Bab 713 — Menembus Gelombang
Detik saat Lynox merasakan kekuatan tak kasat mata mulai membelit tubuhnya, ia mengetukkan sepasang pedang di kedua tangannya secara perlahan.
Ia hanya menjadikan pedang di tangan kanannya sebagai tumpuan, lalu mengetuknya pelan dengan mata pedang di tangan kiri.
*TRING!*
Gesekan logam yang teramat samar itu menjalar menembus badai layaknya bilah pedang tajam yang membelah udara.
Meski suara denting halus itu segera tenggelam oleh raungan angin badai yang ganas, getaran suara fisiknya sama sekali tidak penting.
Sejak awal ia memang tidak berniat melacak musuh mengandalkan indera pendengaran.
Keahlian istimewanya adalah manipulasi gelombang.
Sepasang pedang yang diselimuti oleh pancaran Will itu melepaskan denyut gelombang sonik saat saling beradu—sebuah frekuensi khusus yang hanya sanggup dirasakan dan diterjemahkan oleh Lynox seorang.
Denyut gelombang itulah rahasia di balik kemampuan sensorik tak tertandingi yang menjadikannya sebagai pengintai terhebat di seantero klan Zaun.
*'Lihatlah keparat-keparat ini.'*
Hanya lewat getaran itu, ia langsung memetakan lokasi tiga ekor Scalor pengguna Telekinesis.
Ketiganya sedang menjulurkan tangan ke arahnya, sementara seekor Scalor berbadan kekar dan berperisai sisik tebal berdiri kokoh menghadang jalur di depan.
Mereka bergerak berpasangan dengan koordinasi tempur yang nyaris sempurna, seolah telah dilatih secara militer.
*'Apa kau sendiri yang melatih mereka, Hescal?'*
Mungkinkah monster-monster liar benar-benar sanggup memahami bahasa manusia?
Sebuah pertanyaan menggelitik, namun ia ragu bakal punya kesempatan untuk membuktikannya.
Itu murni kilasan intuisi yang melintas tiba-tiba.
Lynox lalu melempar pedang di tangan kanannya, menghujamkannya ke dalam tanah dengan suara tancapan mantap.
*TANCAP!*
Mata pedang itu amblas setengah bilah ke dalam tanah.
Menjadikan tanah berlumpur sebagai sarung pedang darurat, ia memiringkan posisinya, lalu mencabut pedang ketiga dari punggungnya dan melemparkannya ke depan sekuat tenaga.
*WUZZZH—*
Bilah pedang sepanjang lengan bawah itu melesat lurus membelah udara.
Betapa pun ganasnya amukan badai, angin mustahil sanggup menghentikan lesatan bongkahan logam yang dilempar oleh tenaga fisik seorang Knight sejati.
*PLAK!*
Scalor bertubuh raksasa itu menangkap bilah pedang lempar Lynox di udara dengan satu tangan.
Kekerasan dan keliatan sisiknya memang sangat mengagumkan, namun yang jauh lebih mengejutkan adalah refleks atletisnya—menangkap proyektil logam yang melesat secepat kilat dari kejauhan.
"Omong kosong macam apa ini?" gumam Lynox seraya menyentak telapak tangannya yang terentang ke belakang.
*KRAK.*
Bilah pedang itu seketika lepas dari cengkeraman sang Scalor lalu melesat terbang kembali ke arahnya.
Pedang-pedang miliknya adalah senjata sumpah ksatria yang akan selalu pulang memenuhi panggilannya.
*WUT, TANG.*
Pedang yang berputar kencang itu mendarat mulus kembali ke dalam genggaman Lynox.
Kawanan monster pengendali Telekinesis terus melancarkan trik tak kasat mata secara beruntun.
Ia merasakan tekanan gravitasi yang membelit tubuhnya kian menjengkelkan.
Meski ia masih sanggup bergerak bebas—tangan dan kakinya tidak sepenuhnya terkunci kaku—hambatan itu tetap saja sangat mengganggu ritme bertarungnya.
Lynox kembali melempar pedang di tangannya ke arah musuh.
Namun kali ini ia tidak sekadar melempar.
Membiarkan pedang pertama tetap tertancap di tanah, ia mencabut bilah pedang baru dari balik bahu kanannya.
Sepintas pedang itu tampak seperti longsword biasa, namun jika diamati lebih dekat, bilahnya sama sekali tidak memiliki mata tajam.
Bentuknya persis seperti sebilah pedang latihan kayu yang tumpul.
Sambil menyeret pedang tumpul itu di atas tanah, ujung bilahnya menggores daratan berlumpur.
*DUARRR!*
Saat Lynox melesat berlari, parit panjang menganga terbelah di belakang langkah kakinya.
Tentu saja di tengah amukan badai lebat, jejak parit itu bakal segera terhapus rata oleh air.
Kali ini alih-alih menangkap bilah tajam, Scalor bertubuh raksasa menangkis tebasan itu dengan punggung tangannya.
Mata pedang sempat menekan kulitnya namun gagal menembus lapisan sisik.
Makhluk itu memanfaatkan kepalan tinjunya layaknya perisai baja untuk menahan benturan.
Sebuah langkah bertahan yang sangat cerdas.
Atau mungkin murni naluri tempur hewani yang luar biasa tajam.
Sang Scalor menahan pedang dengan tangan kirinya lalu mencengkeram bilahnya erat-erat dengan tangan kanan.
Kali ini monster itu berniat menahan pedang tersebut sekuat tenaga andai Lynox mencoba menariknya kembali.
Namun alih-alih memanggil senjatanya pulang, Lynox justru melesat menerjang lurus ke arahnya.
*KRAK!*
Serangan ganda—melempar pedang lalu menerjang masuk menyusul di belakangnya—adalah salah satu doktrin taktis andalan Lynox.
Dan taktik itu bukan sekadar bertujuan memangkas jarak tempuh.
Pedang pertama yang ia lemparkan bernama "Prey".
Sedangkan pedang tumpul yang kini tergenggam di tangan kanannya bernama "Hunter".
Bilah Prey akan selalu berupaya mati-matian melarikan diri menjauhi sang Hunter.
Bilah pedang tumpul itu melukis lintasan lengkung pendek yang teramat gesit saat Lynox mengayunkannya ke depan.
*TRANG! BLARRR!*
Bilah Hunter memang tidak dirancang untuk menebas—melainkan diciptakan khusus untuk memukul.
Saat Lynox menghantamkan bagian pommel datar Hunter ke pangkal belakang Prey, benturan gelombang Will yang saling bertumpuk meledak dahsyat, melontarkan bilah Prey melesat ke depan dengan kecepatan dua kali lipat lebih kencang!
*BLARRR!*
Bilah pedang yang bermutasi menjadi anak panah balista raksasa merobek udara badai secara mutlak.
Saat mata pedang melesat lewat, senjata itu meremukkan separuh kepala sang Scalor raksasa yang menghadang di depannya, menyemburkan serpihan darah dan daging ke tengah amukan badai sebelum tersapu hanyut oleh air.
Awalnya target utama dari bilah Prey adalah sang pengguna Telekinesis yang bersembunyi di barisan belakang.
Dan usai menembus tangan dan kepala sang Scalor raksasa, laju Prey terus melesat lurus tanpa melambat, meledakkan batok kepala sang monster Telekinesis di belakangnya hingga hancur berkeping-keping.
Upaya monster itu untuk menahan serangan dengan merentangkan kedua tangannya ke depan berakhir sia-sia.
Saat sang pemburu diangkat, sang mangsa bahkan pantang pulang saat dipanggil.
Ini adalah teknik tingkat tinggi yang memanfaatkan senjata terikat melalui Sumpah Ksatria—salah satu kartu as tersembunyi milik Lynox.
Setiap master pedang pasti memiliki setidaknya satu jurus rahasia yang mustahil diperagakan saat sesi latihan tanding santai.
Lynox mengayunkan sepasang pedang tipis di tangan kirinya lalu memenggal leher sang Scalor raksasa yang kepalanya sudah hancur separuh.
*KRAK, CRASH.*
Bahkan tanpa mengerahkan banyak tenaga fisik, bilah tipis itu membelah lehernya dengan sangat mulus.
Mengingat betapa kerasnya struktur tubuh seekor Scalor, tebasan seringan itu seharusnya mustahil memotong tulang, namun pedang-pedang milik Lynox memiliki daya potong berkali-kali lipat lebih mematikan dibanding pedang biasa.
Namun kekurangannya, senjata-senjata tipis itu sangat rentan patah meski berstatus sebagai senjata pusaka—sebuah cacat bawaan yang sanggup ia tutupi berkat kemahiran tekniknya.
Ia bahkan merombak total seluruh gaya berpedangnya demi memaksimalkan ketajaman senjata-senjata tersebut.
Gaya pedang bertahannya, di mana ia membiarkan serangan musuh meleset lalu mengikis bilah pedang lawan dengan senjatanya sendiri, lahir dari filosofi tersebut.
Bahkan di dalam lingkungan klan Zaun, jurus itu bukanlah teknik bertarung biasa ataupun seni pedang yang lazim ditemui.
"Berikutnya," gumam Lynox seraya menyarungkan kembali Hunter ke punggungnya lalu merentangkan tangan.
Begitu sang Hunter ditarik pulang, sang mangsa pun akan kembali ke sarangnya.
Bilah Prey yang merespons getaran Will di telapak tangannya bergetar sejenak sebelum melesat terbang kembali ke dalam genggamannya.
Bilah Prey memang tak bisa melakukan apa pun selain dilempar, dipanggil pulang, atau terpental kencang saat dihantam oleh Hunter.
Karena alasan itulah Lynox merancang ujung mata pedang tersebut secara khusus.
Bilahnya terbuat dari perak murni berlapis intan—sangat mahal, teramat sulit ditempa, dan mudah hancur jika terbentur pada sudut yang salah.
Namun Lynox tak mempermasalahkan hal itu, karena ia hanya menggunakannya untuk menusuk lurus atau dilempar sebagai proyektil.
Bagi dirinya, bilah Prey pada hakikatnya hanyalah sebuah senjata tumpul bermassa padat.
Sebuah seni taktis yang aneh dan unik—parade kemahiran pedang yang telah lama menanggalkan segala batasan ilmu konvensional.
Lynox menghabisi dua Scalor pengendali Telekinesis yang tersisa dengan metode serupa, lalu saat melangkah kembali ke tempat pedang utamanya tertancap, ia melempar Prey untuk menumbangkan seekor monster bersayap yang diam-diam mengincar punggung sang kepala keluarga.
Sementara itu di sisi lain, Tempest Zaun sedang menghancurkan tiga ekor monster sekaligus menjadi bubur daging melalui ayunan pedang raksasanya yang mengerikan.
Ia menghantam kepala mereka dengan sisi datar bilah pedangnya, menenggelamkan tubuh mereka amblas ke dalam tanah.
Kepala dan dada seekor Owlbear remuk hancur berkeping-keping, tersapu bersih oleh guyuran air hujan saat bangkainya terperosok sedalam lutut ke dalam lumpur pekat.
Menyaksikan kedahsyatan itu, Lynox kembali mengetukkan sepasang bilah pedangnya.
*TRANG!*
Dengan menyempitkan fokus gelombang kejut alih-alih menyebarkannya melebar, ia sanggup memindai koordinat yang jauh lebih terpencil.
Melalui metode itu, Lynox memeriksa situasi pertempuran di sektor Encrid.
Usai membedah dinamika medan perang melalui getaran gelombang, Lynox berucap lirih:
"Seharusnya aku yang maju ke sektor itu."
Melihat perangkap jaring yang telah disiapkan oleh Hescal, ia langsung memahami siasat licik musuh.
Tampaknya Hescal sengaja merancang berbagai jebakan khusus demi melumpuhkan gaya bertarung miliknya.
Encrid dari Border Guard—seorang pemuda berbakat yang sangat menjanjikan.
Apakah pemuda itu memiliki kekuatan yang cukup untuk mendobrak perangkap maut sang rubah licik Hescal?
Lynox sendiri tak tahu pasti jawabannya.
*SWUUUUH.*
Hujan terus mengguyur bumi tanpa henti, namun amukan angin badai perlahan mulai sedikit mereda.
Curah hujan memang masih sangat lebat, namun kondisi ini sudah jauh lebih baik dibanding sebelumnya.
"Musuh di depan mata kita pun masih sangat banyak," ujar Tempest memperingatkan.
Mendengar teguran sang kepala keluarga, Lynox membalikkan pandangannya ke depan—
Lalu mendadak ia terbatuk hebat, cairan empedu bercampur asam lambung menyembur keluar dari tenggorokannya dan tumpah ke atas tanah.
*UWEK!*
Bahkan di tengah guyuran badai lebat, terlihat jelas bahwa muntahan itu bercampur dengan gumpalan darah hitam kental.
"Tubuhku sepertinya tak akan bertahan lebih lama lagi," ucap Lynox seraya menginjak dan meratakan muntahan darahnya dengan sepatu botnya.
Obat-obatan racikan Ann memang sanggup menopang daya tahan tubuhnya, namun obat itu memiliki batas waktu kerja yang sangat terbatas.
Itulah alasan kenapa ia sengaja bertarung di garis paling depan mendahului posisi Alexandra dan Tempest.
Ia sengaja memancing keributan demi menarik perhatian monster-monster berkekuatan supranatural ke arah dirinya sendiri.
Akibatnya, beban kerusakan pada organ dalamnya kian membengkak drastis.
Meski sepintas terlihat membantai monster-monster itu dengan sangat mudah, setiap monster yang ia hadapi adalah petarung maut yang berbahaya.
Ia terpaksa terus-menerus melepaskan gelombang kejut demi mengantisipasi serangan diam-diam yang mengincar punggungnya dari kegelapan.
"Tempat ini bukan liang kuburmu, Rai," ucap Tempest seraya memasang kuda-kuda siaga.
Di depan mereka, empat sosok monster berukuran raksasa melangkah maju mendekat.
*DUG!*
Kilatan petir menyambar putih membelah langit kelam.
Bahkan di tengah kegelapan pekat sekalipun, mata seorang Knight sejati sanggup melihat dengan jelas—namun kilatan petir itu memperlihatkan wujud musuh dengan ketajaman yang teramat nyata.
Mereka adalah para Scalor—empat ekor monster mutan tingkat tinggi.
Masing-masing dari mereka memiliki perpaduan sisik hitam dan merah yang seimbang di sekujur tubuh.
Berdasarkan pengalaman tempur Lynox, semakin tinggi rasio sisik merah pada tubuh seekor Scalor, semakin mengerikan kekuatan supranatural yang mereka kuasai.
Artinya, keempat monster ini bakal jauh lebih merepotkan dibanding lawan-lawan sebelumnya.
Hingga detik ini, ia baru sebatas menghadapi musuh yang memiliki satu lengan bersisik merah.
"Tempest, sudah saatnya kita menepati janji masa kecil kita dulu."
Lynox memang tak memiliki bakat meramal masa depan, namun bahkan andai ia berhasil selamat dari pertempuran hari ini, ia sadar betul bahwa tak ada lagi jalan hidup yang tersisa baginya.
*"Aku hanya butuh waktu. Beri aku waktu setengah tahun, maka aku bisa menyembuhkanmu. Tapi untuk saat ini, kondisi tubuhmu benar-benar…"*
Untaian kalimat itu pernah diucapkan oleh Ann usai memeriksa denyut nadinya dan memberikan berbagai ramuan obat tempo hari.
Ya, ia sudah memahaminya sejak awal.
Sejak keparat Hescal mendaratkan tebasan beracun ke tubuhnya, kondisi kesehatannya merosot tajam laksana terjun bebas.
Demam tinggi membakar tubuhnya, jantungnya berdenyut ngilu, dan ia terus memuntahkan darah seolah organ dalamnya terkoyak hancur berkeping-keping.
*"Wah, sepertinya ajalku sudah dekat,"* candanya kala itu, namun di lubuk hatinya yang terdalam, ia tahu pasti.
Inilah akhir dari perjalanan hidupnya.
Lalu apa yang tersisa baginya sekarang?
Ada begitu banyak kenangan, namun di detik-detik kritis ini, hal yang terlintas di benaknya adalah sebuah sumpah janji dari masa kanak-kanak mereka dulu.
Bahwa jika malaikat maut datang menjemput, dirinyalah yang bakal melangkah pergi mendahului Tempest.
Mereka berdua pernah mengikrarkan sumpah itu bersama.
Pernah menjadi rival sengit yang memperebutkan wanita pujaan yang sama, sekaligus sahabat sehidup semati yang menghabiskan hampir setiap detik kehidupan mereka bersama sejak lahir.
"Pergilah bantu Alex," ucap Tempest. Pria itu tak mampu menyuntikkan nada emosi ke dalam suaranya, namun setiap katanya sarat akan ketulusan yang mendalam.
"Aku tak butuh bantuan siapa pun!" seru Alexandra lantang dari kejauhan sepuluh langkah di samping mereka.
Di hadapan ksatria wanita itu, gumpalan asap hitam pekat berputar liar, dan dari sela-sela tumpukan bangkai monster, sebuah cakar berbalut zirah baja hitam merangkak keluar dari liang tanah.
Sosok Death Knight.
Puncak tertinggi dari ilmu sihir necromancy terkutuk yang memanfaatkan jasad seorang ksatria.
Bahkan prajurit mayat hidup biasa Death Warriors saja sudah menjadi mimpi buruk bagi kebanyakan prajurit; maka sesosok Death Knight adalah wujud teror mutlak yang melampaui segala batas ketakutan.
"Aku yang akan pergi lebih dulu. Kaulah sang pewaris tahta klan ini," ulang Lynox mantap.
Pandangan Tempest sempat menyentuh wajah sang istri sejenak.
Alexandra menatap balik suaminya dengan sorot mata membara:
"Percayalah padaku, Tempest. Aku adalah Lightning Blade."
Ya, dulu pernah ada masa di mana Tempest bahkan tak berani bermimpi sanggup mengalahkan wanita itu dalam duel pedang.
"Bantu Lynox dari belakang. Kuulangi sekali lagi: tanah ini bukan liang kuburmu, kawan."
Mereka wajib bertahan hidup.
Sang kepala keluarga meyakini bahwa setiap pertempuran memiliki arus pasang surutnya tersendiri.
Saat arus perang bergeser, itulah momen krusial untuk menentukan kemenangan akhir—dan hingga detik itu tiba, mereka wajib bertahan sekuat tenaga.
Empat ekor Scalor elit berdiri menghadang di depan Tempest dan Lynox.
Dua di antaranya menggenggam gada kayu pendek, sementara dua lainnya mengenakan katar di kedua tangan mereka.
Katar—senjata tikam khas di mana bilah belati tajam terpasang di antara dua bilah besi paralel yang dihubungkan oleh pegangan horizontal—dirancang khusus untuk melancarkan tusukan berkekuatan penetrasi dahsyat.
Hanya dengan mengamati jenis senjata mereka, kedua ksatria veteran itu sanggup membaca doktrin taktis lawan.
Monster-monster ini adalah petarung veteran yang telah kenyang mengecap ratusan medan laga berdarah.
Senjata mereka pendek, dan otot-otot tubuh mereka memadat liat.
Tetesan air hujan memantul dari lapisan sisik tebal mereka bagaikan memukul permukaan genderang perang yang kencang.
Mereka kemungkinan besar bakal memfokuskan serangan pada duel jarak dekat berkecepatan tinggi, dengan ketahanan fisik yang nyaris menyamai level seorang ksatria.
Dan tak diragukan lagi, senjata mereka pasti telah dilumuri racun mematikan.
*HAAA.*
Tempest mengatur ritme pernapasannya hingga stabil.
Sebagaimana sang istri menaruh kepercayaan mutlak padanya, ia pun wajib mempercayai ketangguhan istrinya.
"Cukup jaga punggungku, Lynox."
Jauh di kejauhan, Medusa raksasa terus memantau dinamika medan perang.
Akibat pancaran tatapan makhluk itu, sebagian cadangan Will milik Tempest sempat terkunci kaku tadi.
Tempest menundukkan kepalanya, menghindari tatapan langsung mata sang Medusa—hanya menyisakan sudut pandang untuk mengamati pergerakan kaki musuh di depannya.
Sejak masa kanak-kanak, ia selalu kesulitan mempelajari teknik-teknik pedang yang rumit dan penuh tipu daya.
Namun sebagai gantinya, ia dikaruniai kekuatan fisik murni yang luar biasa dahsyat—cukup kuat untuk mengayunkan greatsword raksasa yang teramat berat dan kaku.
Dan keunggulan itu tak pernah berubah hingga detik ini.
Greatsword raksasa milik Tempest Zaun terhunus menusuk miring ke udara.
Persiapannya telah sempurna.
Saat Lynox melangkah merapatkan posisi ke belakang punggungnya, sebuah suara yang teramat familiar menggema di antara keempat Scalor elit tersebut.
Itu adalah transmisi suara dari Hescal yang dikirimkan melalui mantra sihir jarak jauh—hanya suaranya yang merambat di udara badai:
"Tempest, keempat monster ini adalah kreasi khusus. Mahakarya chimera dari segala chimera yang dirancang khusus untuk membantai para Knight sejati. Mereka adalah mahakarya terbaik dari seorang alkemis genius dan pendekar monster generasi lampau yang menghabiskan waktu tujuh puluh tahun demi menyempurnakan wujud mereka."
Sebuah momen yang sangat aneh untuk memberikan penjelasan panjang.
"Bermainlah dengan mereka sepuasmu. Sementara itu, aku akan pergi membantai putramu tersayang. Aku memang belum tahu di mana kau menyembunyikan Odinkar, tapi aku pasti bakal menemukan dan membantai bocah itu juga."
Hescal berhasil mengintip secercah kelemahan di lubuk hati sang kepala keluarga.
Maka ia memanfaatkannya demi mengguncang ketenangan batin pria itu.
Merasakan secercah kecemasan menyengat hatinya, Lynox melirik wajah sang kepala keluarga.
Namun raut wajah Tempest tetap dingin tak berubah.
Tak ada secuil pun riak emosi yang terpancar di wajahnya.
Itu memang adalah cacat bawaan sejak lahir—namun di saat-saat kritis seperti ini, kekurangan itu bermutasi menjadi topeng baja sempurna yang pantang memperlihatkan secuil pun kelemahan pada musuh.
Detik saat transmisi suara Hescal memudar ditelan badai, keempat Scalor elit menerjang maju serentak laksana kilat.
*PAK.*
Lynox menyipitkan matanya lalu memunggungi musuh, tetap menolak menatap mata Medusa.
Mulai detik ini, tugas utamanya adalah menjaga punggung sahabat karibnya sampai titik darah penghabisan.
Betapa pun rasa mual beracun yang mendidih di perutnya mengancam bakal mencekik tenggorokannya, ia wajib bertahan sekuat tenaga.
Jika ia gagal menahan gempuran ini—kepalanya dipastikan bakal putus tertebas.
"Sejak masih bocah kau selalu sibuk membicarakan tentang 'tahapan berikutnya'."
Andante di masa lalu pun adalah sahabat dekat bagi Alexandra.
Dan kini sahabat karibnya itu telah menolak kedamaian abadi yang ditawarkan oleh kematian, bangkit merangkak kembali ke dunia fana dengan tubuh bersimbah darah hitam terkutuk.
Kehilangan akal sehat, murni digerakkan oleh insting membunuh yang buas dan liar.
Andante yang dulu ia kenal telah memalingkan wajah dari cinta, dari anak-anak, dan dari segala hal manis di dunia ini.
Satu-satunya hal yang selalu ia dambakan hanyalah melangkah naik ke tingkatan berikutnya yang lebih tinggi.
*"Apa yang ada di tahapan berikutnya? Aku pasti sanggup melangkah jauh lebih tinggi dari ini."*
Itu adalah impian agung yang sangat rentan bermutasi menjadi obsesi gelap yang menyimpang.
Namun jika itu terjadi di klan Zaun, itu adalah impian yang seharusnya sanggup dirangkul oleh keluarga ini.
Akan tetapi melihat wujudnya yang sekarang, tak salah jika menyebut takdirnya sebagai sebuah kegagalan tragis.
*"Suatu hari nanti aku pasti bakal melampauimu, Alex."*
Alexandralah sosok ksatria yang selama ini selalu menghalangi ambisi liarnya.
Baik benua utama maupun Kekaisaran tak akan pernah mengizinkan seorang pembunuh berdarah dingin yang terlahir dengan dahaga darah abadi untuk berkeliaran bebas.
Andante wajib menebas mati seseorang yang berdarah merah setidaknya sekali dalam sebulan—dan paling lama tiga bulan sekali, ia wajib membantai nyawa manusia.
Jiwa pria itu selalu mendambakan pembunuhan tanpa henti.
"Sekarang kau bisa membantai musuh sepuas hatimu, Andante," ucap Alexandra dingin.
*SYUUUUUT—*
Death Knight yang lahir dari jasad ksatria itu tak menyahut sepatah kata pun.
Sebagai gantinya, kepulan uap hitam pekat menyembur pekat dari celah visor helm bajanya yang berlumuran jelaga hitam.
Guyuran hujan badai dan terpaan angin kencang mustahil sanggup melarutkan kabut hitam pekat itu, yang menembus tirai air hujan lalu melilit sekeliling helm bajanya.
Itu bukanlah pemandangan mistis yang indah—melainkan manifestasi teror murni yang begitu mengerikan, sanggup membuat lutut ksatria biasa lemas gemetar hanya dengan memandangnya.
Saat seorang Knight yang mabuk akan sensasi tak terkalahkan tewas di medan laga, lalu seorang penyihir hitam mengikat jasadnya dengan kutukan nekromansi, ia akan bermutasi menjadi Death Knight.
Hasilnya adalah sosok mesin pembantai yang kekuatannya jauh lebih mengerikan dibanding saat ia masih bernapas hidup.
Mustahil ada pertempuran yang mudah di hadapan monster sekaliber ini.
Inilah bilah pedang maut yang telah dipersiapkan khusus oleh Hescal demi menghabisi nyawa seorang Alexandra.











