Eternally Regressing Knight

Bab 473: Encrid Kesulitan Mengikuti Percakapan Mereka

3067 Kata

Bab 473: Encrid Kesulitan Mengikuti Percakapan Mereka

"Haruskah aku menjuluki ini sebagai kepulangan sang anak yang hilang?"

Ketua suku meluap oleh rasa keriangan saat melihat Rem.

Itu karena ia mengetahui kemampuannya.

Bagi seorang bakat yang dielu-elukan sebagai pahlawan untuk kembali di dalam situasi seperti ini.

Meski begitu, ini bukan sebuah situasi di mana ia bisa merasa sepenuhnya lega.

Tidak, bahkan dengan keberadaan Rem di sini, mereka tak bisa berbicara soal harapan.

Itulah kebenarannya.

*'Bahkan bagi Rem, bakal jadi hal yang sulit untuk berhadapan dengan kedua monster tersebut pada saat yang sama.'*

Ketua suku memikirkan dua raksasa yang mengancam sukunya.

Ekspresinya yang cerah menggelap dalam sekejap, lalu mencerah kembali.

Bagaimanapun juga, sebuah hal yang bagus adalah sebuah hal yang bagus.

Bahkan jika ia kencing darah gara-gara tekanan, apa poin dari hidup jika ia tak bisa menikmati masa kini dan sekarang?

"Selamat datang kembali."

Itu adalah sebuah tenda lapang dengan langit-langit bulat yang terbuat dari kain kaku, cukup besar untuk punya sebuah api unggun di bagian tengah.

Api unggunnya tidak besar, tapi fakta bahwa kayu bakar dibakar di dalamnya secara periodik adalah sebuah kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh sang ketua suku.

Di atas kobaran api, daging pipih tertancap pada sebuah galah dan memanggang.

Itu adalah sebuah hidangan yang dibuat dengan menangkap tikus-tikus padang, mengeringkan darah mereka, membuang kulit dan organ dalam, lalu menekan dan memanggang mereka.

Organ-organ dalam beracun dan tak bisa dimakan, jadi ini adalah cara terbaik.

Itu adalah seekor tikus panggang gaya Barat, sesuatu yang tidak dilihatnya untuk waktu yang lama.

Duduk di sebuah kursi bulu, sang ketua suku menyambut Rem, raut wajahnya berubah muram lalu mencerah kembali, sebelum ia melirik Ayul lalu meletupkan batuk gersang.

Ia bukan seseorang yang telah menjadi ketua suku karena kemampuannya yang hebat sejak awal.

Ia adalah seorang ketua suku yang disukai banyak orang, bukan seorang ketua suku yang mahir dalam bertarung.

Karena itulah krisis saat ini terasa bahkan jauh lebih memberatkan.

Haruskah seseorang mengutarakan bahwa ini membesarkan hati karena ia bertahan dengan baik di balik segalanya?

Bagaimanapun juga, tanah-tanah Barat berada di dalam sebuah situasi yang rumit.

"Aku datang untuk menerima sihirku," Rem memotong lurus ke poin utama.

Ketua suku mengedipkan matanya beberapa kali, berpikir.

Ia telah mengetahui sejak waktu yang lama lalu bahwa bajingan ini hanya pernah memikirkan tentang dirinya sendiri.

Seorang pria seperti itu secara alami bakal mencampakkan sukunya lalu lari kabur.

"Itu sulit saat ini," ketua suku menggelengkan kepalanya.

"Kenapa sulit?"

"Sebab kita kehilangan tanah suci ke suku lain."

"...Kehilangan apa?"

Tanah suci adalah sebuah tempat yang dilindungi oleh semua suku yang berkumpul di sini.

Dalam skala kecil, itu adalah tempat mereka menerima sihir dan roh-roh pelindung.

Dalam skala besar, itu bisa dijuluki sebagai sebuah tempat yang terendam di dalam tradisi-tradisi dan jiwa-jiwa mereka.

Saat orang-orang dari suku-suku Barat tewas, mereka sering kali dikuburkan di tanah suci.

Jadi, tanah suci juga berfungsi sebagai sebuah pemakaman.

Untuk mengutarakannya secara sederhana, tanah suci adalah sebuah tempat yang harus mereka lindungi dengan nyawa mereka.

Kehilangan tanah suci semacam itu?

Bila dipikir-pikir, itu aneh.

Mulai dari seekor raksasa mengambil alih sebuah desa, hingga situasi saat ini.

Awalnya, suku-suku Barat adalah orang-orang yang berkelana mencari padang rumput.

Lantas kenapa mereka berkumpul bersama?

Sebuah perkumpulan berskala besar semacam ini hampir tak pernah terjadi.

Dua kali setahun paling banyak?

Dan hal tersebut haruslah di musim gugur.

Pada saat itu, ada banyak makanan, jadi tujuannya adalah untuk berbagi.

Mereka juga berkumpul sekali sebelum musim semi.

Pada saat itu, sebaliknya, mereka berkumpul karena ada terlalu sedikit makanan.

Sekali saat makanan berlimpah, dan sekali saat itu langka.

Jadi, bukan sekarang.

Saat ini, mereka seharusnya sanggup bertahan hidup.

Dengan kata lain, mereka telah berkumpul karena ada sebuah masalah.

"Tak ada hal yang berjalan benar sejak kau pergi," Ayul, yang telah mengikutinya masuk, melihat sebuah celah lalu melempar belati celaan.

Gadis itu takkan mendengarkan apa pun yang diutarakannya saat ini, jadi ia menyisihkan perasaan-perasaan Ayul untuk kelak.

Bahkan jika ia mendapat sebuah kapak di kepalanya gara-gara hal tersebut, itu tak bisa dibantu.

*'Ini dosaku.'*

Ini semua salahnya.

Jadi, apa yang diutarakan Encrid dan Rua Garne tidak salah.

Adapun Dunbakel, gadis itu kemungkinan mengutarakannya tanpa mengetahui apa pun.

"Itulah apa yang terjadi," ekspresi ketua suku menggelap kembali.

Serangkaian kejadian yang terlalu sulit untuk ditanganinya dengan kekuatannya sendiri telah terjadi.

Bukan tanpa alasan bahwa ia kencing darah dan tak bisa tidur.

Meskipun tersembunyi oleh pola-pola di wajahnya, kulit di bawah matanya telah berubah gelap, dan ia merasakan bahwa pada tingkat ini, ia takkan tewas dari sebuah kutukan atau sebuah bilah pedang, melainkan bakal sekadar ambruk dari tekanan suatu hari nanti.

Di mana ia harus mulai menjelaskan?

Ketua suku berpikir untuk sekejap sebelum berbicara.

"Benar, kau tahu soal para kanibal, kan?"

Bagaimana bisa ia tidak mengetahui soal malapetaka tanah-tanah Barat?

Tak peduli berapa kali kau memukuli bajingan-bajingan yang hidup dengan memakan orang-orang hingga tewas, mereka bakal selalu mendirikan sebuah sarang baru di suatu tempat lalu melanjutkan garis keturunan mereka.

Sebagai sebuah ras petarung, mereka mahir dalam bertarung pula.

Sebelum Rem pergi, ia telah membelah kepala dari sosok yang dikatakan sebagai yang terkuat di antara para kanibal tersebut.

Ia berpikir mereka bakal hancur dan lenyap setelah kehilangan pemimpin mereka, tapi mereka masih berada di sekitar sini?

Ketua suku melewatkan detail-detailnya lalu berkata, "Suatu hari, seorang kanibal raksasa secara mendadak muncul."

Orang-orang Barat menghargai keuntungan praktis di atas etiket.

Berkat kecenderungan tersebut, banyak kata diciptakan untuk secara jelas menspesifikasikan situasi-situasi ambigu.

Kata-kata seperti **Utkiora** dan **dark sky** adalah contoh-contoh utama.

Untuk menjelaskan *dark sky*, itu berarti fajar sebelum matahari terbit, sebuah kondisi yang bakal segera memenuhi perannya, tapi belum berada di sana.

Kebiasaan tersebut keluar sekarang pula.

Kenapa seorang raksasa datang dari para kanibal?

"Apa hubungan di antara keduanya?"

"Aku mencurigai mereka dikirim olehmu dari Benua."

Rem membiarkan kata-kata Ayul masuk di satu telinga dan keluar di telinga lainnya saat ia menatap ketua suku, yang terus berbicara.

"Dari tempat di mana kelompok kanibal itu berada, mereka lenyap tanpa jejak dan seorang raksasa muncul keluar."

Apakah tak ada hubungan besar?

Atau apakah sesuatu terjadi di sisi mereka?

Untuk saat ini, tak ada cara untuk mengetahuinya.

"Dua suku telah jatuh karena bajingan-bajingan tersebut menyerang," ketua suku mengambil sepotong kayu bakar tipis.

Ia menepuk telapak tangannya dengannya saat ia berbicara.

"Dan kau bahkan tidak tahu dari mana sesuatu seperti itu datang?"

"Kami tidak tahu."

Jadi, untuk saat ini, apakah aku hanya perlu memukuli sang kanibal raksasa?

Sementara Rem sedang berpikir, ketua suku berbicara kembali.

"Dan kemudian, aku tidak tahu apa yang mereka makan hingga membuat mereka seperti ini, tapi suku peramal menjadi sepenuhnya gila."

Suku peramal adalah sebuah kelompok di mana setiap anggota adalah seorang penyihir.

Secara individual, mereka tak seberapa, tapi saat mereka berkumpul, mereka adalah sebuah kelompok yang tentu bakal jadi cukup memusingkan kepala.

Sebab mereka mahir dalam sihir kelompok.

"Jangan bilang padaku?" Rem memiringkan kepalanya lalu bertanya balik.

"Aku juga bertanya-tanya apakah itu karena kau melintas lalu mengisi kepala mereka dengan omong kosong," mengabaikan omong kosong Ayul.

"Ya," ketua suku juga mengabaikan Ayul untuk sekejap lalu mengangguk.

Artinya sihir kelompok telah terjadi.

"Sebuah doa, atau sebuah ritual?"

Keduanya adalah sihir kelompok, tapi mereka agak berbeda.

Sebuah doa adalah sihir berskala relatif kecil, tapi sebuah ritual adalah sihir berskala besar.

Jika mereka telah menyerang dengan sesuatu seperti itu, itu bakal cukup merepotkan.

Lebih dari sekadar merepotkan, fakta bahwa mereka memblokirnya adalah hal menakjubkan.

"Lebih dari seratus orang telah tewas dari sebuah sihir pembalik darah, dan bahkan lebih banyak yang ambruk tapi bertahan."

Demi Tuhan, ini adalah sebuah festival bencana.

Rem mengedipkan matanya.

Jadi, untuk mencengkeram situasi secara akurat, apa itu?

Para raksasa dan suku peramal bergabung bersama?

Kenapa?

Apakah kedua pihak tersebut bahkan akur?

Ia telah melihat para raksasa di perjalanannya ke sini.

Ia juga melihat bahwa mereka yang seharusnya berada di sini telah lenyap.

Di tempat suku Narae seharusnya menjaga, ada sebuah kuali besar.

Dan pagar-pagar kayu hancur.

"Apakah anak-anak Mura terkena hantaman?"

"Mereka terkena hantaman pula. Beberapa selamat dan telah berlindung bersama suku kami."

Itu adalah sebuah hal yang bagus.

"Ada juga orang-orang luar. Ada pembicaraan soal melihat elf-elf atau beberapa penyihir aneh."

"Aku juga berpikir kau adalah sosok yang membujuk mereka lalu mengirim mereka ke sini."

Rem secara kontinyu membiarkan kata-kata Ayul masuk di telinga kirinya dan keluar di telinga kanannya.

Ketua desa telah sepenuhnya menutup telinga-telinganya.

Rem bertanya-tanya apakah sebuah tambang emas telah ditemukan di Barat sementara ia pergi.

Apa yang ada untuk didapat di sini hingga semua orang merayap masuk?

Meskipun tanah suci adalah sebuah tempat penting, itu hanya penting bagi suku-suku ini, bukan bagi orang lain.

Bagi Rem, ia tak punya pilihan karena ia telah meninggalkan ritual, senjata, dan medium sihir yang seharusnya diterimanya di sana lalu menyegelnya, tapi itu bukan kasusnya bagi orang lain, kan?

Lantas apa itu?

Kenapa semua orang meletupkan keributan besar di sini?

Setelah kembali setelah waktu yang lama, ia mendapati bahwa anak-anak haram telah masuk ke rumahnya dan membuat kekacauan.

Dan tiga jenis anak haram yang berbeda pada hal tersebut.

"Jika kau tidak mengirim mereka, maka itu bukan urusanmu, kan?"

Seorang Ayul yang merajuk secara kontinyu melempar belati-belati celaan.

Intinya adalah, siapa dirinya untuk tiba terlambat dan secara berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mendengar jawaban-jawaban.

"Cukup, Ayul," ketua suku menegurnya, tapi gadis itu bahkan tidak berpura-pura mendengarkan.

Juol memotong masuk lalu menambahkan beberapa penjelasan.

Sebagai contoh, bahwa beberapa suku kecil Narae, serta suku Maru dan Garam, telah diserang.

"Kedua raksasa terlalu kuat."

Bahwa ada dua raksasa yang kuat secara monster.

"Penyihir kepala ambruk saat mencoba memblokir kutukan dengan pembersihan. Ia mungkin tewas dari kutukan tersebut sekarang."

Di atas hal tersebut, penyihir kepala yang seharusnya melakukan pekerjaan baginya untuk menerima sihirnya—orang yang paling mahir dalam sihir, untuk mengutarakannya dalam bahasa Benua—telah ambruk.

Apakah ini nyata?

Rem bertanya-tanya untuk sekejap apakah apa yang telah dilakukannya bukanlah pembersihan melainkan membawa kemalangan, lalu membalas.

"Kedua raksasa bakal baik-baik saja."

Ia murni bisa membunuh bajingan-bajingan seperti itu.

Ia percaya diri ia punya kemampuan untuk hal tersebut.

"...Bahkan kau mungkin mendapati waktu yang sulit. Jika kau mempercayai sang Frokk yang datang bersamamu, aku harus mungkin memberitahumu hal itu takkan berhasil pula," ujar Juol.

Ketua suku melempar kayu bakar yang dipegangnya ke dalam api unggun.

Kayu bakar melawan kobaran api untuk sekejap sebelum terbakar.

Kobaran api di atas kayu membesar, dan api unggun meletup secara hebat.

Bayangan-bayangan merentang panjang melintasi langit-langit.

"Tak apa-apa, dua raksasa bukan apa-apa," ujar Rem kembali.

"Kedua orang tersebut adalah sebuah masalah, tapi ada banyak dari mereka."

"Berapa kali kau bertarung?"

"Dua kali."

Mereka telah kalah pada kedua kesempatan, dan gara-gara hal tersebut, mereka juga telah kehilangan jalan menuju tanah suci.

"Bahkan dengan roh-roh pelindung di punggung kalian?"

Rem bertanya pada Juol beberapa hal lagi soal kedua raksasa yang mengerikan.

Ia tak bisa menilai hanya dengan mendengar, tapi mereka kemungkinan bukan jenis yang bertarung seperti ksatria-ksatria.

Ia mendengar bahwa beberapa petarung mahir telah berhasil menahan mereka sebelum ambruk dari kutukan.

"Bagaimana soal orang-orang Benua di kota pionir?"

Ia bertanya karena ada orang-orang yang bilang mereka bakal membangun sebuah kota pionir di Barat.

"Mereka tak membantu. Mereka tidak kelihatan punya niat apa pun untuk terlibat pula."

Tanah-tanah Barat secara luas terbagi menjadi kota pionir dan tanah orang-orang asli.

Meskipun itu adalah sebuah kota pionir, tak ada tanah untuk digunakan bagi bertani, tapi ada lokasi-lokasi di mana Kekaisaran telah membangun beberapa pos terdepan.

Dan baru-baru ini, tak ada orang tersisa di kota pionir tersebut pula.

*'Apa itu?'*

Saat Rem mendengarkan, sesuatu terus mengganggu pikirannya.

Entah orang luar atau raksasa-raksasa, mereka hanya bergerak jika ada sesuatu untuk didapat.

Kenapa seseorang bekerja sepanjang hari dan tidak dibayar?

Jadi, pasti ada sesuatu yang mereka kejar.

Sebuah gambaran samar terbentuk di pikirannya.

Itu adalah sebuah gambaran yang dirasakannya hampir dipahaminya, tapi tak bisa dicengkeramnya sama sekali.

Yah, apa yang harus dilakukannya saat ini jelas.

Ia harus memukuli para raksasa.

"Aigo, pahlawan terbesar dari Barat telah menganugerahi kita dengan keberadaannya."

Kata-kata Ayul terus terdengar.

*'Lebih penting lagi, mungkin aku harus menenangkan hati Ayul terlebih dahulu.'*

Pada tingkat ini, sebuah kapak bakal melayang ke bagian belakang kepalanya.

Bagaimanapun juga, itu pasti bahwa ia harus banyak bertarung untuk membuat tanah ini agak normal kembali.

*'Kelihatan pembersihan memang nyata, bagaimanapun juga.'*

Jika tidak demikian, Ayul dan semua orang pasti sudah tewas saat ia tiba di sini.

Mendengar kata-kata ketua suku, ini bukan sekadar sebuah krisis, mereka berada di ambang keruntuhan.

*'Meski begitu, mereka kemungkinan bakal menanggapinya secara puas.'*

Akankah setidaknya sang ketua suku, Ayul, Juol, dan Hira melangkah maju?

Ia baru saja meminta Hira, sang peramal yang dilihatnya di jalan, untuk mengurusi Encrid.

*'Karena sang Kapten datang bersamaku pula.'*

Mereka takkan kalah dalam sebuah pertarungan.

Mereka takkan dipukuli oleh beberapa monster.

"Dua raksasa? Aku bisa mengurusi hal tersebut sendiri," ujar Rem kembali.

"Aku memberitahumu kembali, jika kau mempercayai sang Frokk tersebut, ubahlah pemikiranmu. Jujur saja, aku lebih suka kau tidak melangkah maju pula. Situasi ini bukan semacam dark sky."

Juol menghentikan Rem.

Ini adalah kata-kata dari pria yang mengetahui kemampuan Rem paling baik.

"Kenapa kau memberitahuku untuk tidak melangkah maju?" tanyanya, secara mendadak penasaran.

"Sebab jika kami kehilangan dirimu pula, tak ada harapan."

Itu adalah sebuah cerita yang muram.

Juol adalah seorang pria yang optimistis.

Bagi pria semacam itu untuk berbicara seperti ini, itu memperlihatkan betapa terpojoknya mereka.

"Bakal baik-baik saja. Kau pikir aku telah duduk-duduk tanpa melakukan apa pun sepanjang waktu ini?"

"Banyak yang telah jatuh pada kedua raksasa tersebut. Ayah Arae juga telah jatuh."

Alis Rem mengedut.

Arae dari suku Maru adalah temannya, dan ayahnya adalah sang guru yang telah mengajarkannya cara mengayunkan sebuah kapak.

Hingga ia pergi, ia juga merupakan satu-satunya lawan yang dengannya ia bisa punya sebuah pertarungan yang layak.

Dalam sebuah pertempuran hidup-atau-mati, haruskah seseorang mengutarakan bahwa tak seorang pun dari mereka bisa mengukur siapa yang bakal menang atau kalah?

"Ia bahkan tidak bertahan lama."

Atas kata-kata Juol, mata Rem berbalik pada sang ketua suku.

Ketua suku mengangguk sebagai balasan atas lirik yang bertanya apakah itu benar.

"Saat ini, kami tak punya cukup petarung. Kami tak bisa menyebar. Jika kami menyebar, semua orang bakal dijatuhkan. Tapi jika kami bertahan seperti ini, kami harus menahan kelaparan gara-gara ketiadaan makanan."

Ketua suku mengutarakan realitas dari situasi mereka.

Ia bukan seorang idiot pula.

Hanya saja ia tak punya tempat untuk mundur.

"Aku paham. Untuk saat ini..."

Rem mulai berbicara, lalu berhenti dan mendongak pada bayangan-bayangan di langit-langit yang diciptakan oleh api unggun yang berkedip-kedip.

Kemudian ia menyelesaikan apa yang diutarakannya.

"Mari kita pergi melihat apa yang terjadi dengan kutukan."

"Seolah-olah kau bahkan bisa menggunakan sihir."

Ayul mengatakan hal tersebut, tapi bergerak secara instan.

Meskipun kata-katanya berduri, Ayul juga merupakan seseorang yang bakal melakukan apa pun demi suku.

Gadis itu juga bakal mengetahui bahwa kedatangan Rem di saat seperti ini tak kurang dari sebuah keberuntungan.

Jika bukan karena hal tersebut, gadis itu mungkin sudah mengayunkan kapaknya hingga akhir yang pahit.

*'Apakah sebuah krisis adalah sebuah kesempatan?'* Rem berpikir.

Jika Ayul menahan amarahnya gara-gara situasi ini, maka mungkin demikian.

Setidaknya ia telah membelikan dirinya sendiri beberapa waktu untuk menjelaskan.

Rem mulai melangkah.

Ia ingin melihat mereka yang rusak oleh kutukan.

Mencengkeram situasi datang terlebih dahulu.

Di perjalanannya keluar dari tenda, ketua suku berbicara dari belakang.

"Ya, pergilah melihat terlebih dahulu. Dan sungguh, selamat datang kembali. Putra baruku."

'Putra baru' adalah istilah yang digunakan untuk menyapa suami dari seorang putri.

Ia adalah ayah Ayul, dan ayah semua orang.

Karena itulah ia adalah pria yang menjadi ketua suku.

"Aku agak terlambat."

Saat Rem membalas, Ayul menambahkan dari sisi samping.

"Sangat amat terlambat."

*Aku tahu, aku tahu secara sangat amat baik.*

Karena itulah ia tak punya apa pun untuk dikatakan.

Rem bergerak tanpa sebuah kata.

Ayul memimpin jalan, dan Juol mengikuti.

*'Situasinya kelihatan sangat, sangat, sangat buruk.'*

Rem, yang telah datang dari bagian luar, merasakan sensasi krisis yang lebih besar dibanding mereka yang terperangkap dan bertahan di bagian dalam.

Saat ia berjalan dan menata pikiran-pikirannya, ia mencapai kesimpulan bahwa bakal jadi hal yang tak mungkin untuk menghentikan kelompok raksasa oleh diri mereka sendiri.

Artinya, jika ia sendiri tidak berada di sini.

*'Seiring waktu berlalu, suku bakal melemah dari kutukan.'*

Jika mereka menyerang dengan para raksasa di garis depan setelah hal tersebut, memecah suku bakal lebih mudah dibanding memuntir pergelangan tangan seorang anak.

Yang dibutuhkannya hanyalah sebuah hati yang kejam.

Bagi seorang raksasa, dan seorang kanibal raksasa pada hal tersebut, menjadi kejam bakal jadi sebuah hal yang sangat amat mudah untuk dilakukan.

*'Tapi kenapa?'*

Jika tujuannya adalah untuk membuat orang-orang ini yang tak punya basis karena mereka utamanya adalah penggembala nomaden berkumpul bersama?

Jika hal itu sendiri adalah tujuannya?

Apa yang ada untuk diambil dari Barat?

Saat ia berpikir, Rem merasa seperti ia mengetahui apa yang diinginkan oleh musuh-musuh.

*'Orang-orang?'*

Orang-orang luar, raksasa-raksasa, sebuah kutukan.

Ketiganya bersama bisa membentuk sebuah gambaran tertentu.

Namun, masih ada terlalu sedikit informasi.

*'Ini membuat kepala pusing.'*

Sementara itu, Ayul melotot padanya dari waktu ke waktu juga mengganggu sarafnya.

Itu adalah saat mereka mencapai bagian depan dari sebuah tenda dari mana sebuah wewangian menyengat dan asap membumbung.

"Sebuah kea—bukan, sebuah mukjizat!"

Ia mendengar suara seseorang, berteriak dan terbata-bata gara-gara terkejut.

***

Encrid agak terkejut.

*Apa yang baru saja kulakukan?*

*Tidak ada.*

*Aku hanya memegang tangannya.*

Tapi mata seorang anak kecil meletup terbuka.

"Huh?"

Anak laki-laki itu membuka mulutnya lalu meletupkan sebuah pertanyaan satu kata.

Mata anak itu bersinar secara jernih seperti cahaya bintang.

"Siapa kau?" anak laki-laki itu bertanya.

Encrid menjawab, "Encrid. Panggil aku Enki. Mereka bilang namaku panjang dan sulit diucapkan."

"Ah, seorang orang luar," ujar anak laki-laki itu.

Ia melihat seorang wanita membakar tanaman obat di dekat sana, seorang wanita dengan nuansa beracun padanya.

Itu adalah wanita yang sama yang telah melintas di depan tiga anak perempuan saat ia pertama kali memasuki desa.

Mata wanita itu melebar.

Merek menjadi bulat gara-gara terkejut.

Jejak-jejak dari kutukan yang menyebar di sekujur tubuh anak laki-laki itu telah berhenti, dan anak itu telah membuka matanya, jadi bisa dipahami bahwa wanita itu bakal terkejut.

Wanita itu mengangkat kain yang menutupi anak itu untuk memeriksa tubuhnya, dan pandangannya berbalik pada Encrid.

"...Apa?" wanita itu bergumam.

Ia kelihatan cukup terkejut.

Rasanya seolah-olah ia bahkan tidak mengetahui apa yang sedang diutarakannya.

Sebuah momen keheningan berlalu.

Pandangan wanita yang secara aneh kosong menjadi jernih.

Pandangan wanita itu tidak meninggalkan anak tersebut.

"Ia makin membaik," Hira, yang berada di sampingnya, berkata.

Kedua anak kembar, yang tadinya duduk di satu sisi memijat betis-betis mereka dalam kelelahan, datang lebih dekat.

"Ini nyata," kedua orang tersebut berkata pada saat yang sama.

Hira begitu terkejut hingga ia berteriak, "Sebuah kea—bukan, sebuah mukjizat!"

Encrid mendapati kesulitan untuk mengikuti percakapan mereka.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.