Eternally Regressing Knight

Bab 562: Utusan Kekaisaran dan Pertanyaan Sang Komandan

2174 Kata

Bab 562: Utusan Kekaisaran dan Pertanyaan Sang Komandan

Wajah Bianca Conti menyiratkan kejengkelan yang amat sangat.

Ia sudah datang tanpa janji temu terlebih dahulu, tetapi ia tetap menjaga kesopanan dan rela menunggu berhari-hari di dalam kota demi dipanggil beratap muka.

Namun, orang yang hendak dijumpainya malah mengabaikannya begitu saja dan menghilang tanpa bekas.

Sekiranya pria itu terang-terangan menyatakan bahwa ia menaruh dendam pada Kekaisaran, Bianca masih bisa memahaminya.

Tetapi main kabur begitu saja?

Ini benar-benar pengalaman pertama baginya.

"Saya memohon maaf. Jenderal kami sedang menjalankan misi di luar."

"Bukankah kemarin Anda bilang dia masih ada di sini?"

Pria bermata lebar dengan rambut cokelat menghela napas pelan sambil menggelengkan kepala ringan.

Gerakannya teramat alami, seolah ia sendiri tak menyangka situasi akan menjadi seperti ini dan seolah ia pun ikut menjadi korban ketidaktahuan.

Sebagai seorang bangsawan sekaligus mediator berpengaruh dari Kekaisaran, Bianca Conti sudah terbiasa berhadapan dengan orang-orang bermuka dua. Namun, sudah sekian lama ia tidak menemui seseorang yang mampu menyembunyikan niat aslinya secara sempurna seperti pria di hadapannya saat ini.

Jika hanya menilai dari tutur katanya, pria ini seolah benar-benar terseret dalam situasi sulit secara tidak adil.

"Yah, beliau memang bukan tipe orang yang rajin melaporkan keluar-masuknya sendiri. Anda mungkin sudah bisa menebaknya hanya dengan mendengar namanya, beliau memang agak... sedikit unik."

Krais menekuk jari telunjuknya lalu mengetuk sisi kepalanya pelan.

Krais paham betul tak ada kemungkinannya Encrid mau menghabiskan waktu berharganya untuk mengobrolkan urusan perjodohan dengan utusan Kekaisaran.

Sebab itulah, mengungkapkan sedikit kebenaran—bahwa sang Jenderal memang agak di luar nalar—rasanya bukan masalah besar.

Meski begitu, Bianca tak memperlihatkan kekesalannya. Dalam situasi apa pun, membiarkan emosi meluap lebih dulu adalah pertanda kelemahan.

Ia mungkin tidak mendominasi panggung sosial Kekaisaran, tetapi ia sudah lama bergerak di balik layar sebagai penengah dan perantara kekuasaan.

Ia bukanlah sosok yang mudah terkecoh oleh gertakan semacam itu.

'Omong kosong macam apa ini.'

Sikap dan penampilan pria tampan yang memperkenalkan diri sebagai Krais ini benar-benar tanpa cela, sampai-sampai Bianca bisa membayangkan pria ini berdiri di atas panggung megah Kekaisaran.

Namun, Bianca tidak berfokus pada kata-kata atau tindakan Krais, melainkan pada inti situasi yang dihadapi.

'Padahal sudah dikirimi pesan untuk bertemu, dia malah menghindar dengan alasan sibuk, lalu mendadak pergi menjalankan misi?'

Pria itu jelas-jelas sengaja menghindarinya.

Namun, apa alasannya?

Apakah karena ia berasal dari Kekaisaran? Apakah status Kekaisaran memberi tekanan terlalu besar?

Jika memang demikian, Bianca cukup mengubah sudut pandang pendekatannya.

Lagipula, Bianca datang ke sini bukan atas perintah siapa pun.

Ia hanya meyakini bahwa sosok yang sedang menjadi buah bibir di dekat perbatasan Kekaisaran ini bakal menjadi salah satu pencapaian terbesarnya.

"Aku akan menunggu."

Kling.

Denting cangkir teh yang bersentuhan dengan meja kayu keras bergema di dalam ruangan.

Bianca yakin, asal ia diberi kesempatan berbincang langsung, ia bisa dengan mudah memikat hati pria yang menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk mengayunkan pedang.

Pria-pria semacam itu mungkin teramat hebat dalam latihan dan pertarungan, tetapi mereka biasanya buta jika menyangkut kekuasaan atau keuntungan yang bisa dipetik.

Tak ada beruang yang menolak manisnya madu.

Tak ada pedagang yang membenci kepingan emas.

Dan tak ada pria yang tidak menyukai wanita.

Itulah keyakinan yang dipegang teguh oleh Bianca.

Tentu saja selalu ada orang-orang dengan selera menyimpang, tetapi ia paham betul jarang sekali ada pria yang melenceng dari perkiraannya.

Ia tentu tahu soal keberadaan Black Flower dan Golden Witch.

Namun, tawaran yang dibawanya bukanlah sekadar pernikahan biasa.

"Anda tentu boleh menunggu, tetapi benteng kami saat ini masih dalam tahap pembangunan, jadi tidak banyak tempat layak yang bisa disediakan..." Krais menggantung kalimatnya dengan raut serba salah.

Lewat sorot matanya yang meredup pelan, Krais menyampaikan bahwa meski kehadiran sang utusan adalah sebuah kehormatan, situasi perbatasan saat ini sungguh kurang mendukung.

Ekspresi dan gestur tubuhnya benar-benar luar biasa.

"Tak perlu cemaskan hal itu."

Bianca berpikir ia bisa menginap di kedai penginapan biasa di dalam kota.

Krais melirik sebentar ke arah Bianca dan pria yang mengawalnya.

Di belakang Krais sendiri, Nurat dan Luagarne berdiri siaga menjaga keamanan.

'Kekaisaran, ya.'

Sangat sulit mengumpulkan informasi mengenai apa yang terjadi di dalam wilayah Kekaisaran dari perbatasan ini.

Meski Bianca Conti bergelar Countess dari Kekaisaran, wanita ini tidak menetap di Ibu Kota maupun kota inti Kekaisaran.

Pegunungan Gigante—yang jauh lebih megah dari Pen-Hanil Mountains dan kerap dijuluki 'benteng buatan para dewa'—membentang gagah memisahkan Kekaisaran dan Kerajaan.

Pegunungan raksasa itu menahan angin dan awan, hingga memengaruhi iklim di sekitarnya.

Dalam mitologi kuno disebutkan bahwa salah satu dewa purba membentuk pegunungan ini dan menaruhnya di atas bumi, membuat hujan hanya mencurah di satu sisi sementara sisi lainnya meretas gersang.

Pada kenyataannya, ketika angin berembus melintasi pegunungan, uap air seharusnya terbawa ke sisi sebelah. Namun dinding pegunungan yang teramat tinggi menahan pergerakan awan.

Pikiran Krais sempat melayang sebentar mengingat mitos tersebut sebelum kembali fokus pada kenyataan.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Krais pelan. Ia bukan mempertanyakan apakah wanita itu utusan resmi atau sekadar nyonya besar Kekaisaran, melainkan hal lain yang lebih penting.

"Wanita itu tidak menunjukkan tanda-tanda latihan fisik yang berarti, dan pengawalnya berada di tingkatan Junior-Knight," jawab Nurat.

"Aku setuju. Pengawalnya ada lima orang, dan aku sudah mengamati mereka. Semuanya berada di tingkatan yang setara—baik keahlian maupun temperamen mereka," timpal Luagarne.

"Temperamen mereka?"

"Jelas sekali mereka semua dilatih oleh orang yang sama. Mereka menghabiskan waktu lama menempa ilmu bela diri yang serupa," jelas Luagarne mendalam.

Krais memang berlatih cukup keras untuk melindungi dirinya sendiri, tetapi ia jelas belum mencapai tingkatan Junior-Knight.

Sejujurnya, jika melihat orang-orang yang berkumpul di sekitar Encrid belakangan ini, Krais merasa kepalanya bisa saja dipugar hanya dalam satu tebasan.

Bukan berarti ia berniat menempatkan dirinya dalam bahaya semacam itu.

Usai berucap, Luagarne mengembungkan pipinya dan mengedipkan mata beberapa kali.

Ia diminta menjaga dan mengamati, tetapi Will yang tertempa rapi dari para pengawal itu sempat membuat pengamatannya ragu.

Tentu saja ia bertahan di sini karena tertarik pada sosok Encrid, bukan karena terpesona oleh para pengawal Kekaisaran.

"Aku menduga..." Luagarne sengaja jeda sejenak untuk menarik napas.

Seorang pelayan mengintip dari balik pintu menunggu instruksi Krais, tetapi Krais memberi isyarat agar pelayan itu menunggu.

"Jika ada seseorang yang berhasil menyusun metode penguasaan Will secara terstruktur dan merancang latihan berdasarkan metode tersebut..."

"Lalu jika memang begitu?" Krais menyimak dengan penuh perhatian.

Luagarne pun menuntaskan pikirannya. "Orang-orang seperti mereka akan terus berdatangan dalam jumlah banyak."

Kekaisaran bukan sekadar negara besar, melainkan satu-satunya wilayah di benua ini yang dipimpin oleh seorang Kaisar.

Kenapa Kekaisaran begitu kuat?

Ada banyak sekali alasannya, dan Krais merasa baru saja mengintip salah satu jawabannya.

Fakta bahwa mereka bisa mengerahkan lima Junior-Knight hanya sebagai pengawal pribadi seorang Countess membuktikan betapa mengerikannya fondasi Kekaisaran.

Ini bahkan bukan kunjungan resmi Kekaisaran, melainkan sekadar niat pribadi seorang wanita bangsawan.

Karena bukan kunjungan resmi, para pengawal itu jelas bukan Junior-Knight yang terikat langsung pada pasukan Kekaisaran.

Lantas dari mana asal mereka?

Tak mungkin mereka sekadar tentara bayaran. Kesimpulannya, mereka adalah bagian dari unit pasukan yang bermarkas di kota dekat perbatasan Kerajaan.

Bahkan di Kekaisaran sekalipun, Junior-Knight tak mungkin cuma dijadikan penjaga pintu kedai judi.

Hanya dari satu mediator ini saja, Krais sudah memetik banyak wawasan berharga.

Dan sang utusan bahkan tak berniat menyembunyikannya. Para pengawalnya memamerkan keahlian dan identitas mereka secara terbuka.

Kekuatan militer Kekaisaran yang sebenarnya pasti jauh lebih dahsyat dari ini.

Sensasi dingin mendadak merayapi punggung Krais. Keringat dingin nyaris menetes saat ia merasakan nyalinya menciut.

Krais menarik napas dalam-dalam lalu menenangkan pikirannya.

Ia tidak boleh biarkan dirinya gentar.

Suatu hari nanti, sebuah kota megah bakal berdiri di perbatasan antara Kekaisaran dan Kerajaan, lengkap dengan bangunan melingkar di atas tembok benteng yang memancarkan cahaya terang.

Kota impian penuh kesenangan sedang menunggunya, jadi bagaimana mungkin ia membiarkan rasa takut menguasai diri?

Setelah kepergian sang Countess, giliran pedagang dari Selatan yang datang berkunjung.

Kerajaan Besar Selatan, Rihinstetten, secara resmi merupakan musuh bebuyutan bagi Kerajaan Naurillia.

Krais tak bisa menahan diri untuk tidak membatin betapa banyaknya musuh yang dimiliki Kerajaan ini.

Namun hal itu wajar saja. Negara mana pun yang berniat memperluas wilayah dan pengaruh pasti membutuhkan pijakan kuat, dan tanah Naurillia teramat subur serta terletak tepat di jantung benua.

Jika dikenang kembali, sungguh ajaib Kerajaan ini belum runtuh setelah melewati berbagai cobaan berat.

Mulai dari masa lalu kelam ketika Demon Realm merajalela dan monster berhamburan di mana-mana, hingga pemberontakan Count Molsen yang baru saja berlalu.

Bahkan setelah pertempuran berdarah di sepanjang perbatasan selatan, Kerajaan ini masih sanggup berdiri kokoh.

Pedagang selatan yang datang berikutnya berkali-kali ngoceh soal banyak hal, tetapi inti ulasannya sederhana: jika Encrid bersedia datang ke Kerajaan Besar Selatan, ia bisa menikahi sang putri raja.

"Apa kau pernah melihat paras Black Flower?" cetus Krais asal menolak tawaran tersebut.

Krais menjelaskan bahwa Encrid teramat pemilih soal rupa wanita, dan akan sulit jika sang putri tak lebih cantik dari Black Flower.

Krais tak peduli jika hal ini memicu kesalahpahaman.

Karena Encrid menyerahkan seluruh urusan ini padanya, sudah menjadi tugasnya mencari alasan penolakan yang telak.

Percakapan itu berlangsung singkat, tetapi rupanya memicu desas-desus kecil di luar.

"Jadi, dia ternyata pria normal juga ya?"

"Kudengar dia teramat pemilih soal rupa wanita?"

Pedagang selatan itu memang memiliki lidah yang lemas, dan ia memanfaatkannya tanpa saringan.

Sementara itu, Encrid sedang menatap langit malam, menikmati sejuknya udara musim gugur sambil hanyut dalam renungan.

* * *

Jika sebuah Knight order hendak didirikan, maka anggotanya harus segera diisi.

Namun, mungkinkah hanya dengan memberi perintah kaku orang-orang bakal langsung bergabung?

Tentu saja tidak.

Setiap orang memiliki keinginan sendiri, tekad masing-masing, serta hal-hal yang berniat mereka raih.

Seseorang tak bisa memaksa orang lain untuk menetap.

Jika ada yang mencoba memaksa Encrid, apakah ia bakal menerimanya?

Sama sekali tidak.

Sebab itulah hal yang sama berlaku bagi orang-orang di bawah komandonya.

Di Ibu Kota Naurillia, ada banyak desas-desus gaduh mengenai apakah seluruh anggotanya harus diangkat menjadi Knight atau tidak.

Padahal sejak awal Encrid bahkan belum pernah menyuruh mereka semua untuk bergabung ke dalam Knight order.

Konyol rasanya melihat orang-orang yang tak tahu apa-apa malah mengambil kesimpulan sendiri.

Bukan berarti Encrid peduli pada gunjingan mereka.

Dengan pemikiran tersebut, Encrid mengajukan pertanyaan kepada para bawahannya satu per satu.

"Rem, apa yang sebenarnya ingin kau lakukan?"

Sebelum berangkat menjalankan tugas penyelamatan saintess, Encrid menemui para petarung yang sudah bersamanya selama ini dalam sebuah sesi perbincangan mendalam.

"Aku akan menyuruh mereka berlari sambil memegang ini," sahut Rem lugas.

Terhadap pertanyaan umum yang diajukan Encrid, Rem memberikan jawaban yang sangat spesifik.

"Benda apa itu?" tanya Encrid heran.

Benda itu berada tepat di depan matanya, jadi wajar saja jika Encrid bertanya.

Rem sedang memegang sebuah alat menyerupai kapak, tetapi bagian ujungnya sama sekali tidak tajam dan titik tumpu beratnya terasa agak janggal—sebuah kapak khusus latihan.

Alih-alih memiliki mata bilah, ada bongkahan besi tebal di bagian kepala kapak, bahkan gagangnya pun terbuat dari logam padat murni.

Saat Encrid mengangkatnya, beratnya memang masih sanggup ia tanggung, tetapi bobot benda ini jelas tidak main-main.

Benda ini mungkin bisa dipakai untuk menempa otot lengan, tetapi keseimbangannya terlalu timpang jika sekadar untuk itu.

Apakah berlari sambil membawa benda berat ini bakal menjadi latihan yang efektif?

Hmm, mungkin saja.

Encrid teringat tebasan kapak tanpa tolakan milik Rem, dasar dari teknik tersebut adalah kemampuan mengendalikan seluruh bobot kapak hanya dengan mengandalkan kekuatan murni.

Tak semua tebasan harus tanpa tolakan, tetapi bisa melakukannya satu atau dua kali saja dalam pertarungan sungguhan sudah cukup untuk menyelamatkan nyawa.

Jika seluruh prajurit sanggup mempelajari cara menebas seperti itu...

Memang dibutuhkan bakat dan kerja keras luar biasa, tetapi jika mereka mampu menguasainya, unit pasukan milik Rem bakal menjadi kelompok yang sangat mengerikan.

"Boleh juga," puji Encrid singkat.

Encrid memikirkan latihannya sendiri, apa yang ingin dilakukan Rem, serta apa yang bakal terjadi di masa depan.

Ucapannya memang singkat, tetapi ada selipan kekaguman di dalamnya.

Rem ternyata jauh lebih serius menyikapi latihan dari yang dibayangkan, dan metode ini bakal memberi manfaat besar bagi semua orang. Ini jelas bukan sesuatu yang dipikirkan Rem secara asal-asalan.

Ini adalah bentuk pendekatan latihan yang teramat matang.

Encrid bahkan berpikir mungkin ada baiknya ia menerapkan latihan serupa untuk dirinya sendiri di masa mendatang.

Tentu saja, sekiranya para anak buah Rem mendengar pemikiran ini, mereka pasti bakal memaki Encrid sebagai iblis tanpa jiwa sambil mengayunkan kapak, tak peduli betapa besarnya rasa hormat mereka pada sang Knight of the Iron Wall.

Mengalihkan perhatiannya dari alat latihan tersebut, Encrid kembali bertanya.

"Apa semuanya berakhir jika Demon Realm sudah lenyap?"

Di wilayah Barat, berdiri Demon Realm of Silence, dan Rem sangat berniat menghapusnya dari muka bumi.

Namun, apakah hanya itu yang ia inginkan?

Apakah Rem benar-benar bakal puas hanya dengan pencapaian tersebut?

Apakah Rem sungguh-sungguh ingin menjadi bagian dari Knight order?

"Apa sebenarnya yang ingin kau katakan?" Rem memiringkan kepalanya bingung. Encrid kerap kali mengucapkan hal-hal yang agak aneh, dan kali ini pun tidak ada bedanya.

Inti pemikiran Encrid sederhana: Knight order memang sudah dibentuk dan ada tempat khusus bagi Rem di dalamnya, tetapi jika Rem memiliki impian lain yang sungguh-sungguh ingin dipenuhinya, ia bebas pergi kapan saja.

"Omong kosong apa yang kaubicara? Bukankah aku ini Wakil Komandan?" tanya Rem heran.

Encrid merenung sejenak sebelum akhirnya memberikan jawaban pasti.

"Tidak ada jabatan Wakil Komandan."

Tak ada tingkatan lain selain Komandan. Hal itu tak bisa dihindari.

Encrid tak ingin menciptakan posisi yang kelak bisa memicu benih perselisihan atau perpecahan di antara mereka.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.