Bab 442: Apakah Artinya Kesatria
Setelah mengenyangkan perut dengan roti kasar, sup encer, daging asin, dan biskuit tipis dari olahan tepung gandum campuran, Encrid melakukan persis seperti apa yang telah ia putuskan.
"Puah! Aku bisa mati!"
Dunbakel mencoba melawan sekuat tenaga, tapi usahanya sia-sia belaka.
Encrid tanpa ampun menceburkan kepala wanita itu ke dalam bak air.
Kepala Dunbakel mencuat kembali dari bak, menyemburkan cipratan air ke segala penjuru.
"Hei, aku kan sudah mandi sepuluh hari lalu!" protes Dunbakel garang.
Jika memercikkan sedikit air ke wajah sudah dihitung sebagai mandi, wanita itu memang tidak salah.
"Kalau begitu, aku bisa sekalian memasukkan Rem ke bak yang sama denganku," cetus Encrid.
"Aku bakal mandi sendiri!" seru Dunbakel akhirnya menyerah pasrah.
Selagi Dunbakel mandi seorang diri dengan bersungut-sungut, Encrid meminta bak lain diisikan air hangat.
"Mau kubantu menggosok punggungmu?"
Rua Garne menawarkan kebaikan hatinya.
"Tidak usah," tolak Encrid halus.
Begitu merendam tubuhnya di air hangat, rasa lelah dari perjalanan jauh perlahan memuai lenyap.
Ia merasa seolah melupakan sesuatu, tapi rasanya itu bukan hal yang kelewat penting.
Saat memikirkan langkah yang harus diambil dan teringat akan Knight Oara, gelombang kantuk yang hebat mendadak menyergapnya.
Karena tidak ada alasan untuk melawannya, Encrid memejamkan mata. Ia tertidur lelap seraya menyandarkan lehernya pada tepian bak kayu.
***
"Kau tiba di tempat yang cukup menarik."
*Gepyuk.*
Bersamaan dengan arus air sungai, lentera berwarna ungu menyamarkan pandangannya.
Wajah bayangan berkerudung hitam yang semula buram perlahan memperlihatkan mata, hidung, dan mulutnya satu per satu.
Kulitnya menyerupai tumpukan batu kelabu, dengan mata datar tanpa emosi dan fokus yang samar.
Sosok itu adalah sang Ferryman.
"Apa jangan-jangan musibah bakal datang?" tanya Encrid.
Ferryman tidak menunjukkan reaksi luar secara kasatmata.
Namun jika ia adalah manusia biasa, saat ini ia pasti sedang menggertakkan geraham dan mengepalkan tinju rapat-rapat. Saking jengkelnya, jika dibiarkan sebentar lagi, ia mungkin sudah melayangkan pukulan tanpa sadar ke wajah bangsat di depannya.
Urat ungu menonjol di punggung tangan yang menggenggam dayung.
"Tampaknya tidak ya," gumam Encrid seraya memiringkan kepala.
Ferryman berusaha keras mencengkeram kesadaran akalnya yang kian menipis. Ini pertama kalinya sejak ia mulai mendayung perahu, emosinya bisa bergolak hebat sedemikian rupa.
Selama ini, ia hanya merasakan kenikmatan picik saat mengejek dan memandang rendah para penumpangnya. Namun kini, jenis emosi yang sama sekali berbeda tengah berkecamuk dalam dirinya.
Dalam arti tertentu, ini mungkin perubahan emosional yang positif. Bukankah selama ini ia hidup seraya melupakan cara untuk marah?
Ferryman berpikir rasional dan menekan gejolak perasaannya.
"Tidak masalah kalau kau tidak tahu," kata Encrid.
Encrid sama sekali tidak bermaksud jahat. Di matanya, Ferryman adalah semacam entitas dewa. Karena itu, ia hanya jujur melontarkan apa yang ada di pikirannya. Ia memang berharap, tapi jika tidak ada musibah yang datang, ya tidak masalah. Nada bicara dan sikapnya menegaskan hal itu secara gamblang, sehingga Ferryman akhirnya sanggup berucap dengan tenang.
"Enyahlah kau, bangsat gila."
*Karena kau sudah menapakkan kaki di batas tanah iblis, aku akan memberkati harimu. Kau mungkin baru bakal menyesal setelah berhadapan dengan hari paling kejam dalam hidupmu.*
Semua kalimat celaan yang telah disiapkan Ferryman itu pada akhirnya tak satu pun sanggup ia lontarkan.
***
Fakta bahwa musibah tidak datang tidak mengubah apa pun.
Sejak keesokan harinya, Encrid beradaptasi dengan caranya sendiri.
"Selamat pagi," sapanya pada seorang prajurit yang sedang membersihkan ruang makan—entah pria itu kekasih Rowena, atau sekadar langganannya.
Prajurit itu menengadah.
Dunbakel, yang bulunya berubah dari kelabu menjadi putih bersih berkat mandi kemarin, menyusul di belakang dan menegur si prajurit.
"Hei, prajurit pengemis."
Sebuah julukan yang cukup kreatif.
"... Kenapa aku dipanggil prajurit pengemis?"
"Aku melihatmu di gang kemarin, minta diskon karena tidak punya uang krona," celetuk Dunbakel seraya memperagakan gerakan menggoyangkan pinggul.
Wajah prajurit itu seketika memerah padam. Itu adalah kejadian yang amat memalukan baginya—termasuk bagian di mana ia tak sanggup menahan diri dan melayangkan tangannya.
"Aku ini Decurion juga tahu!" seru prajurit itu membela diri.
Encrid hanya melintas seraya bergumam 'oh begitu', sementara Dunbakel mengikutinya tanpa berpura-pura mendengarkan.
"Ada ulat panggang tidak?" tanya Frokk yang turun belakangan.
Prajurit itu menggelengkan kepala. "Mana ada makanan seperti itu di sini."
"Ya sudah, selamat bekerja ya, Prajurit Berpinggang Sehat," pungkas Frokk.
Setelah ketiga orang itu berlalu, si prajurit bergumam seolah hendak meludahkan kata-kata.
"... Aku ini Decurion juga, dasar bangsat."
Namun realitasnya, jika kekurangan poin kontribusi, ia setidaknya harus membawa makanan di ruang makan. Ini semua gara-gara ia memaksakan diri demi mendapatkan sedikit koin krona. Walau begitu, tidak ada yang perlu disesali. Prajurit itu kembali mengatupkan mulutnya.
Encrid melangkah ke luar dan menemukan area di lahan kosong.
Karena seluruh kota ini adalah barak raksasa, orang-orangan sawah dari kayu tersebar di berbagai sudut. Rumah-rumah dibangun agak jarang, tetapi lahan terbuka sangat melimpah, dan mana saja bisa difungsikan sebagai lapangan latihan.
Kemarin ia sudah mandi bersih dan beristirahat cukup. Rasa lelah dari perjalanan kini telah memuai habis.
"Tubuh yang kekar. Bagus sekali," puji Rua Garne.
Di bawah paparan sinar matahari yang ia sapa saban hari, Encrid mengulangi latihan yang sama puluhan, ratusan, hingga ribuan kali.
Technique of Isolation adalah metode untuk melatih tubuh hingga mencapai batas fisik tertinggi. Encrid melakukannya lagi hari ini.
Bahkan andaikan musibah bakal datang sekalipun, jalannya tidak akan berubah. Karena musibah tidak datang, ia cukup menjalani apa yang biasa ia lakukan.
Yaitu berlatih. Memobilisasi tubuhnya, mengayunkan pedangnya.
Rua Garne ikut mencabut pedangnya.
Memakai Loop Sword miliknya, sang Frokk bukanlah lawan yang bisa dipandang sebelah mata.
Kala mereka melakukan latihan pemanasan ringan, mentari yang lembap menembus celah awan, memancarkan binar cahayanya yang pertama.
Menggunakan pendar cahaya sebagai patokan fokus, Encrid menerapkan langkah-langkah yang telah dipelajarinya, menggoreskan alur garis dengan pedang, memakai gerak tipu dan gertakan untuk merusak keseimbangan Rua Garne.
Ia berpura-pura melancarkan tebasan ke kanan, lalu mengirim tusukan cepat yang membidik bahu kiri lawan.
Encrid memperagakan langkah yang pernah diajarkan Rua Garne padanya.
Ia memindahkan tumpuan berat badan ke kaki kiri dan menyodorkan pedang di tangan kirinya.
Gerakan itu mirip dengan apa yang mungkin dilakukan prajurit yang sedang panik.
Itulah Frog's Step.
Sebuah teknik yang diturunkan dari gerakan kaku ketika kaki dan lengan di sisi yang sama bergerak secara bersamaan.
Berkat kebiasaannya yang terus menerus menulis dengan tangan kiri dan memanfaatkannya di berbagai kesempatan, kini ia sanggup mengeksekusi gerakan tersebut dengan presisi yang jauh lebih tinggi ketimbang sebelumnya. Semua latihan itu memuara pada terciptanya gerakan yang demikian mulus.
"Bagus!" seru Rua Garne bersemangat.
Ia sebenarnya bukan tipe orang dengan insting bertarung yang menggebu-gebu, tapi saat berhadapan dengan Encrid, terkadang semangatnya bisa berkobar tanpa disadari.
Setelah mandi keringat dalam latihan ketat.
"Hei, kalau ada orang yang hilang, bukankah setidaknya kalian harus mencarinya?"
Seorang barbarian berambut kelabu melangkah mendekati lahan kosong.
"... Ah."
Encrid baru teringat apa yang sempat dilupakannya saat berendam di bak mandi kemarin.
Yaitu Rem.
"Dari mana saja kau?" tanya Encrid.
"Kau memangnya penasaran?"
"Tidak juga."
Encrid cuma mengira Rem pergi berburu seorang diri.
Melihat helai rumput dan tanah yang menempel di tubuhnya, jejak kelana sang barbarian terlihat sangat jelas. Bau arang yang samar juga tercium dari pakaiannya. Tampaknya pria itu habis membakar sesuatu sepanjang malam.
Ia juga membawa kantong berat, seolah-olah habis mengumpulkan batu. Sebingkah potongan batu terlihat di mulut kantongnya.
Rupanya Rem sempat mengelilingi kota, menemukan batu pengasah yang bagus, dan saat diberitahu bahwa ia tidak bisa mendapatkannya tanpa poin kontribusi, ia memilih keluar benteng untuk mencarinya sendiri.
Batu pengasah alami. Jenis batu yang bakal kian mengeras jika dibakar.
Ia membutuhkan batu semacam itu untuk mengasah kapak besi Lewisan miliknya.
Setelah menemukan beberapa bongkah batu pengasah dan berkeliling sejenak, ia kembali ke tukang besi untuk membakarnya sepanjang malam.
"Sudahlah, aku mau tidur dulu," gumam Rem.
Rasa lelah terus menumpuk, jadi seseorang harus beristirahat selagi sempat. Entah ini di Thousand Bricks atau di tengah-tengah tanah iblis, Rem bukanlah pria yang mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Ia tetap bertindak seperti biasanya.
Encrid tidak ambil pusing dan kembali berfokus pada latihannya.
Kala ia sedang mengayunkan pedang untuk beberapa saat, sebuah suara memotong.
"Kau bilang ingin menjadi kesatria?"
Entah sejak kapan wanita itu tiba. Sosok itu adalah Knight Oara.
Ia sedang berjongkok di atas tunggul kayu tebangan di samping lahan kosong, menyandarkan siku di lutut dengan lengan terkulai santai.
Oara menggenggam buah plum di tangannya dan sibuk mengunyahnya. Dengan bunyi kriuk yang renyah, bibirnya ternoda warna ungu buah. Setitik sari buah menetes dari sudut bibirnya.
Di bawah sorotan mentari, rambutnya memang berwarna cokelat. Rambut dengan gelombang sedang itu memiliki alur alami yang sedap dipandang, dipadu ikat kepala dari kain bersih yang melilit dahinya.
Matanya bulat dan sorot matanya tajam jernih. Ia tampaknya sudah sepenuhnya sadar dari mabuk.
Oara mengunyah sesaat lalu meludahkan biji buahnya. Biji dengan warna serupa rambutnya itu mendarat di tanah.
"Ya, begitulah rencanaku," sahut Encrid.
"Hmm."
Oara mengangguk pelan dan tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya memperhatikan.
Encrid melanjutkan latihannya.
Oara menonton sejenak, lalu mendadak bangkit berdiri dan mematahkan dahan dari pohon tinggi di antara celah rumah.
Kemudian wanita itu menghantam dahan patah tersebut menggunakan sisi telapak tangannya. Daun-daun berguguran dalam curahan lebat. Oara bahkan mengeluarkan pisau dan merapikan dahan itu dengan cekatan.
"Kau harus waspada," cetus Rua Garne yang mengamati dari samping.
Itu adalah momen ketika Oara, yang membelakangi mereka, berbalik seraya menggenggam dahan kayu yang telah dirapikan.
*Bum!*
Dunbakel menghentakkan kaki ke tanah dan melompat mundur lebih dari lima langkah.
Berubah ke wujud Singa Putih, ia memamerkan taringnya dan merendahkan kuda-kuda. Ia menempatkan kedua tangannya di tanah, dengan posisi begitu rendah hingga rahangnya hampir menyentuh tanah dan kepalanya mendongak ke atas.
Ia tengah menunjukkan kewaspadaannya yang intens.
Itu adalah pendar tekanan yang amat buas.
Tekanan seorang kesatria biasanya terasa seperti batu besar yang menindih bahu seseorang, tapi tekanan Oara melampaui batas itu.
Tekanannya menyerupai belenggu besi. Tidak, itu adalah tekanan yang rasanya seperti dihantam sebingkah besi pekat.
Bukan bernada 'aku akan menebasmu jika kau bergerak', melainkan lebih ke arah 'sebelum kau bergerak, mari kita mulai dengan satu pukulan'.
"Ah, sudah lama aku tidak melakukan ini pada manusia, jadi agak sulit mengendalikannya," ujar Oara seraya mengambil satu langkah maju.
Sembari mengangkat dahan kayu, ia berdiri berhadapan dengan Encrid.
Encrid mengangkat pedang Aker.
Normalnya, tidak akan mudah bagi siapa pun untuk bergerak di bawah intimidasi tersebut. Tekanan Oara memiliki jangkauan spesifik, tepatnya sekitar lima langkah memancar dari arah pandangannya.
Di dalam ruang tersebut, tekanan itu mengerahkan daya pada tingkat yang sama sekali berbeda dari intimidasi biasa—sedemikian rupa hingga seorang Apprentice Knight pasti bakal goyah.
Namun bagi Encrid, tidak sekadar mengangkat pedang dan memasang kuda-kuda, ia bahkan memancarkan tekad bertarungnya.
Saat merasakan bungkal besi tak kasatmata menghantamnya, Will penolakan dalam tubuh Encrid seketika aktif.
Will menetralkan tekad lawan.
Karena itu, intimidasi tersebut menjadi tak berarti.
Itu bukan niat Encrid untuk pamer, tapi Oara mendadak tertarik.
'Dia bahkan belum menjadi kesatria, tapi sudah sanggup mengibaskan tekananku?'
Haruskah ini dianggap sebagai sarana pertahanan yang tidak lazim?
Sensasinya seperti bocah tujuh tahun yang memegang perisai dari Darksteel. Seorang bocah, bukan raksasa, seharusnya tidak akan sanggup mengangkat perisai seberat itu, tapi entah bagaimana Encrid sanggup mengangkatnya dan menahan serangan.
Pria itu berhasil mengaliskannya.
Itu hal yang mengagumkan.
Sudut bibir Oara terangkat naik.
Dengan senyuman tipis, ia berucap, "Pedang yang bagus."
"Ini pusaka keluarga kerajaan," sahut Encrid.
"Pahlawan perang saudara, katanya. Mereka tidak memberiku satu pun, pelit sekali," cibir Oara.
"Kau kenal Yang Mulia Ratu?"
"Tidak. Belum pernah ketemu."
Oara tidak pernah mencampuri urusan perang saudara atau apa pun yang terjadi di keluarga kerajaan. Tugasnya adalah melindungi tempat ini. Itu janji yang ia buat pada dirinya sendiri.
"Mau main-main sebentar?" tanya Oara.
Suaranya terdengar begitu memikat. Ia tampak seperti sosok menarik yang mengajak seseorang ke ranjang di tengah malam.
Encrid terbuai oleh pancingan itu.
Ia mengambil langkah maju tanpa mengumbar kata.
Tidak ada gerak tipu yang terlibat.
Ia mempertaruhkan segalanya pada satu garis lurus, menghubungkan titik demi titik.
Serangan penjajakan untuk mengukur kemampuan lawan? Tidak ada gunanya hal semacam itu.
Lawannya adalah seorang kesatria.
Karena itu, ia harus menunjukkan jurus terbaiknya.
Heart of Power berdenyut kencang.
Single Point Focus membuat waktu terasa seolah merenggang memanjang.
Tekanan menghantam seluruh tubuhnya seolah ia tenggelam di dalam rawa.
Encrid mengatasi tekanan itu dan melayangkan pedangnya.
Dunbakel yang mengamati dari samping membelalakkan mata. Tanpa disadari, ia mengerahkan tenaga pada cakarnya, meretakkan batu yang tertanam di tanah dengan bunyi yang menyayat.
Ia pernah melihat teknik yang baru saja ditunjukkan Encrid. Bahkan ia pernah merasakannya sendiri.
Apakah itu yang dinamakan tebasan raksasa?
Namun apa yang ditunjukkannya saat ini adalah sesuatu yang belum pernah ia alami maupun lihat sebelumnya.
Encrid mencurahkan seluruh raganya ke dalam satu teknik, satu ayunan pedang. Ia membebaskan seluruh potensi otot yang dilatih melalui Technique of Isolation.
Seolah-olah ada seseorang yang memegang kedua ujung waktu lalu merenggangkannya hingga mulur.
Pada garis waktu tersebut, Encrid seorang diri menerjang maju dan mengayunkan pedangnya ke bawah.
Pendar cahaya yang membelah sorot mentari jatuh tepat di atas kepala sang kesatria.
*Tuk.*
Dan bunyi hampa bergaung.
"Terlalu banyak tenaga."
Encrid terhenti di tengah ayunannya.
Dahan kayu milik Oara hinggap di atas pergelangan tangannya.
Encrid lantas memutar kaki kirinya ke samping dan bergerak. Bilah pedang melukis alur lintasan baru.
Oara menarik dahan kayunya lalu mengayunkannya kembali ke bawah, menghantam pergelangan tangan Encrid.
Sebagai seorang kesatria, ia secara kasar berasumsi bahwa sabetan ini bakal membuat Encrid menjatuhkan pedangnya.
Namun seorang kesatria sekalipun tidak bisa sempurna dalam segala aspek.
*Krak!*
Daya di balik dahan kayu itu seharusnya sanggup mematahkan tulang pergelangan tangan orang biasa, tapi Encrid sanggup menahannya.
Otot-otot yang dilatih dalam kurun waktu panjang kini memiliki kualitas kekerasan yang berbeda. Ditambah lagi, Encrid yang telah belajar puluhan kali dari Audin tentang cara menerima pukulan, menegangkan ototnya pada momen benturan dan menarik tangannya sedikit ke belakang, bahkan merusak titik fokus benturan.
Setelah itu, ia melanjutkan ayunan pedang yang telah dimulainya.
Menggunakan kaki kanan sebagai poros, otot-ototnya bergerak menyalurkan daya ke bilah pedang.
Pedang yang menjangkau ke depan berkilat seperti kilat putih.
Oara melepaskan dahan kayunya.
Momen ketika menyadari kegagalan serangannya, ia langsung mencabut pedang pendek di pinggangnya.
*Klang!*
Bilah pedang Aker berhasil ditahan.
Oara menatap Encrid di balik pedang pendek yang ditahannya secara menyilang.
Mata cokelatnya dan mata biru Encrid yang berkilat di balik celah rambut hitam saling beradu pandang.
Meski bilah pedang saling beradu, tidak ada pihak yang terdesak maupun mengalah.
Itu karena Oara mengaplikasikan daya secara presisi di pusat benturan dan menghentikannya.
Itu adalah trik yang dimainkan Oara.
Ia hanya menggunakan daya yang cukup untuk menahan pedang Encrid.
Teknik yang dinamakan blade catching.
"Kau lumayan juga," ujar Oara.
Ia tulus memuji.
Kemampuan ini setara dengan dua Apprentice Knight yang dilatihnya secara pribadi. Tidak, jika ditinjau dari tekad bertarung semata, mungkinkah pria ini bertarung lebih baik?
Ia tidak tahu. Setiap pertempuran harus dijalani untuk bisa diketahui hasilnya.
Namun saat ini, ia bisa tahu tanpa perlu bertarung lebih jauh.
Ia semula berniat membereskannya hanya dengan dahan kayu, tapi ia malah terpaksa mencabut pedangnya.
Apakah karena ia gagal mengukur kemampuan lawannya dengan tepat?
Oara telah membuat dua kesalahan, dan ia menyadarinya sekarang.
'Sudah lama sekali aku tidak bertarung melawan manusia.'
Latihan tanding sendiri adalah kesempatan yang sangat langka. Itulah kekeliruan pertama.
Dan kekeliruan kedua adalah...
'Aku tidak memandang rendah dirinya, tapi...'
Pria ini, Encrid, sangat gigih dan ulet.
Jika seorang Apprentice Knight biasa menyerupai pedang baja yang dibuat rapi, pria ini seperti pedang yang ditempa dengan mengumpulkan besi tua, meleburnya, lalu menempa kembali dengan tingkat kepedulian yang luar biasa gila.
Karena itu, terjadi kegagalan dalam prediksinya.
Ia bukan pria yang dilatih secara bersih dan teratur, melainkan sosok berbisa yang merangkak naik dari dasar terbawah.
Begitu menyadarinya, sudah wajar baginya untuk mengubah pola responnya.
"Bakal sakit kalau kau tidak bisa menahannya," tutur Oara seraya mendorong pedang Encrid.
Encrid terdorong mundur saat mencoba menarik kembali pedangnya yang tertahan dan hendak terlibat dalam pertarungan jarak dekat.
Daya dorongnya amat dahsyat.
"Apakah artinya kesatria?" tanya Oara seraya menurunkan lengan yang memegang pedang pendek.
Encrid kembali mengambil kuda-kuda alih-alih menjawab.
"Mereka adalah sosok yang meretas daya tak berwujud dari Will menjadi kenyataan."
Itu adalah definisi paling praktis yang memungkinkan.
Jika dilihat tanpa unsur romantisme, itu adalah pernyataan yang sangat tepat.
Seseorang tidak bisa berbicara tentang kesatria tanpa menyebutkan Will.
Dan Oara baru saja menunjukkan definisi kesatria yang baru dituturkannya.











