Eternally Regressing Knight

Bab 461: Sejak Awal, Aku Tak Pernah Bermimpi Sekadar Menjadi Ksatria Biasa

2634 Kata

Bab 461: Sejak Awal, Aku Tak Pernah Bermimpi Sekadar Menjadi Ksatria Biasa

Dalam seluruh 'hari ini' yang telah dilaluinya, Encrid tak pernah sekali pun berhasil mengirim Oara pergi tanpa luka sedikit pun.

Syarat-syarat untuk melakkukannya memang terlalu sulit.

*'Bunuh sang ghoul sebelum Oara melangkah masuk.'*

Dalam waktu itu, Roman harus membunuh monster laba-laba yang bertarung menggunakan delapan kakinya sebagai pedang.

Pada saat yang sama, ia juga harus menangkis pukulan terakhir sang ghoul.

Ia tak bisa mengulang 'hari ini' di mana Dunbakel atau Rem tewas.

Meskipun Oara membunuh Owlbear adalah sebuah variabel yang tak terduga...

*'Boleh juga.'*

Itulah kesimpulannya.

Pada momen itu, karena suatu alasan, kata-kata sang Ferryman melintas di benaknya.

"Tahukah kau sebutan bagi seseorang yang menempuh jalan sulit atas kemauannya sendiri?"

"Bukankah seorang santo?"

"Mereka menyebut mereka seorang idiot."

Sang Ferryman telah mengkritik Encrid dengan sindiran tanpa henti.

Hal itu tidak mengganggunya.

Ia sudah terlalu terbiasa dengan cemoohan dan kritik semacam itu.

Saat ia bilang akan menjadi seorang ksatria, berapa banyak lidah yang telah mengejek dan mencemoohnya?

Jadi hal itu tak masalah sama sekali.

Sensasi kehilangan yang dirasakannya saat tak sanggup melindungi apa yang diinginkannya gara-gara kekurangan kekuatan praktis...

Hal itulah yang jauh lebih penting.

***

Ia pernah melihat seorang pria bertarung melawan monster demi melindungi keluarganya.

Ia pernah melihat kematian pria tersebut.

Ia juga pernah melihat keluarga yang coba dilindungi oleh pria tersebut.

Saat ia melihat seorang bajingan tentara bayaran tersenyum mesum pada satu-satunya putri yang selamat, Encrid kehilangan akal sehatnya.

"Seseorang hentikan pria gila itu!"

"Hei, hei, kau bajingan!"

"Agh, telingaku!"

Encrid telah menggigit putus telinga bajingan tentara bayaran itu lalu membenamkan belati ke tengkuk lehernya.

"Kau, huh, tidak. Pergilah dinginkan kepalamu."

Kapten tentara bayaran membiarkannya lolos.

Sebagai gantinya, ia dilempar ke dalam penjara.

Hal itu sudah termasuk membiarkannya lolos.

Jika mereka membiarkannya di luar, ia pasti sudah ditusuk hingga tewas oleh apa yang disebut sebagai rekan-rekan pria yang tewas tersebut.

Ia menghabiskan waktu setengah tahun terkurung.

Tak ada yang bisa dilakukan.

Ia sekadar melatih tubuhnya.

Sebagian besar penjaga mengabaikannya, tapi salah satu dari mereka bertanya.

Itu adalah kepala penjaga tua, berusia di atas lima puluh tahun.

"Kenapa kau melakkukannya?"

"Aku tidak menyukai senyumannya."

"Apakah kau gila?"

Kepala penjaga membebaskan Encrid.

Apa yang dikatakannya setelah membebaskannya bertahan lama di dalam pikirannya.

"Tanpa kekuatan, kau takkan pernah bisa melakukan hal-hal yang ingin kau lakukan."

Saat Encrid meninggalkan penjara, ia mengusap dagunya beberapa kali, terganggu oleh janggutnya yang tumbuh kasar, lalu menjawab.

"Aku tahu betul hal itu."

Impiannya adalah menjadi seorang ksatria.

Ia telah memutuskan impian tersebut karena ingin hidup dengan melindungi apa yang ingin dilindunginya.

***

"Hahaha!"

Oara meletupkan gelak tawa berulang kali.

*Grrrrr!*

Fragmen balrog meraung menyerupai seekor binatang buas.

Ia tak bisa menghitungnya secara presisi, tapi puluhan serangan bertukar di antara keduanya.

Pedang *Laughter* milik Oara menggores lengan bawah sang balrog dan merobek lubang di perutnya, tapi makhluk itu tidak tewas hanya gara-gara hal tersebut.

Saat perutnya tertembus, makhluk itu bergerak bahkan jauh lebih ganas.

Sesuatu menyerupai asap hitam membumbung dari lukanya, dan tanpa tindakan lain apa pun, luka itu sembuh separuh, tak lagi berdarah.

Bahkan saat perutnya sedang tertembus, makhluk itu mengayunkan tongkat merah yang menyerupai pedang di tangannya lebih dari puluhan kali.

Itu adalah seekor monster.

Garis-garis dari tongkat itu terkadang menutupi Oara bagai sebuah jaring.

Alih-alih mundur, Oara menarik keluar Laughter miliknya lalu mengayunkannya menukik ke atas.

Jaring terobek hancur dan berhamburan dalam satu tebasan tunggal.

Cahaya putih meletup keluar, dan tekanan menyapu melintasi sekeliling.

*BOOM!*

*Guncang, guncang!*

Diiringi ledakan, tanah berguncang hebat.

Hal itu terjadi karena sang balrog telah menghentak tanah seolah-olah hendak menghantamnya.

Oara mengayunkan pedangnya.

Sesuatu berkilau di sepanjang bilah pedang yang mengayun.

Di mata Encrid, kelihatan seolah-olah bilah pedang secara mendadak melipat ganda menjadi puluhan.

Tekad Will tanpa wujud, melalui senjata berenchantment, menjadi sebuah kekuatan kasat mata dan menyapu melintasi area.

Sang balrog melakukan hal yang serupa.

Dan begitu saja tongkat merah dan tongkat putih bertemu.

Kedua tongkat terkadang menjadi cambuk, dan di saat lain menjadi seberkas cahaya.

Mereka kelihatan membengkok, hanya untuk berdiri tegak dan berhenti, dan mereka juga membentuk permukaan menyerupai dinding yang terbuat dari baja.

Begitulah kelihatannya di mata Encrid.

Pada kenyataannya, keduanya sekadar mengayunkan pedang mereka dan bertarung.

*CRASH!*

Diiringi ledakan, fragmen balrog dan Oara berpapasan melintas.

Itu adalah pertarungan yang tak bisa dicampuri oleh siapa pun.

Mencampurinya hanya bakal jadi sebuah hambatan.

Ini adalah pertarungan seorang ksatria.

"Master!" teriak Roman.

Encrid menonton dalam keheningan.

***

Pertarungan antara fragmen balrog dan Oara tidak berlangsung lama.

Setelah mengintip ranah kemahakuasaan, Encrid bisa secara kasar membaca alur pertempuran.

Oara akan menang.

Tapi itu bukan pertarungan di mana seseorang bisa bilang sang balrog telah kalah pula.

Rem, yang telah terpental menjauh, wajahnya menjadi pucat.

Ia memuntahkan seteguk darah, seolah-olah tulang rusuknya telah menusuk organ dalamnya.

Tentu saja ia bukan tipe orang yang bakal tewas gara-gara hal semacam ini.

Sebaliknya, ia melangkah ke sisi samping dan berdiri di sana, menonton pertarungan bersama mereka.

"Dia menang," ujar Dunbakel.

Ia berbicara sembari duduk di tanah setelah nyawanya terselamatkan.

Sebuah garis panjang tergambar di leher sang balrog.

Bukan garis merah, melainkan garis hitam.

Garis yang tergambar memisahkan kepala sang monster dari tubuhnya.

Apakah itu sebuah perpisahan yang menyayat hati?

Atau perpisahan yang memuaskan?

Ia tidak tahu.

Pikiran dari seekor monster.

Oara memutar tubuhnya.

Wajahnya masih tersenyum.

"Orang-orang bakal tewas bagaimanapun juga," ujarnyanya dengan wajah tersenyum tersebut.

Encrid tahu Oara tak bisa hidup lama.

Dan bahwa tak peduli apa yang dilakukannya, ia tak bisa menyelamatkan seseorang yang sudah sekarat.

Mengulang hari ini bukan berarti ia bisa melakukan apa saja.

Di dalam 'hari ini' yang diubah oleh kutukan, ada hal-hal yang takkan pernah berubah.

"Whew, itu tadi sangat menyenangkan."

Di dada Oara, tongkat merah yang tadinya dipegang sang balrog terbenam di sana.

Itu adalah pedang yang menyerupai sebuah tusukan sate.

Bukankah Rua Garne pernah bilang bahwa balrog menggunakan pedang api dan cambuk?

Fragmen ini adalah setengah-setengah, jadi hanya itu yang miliki.

Pedang tanpa api yang menyerupai tongkat merah adalah senjatanya.

"Roman, kuserahkan kota ini di tanganmu."

Ksatria dengan tongkat di dadanya berkata.

"Maaf aku tak bisa menghadiri pernikahan Rowena."

Pemilik kota yang dibangun dengan seribu batu bata berkata.

"Tanah iblis telah selesai sekarang. Jadi, kalian hanya harus membunuh apa yang tersisa. Tak ada monster baru yang bakal bermunculan."

Pahlawan, yang mengkhawatirkan hari esok hingga akhir, berkata.

Jika bukan karena Oara, kota ini takkan ada.

Jika bukan karenanya, tempat ini sudah jadi bagian dari tanah iblis.

"Terima kasih. Encrid."

Ia juga mengakui apa yang telah dilakukan Encrid.

"Ah, itu tadi sangat menyenangkan."

Itulah akhir cerita.

Jika ada permulaan, maka ada akhir.

Terbang artinya suatu hari bakal turun kembali ke tanah.

Hidup artinya menempuh jalan menuju kematian.

Namun apa yang dilakukan seseorang di jalan tersebut adalah untuk diputuskan oleh diri sendiri.

Tak perlu ada penyesalan, menoleh kembali pada jalan yang tidak ditempuh.

Sebab hal-hal semacam itu tak bermakna dalam kehidupan.

Tak peduli apa yang dipilih seseorang, hanya usaha untuk membuatnya benar yang memperkaya dan memperindah kehidupan.

***

Encrid menyarungkan Aker dan berdiri tegak.

Kemudian, ia meletakkan tangannya di pinggul kanannya.

Itu adalah sebuah janji untuk mengendalikan senjatanya dengan baik.

Itu adalah permulaan dari sebuah gestur untuk menunjukkan rasa hormat pada orang di depannya.

Kemudian, ia menundukkan kepalanya.

Itu adalah sesuatu yang bisa dilakukan seseorang dari rasa hormat atas kerja keras orang lain.

Itu adalah sebuah penghormatan ksatria.

"Oa."

Encrid menyuarakan sorakan yang dinamai sesuai namanya.

Dan menyaksikan momen-momen terakhir dari ksatria yang tewas sambil tersenyum.

***

Dua Ksatria Magang mengelola situasi, dan Aisha, menyeret tubuhnya yang kelelahan, memegang kendali atas pembersihan medan perang.

Di medan perang, siapa pun bisa tewas.

Seorang ksatria tidak abadi.

Tak ada orang yang tidak mengetahui hal tersebut.

"Master sedang sekarat."

Prajurit berambut pirang pendek mendekat dan mengutarakan kata-kata semacam itu.

Prajurit tersebut menyalakan sebuah obor.

Hanya sedikit orang yang menangis.

Ada banyak hal yang harus dilakukan dalam membersihkan medan perang.

Seluruh warga kota keluar untuk mengulurkan tangan bantuan.

Roman memeluk jasad Oara di lengan-lengannya.

Jasad tersebut diletakkan di rumah tempat ia pernah tinggal.

Belum ada peti mati.

Rasanya seolah-olah ia mungkin melompat bangun di momen apa pun besok dan berteriak, *'Kaget kan kalian, dasar bajingan!'*

Tentu saja hal semacam itu tidak terjadi.

Ksatria Oara telah tewas.

Encrid membersihkan darah dari tubuhnya.

Di luar, suasananya terus bising gara-gara unit-unit yang bergerak untuk jaga malam.

Encrid kembali ke penginapannya, membasuh diri, terbaring, lalu memejamkan matanya.

Ia tertidur begitu saja.

Dalam mimpinya, sang Ferryman muncul.

"Apakah kau ingin berbalik hari ini? Tapi ada hal-hal yang takkan pernah berubah. Sebagai contoh, angka-angka pada dadu tidak berubah. Di mana tempat dewa bersemayam, sebuah kutukan tak punya kekuatan."

Sang Ferryman mencampurkan kata-kata yang tak bisa dipahaminya.

Ada beberapa kata yang tak sanggup dicengkeram maknanya.

Ia hanya bisa secara kasar menyimpulkan maknanya.

Apa sebenarnya tempat di mana seorang dewa bersemayam?

"Jika kau bertahan di hari ini, kau takkan pernah harus melihat kematian tersebut."

Nada sang Ferryman agak menggiurkan.

Tapi itu tidak memikat.

Sejak awal, hanya ada satu hal yang telah dicobanya untuk dilindungi.

Seorang Oara yang puas, seorang Oara yang tersenyum.

Ingin melihat seorang ksatria bertarung dengan layak adalah hal sekunder.

Encrid telah melihat Oara yang puas tersebut, Oara yang tersenyum tersebut.

Karena ia telah melihat pahlawan yang tewas sambil tersenyum pada akhirnya, hal itu tidak menyakitkan.

Apa yang dicarinya untuk dilindungi adalah senyumannya.

Bukan sebuah kehidupan menyedihkan yang dilanjutkan dengan mencampakkan apa yang seharusnya dilindungi dan melarikan diri.

Encrid secara dalam kembali tertidur.

Sosok sang Ferryman memudar, dan suara gelombang air menyurut.

Segera, ia mendapati sebuah mimpi.

Ini adalah sebuah mimpi yang nyata.

Sebuah mimpi di mana sang Ferryman tidak muncul.

Sebuah koleksi pemikiran santai yang dikonstruksi ulang berdasarkan ingatan-ingatan yang tersisa di kepalanya.

Ingatan dan informasi bercampur secara acak dan meletup muncul.

"Hei, apa pendapatmu tentang kotaku?"

Oara, mengenakan jubah merah dan berdiri di atas dinding kota, bertanya.

Encrid secara mendadak berdiri di sampingnya.

Ia tak punya jubah.

Jika ini sebuah mimpi, mereka setidaknya bisa memberiku sebuah jubah.

Punggungku terasa kosong.

"Bagaimana menurutmu?"

"Bagus. Bagus untuk dilihat dan bagus untuk ditinggali."

"Lantas apakah kau bakal bertahan di sini?"

Ia menggelengkan kepalanya, karena tak ada yang perlu dipertimbangkan.

"Dan kau masih bertekad untuk menjadi seorang ksatria?"

Mungkin karena ini sebuah mimpi, cara percakapan dimulai terasa berantakan.

Tidak, memang begitulah Oara selalu bersikap.

Ia bakal secara impulsif melempar pertanyaan-pertanyaan.

Tapi semuanya setajam mata pisau, menembus hingga ke inti.

"Ya."

"Benar, kurasa kau bakal berhasil. Bagaimanapun, terima kasih banyak. Wow, bagian terakhir itu benar-benar menakjubkan."

"Benarkah?"

"Kau tidak melihatnya dengan benar kan? Kemarilah, kutunjukkan apa yang kubuat."

Dalam mimpi tersebut, Oara meragakan ulang pergerakan pertarungannya melawan sang balrog.

Encrid terkadang berdiri di posisi sang balrog dan terkadang menjadi Oara, menghafal setiap pergerakan.

"Saat aku mengayunkan pedang menukik ke atas seperti ini di sini, aku tahu bajingan ini bakal secara licik menjegalku."

"Sebuah prediksi?"

"Sebuah niat."

Pertarungan strategis yang tak terhitung jumlahnya bercampur ke dalam pertukaran singkat.

Hingga pada titik ia bertanya-tanya bagaimana wanita itu bisa mengkalkulasi hal-hal semacam itu saat menggunakan Will-nya dalam kekuatan penuh.

"Kau sedang menimpa dengan niat sekarang, kan? Tapi begitu kau terbiasa, kau bisa menggunakannya secara bebas. Will."

Oara mengajarinya segalanya tanpa menahan apa pun.

Mereka berbicara seperti itu dalam waktu yang lama.

Ia tidak yakin karena ini sebuah mimpi, tapi rasanya seperti sehari, atau mungkin sebulan.

"Selamat tinggal."

Diiringi ucapan selamat tinggal yang santai, Oara mendaratkan kecupan di pipi Encrid.

Saat Encrid bertanya dengan matanya apa maksud hal itu, pahlawan dalam mimpinya menjawab.

"Sebuah ucapan terima kasih."

Kelihatannya tidak memiliki makna lain apa pun.

Itu adalah persahabatan, atau seperti yang dikatakannya, sebuah tanda rasa terima kasih.

Oara tetaplah Oara bahkan di dalam mimpi.

Oara memudar lenyap, dan setelahnya, ia melihat bayangan sautan dari sang balrog.

Ia melihat monster yang telah tewas memasangkan rantai di leher Oara.

Kenapa?

Apakah karena ini sebuah mimpi?

Untuk hal semacam itu, itu adalah akhir yang sangat menyulitkan batin.

***

Encrid terbangun.

Saat itu adalah waktu fajar.

Saat ia pergi ke luar, ia melihat Roman.

"Kau sudah bangun?" tanya Roman.

Raut wajahnya muram.

Sebuah kilatan kelelahan bisa terlihat.

"Kau kelihatan tidak tidur."

Ujar Encrid, menatap wajah Roman.

"Aku tidur."

Sebuah balasan tumpul kembali.

Tapi, ia telah tidur, namun ekspresinya adalah ekspresi seseorang yang sangat terganggu oleh sesuatu.

Roman, yang telah berhadapan dengan pendekar pedang laba-laba, memiliki luka potong yang dalam di lengan bawahnya.

Jadi lengan bawahnya dibelit perban.

"Itu hanya untuk sekejap, tapi Master muncul di mimpiku dan memberitahuku untuk tidak melakukan hal konyol."

Ekspresi terganggunya mereda, Roman membawa topik mimpi tersebut.

Itu sangat berbeda dari mimpi yang dialami Encrid sendiri.

"Sebuah manifestasi tak sadar yang ditinggalkan oleh tekad?"

Kata-kata yang keluar dari mana saja adalah milik Rua Garne.

Gadis itu sedang keluar dari tempat penginapannya.

Karena Encrid, yang telah terbangun, sedang berada di luar, sangat alami baginya untuk menyusul.

"Balrog mengambil jiwa-jiwa dari mereka yang dibunuhnya. Mereka dikatakan membentuk jiwa-jiwa itu dengan kobaran api neraka seperti patung dan menyimpannya sebagai koleksi."

Apa itu jiwa?

Itu adalah sesuatu yang dikatakan dimiliki oleh setiap sosok dengan kecerdasan.

"Lantas?"

Encrid menambahkan interjeksi yang sesuai.

Maksudnya jika gadis itu punya sesuatu untuk dikatakan, ia harus menuntaskannya.

Rua Garne melakkukannya.

"Inilah kenapa sang balrog menyebarkan fragmen-fragmennya. Julukannya adalah sang kolektor jiwa. Di tanah iblis besar, mereka juga menjulikinya sebagai pemburu ksatria. Itu adalah monster yang hobinya adalah mengumpulkan individu-individu yang bertarung di luar batas spesies mereka."

Monster itu mengabaikan jiwa-jiwa tak berharga.

Monster itu menonton jiwa-jiwa dengan potensi luar biasa.

Monster itu menunggu mereka tumbuh.

Terkadang monster itu bahkan membesarkan mereka.

Sang balrog adalah tipe yang melesat bagai anjing yang telah kelaparan selama berhari-hari saat melihat sosok dengan tubuh kuat dan kemampuan puncak.

Sebuah makhluk yang, sementara di luar memperlihatkan kesempurnaan besar, hidup mabuk oleh hasrat-hasratnya.

Monster semacam itu ada.

Seekor monster dengan kecerdasan yang layak.

Di Benua, sosok-sosok semacam itu dijuluki sebagai makhluk iblis.

"Jadi kau mau bilang jiwa Master berada bersama balrog sekarang?" tanya Roman.

Sebuah kobaran api memercik di matanya.

"Kemungkinan besar."

Sebelum jawaban Rua Garne sempat selesai, Encrid berbicara.

"Ah, begitu ya."

Sebuah frasa tunggal yang biasanya tak punya makna khusus bergema dengan bobot tertentu.

Frasa 'Ah, begitu ya' memang seperti itu.

Saat Encrid mengutarakannya, suaranya tidak terdengar seperti pengakuan sederhana.

Itu menjadi sebuah pernyataan dengan dampak seratus kali lebih besar dibanding bilang 'tunggu saja kau'.

Untuk saat ini, tak ada yang bisa dilakukannya.

Bahkan jika ia pergi ke tanah iblis besar, itu bakal jadi monster yang sulit ditemui.

Tapi setelah ia melangkah naik ke tingkatan ksatria...

Dan bahkan setelah menjadi ksatria, saat ia terus melangkah ke depan...

"Aku yang bakal jadi yang pertama," ujar Roman.

Ia memahami apa yang telah dikatakan Encrid.

"Aku bakal menjadi ksatria. Dan aku bakal membunuh sang balrog."

Encrid menambahkan satu dekorasi lagi pada impiannya.

Nyanyian pemakaman bagi sang pahlawan bakal dimainkan saat itu.

Lagu dorongan semangat yang tak bisa diberikannya, tarian yang tak bisa diperlihatkannya, ia bakal mengesekusikannya dengan membunuh sang balrog.

Ia bakal melakukannya.

Melihat dua mata, sebuah kobaran api biru membara secara tenang dan takkan pernah padam, Rua Garne berkata.

"Itu berbahaya."

Saat Encrid tidak memberikan jawaban khusus, Rua Garne melanjutkan.

"Kau takkan mendengarkan bahkan jika aku mencoba menghentikanmu. Hal itu bakal sulit hanya sebagai seorang ksatria biasa. Jangan lupa hal itu."

Sejak awal, ia tak pernah bermimpi sekadar menjadi ksatria biasa.

Ksatria dalam lagu adalah seorang ksatria dengan julukan **Knight of the Ended War**.

Dan makna yang terkandung dalam empat kata tersebut, *Knight of the Ended War*, menandakan kemahiran bertarung untuk membawa akhir pada seluruh pertarungan.

Memang seperti itu sejak awal.

Impiannya bukan untuk menjadi sekadar ksatria biasa, melainkan menjadi ksatria yang sanggup melakukan apa pun yang ingin dilakukannya.

Ia telah mengintip bagian dari kemahakuasaan.

Encrid tahu impiannya berada di dalam genggamannya.

Yang tersisa hanyalah proses mengepalkan tangannya menjadi sebuah tinju.

Begitulah pikirnya.

Tentu saja jalan tersebut takkan mudah.

Persis seperti yang telah dilaluinya hingga saat ini.

Tapi ia takkan merasa takut, tidak pula ia bakal berhenti.

Persis seperti yang telah dilaluinya hingga saat ini.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.