Eternally Regressing Knight

Chapter 668 - Zaun

2796 Kata

Chapter 668 - Zaun

"Nah, siapa yang sudah siap mati hari ini?"

Seperti biasa, Rem tengah mencurahkan seluruh jiwanya untuk melatih satuan pasukannya, atau apa yang sebagian orang sebut sebagai siksaan neraka.

Dia akan memilih prajurit satu per satu untuk berduel melawannya, atau memaksa mereka melakoni simulasi pertempuran kalah jumlah. Opsi kedua melibatkan tiga petarung seimbang yang berusaha bertahan bersama menghadapi serbuan Rem, yang tentu saja jauh lebih disukai ketimbang harus berhadapan sendirian melawan sang komandan.

Meskipun mendengar kata-kata provokatif tersebut, tak seorang pun di dalam satuan pasukan yang berani menyela. Sebagai gantinya, mereka hanya membakar diri dalam kobaran tekad sunyi, siap menghadapi siapa pun yang berani menantang barisan mereka. Prajurit yang dulunya gemar mengeluh telah lama belajar untuk mengunci rapat mulut mereka.

Mereka telah menyadari kenyataan pahit bahwa melawan hanya akan berujung pada pemukulan habis-habisan sebelum mereka tetap diwajibkan menjalankan apa pun yang diperintahkan.

'Dasar bajingan-bajingan cerdas.'

Rem mendorong porsi latihan mereka semakin keras. Filosofi hidupnya sangat sederhana—pelatihan wajib berlangsung sebrutal mungkin agar mereka sanggup bertarung lebih beringas di medan perang yang sesungguhnya.

Siapa pun yang telah terbiasa didorong ke ambang kematian oleh hantaman kapak Rem selama latihan mendapati diri mereka jauh lebih tenang dan berkepala dingin saat berhadapan dengan kawanan monster buas. Di dalam pertempuran di luar batas kota, di mana satuan prajurit bayaran membantai kelompok binatang buas dan makhluk sihir, divisi Rem's Assault Unit selalu memamerkan kehebatan tempur yang luar biasa mengerikan.

Dan keunggulan mereka bukan sekadar tentang kelihaian bertarung semata.

Tak seorang pun dari mereka yang berani melecehkan wanita di wilayah kekuasaan, merampas barang warga, ataupun menuntut hidangan gratis di kedai penginapan.

Di balik tampang sangar mereka, sangat langka menemukan sebuah divisi militer yang ditempatkan di sebuah wilayah dengan tingkat kedisiplinan dan sopan santun setinggi pasukan binaan Rem.

Secara alami, kenyataan itu membuat reputasi Rem melambung tinggi setiap harinya. Semua orang tahu betul kehebatan divisi Rem's Assault Unit, dan nama besar itu membawa bobot pengaruh yang sangat nyata.

Karena itulah, beberapa keluarga bangsawan di wilayah selatan kerajaan mulai mentoleransi keberadaan sosok Rem.

Meski tentu saja mereka yang bertemu dengannya secara empat mata tidak pernah bersikap terlalu ramah kepadanya.

Rem tengah tenggelam dalam sesi latihannya, namun hari ini dia sengaja mengambil jeda sejenak untuk memarahi anak buahnya di tengah lapangan latihan.

Krosak, krosak.

Hal pertama yang tertangkap oleh telinganya adalah suara derap langkah kaki yang ceroboh. Siapa pun sosok yang tengah mendekat sama sekali tidak berniat menyamarkan jejak langkahnya.

Bersamaan dengan suara itu, menguar sebuah hawa keberadaan yang teramat mendominasi, sosok yang bahkan tidak bersusah payah menyembunyikan permusuhan pekatnya.

"Jadi, kau yang bernama Noble Slayer? Rambut abumu itu membuktikannya. Dan tampangmu memang persis seperti binatang buas."

Pria asing itu melangkah maju santai sembari melontarkan kata-katanya dengan nada malas yang mengejek.

Lapangan latihan milik Rem terletak tepat di kaki pegunungan Pen-Hanil Mountains. Garnisun sebenarnya memiliki aula latihan tertutup yang layak, namun dia lebih suka berlatih di alam terbuka, tepat di bawah kaki gunung yang terjal.

Berkat keberadaan mereka di sana, kawanan monster dan binatang buas jarang sekali sanggup menerobos melewati pos-pos perbatasan luar.

Apa yang awalnya bermula dari permintaan khusus Krais terbukti menjadi lokasi latihan tempur yang sangat ideal.

'Monster dan binatang sihir sering turun ke bawah? Sempurna.'

Begitulah cara dia menentukan lokasi markasnya.

Dan pria yang tengah melangkah mendekat saat ini baru saja turun dari arah puncak Pen-Hanil.

Tangannya menggenggam sebilah pedang terhunus, bilahnya tampak basah berlumuran darah gelap yang kental.

Rem telah merasakan hawa keberadaannya jauh sebelum pria itu tiba, jadi dia hanya duduk santai di atas undakan kayu panggung latihan, menyandarkan tubuhnya pada pagar sembari menyandarkan satu lengannya ke samping.

Undakan kayu reyot itu berderit menahan bobot tubuhnya.

Dia bahkan belum menghunus kapak perangnya. Postur tubuhnya terlihat sangat santai, beberapa orang mungkin akan mencapnya sebagai sikap yang terlampau arogan.

"Jadi, bajingan tak berguna mana lagi yang merangkak kemari hari ini?"

"Tak berguna? Kalau yang kau maksud itu aku, kau yang bakal mati hari ini."

Balas pria asing itu dengan kilat.

Zirah yang membalut tubuhnya berdesain tipis namun tampak sangat mahal, dan pedang di tangannya jelas bukan senjata sembarangan.

Bahkan pembawaan dirinya memancarkan wibawa seorang bangsawan tulen. Meskipun untuk ukuran seorang bangsawan, aura keberadaannya terasa teramat haus darah.

"Apa pria ini sudah gila?"

Gumam salah seorang prajurit Rem heran.

Seorang mantan prajurit bayaran yang dulunya tersohor dengan julukan Mad Axe, bekas luka panjang di bawah matanya menjadi bukti nyata dari masa lalunya yang penuh pertumpahan darah.

Meskipun saat ini dia tergolong bersikap sangat kalem, hal itu murni karena standar lingkungan pergaulan di sekelilingnya yang jauh lebih mengerikan.

"Hei bodoh, kalau kau masih sayang nyawamu, enyahlah dari sini sekarang juga."

Prajurit senior lainnya melambaikan tangannya mengusir acuh tak acuh.

Mereka semua tahu betul bahwa memancing amarah Rem adalah ide terburuk yang pernah ada di dunia.

"Apa dia tidak tahu di mana dia berdiri sekarang? Apa dia mengira tempat ini adalah arena bunuh diri gratis?"

Sembari para prajurit saling berbisik, salah seorang prajurit yang berhati lebih lembut melangkah maju memperingatkan.

"Pergilah. Kalau kau berbuat onar di sini, kau pasti akan mati konyol. Pergilah ke markas Divine Guard di sebelah sana. Mereka tidak akan membunuhmu, paling-paling cuma mengikatkan batu raksasa di punggungmu lalu menyuruhmu berbaris keliling lapangan seharian."

Tidak seperti divisi mereka, satuan pengawal suci itu setidaknya masih membiarkan para pengacau tetap hidup.

Namun di sini? Pasukan Rem tidak mengenal belas kasihan. Dan tak seorang pun dari mereka yang sudi mundur dari pertarungan.

Pria asing itu tidak menyahut. Sebagai gantinya, tanpa ada peringatan apa pun, dia langsung menebaskan pedangnya yang berlumur darah.

Bahkan Rem sekalipun nyaris terlambat bereaksi sebelum bilah pedang itu membelah udara.

Serangan itu melesat begitu cepat di luar nalar.

Tidak ada ancang-ancang. Tidak ada jeda napas. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda pergerakan otot sebelum tebasan itu meledak.

"TUNDUK!"

Wusss!

Tepat saat bilah pedang itu menyayat udara, suara gelegar Rem membahana mengguncang seantero lapangan latihan.

Itu adalah komando mutlak yang telah terpatri mendarah daging di dalam tulang belulang para prajuritnya.

Di dalam sesi latihan tempur keroyokan, kegagalan merespons perintah dalam hitungan detik berarti cacat seumur hidup.

Karena itulah, tanpa ragu sedikit pun, prajurit yang berdiri di garis depan secara naluriah mengencangkan otot perutnya.

Tubuhnya menjatuhkan diri ke belakang seolah ambruk seketika.

Tepat saat punggungnya menyentuh tanah—

DUKKK!

Sebilah kapak terbang membelah ruang udara tempat kepalanya berada sesaat lalu.

Senjata lempar itu menghantam bilah pedang sang penyerang dengan suara dentang logam yang memekakkan telinga.

Itu bukan kapak perang utama milik Rem. Melainkan sekadar sebuah kapak tangan cadangan.

Namun keahlian Rem dalam melempar senjata berada di taraf yang sangat luar biasa.

Pria asing itu telah menepis kapak terbang tersebut hanya dengan sedikit sentakan pergelangan tangannya. Tebasan awalnya tadi sejatinya diarahkan lurus ke dada sang prajurit.

Namun entah bagaimana caranya, sang pendekar pedang sanggup mengoreksi lintasannya di tengah ayunan demi mementalkan kapak tersebut. Dan dia melakukannya tanpa kehilangan keseimbangan kuda-kudanya sedikit pun ataupun menampakkan rasa terkejut.

"Sekarang katakan, siapa kau sebenarnya, keparat?"

Rem melangkah maju ke depan.

Hantaman sepatu botnya menghunjam tanah, memangkas jarak di antara mereka berdua dalam sekejap mata.

Sang pendekar pedang kembali menebas. Sebuah tebasan lurus ke bawah yang teramat bersih dan sempurna.

Rem membalasnya dengan ayunan kapak diagonal yang eksplosif.

Kedua senjata mematikan itu saling bertubrukan keras.

Kreeekkk!

Percikan api memancar terang saat mata kapak dan bilah pedang saling bergesekan kasar.

Tak satu pun pihak yang sudi mengalah. Senjata mereka terkunci rapat sesaat sebelum mendadak terpental memisah.

Rem menyerap daya benturan tersebut menggunakan kekuatan otot pahanya lalu kembali mengayunkan kapaknya kencang, kedua lengannya menyentak lincah bagaikan lecutan cambuk saat kapaknya berkelebat kabur ke depan.

BOOOM!

Udara di sekitar mereka meledak dahsyat.

Itu adalah sebuah hantaman yang sanggup disejajarkan dengan teknik tebasan maut milik Encrid yang diselimuti oleh kehendak Will murni.

Mata kapak itu melesat kilat mengincar kepala sang pendekar pedang.

Sreeet!

Bilahnya membelah target secara sempurna, namun tidak ada setetes darah pun yang memancar keluar.

Sebuah bayang-bayang ilusi.

Sang pendekar pedang telah melentingkan tubuhnya ke belakang tepat pada waktunya. Manuver itu nyaris terlihat seperti sebuah keberuntungan belaka.

'Keberuntungan kepalamu botak.'

Rem tahu kebenarannya.

Pria itu melakukannya dengan sengaja. Dia telah mengkalkulasikan waktu serangannya hingga ke fraksi detik terakhir.

Dan kini—

Dia melancarkan tusukan maut.

'Oh?'

Rem menyeringai tipis di dalam hatinya.

Tingkat presisinya sangat mengagumkan.

Alih-alih melancarkan serangan balasan yang serampangan, sang pendekar pedang mencengkeram senjatanya tepat di dekat pelindung tangan lalu melancarkan tusukan lurus yang sempurna persis seperti di buku pedoman.

Itu adalah gerakan dasar yang sederhana. Namun jika dieksekusi dengan benar, daya bunuhnya teramat mematikan.

"Boleh juga kemampuanmu."

Rem menyentakkan kaki kirinya ke depan.

Dia berniat menghindari tusukan tersebut hanya dengan sedikit memiringkan kepalanya.

Namun sang pendekar pedang menarik mundur serangannya pada detik-detik terakhir.

Langkah kakinya teramat ringan.

Dia melangkah mundur menjauh, pedangnya terangkat tegak. Kedua tangannya kini mencengkeram gagang pedangnya rapat-rapat.

Rem menyandarkan kapak perangnya santai di atas pundaknya. Dua kuda-kuda bertarung yang sepenuhnya bertolak belakang.

"Dari selokan mana bajingan sepertimu merangkak keluar?"

Gumam Rem pelan.

Ada sesuatu dari diri orang ini yang sangat mengusik ketenangannya.

"Kenapa? Kau ingin tahu?"

"Tidak juga, dasar keparat."

Dan nada bicara pria itu terdengar sangat menjengkelkan.

Sang pendekar pedang menggeser kuda-kudanya. Dia tengah memusatkan seluruh energinya ke dalam serangan berikutnya. Sebuah penerapan sejati dari Middle Sword Technique.

Mata kapak Rem berdengung halus. Getaran getaran tajam merambat di sepanjang gagangnya.

'Mari kita sudahi omong kosong ini.'

Rem menghantamkan serangannya.

Kedua senjata mereka saling bertubrukan dahsyat—

DUAAARRR!

Gelombang kejut raksasa menyapu seantero lapangan latihan.

"Gila... mereka berdua benar-benar monster tidak waras..."

Salah seorang prajurit bergumam ngeri.

Rem tidak membunuhnya. Namun mata kapaknya kini bersandar dingin tepat di atas kepala sang pendekar pedang.

Jika seorang Knight memiliki kekuatan fisik dan keahlian setinggi Rem, tidak ada gunanya mengangkat senjata tinggi-tinggi; sekadar sedikit goresan dangkal saja sudah lebih dari cukup untuk membelah tengkorak kepala lawannya menjadi dua.

Pria yang menyerang tadi kini berlutut di atas satu kakinya. Darah segar mengalir deras dari balik pelindung bahunya yang robek hancur.

"Kutanya kau satu hal saja. Jawab baik-baik kalau masih ingin bernapas."

Suara Rem memancarkan hawa pembunuh yang sangat pekat, dan ini sama sekali bukan lelucon.

Berbeda dari aura permusuhan main-main yang biasa dia tunjukkan selama sesi latihan, kali ini suasananya sepenuhnya berbeda.

Jika hawa pembunuhnya yang biasa tak ubahnya hangatnya matahari pagi yang baru terbit, maka hawa pembunuhnya saat ini adalah kobaran terik matahari siang yang membakar—teramat nyata dan menyengat.

Jika jawaban yang meluncur keliru, kapaknya akan langsung membelah kepalanya.

Maknanya, dia sama sekali tidak berniat menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya siap membantai lawannya saat ini juga.

"Apa hubunganmu dengan bajingan buta arah itu?"

Tanya Rem dingin.

Di saat Rem tengah bertarung di kaki gunung, Audin pun mendapati dirinya tengah berhadapan langsung dengan seseorang.

Pria yang berdiri tegak di hadapannya memiliki rambut pirang berkilau dan sepasang mata biru jernih. Rahangnya tegas dengan perawakan tubuh yang tinggi besar, meski masih belum sanggup menandingi postur raksasa milik Audin.

"Aku datang kemari untuk menemui seseorang."

Ucap pria berambut pirang itu santai.

Audin sempat ingin bertanya bagaimana pria ini bisa menerobos masuk, namun dia mengurungkan niatnya.

Tidak peduli apakah dia menyelinap secara diam-diam atau melangkah santai melewati gerbang utama, tak seorang pun prajurit jaga yang sanggup menghentikan langkahnya.

Tepat di samping Audin, Luagarne memutar sepasang matanya yang besar.

"Dari mana bajingan ini merangkak masuk?"

Kemampuan mata Insightful Gaze miliknya adalah keahlian khusus yang memungkinkannya mengukur taraf kemampuan lawan dengan sangat akurat.

'Aku tidak bisa melihat menembus dirinya.'

Dia sanggup mengukur potensi perkembangan Encrid karena dia telah mengamati pertumbuhannya dalam kurun waktu yang sangat lama, namun jika menyangkut orang asing, terutama para Knights tingkat tinggi, ada kalanya bahkan matanya pun membentur dinding tebal.

Dia memanfaatkan kenyataan itu sebagai tolok ukur untuk menakar kekuatannya.

Paling tidak, pria ini adalah seorang Knight sejati.

"Kudengar dia berada di sini, tapi aku belum yakin apakah rumor itu benar."

Pria itu berbicara dengan sangat hati-hati, seolah memilih setiap kata-katanya secara terencana. Dia bahkan tidak menuntaskan kalimatnya dengan benar.

Audin menyambutnya dengan seulas senyuman hangat yang tenang.

"Bukankah seharusnya kau memperkenalkan dirimu terlebih dahulu, Saudara?"

Pria pirang itu tetap bersikap acuh tak acuh bahkan saat menatap langsung ke arah Audin.

Dia memang belum menghunus senjatanya, namun intuisi tajam Audin memberitahunya bahwa pria ini tinggal selangkah lagi menuju serangan kilat.

Secara alami Audin menyesuaikan kuda-kudanya. Dia merenggangkan kedua kakinya sedikit lalu membiarkan kedua lengannya menggantung rileks.

Jika tangannya berhasil mencengkeram sesuatu, dia akan langsung meremukkannya hingga patah. Begitulah sifat alami dari cengkeramannya yang tanpa ampun, selalu siap meledak di setiap saat.

"Jadi, yang sebenarnya ingin kutanyakan adalah, uh... lebih tepatnya, aku ingin memastikan sebuah nama. Apakah kau yang bernama Encrid?"

Tanya pria pirang itu blak-blakan.

Dari arah belakang, Lawford dan Pel saling bertukar pandang heran.

Siapa sebenarnya orang tolol yang satu ini?

Di seantero wilayah ini, Encrid tersohor sebagai Demon Slayer, Pelindung Border Guard, dan Pria yang Mengakhiri Perang Saudara.

Semua orang tahu betul bahwa Encrid berambut hitam legam, bermata biru, dan memiliki paras yang sanggup memikat wanita dari berbagai ras.

"Apa tampang sangar seperti itu terlihat seperti pemikat wanita bagimu? Lihat tubuhnya. Menurutmu dia bisa merayu wanita?"

Pel melontarkan apa pun yang melintas di dalam kepalanya tanpa filter.

Entah julukan pemikat wanita itu berubah menjadi penakluk hati atau apa pun—itu bukan nama panggilannya, jadi dia tidak peduli.

Sementara itu Audin merasa sangat puas dengan ketampanan wajahnya sendiri, yang membuat mendengar ejekan barusan terasa sangat membingungkan baginya.

"...Saudara Gembala?"

Panggil Audin pelan.

"Ucapanku tidak salah kan,"

Gumam Pel sembari membuang pandangannya ke samping.

"Tentu saja itu salah."

Teresa ikut menimpali tegas.

"Sangat keliru."

Gadis itu mempertegas pernyataannya, memastikan tidak ada kesalahpahaman.

"Saudari Teresa?"

"Aku hanya memastikan agar tidak terjadi kekeliruan informasi."

Oh, jadi ini yang namanya membantu? Begitulah sorot mata Audin berbicara.

"Dari mana sebenarnya orang ini datang sampai tidak mengenali kapten kami? Orang ini mungkin tidak bisa memikat hati wanita, tapi dia punya hobi merobek tubuh orang menjadi dua bagian. Jaga mulutmu. Kata-katamu tadi jelas membuat Tuan Audin tersinggung."

Lawford memperingatkan.

"Jadi... rupanya aku punya hobi merobek tubuh orang menjadi dua bagian ya?"

Tanya Audin seraya mengangkat sebelah alisnya heran.

"Ah. Bukankah memang begitu kenyataannya? Kudengar di satuan Divine Infantry, kalau kau berbuat salah sedikit saja, tubuhmu bisa dirobek menjadi dua."

Apakah ada yang keliru dengan kurikulum latihan fisik yang dia terapkan selama ini?

Untuk sesaat, Audin merenungkan masa lalu. Mungkin menu latihan yang dia berikan selama ini masih terlalu ringan.

Pelatihan yang benar seharusnya tidak menyisakan ruang bagi pikiran-pikiran kosong semacam itu.

Pria berambut pirang itu mengerjapkan matanya beberapa kali.

Dia belum pernah mendengar julukan mengerikan semacam itu sebelumnya.

Namun satu hal sudah sangat terpampang jelas—

Sosok raksasa berotak beruang yang berdiri di hadapannya saat ini bukanlah lawan yang mudah dikalahkan.

"Yah, itu bukan masalah besar bagiku."

Ucap pria pirang itu santai.

Pembawaan dirinya yang tadinya rileks mendadak bertransformasi, digantikan oleh sesuatu yang baru.

Antisipasi.

Gairah bertarung.

"Ayo kita bertarung."

Bahkan sebelum kalimat itu tuntas terucap, Audin telah tahu bahwa pria itu akan melancarkan serangannya.

Hawa keberadaannya meledak maju ke depan. Sebilah pedang membelah udara dengan ganas.

Serpihan debu keemasan berkilauan di kedua tangan Audin saat dia mengepalkan tinjunya erat-erat.

Zirah suci yang terbentuk dari padatan kekuatan suci murni menyambut hantaman pedang yang menyambar turun.

TRANGGG!

Pancaran aura suci yang terjalin rapat di sarung tangan besi milik Audin berbenturan keras melawan bilah pedang lawannya yang diselimuti oleh kehendak Will murni.

Audin secara naluriah mengaktifkan jurus Divine Penetration, namun lawannya menarik mundur senjatanya tepat pada detik benturan terjadi, membubarkan efek daya tembus tersebut.

Itu adalah pedang satu tangan yang ditempa sempurna persis sesuai standar buku teks militer.

Bilah pedangnya memancarkan perpaduan warna biru pucat dan putih bersih, tingkat kekerasannya membuktikan segalanya—itu bukanlah senjata buatan pandai besi sembarangan.

'Seorang pendekar veteran berpengalaman.'

Audin menakar watak asli lawannya. Pria ini memiliki keterampilan tempur tingkat tinggi dengan teknik-teknik yang telah terasah matang di kancah peperangan berdarah.

Di saat yang bersamaan, pria pirang itu pun tengah menakar kekuatan dahsyat milik Audin.

'Cerita soal merobek tubuh orang menjadi dua bagian itu rupanya bukan bualan belaka, ya?'

Kekuatan cengkeraman fisik murninya. Kematangan teknik bertahannya. Semuanya terasa sangat masuk akal.

Tepat beberapa detik lalu, Audin sempat mencengkeram bilah pedangnya dan nyaris mematahkannya menjadi dua bagian.

Manuver mengerikan itu sudah lebih dari cukup untuk memaksa sang pria pirang melangkah mundur secara naluriah.

"Ini sangat menyenangkan."

Pria itu menyeringai lebar.

Audin merasakan sesuatu yang sangat familiar dari sosok pria ini.

Rasanya tak ubahnya seseorang mencampurkan tiruan murah dari sosok Encrid dengan tiruan murah dari sosok Ragna lalu menyuruhnya melangkah berjalan.

"Namaku adalah Odinkar Zaun."

"Aku adalah Audin Plumray. Aku adalah abdi yang mengerahkan kekuatan suci Tuhan."

"Mari kita bersenang-senang sebentar."

Zaun.

Nama keluarga yang sama persis dengan yang disandang oleh Ragna.

Pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Odinkar itu mengangkat pedangnya tegak.

Pendaran cahaya halus berkilauan pekat di sepanjang permukaan bilah senjatanya.

Itu adalah Will murni, yang telah memadat menjadi bentuk nyata.

Pria ini—

Dia telah berhasil melompati tembok penghalang bakatnya.

Dia adalah sosok pendekar jenius yang telah berhasil mendobrak batas kemampuannya.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.