Bab 671

Berbeda dari kekhawatiran Krais, pertarungan sengit tidak terjadi.

Kedua belah pihak pernah bertarung sekali dan paham betul: mereka adalah orang-orang yang hasil menang atau kalahnya sulit ditentukan kecuali bertarung mempertaruhkan nyawa.

"Kau pikir keunggulanmu saat ini akan bertahan selamanya?"

Sosok yang baru saja nyaris tewas di tangan Rem angkat bicara. Penampilannya biasa saja, tetapi matanya memancarkan kecerdasan tajam. Namanya Magrun Zaun, setidaknya begitulah yang didengar orang-orang.

Meski warna rambutnya berbeda dari pria bernama Odinkar, ada kemiripan samar di antara keduanya. Jika Odinkar memberi kesan lesu dan santai, Magrun justru memancarkan tekad membara. Tentu saja itu baru kesan awal dan belum tentu seratus persen mencerminkan kepribadian mereka, tetapi tampaknya tidak jauh meleset.

Orang-orang ini tidak berusaha menyembunyikan isi kepala mereka. Hal itu sudah dipahami sejak mengamati masyarakat fairy.

Bagi mereka, kebohongan tidak berguna. Bahkan kata "bohong" tidak ada dalam bahasa mereka. Sudah sewajarnya mereka terbiasa hidup tanpa perlu menutupi niat sebenarnya.

"Zaun selalu hidup dalam persaingan. Kami tidak seperti kalian, yang seenaknya menumbalkan yang lemah demi kenyamanan kalian sendiri."

Magrun melanjutkan kata-katanya. Di bawah tatapan semua orang, ia menyapu pandangan ke sekeliling. Sorot mata dan pembawaannya menunjukkan bahwa ia bukan tipe orang yang mudah gentar.

Bahkan setelah dihajar habis-habisan oleh Rem, sikapnya seolah menegaskan bahwa semua ini belum berakhir.

Ucapannya tepat sasaran sampai batas tertentu. Itu adalah kritik pedas terhadap perlakuan benua terhadap para Knights.

Di benua ini, Knights tidak pernah saling bertarung dalam latih tanding. Nilai mereka terlalu berharga untuk mengambil risiko cedera atau mati dalam latihan. Kerajaan-kerajaan di benua memperlakukan Knights dengan penuh hormat dan menuruti kehendak mereka. Jika mereka terluka atau tewas dalam latihan, kerugiannya tak terhitung. Tentu saja mereka selalu menghindari konflik semacam itu.

Namun, perkataan Magrun menyuarakan keyakinan yang bertolak belakang. Ia mengkritik rasa puas diri para Knights yang berhenti berjuang setelah meraih status. Nada suaranya berapi-api.

Akan tetapi, Rem sama sekali tidak menggubrisnya.

*'Dia ini ngomong apa sih?'*

Ucapan Magrun sama sekali tidak cocok dengan jalan pikiran para Madmen of the Border Guard.

Orang-orang yang berkumpul di sini adalah prajurit sejati—mereka yang kerap dijuluki bunga medan perang. Mereka berdiri tegak di tanah basah berlumur darah, merengkuh kematian di samping mereka, berbisik lewat bilah pedang alih-alih lidah, dan menyongsong hari esok dengan pedang terhunus.

Terutama Encrid. Masih bisa berdiri dan berbicara sampai hari ini saja sudah merupakan keajaiban.

Setidaknya, begitulah cara Rem memandangnya. Audin dan Jaxon kemungkinan besar akan sependapat.

Mungkin semua ini hanya kebetulan.

Magrun mendengus, lalu mengangkat jari dan menunjuk ke arah Encrid.

"Kudengar semua orang berkumpul hanya untuk mengajarinya. Apa bakatnya luar biasa? Apa dia menikmati anugerah yang disodorkan padanya? Apa dia cuma sekadar meniti jalan yang sudah disiapkan untuknya? Begitukah caranya sampai ke titik ini?"

Kata-katanya sarat emosi. Nada bicaranya memancarkan rasa percaya diri mutlak dari seseorang yang memegang teguh keyakinannya.

Encrid buyar dari lamunannya, lalu menatap Magrun—tepatnya, menatap jari yang menuding ke arahnya.

Bagi Magrun, itu sudah menjadi kesimpulan. Ucapannya memiliki bobot yang sama seperti ayunan pedang yang dialiri Will miliknya.

"Apa Ragna yang menuntunmu? Apa kau cuma beruntung bisa sampai di sini? Tunggu saja. Aku akan menyusulmu segera. Tidak butuh waktu lebih dari dua bulan."

Pel pernah bertarung berdampingan bersama Encrid di kota fairy, membantai demon, memerangi kultis, dan menyaksikan segala hal yang terjadi sejak kepulangan mereka.

"Si bodoh ini ngomong apa sih?" gumam Pel jengkel.

"Kau yang tidak punya kualifikasi, menyingkir saja," ketus Magrun tanpa sudi melirik Pel.

Pel langsung meradang, tetapi Lawford sigap menahan lengannya.

Raut wajah Lawford tetap tenang seperti biasa. Namun, bibirnya yang terkatup rapat tanpa getaran sedikit pun menandakan bahwa suasana hatinya sedang tidak ramah.

"Ucapannya tidak sepenuhnya salah, kan?" ujar Lawford dengan nada retoris.

Ia tidak bermaksud memprovokasi Pel, dan Pel tahu itu.

Sebaliknya, keduanya mengertakkan gigi, diam-diam bertekad melipatgandakan intensitas latihan di bawah bimbingan Audin mulai besok.

Apakah metode pilihan Encrid adalah jalan tercepat? Mungkin tidak. Bisa jadi jalan itu bahkan bukan jalan yang benar.

Namun, untuk saat ini, tidak ada cara lain. Jadi mereka akan terus melakukannya.

Bukankah mereka belajar banyak dari mengamati pria itu?

Saat ragu, teruslah melangkah maju. Saat tidak ada waktu untuk duduk, merangkaklah jika perlu, tetapi tataplah selalu ke depan.

Itulah jalannya. Mereka akan melakukan apa yang sudah diajarkan.

Setidaknya, Pel dan Lawford memiliki pemikiran yang sama.

*Dasar bodoh. Orang-orang di sini berhasil mengejar pemimpin mereka hanya dalam dua minggu. Dan kau pikir mereka cuma duduk santai selama dua bulan terakhir?*

Magrun berdiri tegak. Ia tidak sombong. Rasa percaya diri itu lahir dari pengalaman nyata.

"Orang-orang yang tumbuh disuapi tanpa persaingan sengit..."

Nada bicaranya benar-benar memancing emosi.

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, tatapan semua orang serempak tertuju pada Encrid.

Encrid menatap Magrun dalam diam. Mereka semua menunggu tanggapannya.

Kini saatnya ia bicara—entah dengan meremukkan si mulut besar yang bodoh itu, atau mempermalukannya dengan kata-kata tajam.

"Dua bulan? Cuma itu yang kaukebutuhkan?" tanya Encrid santai tanpa raut kesal sedikit pun.

Alih-alih tersinggung...

*'Kenapa wajahnya malah kelihatan senang begitu?'*

Rem memiringkan kepala keheranan, sementara alis Jaxon berkedut.

"Kak?" panggil Audin.

Namun, Encrid mengangkat telapak tangan, memberi isyarat agar adiknya diam.

Pel, Lawford, dan Teresa memandang dengan bingung.

Akan tetapi, Luagarne yang pertama kali menyadarinya.

*'Dia bersemangat.'*

Dugaan itu tepat. Dan tidak sulit menebak alasannya: karena mereka pandai bertarung.

"Kuberi waktu dua bulan. Buktikan dirimu," ucap Encrid sekali lagi.

Magrun berbeda dari Grida. Ia sadar akan kelemahannya sendiri: ia punya kebiasaan membuat orang lain jengkel setiap kali berbicara.

Grida enggan mengakui ketidakmampuannya mengenali wajah, tetapi Magrun tidak seperti itu.

Namun, reaksi ini terasa baru. *Kenapa dia tidak marah?*

Biasanya, orang-orang akan membela usaha keras mereka, berteriak bahwa mereka dihina, dan menuntut agar pencapaian mereka tidak diremehkan.

Itulah tanggapan yang wajar.

"Hmm... dua bulan harusnya cukup," gumam Magrun, separuh api amarah dalam suaranya mulai padam.

"Omong-omong, Krais? Di mana Big Eyes?" tanya Encrid tiba-tiba keluar dari topik.

"Dia tadi menyelinap pergi diam-diam," sahut Luagarne.

"Kalau begitu, Lawford."

"Ya?"

"Carikan tempat tinggal untuk mereka bertiga."

"Dimengerti."

Lawford mengangguk lalu beranjak pergi. Tatapan Magrun tak pernah lepas dari Encrid.

Grida dan Odinkar juga menatap pria itu dengan rasa ingin tahu yang besar.

"Baiklah. Namamu Odinkar, kan? Ayo kita tanding."

Tanpa memedulikan reaksi orang lain, Encrid langsung mengajak bertarung.

Odinkar punya beberapa kemiripan dengan Encrid, tetapi setidaknya ia masih memiliki sedikit kepekaan akal sehat.

"Sekarang?" tanya Odinkar.

Ia memang ingin bertarung. Naluri tempur di dadanya berdegup kencang.

Namun, bukankah saat-saat seperti ini harusnya membuatmu marah? Kenapa kau malah kelihatan begitu gembira? Kenapa kau menggenggam pedang seolah tak sabar ingin berpesta?

"Aku belum menghunus pedang ini karena masih belum terbiasa. Besok aku baru akan memakainya. Untuk sekarang, aku pakai yang ini dulu."

Encrid sudah tidak lagi mendengarkan orang lain.

Keahlian khusus Grida Zaun adalah menganalisis kelemahan lewat pengamatan tajam.

Encrid sudah bisa menebak bakat Grida. Wanita itu mungkin punya keterampilan tersembunyi lain, tetapi dari apa yang terlihat, kemampuan itulah yang paling menonjol.

Keahlian Magrun Zaun juga membuatnya penasaran, tetapi Magrun saat ini terluka.

"Pel, panggil Ann untuk mengobatinya," titah Encrid tanpa mengalihkan pandangan dari Odinkar.

Knights memiliki kemampuan pemulihan yang jauh melampaui manusia biasa. Dengan sedikit obat saja, luka seperti itu akan lekas menutup.

Patah tulang seorang Knight bahkan bisa tersambung kembali hanya dalam sehari. Will yang bergejolak mengisi ulang vitalitas mereka, memungkinkan pemulihan kilat semacam itu.

Bagi mereka yang bukan Knight, mencapai hal serupa membutuhkan usaha yang luar biasa gila dan latihan yang sangat brutal.

Itulah yang dulu dijalani oleh Audin dan Encrid.

"Kau bersemangat karena dapat lawan kuat, atau karena tak sabar ingin menghajarnya?" tanya Rem, menyadari gelagat Encrid.

"Mungkin dua-duanya," jawab Jaxon mewakili.

"Tuan, apa kau ini Apostle of the God of War, bukan aku?" celetuk Rem heran.

Encrid mendengar semuanya, tetapi seperti biasa, kalimat-kalimat itu hanya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Ia hanya memiringkan pedangnya perlahan.

Melihat alur situasi, Odinkar kembali menghunus pedangnya.

*Ching!*

Bilah perak itu menampakkan diri dengan dengungan jernih yang membelah udara.

Odinkar sadar akan tatapan orang-orang di sekitarnya, tetapi ia bukan tipe orang yang suka menahan diri.

Bukan, lebih tepatnya, ia adalah tipe orang yang memang tidak bisa menahan diri.

Odinkar memilih kata-katanya dengan hati-hati, mengulanginya beberapa kali di dalam benak sebelum berucap.

"Aku yang lebih diuntungkan. Pedang ini kuambil dari keluargaku dan sudah terbiasa di tanganku. Dan asal kau tahu, aku tidak terlalu tahu caranya berhenti. Kesabaranku tipis, jadi... berusahalah tetap hidup, meski cuma sedikit."

Jika kelemahan Grida adalah buta mengenali wajah, dan kelemahan Magrun adalah bakat sial merusak suasana lewat kata-katanya, maka cacat terbesar Odinkar adalah ketiadaan kendali diri.

Alasan ia biasanya tampak santai adalah karena begitu memulai sesuatu, ia benar-benar tidak bisa berhenti.

Sebagai contoh, jika ia kebetulan memakan hidangan yang sangat cocok di lidahnya, ia akan terus memakan hidangan itu setiap hari selama setahun penuh.

Dan yang paling parah adalah saat bertarung. Odinkar tidak tahu caranya menahan serangan.

Dalam pertempuran hidup-mati, kenekatan itu terkadang berubah menjadi manuver brilian yang menentukan, mengangkatnya menjadi keunggulan maut. Namun, dalam latih tanding? Sikap itu murni menjadi bencana.

Akan tetapi, Encrid sama sekali tidak melihat ada yang salah dengan semua itu. Atau lebih tepatnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Tidak bisa mengenali wajah?

Itu bukan masalah besar. Tentu jauh lebih baik daripada kebiasaan tersesat lalu menghilang tanpa kabar.

Cara bicara yang kasar dan menyakitkan hati?

Itu tidak ada apa-apanya. Dibandingkan dengan ucapan Rem yang terkadang membuat Encrid berpikir apakah ia perlu mengheningkan cipta untuk musuh-musuh Rem, omongan Magrun masih jinak. Lidah sang barbarian kian hari kian setajam belati.

Dan tidak bisa menahan diri?

Kenapa harus menahan diri? Encrid punya orang-orang di sekitarnya yang sanggup menahan tebasan pedangnya.

Ada orang-orang hebat di depannya—mereka yang belum berhasil ia lampaui—yang akan selalu mengingatkannya bahwa serangannya belum cukup kuat.

Jadi, kenapa harus menahan diri?

"Maju sini. Dua bulan," cetus Encrid, bahkan tak repot-repot mengingat nama lawannya.

"Dua bulan itu aku," gumam Magrun bingung.

Grida yang berdiri di sampingnya terkekeh pelan. Sekarang, semua orang paham betul apa maunya si orang gila ini.

"Kau sering dibilang aneh, ya?" tanya Odinkar sembari sedikit menurunkan pedangnya.

Saat anggota keluarga Zaun melangkah ke benua luar, hal yang paling sering mereka dengar adalah bahwa mereka berbeda.

Itu adalah versi sopannya.

Di belakang punggung, orang-orang tanpa ragu menyebut mereka orang gila. Dan sekarang, di depan matanya berdiri seseorang yang kegilaannya jauh lebih parah.

"Tidak, tidak pernah," sahut Encrid datar.

Bukan cuma menyangkal, ia bahkan tidak merasa dirinya aneh sama sekali.

"Bukan, kau memang aneh," tawa Odinkar lepas. Kali ini, ia tidak menyaring kata-katanya lagi. Ia melontarkan apa pun yang melintas di benaknya.

Hal itu memicu satu pertanyaan: apa benar-benar tidak apa-apa untuk bertarung tanpa menahan diri?

Semua orang serentak melangkah mundur, memberi ruang luas untuk arena tanding mereka.

Luagarne, saat melangkah menjauh, tiba-tiba menyadari sesuatu.

Encrid tidak hanya bersemangat karena lawannya kuat. Ada hal lain yang bercampur di dalamnya.

Rasa ingin tahu.

Encrid memiliki mimpi dan hasrat yang membara. Belakangan ini, hasrat itu dibarengi dengan kehausan yang kian membesar akan pengetahuan baru.

Kata yang paling tepat untuk menggambarkan Frog adalah rasa penasaran—keinginan tak bertepi untuk tahu lebih banyak.

Soal apa?

Keluarga Zaun melatih para Knights melalui sistem yang mapan. Mereka memiliki metode yang terstruktur rapi untuk membina seorang ksatria.

Dan Encrid ingin mempelajari metode itu. Itulah alasan sebenarnya ia meminta mereka bertiga tinggal.

Ketiadaan Ragna hanyalah alasan yang tepat.

Mulut ceroboh Magrun soal dua bulan adalah alasan lain yang menguntungkan.

Semuanya hanyalah dalih.

Bahkan jika alasan-alasan itu tidak muncul, Encrid pasti akan tetap menahan mereka tinggal. Luagarne sangat yakin akan hal itu.

Sementara itu, sudut bibir Encrid terangkat. Senyum puas tersungging di wajahnya. Ia sudah menangkap satu celah kelemahan Odinkar.

Celah yang disodorkan sendiri oleh lawannya secara cuma-cuma. Bagaimanapun, Odinkar baru saja mengatakannya sendiri: kesabarannya sangat tipis.

"Kau punya kekasih?" tanya Encrid tiba-tiba.

"Apa?"

"Kalau iya, aku turut berduka untuknya."

"Kenapa? Kau berencana membunuhku?"

Odinkar tersenyum, mengira itu hanyalah provokasi murahan.

Namun, Encrid bukanlah tipe orang yang melontarkan provokasi asal-asalan.

"Bukan. Kau bilang kesabaranmu tipis, kan? Betapa menderitanya kekasihmu. Malam-malam bersamamu pasti terasa panjang dan melelahkan, sebagian besar berakhir dengan kekecewaan."

Kalimat itu membuat semua orang butuh beberapa detik untuk mencerna maknanya. Odinkar pun tak terkecuali.

Dan begitu ia akhirnya paham maksud dari sindiran ranjang tersebut, rona merah padam langsung menjalari wajahnya. Dengan tatapan murka, Odinkar menyembur.

"Aku tidak sepayah itu kalau di ranjang!"

Pada saat yang sama, tubuhnya melesat maju ke depan—sangat cepat. Kecepatan yang membahayakan nyawa.

Jika ada celah untuk meruntuhkan ketenangan lawan, Encrid pasti akan memanfaatkannya tanpa ragu.

Memegang sedikit keunggulan itu, Encrid dengan luwes mendorong Penna ke depan.

Itu adalah Body Slipping, teknik dari Valaf-Style Martial Arts yang ia adaptasikan menggunakan bilah pedang.

Tenaga mengalir dari pergelangan tangannya, diserap sempurna oleh tubuh, lalu dialihkan mulus melalui pedang.

Senjata hanyalah perpanjangan dari tangan.

Untuk saat ini, ia menamai manuver itu secara spontan: Feather Flick.

Pada tahap ini, ia masih bertarung mengandalkan teknik murni—tahapan yang diklasifikasikan Encrid sebagai tingkat menengah.

Namun, kemenangan tidak ditentukan semata-mata oleh tingkatan ilmu. Terlebih lagi dalam sebuah duel.

Wave Blocking Sword menunjukkan performa terbaiknya dalam pertarungan satu lawan satu, memberinya keunggulan tambahan.

*Clang!*

Kedua bilah pedang beradu keras.

Pedang memang tidak bersuara, tetapi baja tajam itu menjerit lantang, berdenting berkali-kali tanpa jeda.

*Clang! Bang! Clang!*

Begitulah, kedua pedang itu mulai menggubah irama mars perang mereka sendiri.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.