Bab 790: Waktu Pembaktian
Guratan urat-urat merah darah menyeruak memenuhi sepasang bola mata Rino.
Ia menegakkan kedua bilah pedangnya lurus ke depan.
Tak ada lagi alasan baginya untuk menyilangkan senjatanya demi tipu daya.
Hal yang terpenting saat ini adalah keagungan hawa keberadaan.
Ia menempa momentum tekad murni melalui kuda-kuda berdirinya.
Melalui cara itulah ia mengubah gelombang tekanannya sendiri menjadi sebilah daya hancur yang nyata.
Sebilah pedang runcing menusuk telak menembus Dinding Benteng intimidasi milik Encrid.
Tekanan tajam menyerupai ujung jarum penusuk itu menghujam masuk ke dalam celah-celah dinding benteng yang kokoh lalu menjebolnya.
"...Apa-apaan ini?!"
Namun detik berikutnya Rino seketika dihantam telak oleh gelombang tekanan benteng kedua.
Dinding Benteng yang dibangun Encrid rupanya bukan sekadar satu lapisan penghalang tunggal.
'Dia memanifestasikan wujud tekanannya sebanyak dua lapis bertumpuk?!'
Sangatlah wajar bagi dirinya untuk merasa terperangah syok—ini adalah sebuah keahlian kendali Will yang bahkan belum pernah sekali pun disaksikan oleh Rino seumur hidupnya.
Encrid paham betul bahwa Rino takkan semudah itu melompati dinding bentengnya, persis seperti bagaimana dirinya dulu hampir remuk tertimpa tekanan tanpa wujud yang dilepaskan oleh Beelrog.
Tentu saja seseorang mustahil sanggup membunuh lawan murni mengandalkan tekanan hawa keberadaan belaka.
Ada tujuan lain di balik tindakannya, namun untuk saat ini ini murni berupa eksperimen sederhana dalam membentuk wujud manifestasi Will.
"Aku menciptakan lapisan dinding ini bukan murni untuk bertarung melawanimu, Guru."
Encrid melontarkan kalimatnya dengan nada yang sangat sopan dan santun.
Kata-katanya mengandung ketulusan sekaligus rasa hormat yang mendalam.
"Jangan bicara omong kosong!"
Rino membentak murka, amarahnya kian tersulut oleh keagungan aura luar biasa yang sedang dipamerkan oleh Encrid di depannya.
"Tenanglah dan tarik napasmu perlahan."
Sekali lagi Encrid memperlakukan lawannya dengan kesopanan seorang murid yang beradab.
Pembuluh darah di sekitar kelopak mata Rino tampak menegang seolah siap meletus kapan saja.
*Dasar bocah keparat ini.*
Rino kembali memusatkan seluruh fokus batinnya ke satu titik.
Urat-urat di punggung kedua telapak tangannya yang sedang mencengkeram sepasang bilah pedang menonjol tebal, menggeliat liar menyerupai kawanan ular berbisa.
Encrid bersikap persis layaknya seorang penonton netral, tidak melakukan manuver apa pun selain terus menekan lawannya menggunakan hawa keberadaannya.
Di satu sisi tindakannya sama sekali tak ada bedanya dengan apa yang biasa dilakukan oleh Beelrog.
Bahkan ketika melihat celah pertahanan lawan menganga lebar, ia hanya berdiri diam mengamati.
Perbedaannya hampir tidak terasa.
Di satu sisi terpancar ketenangan batin yang teramat hening; sementara di sisi lainnya sepasang mata merah menyala dan urat-urat yang menonjol mencerminkan pergolakan emosi dan kondisi jiwa Rino.
Namun pada akhirnya tekanan aura tetaplah sekadar tekanan aura belaka.
Bagi seorang Knight sejati, hanyalah masalah waktu sebelum dirinya sanggup menaklukkan dan memecahkan tekanan tersebut.
Hal itu sudah sewajarnya terjadi.
Dan Rino pun membuktikan hal serupa.
Ia telah berhasil menaklukkan dan mendobrak tiga lapis Dinding Benteng milik Encrid secara beruntun.
"HWA-AAARGH!"
Pria itu melepaskan raungan teriakan yang sarat akan tenaga dalam.
Tentu saja teriakan lantang itu pun merupakan bagian dari seni tipu dayanya.
Kenyataannya, di tengah-tengah perjuangannya mendobrak tekanan tadi, Guru Rino sengaja mengulur waktu demi mencari momentum yang paling sempurna untuk melompati Dinding Benteng berikutnya.
Tujuannya adalah demi mempertahankan kondisi staminanya tetap berada di titik prima, sekaligus bersiap melancarkan serangan balasan jika Encrid merangsek maju mengeksploitasi celah kelengahannya.
Namun Encrid murni hanya berdiri tenang mengamati seluruh proses perjuangan lawannya, dan tepat usai mendengar teriakan lantang Rino, satu-satunya hal yang ia lakukan hanyalah mencabut bilah Dawnforged dari sarungnya.
Bahkan gerakan menghunus senjatanya tidak dilakukan dengan kecepatan yang teramat kilat.
Gerakannya terasa begitu alami, luwes, dan anggun, persis seperti gestur ramah seorang tuan rumah yang sedang menyambut dan mempersilakan tamunya masuk.
Dan justru keanggunan alami itulah yang membuatnya terasa jauh lebih mengerikan.
Rino secara naluriah menyadari kengerian tersebut.
*Cring-cring-cring.*
Mata bilah pedang yang memancarkan pendaran cahaya biru langit mendadak meluncur menusuk lurus mengincar ulu hati Rino tepat saat pria itu mengangkat kedua pedangnya bersiap tempur.
Pemandangannya seolah-olah gerakan menghunus dan menusukkan pedang terjadi dalam satu tarikan napas yang sama.
Jika kau membedah proses mekanikanya, itu terdiri dari tiga rangkaian gerak—mencabut, menarik ke belakang, lalu menusuk—namun keluwesan gerakannya membuatnya tampak menyerupai satu aliran air yang menyatu tanpa cela.
*TRANG-TANG!*
Tepat sebelum sepasang bilah pedang milik Rino yang siap memercikkan kilatan api sempat menyilang dan beradu, kedua bilah itu telah lebih dulu tertahan kaku oleh Dawnforged.
Dinding pendaran biru langit berdiri kokoh tepat di antara kedua bilah pedang panjang milik sang lawan, laksana sebuah barikade tebal yang memisahkan sepasang kekasih yang putus asa.
"...Cepat sekali kau membaca gerakanku!"
Rino kembali berteriak lantang.
Nada keterkejutan di dalam intonasi suaranya masih merupakan bagian dari sandiwara tipu dayanya demi memperdaya musuh.
Tentu saja trik itu sama sekali tidak mempan.
Trik-trik Guru Rino telah lama menjadi pemandangan yang teramat familier di mata Encrid.
Ia dengan tenang mengamati setiap jengkal pergerakan Rino, memblokir setiap variasi serangannya murni menggunakan Sword of Chance.
Dengan kata lain, ia memenggal titik awal dari setiap cabang serangan musuh bahkan sebelum gerakan itu sempat merekah.
Setiap serangan lanjutan yang dilepaskan oleh Guru Rino berhasil dipatahkan melalui metode tersebut.
Setiap kali Rino memulai serangannya dengan memajukan kaki kirinya ke depan, Encrid akan melancarkan tendangan tepat ke arah kaki tersebut.
Jika Rino mencoba menyilangkan kedua pedangnya kembali demi memicu kilatan cahaya, Encrid akan menyelipkan bilah Dawnforged tepat di antara celah kedua pedang tersebut.
Maka Rino mencabut sebilah belati khusus yang bilahnya bukan sekadar melengkung, melainkan terpuntir bengkok dengan bentuk yang sangat mengerikan.
Belati itu pun sangat tidak lazim; lima deret gerigi tajam menyerupai taring binatang buas berjajar di sepanjang bilahnya.
Menggunakan belati bergigi taring itu, ia mengait dan mengunci bilah Dawnforged.
Ia berniat mematahkan bilah pedang di genggaman tangan Encrid dengan satu sentakan memelintir!
*KRAK-GRANG-TRANG!*
Badai bunga api memercik ganas dari titik di mana bilah belati mengunci Dawnforged, suara derit gesekan logam beresonansi nyaring memekakkan telinga.
Encrid bahkan tidak repot-repot memeriksa kondisi bilah pedangnya.
Hal itu sama sekali tidak perlu dilakukan.
Satu-satunya hal yang patah berkeping-keping di detik berikutnya adalah deretan gerigi taring pada belati milik Rino.
"Engraved Weapon milikku tidak akan pernah bisa patah."
Ketika senjata ini terhubung erat dengan aliran Will miliknya, kekokohan strukturnya sanggup menahan bahkan hantaman tebasan maut milik Beelrog sekalipun.
Ia telah menguji dan membuktikannya sendiri ratusan kali.
Ini adalah tentang bagaimana cara memaksimalkan potensi sejati dari senjatamu.
Ketahanan mutlak dari bilah Dawnforged adalah sebilah senjata mematikan tersendiri.
Usai gagal mematahkan bilah pedang lawannya, Rino mencoba melompat mundur tepat saat Encrid sedang memberikan penjelasannya dengan ramah.
Saat Rino melompat ke belakang, Encrid melesat mengekor langkahnya, mengangkat relik pusaka Penna lalu menyabetkannya ke bawah!
Mata bilah pusaka itu membelah bersih menembus raga fisik Rino.
"...Dasar bocah keparat, ilmu pedangmu itu..."
Ia menyamarkan kekokohan sejati dari pedangnya, lalu memanfaatkan momen saat rahasia itu tersingkap sebagai celah emas untuk melancarkan serangan pemusnah.
Persis seperti itulah cara sejati mengendalikan sebuah senjata.
Kata-kata Rino yang sarat akan kekaguman tulus perlahan-lahan memudar hampa saat Encrid memberikan sahutannya dengan nada datar.
"Aku mempelajarinya dari guruku sendiri."
"Sialan, guru katamu, hah? Yah... setidaknya duel barusan sangat menyenangkan."
Itulah kata-kata terakhir yang sanggup dilafalkan oleh Rino, bibirnya yang terbelah nyaris tak sanggup membentuk artikulasi kata.
"...Nah, bukankah hasil itu sudah lebih dari cukup, wahai Guru?"
Encrid berbicara pelan ke arah kehampaan udara yang kosong.
Pendaran cahaya obor di dinding gua berkedip pelan, membuat bayangan batu bergoyang hening.
Ia menyadari bahwa sejak pertama kali berpapasan dengan sosok Rino, duel kali ini adalah pertempuran yang berlangsung paling lama sepanjang seluruh pengulangannya.
Dan hal itu memang sengaja ia rancang sejak awal.
Usai melangkah melewati lorong gelap yang temaram, ia segera kembali menyambut pendaran cahaya obor di depannya, dan di sana sesosok ksatria hantu telah setia menunggunya.
"Namaku adalah Donafa!"
Encrid mengangkat pedangnya sebagai balasan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Donafa adalah tipe petarung yang lebih gemar berbicara menggunakan senjatanya ketimbang kata-kata lisan.
Bahkan saat menyambut badai ayunan kapak raksasa Donafa, alur jalannya pertempuran bergulir dengan pola yang sangat mirip.
Tahan, lalu tahan kembali.
Persis seperti bagaimana ia menyambut rentetan serangan Rino tadi, ia memperlakukan Donafa dengan cara yang sama.
Seni pertahanan yang berakar dari aliran Wave-breaker Sword menyederhanakan jalan pikirannya dan menyapu bersih seluruh noda keraguan di benaknya; sabetan kapak raksasa menghujam turun bertubi-tubi dan ditepis ke samping dengan presisi sempurna.
'Ilmu pedang milik Beelrog.'
Wujudnya terasa memiliki bentuk yang sangat serupa.
Untuk sesaat aliran Will milik Donafa memadat dan bersemayam di atas mata kapaknya.
Itu memang belum mencapai tingkatan Single Point Focus, namun daya tebas dari serangannya melompat melampaui apa yang sanggup ditepis secara biasa dan menghujam turun dengan bobot yang teramat masif tepat di atas kepalanya.
Jauh lebih tajam dibanding tebasan Guillotine Blade, dan sarat akan tekanan aura yang seolah membelit sekujur raganya laksana rantai-rantai besi panas—persis seperti itulah karakteristik hantaman kapak Donafa.
'Memilih kesederhanaan mutlak di atas kerumitan taktik.'
Ayunan kapak yang berfondasi pada Greatsword Style terjalin erat dengan manifestasi tekanan hawa keberadaan yang masif.
Jika tekanan milik Beelrog termanifestasi dalam wujud rantai-rantai panas, dan milik Encrid berwujud dinding benteng raksasa, maka kapak Donafa disertai oleh jaring tak kasatmata yang menjerat kebebasan gerak sekujur tubuhnya.
'Jika aku sanggup menarik keluar tekanan aura Beelrog lalu mengubahnya menjadi sabetan kapak maut...'
Hasilnya dipastikan akan sangat mirip dengan pendekatan yang diperagakan oleh Donafa saat ini.
Dalam konteks tersebut pria ini telah menggali sangat dalam hingga ke prinsip dasar dan sumber asal-usul dari ilmu beladirinya.
Jika Rino berfokus pada dinamika gerakan sayap Beelrog dan keunikan persenjataannya, maka Donafa mengembangkan keahliannya murni berlandaskan pada hawa keberadaan agung milik sang demon.
Tentu saja hal itu sama sekali bukan ancaman berbahaya bagi seorang Encrid.
Will Penolakan miliknya membelah dan mencampakkan jaring tak kasatmata itu dengan sangat mudah.
Setelahnya menggerakkan raga fisiknya terasa teramat ringan tanpa beban.
Sabetan kapak Donafa yang meluncur sangat cepat membelah lapisan udara disertai suara dentuman keras, namun meski begitu serangannya terasa jauh lebih lambat dibanding ayunan kapak milik Rem—setidaknya kesan itulah yang tertangkap di mata Encrid.
Ia melompat menghindar, menepis, dan membelokkan laju kapak Donafa bahkan usai melacak lintasannya secara visual.
Itu adalah pertahanan yang teramat luar biasa; sebilah pedang yang dulunya membendung deburan ombak kini menjadi perisai mutlak dari gempuran kapak raksasa.
"HWA-AAAP!"
Bahkan usai serangannya meleset tanpa hasil dan tidak mendapati adanya serangan balasan, Donafa seketika menghimpun seluruh tenaganya kembali lalu mengayunkan kapaknya lagi dan lagi.
Kini Encrid telah memahami secara menyeluruh seluruh pola taktik tempur Donafa.
Usai berhadapan dengannya lebih dari dua ratus kali pengulangan, akan terasa sangat aneh jika dirinya belum sanggup membedahnya hingga tuntas.
Kenyataannya ia telah secara hening menjadikan Donafa sebagai sosok gurunya sendiri dan menyerap seluruh keahliannya.
'Jika lawan yang melompat menghindari tebasan kapak sempat merusak keseimbangan kuda-kudanya barang sedikit saja—'
Celah itu akan memberinya cukup waktu luang untuk mempersiapkan ayunan tebasan berikutnya.
Itulah strategi dasar Donafa.
Itu adalah sebuah cara bertarung yang teramat memikat.
Setiap satu serangan dirancang khusus demi membeli waktu bagi serangan berikutnya.
Strategi yang diajarkan oleh Guru Donafa pun merupakan salah satu jalan keluar berharga untuk melewati hari ini.
Setidaknya begitulah prinsip kerja taktik tersebut di dalam benak Encrid.
Sebuah babak pertempuran panjang kembali terbentang.
Donafa telah mengayunkan kapak raksasanya sebanyak delapan puluh kali berturut-turut.
Jika raganya belum bermutasi menjadi sesosok Dullahan, otot-otot di kedua lengannya dipastikan sudah meledak robek sejak tadi.
Urat-urat gelap yang tampak hangus menghitam menonjol mengerikan di sepanjang lengan bawahnya yang telah berubah warna menjadi kelabu jelaga.
Mustahil lengan seseorang sanggup memperlihatkan kondisi semacam itu kecuali jika serat-serat ototnya sedang berada di bawah tekanan fisik yang teramat ekstrem.
Namun setiap ayunan kapaknya selalu dilepaskan dengan tenaga maksimal seratus persen.
Donafa bukanlah jenis petarung yang sanggup membantai seribu prajurit secara beruntun.
Namun ketika berhadapan dengan seratus ksatria elit yang masing-masing sanggup menundukkan seribu prajurit biasa, ia akan bertarung dengan keganasan yang jauh lebih buas.
Taktik setiap orang berevolusi murni berdasarkan bagaimana cara mereka melatih diri mereka sendiri.
Donafa adalah sosok pendekar yang merintis jalurnya sendiri di atas tanah gersang.
Dalam aspek tersebut sosok Rino pun memiliki watak yang serupa.
Itulah alasan mengapa selalu ada pelajaran berharga yang sanggup dipetik dari sosok-sosok ksatria sejati semacam mereka.
Mereka bukanlah orang-orang bodoh yang mengira bahwa latihan beladiri hanyalah tentang sekadar membuang-buang waktu luang.
Bukan pula jenis orang dungu yang tanpa dasar keahlian nyata berani mengklaim diri mereka hebat demi mengejar ketenaran semu.
Pada akhirnya otot lengan Donafa tidak pernah benar-benar meledak robek.
Ia telah menempa fisiknya dengan sangat keras demi memastikan hal itu takkan pernah terjadi.
Bagaimanapun juga ia adalah seorang ksatria sejati.
Bahkan ketika setiap tebasan kapaknya berhasil ditangkis kaku, ketetapan hatinya tak pernah goyah sedikit pun.
Ia hanya terus mengayunkan kapaknya lagi dan lagi.
Encrid menyelinap luwes melompati ayunan kapak yang ke-82 lalu menyabetkan pedangnya melintasi pinggang Donafa dalam lintasan busur diagonal yang mematikan!
Bertumpu pada kaki kirinya, ia memelintir lekuk tubuhnya, dan daya hancur masif yang terkondensasi melalui teknik Vortex meledak meluap keluar!
Aliran Will mengalir deras laksana sebongkah batu karang raksasa yang menggelinding menuruni lereng gunung yang terjal, merambat mulus dari pergelangan kakinya, persendian lututnya, pinggangnya, kedua lengannya, telapak tangannya, hingga akhirnya bermuara di bilah pedangnya.
Pendaran Skyglow pada bilah Dawnforged kian menggelap pekat, membentuk wujud sejati dari mata pedang yang termanifestasi dari kehendak tekad murni.
Ini adalah tebasan terhebat dan teragung yang sanggup dilepaskan oleh Encrid di detik ini.
Tenaga di balik ayunan kapak Donafa jelas telah melemah dibanding awal pertempuran, sehingga tak ada gunanya lagi untuk memperpanjang duel ini—ini adalah tebasan penutup yang sempurna.
Selama Encrid sanggup membendung sabetan kapaknya, Donafa akan melarut dan tewas, memuntahkan erangan sakit dan umpatan khasnya.
Itu adalah hal yang telah berulang kali dilakukan oleh Encrid di masa lalu.
Menolak untuk mengakhiri pertarungan dengan cara yang hambar semacam itu, ia memilih untuk menjunjung tinggi tata krama duel ksatria.
Tentu saja tata krama ksatria yang ia maksud adalah membelah tubuh sang lawan menjadi dua bagian yang sempurna.
Kepulan Black Mist berhamburan melayang menjauh di belakang langkahnya.
"Aku... telah kalah."
Itulah kata-kata pengakuan yang meluncur dari mulut Donafa, yang kepalanya kini telah tergeletak menggelinding di atas tanah.
Persis seperti biasanya Donafa mengakui kekalahannya secara jantan, namun hari ini ada nada kepuasan yang teramat kental di balik suaranya.
Kepala itu melarut menjadi butiran-butiran partikel halus lalu lenyap tak berbekas.
Ia tampaknya tak merasa perlu melontarkan kata-kata keluhan lainnya.
Ia tahu pasti bahwa dirinya telah kalah sejak detik pertama duel bermula, dan ia sangat sadar bahwa pertempuran ini sengaja diperpanjang oleh sang lawan, namun sabetan pemungkas tadi—tebasan berat yang sarat akan jiwa ksatria—adalah hal yang paling didambakan oleh seorang Donafa.
Apakah ia benar-benar merasa puas di dalam lubuk jiwanya?
Terlepas dari ketajaman intuisiku, aku mustahil sanggup membaca seluruh isi hatinya secara akurat.
Yah, tak ada lagi cara untuk mendapatkan jawaban itu saat ini.
Sekali lagi aku melangkah maju menerobos pekatnya kegelapan lorong.
"Oho, kelihatannya kau cukup mahir memainkan pedang ya?"
Sang pendekar wanita berpedang tunggal yang menempati peringkat guru ketiga yang baru-baru ini ia temui menerjang maju sembari melontarkan komentar tersebut.
Encrid sengaja membuka ruang gerak demi membiarkan sang lawan melancarkan serangannya dengan leluasa.
Itu adalah sebuah bentuk penghormatan ksatria, mengizinkan wanita itu mengerahkan seluruh potensi terbaik yang ia miliki.
Melalui cara itulah ia kembali memperpanjang durasi pertarungan ini.
Ia memusatkan seluruh konsentrasinya murni pada pertahanan defensif, meminimalkan setiap jengkal pergerakannya dan hanya mengambil tindakan yang mutlak diperlukan.
Gairah tempur sang pendekar wanita yang didorong oleh aliran Will dan teknik pernapasan panjangnya adalah sebuah seni yang sangat mengesankan—namun teknik itu menguras konsumsi energi yang teramat boros.
Encrid mencuri fondasi dasar yang dimiliki wanita itu lalu menumpuk keahlian pribadinya di atasnya.
Hal itu terjadi bukan murni karena ia sengaja merancangnya sejak awal, melainkan bergulir secara alami dengan sendirinya.
Itu murni karena kapasitas keahlian, kedalaman pemahaman, serta keteguhan Will milik Encrid telah melompati kapasitas yang dimiliki sang pendekar wanita.
'Pangkas seluruh pemborosan gerak.'
Menjaga kepalanya tetap dingin dan jernih, bertahan tepat di batas sebelum dirinya mabuk oleh sensasi kemahakuasaan.
Ia telah menguasai setiap jengkal trik beladirinya.
*Tuk, trang, tang.*
Dari waktu ke waktu bilah pedang mereka saling beradu benturan, namun tak ada satu pun dari mereka yang menderita goresan luka sedikit pun.
Encrid membendung serangannya melalui berbagai variasi manuver yang berbeda.
Ia bahkan sesekali menggunakan jubah pusaka sang peri untuk membelokkan arah ayunan pedang sang lawan.
Setiap kali hal itu terjadi, kedua alis sang pendekar wanita terangkat semakin tinggi menahan heran.
Pada akhirnya gelombang antusiasmenya memudar dan karena tak sanggup lagi menahan rasa frustrasinya, ia mengerahkan seluruh kekuatannya, mempertaruhkan segalanya pada satu tebasan pamungkas persis seperti yang dilakukan oleh Donafa tadi.
Tak diragukan lagi itu adalah salah satu jurus rahasia terhebat miliknya, namun Encrid telah menyaksikan jurus itu sebanyak tiga puluh lima kali di masa lalu.
Ia melangkah mundur ke belakang, keluar dari radius jangkauan bilah pedang wanita itu, lalu mendadak melesat menerobos masuk, mengacaukan seluruh perhitungan momentum serangan sang lawan secara total!
'Bahkan di tingkatan seorang Knight sejati sekalipun, esensi dari sebuah pertarungan pada hakikatnya tetaplah sangat sederhana.'
Sebagai seorang ksatria sejati, kau sanggup berlari sebegitu cepatnya hingga meninggalkan bayangan semu di belakangmu, dan mengayunkan pedangmu jauh melampaui batas kecepatan suara.
Menghancurkan bongkahan batu karang gunung atau membelah dinding benteng kastel menjadi hal yang sangat mungkin untuk diwujudkan.
Meski begitu prinsip-prinsip fundamentalnya tidak pernah berubah sedikit pun:
Rampas momentum waktu milik lawanmu, baca ritme tarikan napasnya, melompat menghindar lalu menebas balik, perdaya persepsinya lalu serang kembali, prediksikan jalurnya lalu belah tubuhnya.
Ini adalah sebuah pertempuran yang berakar kokoh pada prinsip-prinsip dasar tersebut.
Jika sang Ferryman menyaksikannya saat ini, entitas itu kemungkinan besar akan bertanya sinis apakah bertahan hidup berlama-lama di dalam hari ini adalah metode pelolosan diri yang dimaksud oleh Encrid—sebegitu panjangnya duel yang ia lakoni.
"Sialan..."
Sang pendekar wanita berpedang tunggal menjemput ajalnya dengan umpatan kekesalan di bibirnya.
Usai seluruh serangannya berhasil ditangkis kaku lalu ditebas tuntas hanya dalam satu sabetan tunggal, siapa pun dipastikan akan merasa sangat frustrasi.
Meski begitu, gurat kepuasan yang kasar tetap tertinggal jelas di wajahnya.
Sudah sangat lama sejak terakhir kali dirinya sanggup mendorong kapasitas fisiknya hingga ke batas maksimalnya di dalam sebuah duel.
Dan duel ini bukan sekadar hiburan semata—lawannya telah membantunya memantik keluar seluruh potensi terbaik yang selama ini terkunci di dalam dirinya.
"Terima kasih banyak."
Mungkin murni karena alasan itulah sang pendekar wanita meninggalkan Encrid dengan untaian kata-kata perpisahan yang sama sekali tak terduga tersebut.
Bahkan sebelum Encrid sempat memberikan sahutannya, sosok wanita itu telah melarut menjadi partikel kabut lalu lenyap dari pandangan.
Melangkahkan kakinya maju kembali, ia tiba di depan pendaran hangat cahaya api unggun—titik tujuan akhir untuk hari ini.
"Kau sudah tiba."
Itu adalah suara Oara.
"Ya."
Encrid dengan luwes mengambil tempat duduk di samping Oara, yang sosoknya bermandikan pendaran cahaya kemerahan dari api unggun.
Hingga ke titik ini jalannya peristiwa tampak persis seperti hari-hari pengulangan lainnya.
Bukan—memperpanjang durasi waktu pertempuran sebanyak ini jelas sangat berbeda dibanding biasanya.
Tentu saja seluruh waktu berharga itu telah ia dedikasikan seutuhnya demi menghormati ketiga sosok Gurunya.
Usai berbincang-bincang santai, tepat saat Oara tampak hendak mengakhiri percakapan mereka, wanita itu membuka suara.
"Haha, di satu sisi aku sangat berharap untuk bisa berjumpa lagi denganmu di tempat ini, namun di sisi lain aku berharap kau tak pernah datang ke sini. Sejujurnya jika Roman yang muncul di hadapanku tadi, aku sudah berencana untuk mengusirnya pulang."
Oara berbicara sembari meletakkan kedua telapak tangannya di atas lututnya.
Tepat saat wanita itu bersiap untuk menegakkan tubuhnya berdiri sembari mengeluarkan rintihan napas pelan, Encrid dengan santai melontarkan sebuah pertanyaan tak terduga.
"Bagaimana kalau kita melakukan sesi latih tanding sebentar, mumpung sudah lama kita tidak saling mengadu pedang?"
Kedua kelopak matanya yang mengerjap polos tampak persis seperti ekspresi linglung khas milik Ragna.
Kenyataannya ia memang sengaja menirukan ekspresi rekannya itu sembari mengingatnya di dalam kepala.
Untuk sesaat raut wajah Oara memperlihatkan secercah rasa keterkejutan yang nyata.
*Apakah hal semacam itu benar-benar boleh dilakukan?*
Wanita itu tampak ragu sejenak, seolah merasa bimbang dan tidak yakin.
Usai mengerjapkan matanya, ia akhirnya menganggukkan kepalanya pelan.
"Boleh juga."
Dan kemudian sang ksatria wanita mencabut bilah pedangnya.
Tak ada jejak keberadaan dari Laughter, senjata pusaka Engraved Weapon kebanggaannya.
Melainkan sebilah pedang panjang biasa yang kini terhunus tenang di dalam genggaman tangannya.











