Eternally Regressing Knight

Chapter 661 - Aliran Sungai

2332 Kata

Chapter 661 - Aliran Sungai

"Aku harus memanggilmu tuan tanah atau penguasa kastel...?"

Pertanyaan itu bermula dari seorang pedagang buah di pinggir jalan.

"Penguasa kastel adalah Graham, dan aku adalah kapten dari Mad Knights."

Encrid menyahut santai, sudah terbiasa dengan percakapan semacam itu.

"Nah, kalau begitu, Kapten, cicipilah buah ini."

Ucap sang pedagang buah ramah sembari menyodorkan dua butir buah plum ranum. Encrid memakan satu butir dan memberikan yang lainnya kepada sang Ragged Saint.

Sang orang suci mengerjapkan matanya yang keruh saat menerima buah plum tersebut lalu menggigitnya pelan.

Kres.

Rasa manis bercampur asam segar menyebar seketika di dalam mulut mereka, disusul aroma buah harum yang memanjakan indra penciuman. Itu adalah buah plum yang matang sempurna di pohonnya.

"Manis."

Ucap Encrid.

"Benar sekali."

Sang Ragged Saint mengamini. Kemewahan rasa semacam ini bisa terwujud berkat kebun buah luas yang telah dibangun di dalam kawasan Green Pearl.

Ada alasan kuat mengapa para bangsawan di dekat ibu kota kerajaan, Naurillia, gemar mengelola perkebunan buah; akses melimpah terhadap buah-buahan segar seperti ini sangat sepadan dengan usahanya.

Saat mereka melintasi area pasar tempat para pedagang berkumpul, seorang penjaja keliling berseru memanggil mereka.

"Sekarang aku sudah resmi bergabung dengan Roguefried Trading Company."

Dia bukanlah pedagang biasa. Sosok yang berbicara adalah seorang raksasa yang dulunya memperkenalkan dirinya sebagai pedagang keliling antarwilayah.

Encrid memperlihatkan sarung tangan berbalut kain yang melekat di tangannya.

"Barang ini sangat kokoh."

Itu adalah sarung tangan berpenguat kain dengan lapisan kulit tipis di bagian dalamnya, dibuat dari bahan-bahan yang dibeli langsung dari sang raksasa.

"Tentu saja kokoh. Aku tidak pernah menjual barang berkualitas murahan."

Sahut sang raksasa dengan suara beratnya yang menggelegar. Sang Ragged Saint hanya mengamati dari samping tanpa berniat menyela.

"Apa yang kau jual hari ini?"

Tanya Encrid penasaran.

"Barang-barang ini."

Jawab sang raksasa sembari memamerkan aneka barang dagangannya, termasuk jimat-jimat kuno dan cincin-cincin berhawa ganjil.

"Cincin ini menyimpan kutukan khusus, benda ini akan memberimu mimpi buruk setiap malam, tetapi sanggup menangkal satu peristiwa sial yang mematikan."

Jelas sang raksasa, sukses memikat perhatian para pejalan kaki yang melintas di sekitar mereka.

Encrid mengamati barang-barang tersebut, merasakan pendaran aura halus yang dulunya tidak pernah dia sadari.

'Mungkin ini berkat hasil latihanku bersama Esther.'

Pikirnya dalam hati.

Pengalamannya bertarung menghadapi entitas sihir seperti Walking Fire pun turut mengasah ketajaman indranya.

Persis seperti penuturan sang raksasa, cincin tersebut memang memancarkan hawa keberadaan tertentu. Jika diperhatikan lebih saksama, kabut hitam tipis tampak berputar melingkarinya—sebuah pemandangan gaib yang hanya sanggup ditangkap oleh mata Encrid.

Di wilayah-wilayah terpencil di benua ini, desa-desa perintis kecil kerap bermunculan.

Beberapa desa cukup beruntung terbebas dari serangan monster buas, sementara desa lainnya bertahan hidup dengan memukul mundur binatang liar yang sesekali menyerbu.

Desa-desa yang kerap dilanda serbuan semacam itu sering kali menjalin transaksi rahasia dengan para penyihir atau penyihir wanita lokal. Cincin ini kemungkinan besar berasal dari salah satu tempat seperti itu, tidak sulit untuk menebak asal-usulnya.

Sesuai dugaan, sang raksasa secara singkat membeberkan asal muasal cincin tersebut, berbicara jauh lebih banyak daripada biasanya. Entah karena alasan apa, dia bersikap sangat ramah hari ini.

'Apa dia memang selalu sefasih ini saat menjelaskan barang?'

Batin Encrid heran.

Raksasa itu biasanya bukanlah sosok yang banyak bicara.

"Barang ini tidak cocok untukku."

Ucap Encrid jujur. Jika membutuhkan benda semacam itu, dia lebih memilih meminta bantuan Esther secara langsung.

"Sudah kuduga."

Sahut sang raksasa tenang.

"Lalu kenapa kau menjelaskannya panjang lebar padaku?"

Sang raksasa yang duduk bersila di tanah mencondongkan tubuhnya ke depan lalu berbisik lirih.

"Biar orang-orang di sekitar sini mendengarnya."

Karena perawakan dan ukuran tubuhnya yang masif, orang-orang kerap menghindarinya karena takut, membuat urusan dagangnya tersendat. Melihat kehadiran Encrid, dia memanfaatkan kesempatan emas itu untuk memancing perhatian calon pembeli.

'Sekarang dia sudah menjadi pedagang tulen.'

Pikir Encrid geli.

Namun dia tahu sang raksasa tidak akan pernah menggadaikan prinsip kejujurannya demi meraup keuntungan semata.

"Kau makin jago berdagang."

Bisik Encrid, dan sang raksasa mengangguk puas.

"Nah, pergilah sana."

"Baiklah, aku pergi dulu."

Sembari melanjutkan langkah kaki mereka, Encrid berpapasan dengan beberapa wajah yang tidak asing. Sang Ragged Saint memperhatikan kedekatan akrab Encrid dengan pemilik penginapan utama di pusat kota.

"Apa yang membawamu kemari, Kapten? Kalau belum makan, nikmatilah semangkuk sup hangat sebelum pergi."

Sang pemilik penginapan bernama Allen bermimpi sanggup melampaui kelezatan sup labu tersohor buatan Vanessa. Akhir-akhir ini, dia menyajikan sup ayam hangat yang dia promosikan sebagai resep warisan neneknya saat sedang terserang flu.

Berkat promosi tersebut, usahanya kini berkembang sangat pesat.

Meski belum sepopuler hidangan sup labu, pai, atau jus manis buatan Vanessa, Allen sudah sangat puas dengan pencapaiannya saat ini.

Pembukaan jalur-jalur perdagangan baru dan berdirinya kota komersial Roguefried telah membawa kemakmuran nyata bagi seantero wilayah Border Guard.

Allen telah memetik banyak berkah dari perkembangan pesat ini.

'Dan juga berkat lahan pertanian subur di Green Pearl.'

Batin sang orang suci menimbang.

Meskipun penglihatannya telah rabun, sang Ragged Saint masih sanggup menangkap banyak dinamika saat berada dalam jarak dekat, terutama di dalam komunitas masyarakat ini.

Dia pernah menggambarkan dirinya sebagai sosok yang lebih peduli pada ranting-ranting kecil ketimbang batang pohon utama.

Dia jauh lebih menaruh perhatian pada denyut keseharian rakyat jelata ketimbang manuver politik para penguasa kota.

'Sangat makmur dan sejahtera.'

Di mata sang orang suci, kota ini tampak berlimpah ruah dengan berkah kehidupan.

Ketiadaan bentrokan senjata dengan kerajaan Aspen telah memberikan kontribusi yang sangat masif. Tanpa adanya ancaman serbuan monster, padang rumput yang terbentang luas kini telah disulap menjadi lahan pertanian yang sangat subur.

Patroli rutin di sepanjang Pegunungan Pen-Hanil Mountains dan perluasan jalur Stone Road ke arah barat pun turut memainkan peran krusial.

Seluruh faktor tersebut bermuara pada kemakmuran kota saat ini. Namun di mana ada cahaya benderang, di sana pasti ada bayang-bayang gelap yang menyertai.

Sang Ragged Saint memahami kenyataan pahit itu dengan sangat baik.

Dan bayang-bayang itu baru saja menampakkan wujudnya. Seekor Frog dengan bekas luka putih ganjil di lehernya—sebuah pemandangan langka mengingat kaum Frog memiliki kemampuan regenerasi tubuh yang luar biasa—tengah melangkah mendekati mereka.

Apakah dia datang untuk mencari gara-gara? Ataukah dia tergiur oleh kilauan permata mewah yang membalut tubuh sang orang suci?

Mungkin dia adalah seorang pemburu hadiah yang mengincar nyawa sang orang suci.

'Ataukah seorang pembunuh bayaran yang diutus oleh Holy Nation?'

Rupanya bukan salah satu dari dugaan itu.

"Sudah lama tidak bertemu."

Ucap sang Frog yang mengenali sosok Encrid.

Encrid mengamatinya sejenak sebelum akhirnya menyahut ragu,

"...Melon?"

"Namaku Maelrun. Kau sudah lupa namaku ya?"

"Oh, benar juga. Maelrun."

Meski namanya salah diucapkan, sang Frog sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda tersinggung.

Sang Ragged Saint sempat merasa heran melihat pemandangan itu, tetapi bagi Maelrun, sikap santai itu adalah hal yang sangat wajar.

Kalaupun dia nekat menyerang, dia tahu dirinya pasti akan mati hanya dengan satu tebasan pedang. Perkara salah mengingat nama adalah urusan yang teramat sepele.

Maelrun adalah seekor Frog, dan karena itu, dia hidup bebas mengikuti dorongan hasratnya. Kemenangan kecil atau kepuasan sesaat sudah lebih dari cukup baginya, dan dia sangat menikmati kehidupannya saat ini.

Menyusul di belakang Maelrun, seorang pria berkepala botak muncul melangkah santai—sosok preman jalanan yang tampak seperti penguasa gang-gang gelap kota.

Dia melangkah keluar dari gang sempit yang diapit oleh deretan rumah-rumah padat. Pantulan sinar matahari berkilau di atas kepalanya yang plontos.

"Kapten."

Panggilnya tegas.

Dia pun melangkah mendekat dan menyapa sosok Encrid.

"Gilpin."

Encrid langsung mengenali sosoknya seketika.

"Kenapa kau ingat namanya tapi tidak ingat namaku?"

Gerutu sang Frog pelan. Meski tentu saja tak seorang pun yang memedulikan rengekannya.

"Ada yang sedang kau cari, Kapten?"

Tanya Gilpin sopan.

"Tidak, cuma sedang jalan-jalan santai."

Baru pada saat itulah tatapan mata pria botak itu sempat melirik sekilas ke arah sang Ragged Saint yang mengenakan aneka barang mewah yang sangat memancing nafsu para pencopet. Namun tidak ada sedikit pun kerakusan di sepasang matanya.

Sang Ragged Saint memang tidak bisa melihat dengan jelas, tetapi pendengarannya luar biasa tajam.

Meski belum mencapai taraf ekolokasi, dia sanggup menangkap bisikan-bisikan lirih dari kejauhan dengan sangat mudah.

Pendengarannya yang terasah pun telah berevolusi menjadi sebuah kepekaan intuitif yang memungkinkannya membaca watak asli seseorang secara mendalam.

Saat dia mengamati interaksi antara Encrid dan Gilpin, dia tidak merasakan adanya niat jahat maupun kerakusan dari pria bernama Gilpin itu.

Gilpin tampak tak ubahnya sosok perwira yang mengelola serikat kejahatan bawah tanah, atau sesuatu yang mendekati hal tersebut.

Pengalaman mengembara selama puluhan tahun telah mematangkan naluri sang orang suci, tetapi Gilpin sama sekali tidak menaruh minat pada harta bendanya.

"Semuanya aman?"

Tanya Encrid memastikan.

"Dengan Vengeance yang menjabat sebagai kepala keamanan kota, apa lagi yang perlu dicemaskan?"

Meski menyahut santai, Gilpin sebenarnya tengah disibukkan oleh segudang tanggung jawab berat. Krais telah menugaskannya untuk mengawasi serikat informasi dan menjaga ketertiban umum di seantero kota.

Akibatnya, Gilpin kehilangan banyak berat badan, dan pipinya tampak tirus cekung.

Begitulah konsekuensi wajar jika seseorang bekerja langsung di bawah perintah Krais.

Meski begitu, imbalan yang dia terima sangat menggiurkan, dan Gilpin merasa sangat puas dengan kehidupannya saat ini.

Semua dinamika ini adalah hal-hal yang belum sanggup dicerna seutuhnya oleh sang Ragged Saint. Situasi di kota ini terasa sangat unik dan ganjil baginya.

'Aneh. Benar-benar sangat ganjil.'

Usai menyusuri jalanan kota beberapa saat lamanya, Encrid berbalik arah menuju ke kawasan barak militer, tempat tenda-tenda darurat didirikan.

Sang Ragged Saint mengekor di belakangnya, mengamati dalam hening sebelum mendadak membuka suara.

"Aku merawat anak-anak yatim piatu korban perang. Apakah memungkinkan bagiku untuk mendirikan sebuah biara penampungan di kota ini untuk tujuan mulia tersebut?"

Itu bisa menjadi sebuah permintaan yang rumit dan berat, tetapi usai memindahkan seluruh kota bangsa peri tempo hari, permintaan ini tak lebih dari urusan sepele bagi Encrid.

"Silakan saja."

Encrid menyetujuinya tanpa ragu sedikit pun.

"Biayanya bisa jadi sangat mahal."

"Bukankah kau berencana menjual seluruh barang mewah yang menempel di tubuhmu itu?"

"Apa kau tidak berniat ikut menyumbang sedikit?"

"Tentu saja. Kau tahu Krais, kan? Pria bermata besar yang suka merengut masam kalau dimintai uang. Pergilah bicara dengannya."

"Bagaimana kalau aku sebenarnya adalah tipe orang bejat yang gemar memperjualbelikan anak-anak demi beberapa keping koin emas?"

"Kalau begitu untuk apa kau repot-repot membangun biara demi merawat mereka? Kau pasti langsung menjual mereka begitu saja. Di luar sana sudah ada terlalu banyak kelompok gila yang terobsesi menciptakan orang suci palsu."

'Orang macam apa dia ini sebenarnya?'

Sang Ragged Saint mengerjapkan matanya yang keruh beberapa kali.

Pemuda ini jelas tahu cara berpikir taktis, dan setiap tutur katanya menyimpan ketajaman tersendiri.

"Ada begitu banyak korban berjatuhan akibat ulah para bajingan semacam itu."

"Kalau begitu lakukan sesuatu untuk memperbaikinya."

"Kemampuan tuaku ini sangat terbatas."

"Kalau begitu bangun saja biaramu itu."

Percakapan mereka saling bersahut-sahutan dengan cepat, dan sang Ragged Saint mendapati dirinya sangat menikmati perdebatan singkat ini.

Di dalam dialog yang ringkas dan padat tersebut, segala pesan krusial yang ingin disampaikan telah tersalurkan secara utuh.

'Sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini?'

Sang Ragged Saint datang kemari demi melihat langsung sarang baru yang telah dipilih oleh Audin. Dia tahu bahwa di balik jalan terjal yang ditempuh putra angkatnya itu, Audin bukanlah sosok yang mudah dipengaruhi oleh orang lain. Dia pun paham betul bahwa Audin menyimpan luka batin yang sangat dalam.

Bohong jika dia mengaku tidak bangga melihat putranya sanggup mengatasi segala rintangan dan berdiri tegak dengan gagah.

Namun ada satu tanda tanya besar yang mengganjal di benaknya: mengapa Audin menolak kembali ke kuil suci dan justru memilih bertahan di markas militer ini?

'Encrid.'

Pemuda inilah jawabannya. Sang orang suci telah mendengar begitu banyak kisah tentangnya semenjak menginjakkan kaki di tempat ini.

Seiki telah menceritakan sosok pria yang telah menyelamatkan nyawanya.

Prajurit lainnya berkisah tentang seorang pria yang tak pernah menyia-nyiakan satu hari pun dalam hidupnya dan terus berlatih tanpa henti.

Dan masih banyak lagi yang melantunkan kisah tentang seorang Knight yang memperjuangkan perdamaian sejati sembari membantai para demon terkutuk.

Sang Ragged Saint dulunya hanya mengenal masa kini dari sosok Encrid, bukan awal mula perjalanannya yang berdarah, dan menduga pemuda ini adalah seseorang yang digerakkan oleh ambisi-ambisi agung. Namun menyaksikannya secara langsung memberikan kesan yang sepenuhnya berbeda.

Dia tidak mirip dengan siapa pun yang pernah ditemui sang orang suci seumur hidupnya.

'Apa yang membuatnya begitu berbeda?'

Pola pikirnya, keteguhan tekadnya, dan cara dia melangkah—semuanya terasa unik.

"Sebenarnya apa yang kau inginkan dalam hidupmu?"

Seluruh tanda tanya di kepalanya memadat ke dalam satu pertanyaan tunggal ini. Encrid tidak membutuhkan waktu untuk berpikir sebelum memberikan jawabannya.

"Saat ini, aku ingin menguasai teknik pedangku agar bisa mengalir sealami aliran air."

"Apa?"

Sang Ragged Saint kebingungan dan meminta penjelasan lebih lanjut.

"Aku telah merumuskan sebuah sistem, tetapi aku baru saja meraih satu spesialisasi baru. Aku ingin melangkah melampaui batas itu. Namun karena aku kurang berbakat secara alami, aku harus melangkah selangkah demi selangkah. Jadi untuk saat ini, ya, menguasai Flowing Sword adalah tujuan utamaku. Bukan seperti Fluid Sword—melainkan Flow, serupa aliran sungai yang tak pernah berhenti mengalir, bukan sekadar sumur yang tak pernah kering."

Sang Ragged Saint sama sekali tidak memahami sepatah kata pun dari penjelasan teknis tersebut. Meski pernah berlatih fisik di masa mudanya, ranah ilmu pedang setinggi ini berada jauh di luar jangkauannya.

"Apa maksudmu?"

"Kau sangat membantu. Audin bilang kau bisa membantuku, dan ucapannya terbukti benar."

Encrid terus berbicara seolah mabuk oleh luapan inspirasi di dalam kepalanya sendiri.

"Hah?"

"Hmm?"

"Mengajari Seiki tadi rupanya tidak sia-sia sama sekali."

Tepat saat mereka tiba di depan area barak, Encrid telah menghunus pedangnya dan langsung memulai sesi latihan tebasannya. Mengajaknya bicara saat ini terasa sia-sia; pemuda itu telah tenggelam seutuhnya ke dalam dunianya sendiri.

Pria yang dikenal sebagai sang Ragged Saint—yang berencana mendirikan biara penampungan anak yatim dan mengenakan barang-barang mewah demi tujuan donasi—berdiri mematung dalam diam menyaksikan sesi latihan Encrid yang menggila.

Beberapa saat kemudian, Audin melangkah mendekat dan bertanya ramah,

"Apakah jalan-jalannya menyenangkan?"

Usai terdiam sesaat, sang orang suci balik bertanya,

"Ada apa sebenarnya dengan kaptenmu itu?"

"Apakah terjadi sesuatu di jalan?"

"Dia mendadak mengoceh soal aliran sungai lalu langsung sibuk mengayunkan pedangnya membabi buta."

"Oh, itu hal yang sangat normal baginya."

"Normal kau bilang?"

"Ya, beliau memang selalu seperti itu."

Sang orang suci yang telah menghabiskan seluruh sisa hidupnya untuk mengembara, bertemu banyak orang, dan menolong sesama, akhirnya menyadari sebuah kebenaran mutlak yang sederhana.

'Orang-orang gila.'

Kini, dia akhirnya memahami mengapa ordo ksatria ini diberi nama Mad Knights.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.