Bab 698

Di saat Encrid menghabiskan waktu beberapa hari untuk melakoni duel tanding, mengasah ilmu, serta menghilang dan muncul kembali sesuka hati, Ann pun sama sekali tidak tinggal diam berpangku tangan.

"Aku harus memeriksa kondisi pemukiman ini sebentar."

Itu bukan sekadar gumaman santai di bibir—gadis itu benar-benar merealisasikannya lewat aksi nyata. Ia menjelajahi lorong-lorong batu, mengakrabkan diri dengan jalanan pemukiman, dan memeriksa warga satu per satu.

"Uhuk
 Ada apa, Nona Tabib?"

"Sejak kapan Anda mulai batuk-batuk seperti ini?"

"Entahlah
 mungkin sejak musim panas tahun lalu?"

Sudah setengah tahun sejak gejala awal muncul.

*'Gejala primer: batuk berdarah.'*

Ada sedikit bercak darah segar pada dahak batuknya, tetapi menurut penuturan sang pasien gejala itu hanya muncul sesekali saat kondisi fisiknya tengah drop.

Ada tiga pendekar klan lainnya yang memperlihatkan tanda-tanda serupa.

"Terkadang tubuhku memang terasa agak lemas, tapi selain itu tidak ada yang sakit kok. Ragna, selamat datang kembali di rumah! Mau menjajal duel tanding satu ronde denganku?"

Bahkan ada ksatria yang menyambut kepulangan Ragna dengan antusiasme semacam itu.

Pria itu lekas melakoni latih tanding pedang melawan Ragna di lapangan terbuka. Murni dari penampilan fisiknya saja Ann yang awam ilmu pedang tidak sanggup mengukur kesenjangan keahlian di antara mereka.

Namun ia bisa menarik kesimpulan dari percakapan mereka setelahnya.

"Kemampuan pedangmu meningkat luar biasa ya," puji pria berambut cokelat ikal itu sembari menyeka keringatnya.

Ragna lekas menyarungkan greatsword miliknya ke punggung. Dengan bunyi *ting*, bilah baja raksasa itu terkunci rapi di sabuk kulitnya.

"Teruslah bertahan dan berlatih setiap hari. Cuma itu kuncinya."

"
Dan kau pulang ke rumah menjelma jadi orang gila seutuhnya," dengus sang pria ksatria tertawa getir.

Klan Zaun adalah tempat berkumpulnya para jenius berbakat. Tidak, tanpa adanya bakat alami, kedisiplinan ekstrem, serta hasrat membara untuk terus berkembang, seseorang mustahil sanggup bertahan di lembah ini.

Mereka yang gagal beradaptasi akan dipindahkan ke Hunters' Village. Dan saat usia mereka mulai renta dan melemah, mereka akhirnya menetap di Retirees' Village.

Desa itu menampung mereka yang kekurangan bakat tempur, sementara pos pelayanan perantara seperti bengkel pandai besi dipusatkan di Intermediaries' Village yang menopang roda ekonomi lewat jalur barter dagang dengan Kekaisaran dan kafilah saudagar luar.

Begitulah tatanan sosial House of Zaun dibangun.

Hanya mereka yang telah membuktikan bakat dan kegigihan baja yang diizinkan menetap di benteng utama, mendedikasikan seluruh hidup mereka demi mengayunkan pedang setiap hari.

Bagi para ksatria semacam itu, wejangan seperti *"cukup terus bekerja keras setiap hari"* terdengar sangat mirip dengan sindiran:

*"Kau tidak punya bakat, jadi menyerahlah."*

Pria itu sempat merasa tersinggung, tetapi jurang keahlian di antara mereka teramat nyata.

Ann mengamati pria itu lekat-lekat lalu bertanya pada Ragna:

"Bagaimana menurutmu?"

"Dia tidak terlalu buruk, tapi aku tidak tahu apa yang bakal tersisa dari dirinya pada akhirnya nanti."

"Bukan soal ilmu pedangnya! Bagaimana kondisi fisiknya tadi? Apa ada yang terasa aneh? Apa dia tampak lemas atau lamban di luar kebiasaan ksatria normal?"

"Tidak. Kondisi fisiknya kemungkinan besar sedang berada di puncak prima."

Duel tanding memang bukan pertarungan hidup-mati, tetapi bentrokan bilah tetaplah sebuah komunikasi jiwa antar pendekar.

Seseorang di tingkatan Ragna sanggup mengukur kondisi fisik dan vitalitas lawan hanya lewat getaran adu pedang.

"Gejala yang timbul-tenggelam secara berselang," gumam Ann mencatat di buku mediknya.

Dari sudut pandang Ragna, gadis bertubuh mungil ini tengah memperjuangkan sesuatu yang sangat penting, dan ia bertugas mendampinginya.

*'Ini pun bakal menjadi salah satu jejak peninggalan yang kuukir di dunia.'*

Encrid selalu melindungi orang-orang di belakang punggungnya. Ragna telah menyaksikan pemandangan itu ribuan kali. Awalnya yang ia rasakan murni hanyalah kebingungan besar:

*Kenapa pria itu melakukannya?*

Pedang Encrid tidak diayunkan demi memuaskan ambisi pribadinya, melainkan demi menyelamatkan orang lain.

Apa makna filosofis di balik tindakan itu?

Ia memahami sebagian teorinya di kepala, tetapi hatinya belum sanggup merengkuh esensi seutuhnya.

Jalan pedang Ragna sedari dulu sangatlah sederhana.

Itulah alasan mengapa ia tidak pernah merasakan kepedihan akibat kehilangan.

Ia belum pernah tahu bagaimana rasanya gagal melindungi sesuatu yang berharga. Begitulah realitas hidup yang ia jalani hingga detik ini.

Anak-anak yang terlahir tanpa status bangsawan atau kekayaan harta di benua ini akan mencengkeram besi: awalnya belenggu cangkul pertanian, dan begitu menyadari mereka memiliki tenaga fisik di atas rata-rata kawan sebayanya, mereka akan beralih menggenggam tombak atau pedang.

Itu adalah jalan pintas tercepat untuk mendobrak kasta sosial di benua ini.

Jika kau jago bertarung, itu sudah lebih dari cukup.

Jika kau sanggup bertarung sebaik seorang Squire, para saudagar kaya akan berebut menyewamu dengan bayaran mahal, dan di dunia tentara bayaran kau bisa berjalan dengan kepala tegak.

Jika kau bertarung selevel Junior-Knight?

Kau bisa menuntut bagi hasil saham di serikat dagang dan hidup bergelimang kemewahan.

Kau bahkan bisa memimpin serikat tentara bayaran sendiri lalu bergabung mengabdi pada keluarga bangsawan yang kekurangan kekuatan militer.

Jika dewi keberuntungan berpihak padamu, kau bahkan bisa diangkat menjadi anak angkat di dalam keluarga bangsawan agung.

Tentu saja satu-satunya syarat mutlak adalah usiamu harus lebih muda daripada ayah angkatmu.

Bagaimanapun juga seorang anak yang lebih tua dari ayahnya jelas tidak masuk akal secara estetika.

Singkatnya dilantik menjadi seorang Junior-Knight bermakna lompatan status sosial secara total.

Dan menjadi seorang Knight sejati berarti melangkah masuk ke dalam dimensi dunia yang sepenuhnya berbeda. Sebagian besar bangsawan bahkan tak akan berani mengangkat kepala mereka di hadapan seorang Knight.

Begitulah tatanan dunia tempat mereka berpijak.

Jika kau memiliki kekuatan mutlak—kekerasan murni di kedua tanganmu—kau sanggup meraih hampir segalanya di muka bumi ini.

Ragna nyaris tak pernah menjumpai rintangan yang sanggup menahan kebrutalan daya hancur pedangnya.

Karena itulah ia belum pernah mengecap kepedihan kehilangan. Ia belum pernah gagal mempertahankan apa yang ingin ia genggam.

"Kenapa kau berusaha sekeras ini?" tanya Ragna saat keraguan kecil itu melintas di benaknya.

Waktu teramat berharga. Umur manusia sangat terbatas. Ragna memahami kefanaan itu secara mendalam.

Ann yang tengah merangkai catatan medisnya menggunakan pensil arang mendongak menatap pemuda itu.

Di sela helaian rambut pirangnya yang keemasan, sepasang mata merahnya berkilau tajam.

Sorot matanya memancarkan dahaga murni akan ilmu pengetahuan. Bukankah awal dari segala rasa ingin tahu bermula dari lapar akan kebenaran?

Maka gadis itu merasa perlu menjawabnya secara jujur:

"Aku sangat membenci hal semacam ini."

"Hal semacam ini?"

"Ini bukan kepastian mutlak, tapi seseorang tengah menjalankan eksperimen penyakit di tempat ini. Dan aku yakin pelakunya adalah bajingan tengik. Aku sangat benci melihat ilmu alkimia disalahgunakan demi kekejian biadab semacam ini," tutur Ann penuh keyakinan membara.

Andai Encrid hadir di sana, pria itu pasti akan berkata bahwa kobaran Will telah bersemayam nyata di dalam dada gadis itu.

Mereka yang mengabdikan seluruh jiwa raganya secara tulus pada suatu keahlian pasti akan mendapati kobaran Will bersemi di dalam tubuh mereka.

Ann selalu tulus dalam setiap tindakannya. Dan kata-kata yang meluncur berikutnya diucapkan dengan ketulusan yang sama:

"Karena ini adalah kampung halaman Ragna."

*Apa itu bisa dianggap sebagai alasan yang logis?* Sepasang mata Ragna menyuarakan pertanyaan tersebut dalam keheningan.

Ann sempat ingin memaki pemuda itu bodoh dan menendang tulang keringnya, tetapi ia memilih menjawabnya dengan tenang.

Pemuda ini memang sedari dulu berotak tumpul soal asmara; Ann sudah tahu tabiatnya sejak awal.

Alasan seseorang menyukai orang lain selalu terdengar canggung dan aneh saat dirangkai menjadi untaian kata.

Hatinya murni telah tergerak.

Penampilan fisik yang rupawan mungkin bisa membuat hati seseorang goyah sesaat, tetapi ketampanan tak akan pernah sanggup menancapkan jangkar cinta secara abadi.

Namun saat ini hati Ann telah tertancap kokoh tak tergoyahkan.

"Karena aku ingin melindungi kedua orang tuamu, teman-temanmu, serta saudara-saudari klanmu."

Encrid tempo hari sempat menyatakan secara samar bahwa ia akan membentengi siapa pun yang berdiri di belakangnya.

Namun kalimat Ann jauh lebih terarah dan spesifik:

"Karena suatu hari nanti, mereka mungkin bakal menjadi kakek dan nenek dari anak-anak yang kulahirkan nanti," celetuk Ann dengan nada pasrah yang bercampur malu.

Ancaman maut yang mengintai di sepanjang jalan kemarin turut mendorongnya untuk menyuarakan isi hatinya secara telanjang.

Jika dirinya bisa mati kapan saja di medan laga, ia tidak boleh menyia-nyiakan momen masa kini. Ia tidak sedang melontarkan pengakuan cinta putus asa di hadapan ajal.

Melainkan—

*'Khusus untuk hari ini.'*

Ia memilih hidup membakar waktu laksana seorang Encrid.

Ann adalah gadis yang cerdas dan berwawasan luas. Ia telah menyerap banyak hikmah hidup. Ia tahu betul cara menghargai detik demi detik.

Itulah alasan mengapa ia berani mengucapkannya sekarang. Namun itu bukan satu-satunya impiannya.

Berjalan di garis batas antara ilmu alkimia dan seni penyembuhan medis, ia kerap membayangkan hari di mana orang-orang yang ia cintai bakal menghembuskan napas terakhir.

Setiap kali bayangan itu melintas, satu harapan suci selalu bersemi di dadanya:

*'Aku ingin melahirkan anak-anak yang sehat.'*

Suatu hari nanti ia akan mewariskan seluruh ilmu medisnya kepada mereka.

Ia ingin menjelma menjadi seorang ibu yang penyayang, menghabiskan hari-harinya dengan tertawa, menangis, marah, dan mengagumi keajaiban dunia.

Dan—

*'Aku akan menyebarkan ramuan obat Remedy Omnia ke seluruh penjuru benua.'*

Itu adalah cita-cita agung sekaligus impian hidupnya.

Manusia tidak hanya memiliki satu impian tunggal. Ann ingin menjadi seorang ibu. Ia ingin merevolusi cabang ilmu penyembuhan ke tingkatan baru.

*'Dan aku ingin menjadi istri sah Ragna.'*

Ia mendambakan masa depan indah itu dengan segenap jiwanya.

Binar matanya berkilau kian terang saat ia berbicara. Cahaya yang memancar di sela bintik-bintik manis di pipinya sarat akan ketulusan mutlak.

Ragna bukanlah pria dungu yang buta perasaan.

Ia mengingat kembali segala pengorbanan yang telah dilakukan gadis berbintik manis ini, sosok yang selalu setia berdiri di sampingnya sembari mengocehkan impian masa depannya.

Karena ia menghormati impian suci itu, Ragna menjawab tenang:

"Kalau aku sanggup bertahan hidup dan pulang dengan selamat nanti, mari kita bicarakan hal itu lagi."

Ann mengernyitkan alisnya masam. *Apa itu jawaban setuju atau penolakan halus?*

Kalimatnya terdengar ambigu. Namun bagi Ragna itu adalah jawaban terbaik yang sanggup ia berikan saat ini.

"Kau berencana mati konyol di sini ya?" tanya Ann mulai jengkel.

"Bukan. Tapi seorang pendekar pedang tidak pernah tahu kapan ajalnya bakal tiba."

"Kalau kau berniat menolak perasaanku, kurasa kau harus mencari alasan yang jauh lebih masuk akal dari itu!" sungut Ann sembari melipat kembali impian asmaranya ke dalam laci benaknya untuk sementara waktu.

*'Untuk saat ini aku harus memusatkan seluruh fokusku demi meracik obat penawar penyakit ini.'*

Sekarang bukan saatnya melamunkan romantisme masa depan.

Ragna terus melangkah mendampinginya, dan setelah berhari-hari menyisir pemukiman, Ann akhirnya mengungkap beberapa fakta medis yang sangat krusial:

*'Penyakit kutukan ini telah dimodifikasi secara sengaja.'*

Ini bukan lagi wabah alami yang ia kenal di masa lalu. Bentuk manifestasi gejalanya telah bermutasi menjadi sangat beragam.

*'Kenapa bisa begini?'*

Penyakit ini bukan lagi sekadar turunan racun dari tikus liar atau binatang pengerat biasa.

*'Variasi bibit penyakitnya telah berlipat ganda.'*

'Bibit' merujuk pada sumber biang penyakit. Sebagian diekstraksi dari bangkai tikus, sebagian dari racun monster buas, dan beberapa varian bahkan dibiakkan langsung dari pembusukan mayat manusia.

Pemanfaatan ekstrak tanaman beracun dan bisa reptil adalah hal yang lumrah dalam racun biologis.

Namun dengan memadukan aneka bahan biadab ini, metode penularan penyakit menjadi sangat mematikan: demam tinggi, nyeri otot sekujur tubuh, pembusukan organ, dan akhirnya berujung pada kematian tragis.

Ann telah lama membedah struktur penyakit ini di laboratorium Border Guard. Ia telah memetakan bahwa sejauh ini biang penyakitnya berbasis pada *Fever Blossom Seeds* dan *Pain Seeds*.

*'Batuk berdarah semestinya hanyalah gejala sekunder di fase akhir.'*

Namun sekarang pada beberapa kasus pasien Zaun, batuk berdarah justru menjadi gejala primer yang pertama kali meledak.

*'Dan beberapa pasien bahkan mengalami sindrom kelumpuhan saraf seketika.'*

Alasan di balik anomali medis ini sangatlah gamblang: seseorang tengah meneliti dan merekayasa mutasi penyakit ini di laboratorium gelap.

*'Siapa dalang di balik semua ini?'*

Gurunya, Laban, telah tewas di tangan Encrid. Guru dari Laban sendiri sudah terlalu uzur untuk bisa bertahan hidup di zaman ini. Lalu siapa lagi jenius sesat yang sanggup melakukannya?

"Benua ini sangat luas, dan gerombolan orang jenius memang teramat banyak," dengus Ann sinis.

Di atas langit gumpalan awan badai hitam pekat kian menenggelamkan cahaya siang. Ragna tetap berdiri mematung di sampingnya dalam keheningan. Meskipun Ann belum mengenali seluruh mutasi baru ini:

*'Aku pasti sanggup menyembuhkannya.'*

Berkat dukungan logistik tak terbatas dari markas Border Guard tempo hari, riset farmasinya telah melompat jauh ke depan.

*'Aku hanya perlu meracik formula obat penawar spesifik untuk setiap variasi mutasi penyakit ini.'*

Obat itu memang belum tercipta hari ini. Namun dengan waktu yang cukup ia yakin sanggup meraciknya.

Binar merah di matanya berkilat jauh lebih menyala daripada saat ia melontarkan pengakuan cintanya tadi.

Keyakinan mutlak pada kapasitas dirinya sendiri sudah lebih dari cukup untuk menyulut kobaran Will di dalam jiwanya.

* * *

Ketika terlalu banyak kejanggalan saling bertaut rumit, terkadang rasanya seolah segalanya telah dirancang oleh sesosok dalang tunggal.

Namun jika dicermati lebih mendalam, terkadang semuanya hanyalah rentetan kebetulan alamiah. Dan di lain waktu, seseorang hanya memanfaatkan momen kebetulan itu demi kepentingannya sendiri.

*'Secara taktis bukankah skenario semacam itu sangat mungkin terjadi?'*

Menolak membiarkan sebuah kebetulan berlalu begitu saja adalah privasi istimewa dari para pemikir berotak cemerlang.

Tadi malam sang Ferryman kembali melintas di mimpinya, bergumam ambigu soal apakah Encrid semestinya melindungi Ann atau tidak.

Encrid sempat bertanya pada sang pemilik lentera ungu:

*"Kenapa kau harus melindunginya?"*

*"Sebuah bantuan."*

Menyebutnya sebuah bantuan terasa sangat mencurigakan bagi Encrid. Raut wajah sang pendayung tak pernah berubah, jadi mustahil membaca emosinya dari raut muka.

Kini setelah bangun tidur, melatih fisik, dan merenungkan aneka probabilitas, sebuah pemikiran melintas di kepalanya:

*'Apakah pihak yang memanipulasi informasi di dalam klan Zaun adalah sosok yang sama dengan dalang yang mengumpulkan kawanan monster di luar dan menyebarkan wabah penyakit?'*

Kemungkinan besar tidak.

Bagaimana jika salah satu pihak hanya memanfaatkan kekacauan yang diciptakan oleh pihak lainnya?

"Kau melamun mengabaikanku tepat di depan mataku murni karena kau meremehkanku, atau ini cuma provokasi murahan?" tegur Hescal yang berdiri di hadapan Encrid di lapangan latihan.

Menolak membiarkan kebetulan berlalu begitu saja—meskipun Encrid tidak berniat memprovokasi Hescal, kenyataannya situasi itu bergulir demikian.

"Anggap saja dua-duanya," sahut Encrid memanfaatkan momentum itu untuk memancing keluar taring sang tetua.

Hescal adalah pria yang sangat tenang dan penuh perhitungan. Gaya pedangnya mencerminkan kepribadian dinginnya tersebut.

Menurut penuturan Lynox tempo hari, Hescal sangat mahir menyembunyikan taring aslinya, namun sejauh ini Encrid belum pernah melihat taring itu terhunus.

"Oh, aku suka duel ini!" seru Anahera, ksatria raksasa wanita tercantik di klan Zaun—murni karena ia adalah satu-satunya raksasa wanita di keluarga ini.

Anahera memamerkan taringnya sembari menyeringai lebar:

"Jangan sampai mati konyol gara-gara bermain-main ya! Giliranku berikutnya!"

Wanita raksasa itu telah berdiri antre menunggu gilirannya untuk berduel.

Encrid mengesampingkan teori konspirasinya lalu memusatkan seluruh fokusnya ke depan. Hescal sama sekali bukan lawan yang mudah, bahkan tanpa memperlihatkan taring aslinya.

"Kalau tidak mau menunjukkan taringmu, setidaknya perlihatkan gigi gerahammu padaku," tantang Encrid.

Hescal tersenyum tipis mendengar sindiran tersebut. Rambut cokelat terangnya berkibar ditiup hembusan angin dingin.

Meskipun langit masih tertutup mendung pekat, hari ini secercah bias cahaya matahari berhasil menyelinap menembus tirai awan hitam, menyinari arena tanah latihan.

"Menunjukkan gigi gerahamku jauh lebih sulit daripada sekadar memamerkan taringku," tutur Hescal sembari menusukkan pedangnya lurus ke depan—sebuah tusukan yang teramat bersih dan presisi.

Namun sebuah tusukan lurus sangat mudah diprediksi polanya. Encrid tahu dari jam terbangnya bahwa menangkis tusukan semacam itu secara frontal tak ubahnya mengadu dua keping perisai baja.

Pertarungan semacam itu selalu berakhir dengan cara yang sama:

*"Aku kalah."* Hescal akan dengan tenang mengakui kekalahannya terlebih dahulu.

*"Usque ya,"* gumam pria itu yang sanggup mengenali hakikat Will tak terbatas hanya lewat sekali pandang.

*'Apa sebenarnya hakikat insting bertarung itu?'*

Yaitu mengayunkan bilah pedang murni mengikuti tuntunan intuisi batin.

*'Lalu bagaimana cara melatih insting tersebut?'*

Wave Blocking dan Flash bertumpu pada pengkondisian mental yang sangat ketat. Namun bahkan ilmu pedang berbasis insting pun menuntut latihan pembiasaan raga.

*'Kosongkan pikiranmu.'*

Alih-alih bersandar pada proses kalkulasi otak yang rumit, ia harus membiasakan tubuhnya bereaksi secara otomatis terhadap setiap liukan gerak sang musuh.

Singkatnya: raganya harus bergerak mendahului perintah otaknya.

*'Bereaksilah!'*

Berkat bimbingan maut dari Alexandra tempo hari, ia telah mengecap sensasi transendensi itu sekali. Dan ia tahu betapa berharganya secuil pengalaman tersebut.

Melangkah di jalur yang sama sekali buta dan menyusuri jalan yang pernah dipijak walau secara tak sengaja adalah dua realitas yang teramat jauh berbeda.

*'Jangan biarkan kebetulan berlalu sebagai sekadar kebetulan.'*

Kalimat wejangan itu kembali terngiang di kepalanya. Apakah manuver ini alami? Ia belum tahu. Untuk saat ini ia membiarkan tubuhnya mengalir mengikuti arusnya.

Encrid mengulang pemikiran itu lalu memperagakan teknik barunya: *Reactive Sword Technique*.

Jika Wave Blocking adalah pertahanan mutlak, dan Flash adalah serangan pemusnah kilat, maka jika harus diklasifikasikan:

Teknik barunya ini adalah seni serangan balasan instan.

*Tuk!*

Bilah Three-Iron menangkis laju tusukan pedang Hescal lalu melesat maju dalam lengkungan busur kecil yang sangat anggun.

Bagaikan batu pipih yang meluncur memantul di atas permukaan air danau, Three-Iron melukis lintasan menyamping—menangkis sekaligus menebas dalam satu tarikan napas tunggal.

Sebuah sabetan balasan yang berada di luar pakem kalkulasi normal!

Bagi ksatria biasa serangan itu pasti akan membelah leher mereka seketika.

Namun lawan di hadapannya adalah seorang Hescal.

Pria itu tak akan pernah termakan oleh ayunan pedang yang lebih lambat daripada bilah kilat Alexandra.

Pelat zirah sarung tangan di lengan kiri Hescal mendadak merekah terbuka laksana sayap burung besi, memadat membentuk tameng pelindung bundar berukuran mini.

*KLANG!*

Dengan ketenangan tingkat tinggi Hescal memblokir tebasan Three-Iron menggunakan tameng tersembunyi di lengan kirinya.

Jika seseorang sanggup menyembunyikan senjata rahasia di balik bajunya, kenapa ia tak boleh menyembunyikan sebuah tameng baja di balik sarung tangannya?

"Wah!" seru Anahera berdecak kagum. Baik serangan kilat Encrid maupun pertahanan kokoh Hescal barusan sungguh teramat memukau mata.

"Luar biasa hebat kan?" tanya Anahera tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun.

Sang kepala keluarga Zaun yang telah berdiri melangkah mendekat tanpa suara menyahut pelan:

"Iya."

Sebuah pemandangan yang teramat langka.

Kapan terakhir kali sang kepala keluarga menyaksikan Hescal bertarung dalam duel tanding dengan intensitas hawa tempur sepekat ini?

Ia bahkan sudah tidak sanggup mengingatnya lagi.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.