan:

Encrid yang bersenjata lengkap utuh, Rem yang mengusung raut pembantai, Frokk Rua Garne, dan sang beastman Dunbakel.

Mereka telah mengendarai kuda hingga ke area sekitar dan saat ini sedang bergerak melangkah kaki.

Lantaran mereka mengantongi barang bawaan, mereka telah menjual seisi kuda yang tersisa di desa terakhir, kecuali seekor kuda beban.

Itu adalah jalan yang sedikit berbelok dari jalan utama, disertai gundukan bukit kecil di sisi kiri dan semak-semak serta beberapa pohon di sisi kanan.

Itu adalah medan yang amat bagus demi melangkah atau berlari, namun merupakan jalan yang tak sanggup dilintasi kuda.

“Di dekat wilayah iblis, lokasi ini dipenuhi monster, sehingga kuda tak lebih dari sekadar bahan pakan ternak!”

Mereka telah mendengar kisah-kisah semacam itu terlebih dahulu di tengah alur perjalanan mereka.

Istana kerajaan sempat menawarkan demi memberangkatkan sebutir unit pengintai ranger untuk memandu mereka, namun mereka melayangkan penolakan.

Itu adalah hal yang tidak berguna.

Encrid bukanlah Ragna; menemukan jalan bukanlah tugas yang menyiksa!

Bagaimanapun, itu adalah suatu hari sewaktu mereka berada sekitar lima hari alur melangkah kaki dari perbatasan wilayah iblis.

Sekelompok penyamun membendung jalan Encrid.

Niat membantai yang berkilat di sepasang mata para penyamun yang mendadak membendung jalan mereka bakal tampak teramat mengintimidasi bagi sebuah guild biasa atau kelompok lain.

“Apakah mereka tak mengantongi rasa takut?!”

Dunbakel mengatakan pertanyaan balik seolah-olah pada dirinya sendiri.

Menilai dari posisi tangannya di atas pedang scimitar dan posisi sepasang kakinya, gadis itu sedang berada dalam posisi kuda-kuda demi menerjang melompat maju di tiap-tiap momen!

Secara bertolak belakang, itu pun merupakan posisi kuda-kuda dari mana ia sanggup melarikan diri di tiap-tiap momen.

Encrid membiarkan deretan kata Dunbakel melintas berlalu seraya mengamati kelompok penyamun tersebut secara cermat.

Sosok yang berdiri di pusat tengah mengusung janggut lebat yang tumbuh kasar, dan penyamun lainnya mengusung impresi serupa:

Sebuah impresi bahwa mereka bisa saja menjadi sanak kerabat Rem!

Murni dari cara mereka menggenggam tombak atau pedang mereka, teramat jernih bahwa ini bukanlah kali pertama atau kedua bagi mereka.

Penyamun-penyamun yang secara samar memperlebar jarak merancang pengepungan.

Itu bukanlah hal yang hebat, namun merupakan penempatan posisi yang bakal menangkap rakyat biasa sebelum mereka sempat melancarkan apa pun.

Terdapat pula beberapa orang dari mereka yang memboyong busur panah.

Dengan kata lain mereka terkesan mengantongi metode mereka sendiri.

Hidup menjadi penyamun bukanlah sesuatu yang sanggup kamu eksekusi murni hanya dengan mengetahui cara mengayunkan pedang sedikit!

Kamu mutlak harus melompati ancaman bahaya monster dan mengamankan kawasan yang aman pula.

Sewaktu mereka kian mendekat ke perbatasan wilayah iblis, mereka telah menyaksikan beberapa sosok bertemperamen kasar di dalam desa-desa yang lebih raksasa, sehingga insiden semacam ini mutlak bakal berlangsung:

Sebuah insiden tempat para pria bakal menerjang maju bahkan usai menyaksikan perlengkapan tempur dan bangsa race mereka!

Salah satu penyamun membuka mulutnya, seolah-olah ia telah menyimak deretan kata Dunbakel.

Pria itu mengantongi sepasang telinga yang tajam:

“Kami pun mempertaruhkan nyawa demi hal ini! Apakah kamu membatin memeras kelompok guild di luar sini adalah pekerjaan yang gampang?!”

Encrid membatin berapa banyak lagi pria-pria berciri semacam ini di negara ini:

Bakal terdapat kuantitas tak terhingga!

Tak akan memungkinkan untuk menumpas mereka seluruhnya.

Meski demikian, ia tak akan membiarkan sosok yang menerjang maju ke arahnya saat ini lolos begitu saja secara tenang!

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.