Eternally Regressing Knight

Bab 447: Encrid Merasa Sensasi Luar Biasa

2748 Kata

Bab 447: Encrid Merasa Sensasi Luar Biasa

"Enki, ada gelombang monster."

Waktu menunjukkan sore hari.

Matahari belum juga terbenam.

Mendengar seruan Aisha, Encrid mengendurkan cengkeramannya pada hulu pedang.

Rua Garne baru saja hendak melepas gulungan cambuk dari pinggangnya, bilang ingin mengajarinya gaya pertarungan bangsa Frokk.

"Mari kita lihat. Ini bukan pemandangan yang biasa."

Ujar Rua Garne sembari melilitkan kembali cambuknya ke pinggang.

Encrid mengangguk setuju, dan anggota tim lainnya mengikutinya.

"Kita akan melihat tempat yang benar-benar hancur. Hancur, hancur, hancuuur."

Rem menyusul sambil bergumam menyanyi, sementara Dunbakel memaksakan kakinya melangkah dan membuka mulut.

"Kita harus pergi. Tanah iblis, oh sungguh menyenangkan."

Suaranya sama sekali tidak memancarkan kegembiraan.

Encrid melangkah hampir berlari menuju arah barat laut kota, mengingat ksatria magang yang pernah ia lihat bertarung di medan perang Azpen.

Betapa jantungnya berdebar kencang melihat terjang ksatria magang itu dengan jubah merahnya yang berkibar.

Kali ini yang bertarung adalah seorang ksatria resmi.

Bukan adu tanding biasa, melainkan pertempuran sungguhan.

Bohong jika ia bilang tidak menantikannya.

***

Mereka pun tiba di depan gerbang barat.

Dua daun gerbang besar itu dipahat dari satu potong batu utuh.

Melihatnya membuat orang bertanya-tanya bagaimana batu sebesar itu bisa dipahat demikian rapi.

Sekitar tiga puluh prajurit telah berkumpul, semuanya berjejer di atas dinding benteng sambil memegang busur panjang.

"Kalian datang? Baru pertama kali melihat gerbang seperti ini, kan?"

Oara menyapa Encrid.

Ia tersenyum cerah di depan gerbang yang masih tertutup rapat.

"Apa kau memahatnya sendiri?"

"Bukan, kakekku yang memahatnya."

Jawabannya terdengar menyimpan kisah panjang, walau Encrid takkan sempat mendengarnya saat ini.

"Hei! Pria milik Rowena, tunjukkan semangatmu!"

Teriakan itu membahana dari luar gerbang.

"Buka gerbangnya."

Oara berbicara kepada empat prajurit berlengan tebal yang berdiri di depan gerbang, lalu menepuk lengan bawah Encrid.

"Tonton saja dari atas dinding benteng hari ini. Nantikanlah, cinta suci seorang pria akan mengerjakan mukjizat!"

Oara menghentikan obrolannya dengan Encrid lalu berteriak ke arah gerbang yang mulai terbuka.

Encrid menuruti ucapannya.

Ia memijakkan kakinya di tangga batu yang menuju ke puncak dinding benteng.

Tangga yang menanjak itu terbuat dari tumpukan batu bata.

Pagar pembatas di sisi lain dinding menjulang sebatas dadanya.

Encrid menaiki tangga dengan pegangan pada pagar pembatas.

Tak ada debu di permukaannya.

Itu bukti bahwa orang-orang lalu-lalang setiap hari, sapuan tangan mereka menyapu bersih permukaannya.

"Oho, kelihatannya seperti eksekusi publik."

Ujar Rem yang mengekor di belakangnya.

Wajahnya tampak seolah baru menemukan tontonan yang menarik.

"Apa itu maksudnya lucu?"

Dunbakel menunjukkan rasa kesal yang jarang terjadi.

Dia adalah tipe yang berpura-pura pincang setelah dihajar setengah mati oleh Rem, namun sangat jarang mengutarakan emosi negatif secara gamblang.

Encrid tahu pemandangan di depan mereka mengusik luka lama Dunbakel, tapi ia membiarkannya berlalu.

Ia berpikir itu adalah hal yang harus diselesaikan sendiri oleh wanita itu.

"Ini memang menyenangkan," sahut Rem terkekeh.

Dunbakel membisu, hanya memonyetkan bibirnya ke depan.

Rua Garne tak berkata apa-apa dan mengunyah serangga kering.

Menyenangkan melihatnya menikmati serangga dari dekat tanah iblis, menyebutnya sebagai hidangan lezat.

Rasanya sepadan memberi pemilik kedai beberapa keping perak tambahan.

*Gulp.*

*Slurp.*

Lidah Rua Garne menjulur kilat dan menelan serangga itu dalam satu tegukan.

Bahkan pemandangan lidahnya yang panjang melilit serangga secara instan terasa agak menggemaskan setelah beberapa kali dilihat.

"Enak?"

"Mau coba?"

Saat Rem bertanya, Rua Garne membuka telapak tangannya.

Seekor serangga putih tergeletak di atas kulitnya yang berlendir.

Itu adalah kepompong.

Rem tidak memakannya.

***

Pandangan Encrid menyusuri dinding benteng ke arah kanan.

Ia bisa melihat Aisha juga sudah naik di dinding benteng seberang.

Mata mereka beradu.

Aisha mengarahkan dagunya ke depan.

Tatapannya seolah berkata, *'Tonton saja.'*

Encrid melirik Aisha sekali lalu mengalihkan pandangannya.

"Oa!"

Suara itu datang dari luar gerbang.

Seruan perang seseorang.

"Oa!"

Menanggapi suara itu, para prajurit yang berjejer di kedua sisi menyerukan slogan secara serentak.

*Buug!*

Para prajurit berbusur panjang di atas dinding benteng ikut menghentakkan kaki mengikut irama chant tersebut.

"Sialan, akan kulakukan! Kalau kubilang kulakukan, bakal kulakukan!"

Pria milik Rowena yang berdiri sendirian berteriak nyaring.

Gelombang monster bahkan belum dimulai, tapi Encrid sudah merasakan firasat buruk yang membuat kulitnya merinding.

Melihat dari puncak dinding benteng, di luar wilayah manusia, terbentang hutan kelabu yang lebat.

Sebuah tempat yang ternoda oleh energi yang dipancarkan oleh monster, itulah tanah iblis.

Tepat di depan dinding benteng, tanahnya berwarna merah agak kekuningan, namun warna tanah makin menggelap saat mendekati tanah iblis.

Di depan pepohonan kelabu, tanahnya tampak hampir kehitaman.

Kelihatan seolah bakal memancarkan bau busuk yang menyengat.

Memang benar, aroma busuk samar menggantung di udara.

Gundukan tanah yang menjulang seperti bukit pemakaman tampak menandai pintu masuk menuju hutan.

Dan dari sanalah monster-monster mulai merangkak keluar.

*Guuuuuuuuuu.*

Jeritan monster-monster itu mengguncang tanah dan mengalir melalui udara hingga mencapai dinding benteng.

Bagi mata Encrid, suara yang dibuat monster-monster itu tampak bagai tombak yang melesat ke arah mereka, hanya untuk ditangkis oleh dinding benteng.

Kemampuan Sensory Skill miliknya telah mematang, berubah dari yang tadinya hanya merasuki Aura menjadi mampu melihatnya secara kasat mata.

Ia kembali merasa bahwa waktu yang ia habiskan untuk bertahan menghadapi para ksatria tidaklah sia-sia.

Encrid bisa melihat kawanan monster di sebalik hutan kelabu.

Ada yang merangkak keluar menggunakan empat kaki, ada yang lengannya begitu panjang hingga menyentuh tanah, ada yang mulutnya robek lebar di kedua sisi sambil meneteskan air liur, dan ada yang berkepala dua.

Semuanya memiliki kuku jari yang panjang.

Bahkan ada satu monster yang kuku kakinya lebih panjang dibanding kuku jarinya.

Monster yang satu itu berjalan menggunakan tangan alih-alih kaki, hanya menepuk tanah dengan kakinya untuk menjaga keseimbangan.

Monster-monster dengan kulit retak-retak yang memperlihatkan serat otot mereka—mereka adalah para ghoul.

Monster pemakan daging yang berburu manusia.

Spitting ghoul dari koloni yang ia bereskan sebelumnya memang tidak biasa, tapi di sini ada monster yang jauh lebih aneh.

"Tanah iblis mengevolusi monster."

Bukankah Rua Garne pernah berkata begitu?

Pemandangan ini membuat ucapannya langsung bisa dipahami dalam sekejap.

Dan jumlah mereka sangat banyak.

Hanya dalam sekejap, lebih dari lima puluh ekor telah bermunculan.

Seolah tertutup tirai hitam, Encrid tidak bisa melihat apa yang ada di dalam hutan kelabu.

Para ghoul mencurah keluar tanpa henti dari dalam sana.

Ada alasan kenapa orang-orang menyebutnya gelombang.

Saat ini pemandangan itu tampak seperti pasang laut ringan, tapi begitu mereka mulai berlari, hal ini bakal menjelma menjadi gelombang pasang yang menghantam.

Tentu saja mereka bukan sekadar ghoul biasa.

Tentu saja di dalam tanah iblis pun ada ghoul pasaran.

Tapi yang ini adalah sebuah koloni.

Makhluk-makhluk yang telah membentuk koloni di dalam tanah iblis.

Makhluk yang telah bersatu untuk merebut wilayah, mengunyah daging dan tulang, serta meminum darah.

*'Karakter mereka berbeda.'*

Kelompok beranggotakan tiga atau empat prajurit biasa dianggap sebagai kekuatan yang stabil untuk menjatuhkan satu ghoul.

Prajurit mahir mungkin sanggup mengurusi dua ghoul.

Tapi jika ghoul-ghoul ini lawannya? Dengan asumsi bertarung dalam formasi, ia memperkirakan setidaknya sepuluh prajurit dibutuhkan.

Dan hanya prajurit berpengalaman yang sanggup melakukkannya.

*'Jika menyerang sembarangan, beberapa prajurit bakal robek dan tewas konyol.'*

Salah satu ghoul mencengkeram batu dari tanah lalu meremukkannya hingga hancur berkeping-keping.

Lengah sedikit saja dan kau akan tewas.

Bertarung melawan makhluk seperti itu? Mereka bukan lawan yang sanggup dihadapi oleh prajurit biasa.

Rasanya seolah cahaya matahari makin meredup.

Pada kenyataannya, sinar matahari memang tak sanggup menerangi area di dekat tanah iblis dengan sempurna.

Tampak seolah tanah iblis menolak kehadiran cahaya matahari.

Pepohonan berwarna kelabu unik dan tanah cokelat tua yang khas membuatnya terlihat demikian.

Inilah saat di mana rasa takut mulai menyusup.

Melihat ratusan ghoul merangkak keluar dari tanah iblis, hal itu sangat dapat dimaklumi.

*Guuuuuuu.*

Jeritan mereka seperti jelaga yang membumbung dari jurang dalam.

Rendah, tebal, dan meninggalkan jejak.

Bagaimana manusia harus menghadapi rasa takut yang melintasi tanah ini?

Jika itu dirinya, Encrid akan menghunus pedangnya.

"Omong kosong," cemooh Rem.

"Kenapa mereka mengadakan eksekusi publik?"

Dunbakel menghindar dari kenyataan.

"Ini pasti pertama kalinya kau melihat ghoul dari tanah iblis dan orang-orang yang bertarung di sini, jadi perhatikan baik-baik," ujar Rua Garne tak henti-hentinya berusaha menyampaikan sesuatu kepada Encrid.

Tampaknya tujuannya adalah mengajari dan mengajari lagi, tepat hingga saat kematian menjemput.

Mungkin ia berpikir jika tidak dilakukan begitu, Encrid takkan menyerap satu pelajaran pun dengan benar.

***

Tepat di depan dinding benteng.

Dari balik punggung pria milik Rowena, sebuah jawaban terucap menanggapi jeritan jurang yang disebarkan para ghoul.

"Oa!"

Itu adalah chant dari sebelumnya.

Sebuah teriakan untuk membalas jelaga yang membumbung dari jurang.

"Tersenyum!"

Mengikuti chant itu, pasukan di atas dinding benteng menghentakkan kaki mereka dengan bunyi *buug* lalu meneriakkan pendirian dan keyakinan dari mereka yang menghadapi tanah ini, kota ini, tanah iblis ini.

"Mari mati sambil tersenyum!"

Mereka semua adalah orang-orang Oara, sang ksatria tersenyum.

Jadi mereka akan mati sambil tersenyum.

"Aku mencintaimu! Rowena!"

Prajurit yang berdiri di barisan paling depan, yang kalah taruhan kemarin, berteriak nyaring.

Oara memegang teguh taruhannya.

Meski diutarakan secara ringan, ia dengan setia menepati ucapannya.

Seorang ksatria pada dasarnya adalah seseorang yang menepati kata-kata yang diucapkannya.

Hal itu sendiri merupakan sebuah sumpah.

Will berasal dari tekad, dan tekad berasal dari keyakinan.

Seseorang yang tidak menepati kata-kata dari mulutnya sendiri takkan sanggup menggunakan Will yang dimilikinya sebagai ksatria secara maksimal.

*Guuuuu!*

Jeritan dari jurang melintasi tanah.

Kawanan ghoul yang dipersenjatai jelaga mulai menerjang.

Mata hitam merobek cahaya, dan lidah-lidah serakah mencari darah merah serta daging yang lembut.

*Guuuuuuu!*

Di mata Encrid, prajurit itu—pria milik Rowena—cukup mahir untuk tergolong tingkat atas atau lebih di Penjaga Perbatasan.

Seorang prajurit yang bisa dengan cepat memberikan kontribusi bahkan di Garnisun Perbatasan Martaï.

Namun ia tidak cukup kuat untuk menahan gelombang monster sendirian.

Meski begitu, ia tidak mundur.

Walau Encrid yang berdiri di atas dinding benteng tak bisa melihat raut wajah prajurit itu.

"Kalau kau kembali hidup-hidup, masa bodoh! Ayo kita menikah!"

Mendengar teriakan lantang yang berani—yang diduga berasal dari Rowena—ia bisa menebak dengan alami ekspresi apa yang ada di wajah pria itu.

Dia pasti sedang tersenyum.

Sebab meski ia mati, ia akan mati sambil tersenyum.

"Kau mau turun?"

Encrid sudah meletakkan tangannya di atas pagar pembatas dinding benteng.

Melihat ini, Rem bertanya.

"Mungkin saja?"

Ia akan melakukan apa yang diutarakan hatinya.

Encrid selalu hidup dengan cara seperti itu.

Oleh karena itu, prajurit tersebut takkan tewas hari ini.

Encrid mengerahkan tenaga pada tangan yang ia letakkan di pagar pembatas.

Pagar itu cukup tinggi untuk melompat turun, dan ia membawa banyak perlengkapan yang membuatnya cukup berat, tapi hal itu bukan tidak mungkin.

"Kurasa kau tak perlu turun tangan," lanjut Rem sambil memberi isyarat mata.

Sebab di bawah dinding benteng, seseorang yang tadinya berteriak dari balik pria milik Rowena sudah melesat keluar.

Bukan gerakan lincah, melainkan lari yang sangat berat.

*Buug, buug,* ia menambah kecepatan sambil menghentakkan tanah.

Tak lama kemudian, tubuhnya melewati prajurit tadi dan mencapai barisan terdepan para ghoul, membelah garis lurus yang panjang.

Meski penampilannya kelihatan berat, langkah kakinya lebih cepat dibanding para ghoul yang berlari menggunakan empat kaki dengan menjadikan tangan sebagai kaki.

Tepat pada momen pria milik Rowena berhadapan dengan ghoul pertama.

"Aku mencintaimu! Rowena!"

Prajurit itu, yang menyatakan cinta dengan konyol hingga saat terakhir, menusukkan tombaknya.

Ia bahkan tak punya kelonggaran untuk memedulikan siapa yang datang dari belakang.

Ia berfokus membunuh sang ghoul.

Ilmu tombak yang ditampilkannya cukup mahir.

*Jleb!* Ujung tombak menancap di kepala ghoul yang melompat naik dari bawah.

Tusukan yang tenang dan tepat.

Prajurit itu mencoba menarik keluar tombaknya, lalu menyerah dan mencengkeram tombak lain yang ia tancapkan secara diagonal di tanah.

Baru pada saat itulah prajurit tersebut sadar ada seseorang yang melesat dari belakangnya.

Ia berteriak, "Awal yang bagus!"

Bahkan bagi Encrid yang menonton dari atas dinding benteng, Sosok yang melesat keluar itu tampak tak asing.

Dia adalah Squire Oliver.

"Oliver dari Hexagonal Mace!"

Salah seorang prajurit yang berjejer di samping berteriak.

Oliver memiliki julukan, dan ia sedang membuktikan nama yang dianugerahkan kepadanya.

Enam ghoul telah menerjang; sang prajurit membunuh satu ekor, menyisakan lima.

Oliver memegang batang panjang dengan bongkahan besi di ujungnya.

Ujung bongkahan besi itu berbentuk segi enam.

Ia sedikit memperlambat larinya, lalu menghentak tanah kembali dan melompat di antara kawanan ghoul.

Dengan mengubah kecepatannya, ia mencegah para ghoul bereaksi.

Itu adalah teknik yang luar biasa.

Oliver mengayunkan gada miliknya dari dalam jajaran mereka.

*Kaboom!*

Suara itu diiringi letupan seperti petasan yang meledak.

Gada itu menghantam dan meremukkan kepala para ghoul hingga hancur berkeping-keping.

Darah hitam dan fragmen tulang menyembur ke udara.

Oliver bukan satu-satunya yang keluar bertarung.

"Taruhan sudah selesai. Mundurlah!"

Oliver menyuruh prajurit itu jatuh ke belakang.

Jumlah Squire di Ordo Thousand Bricks adalah empat orang.

Masing-masing dari mereka sanggup disetarakan dengan ksatria magang.

Tidak, kemampuan mereka sedikit di bawah ksatria magang, jadi lebih tepat menyebut mereka semua petarung yang handal.

Dimulai dari Oliver, tiga orang lainnya ikut bergerak.

Senjata di tangan mereka serupa.

Satu orang memegang flail—bola besi berduri yang terhubung ke batang kayu menggunakan rantai.

Yang lain memegang morning star tanpa rantai.

Dan yang terakhir memegang war hammer bertangkai panjang.

Empat Squire membentuk barisan terdepan.

Mereka bergerak maju dan mengayunkan senjata mereka.

*Buug, krak, crunch, jleb!*

Tulang-tulang patah dan darah menciprat deras.

Di tengah-tengah medan perang, keempat Squire berteriak nyaring.

"Mari mati sambil tersenyum!"

Encrid teringat ksatria magang yang menerjang di medan perang Azpen.

Pria-pria ini juga mengenakan jubah merah sekarang.

Hal itu membuat kulitnya merinding persis seperti terjang ksatria magang kala itu.

Nasihat Oara untuk sekadar menonton memang terasa menggemaskan dan menjengkelkan.

Tentu saja Encrid bisa saja mengabaikannya dan melompat keluar.

Tapi ia tak punya waktu maupun kesempatan.

"Ayo pergi."

Oara adalah yang pertama bergerak.

Sang ksatria bergerak bersama dua ksatria magang miliknya.

"Mereka bersemangat," gumam Rem.

Tangannya sendiri pasti sudah gatal ingin bertarung juga.

Dunbakel menarik kembali bibirnya yang monyong lalu menempel rapat di pagar dinding benteng.

Kedua ksatria magang melangkah.

Pria bertubuh besar menggunakan pemukul tebal berbentuk pedang.

Itu adalah senjata yang tak bisa kau sebut pedang meski kau dihajar setengah mati sekalipun.

Senjata itu memiliki gagang tapi tanpa pelindung tangan.

Sebagai gantinya ada bongkahan besi tebal yang panjang.

Permukaannya tampak membulat.

Seolah-olah ia sedang membawa pilar besi.

Ia mengayunkannya seolah senjata itu adalah pedang kayu.

Tentu saja itu bukan pedang kayu.

*Wham!*

Dalam satu ayunan, tiga atau empat ghoul robek dan hancur berkeping-keping.

Gaya bertarung ksatria magang wanita bertubuh pendek dan berambut pirang sangat berbeda darinya.

Ia melempar belati-belati tipis ke sana kemari, atau menghunus pedang runcing berbentuk jarum untuk menusuk lalu mundur.

Pertarungan gadis berambut pirang itu adalah metode yang tenang, di mana tak ada suara yang sanggup terdengar dari atas dinding benteng.

Daya hancurnya berbeda, tapi daya bunuhnya kurang lebih sama.

*Guuooooh!*

Jeritan para ghoul terdengar seperti jeritan keputusasaan.

Asap hijau bocor dari lubang hidung yang menembus wajah tanpa tulang hidung, dan tak lama kemudian darah hitam menetes keluar.

Begitu saja pertarungan itu berakhir.

Kepala mereka tidak meledak, tapi mereka menghantamkan wajah mereka ke tanah dan tewas.

"Oh?"

Melihat itu, Rem bereaksi.

Wajahnya tampak seperti menyadari sesuatu.

***

Dan kemudian ada sang Ksatria Oara.

Dari kedalaman gelombang ghoul, seekor ghoul betina berdada mengendur muncul.

Ghoul tipe betina, dan pemimpin dari kawanan ini.

Ghoul itu mengulurkan tangannya ke depan.

Lengannya memanjang seperti tentakel hewan lunak, menusuk ke arah Oara.

Tampak seolah lengannya hanya memanjang biasa, tapi bahkan dari atas dinding benteng, lengan ghoul betina itu melintasi pasukan kawan dalam sekejap mata.

Encrid baru menyadarinya sebagai lengan yang memanjang karena menonton dari kejauhan; jika hal itu terjadi tepat di depannya, ia bakal terlalu kaget hingga tak bisa melakukan apa pun selain menangkis.

Gerakannya secepat itu.

Hanya dari satu hal itu saja ia bisa tahu.

Itu adalah monster yang sanggup menghadapi seorang ksatria magang seorang diri.

Di jalur yang telah dibersihkan oleh empat Squire dan dua ksatria magang yang telah menghantam dan menusuk ratusan ghoul hingga tewas...

Momen saat lengan ghoul betina itu memanjang, punggung Oara muncul di dalam pandangan Encrid.

Sang ksatria mengayunkan pedangnya.

Itu adalah tebasan diagonal ke atas dari bawah.

Ayunan yang takkan berarti apa pun jika ia tetap berdiri di tempat.

Namun gerakan Oara selanjutnya memberi makna pada ayunan sederhana tersebut.

Saat pedangnya terangkat, Oara mengambil satu langkah.

Tubuhnya melesat maju.

Pedang sang ksatria memotong lengan ghoul betina secara diagonal.

Namun tebasan pedangnya belum berakhir.

Sebuah garis lurus yang sederhana tapi sangat sempurna.

Garis yang menghubungkan dua titik.

Itu adalah hal yang sering dilakukan Encrid, tapi ia tak pernah melakukkannya seperti itu.

Oara menandai satu titik di tempat ia berdiri, dan titik lainnya pada monster yang berjarak puluhan langkah di depan, lalu ia sekadar menarik garis di antara keduanya.

Tak ada cara lain untuk menggambarkannya.

*Schlick, krak!*

Bayangan Oara meninggalkan sautan bayangan di belakangnya.

Bayangan pertama saat ia menghentakkan kaki dari tanah, bayangan tengah saat ia memotong lengan ghoul betina, dan bayangan akhir saat ia membelahnya dari dada hingga kepala, pedangnya akhirnya terangkat tinggi ke langit.

"Seolah-olah," ujar Oara.

Ghoul betina itu tewas.

Dan Encrid merasakan sensasi yang luar biasa menakjubkan.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.