Bab 582

Encrid menganggap Order memang salah. Dia juga tidak peduli seandainya mereka memilih berhadapan dengannya hanya karena tidak mau mengakui kesalahan sendiri. Namun, semuanya tidak berjalan sesuai dugaan.

Lebih tepatnya, biarawan bermata satu yang menyelamatkan Seiki tidak membiarkannya begitu saja.

"Mulai hari ini, aku yang bakal bertanggung jawab atas biara ini."

Encrid telah menyelamatkan sang biarawan sekaligus membebaskan anak yang terkurung di bawah tanah. Namun anak itu, yang sudah hidup dalam penyekapan sejak kecil, justru tampak lebih ketakutan melihat situasi saat ini.

Di tengah kerumunan, anak itu tidak sanggup bersuara. Dia hanya menatap Encrid dan kawan-kawannya dengan mata gemetar.

Bagi siapa pun, sudah jelas bahwa rombongan Encrid-lah yang mengendalikan situasi melalui kekuatan fisik.

Bahkan Encrid tidak bisa mengubah kenyataan itu. Namun, apakah Sinar bakal menghibur anak itu? Seiki juga berada di posisi yang sama.

Anak itu hanya mau menempel pada sang biarawan bermata satu.

Tampaknya biarawan itu tetap merawatnya selama mereka dikurung.

Seorang wanita lain yang ikut menyelamatkan Seiki sempat pingsan dan belum sadarkan diri. Meski tidak disiksa, hukuman penyesalan yang dia jalani membuatnya berada dalam kondisi serupa. Namun, nyawanya tidak terancam.

Meski tidak berniat menjadi Saintess, Divine Power milik Seiki sudah memancarkan cahaya putih samar ke tubuh wanita itu.

Cahaya itu memang tidak menyembuhkan lukanya seketika, tetapi semua orang bisa melihat vitalitasnya pulih perlahan, membuatnya bisa bernapas lebih lega.

Memperhatikan anak kecil yang memeluk erat kaki sang biarawan, Seiki berkomentar.

"Bahkan kalau kita pergi, sepertinya dia bakal terawat dengan baik, kan? Kurasa kita tidak perlu mengkhawatirkan anak itu. Pria itu, yang seharusnya bisa saja mati, memilih untuk membantuku."

Dalam beberapa hal, Seiki tampak acuh tak acuh. Dia bertindak sesuai standar yang dia tetapkan di dalam hatinya, mengisyaratkan bahwa dampak setelahnya bukan lagi urusannya.

Kemampuannya menilai situasi secara tepat sudah menjadi semacam kebiasaan.

Karena dia memang sudah hidup seperti itu sejak kecil.

Sosok yang dia maksud adalah sang biarawan bermata satu.

Biarawan yang bicara soal tanggung jawab itu mengelus kepalanya yang botak. Dia merapikan jubahnya yang koyak agar terlihat pantas, lalu menepuk pelan kepala anak itu.

Anak itu mengintip dari balik kaki kurus sang biarawan. Usianya tampak sekitar enam atau tujuh tahun.

Dia hanyalah anak kecil berbakat yang dipilih untuk dibesarkan menjadi calon saint, bukan seseorang yang bisa langsung memancarkan cahaya ilahi atau meracik ramuan.

Dari hal ini saja, terlihat jelas bahwa Temple of Abundance telah membesarkan anak-anak dengan bakat semacam itu.

Jadi, mustahil untuk cuma berdiri dan menonton.

"Kita sebaiknya membunuh mereka semua sebelum pergi."

Ujar Sinar kepada abbot baru itu. Jarang sekali dia menunjukkan ketertarikan semacam ini.

Sebab dia biasanya bukan tipe yang suka campur tangan dalam urusan orang lain.

Encrid dan Sinar hampir tidak membunuh siapa pun di sini.

Hanya mereka yang, karena putus asa untuk bertahan hidup, mencoba menyandera orang lain. Bahkan tindakan itu terkesan konyol.

Encrid sengaja menahan diri untuk tidak menyatakan siapa yang ingin dia selamatkan, menyembunyikan tujuannya saat mengayunkan kekuatan. Namun salah satu bajingan di sana malah mencoba menyandera orang demi menyelamatkan diri sendiri.

Di luar itu, Encrid berniat menyelamatkan orang-orang terlebih dahulu sebelum menangani dampaknya.

Dia bahkan rela membiarkan siapa pun yang mencoba kabur pergi begitu saja.

Namun tidak ada yang berusaha melarikan diri.

Belakangan, biarawan botak itu maju dan berteriak kepada semua orang.

Jika ini cuma masalah adu kekuatan, masih banyak biarawan petarung yang sanggup menundukkannya setelah rombongan Encrid pergi.

Itulah alasan Sinar menyarankan agar mereka ikut campur.

"Tidak perlu seperti itu."

Jawab sang biarawan kepada Sinar. Dia mengulas senyum tipis, tatapannya tetap tenang walau berada dalam situasi seperti ini. Dia pria berhati mantap.

Tidak ada yang menyangka hal-hal bakal berbalik seperti ini. Namun bagi seseorang yang mengejar idealisme sambil berpijak pada kenyataan, ini adalah kesempatan emas.

Dan kesempatan hanya bisa diraih oleh mereka yang siap.

Meski telah kehilangan satu matanya, biarawan itu adalah salah satu orang siap yang menyambut pahlawan kiriman ilahi.

Jika Order ingin menemukan jalannya kembali dan berjalan di dalam terang, dia tahu betul apa yang harus dilakukan dan bagaimana memulainya. Dia juga paham sebagian besar orang yang tersisa di biara hanya menuruti perintah tanpa banyak mengerti.

Begitulah kenyataannya.

Tindakan Uskup Agung yang ditahan oleh Overdeer dan Audin untuk dihukum menggambarkan bahwa walau para pemimpinnya korup, tidak semua pengikut mereka bersifat sama.

Di antara mereka masih ada orang-orang yang menjunjung kebenaran, mereka yang telah tercerahkan.

Sebagian melihat situasi yang berubah dan memantapkan tekad, sementara yang lain berdoa dalam hati memohon pengampunan.

Apakah percaya pada yang ilahi membuat seseorang menjadi sempurna?

Jelas tidak.

Setiap orang pernah membuat kesalahan, batin Encrid, mengakui bahwa dia bisa sampai di titik ini dengan belajar dari kesalahan dan kegagalannya sendiri.

Jadi mungkin tidak ada gunanya menghakimi setiap kesalahan yang telah dilakukan orang-orang ini.

Abbot baru yang menginginkan hal ini juga berpikir demikian.

"Namaku Noah."

Setelah menyebutkan namanya, biarawan itu merangkum situasinya dengan tenang.

"Utusan ilahi telah mendatangi kita dan menegur kita. Aku memilih untuk menghormatinya, dan Shilma, mantan abbot, telah menebus dosanya lalu berpulang."

Dalam satu sisi, itu terdengar seperti deretan kisah yang mustahil, tetapi apa yang bisa dilakukan Order saat ini?

Seluruh isi biara, para anggota setia Order, telah menyatakan hal yang sama, jadi tidak banyak pilihan yang tersisa.

Bukan berarti Order bakal tinggal diam.

Encrid mengkhawatirkan hal itu.

"Kau bisa mengatakan bahwa pelakunya adalah Encrid dari Border Guard."

Dia menawarkan diri sebagai kambing hitam.

Mengapa? Karena jika Noah mengklaim tanggung jawab itu sendirian, Order bakal meremukkan mereka dengan kekuatan penuh.

"Tidak, aku tidak bisa melakukannya. Apa Kau sedang mencari nama? Tolong serahkan namamu padaku, Saudara. Akulah yang menyelamatkan Saintess, bahkan sampai kehilangan satu mataku."

Noah tersenyum saat berbicara, namun dia sangat mantap untuk menanggung tanggung jawab itu sendiri. Encrid tidak bisa mematahkan ketegarannya, tetapi meninggalkan sebuah janji dengannya.

"Jika ada hal buruk terjadi, hubungi Border Guard. Begitu nama Noah disebut, kami bakal mengirimkan bantuan."

Ini bukan janji yang main-main. Encrid dan Noah sama-sama memahaminya.

"Di atas jalan yang kau tempuh, bakal selalu ada buah gugur untuk memberimu makan, dan kelimpahan agar hatimu tidak layu."

Encrid mengangguk.

Setelah itu, Noah meyakinkan mereka untuk tidak khawatir dan mulai mendiskusikan rencana merestrukturisasi biara. Meski taat beragama, dia tidak memaksakan keyakinannya secara membabi buta.

Dia berniat memperkuat biara itu sendiri dengan memanfaatkan pintu masuknya yang sempit untuk membuat benteng pertahanan.

"Kau ternyata lebih berani dari dugaanku."

Komentar Encrid, dan Noah tersenyum cerah.

"Mungkin tidak seberani dirimu."

Daripada mengancam semua orang dengan pentungan, dia mengandalkan ketenangannya.

Meski Noah sangat mengagumi ketegasan Encrid.

Encrid tidak bertindak atas dasar rasa benar atau salah, melainkan murni karena dia merasa situasi itu tidak bisa dibiarkan, hal yang membuatnya makin mengagumkan.

"Kalau begitu, kami pamit."

"Aku ingin menyuruh kalian beristirahat seharian, tapi sepertinya aku tidak bisa menawarkan itu."

"Aku bakal kembali suatu hari nanti."

"Silakan. Encrid dari Border Guard, kau bakal selalu disambut sebagai teman di sini."

"Lain kali, sajikan teh yang enak."

Ujar Encrid, dan Noah terkekeh sambil mengangguk.

Beberapa orang yang sebelumnya dihajar mengamati suasana, dan beberapa biarawan petarung menundukkan kepala mereka.

"Terima kasih telah mengumpulkan buah-buah yang gugur."

Mereka juga menyampaikan pemberkatan.

Tak lama kemudian, Encrid berangkat untuk pulang.

Dibutuhkan langkah yang konstan dan cepat untuk mencapai Border Guard.

Seiki, yang pernah melintasi rute ini sebelumnya, memimpin di depan. Dia memilih jalur yang lebih pendek untuk menghindari rintangan monster.

"Kau sepertinya sangat mahir bertarung. Monster dari kampung halamanku tidak bakal punya kesempatan melawannmu."

"Monster seperti apa?"

"Yang menyeburkan api."

Kemungkinan monster kadal api yang muncul setelah pemanggilan salamander.

"Kalau ada kesempatan, aku bakal membunuhnya untukmu."

Membunuh monster selalu terasa mendebarkan.

"Tidak, aku sendiri yang bakal membunuhnya. Suatu hari nanti. Jadi aku lebih suka kau tidak ikut campur, tapi kalau kau memaksa, aku tidak bakal menghentikanmu."

Saat Seiki menjawab, Encrid merasa sifat unik gadis itu sangat menarik.

Gadis itu punya tujuan dan ingin menangani urusannya sendiri, tetapi tampak tidak peduli dengan hal-hal di luar jangkauannya.

"Baiklah, kalau begitu kau saja yang membunuhnya."

"Oh, dan bisakah kau mengajariku beberapa teknik pedang?"

"Haruskah?"

Encrid adalah orang yang percaya pada pepatah "seseorang belajar dengan mengajar".

Dia juga punya bakat mengajar. Itu hal yang wajar.

Dia telah memanjat dari dasar hingga menjadi seorang Knight.

Jika ada orang yang memanjat selangkah demi selangkah secara sistematis seperti Encrid, orang itu sangat langka.

Dan siapa yang mengendap di setiap tahapan cukup lama untuk mengulang hal-hal dasar? Tidak ada.

Ada yang bilang Leonesis Oniac mengasah ilmu pedangnya dengan usaha tanpa henti.

Jika terus seperti ini, Encrid mungkin suatu hari nanti bisa menciptakan metode pelatihan yang terstruktur untuk para Knight.

Dia telah melintasi jalan yang belum pernah dilalui orang lain, merasakan tanah di bawah kakinya, mencium aromanya, bahkan mengecap rasanya di sepanjang perjalanan.

Meski itu urusan di masa depan yang masih jauh. Untuk saat ini, Encrid tidak memikirkan hal semacam itu.

Bahkan untuk terus maju saja sudah cukup menantang.

Menjadi seorang Knight bukanlah akhir. Masih banyak yang harus dipelajari dan dikuasai, serta banyak hal yang harus dia pahami sendiri.

"Kau ini cukup lemah kalau berhadapan dengan wanita muda, ya?"

Mendengar percakapan mereka, Sinar menyela dengan lelucon ringan.

"Ya, anggap saja begitu."

Encrid membiarkannya berlalu. Mendengar ini, Sinar berkata,

"Kalau kau terpikat oleh pesona wanita yang lebih tua, kau tidak bakal bisa meloloskan diri."

"Jika kata 'lebih tua' itu bukan selisih beberapa tahun melainkan ratusan tahun, bukankah terlalu memaksakan jika cuma menyebutnya 'lebih tua'?"

"Dasar bodoh, itu cuma lelucon."

Encrid hampir menanyakan usianya lagi, tetapi menahannya. Lalu Seiki, tanpa senyum sedikit pun di wajahnya, bertanya,

"Paman, kau tidak terlalu populer, ya?"

Untuk sejenak, hati Encrid goyah. Dia tidak pernah mendengar pertanyaan seperti itu seumur hidupnya.

Namun haruskah dia mulai mendiskusikan ketampanannya dan jumlah orang yang pernah menunjukkan ketertarikan padanya?

Tidak ada yang lebih konyol dari itu.

Jadi, lebih baik dia fokus pada apa yang harus dia lakukan.

"Mari kita mulai dengan pelatihan dasar Border Guard."

Encrid berbicara dengan nada lembut, senyum tipis penuh antisipasi menghiasi wajahnya.

"Baiklah."

Mata Seiki berbinar saat dia mengangguk, tertarik dengan gaya bertarung Encrid dan bersemangat untuk belajar.

"Tekuk lututmu separuh, biarkan lenganmu menggantung, lalu berjalanlah. Tahan napasmu untuk mengencangkan otot inti, agar tubuh bagian atasmu tetap stabil."

"Hah?"

"Kau bakal merasakannya di otot bokongmu, dan kau akan berjalan seperti ini seharian penuh."

"Tapi bukankah itu membuat langkahku lambat?"

Apakah masalah jika mereka sedikit terlambat sampai di Border Guard?

Pelatihan itu sangat penting. Bagaimanapun juga, tubuh bagian bawah yang kuat adalah fondasi dari semua ilmu bela diri.

"Mulai."

Encrid mengambil pentungan yang dia gunakan di biara. Untungnya, dia tidak membuangnya.

Dia menepuk pelan bahu dan punggung bawah Seiki, membenarkan posturnya saat memberi petunjuk.

"Tetap stabil."

Memperhatikan dari belakang, Sinar tersenyum.

Pikiran itu membuatnya merasa lucu—jika dia punya anak, pasti menyenangkan mengajari mereka seperti ini.

Tentu saja, itu hanyalah fantasi yang mustahil.

Apakah Encrid memiliki tempat khusus di hatinya atau tidak, itu tidak relevan.

"Hari yang menyenangkan."

Gemuruh.

Tepat saat Sinar selesai berbicara, langit bergemuruh.

"Sepertinya bakal turun hujan."

Komentar Seiki, dan Encrid mengangguk sambil menjawab,

"Pertahankan posturmu."

Hujan atau panas, tubuh bagian bawah yang kuat tetaplah krusial.

Terlepas dari semua yang dia pelajari dari biara dan pengalamannya, Seiki telah mengembangkan kemampuan untuk memilih kata-katanya dengan cermat.

Namun karena tumbuh besar di pegunungan, sifat polosnya sering kali terlihat.

"Aku salah bicara. Kau bukannya tidak populer. Setidaknya, wajahmu lumayan tampan."

"Bukan itu alasannya kita melakukan ini."

Encrid hanya menjelaskan pentingnya pelatihan ini, menekankan bahwa tubuh bagian bawah yang kokoh adalah fondasi dari semua hal dasar. Sinar terus tersenyum.

Hujan turun, tetapi Encrid tidak memberi ampun.

Seiki harus terus maju, basah kuyup sepenuhnya, sambil menjalani latihan tubuh bagian bawah yang terkutuk itu.

Mereka terus berjalan dengan tekun menuju Border Guard.

Meskipun Seiki masih kaku dalam memancarkan Divine Power miliknya, dia berhasil memancarkan cahaya ke area luka Encrid. Namun caranya masih canggung, sehingga efek penyembuhannya belum terasa jelas.

Aspek itu di luar kemampuan Encrid untuk mengajar, jadi dia fokus memperkuat tubuh bagian bawah gadis itu dan menangani tugas-tugasnya sendiri.

Mengkaji ulang. Encrid berjalan sambil mengingat kembali pertarungannya melawan Overdeer.

Berjalan sambil merenung, dia menghabiskan beberapa hari berlatih tanding bersama Sinar.

Di hari-hari lain, dia mengajari Seiki cara menangani senjata.

Meski belajar, Seiki sepertinya tidak berniat mendedikasikan hidupnya untuk ilmu pedang.

"Bukankah bagus kalau bisa bertarung dengan baik?"

Saat ditanya alasannya, itulah jawabannya.

Seseorang tidak membutuhkan alasan untuk belajar. Meski begitu, dia memberikan yang terbaik saat belajar, dan Encrid melihat bahwa Seiki memiliki bakat yang luar biasa.

Apa yang membutuhkan pengulangan tak terhitung jumlahnya bagi Encrid untuk dikuasai, bisa ditangkap oleh Seiki dengan cepat.

Teknik pedang, gerakan gulat sederhana, bahkan gerakan yang hanya dijelaskan Encrid secara lisan pun bisa ditirunya.

Bakat yang mengingatkannya pada Ragna muda.

Masalahnya, gadis itu sepertinya lebih tertarik pada bagaimana Encrid membangun bentuk tubuhnya daripada teknik bertarung nya.

Fisik yang terlatih dengan baik lebih menarik baginya daripada gerakan yang indah.

Audin pasti bakal sangat senang melihat ini.

Memikirkan hal-hal seperti itu, dia terus berjalan.

Selama pertarungannya melawan Overdeer, Encrid telah menghitung semua variabel secara instan.

Hal yang mungkin dan yang tidak mungkin.

Jalur pergerakan lawannya, jangkauan tangan dan kaki yang bisa dicapai, reaksi yang bakal dipicu oleh gerakannya, pola, dan faktor tak terhitung lainnya.

Ada momen-momen ketika dia berpikir bisa mendaratkan pukulan telak, tetapi dia gagal. Dia tidak berhasil.

Apakah itu murni karena Divine Penetration?

Atau kekalahannya disebabkan oleh suatu kelemahan?

Karena dia tidak sanggup melepaskan Willpower miliknya sekaligus?

Bukan hanya itu alasannya.

'Overdeer tidak memiliki cela.'

Kekuatan, teknik, tekad—dia tidak kekurangan apa pun.

Jika ditanya apa keahlian terbaik Overdeer, sulit untuk mengatakannya. Itulah ciri khas seorang Crusader.

'Lalu bagaimana denganku?'

'Apa keahlianku?'

'Apa yang harus segera kubenahi?'

Dengan perenungan terus-menerus dan konfrontasi dengan kelemahannya sendiri, dibantu oleh Sinar, Encrid telah menemukan potensi solusi pada saat mereka mencapai Border Guard.

Itu adalah teknik untuk meningkatkan jumlah Willpower yang sanggup dia lepaskan.

Tentu saja ini bukan perbaikan instan, dan dia membutuhkan latihan yang berulang-ulang.

Orang lain mungkin berkecil hati oleh tugas yang seolah tanpa akhir ini, tetapi Encrid hanya merasakan kegembiraan karena telah menemukan sebuah arah.

Setibanya di Border Guard,

"Apa kau sudah gila?"

Krais menyambutnya dengan tawa geli bercampur lelah, lega sekaligus jengkel.

Encrid mengangkat bahunya.

"Apa kau berpura-pura tidak tahu? Order, Divine Nation."

Ujar Krais.

Ada hal-hal yang tidak bisa disembunyikan, tidak peduli seberapa keras seseorang berusaha menyembunyikannya.

Apa yang telah dilakukan Encrid adalah salah satu dari hal-hal itu.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.