Bab 626: Deceptive Slash
Pada mulanya, Valen Mercenary Sword Technique mengajarkan cara berpura-pura tenang dengan berlutut satu kaki tanpa menarik pedang, lalu menatap lawan dengan dingin.
Hal terpenting dalam teknik ini adalah pandangan mata dan posisi tangan.
Gagang pedang tak boleh digenggam sama sekali. Tangan harus dibiarkan terkulai santai.
Saat pertama kali mempelajari teknik ini, Encrid mengagumi ketekunan penciptanya. Menurutnya, tingkat kecerdikan teknik ini sangat luar biasa.
Namun kini, pemikirannya telah berubah.
Sejak awal, Valen Mercenary Sword Technique adalah seni pedang yang berakar pada Will.
*'Jika kau memiliki Will, kau tak hanya bisa menipu, tapi juga menekan lawan.'*
Mungkinkah ini bentuk evolusi dari Intimidation?
Encrid menafsirkan teknik ini menurut pemahamannya sendiri, lalu menamakannya 'Deceptive Slash'.
Sebenarnya, tak ada keharusan untuk memberi nama. Menggunakannya secara alami saja sudah cukup. Encrid tahu betul hal itu. Rem sering mengatakannya, semua orang pun berpendapat sama, dan ia sendiri sudah menyadarinya.
Namun, mengalirkan segala sesuatu secara alami bukanlah hal mudah. Karena itulah, memberi nama pada teknik dan membentuk citra visual terasa lebih akrab baginya.
Seseorang tak bisa berjalan sebelum berdiri. Tak ada orang yang bisa melompat saat masih duduk. Langkah pertama adalah berdiri tegak.
Bagi Encrid saat ini, berdiri tegak berarti mendefinisikan dan memberi nama pada teknik yang baru ia ciptakan.
Essence dari pedang energi milik Sinar sangat membantunya.
Energy blade adalah pedang yang terbentuk dari kekuatan tak kasatmata. Setelah mengalaminya tak terhitung jumlahnya, Encrid sampai pada titik ini secara alami.
Dengan kata lain, ini juga salah satu hadiah dari Sinar.
Sekilas, teknik ini mirip dengan Aker's Web Correct Sword Technique. Namun kali ini, kerapatan energinya jauh berbeda.
Ia harus mencurahkan Will dalam jumlah besar.
Kaki kirinya menjejak tanah. Dorongan momentum seolah hendak menerjang maju terpancar kuat. Tangan kanan Encrid yang terkulai mengayun pelan dua kali.
Ia menarik keluar Will untuk menciptakan pedang, alih-alih perisai benteng besi. Pedang ilusi ini tak terlihat dan tak berwujud. Jika disentuh pun tak akan meninggalkan bekas goresan sedikit pun, tetapi tebasannya jatuh tepat menghantam Pel.
"Sialan!"
Pel langsung menghunus Idol Slayer dan mengayunkannya. Padahal, mereka telah berjanji tak akan menghunus pedang selama latihan. Mata pedangnya menyabet angin hampa.
* * *
"Apa-apaan tadi?"
Meski hanya berhadapan dan saling tatap sejenak, keringat dingin mengucur deras di dahi dan punggung Pel.
Pel melihat dengan jelas Encrid menerjang ke arahnya. Tubuh dan mata pedang Encrid mendadak membesar, hendak membelah kepalanya.
Secara refleks, Pel mengayunkan pedangnya.
*'Tapi tak terjadi apa-apa.'*
Bukan hanya Pel yang bereaksi. Jika serangan Encrid tadi nyata, tebasan raksasa itu akan cukup luas untuk menyapu siapa pun di sekitarnya.
Luagarne yang berdiri tak jauh dari sana ikut bertindak secara refleks.
Ia sudah menarik cambuk dan pedangnya, mengambil kuda-kuda bertahan.
"Itu interpretasi ulang dari teknik gertakan tanpa mata pedang milik Valen Mercenary Swordsmanship—Deceptive Slash," jawab Encrid ramah, meski ia menyederhanakan proses rumit yang dilaluinya menjadi satu kalimat pendek.
"Lalu, apa maksudnya semua itu?"
Pel jarang sekali terlihat panik. Namun barusan, ia baru saja merasakan sensasi yang amat dekat dengan kematian, walau itu cuma ilusi. Kepalanya terasa benar-benar terbelah, bahkan rasa sakitnya seolah nyata.
Wajar saja kalau ia terguncang.
"Tenanglah," ujar Encrid sambil menatap Pel.
Menjaga ketenangan adalah kunci utama. Jika hati bergoyang, tubuh pun ikut goyah. Bukankah latihan ini bertujuan untuk menggembleng Pel?
Tentu saja, Encrid juga ingin mengasah penguasaan tekniknya sendiri. Sepanjang latihan ini, ia berencana menyerap ilmu dari Pel.
Mencari celah? Mengidentifikasi titik lemah? Apa pun istilahnya, ada proses yang harus dilalui untuk memahami dan menguraikan bakat Pel.
Tak ada satu pun hal di dunia ini yang hanya memiliki kelebihan.
"Apa?"
"Mulailah dengan mengamati secara tenang. Kau tidak benar-benar mati, kan?"
Bagi Pel, nada bicara Encrid terdengar seperti seseorang yang sudah mati tak terhitung jumlahnya.
"Tapi rasanya aku baru saja mati lalu hidup lagi!"
Urat di dahi Pel menegang. Encrid menyadari bahwa kematian berulang yang pernah ia alami ikut meresap ke dalam teknik tadi.
Sangat wajar jika pengalamannya terpatri dalam jurus pedangnya.
*'Apakah tebasan ini memperlihatkan kematian kepada lawan?'*
Karena telah merasakan beragam jenis kematian, tidak sulit bagi Encrid untuk menanamkan bayangan itu ke dalam Will miliknya.
Encrid menjelaskan hal tersebut dengan sabar, lalu melanjutkan duel latihan mereka.
"Lagi?" tanya Pel. Walau mengeluh, ia kembali mengambil posisi bertarung. Ini pengalaman yang sangat langka. Teknik itu terasa seperti bentuk evolusi dari Intimidation. Meski merasakan kematian amat tak menyenangkan, hal itu tetap membuatnya penasaran.
Setelah itu, Encrid 'membunuh' Pel dua kali lagi.
Meski sudah memahami struktur tekniknya, Pel tetap tak menemukan cara untuk membalas. Uniknya, justru Luagarne yang menemukan solusinya terlebih dahulu.
Luagarne mengubah pola pikirnya. Ia memutuskan untuk mengorbankan satu tangan atau kaki demi lepas dari tekanan, asalkan jantungnya tidak tertembus.
Namun, cara ini tidak akan mudah berhasil jika diterapkan pada Frog.
Sore kedua pun berlalu, hingga mereka akhirnya tertidur. Malam itu, seorang Ferryman muncul dalam mimpi Encrid. Sosok itu menatap dalam diam sebelum mengucapkan satu kalimat.
"Aku telah melihatnya."
"Melihat apa?"
"Masa depanmu."
Tanpa bermaksud bercanda, Encrid secara refleks mengoceh.
"Anak laki-laki? Atau anak perempuan?"
"Apa kau pernah berpikir untuk memiliki anak? Apakah kau berencana menikah dan berkeluarga suatu hari nanti?"
"Tidak, aku hanya bercanda karena kau bilang melihat masa depanku."
Tanpa kehadiran Sinar, Encrid jadi sering melontarkan lelucon konyol seperti Fairy. Hal ini membuatnya berpikir bahwa ia harus segera menemukan Sinar.
"Kau memang tak tergoyahkan. Akan kuperlihatkan padamu."
Ferryman mengangkat tangannya yang tidak memegang lentera.
*'Ferryman yang ini terasa berbeda dari yang kutemui sebelumnya.'*
Encrid merasakannya dengan jelas. Ferryman membuka telapak tangannya. Sebuah lubang hitam pekat mendadak meluas dari kulit kelabunya. Lubang itu menelan Encrid sepenuhnya, menjerumuskannya ke dalam kegelapan total.
Dalam kegelapan itu, suara Ferryman bergema. Lebih tepatnya, niat yang berasal dari Will sosok itu tersampaikan secara langsung.
"Di dalam gua nan gelap, kau akan berhadapan dengan dinding yang tak tergoyahkan."
Encrid memfokuskan pandangannya pada apa yang mulai tampak. Di balik kegelapan, sesuatu memang ada di sana. Saat ia menatap lebih lekat, samar-samar wujudnya mulai terlihat. Ketika ia berkonsentrasi penuh, sosok yang berdiri di hadapannya menjadi jelas.
Tanpa wajah maupun bau yang tercium, Encrid bisa menebak identitas lawannya hanya dari siluet tersebut.
Sosok itu terlalu akrab untuk berpura-pura tak mengenalnya.
"Itu akan menjadi dindingmu."
Suara Ferryman terdengar seperti kutukan.
"Begitu rupanya."
Namun, dampak kutukan sangat bergantung pada penerimanya. Encrid tetap terlalu tenang.
Setidaknya ia harus menunjukkan sedikit rasa cemas, tapi ia sama sekali tidak terguncang.
Salah satu efek kutukan adalah menggoyahkan hati korbannya secara mendalam. Namun, Encrid hanya merenungkannya dengan acuh tak acuh.
Dari siluetnya, jelas sosok itu seorang wanita. Tanpa ragu, Encrid mengenali sosok itu sebagai Sinar, tujuan yang sedang ia kejar.
Ini hal yang langka.
Encrid sudah berulang kali berbincang dengan para Ferryman. Namun, tak pernah ada satu pun dari mereka yang mau menjelaskan sesuatu secara ramah.
Karena itu, Encrid menjadi sangat mahir menemukan petunjuk dari percakapan singkat.
*'Bukan "dia", tapi "itu".'*
Ferryman tadi tidak menyebut wanita itu sebagai "dinding". Ia menyebutnya sebagai "itu". Hal tersebut tak mungkin sekadar salah ucap.
Artinya, Sinar bukanlah dinding yang dimaksud.
Encrid terbangun dari mimpinya saat itu juga. Sementara Ferryman yang mengusir Encrid dari mimpi terpukul mundur sejenak ke dalam dirinya.
"Siapa yang membentuknya jadi seperti itu? Aku mengutuknya, tapi ia tak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Bagaimana bisa ia begitu cerdik memanfaatkan celah dari kata-kataku?" gumam Ferryman setelah mengintip sekilas pikiran terdalam Encrid.
Fakta bahwa Encrid menyadari perbedaan antara "itu" dan "dia" terasa sangat menjengkelkan baginya.
Para Ferryman lain yang pernah bertemu Encrid kini hanya bisa bungkam.
Kebiasaan mereka yang suka menyiksa dan menekan Encrid justru membentuk Encrid menjadi sosok yang seperti ini.
"Mereka telah menciptakan seekor ular yang amat licik," ratap Ferryman.
* * *
Encrid tak terlalu memikirkan mimpi tadi malam atau dinding apa pun yang dikatakan Ferryman. Terlalu fokus pada kata-kata seperti itu hanya akan merusak konsentrasinya.
Lagi pula, mengetahui keberadaan dinding tak akan mengubah apa pun. Tak ada hal yang bisa membuatnya berbalik arah.
Pada hari ketiga, mereka mengambil rute serupa dan melanjutkan perjalanan ke selatan. Saat melintasi hutan kecil dan area berbatu, mereka mendengar suara dengkuran keras dari kejauhan.
"Sepertinya ada orang gila yang tidur di tengah jalan," komentar Pel.
Luagarne memiringkan kepalanya heran. Siapa pun yang sedang tidur di sana, Encrid tetap berjalan maju.
Akhirnya, mereka melihat seekor makhluk bersandar pada batu besar.
Ukurannya benar-benar di luar nalar.
Seorang Giant, sosok yang dikenal sebagai Red Blood Beasts, bergerak dengan dua kaki.
Saat Encrid mendekat, makhluk yang tertidur itu mengerutkan moncongnya lalu membuka matanya perlahan.
Manik matanya berwarna biru cerah. Rambutnya yang lengket dan kusam menempel di kulit kepala, menandakan makhluk ini tak menyentuh air sedikit pun selama setidaknya dua minggu.
Bau busuk yang amat menyengat pun tercium dari tubuhnya. Di sekitarnya berserakan pecahan tulang dan sisanya belulang hewan.
"Ugh."
Giant itu bersendawa, melepaskan bau busuk yang langsung tercium oleh Encrid. Meski dalam posisi duduk, tinggi Giant itu masih jauh melampaui Encrid.
Secara refleks, Encrid menengadah. Saat ia mendongak sedikit dan bertatap mata dengannya, Giant itu berbicara tanpa nada humor sedikit pun.
"Mata biru."
Suaranya bergema seperti guntur. Gelombang suaranya seolah merambat keluar dari tubuh raksasanya.
Pel mengerutkan dahi menahan bau busuk yang mirip kotoran hewan.
"Matamu juga biru," sahut Encrid tak kalah datar.
"Ya, aku tahu. Sok pintar."
Giant itu bangkit dari batu besar. Batu itu bergeser ke belakang, memperlihatkan bobot dan kekuatannya yang dahsyat.
Konon, para Giant akan tenggelam seperti batu di dalam air karena tubuh mereka terlalu berat untuk mengapung.
Jika Frog takut pada jantung yang rusak, maka para Giant takut pada air. Meski bisa minum dan membasuh diri, perairan luas seperti danau selalu membuat mereka cemas. Namun di sini, tanpa adanya air mengalir di sekitar, Giant itu tak menunjukkan rasa cemas sedikit pun.
Memamerkan giginya yang hitam pekat, Giant itu berkata.
"Siapa namamu?"
"Untuk apa bertanya?" potong Pel.
Giant itu berpaling menatap Pel.
"Tunggu giliranmu. Setelah dia." Giant itu menunjuk ke arah Encrid.
"Setelah dia, lalu apa?"
"Kematianmu. Jadi setelah dia, aku akan membunuhmu."
"Siapa yang mau kaubunuh?" Luagarne menyela.
Giant itu tersenyum lalu mengulanginya.
"Encrid, kan?"
Encrid menjawab dengan tenang.
"Aku tak menyangka akan bertemu seseorang di jalan. Apa kita saling kenal? Atau ada yang mengenalkanmu? Mungkinkah pria berkerudung yang membawa lentera?"
Encrid tetap bersikap tenang, acuh pada gertakan Giant tersebut.
"Jika bertindak sembrono seperti itu, kau akan bertemu pembunuh bayaran atau yang lebih buruk lagi. Jika nasibmu benar-benar sial, kau akan bertemu denganku."
Pada akhirnya, masing-masing telah menyampaikan bagiannya. Lalu, Encrid mendadak bertanya.
"Apakah kau sudah tua?"
"Sangat tua."
"Berapa usiamu?"
"Lebih dari seratus tahun."
"Cuma segitu?"
"Manusia lancang."
"Wanita yang kukenal usianya lebih dari empat ratus tahun."
Apa maksud pertanyaan itu?
Percakapan mereka sama sekali tak terarah dan berubah menjadi omong kosong. Namun anehnya, Giant itu merasa sangat jengkel.
Apakah manusia ini tidak memiliki rasa takut, atau ia mengandalkan sesuatu? Mungkinkah Frog? Tapi Frog itu tidak memberikan ancaman nyata. Lalu apa alasan di balik ketenangan manusia ini?
Kata-kata, sikap, dan nada bicaranya—semuanya membuat Giant itu muak.
"Kau tak akan mati dengan tenang. Aku akan memakanmu hidup-hidup."
"Aku akan membunuhmu dengan tenang. Haruskah kubungkus kepalamu lalu kukirimkan ke suatu tempat?"
"GRAAAAR!"
Giant itu mendadak meraung ke arah langit. Raungan itu begitu dahsyat hingga mampu membekukan siapa pun yang mendengarnya.
Beberapa monster menanamkan rasa takut melalui raungan, dan ini serupa.
Sebuah keterampilan yang berakar pada willpower.
Encrid secara alami mengaktifkan Will penolakannya untuk membalikkan raungan tersebut.
Pel menghela napas dalam-dalam lalu melangkah mundur. Sementara Luagarne mengambil dua langkah mundur lebih jauh sebelum melompat ke belakang untuk memperlebar jarak.
Satu raungan saja sudah cukup untuk mengukur kekuatan Giant ini: setingkat Knight-class.
Encrid sudah mengetahuinya bahkan sebelum raungan itu menggema, nalurinya sudah terpicu oleh gestur makhluk tersebut.
Saat Encrid menggenggam gagang pedang Jin-silver milik nya, Giant itu kembali berbicara.
"Teruskan bicaramu."
"Membungkusnya. Ke mana. Membunuh dengan tenang," ejek Encrid pada Giant itu, seolah sedang menggoda Rem.
Giant itu tidak menyukai fakta bahwa raungannya tak berdampak apa pun, ditambah nada bicara Encrid yang begitu lancang.
"Aku Hatun, Apostle of the Demon Realm Sanctuary!" tegaknya sambil mengulurkan tangan.
Makhluk itu ternyata cukup licik karena menyembunyikan senjatanya di balik batu besar.
Senjata yang dihunusnya berbentuk seperti cambuk, tetapi lebih tepat digambarkan sebagai rantai logam raksasa.
WUUUSS!
Rantai itu membelah udara, menghantam tempat Encrid berdiri.
DUUAR!
Tanah meluncur pecah saat tanah dan batuan terlempar ke mana-mana. Dampak hantamannya begitu dahsyat hingga batu-batu yang tertanam ikut terangkat dan melayang.
Menyebut batu-batu ini sebagai kerikil sama saja seperti menyebut matahari cuma seekor kunang-kunang.
THUMP!
Pel menangkis batu yang melayang ke arahnya dengan mata pedang. Batu itu terasa sangat berat, lalu jatuh tersungkur ke tanah dengan dentuman keras.











