Eternally Regressing Knight

Bab 720 — Bersama Kita Bangkit

3071 Kata

Bab 720 — Bersama Kita Bangkit

Usai menginjakkan kaki di kediaman Zaun, Encrid mempelajari beberapa ilmu baru, namun yang paling unik di antaranya adalah seni memanipulasi Will.

Tentu saja ia sudah pernah menyaksikan konsep serupa bahkan di dalam Unit Pasukan Gila.

Bukankah Rem kerap memperagakan hal yang sama?

*'Transference of Will.'*

Itu adalah teknik khusus yang digunakan Rem untuk memanipulasi Will—memotong serpihan energinya lalu menyuntikkannya ke dalam proyektil senjata lempar.

Sebuah domain ilmu yang mustahil digapai tanpa mencapai tingkatan seorang ksatria sejati.

Bahkan seorang ksatria magang junior paling banter hanya sanggup menyuntikkan secuil Will untuk satu kali jurus sekali pakai.

Maka secara alami hanya para ksatria yang sanggup mengendalikannya dengan benar, dan hal itu berkali-kali lipat jauh lebih sulit dibanding sekadar menggerakkan otot fisik.

Namun ironisnya bagi Encrid, menguasai manipulasi sirkulasi Will justru terasa dua kali lipat lebih mudah dibanding mempelajari teknik fisik baru.

Dengan cadangan Will yang meluap tanpa dasar, ia berada dalam kondisi yang teramat sempurna untuk menggelar ribuan sesi latihan berulang.

Tentu saja ilmu itu mustahil dikuasai hanya dengan melamun santai dan berlatih setengah hati, namun Encrid adalah tipe pria yang selalu mencurahkan segenap jiwa raganya ke dalam apa pun yang ia tekuni.

Dan jika ia memiliki secuil saja bakat untuk hal tersebut, proses pembelajarannya bakal terasa sangat mendebarkan.

Mengontrol sirkulasi Will memang teramat sulit—namun ia sangat menikmatinya hingga tenggelam sepenuhnya ke dalam latihan.

Sejujurnya bahkan saat melatih teknik pengendalian terkendali, ia menuangkan energi Will miliknya tanpa pernah menahan diri.

Ia berkali-kali memforsir dirinya hingga cadangan Will miliknya yang tampak tak berdasar terkuras habis dan ia merasakan sensasi kelelahan ekstrem.

Di sepanjang proses itu, ia menerima begitu banyak bimbingan berharga.

*"Kau tidak sekadar menggunakannya—kau wajib sanggup merombak bentuknya sesuka hatimu."*

Untaian petuah itu pernah dibisikkan oleh Lynox saat mengajarkan seni mengendalikan Will.

Dan Alexandra pun pernah memperagakan hal serupa di depan matanya.

Keduanya adalah pengguna Will paling luar biasa di seantero kediaman Zaun.

Metode milik Lynox bagaikan lantunan musik tanpa cela dari seorang maestro—tak ada satu pun kesalahan nada yang diizinkan saat menyuntikkan atau menarik kembali tenaga.

Pria veteran itu memisahkan porsi Will yang dibutuhkan dengan presisi sempurna—sebuah kemurnian pengendalian terkendali.

Encrid meniru teknik pengendalian miliknya dari metode Lynox tersebut.

Akan tetapi, pengendalian terkendali terbilang jauh lebih sulit.

Hal itu menuntut konsentrasi batin yang setajam silet tanpa henti demi mengontrol sirkulasi Will.

Sensasinya tak ubahnya membawa semangkuk penuh air tanpa menumpahkan satu tetes pun ke lantai.

Jika kau melangkah dengan sangat hati-hati kau mungkin sanggup menjaganya, namun satu langkah canggung saja bakal menumpahkan air ke mana-mana.

Dan dalam kasus Encrid, ia bukan sekadar melangkah santai—melainkan bertarung hidup dan mati dalam kondisi tersebut.

Tentu saja Encrid sempat menumpahkan beberapa tetes air.

Jika ingin lebih jujur lagi, ia bahkan menumpahkan cukup banyak air hingga membasahi sekujur tubuhnya.

Mengontrol sirkulasi Will memang sesulit itu baginya.

Sebaliknya, metode berpedang milik Alexandra sangat bertolak belakang.

Jika gaya Lynox adalah keheningan, maka gaya Alexandra adalah kobaran api.

*'Membakar ekor seekor kuda liar.'*

Seekor kuda liar yang ekornya disulut api bakal melesat berlari dengan kecepatan yang teramat mengerikan.

Tak ada ruang untuk menghemat tenaga atau menyusun rencana taktis—yang ada hanyalah dorongan liar untuk berlari meloloskan diri dari kobaran api yang menjilat punggungnya.

Sensasinya sama persis seperti melesat lari menuruni lereng bukit yang terjal: berkali-kali lipat lebih kilat dibanding berlari di tanah datar, namun jauh lebih sulit untuk dikendalikan.

Namun Alexandra merangkul gaya bertarung yang menepis segala bentuk pengendalian kaku tersebut.

Jika Lynox fokus memadatkan bentuk Will, maka Alexandra memanipulasi kecepatan akselerasinya.

Semakin kilat energi Will meledak dari dalam dadanya, semakin cepat pula bilah pedang di tangannya melesat menebas.

Dan berkat cadangan Will miliknya yang meluap tanpa batas, membiarkan energi itu mengalir bebas meledak jauh lebih mudah dibanding mencoba mengurungnya kaku.

Volume energinya yang masif secara alami menuntunnya menuju gaya tersebut.

Maka dari itu pengendalian terkendali memang sangat sulit—namun justru itulah yang membuat latihan itu terasa kian menantang dan memuaskan.

Itu adalah kenikmatan dari ketahanan batin.

Encrid paham betul bagaimana cara menekan hasrat sesaat demi memetik kenikmatan yang jauh lebih agung di masa depan.

Dan kini, sudah saatnya bagi dirinya untuk merengkuh kenikmatan agung tersebut!

Kobaran api yang membakar di dalam dadanya tak lagi sekadar mengikis sisa racun—melainkan telah bermutasi menjadi gelombang amukan banteng liar yang menerjang sekujur tubuhnya!

Teramat panas membara.

Kedua tangannya, telapak kakinya, bahkan isi kepalanya—semuanya terbakar oleh kobaran api suci.

*'Ledakan.'*

Encrid mengulang satu kata sakral itu di dalam benaknya.

Jika ilmu Lynox adalah penahanan, maka ilmu Alexandra adalah ledakan mutlak!

*'Meledaklah!'*

Bersamaan dengan gelombang Will yang meledak liar di sekujur tubuhnya, Encrid melesat meluncur, telapak kakinya menjejak mantap ke atas pundak Ragna!

Ia melesat menerjang maju, mendongakkan kepalanya menyongsong jalur di depan.

Di hadapan ledakan Will yang begitu dahsyat, sihir Curse of Petrification milik Medusa tak lagi memiliki arti apa pun.

Benar-benar tak berpengaruh sedikit pun!

Kutukan pembatuan sang Medusa hancur lebur—perisai Will of Rejection miliknya memadat dua kali lipat lebih masif dari biasanya, memantulkan segala kabut sihir ke udara!

Ujung jari kakinya mencengkeram lapisan sisik monster.

Menjadikan sisik-sisik tebal yang mencuat bak mata pisau itu sebagai anak tangga darurat, ia menekuk kedua lututnya lalu melontarkan tubuhnya melambung tinggi ke angkasa!

Anak tangga itu memang sangat kasar dan terjal.

Namun bukankah jalan-jalan terjal dan kasarlah yang selama ini paling ia nikmati di dalam hidupnya?

Dan sejujurnya jalur ini bahkan tidak terasa terlalu kasar baginya.

Tak ada lagi ruang bagi lamunan hampa.

Ia bahkan tak sempat mengerahkan persepsi waktu lambat miliknya secara penuh—kemampuan ksatria yang membuat dinamika dunia tampak bergerak melambat.

Normalnya udara di sekelilingnya bakal terasa sepekat dan seberat lumpur hisap, namun kini semuanya terasa begitu alami dan ringan.

Saking ringannya tubuh fisiknya melayang—ia merasa seolah menyentuh domain kemahakuasaan.

Ia menjejak, melontarkan tubuhnya, lalu melesat kian tinggi tanpa bobot gravitasi.

Andai seorang penyair menyaksikan pemandangan ini, mereka pasti bakal melukiskannya sebagai pendakian seekor naga Imoogi yang melesat menerjang langit menentang segala kemustahilan.

*KREEEKKK!*

Medusa menundukkan kepalanya ke bawah lalu membuka rahangnya lebar-lebar!

Kabut racun hijau pekat menyembur keluar dari mulutnya, membiaskan tetesan air hujan saat memadat membentuk dinding racun tebal di hadapannya!

Encrid menahan napasnya lalu mencengkeram Three-Iron di pinggangnya kian erat!

*TRRR-TRANG!*

Suaranya terdengar sayup layaknya mendengar dentingan logam dari dasar air.

Suara itu terasa begitu jauh, seolah terhalang oleh pembatas tak kasat mata.

*KRAK!*

Sarung pedang kayu di pinggangnya meledak hancur berkeping-keping!

Dengan daya ledak fisik yang teramat buas, bilah pedang Three-Iron meremukkan sarungnya sendiri saat Encrid menghunus senjatanya secepat kilat!

Mata pedang Encrid melesat lurus menusuk leher sang Medusa!

Bahkan di dalam domain persepsi waktu miliknya yang melambat ekstrem, lesatan bilah pedang itu bergerak jauh lebih kilat dibanding kecepatan berpikirnya!

"Dasar bajingan gila…!"

Anahera yang sempat kehilangan keseimbangan namun baru saja bangkit berdiri menyaksikan apa yang sedang dilakukan oleh Encrid dengan mata kepalanya sendiri.

Secara kebetulan ksatria raksasa itu baru saja membabat habis barisan monster di depannya, memberinya sudut pandang visual yang teramat bersih.

Bukan hanya dirinya—seluruh ksatria di medan perang menyaksikan pemandangan tersebut!

Tak ada seorang pun di sini yang cukup buta untuk melewatkan hawa keberadaan sang Medusa raksasa yang selama ini menebarkan kutukan pembatuan dari kejauhan.

Bagaimana mungkin seseorang bisa melewatkannya saat ada sosok ksatria yang sedang menari dengan sebilah pedang di atas tubuh monster kolosal tersebut?!

Medusa memusatkan seluruh konsentrasi kutukan pembatuannya hanya kepada sosok Encrid seorang, memberi ruang bernapas lega bagi ksatria lainnya.

Semua orang menyaksikannya.

Mereka melihat siluet ksatria yang menjejak ekor sang Medusa, melesat terbang melambung ke langit, menghancurkan sarung pedangnya sendiri, lalu menebaskan bilah bajanya laksana sambaran kilat petir!

Bahkan saat tubuhnya melayang naik, ia tampak bagai kilatan petir yang menentang hukum gravitasi melesat ke angkasa, dan saat ia menebaskan pedangnya, pemandangan itu kian terpampang nyata.

Petir telah mewujud menjadi sebilah pedang pusaka, membabat habis leher sang monster penguasa!

*DUARRR!*

Dentuman dahsyat meledak membahana, bagaikan bongkahan batu raksasa yang dilempar dari ketapel balista menghantam dinding benteng kota!

Lapisan sisik tebal di leher Medusa berdiri tegak layaknya perisai baja, namun Encrid meremukkan pertahanan itu murni mengandalkan tenaga kasarnya lalu merobek daging lehernya hingga menganga!

Darah hitam menyembur deras dari luka robek yang menganga.

Guyuran air hujan bercampur baur dengan semburan darah hitam pekat.

Meski begitu, sang Medusa masih sanggup bertahan hidup!

Apakah karena lehernya belum terpenggal putus seutuhnya?

Dengan leher yang terkoyak separuh, monster itu masih memaksakan diri menyemburkan racun dari mulutnya, dan ratusan ular berbisa yang menghiasi kepalanya meluncur mematuk ke bawah, membuktikan bahwa mahkota ular itu bukan sekadar pajangan belaka!

Anahera hampir saja berteriak melontarkan peringatan bahaya tanpa sadar.

Namun tak ada waktu yang tersisa untuk berteriak.

Bilah pedang Encrid bergerak kesetanan layaknya orang gila, melukis garis-garis kematian di udara badai!

Pedang pusaka yang telah lepas dari sarungnya menari tanpa henti, membabat habis seluruh kepala ular yang mematuk ke arahnya, lalu menuntaskan tugas sucinya dengan memenggal leher sang Medusa hingga putus total!

*JLEB! CRASH!*

Suara tebasan dingin kembali bergema nyaring, dan kepala raksasa sang Medusa melayang jatuh terpenggal di udara!

Jeritan maut terakhir meledak parau dari rahang monster itu:

*KIAAAAAAAKKK! BRUK!*

Kepala raksasa itu menghantam bumi dengan dentuman keras.

*SYUUU—*

Detik itu juga siluet ular sihir raksasa yang menggeliat buas di atas langit mendadak memudar buram lalu lenyap ditelan udara!

*BLARRR!*

Di tengah guyuran hujan lebat, bangkai raksasa sang Medusa ambruk tumbang menghantam tanah dengan suara gempa yang dahsyat.

Dan di atas bangkai itu, berdiri tegak seorang pria seraya menancapkan bilah pedangnya ke pangkal leher yang terpenggal.

"Dasar bajingan luar biasa…!"

Anahera tak sanggup lagi membendung getaran antusiasme yang meledak di dadanya lalu menjeritkan lolongan liar!

*UOOOOOOH!*

Tenggorokan para ksatria raksasa melolong membahana!

"UAAAAAAH!"

Raungan ksatria manusia serempak menyatu menyambut kemenangan itu!

Itu adalah jeritan pemersatu dari seluruh ksatria yang menyaksikan mukjizat pembantaian tersebut dengan mata kepala mereka sendiri.

Sangat wajar mereka bersorak membahana.

Hanya dalam satu detik tebasan maut, ksatria asing itu telah membalikkan jalannya pertempuran yang sebelumnya berada di ambang kehancuran!

Dan tepat di detik itu—dari belakang punggung Encrid yang berdiri tegap—sebongkah gumpalan sihir hitam pekat melesat terbang lalu meledak menghantam tubuhnya!

*DUARRR!*

Tubuhnya seketika tertelan oleh kobaran api hitam terkutuk!

Serangan mendadak itu begitu mengejutkan hingga semua orang seketika mematung beku dengan mulut menganga lebar.

Serangan apa itu barusan?

Kenapa kobaran api hitam itu pantang padam bahkan di bawah guyuran hujan badai yang lebat?!

Segudang tanda tanya membuncah di kepala Anahera.

Mengamati dari sektor samping, Alexandra pun dilanda kebingungan serupa.

"Odinkar."

"Ya, aku pun melihatnya."

Di saat-saat kritis tadi, Odinkar menampakkan wujudnya di belakang punggung Alexandra.

Pemuda itulah yang maju bertarung menggantikan posisinya.

Sang kepala keluarga sebenarnya telah memerintahkannya untuk bersembunyi di tempat aman demi menanti kesempatan berikutnya.

*"Ini gara-gara kau terlalu sering bergaul dengan Ragna. Kau jadi tertular sifat keras kepalanya."*

Pemuda itu melangkah memasuki medan pertempuran seraya berucap demikian tadi.

*"Jika kata-kata larangan sanggup menghentikan langkahku dari medan perang, maka aku bukan lagi anak kandung klan Zaun."*

Alexandra kala itu hanya membalas dengan anggukan mantap.

Usai menebas dan membabat kawanan monster di sekeliling mereka, mereka akhirnya berhasil mengamankan keselamatan Alexandra.

Dan tepat saat mereka mengamankan perimeter, Encrid berhasil memenggal leher sang Medusa.

Pancaran hawa keberadaan Ragna yang luar biasa dahsyat tadi pun memainkan peran yang sangat krusial.

Lenyapnya ular sihir di langit adalah mukjizat yang menyuntikkan harapan baru bagi semua orang.

Namun sosok pahlawan yang mewujudkan keajaiban itu kini justru tertelan oleh kobaran api hitam.

Kondisi fisik Alexandra sendiri telah berada dalam keadaan yang teramat kritis.

Meledakkan Will mendatangkan beban kerusakan yang teramat masif bagi tubuh—itu artinya merobek jaringan saraf dan menghancurkan serat-serat otot.

Tentu saja jika dikendalikan dengan benar jurus itu bisa digunakan dengan aman, namun di tengah pertempuran hidup dan mati tadi tak ada waktu luang untuk hal tersebut.

"Amankan sektor ini, Odinkar," titah sang kepala keluarga yang baru saja tiba di dekat mereka.

Tempest Zaun—ia telah membantai empat monster chimera elit yang menghadang jalurnya.

Masing-masing dari chimera itu cukup kuat untuk membunuh seorang ksatria dalam duel satu lawan satu, namun sang kepala keluarga berhasil menumpas mereka semua.

Lynox pun terluka sangat parah, dan meski wajahnya sepucat mayat, pria veteran itu masih sanggup melangkah tegap dengan kedua kakinya sendiri.

"Aku akan ikut denganmu," ujar Lynox mantap.

Merekalah barisan ksatria sejati yang pantang sudi beristirahat meski tubuh mereka diperintahkan untuk berhenti.

Odinkar ingin melarang mereka berdua melangkah, namun ia sadar betul situasi saat ini mustahil memungkinkan hal tersebut.

"Kurasa lebih tepat jika dirikulah yang maju ke garis depan," usul Odinkar.

Namun sang kepala keluarga menyahut tegas:

"Ini adalah perintah mutlak. Amankan tempat ini. Aku sendiri yang akan menatap langsung wajah keparat yang telah menyiksa dan meracuni keluargaku selama dua puluh tahun terakhir. Aku tak akan pernah mundur."

Sang kepala keluarga berucap mantap lalu membalikkan tubuhnya melangkah maju.

Bahkan di saat itu pun, sosok Encrid masih diselimuti oleh kobaran api hitam pekat.

Betapa pun relatif sederhananya mempelajari manipulasi Will, hal itu bukanlah ilmu yang sanggup diserap oleh tubuh fisik dalam sekejap mata.

Pengendalian terkendali maupun ledakan mutlak—keduanya menuntut kedisiplinan batin yang teramat tinggi.

Itu adalah seni berpedang yang wajib diteliti dan ditempa selama bertahun-tahun, namun Encrid memaksakan diri menariknya keluar secara instan.

*'Sakit sekali…'*

Rasa sakit yang menyiksa telah membanjiri sekujur tubuhnya sejak detik ia hanya sempat memotong separuh leher Medusa pada tebasan pembuka tadi.

*'Belum… ini belum selesai.'*

Ia masih sanggup menahannya.

Amukan Will terus bergolak liar di dalam dadanya laksana kawanan kuda liar yang mendambakan kebebasan mutlak.

Dan Encrid memberikan kebebasan itu kepada mereka.

Ia membakar habis cadangan Will miliknya seraya terus mengayunkan pedangnya tanpa henti.

Menjaga keseimbangan tubuhnya di udara, ia memenggal seluruh kepala ular yang menyerbu, lalu memanfaatkan bilah perak Three-Iron untuk menuntaskan pemenggalan leher sang Medusa.

Dan dalam hitungan sepersekian mikrodetik—kesadarannya sempat melayang padam.

Itu adalah jeda waktu yang teramat singkat, namun sudah lebih dari cukup bagi sosok Sang Tukang Perahu Kematian—sang Ferryman—untuk mendekatkan wajahnya yang dingin.

Sebelum Encrid sempat merasakan ayunan perahu di atas sungai kematian, sang Ferryman yang berdiri di ujung haluan membuka suara:

*"Jika kau mengulangi tindakan nekat ini sekali lagi, apa kau yakin bakal sanggup melakukannya dengan lebih baik? Apa kau benar-benar percaya bahwa keberuntungan akan selalu memihak kepadamu?"*

Tak ada secuil pun niat jahat maupun kebaikan dalam untaian kalimat sang Ferryman yang berat dan dingin—murni nada bicara datar yang menyuarakan kenyataan pahit.

Itu adalah sebuah peringatan sakral bahwa mengulangi perjudian maut hari ini tak akan pernah menjamin hasil akhir yang sama.

Sebelum Encrid sempat membalas ucapan itu, kesadarannya seketika tersentak kembali ke alam fana!

Sosok sang Ferryman di ujung perahu seketika lenyap tak berbekas.

Jeda waktu itu bahkan berlangsung lebih cepat dibanding satu kedipan mata.

Berdiri di atas bangkai sang Medusa, Encrid menancapkan bilah pedangnya di dekat pangkal leher yang terpenggal.

Betapa pun kerasnya ia mencoba, ia tak bisa langsung menggerakkan tubuhnya seketika.

Ia membutuhkan setidaknya beberapa detik untuk mengatur ritme napasnya serta mengumpulkan kembali sisa-sisa tenaganya.

Dan tepat di detik itu, bau busuk yang menyengat hidung mendadak menerjang indera penciumannya.

*'Sihir hitam…!'*

Ia merasakannya—namun sudah terlambat.

Sebongkah massa sihir hitam melesat dari belakang lalu meledak telak menghantam tubuhnya!

*DUARRR!*

Kobaran api hitam menyelimuti sekujur tubuhnya.

Normalnya api terkutuk itu pasti bakal membakar dan memanggang dagingnya hingga gosong—namun hal itu tidak terjadi.

Sebagai gantinya, Encrid melihat pendar cahaya hijau lembut menyelimuti kulitnya.

Dari pancaran cahaya itu menguar aroma wangi khas milik Shinar—aroma hutan belantara yang lebat dan kesegaran embun pagi yang menyejukkan jiwa.

*KREK.*

Encrid merasakan pakaian dalam tenunan bangsa peri yang ia kenakan di balik baju zirahnya perlahan hancur lebur.

Kain ajaib itu mengering lalu terurai menjadi abu layaknya dedaunan musim gugur yang rapuh, meninggalkan sensasi kasar yang menyentuh kulit telanjangnya secara langsung.

Namun sebagai gantinya, ia berhasil meloloskan diri dari amukan api hitam terkutuk tersebut!

Melontarkan tubuhnya ke belakang, ia berguling di atas tanah berlumpur lalu dengan susah payah menata kembali keseimbangan tubuhnya berdiri.

Meski begitu, rasanya seolah jeritan rasa sakit meledak dari setiap jengkal tubuhnya yang babak belur.

Darah segar mengucur deras dari telapak tangan kanannya yang mencengkeram Three-Iron erat-erat.

Bahkan andai kau membuat kesalahan kecil dalam teknik pengendalian terkendali, kau hanya akan menumpahkan beberapa tetes darah, namun begitu kau melepaskan ledakan Will dan gagal mengontrolnya dengan sempurna, sensasinya tak ubahnya mencabik-cabik serat ototmu sendiri dengan bilah pisau.

Pada titik ini, mungkin sebuah keajaiban besar bahwa tulang-belulangnya tidak sampai patah hancur.

Rasa sakitnya benar-benar di luar nalar.

Terlebih lagi ia merasakan kehilangan tenaga fisik yang teramat drastis.

Jika kau menggunakannya secara membabi buta tanpa regulasi ketat, jurus ledakan ini pada hakikatnya adalah teknik bunuh diri.

Jika seseorang mabuk oleh ilusi kemahakuasaan lalu terus-menerus menembakkan ledakan Will tanpa berpikir panjang, tubuhnya dipastikan bakal berlubang-lubang mengucurkan darah hingga tewas kehabisan darah.

Seseorang tak butuh intuisi ksatria khusus untuk meramalkan nasib tragis tersebut.

"Apa itu artefak sihir peninggalan bangsa peri?"

Suara itu milik sosok pria tua yang memiliki organ mata monster Evil Eye tertanam di dahinya.

Di samping pria tua itu berdiri seorang wanita muda dengan tanduk iblis mencuat dari pelipisnya, dan di belakang mereka berdiri sesosok monster mengerikan—tampak bagai seseorang yang secara serampangan menempelkan potongan daging busuk di atas kerangka tulang di balik jubah hitam yang berat.

Ya, kata monster adalah sebutan yang paling tepat untuk menggambarkan wujudnya.

Menyebut makhluk menjijikkan itu sebagai seorang manusia adalah penghinaan mutlak bagi seluruh ras berakal di dunia ini.

"Kau benar-benar sanggup menumbangkan seekor Medusa ya… Hescal begitu percaya diri tadi… dan lihatlah bagaimana hasil akhirnya."

Hanya sang pria tua bermata tiga yang membuka suara.

Makhluk bangkai di belakangnya hanya menggerakkan bola matanya yang melotot menatap bergantian ke arah Encrid dan Ragna, seolah sedang menakar bobot jiwa mereka berdua.

Tak ada seorang pun yang perlu memperkenalkan identitasnya—sudah teramat jelas siapa sosok monster bangkai tersebut.

"Senang bertemu denganmu, Drmule," sapa Encrid seraya membuka mulutnya, mengabaikan sang pria tua dan langsung menyapa sang monster busuk secara frontal.

Arwah terkutuk yang bersemayam di dalam daging membusuk itu menggeliat lalu menyahut parau:

"Ya."

Bahkan nada suaranya pun teramat menyengat oleh bau bangkai yang membusuk.

"Kurasa aku harus memperkenalkan diriku terlebih dahulu."

Encrid sempat terbatuk memuntahkan darah segar di tengah kalimatnya.

Organ dalamnya berdenyut ngilu teramat parah—tubuhnya hancur lebur—namun untaian kalimat ini wajib ia kumandangkan dengan lantang:

"Aku hanyalah Pendekar Pedang Satu."

Dan sang ksatria muda yang berdiri di sampingnya menyahuti dengan nada bicara yang persis sama.

"Aku Pendekar Pedang Dua."

Sambil menahan batuk berdarah, Ragna menyempurnakan ejekan maut itu demi menghibur sang musuh:

"Dan bersama-sama, kami berdua hanyalah Dua Orang Pendekar Pedang."

Saat kesempatan emas untuk mengejek musuh terpampang nyata di depan mata, bagaimana mungkin seseorang sanggup menahan lidahnya untuk tidak melontarkan bualan terbaiknya?

"…Dasar bajingan-bajingan gila sialan," desis Drmule dengan suara yang sarat akan rasa tak percaya—dan untuk sesaat, secercah nuansa kemanusiaan tampak menempel samar pada sosok bangkai yang membusuk itu.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.