Eternally Regressing Knight

Bab 454: Beritahu Aku

2678 Kata

Bab 454: Beritahu Aku

"Menyerahlah."

Sang Ferryman berkata.

Seolah-olah ia bahkan tidak mendengarkan untuk melihat apakah metode tersebut valid atau tidak.

"Apakah hari ini begitu menyiksa? Hari esok lainnya menunggumu. Kau bisa pergi ke sana dan puas di sana."

Itu adalah sebuah bujukan.

Sebuah bujukan yang bahkan sang Ferryman sendiri tak mengerahkan kesungguhan hati saat mengutarakannya.

Tentu saja hal itu tak berdampak apa-apa.

Sang Ferryman yang mengutarakannya tahu hal itu takkan berhasil, jadi sikapnya kehilangan kesungguhan.

Nadanya sekadar berbicara karena memang harus mengutarakannya, sebuah kalimat yang dilempar begitu saja.

Sang Ferryman tak perlu mengerahkan segalanya untuk hal itu.

Sebab pria gila di depannya telah membuang hal-hal seperti frustrasi dan keputusasaan pada anjing tetangga dan hanya menatap ke depan.

Ia diperintahkan untuk terjebak di hari ini, tapi ia hanya melihat hari esok.

"Lakukan sesukamu, apa yang sanggup kau lakukan? Aku mencoba memberi seorang fana berkah untuk kabur dari kematian, tapi kau hanya mengulang kebodohanmu. Berhentilah saat kau terbenam dalam kenikmatan, bukan rasa sakit. Itulah jalan yang harus kau tempuh."

Meski begitu, sang Ferryman mengutarakan apa yang harus dikatakannya.

Itu adalah tugasnya.

Encrid juga melakukan tugasnya.

"Kalau begitu, sampai jumpa di kesempatan berikutnya."

Sebuah sapaan.

Maksudnya ia akan segera pergi.

Suaranya hampir terdengar seolah-olah ia meminta untuk segera diberangkatkan.

Di dalam diri sang Ferryman dengan cara bicaranya yang kuno, sebuah ego baru terbagun secara singkat.

Tanpa menyadarinya sang Ferryman mengencangkan genggamannya pada dayung.

Dorongan untuk meremukkan kepalanya dengan lentera lalu mengayunkan dayung untuk menjatuhkannya membuncah hebat, namun sang Ferryman yang kuno tidak mengizinkannya.

"Menderitalah dalam kesakitan sekali lagi."

Sebagai gantinya, ia berbicara dengan penekanan tenaga di bibirnya.

"Terima kasih atas dorongan semangatnya."

Encrid, yang telah mengaduk-aduk batin sang Ferryman hingga saat terakhir, menyapa 'hari ini' yang baru.

***

*Kkiaaaaaak!*

Jeritan shrieking spider membangunkannya.

'Hari ini' yang berlangsung dari tengah malam hingga fajar telah dimulai.

"Selamat pagi."

Encrid memberikan salam yang menyegarkan, mengencangkan otot perutnya, dan menyentakkan tubuh bagian atasnya bangun dari tempat tidur dalam satu gerakan.

Apakah karena ia sudah terbiasa dengan kehidupan di barak hingga ia membersihkan area penerimaan dan menjadikannya sebagai tempat penginapannya?

Mungkin saja.

Bagaimanapun, Encrid merasa lebih nyaman dengan cara ini.

Apa yang bisa lebih baik ketimbang memiliki tempat berlatih hanya dengan membuka pintu?

"Jelaskan padaku apa yang bagus dari pagi ini."

Rem menyampaikan keluhannya.

"Jika kau membuka matamu, itu selalu menjadi pagi yang bagus."

Meski saat itu adalah waktu malam dan ia dibangunkan oleh sebuah jeritan, Encrid tetap bersikeras akan hal tersebut sembari mengumpulkan perlengkapannya.

Saat bergerak, ia mengulas kembali apa yang telah dirapikannya.

Sebuah ulasan.

Ulasan tidak hanya dibutuhkan di dalam pertarungan.

Merapikan tugas-tugasnya saat mengulang hari ini adalah hal yang serupa.

Lebih tepatnya, itu adalah ulasan tentang segalanya mulai dari pola pikir hingga tugas-tugasnya.

Ksatria Oara pernah bilang ia akan melindungi tempat kelahirannya.

Itu adalah impian wanita itu.

Tujuannya.

Keyakinannya sebagai ksatria.

Tanggung jawab dan tugasnya.

Sumpahnya.

Ikrarnya.

Dengan mengulang hari ini, ia juga mempelajari sumpah Oara.

Untuk tidak terkejut oleh apa pun dan menghadapi kematian sekalipun dengan sebuah senyuman.

Inilah sumpah Oara.

Karena itulah ia adalah Oara sang ksatria tersenyum.

Pedangnya kehilangan kekuatan saat ia kehilangan senyumannya.

Apa yang harus dilakukan untuk mencegah hal itu terjadi?

Untuk mengakhiri pengulangan hari ini, ia harus melindungi kota.

Ia harus melindungi senyuman di wajah wanita itu.

Hal itu sekaligus sama dengan melindungi impian wanita itu.

"Jika aku tersenyum, aku takkan kalah."

Oara, yang tak punya niat untuk kalah dari siapa pun.

*'Jika saja ia bisa bertarung dalam kondisi sehat, hal itu mungkin terjadi.'*

Tak ada yang pasti, tapi ia akan mencobanya.

Ia hanya harus melakukan apa yang biasa ia lakukan.

Encrid menilai keseluruhan situasi.

Secara instan ia memilah dan memutuskan apa yang harus dilakukan.

Ia merindukan Krais untuk sekejap, tapi tak masalah jika pria itu tidak ada di sini.

Jika ia tidak ada di sini, ia hanya harus melakukannya tanpa pria itu.

"Ayo pergi."

Ujar Encrid setelah menyelesaikan persiapannya.

Tekad untuk melangkah ke depan, bertarung, dan melindungi membuncah dengan sendirinya.

Encrid telah berusaha menjadi ksatria untuk melindungi segalanya di belakang punggungnya, dan kali ini pun tidak ada bedanya.

Hanya karena Oara adalah seorang ksatria, hanya karena ia bertarung lebih baik darinya, apakah itu artinya wanita itu bukan seseorang yang harus dilindungi?

Tidak.

Dalam aspek ini, Encrid bersikap arogan dan percaya diri.

*'Aku akan melindunginya.'*

Ia akan melakkukannya karena ia menghormati keinginan wanita itu.

"Semua orang, lari."

Ada Oara yang menyuruh mereka mundur karena ia tak sanggup melindungi mereka.

Ada Oara yang bertahan, bahkan menggigit lengan monster bernama fragmen balrog dengan mulutnya.

Ada Oara yang meski kehilangan senyumannya dan tawa halusnya hancur, tetap bertarung melawan monster dengan tinju dan kakinya.

Setidaknya, ia akan membiarkan wanita itu bertarung sepuas hatinya.

Encrid menetapkan tujuan baru.

"Kau pikir cara itu bakal berhasil?"

Seolah-olah sang Ferryman bertanya.

Ia tidak benar-benar bertanya, tapi kata-kata yang diucapkannya selalu membawa makna yang sama.

Itu adalah pertanyaan yang tak relevan.

Bujukan yang tak relevan.

Sebuah gema yang tak bermakna.

Ia tak membutuhkan izin.

Ia tak pernah memiliki izin.

Alasan ia sempat melakukan konsultasi dengan sang Ferryman lebih dekat pada sekadar menyuarakan isi kepalanya secara keras untuk merapikan pikirannya.

Perapian pikiran telah selesai.

***

Mereka meninggalkan penginapan dan menjadi bagian dari pemandangan kota yang bising.

Saat mereka melangkah, Encrid membuka mulutnya.

"Rem."

"Ada apa?"

"Bisakah aku belajar bertarung seperti seorang ksatria dalam kurun waktu singkat?"

Rem menatap mata pria gila di depannya.

Seperti biasa, matanya tampak sangat amat serius.

Bajingan ini bakal menjadi gila secara spektakuler dari waktu ke waktu.

Kali ini pun tidak ada bedanya.

Ia tak tahu perubahan batin apa yang telah terjadi, tapi sangat jelas pria ini punya ide gila lainnya.

"Kau pikir hal itu memungkinkan?"

Ia bertanya dengan tahu betul itu hal yang mustahil.

Tapi matanya kembali serius.

Dua kobaran api biru membara dengan terang.

"Konsep ksatria di sini adalah..."

"Ini sebuah gelombang monster!"

Ujar seorang komandan pasukan yang melintas.

Encrid memberikan anggukan seadanya untuk menunjukkan ia mengerti.

Encrid melangkah seolah-olah ia tahu pasti ke mana ia akan pergi.

Langkahnya tergolong sangat cepat.

Itu lebih lambat dibanding berlari, tapi itu adalah jalan cepat.

Ia bergerak lebih cepat dibanding pasukan yang menyebutkan soal gelombang monster tadi.

Rem menyamakan langkah kakinya lalu melanjutkan pembicaraan.

"Itu merujuk pada penggunaan Will. Aku juga tahu cara menggunakan hal bernama Will itu."

Will adalah tekad.

Rem mengetahui hal itu.

Tapi ia adalah seorang pelayan yang menempuh jalan yang berbeda.

"Tapi caraku agak berbeda. Bahkan jika aku menempuh jalan itu, secara sederhana, apa yang mustahil tetaplah mustahil."

Memang begitu adanya.

Tak ada cara untuk meniru kekuatan seorang ksatria dalam waktu singkat.

Pandangan Encrid bergeser ke sisi samping.

Target berikutnya untuk kobaran api birunya adalah sang Frokk.

"Rua."

"Tidak bisa."

Jawaban Rua Garne bahkan jauh lebih singkat.

Di matanya, Encrid tak memperlihatkan tanda-tanda ketidaksabaran.

"Kenapa kau menanyakan hal itu?"

"Cuma bertanya saja."

Jawaban Encrid terbilang sederhana.

Tak ada yang bisa ia katakan jika ditanya alasannya.

Haruskah ia bilang ia punya rencana karena tahu apa yang bakal terjadi?

Bahwa ia ingin membiarkan Oara bertarung dengan benar, dan untuk melakukan hal itu, ia punya tugas yang harus dilakukan, yaitu bertarung sehebat seorang ksatria dalam kurun waktu singkat?

Seolah-olah mereka bakal mempercayainya.

Seolah-olah mereka bakal menerimanya.

Kumpulkan mereka yang memiliki bakat luar biasa lalu saring mereka.

Saring mereka sekali lagi.

Di antara mereka yang bertahan, hanya segelintir yang sangat langka.

Itulah wujud seorang ksatria.

Tak ada jalan pintas.

Tentu saja hal itu mustahil.

Tapi bagaimana jika itu cuma satu tebasan pedang saja? Bisakah satu tebasan itu mengubah arah pertarungan?

"Mari berlari."

Encrid berbicara lalu bergerak.

Secara alami, ia telah mendengar, melihat, dan mempelajari hal-hal melalui 'hari ini' yang diulang.

***

"Roman!"

Tiba di gerbang benteng, Encrid mencari ksatria magang dengan pemukul greatsword.

"...Ada apa?"

Roman, yang baru saja meremukkan kepala monster laba-laba dengan pommel miliknya dan menendangnya menjauh di depan gerbang, menoleh berbalik.

Cairan tubuh hitam milik monster menggenang di depannya.

Cairan itu menciprat di wajah dan pakaian Roman, membuatnya kelihatan sangat buas.

Penampilannya yang buas membuatnya kelihatan seperti saudara dari Rem, tapi Encrid melihat harapan pada diri Roman.

"Tebasan dari saat itu, bagaimana cara melakkukannya?"

Roman berkedip beberapa kali.

Seolah bertanya omong kosong apa yang sedang disemburkannya.

Segera memahami maksudnya, Roman membuka mulut.

"Apakah itu yang mau kau tanyakan di situasi seperti ini?"

Roman bertanya dengan mulutnya dan sekali lagi dengan matanya.

*Bukankah kau ini orang yang benar-benar gila.*

Encrid mengangguk.

"Ya. Aku ingin bertanya."

"Master, kurasa orang yang satu ini gila!"

Roman menaikkan suaranya.

Dari atas dinding benteng, Oara tertawa meletup nyaring, "Pahahaha!"

"Masa bodoh, beritahu saja dia!"

"Kenapa aku harus membocorkan rahasia teknikku?!"

Sementara itu, Encrid menusukkan Spark ke arah monster laba-laba yang menerjang.

Bilah pedang yang melesat maju dengan kaki kirinya terulur bisa saja dijuluki sebagai seberkas cahaya.

Dalam sekejap mata, Spark menembus kepala laba-laba lalu menarik keluar kembali.

Dari pertarungan selama ini, ia telah sepenuhnya familiar dengan pola-pola mereka.

Merek adalah makhluk yang suka mengepung beberapa orang dengan jumlah banyak.

Sebelum hal itu terjadi, ada beberapa monster yang bertindak sebagai inti.

Encrid membuat lubang di kepala salah satu monster lalu melemparkan tiga Whistle Dagger yang tersisa padanya.

'Hari ini' yang berulang telah membawakan kemahiran pada kemampuan teknisnya.

Kali ini pun tidak ada bedanya.

Encrid tidak membuang waktu sedikit pun.

Renungan adalah renungan, dan latihan dilakukan seperti biasa.

Ia menggabungkan latihannya dengan pertempuran praktis membunuh monster.

Pisau-pisau belati, melayang sedikit lebih ganas dibanding sebelumnya, membuat lubang di kepala monster-monster laba-laba.

Saat ia menyusul dengan melemparkan tombak lempar, alur serangan monster-monster itu terganggu.

Merek adalah makhluk yang bergerak dengan cara yang agak menyulitkan, tapi kini mereka mulai menerjang lurus ke depan secara membabi buta.

"Hmph!"

Ksatria magang berambut pirang pendek mulai menusuk dengan tombak yang relatif tipis dan panjang.

Batang tombak membengkok secara fleksibel, dan ujung tombak melipat ganda menjadi puluhan sekaligus, menusuk tubuh dan kepala laba-laba yang mendekat secara tanpa diskriminasi.

Sebuah jeritan bisu bergema nyaring.

Darah hitam menetes dari mulutnya yang kelihatan seperti enam potong logam yang menyatu dan terbelah ke kiri dan kanan.

Itu adalah efek dari ujung tombak berpelumas racun.

Mata Encrid mengamati tombaknya, tekniknya.

*'Teknik yang berbahaya saat melawan banyak lawan.'*

Seorang ksatria magang yang memamerkan kekuatan dahsyat melawan mereka yang lemah.

Ia sudah mengetahui hal ini, jadi matanya sekadar menyapu melintasi teknik tersebut.

"Kelihatannya kita punya waktu sekarang, kan?"

Encrid berbicara setelah memusnahkan sekelompok laba-laba.

"Kau benar-benar memintaku membocorkan rahasia teknikku?"

"Kau tidak mau?"

"Pria ini benar-benar orang gila, kan?"

Roman berucap demikian sembari menggelengkan kepalanya.

"Beritahu aku sedikit saja."

Encrid tak kenal menyerah.

Jika ia punya waktu, ia akan secara perlahan bertanya sekali atau dua kali sehari.

Tapi situasinya berbeda sekarang.

Di luar keinginan untuk belajar dan menguasai, ia melihat sebuah cara untuk membantu pertarungan Oara di sini.

Tak ada cara yang lebih baik.

Jadi ia merengek padanya.

"Tolong beritahu aku."

Ia bertanya sembari membunuh laba-laba.

"Siapa pun tolong singkirkan bajingan ini dariku!"

Roman mulai murka.

"Dia bukan tipe orang yang bakal pergi hanya karena kau menyuruhnya pergi," terkekeh Rem.

Kelihatannya ia sedang menonton Encrid melakukan sesuatu yang benar-benar gila untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Sekali waktu, secara khusus pada 'hari ini' kedua yang dialaminya di tenda medis, Jaxon dengan mudah memberitahunya soal Sensory Skill.

Pada saat itu, Jaxon melakukannya karena ia tahu Encrid takkan pernah menyerah.

Pria ini gigih, memiliki obsesi kuat, dan seorang pria gila.

"Bisa tidak kau enyah?!"

Roman kembali murka.

Kelihatannya ia bakal mengayunkan senjatanya pada Encrid, bukan pada monster-monster laba-laba.

Encrid tak terpengaruh.

Ia seperti batu karang yang kokoh.

Batu karang, atau baja, atau Darksteel, yang takkan pernah berlubang meski setetes air jatuh di titik yang sama puluhan kali.

Itu adalah adegan di mana tekad berubah menjadi sebuah kekerasan kepala.

"Puhahaha!"

Melihat hal ini, Oara memegangi perutnya dan tertawa terbahak-bahak, dan Rem terkekeh sembari membelah kepala laba-laba.

Dunbakel, yang menontonnya, merasakan sebagian firasat buruknya memudar.

Pria gila itu membuat keributan seperti itu hanya untuk mempelajari satu teknik, tak peduli soal gelombang monster.

Benar-benar seorang pria gila.

***

Roman akhirnya mengaku kalah setelah bertahan belasan kali.

"Kau bajingan gila, kau pikir kau bakal paham hanya dengan mendengarnya?"

"Mungkin tidak."

Sialan, kenapa kau malah setuju dengan hal itu?!

Pada saat ini, Oara bahkan tak sanggup berdiri.

Ia berguling-guling di atas dinding benteng.

Ia tertawa hingga air mata menetes deras dari matanya.

Rem merasa puas.

Orang-orang di sekitar, para prajurit yang menonton, bahkan para pemanah di atas dinding benteng.

Bukankah semua orang sekarang sudah tahu?

Bahwa pria ini adalah seorang pria gila di tingkatan yang sama sekali berbeda dari mereka.

"Tapi kau tetap menyuruhku berbicara?"

"Dengar saja dulu."

"Memangnya kau menitipkannya padaku?"

"Tidak."

"Jangan setuju, jangan langsung menerima begitu saja!"

Roman memulai penjelasannya di tengah rasa kekesalannya.

"Hei, tebasan pedang seorang ksatria pada dasarnya diresapi Will di dalamnya."

Encrid mengetahui hal sejauh itu.

Roman melangkah satu tahap lebih jauh.

Kenapa ia tak bisa menangkis pedang Oara?

Jadi ia bertanya, dan Oara menjawab.

"Aku memutar Will-nya."

Itu adalah jawaban yang abstrak, tapi apakah Dewi Keberuntungan membantunya saat itu, atau sebuah pencerahan yang datang setelah banyak perenungan, Roman sendiri tidak tahu.

Meski begitu, ia telah menemukan sebuah arah dan sedang bergerak menuju ke sana.

"Dari ujung jari tanganku hingga ujung jari kakiku, saat aku melakukan sebuah ayunan, aku meresapi seluruh tubuhku dengan Will."

Itu bukan penjelasan yang sederhana.

"Bukankah memang biasanya dilakukan seperti itu?" tanya Encrid balik.

Ia juga menggunakan Will dengan cara seperti itu.

Saat ia menusuk dengan segenap kemampuannya, ia menyusupkan momen akselerasi sekaligus.

Hal itu sama seperti saat ia melepaskan petir putih, dan sama seperti tebasan yang dinamainya tebasan sekuat tenaga milik raksasa.

Saat Roman berbicara, ia menghantam kepala laba-laba yang mendekat.

Kepala laba-laba hancur hanya dengan satu pukulan tinju.

*Ppeok!*

Ia adalah seorang ksatria magang karena ada alasannya.

Dimulai dari hal itu, monster-monster yang bersiap dari dalam tanah iblis mulai bermunculan.

Lima troll, seekor laba-laba berkaki dua, dua Owlbear.

Kali ini, satu Owlbear lagi ditambahkan, dan para troll muncul pula.

Tapi ketegangan mendesak dari krisis sebelumnya berkurang secara signifikan.

Lucunya, pemandangan Encrid yang berusaha mempelajari sesuatu meningkatkan dorongan semangat para sekutunya.

Hal itu tidak disengaja.

Berkat hal itu, penentuan waktu anak-panah para monster juga tertunda.

Oara turun dari dinding benteng, mengusap sudut matanya dengan jarinya.

"Haa, aku hampir mati tertawa."

Itu bukan ucapan yang pantas diutarakan oleh seorang ksatria dengan julukan 'Oara sang ksatria tersenyum'.

"Lantas, apakah ada hal lain untuk dikatakan?"

Menyaksikan Encrid bertanya hingga akhir meski atmosfer telah berubah, Roman meletupkan decakan lidah lalu berkata.

"Apakah kau menggunakan Will bahkan saat menggunakan garpu? Sebagai contoh, saat kau menghunus pedangmu? Saat kau mengambil posisi bertarung?"

Makna dari kata-kata Roman sangat sederhana.

*'Mengendalikan setiap pergerakan, hingga otot terkecil.'*

Untuk tujuan apa?

Segalanya demi satu tebasan pedang.

Baru pada saat itulah Encrid memahami kata-kata Roman.

***

Hingga ia menyapa 'hari ini' yang baru kembali, Encrid mengulang apa yang telah dikatakan Roman, namun tentu saja hal itu tidak mudah.

Sebaliknya, hal itu sangat amat berat.

Apakah Will adalah sesuatu yang bergerak sesuai keinginan seseorang?

Itulah permulaannya.

Dalam kegelapan pekat yang menindih, saat seseorang bertemu dengan seberkas cahaya, mereka menyuarakan soal harapan.

Encrid tak pernah mendiskusikan soal harapan karena ia tak pernah menyerah atau melepaskan utas benang tersebut.

Meski begitu, apa yang telah didapatnya melalui Roman menghangatkan dadanya.

Apa yang sedang dilakukannya saat ini?

Ini adalah sebuah peniruan.

Peniruan seperti meniru pedang Ragna.

Tapi bisakah ia secara sempurna meniru dan menggunakan pedang seorang ksatria?

Kesimpulannya, ia tidak bisa.

Kenapa?

*'Sebab setiap jalan seorang ksatria adalah berbeda.'*

Pedang mereka semua adalah berbeda.

Sebuah fakta yang diketahuinya dari pengalaman.

Ksatria Azpen, Ragna, Mercenary King, dan Shinar telah mengajarinya hal tersebut.

Oleh karena itu, ia harus menemukan jalannya sendiri dan melangkah ke depan, bukan sekadar meniru.

Itulah permulaannya.

Encrid meneliti sebuah tebasan tingkat ksatria.

Untuk hal itu, ia harus menghabiskan **162 'hari ini' tambahan**.

Baru pada saat itulah ia mencapai ranah pemahaman.

Tidak, itu adalah ranah di mana tubuhnya bereaksi, bahkan jika batinnya belum sepenuhnya mencengkeram hal tersebut.

"Membuat Will bersemayam di setiap gerakan, hingga ke satu jari tangan, satu jari kaki. Begitu kan?"

Mendengar pertanyaan dari seseorang yang sudah mengetahuinya, mata Roman di 'hari ini' yang baru melotot lebar.

"Bajingan-bajingan yang dijuluki jenius ini..."

Dan ia salah paham.

Encrid tidak repot-repot meluruskan kesalahpahaman tersebut.

Sekarang, sudah waktunya memulai apa yang telah direncanakannya.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.