Eternally Regressing Knight

Bab 450: Hari Sial Dua Bulan Merah

2659 Kata

Bab 450: Hari Sial Dua Bulan Merah

"Bukan apa-apa. Cuma insiden yang tak beruntung."

Ujar Oara.

Ia sudah memasuki tanah iblis puluhan kali.

Dan itu dilakukannya seorang diri.

Pada awalnya, ia sekadar memotong monster di area pintu masuk.

Kemudian, ia masuk sedikit lebih dalam untuk mencari cara melenyapkan tanah iblis.

Pada akhirnya, berbekal sebuah hipotesis di benaknya, ia melangkah jauh lebih dalam lagi.

Dalam proses itu, Oara berhadapan dengan seekor monster yang aneh.

Makhluk itu adalah ghoul dengan racun pekat di ujung jemarinya.

Momen saat melihat ghoul tersebut, intuisi ksatria miliknya memberitahu bahwa lawan itu bukan musuh yang mudah.

Hal itu sekaligus menjadi bukti bagi hipotesis yang disusunnya.

Apa itu tanah iblis?

Bisa dibilang itu adalah bentuk lain dari sebuah koloni.

Sebuah koloni bakal lenyap saat pemimpinnya terbunuh.

Lantas bagaimana dengan tanah iblis?

"Prinsipnya sama. Tanah iblis yang ini tidak terlalu besar. Tapi kurasa tempat ini sudah berdiri selama lebih dari lima puluh tahun di sini."

Kisah itu meluncur beruntun, bersisian dengan masalah racun di tubuhnya.

Encrid mendengarkannya dalam diam.

Oara memang bukan seorang cendekiawan, tapi ia adalah ksatria yang impian seumur hidupnya adalah melenyapkan tanah iblis hutan kelabu di depannya.

Hal-hal yang tak sanggup ia pahami lewat pemikiran? Hal-hal yang bahkan tak bisa ia duga?

Ia menyelesaikan hal-hal semacam itu dengan melemparkan tubuhnya langsung ke lapangan.

Jika ia tidak tahu, bukankah tinggal masuk ke dalam tanah iblis untuk melihat dan mengonfirmasinya sendiri?

Itu adalah metode yang takkan sanggup diimpikan tanpa tingkat nekat dan kekuatan murni, tapi wanita itu sanggup melakukannya.

Begitulah cara ia mengetahuinya.

"Sudah waktunya untuk pergantian generasi."

Ia tak tahu prinsip pasti di baliknya, tapi satu hal yang pasti.

Inti dari tanah iblis mengalami perubahan.

Oara menilai ghoul tersebut sebagai inti yang bakal menopang generasi tanah iblis berikutnya.

Dalam sebuah koloni, ia adalah sang pemimpin.

Ia mengetahuinya setelah beradu pedang beberapa kali.

Kekuatan dan kecepatan di tingkatan yang berbeda, bahkan memiliki kecerdasan.

Ia tak tahu apa inti sebelumnya.

Ia juga tak ingin tahu.

Bagi Oara, hanya satu fakta yang penting.

Jika ia sanggup menangkap satu ghoul yang berevolusi tersebut, tanah iblis akan kehilangan kekuatannya.

Takkan ada monster yang lebih berbahaya dari yang satu itu yang bakal bermunculan.

Sisanya bisa dilenyapkan satu per satu seiring berjalannya waktu.

Kalau sudah begitu, bahkan seorang ksatria takkan dibutuhkan lagi di sini.

Roman yang bakal mengurusi tugas tersebut.

Pria itu adalah penerus Oara.

Ia sudah memutuskan sosok penerusnya sejak awal.

Jika kesempatan itu tiba, ia bahkan rela membakar nyawanya sendiri demi menghapus inti dari tanah iblis.

Itu adalah tekad dan keyakinannya.

Raut wajahnya jarang sekali terlihat berseri-seri seperti ini.

Will mengalir deras di sekujur tubuhnya.

Hal yang aneh, tapi...

Oara berpikir sembari berbicara.

Sungguh aneh, tapi saat ia berbicara kepada pria yang berdiri di depannya ini, motivasi membuncah dengan sendirinya.

Sebagian dari perasaan mahakuasa yang ia rasakan saat pertama kali menjadi ksatria kembali memenuhi tubuhnya.

"Maksudmu racun itu tak bisa dinetralkan?"

Encrid menangkap poin utamanya lalu bertanya.

***

Tepat saat kegelapan jatuh menutupi tanah, anak-anak panah kembali beterbangan.

"Oara!"

Para prajurit meneriaki slogan tersebut.

Dengan hujan anak panah yang mencurah disertai perlindungan dinding benteng, empat Squire dan dua ksatria magang berdiri tepat di depan gerbang.

Jika terjadi sesuatu, mereka akan secara instan menjadi benteng penghalang dan meremukkan kepala monster yang mendekat.

Oara tertawa mendengar pertanyaan Encrid lalu menepuk punggung pria itu.

"Hei, apa aku kelihatan seperti orang yang bakal mati? Aku sedang mencari cara menetralkannya sekarang, jadi tak usah khawatir. Dan aku bakal baik-baik saja setidaknya untuk sepuluh tahun ke depan, tahu?"

Ia akan menyelesaikannya bagaimanapun caranya seiring waktu.

Kata-kata itu tidak terdengar seperti kebohongan.

Ia terkena racun dari kuku ghoul tersebut, namun penawar instan memang tidak memungkinkan.

Hal itu disebabkan oleh beberapa alasan yang saling bertumpuk.

Memasuki dan keluar dari tanah iblis berkali-kali dengan kondisi tubuh seperti itu.

Bertarung melawan sang ghoul dua kali lagi dan terkena racun tambahan dari berbagai racun lain.

Ia sudah mencoba penyembuhan dengan kekuatan ilahi dan menggunakan obat dari alkimis terkenal, namun untuk saat ini dampaknya tertahan.

Kekuatan ilahi bagaimanapun bukanlah obat penawar segala penyakit.

"Aku sudah melihatnya beberapa kali dan tahu, tapi otot punggungmu benar-benar luar biasa."

Oara berkata sembari menatap telapak tangannya.

Daya kenyal yang ia rasakan dari otot punggung Encrid masih tersisa samar di tangannya.

Artinya teksturnya sangat bagus.

Ia melanjutkan, bilang bahwa ada hari-hari yang memang seperti ini.

Hari ini adalah salah satunya.

Hari di mana bajingan monster mendadak bermunculan seolah sengaja membuat masalah.

Sebab sangat mustahil memprediksi seluruh pergerakan tanah iblis.

"Bajingan laba-laba."

Oara bergumam.

Matanya berbinar putih.

Tatapannya yang dilapisi Will menembus kegelapan pekat.

Beberapa monster giant spider nekat menerjang dan menyerang para Squire serta ksatria magang.

Pemandangan tubuh raksasa mereka yang menekan manusia terlihat jelas di depan mata.

"Jangan main-main denganku!"

Di depan sana, ia juga melihat Oliver mengayunkan mace miliknya menukik jatuh.

*Jleb!*

Saat kepala laba-laba hancur berkeping-keping, cairan kental hitam menyembur keluar.

***

"Dunbakel."

Encrid memanggil Dunbakel yang berada agak jauh.

Dunbakel mendekat dengan ragu-ragu.

Cara kakinya terseret saat melangkah membuat wanita itu kelihatan sangat tidak ingin berada di sini.

Setelah menyanyi soal kapan mereka akan pulang selama berhari-hari, reaksi ini mungkin sangat alami.

Saat Rem mengancam dari belakang bakal memotong pergelangan kakinya jika ia menyeret kaki lagi, langkah Dunbakel langsung dipercepat.

*Kaaak.*

Gagak berteriak tanpa lelah.

Dari dalam tanah iblis, jeritan burung hantu terdengar berulang kali.

"Kau bisa lihat?"

"Lumayan."

Bangsa beastman memiliki penglihatan malam yang sangat baik.

Encrid sendiri sanggup melihat sampai batas tertentu melalui latihan, tapi hal itu takkan sepresisi penglihatan wanita itu.

Ucapan Dunbakel menyusul.

"Merek menahan mereka di depan dinding benteng."

*Kiaaaak!*

Begitu saja, suara dari shrieking spider kembali meletup.

Posisinya sedikit di depan gerbang benteng.

Beberapa obor menerangi orang-orang yang berdiri di sana.

Bayangan mereka kelihatan membentang panjang menuju tanah iblis.

Melihat laba-laba mendekat, empat Squire dan dua ksatria magang telah melangkah maju.

"Merek bertarung dengan baik," ujar Dunbakel.

Tak ada emosi dalam suaranya.

Pandangan Encrid juga tak beranjak dari tempat itu.

Pemandangannya sama seperti biasanya.

Merek meremukkan dan menghancurkan setiap monster laba-laba yang mendekat.

Merek tampaknya tak punya niat sedikit pun untuk terdesak mundur.

Terlebih lagi, Roman yang bertanggung jawab atas satu poros benteng pertahanan yang diciptakan dengan kekuatan memiliki semangat yang seolah menembus langit.

"Kalian semua matilah sambil tersenyum juga!"

Itu adalah teriakan yang gembira.

Tak kelihatan ada ketegangan.

Tak ada ancaman yang berarti.

Meski begitu, insting Encrid memberinya peringatan.

Kulitnya merinding.

Kenapa?

Ia sendiri tidak tahu alasannya.

Dunbakel bertanya saat menyaksikan pertarungan tersebut.

"Bisakah kita kabur saja?"

"Hei, Kapten. Ada yang aneh."

Rem mendekat dan memanggil Encrid.

Di belakangnya, Rua Garne melemparkan tatapan dari kejauhan.

"Hmm?"

Oara juga memiringkan kepalanya heran.

Apakah kepekaan untuk merasakan atmosfer dan hawa udara hanya milik Encrid seorang?

Tidak, karena telah tewas berkali-kali, Encrid mungkin jauh lebih sensitif.

Tapi Oara juga merasa suasana kali ini berbeda dari biasanya.

Kedip sekali, Oara berpikir.

Untuk ukuran sebuah gelombang monster, jumlahnya tidak terlalu banyak.

Laba-laba pada dasarnya adalah makhluk yang mengandalkan jumlah untuk menang.

Bukankah karena itu beberapa prajurit di atas dinding benteng memulainya dengan menembakkan anak panah?

Tapi kenapa suasana terasa begitu mengancam? Kenapa udara terasa sangat tidak tenang?

"Dua bulan merah?"

Sangat jarang terjadi, tapi ada saat-saat di mana kedua bulan berubah menjadi merah.

Hari yang disebut *Darpina*.

Waktu di mana dewa yang menguasai kematian turun ke tanah ini, dan dewa yang menguasai monster mengintip dunia secara singkat.

Dengan kata lain, ini adalah hari di mana hal-hal sial terjadi.

"Bawakan zirahku."

Saat Oara berbicara, dua prajurit membawakan zirahnya.

Bagian dadanya dilapisi plat besi, dan sebagian diperkuat dengan kulit.

Saat wanita itu melepas jubahnya dan mengenakan zirahnya, suara bising dari dalam gerbang benteng di dasar dinding menyapu telinga Encrid.

Di tengah suara tali busur yang dipetik dan teriakan komandan, itu adalah suara kegaduhan yang tidak menyatu.

Suaranya terdengar seperti perdebatan.

"Aku turun duluan."

Encrid menuruni tangga.

Saat menukik turun, ia melihat orang-orang sedang berdebat di depan gerbang benteng.

Posisinya di depan gerbang yang terbuka cukup untuk dilalui satu orang.

Orang itu adalah prajurit yang dikenal sebagai pria milik Rowena.

"Biarkan aku keluar!" teriaknya.

"Jangan gila. Kalau kau keluar sekarang, kau bakal tewas!"

"Aku tak peduli. Aku tak masalah jika harus mati!"

Prajurit itu berteriak, tapi bagi Milio yang menjaga gerbang, itu adalah tuntutan yang tak bisa diterima.

"Dasar bodoh!"

"Sialan, Milio! Rowena keluar bertugas patroli dan belum kembali!"

Prajurit itu tidak terisak, tapi suaranya terdengar seperti sedang menangis.

Milio tak sanggup berkata-kata.

Rowena dan temannya di depannya adalah pasangan paling terkenal di kota ini.

Setangkai bunga yang mekar di tempat gelap bernama tanah iblis.

Dan ia tahu pasti.

Bahwa kedua orang ini adalah tipe yang rela menyerahkan nyawa mereka sendiri jika yang lain berada dalam bahaya.

Jadi ia tak bisa membiarkannya pergi.

Rowena adalah orang yang sangat mumpuni.

Cukup mumpuni untuk dipertimbangkan masuk ke jajaran Ksatria dalam beberapa tahun, jadi wanita itu pasti masih hidup.

"Percayalah dan tunggu. Rowena jauh lebih tangguh darimu."

"Waktu baginya untuk kembali sudah lewat!"

Milio tak sanggup menang melawan pria ini.

Bawahan temannya, yang terikat oleh rasa setia kawan, berdiri membisu di belakangnya.

"Kalian semua berniat pergi bersama?"

"Untuk mendukung cinta Pemimpin Peleton kami."

Prajurit yang berdiri tepat di belakang bersuara.

Dia adalah pria yang telah membantai dua preman tuan tanah di wilayahnya sendiri lalu kabur ke tempat ini.

Kini ia adalah prajurit sejati dari kota bata, dan seorang teman.

Ini adalah sebuah kegilaan.

Ini jelas-jelas sebuah kegilaan, tapi Milio menggeser tubuhnya memberi jalan.

"Barisan depan sudah ditahan oleh jajaran Ksatria. Berputar lewat kiri."

"Aku tahu."

Prajurit itu melusut keluar dari gerbang benteng.

"Oara!"

Saat Milio mendadak berteriak, para prajurit di atas dinding benteng merespons dengan menghentakkan kaki mereka.

"Oara!"

"Kami akan mati sambil tersenyum!"

Chant itu merobek langit malam.

***

Shrieking spider hanyalah salah satu jenis monster laba-laba.

Di luar mereka, armored spider dan laba-laba penembak jaring juga terlihat.

Tentu saja mereka tak sanggup melewati benteng pertahanan yang diciptakan para Ksatria untuk melindungi area dua puluh langkah di depan gerbang.

Terlebih lagi, satu orang lagi telah bergabung.

"Hei, mari bermain bersama!"

Itu adalah Oara.

Ia meluncur turun dengan punggung menempel di dinding, mendarat di tanah, lalu bergabung bersama para Ksatria miliknya.

Turun dari dinding benteng seperti itu adalah sebuah pencapaian tersendiri.

Dan begitu saja Oara dengan lincah menyusup di antara para monster.

"Kau pikir mau ke mana!"

Ia bergerak maju sembari menghunus pedangnya.

Senjata itu adalah sebuah longsword.

Ia berlari dalam garis lurus, lalu bergerak seolah membelok ke samping.

Dan saat melakukkannya, ia mengayunkan pedangnya.

Itu seperti satu aliran air yang membelah kegelapan.

Itu adalah pedang yang menggambar kurva mulus, berlanjut tanpa putus.

Menggerakkan kakinya sambil memegang pedang, ia menggambar sebuah garis.

Entah itu armored spider atau laba-laba besar yang tertangkap dalam garis tersebut, apa pun yang tersentuh akan terpotong.

Tak peduli apakah itu bagian perut, kepala, atau cangkangnya.

Pedangnya takkan bisa dihentikan.

Siapa pun bisa tahu hanya dengan menonton.

Jika monster-monster itu menerjang berurutan, ia sanggup membantai semua monster tersebut seorang diri.

Terlebih lagi, terkadang hanya dengan memelototi para monster membuat tubuh mereka membeku di tempat.

Hal itu kemungkinan besar adalah efek dari tingkatan tekanan luar biasa yang pernah dirasakan Encrid pula.

Itu adalah pemanasan ringan bagi Oara.

Performa ksatria magang berambut pirang pendek juga sangat dahsyat.

Matanya berbinar putih.

"Racun, gerakan menghindar."

Ia menembus kegelapan dengan tatapannya lalu memindahkan formasi.

Mendengar perintah gadis berambut pirang pendek, empat Squire terbelah menjadi dua pasang lalu menyebar ke kiri dan kanan.

*Thwip!*

Lendir hitam melayang ke tempat mereka sebelumnya berdiri.

Ada laba-laba penyembur racun di sana.

"Hmph."

Tangan gadis berambut pirang pendek bergerak.

Satu belati lempar, melayang dari tangannya saat ia mengibasnya di udara, menembus kepala laba-laba penyembur racun.

"Bajingan laba-laba sialan."

Roman, pemilik greatsword tumpul, secara singkat keluar dari formasi.

Lalu ia melangkah maju dan mengayunkan pedangnya.

*Kwang! Kwang!*

Dengan suara ledakan menggelegar, enam armored spider hancur dan remuk oleh pukulan senjatanya.

Cairan tubuh hitam menciprat di tanah.

***

Sementara itu, pria milik Rowena telah keluar ke medan perang.

"Hei!"

Oliver yang mengayunkan gada di ujung kiri formasi melihatnya lalu berteriak.

"Aku akan menyusul."

Encrid keluar berikutnya dan berseru.

Rem dan anggota tim lainnya mengikutinya.

Mendengar kata-kata itu, raut wajah prajurit milik Rowena tampak hendak menangis.

"Apakah kau seorang malaikat?"

"Diam dan jalanlah, atau kulemparkan kau kembali ke dalam."

Mendengar peringatan tenang Encrid, prajurit itu membungkam mulutnya.

Ia berniat melakukan pemantauan hanya di area tertentu.

Pada dasarnya, apakah cukup dengan bertahan hingga fajar menyingsing?

Mungkin saja.

Dua bulan merah memancarkan cahaya merah yang mengancam dari sela-sela awan.

Encrid menoleh ke belakang tanpa banyak berpikir.

Ia melihat Milio memimpin sebagian pasukan keluar.

Seorang ksatria bisa membantai seribu musuh, tapi hanya memiliki satu tubuh.

Saat membantai seratus, sembilan ratus lainnya bisa berputar balik dan melakukan hal lain.

Para Squire, ksatria magang, dan pasukan—mereka semua ada di sana untuk mengisi celah di antaranya.

Saat ia memikirkan hal itu dan mengalihkan pandangannya ke depan...

Bulu-bulu halus di tubuh Encrid mendadak berdiri tegak.

"Tangkis!"

Sebelum ia sempat memahami perasaan apa itu, teriakan Oara terdengar lebih dulu.

Lalu...

*Tidididididing!*

Diiringi suara gemuruh, ia melihat objek-objek mencurah turun dari atas.

Encrid merasakan apa yang ditembakkan para monster dari Aura dan suara yang membelah angin.

Objek-objek itu adalah anak panah.

Tapi ia tak bisa melihatnya dengan jelas.

Kegelapan menutupi matanya seperti tirai.

Dua bulan merah yang tersembunyi di balik awan tak memberikan bantuan apa pun.

Pupil mata Dunbakel melebar.

Pupil matanya yang agak berbentuk oval memenuhi matanya dan memancarkan cahaya.

Di dalam matanya, ia bisa melihat apa yang telah mereka tembakkan.

Tak seperti yang biasa digunakan manusia, panah-panah putih yang kelihatan seolah terbuat dari pintalan benang menggulung menyulam langit.

Seolah-olah puluhan meteor telah terbelah dan jatuh di atas kepala.

Dunbakel secara refleks menghunus scimitar miliknya lalu menyilangkannya di atas kepala.

Hal itu cukup untuk menangkis, membelengkokkan, dan menghindar.

"Kepala."

Rem juga bereaksi, mencengkeram kepala seorang prajurit di sampingnya lalu menekannya turun, kemudian mengayunkan kapaknya.

Encrid secara refleks mengeluarkan perisainya.

Sebuah anak panah menghantam perisai di tangan kanannya.

*Buug! Pang!*

Ujung anak panah tampaknya tidak tajam, sebab anak panah itu membal saat terjadi benturan.

Alih-alih tajam, anak panah itu sangat berat.

Itilah yang dirasakan Encrid.

Berlutut satu kaki, ia dengan mudah menangkis anak-anak panah yang terus melayang masuk.

Hujan anak panah tidak berhenti.

Serangan seperti ini tak bisa melukai seorang Squire, ksatria magang, atau ksatria resmi.

Tapi tidak bagi prajurit biasa.

Bagi mereka, panah-panah ini adalah ancaman yang sangat besar.

Prajurit tepat di sampingnya bakal terlindungi dengan adanya Rem, Dunbakel, dan Rua Garne di sana, dan pasukan di atas dinding benteng juga bisa bertahan menggunakan dinding sebagai perisai.

Lantas bagaimana dengan mereka yang telah mempertaruhkan nyawa untuk mengisi celah?

"Milio!"

Encrid berteriak, suaranya dipenuhi peringatan.

Di matanya, ia melihat sebuah panah putih yang dibuat oleh monster menghantam kepala Milio.

*Jleb!*

Pria itu baru saja melempar tubuhnya untuk melindungi seorang bawahan alih-alih menjaga dirinya sendiri.

Helm yang dihantamnya remuk, dan bola mata Milio meletup keluar.

Kepalanya terbelah dan darah menyembur deras.

Tidak semua panah memiliki daya rusak yang serupa.

Namun beberapa di antaranya sangat fatal.

Monster-monster itu sangat cerdik.

Alih-alih membidik orang-orang yang takkan mempan diserang, mereka membidik anggota peleton yang relatif lebih lemah.

"Bajingan-bajingan ini!"

Encrid mendengar seseorang berteriak murka.

Ia merasakan hal yang sangat mirip.

Milio adalah orang yang paling banyak memberikan kemudahan selama ia tinggal di sini.

Bohong jika bilang ia tidak tumbuh menyukainya.

Ini bukan akhir dari pertempuran.

Dari dalam kelompok monster, sesuatu yang mirip tiang panjang mendadak menjulang.

Seseorang terikat pada tiang tersebut.

Sebuah batu biru terikat di ujungnya, kelihatan seperti batu api.

Cahaya putih dan biru bercampur dengan kegelapan, menerangi orang-orang yang terikat pada tiang.

"Rowena!"

Prajurit yang datang bersamanya berteriak histeris.

Monster yang bahkan penyanggup menyandera manusia.

Encrid secara instan merasakan bahwa gelombang kali ini berbeda dari gelombang-gelombang sebelumnya.

Jadi haruskah ia berhenti? Haruskah ia berdiri di sini dengan kaget secara bodoh?

"Rem, Dunbakel, kiri."

Saat semua orang secara singkat membeku, Encrid merendahkan tubuhnya.

Kegelapan, batu api, sandera—hanya karena segalanya mengejutkan, takkan ada yang berubah jika ia tidak bergerak.

Jika ini waktunya bertarung, ia harus bertarung.

"Sialan," gumam Dunbakel lalu bergerak.

Rem sudah merendahkan tubuhnya dan melesat maju sebelum wanita itu.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.