Bab 700
Ketenangan sebelum badai hanya terasa tenang murni karena badai yang sesungguhnya belum tiba menerjang. Begitu pula yang dirasakan oleh Encrid saat ini.
*'Benar-benar tidak ada hal khusus yang bisa kulakukan sekarang.'*
Rasanya seolah ada konspirasi besar yang tengah mendidih di kegelapan, namun belum ada satu pun ancaman nyata yang menampakkan wujudnya ke permukaan.
Grida tampak sangat sibuk menyisir pelosok lembah, tetapi Encrid tidak memiliki alasan untuk ikut menyelidiki ke sana-kemari. Maka ia menghabiskan seluruh harinya dengan terus mengayunkan pedang di lapangan.
Kebiasaan itu sudah mendarah daging sejak di benteng Border Guard, tetapi di pemukiman Zaun ini Encrid membawanya ke tingkatan yang jauh lebih ekstrem. Terlebih lagi atmosfer tempat ini memang sangat mendukung kegilaan semacam itu.
Tak ada seorang pun yang memandang aneh pada Encridāsebaliknya mereka justru takjub melihat seorang ksatria asing begitu bergairah menikmati setiap detik ayunan pedang.
Ilmu yang diajarkan Encrid terasa sangat segar dan menggugah jiwa, dan tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak menikmatinya. Semua ksatria di kediaman Zaun sangat haus akan pemahaman ilmu baru.
"Sabbath sudah resmi berakhir! Waktunya bertarung kembali!"
Begitulah seruan lantang seorang pemuda ksatria yang melesat menerjang ke arah Encrid di pagi buta saat sang kapten tengah melakukan pemanasan.
"Dan apa kau bakal meleleh di dalam pelukan wanita cantik ini?"
Suara itu datang dari wanita raksasa tercantik di klan Zaunāsetidaknya menurut standar keindahan keluarga iniāyang ikut menerjang maju dengan tawa membahana.
Di sampingnya berdirilah Lynox, sang pendekar veteran yang melontarkan kekehan tawa serak yang khas:
"Hei, ini adalah rumah kelahiranku! Kau tidak akan bisa bertarung di sini cuma mengandalkan 'kalkulasi' kepalamu seperti dulu lagi!"
Dan ada pula sosok ksatria wanita yang berpura-pura tenang, padahal telah menghabiskan waktu berhari-hari menyisir pegunungan dan meyakini ada pengkhianatan di dalam klan Zaun. Wanita itu bahkan mulai mencurigai sang kepala keluarga sendiri.
Grida kembali muncul di lapangan setelah menghilang selama dua hari, bersikap seolah segalanya berjalan normal.
"Lingkaran hitam di bawah matamu tebal sekali. Apa kau bisa tidur nyenyak?" tegur Encrid mengamati wajah kuyu wanita itu.
"ā¦Tidurku agak terganggu belakangan ini. Mungkin gara-gara aku baru pulang ke rumah setelah sekian lama mengembara," kilih Grida lirih.
Sejujurnya ketegangan saraf batinlah yang tengah menggerogoti jiwanya perlahan.
Jika sebilah busur terus-menerus ditarik kencang tanpa jeda, baik tali busur maupun kayunya pada akhirnya pasti akan patah berkeping-keping.
Manusia pun demikian. Betapa pun saraf seorang Knight jauh lebih liat daripada manusia biasa, mereka tetaplah makhluk bernyawa.
Dan di tengah gelombang keresahan yang tengah menyelimuti Zaun, ksatria mana pun pasti bakal sulit beristirahat dengan tenang.
Yah, setidaknya bagi orang-orang yang berotak normal.
Encrid tidur nyenyak laksana sebatang kayu mati, makan dengan lahap, dan beristirahat secara total. Begitu pula dengan sosok Ragna.
"Kau tadi bilang mau mengambil Sunrise, apa kau lupa membawanya pulang ke sini?" tanya Encrid melirik Ragna yang tengah berdiri melamun di sampingnya.
Ragna menyeka keringat dingin di dahinya lalu memutar kepalanya menatap ke arah tempat sang kepala keluarga biasanya berada.
Tentu saja arah pandangannya salah totalāia justru tengah menatap lurus ke arah jalan setapak yang membelah gerbang keluar pemukiman Zaun.
"Mm."
Ragna meluangkan waktu sejenak untuk menimbang kata-katanya. Itu adalah hal yang tak pernah ia lakukan di masa lalu. Dulu saat ia masih menjadi bagian dari skuad pembawa bencana yang kelak berevolusi menjadi ordo Mad Knights, pemuda itu selalu melontarkan apa pun yang terlintas di kepalanya tanpa peduli.
Kini ia benar-benar berpikir sebelum bersuara. Perubahan kedewasaan itu menyentuh relung hati siapa pun yang menyaksikannya.
Sembari Ragna menimbang kata-katanya, seorang bocah ksatria di dekat mereka bergumam antusias:
"Otot-otot punggungku benar-benar mengencang kaku! Sensasinya terasa sangat pas. Oh, ini mantap. Mantap betul!"
Selama menetap di kediaman ini, Encrid telah menyebarkan metode pembentukan fisik *Audin-style Physical Training Method*.
Beberapa anak muda Zaun lekas mengadopsi metode itu secara instan, dan bocah barusan adalah bukti hidupnya. Ia bergumam sembari mengangkat bongkahan batu besar, melatih serabut otot punggungnya hingga menonjol kekar. Tubuhnya telah berkembang sangat padat, dan kini ia terus menambah beban latihannya.
Klan Zaun memang memiliki sistem latihan fisiknya sendiri, tetapi dalam hal pembentukan massa otot murni tidak ada yang sanggup menandingi metode tempaan Audin.
Audin telah mengambil intisari latihan fisik ortodoks dari korps legendaris *Holy City Legion*, memodifikasi dan menyempurnakannya, lalu menambahkan beberapa teori beladiri khusus demi membentuk tubuh Encrid.
Itu adalah bukti dari kejeniusan fisik seorang Audin. Andai sang ksatria beruang melihat pemandangan ini sekarang, dadanya pasti bakal membusung bangga:
*"Bagus sekali, Adikku! Kerja yang sangat luar biasa! Saudari! Sudahkah kuberitahu sebelumnya? Otot lenganmu jauh lebih perkasa daripada kebanyakan pria lembek di luar sana!"*
Pria beruang itu pasti akan meneriakkan kalimat heboh semacam itu. Begitu sempurnanya anak-anak muda Zaun beradaptasi dengan metode penyiksaanāalat pembinaan fisikāmilik Audin.
Semangat mereka untuk bersaing dan berkembang begitu membara hingga melihat rekan sebaya mereka berlatih lebih keras akan membuat mereka mengertakkan gigi lalu memompa batas tenaga mereka sendiri.
Mustahil kemampuan fisik mereka tidak melompat tinggi.
Sembari Encrid menyimak pemandangan itu dalam keheningan, Ragna akhirnya membuka suara:
"Aku yakin tadinya urusan mengambil pedang itu sangat mendesak, tapi⦠perasaanku sekarang tidak ada di sana."
"Kenapa?" tanya Encrid karena ia sendiri tidak sanggup menebak isi hati pemuda itu. Namun Ragna sendiri pun tak tahu ke mana arah hatinya tertuju.
"Aku sendiri tidak tahu pasti," jawab Ragna datar.
Bagi Encrid pemuda itu tampak antara tengah merasa tidak puas atau mungkin memendam sepercik amarah. Ragna memberikan jawaban ambigu lalu kembali mengayunkan pedangnya. Begitu pula dengan Encrid.
Sementara itu Ann selalu tampak sibuk mengotak-atik sesuatu di sudut pekarangan. Sesekali Encrid melirik ke arahnya.
"Apa kau mengekstraksi racun ini dari mayat manusia? Bukanāapa kau membiarkan orang yang terinfeksi tetap hidup cuma demi memanen bibit penyakitnya?! Lihat ini! Itu yang kaulakukan kan?!"
Gadis itu kerap melontarkan pertanyaan medis semacam itu dengan mata melotot tajam.
"Iya," angguk Encrid santai, meskipun ia sama sekali tidak paham apa yang tengah dibicarakan gadis itu. Aura keseriusan Ann memiliki wibawa yang memaksa lawan bicaranya untuk lekas menjawab.
Gadis itu duduk di sudut pekarangan latihan dengan sebuah meja kayu terbentang di hadapannya, sibuk meracik aneka ramuan.
Mencampur cairan obat, menuangkannya ke tabung uji, mengendus aromanya, serta membedah sampel beracun menggunakan sarung tangan kulit hijau.
Dari belakang yang terlihat hanyalah punggung mungilnya, tetapi sekujur tubuhnya memancarkan tekad baja yang teramat pekat.
Siapa pun bisa merasakan bahwa ia tengah memperjuangkan sesuatu yang sangat agung. Kepekaan indra Encrid menangkap gelombang intensitas yang membakar di sekeliling gadis itu.
*'Itu adalah pancaran Will.'*
Maka secara alami Encrid menarik kesimpulan mantap bahwa Ann adalah seorang jenius sejati.
"Segelintir ini⦠aku sanggup menanganinya," bisik Ann tenggelam ke dalam konsentrasi mutlaknya, bahkan tidak menyadari bahwa Encrid tengah memperhatikannya dari kejauhan.
"Aku pasti bisa. Aku akan memusnahkan benda terkutuk ini sampai ke akar-akarnya," gumam Ann berulang kali pada dirinya sendiri.
Jika kau menatap matanya saat ini, kau pasti akan melihat sepasang manik merah yang membara menyala.
"Berapa hari dia sudah bekerja tanpa henti seperti itu?" tanya Encrid pada Ragna yang berdiri memasang badan menjaga pintu penginapan.
"Sejak hari pertama kita menginjakkan kaki di sini. Tanpa jeda sedetik pun," jawab Ragna santai.
Pemuda itu bahkan sengaja melatih ayunan pedangnya tepat di samping meja kerja Ann, menolak meninggalkannya sendirian.
Encrid mengangguk pelan dan hendak melangkah keluar pekarangan saat Ragna mendadak berceletuk:
"Dia bilang dia menyukaiku."
"ā¦Rem yang menyukaimu?"
"Dia meminta maaf."
"Maksudku Ann yang mengucapkannya."
"Bahkan kalaupun itu cuma lelucon, rasanya begitu menjijikkan sampai-sampai aku ingin memotong lidahmu sekarang juga," dengus Encrid datar.
Encrid mengingat kembali sosok Ann yang ia jumpai di benteng Border Guard tempo hari.
Gadis itu dulu sering mondar-mandir di lapangan latihan ksatria, selalu mengeluhkan betapa sibuknya tugas laboratoriumnya. Namun ia selalu membawakan makanan lezat, minuman segar, dan ramuan pemulih stamina.
Dan semua bekal itu selalu meluncur masuk ke dalam mulut Ragna terlebih dahulu. Apa pun yang ia lakukan, ia selalu berdiri paling dekat di samping Ragna.
Krais telah menyadarinya sejak lama. Begitu pula Encrid. Bahkan Rem si barbar pun tahu.
Ann mencintai Ragna sepenuh hatinya. Namun Ragna yang berotak tumpul sama sekali tidak menyadarinya.
Bajingan itu bukan hanya sering tersesat di jalan raya, melainkan sama sekali buta dalam menemukan jalan menuju relung hati manusia.
"Kalau dipikir-pikir lagi⦠kurasa aku juga merasakan hal yang sama padanya," bisik Ragna dengan suara yang sangat rendah, memastikan Ann tak sanggup mendengarnya.
Pemuda itu mengakui bahwa dirinya pun telah terpikat oleh kehangatan dan ketulusan gadis itu, tetapi ia menyuarakannya dengan cara yang paling tidak romantis di muka bumi.
"Bukan berarti aku ingin kau menyampaikan pesan ini padanya."
"Aku cuma bilang, begitulah perasaanku saat ini."
Alangkah baiknya jika ada seseorang yang memahami perasaannya. Pola pikir Ragna selalu sesederhana itu.
Ia tidak tahu mengapa, tetapi ia sama sekali tidak memiliki hasrat untuk melangkah keluar mencari pedang pusaka Sunrise saat ini. Mungkin itulah alasan mengapa rongga dadanya terasa begitu sesak dan berat.
Atau mungkin penyakit kutukan di dalam tubuhnya kian memburuk.
Tepat tadi malam ia sempat memuntahkan gumpalan darah segar di tengah tidurnya. Padahal sepanjang perjalanan kemarin kondisinya tampak baik-baik saja.
*'Apa ajalku sudah kian mendekat?'*
Mungkin saja.
Itulah alasan mengapa ia bertingkah seperti ini sekarang: ketika separuh dari hatimu diliputi kabut kematian yang pekat, kau terdorong untuk menampakkan kejernihan pada separuh hatimu yang lain.
"Bukan berarti aku bakal mendekatinya sekarang."
Dan kemudian Ragna menambahkan:
"Kecuali kalau ada sesuatu yang berubah di masa depan nanti."
Encrid mengangguk pelan lalu menyahut datar:
"Baiklah."
Pemuda itu mengaku memendam cinta, tetapi menolak mendekati sang gadis. Iya, itu adalah jalan pikiran yang gila. Jenis ocehan yang hanya sanggup dilontarkan oleh orang gila sejati.
Tidak perlu repot-repot memeras otak untuk memahaminya.
Sejak era skuad pembawa bencana dulu, Encrid telah lama menyerah untuk mencoba memahami jalan pikiran Ragna atau monster lainnya.
Maka ia melangkah keluar pekarangan lalu kembali mengayunkan pedangnya di tanah lapang.
Gumpalan awan badai hitam Blackstorm Cloud masih menggelantung rendah di atas langit laksana kubah dinding hitam pekat. Tampak seolah langit-langit hitam raksasa telah terpasang di atas bumi.
*Apakah itu benar-benar cuma awan mendung biasa? Mustahil.*
Siapa pun pasti bakal melontarkan kecurigaan semacam itu.
Namun Encrid sendiri tetap bergeming tenang. Cuaca cerah benderang memang menyenangkan, tetapi ia bukan tipe pria yang gemar mengeluh pada langit.
Ia hanya terus mengayunkan pedang Three-Iron miliknya seperti biasa.
Sosok sang Ferryman memang tidak pernah menampakkan diri lagi di mimpinya, tetapi satu bisikan wasiatnya masih terngiang jelas di telinganya:
*āLindungilah Ann.*
Encrid mengabaikan cerita soal sang pendayung mimpi lalu menyampaikan intisari pesan itu langsung pada Ragna: *Sesuatu yang berbahaya mungkin bakal menimpa Ann. Jadi lindungi dia.*
Ia telah menyaksikan monster buas mengincar nyawa gadis itu di perjalanan kemarin. Ragna tidak banyak bertanya; pemuda itu murni mematuhi instruksi sang kapten.
Hari-hari yang menyamar sebagai rutinitas biasa pun bergulir lewat. Di sela latihannya Encrid kerap tenggelam dalam perenungan taktis:
*Siapa dalang yang tengah mengguncang klan Zaun dari dalam?* Seseorang telah melancarkan bidak caturnya; fakta itu tak terbantahkan.
Dan terlebih lagi dalang itu telah memanfaatkan rentetan kebetulan sebagai senjata pemusnah.
Hanya sampai di sanalah Encrid membiarkan benang pikirannya bergulir. Ia tidak berkelana membabi-buta demi memburu jawaban.
Ia tidak perlu bertindak sebagai detektif pemecah masalah sewaan.
Bahkan dengan segala data yang ia saksikan selama ini, prinsip dasarnya tidak pernah bergeser:
*"Apa kepala keluarga benar-benar berniat berdiam diri tanpa melakukan apa pun?!"*
Pada suatu hari Encrid melihat Hescal mengonfrontasi sang kepala keluarga tepat setelah sang tetua kembali dari kunjungannya ke Retirees' Village.
Lynox pun sempat meminta audiensi empat mata dengan sang patriark demi menyuarakan visinya, tetapi tidak ada satu pun hal yang berubah.
Di sela sesi latihan bersama Encrid, Hescal sempat mendesah frustrasi:
"Hah⦠Andai saja kepala keluarga bisa sedikit lebih tegas mengambil sikap."
Kalimat itu meluncur setelah ayunan pedangnya tampak lesu dan kehilangan fokus. Encrid menarik Three-Iron miliknya lalu menimpali:
"Maksudmu menerima tawaran pria bernama Schmidt itu?"
"Opsi itu juga bisa berhasil. Dekapan Kekaisaran sangatlah luas."
Kata-kata kosong belaka. Bahkan Hescal sendiri tidak mempercayai ucapannya barusan. Begitulah nada bicaranya terdengar di telinga Encrid.
Encrid memang tidak tahu apa yang tengah direncanakan sang kepala keluarga di balik kediamannya.
Namun ia sanggup menangkap apa yang tengah diperjuangkan oleh Hescal: sepasang mata sang tetua memancarkan dahaga besar untuk mengukir sebuah pencapaian agung demi melindungi klannya.
"Boleh kutanya apa sebenarnya yang ingin kaucapai?"
Sepasang mata Hescal berkilau memuat impian dan harapan besar.
"Suatu hari nanti bakal kuberitahu padamu," senyum Hescal merekah tipis, tetapi Encrid bisa merasakan bahwa impian pria itu adalah sesuatu yang teramat sulit untuk digapai di dunia nyata.
Meski demikian ia tahu Hescal akan terus mengejarnya sampai titik darah penghabisan. Itu adalah intuisi yang lahir dari sesama pendekar berjiwa baja.
"Sialan, aku sama sekali tidak bisa menemukan jejak keberadaan Odinkar!" gerutu Grida yang terus menyisir seluruh sudut lembah selama berhari-hari.
Tanpa adanya petunjuk soal Magrun ataupun Odinkar, kecemasan wanita itu kian memuncak.
Pada suatu malam seorang wanita tua bernama Millestia datang mengunjungi kamar kerja Ann. Wanita tua itu adalah tabib veteran yang paling dihormati di klan Zaun.
"Apa sebenarnya formula ajaib ini?!" seru Millestia terperangah.
Setelah menyimak sebagian dari cetak biru riset farmasi Ann, sepasang mata sang tabib tua membelalak lebar penuh ekstasi; ia menyatakan bahwa ramuan medis Ann benar-benar sanggup menaklukkan penyakit kutukan ini.
Wanita tua itu bahkan sempat menyapa Encrid dengan senyuman yang teramat hangat saat mereka berpapasan di lorong.
Hingga akhirnya tibalah suatu fajar sebelum matahari terbit.
Encrid seketika tersentak bangun dari tidurnya.
*DUMMM!*
Kilatan petir halilintar menyambar bumi dengan suara ledakan yang mengguncang fondasi tanah.
*KRAK-BLARRR!*
Belum sempat gemuruh guntur mereda, guyuran hujan badai seketika menghantam atap batu laksana jutaan godam baja yang dijatuhkan dari langit.
Saat ia menoleh menatap keluar jendela, curahan air hujan tampak meluncur deras bagaikan batangan-batangan besi yang menghunjam bumi. Rasanya seolah tanah pemukiman bakal ambles longsor setiap detik.
"Encrid dari Border Guard."
Dan sesosok suara berat mendadak memanggil namanya dari balik pintu kamarāsosok yang sama sekali tak ia duga bakal berdiri di sana pada jam selarut ini.
Encrid bangkit berdiri dan seketika memeriksa seluruh perlengkapan tempurnya:
Three-Iron, Penna, pedang pendek cadangan, Horn-Hilted Dagger, sarung tangan kain pelindung, baju dalaman tenunan peri, serta rompi zirah kulit yang membungkus bahu dan dadanya.
*'Aku tidak boleh mengenakan jubah kain tebal.'*
Guyuran badai di luar terlalu mengerikanājika jubah kainnya basah kuyup terserap air, bobotnya akan merusak kelincahan gerak tubuhnya.
Tanpa alasan yang jelas untuk bersiap perang, Encrid telah mempersenjatai dirinya secara penuh sebelum akhirnya memutar gagang pintu dan membukanya dengan tenang.
Sang kepala keluarga Zaun berdiri mematung di ambang pintu, basah kuyup kuyup disiram air hujan.
Pria itu membuka suara:
"Ikut denganku sekarang. Millestia telah tewas terbunuh."
Tentu saja Encrid tidak tahu-menahu soal pembunuhan itu, tetapi sorot mata sang kepala keluarga tampak seolah pria itu datang demi menuntut pertanggungjawaban darinya.
"Bukankah sekarang saatnya Anda bertanya apa alasanku?" tanya Encrid tetap berdiri mematung di tempatnya.
Genangan air hujan menetes deras dari ujung jubah sang kepala keluarga. Pria itu menyahut dengan intonasi suaranya yang sedingin es dan hampa dari emosi manusia:
"Ikut saja tanpa banyak bicara."
*Kriet.*
Pintu kamar di sebelah mereka mendadak berderit terbuka lebar. Sosok Ragna melangkah keluar menatap ayahnya lurus.
"Siapa yang sedang Ayah interogasi?"
Di tengah kepekatan malam badai yang pekat, nyala api lilin berkedip liar, membiaskan bayangan tubuh Ragna yang menari garang di dinding batu.











