Eternally Regressing Knight

Bab 551: Pedang Menahan Gelombang

1977 Kata

Bab 551: Pedang Menahan Gelombang

*Wosh!*

Sungai hitam, perahu penyeberangan kecil, lentera ungu, dan bahkan sang Ferryman (Penyeberang) yang duduk di atasnya.

Sudah lama sekali. Membuka matanya di dalam dunia mimpi dan gambaran ini.

Secara alami, tatapan Encrid mendarat pada sang Ferryman.

Tak seperti sebelumnya, sosok sang Ferryman lebih jernih dan terdefinisi.

Kulitnya, yang tersembunyi di balik jubah, retak dan kering ibarat tanah tandus, dan matanya yang keruh, tertutup lapisan-lapisan selaput, menatap ke arah Encrid.

"Apakah kau berharap aku lenyap karena kau belum melihatku untuk beberapa waktu? Hal itu takkan pernah terjadi. Kau, seorang manusia fana yang bermimpi tentang keabadian."

Encrid bersandar pada pagar perahu, menatap secara langsung ke arah sang Ferryman yang sudah begitu lama tak ditemuinya.

Tak ada kursi hari ini.

"Kau bisa memiliki takhta hanya murni dengan membunuh satu orang, namun kau tak merasa tergiur?"

Apakah karena mereka belum bertemu untuk beberapa waktu?

Atau apakah sang Ferryman telah memutuskan untuk mengubah pendekatannya?

Alih-alih peringatan biasanya untuk berhenti, ia sedang mencoba memprovokasi hasrat-hasrat manusiawi bawaan Encrid.

"Jika kau membunuhnya, kau sanggup menjadi sang raja. Kerusakan pada Will milikmu? Hal itu bisa disembuhkan. Will milikmu cukup kuat hingga takkan masalah bahkan jika rusak sedikit."

Encrid secara insting tahu kata-kata sang Ferryman itu salah. Will tidak bekerja dengan cara seperti itu.

Jika Encrid bertindak seperti yang disarankan sang Ferryman, Will milik-Nya yang tak kunjung padam, yang dipanggilnya Usque, mungkin bakal lenyap.

Tentu saja, hal itu bisa saja tidak lenyap juga. Kenyataannya adalah tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Jika sebuah kesalahan tunggal sanggup menghapus sebuah Will, maka Ksatria Corwin dari Azpen seharusnya telah kehilangan Will miliknya saat ia melarikan diri, namun hal itu tak terjadi juga.

Encrid memiliki banyak pemikiran tentang kata-kata sang Ferryman, namun ia tak berdebat atau mempertanyakannya.

"Sebuah momen akan datang saat sebuah 'hari ini' yang sempurna sangat dibutuhkan."

Mungkin ini adalah poin sejati sang Ferryman. Suaranya yang acuh tak acuh mencapai telinga Encrid.

Atau lebih tepatnya, ini adalah dunia gambaran, jadi mungkin bakal lebih baik untuk berucap suaranya bergema secara langsung di dalam pikirannya?

Bagaimanapun juga, hal itu terasa berbeda dari saat sang Ferryman telah memperingatkan tentang sebuah kutukan yang akan datang.

Ia tidak mengucapkannya karena sesuatu sedang terjadi sekarang, namun ibarat keniscayaan terbitnya matahari esok pagi, ia murni menyatakan apa yang akan terjadi.

Encrid mengangkat kepalanya, yang tadinya separuh tertunduk.

Ia merasa seperti pernah ada momen yang mirip seperti ini sebelumnya, namun ia tak peduli lalu membuka mulutnya untuk berbicara.

"Bukan Pedang Gelombang (Wave Sword), melainkan Pedang Menahan Gelombang (Wave-Blocking Sword), begitulah seharusnya hal ini dinamai."

Sang Ferryman tidak tertangkap tak siap seperti sebelumnya. Ia sudah tahu pikiran pria ini sedang melayang kemana-mana.

"Sebilah pedang yang menahan gelombang alih-alih pedang yang melonjak bak gelombang?"

Ia secara terampil menanggapi kata-kata Encrid lalu menambahkan sebuah komentar tentang ilmu pedang.

"Ya."

"Jika kau hanya akan menahan, bukankah bakal lebih baik untuk membawa sebuah perisai?"

Ya, sang Ferryman benar. Itulah rasa cemas yang tersisa di dalam pikiran Encrid hingga tepat sebelum ia tertidur semalam.

Saat ia mencoba membentuk ilmu pedangnya, hal itu berakhir menjadi sebilah pedang yang menahan gelombang alih-alih pedang yang melonjak bak gelombang. Bukankah bakal lebih baik memakai sebuah perisai untuk hal tersebut?

Tidak, hal itu tidak sepenuhnya benar. Encrid sudah memiliki sebuah teknik yang tidak seperti itu.

Itu adalah sebuah teknik yang dipanggil Pedang Ular (Snake Sword). Teknik itu tak sekadar menangkis namun membalas dan mengembalikan kekuatan.

Maka, bagaimana jika itu bukan sebuah perisai melainkan sebuah teknik pedang yang mentransmisikan gaya reaktif?

Jika ia mengasah dan memurnikannya ibarat sebuah cermin yang memantulkan sinar matahari, hal itu mungkin bakal menjadi berguna.

Sebuah cermin tidak menahan cahaya, ia memantulkannya.

Alih-alih berdiri kokoh menahan gelombang yang melonjak, ia mendorong maju sembari menahan dan lalu menghantam.

Sesuatu yang abstrak mulai terbentuk di dalam pikirannya.

Ia merasa jika ia bergerak dan berlatih, hal itu mungkin bakal menjadi sesuatu.

"Apakah kau tidak lelah soal hal itu?" tanya sang Ferryman.

Encrid hanya menatapnya secara kosong seolah-olah bertanya, *lelah tentang apa?*

"Lelah? Tentang apa?"

"Lupakan. Pergilah."

Nada sang Ferryman secara halus bergeser, namun itu adalah akhir dari hal tersebut.

Ia menambahkan satu kalimat lagi, namun hal itu sama seperti biasanya.

* * *

Encrid terbangun dari mimpi, atau dunia gambaran tersebut, lalu melangkah turun dari tempat tidur.

Ia membuat beberapa suara, dan meskipun hari masih fajar awal, ia bisa mendengar seorang pelayan di luar pintu berucap,

"Anda sudah terbangun, Tuan."

*'Aku merasa ringan.'*

Kondisinya sangat bagus. Pada kenyataannya, ia tak merasa buruk belakangan ini, namun hari ini ia merasa secara khusus sangat bagus.

Apakah hal itu karena mimpi tersebut, hasil dari perenungannya semalam, atau mungkin sedikit pertimbangan dari sang Ferryman?

Tepat sebelum terbangun, sang Ferryman telah berucap bahwa jenis hari apa pun itu, ia harus tetap berada di dalamnya dan tak bisa melarikan diri dari takdir. Encrid mengabaikan dan melupakannya secara bersih.

Jika ia menanggapi kata-kata semacam itu secara serius, ia takkan sanggup melakukan apa yang perlu dilakukannya.

"Aku akan membawa air untuk basuhan."

Pelayan di depan berbicara.

Encrid secara ringan menggerakkan leher dan pergelangan tangannya lalu menggelengkan kepala.

"Nanti."

Dengan itu, ia secara langsung melangkah ke luar. Ada sebuah arena latihan di dalam Istana Kerajaan. Bukankah itu adalah tempat yang hanya dipakai oleh para Ksatria sejati yang tinggal di istana atau para anggota Keluarga Kerajaan?

Krang pernah memanggilnya sebagai sebuah kegilaan inovatif lalu merenovasi semuanya.

Sekarang, tempat itu adalah sebuah area di mana siapa pun yang ingin berkeringat bisa berkumpul.

Jika pernah ada hal seperti biru jernih atau kegelapan yang binar, ia bakal menggambarkan momen ini memakai kata-kata tersebut.

Itu adalah waktu yang diselimuti oleh cahaya kebiruan yang menyiratkan kedatangan fajar sembari dikelilingi oleh udara segar yang mengumumkan kedatangan musim gugur.

*Wosh!*

Sebelum arena latihan terlihat oleh mata, telinganya terlebih dahulu memberi tahu bahwa seseorang sudah berada di dalam.

Arena latihan bersama, yang dulunya milik Keluarga Kerajaan, adalah sebuah ruang yang dikelilingi oleh dinding batu kecil.

Ada beberapa rumput yang tumbuh di kedua sisi, dan tanahnya berupa tanah lunak, usai batu-batu disaring keluar.

"Apakah tak ada hal lain untuk dilakukan, atau apakah Krona memiliki terlampau banyak waktu luang? Apakah masuk akal membangun sebuah arena latihan lalu membiarkannya tak dipakai?"

Keluhan santai Krang dari perjalanan mereka ke dan dari Azpen bergema di dalam pikirannya.

Seseorang di dalam arena latihan sedang memanaskan pagi musim gugur yang sejuk.

Encrid bahkan tak meletakkan tangannya di atas dinding batu saat ia mendorong dari tanah lalu melompati dinding tersebut. Sosok yang mengayunkan pedang kayu latihan yang berat memalingkan kepalanya.

"Rearban."

Encrid menyapa lebih dulu. Itu adalah seorang kenalan lama.

Rearban, yang basah kuyup oleh keringat, menatap ke arahnya, dan Encrid berbicara out of habit.

"Latihan tanding?"

Sebuah senyuman muncul di paras Rearban.

"Dengan senang hati."

menyaksikan seseorang yang tak pernah berhenti mendorong maju adalah hal yang menyenangkan. Begitulah apa yang dirasakan Encrid. Menyaksikan Rearban sekarang membuatnya berpikir demikian.

Mungkinkah ini ulah sang Ferryman?

Apakah kata-kata sang Ferryman semalam dimaksudkan sebagai nasehat atau bantuan? Mengapa? Apakah menyenangkan menyaksikannya? Sang Ferryman itu?

Hal itu tampaknya tidak mungkin. Pada akhirnya, ia telah mengucapkan sesuatu yang mirip sebuah kutukan seperti biasanya.

Itu bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan saat ini.

Encrid memungut sebilah pedang kayu dari deretan yang tergeletak di samping.

Rearban, yang tadinya mengayunkan pemukul batu untuk latihan, meletakkannya lalu berganti ke pedang kayu, mengayunkannya beberapa kali di udara.

"Bangun awal?"

"Aku tidak tidur. Datang langsung usai giliran tugasku."

"Begitu ya."

Jujur saja, ia tidak penasaran.

Encrid menggenggam pedangnya lalu menghadapinya. Ia bakal menyelaraskan kekuatan dan kecepatannya pada musuhnya. Sebaliknya, ia bakal berfokus pada menerima dan membalas pedang musuhnya.

Pedang Rearban menghantam lurus ke bawah. Ia kemungkinan besar memiliki setidaknya satu teknik yang dipercayainya.

Ini dia. Sebuah pedang yang ditusukkan ke bawah memakai gerakan persiapan minimal, mereduksi jalur secara keseluruhan.

Tentu saja, hal itu tak menimbulkan ancaman bagi Encrid.

*Plak!*

Momen saat pedang kayu berbenturan, Rearban mengerutkan dahi.

*'Huh?’*

Ia telah mengayunkan memakai kekuatan, namun ia bukan seseorang yang baru dalam menangani sebilah pedang.

Namun apa-apaan ini?

Dampak yang tidak diduga membuat pergelangan tangannya ngilu bergetar. Rasanya seperti ia telah menghantam sebingkah batu karang padat memakai pedangnya.

*'Tidak, lebih mirip sebingkah besi.’*

Rasanya bahkan lebih keras ketimbang hal itu.

Ia pernah berlatih memotong menembus baja beberapa kali dan tahu kekerasannya dengan cukup baik.

Ia mengayunkan lagi, dan pedang-pedang kayu berbenturan memakai bunyi *'plak'* saat mereka saling bergesekan melintas.

Rearban mengambil langkah cepat ke samping lalu mengayunkan untuk memukul dan mundur.

Namun,

*Dengg...*

Pergelangan tangannya ngilu dan gemetar. Pedangnya hanya sekadar bergesekan bersama pedang lawan.

"Hal ini bekerja."

Sang Ksatria sejati bermata biru berucap dari tepat di hadapannya. Mereka berada dalam jarak jangkauan tebasan. Jika ini adalah pertempuran sejati, sebuah tusukan sederhana bermakna kematian bagi Rearban.

Pria bermata biru tersebut, Encrid, memutarkan pedang kayu di udara beberapa kali alih-alih menusuk leher Rearban.

"Namun senjata ini takkan bertahan."

Pedang kayu tersebut meliuk dan retak di tengah. Pada tingkat ini, pedang itu bakal patah tanpa menggunakan teknik mewah apa pun.

"Teknik apa ini?!"

Rearban tak pernah mengalami teknik Ksatria sejati semacam itu sebelumnya. Secara alami, ia menilainya sangat menakjubkan.

Bahkan Rem pun bakal menilainya sangat menakjubkan.

"Pedang Menahan Gelombang (Wave-Blocking Sword)."

Hal itu dinamai pedang yang menahan gelombang, namun pada kenyataannya, itu adalah sebuah teknik yang menyerap kekuatan musuh lalu mengembalikannya sebagai sebuah dampak balasan.

Haruskah hal ini dinamai satu tingkat di atas Pedang Ular (Snake Sword)?

Pedang Ular tidak menggunakan Will, namun yang satu ini menggunakan Will yang tak kunjung padam sebagai senjata untuk bertempur.

Namun, bahkan jika Ragna mencoba menirunya, hal itu bukanlah sebuah teknik yang bakal digunakannya.

Teknik tersebut terlampau tidak efisien.

Teknik itu meletupkan Will secara paksa untuk memelintir sudut pergelangan tangan musuh.

Teknik itu menggunakan tiga elemen: teknik, timing, dan kekuatan.

Bukankah sebilah pedang bergetar bakal lebih bagus untuk hal ini?

Rem mengingat kembali mendengar bahwa Encrid telah menghancurkan pedang bergetar yang dipakai oleh Ksatria Azpen menggunakan Pedang Menjerat (Trapping Sword).

*'Tidak, bukan begitu.’*

Getaran-getaran bisa ditangkis memakai sedikit keahlian, namun teknik Encrid saat ini bakal berevolusi dan beradaptasi pada musuh.

Yang bermakna milik Encrid jauh lebih berbahaya.

*'Maka, haruskah aku bertempur tanpa mentrokkan senjata? Apakah hal itu bahkan mungkin? Haruskah aku memanggil seekor serigala awan dari kejauhan memakai sihir?’*

Jika seseorang terus menggunakan serigala awan menentangnya, ia bakal mengutuk orang itu, berlari lurus ke arah sang penyihir, lalu menghajarnya.

Ia bakal mengabaikan serangan sang serigala lalu mengincar sang penyihir.

Encrid kemungkinan besar bakal melakukan hal yang sama.

Memperhitungkan semuanya, satu-satunya hal yang bisa diucapkan Rem adalah bahwa teknik itu tidak buruk.

"Kau tak memperlihatkan keraguan dalam mendorong maju, Saudara."

Audin juga menimpali.

Tak ada hal lain yang benar-benar harus dilakukan sekarang. Usai menghadiri perjamuan, mereka bakal kembali.

Perjamuan istana tanpa ragu bakal sangat megah, namun mereka tak benar-benar tertarik. Krais bakal menyukainya.

Jika Encrid menyukai hal-hal semacam itu, ia pasti telah menghabiskan waktunya melayani siang dan malam sebagai Ksatria pengawal bagi para wanita bangsawan yang terus menawarkan diri untuk menempel di sisinya.

Karena ia tidak seperti itu, ia berada di sini sekarang.

Sebelum malam tiba, seorang pelayan datang dan mengantarkan pakaian yang dijahit khusus untuk mereka bertiga.

Audin merenung sejenak sebelum berpakaian.

Mereka semua mengenakan pakaian formal: Encrid mengenakan rompi beludru ungu, Audin mengenakan jas biru muda yang hanya panjang hingga pinggangnya, dan Rem mengenakan rompi abu-abu.

Setelan formal cenderung semuanya tampak sama.

Namun menyaksikan mereka berpakaian rapi, mereka memang tampak tampan.

Bahkan usai para pelayan menghabiskan berjam-jam merapikan rambut dan penampilan mereka, tak satu pun dari mereka memperlihatkan tanda-tanda jengkel, yang dinilai Encrid lebih mengejutkan daripada hal lainnya.

Tepat sebelum mereka bertiga melangkah ke dalam aula perjamuan istana malam itu.

"Apakah kita benar-benar mengumumkannya seperti ini?"

Pelayan yang berdiri di hadapan mereka bertiga menggigit bibirnya lalu bertanya pada atasannya, dan lalu, memakai pandangan bertekad, berteriak nyaring.

"Ordo Ksatria Orang-Orang Gila (Mad Knights) telah tiba!"

Gumaman bising dari orang-orang yang memenuhi aula perjamuan mendadak terhenti seketika saat mereka memalingkan tatapan mereka.

Puluhan, ratusan mata berfokus pada ketiga orang yang telah melangkah masuk.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.