Eternally Regressing Knight

Bab 803: Demam Latihan

2901 Kata

Bab 803: Demam Latihan

"Itu karena kau jauh lebih hebat dibanding Beelrog."

Kalimat itu diucapkan begitu mendadak hingga tak bisa langsung dipahami seketika.

Pendaran cahaya lentera menerangi bagian atas perahu penyeberangan di atas sungai yang beriak tenang.

"Aku tidak sedang membicarakan hal-hal yang bersifat fisik."

Sang Ferryman menjawab pertanyaan yang dilontarkan setengah bercanda dan setengah demi penegasan.

Nada suaranya terdengar teramat serius.

Karena dia menyampaikan kata-katanya melalui kehendak jiwanya, nada serius itu kemungkinan besar adalah niat aslinya saat ini.

"Sisa-sisa pikiran yang bersemayam di dalam kulit itu adalah hasrat untuk bertarung yang lahir dari penyesalan."

Beelrog telah meninggalkan keterikatan yang tersisa saat dirinya mati.

Keterikatan mendalam itu telah memadat dan meninggalkan cangkang kulit tersebut.

Encrid sesaat teringat pada sebuah peribahasa kuno dari wilayah Barat.

Seekor iblis, bukan harimau, telah mati dan meninggalkan kulitnya.

Di luar pikiran sepele semacam itu, sosok sang Ferryman di hadapannya mulai terfokus jelas.

Seperti apa sosok sang Ferryman hari ini?

Bukan, sebenarnya entitas macam apakah sang Ferryman itu?

'Rumit.'

Sering kali dikatakan bahwa ada orang-orang yang sederhana dan ada pula orang-orang yang rumit.

Tentu saja, jika seseorang menelisik jauh ke dalam relung pikiran terdalam manusia, semua orang pada dasarnya rumit. Seperti halnya wajar bagi makhluk di mana akal budi dan insting hewani hidup berdampingan. Namun bahkan di antara mereka, ada orang-orang yang kerumitannya terpancar jelas di permukaan.

'Karepnya terlalu berlebihan.'

Sang Ferryman memang seperti itu.

'Dia selalu mengatakan hal yang berbeda setiap kali bertemu.'

Sang Ferryman memang selalu begitu.

Bahkan tanpa perlu sengaja merenungkannya, alur pikirannya saling mengunci dengan sendirinya.

Berbagai wajah sang Ferryman yang pernah ia temui dan lihat sejauh ini berkelebat cepat di dalam benaknya.

Sebuah fakta yang pernah ia sadari sebelumnya kini kembali naik ke permukaan.

Rasanya seolah serpihan kapal karam di dasar danau yang dalam saling bertemu satu per satu dan memperlihatkan wujud aslinya yang utuh.

'Sang Ferryman bukanlah sosok tunggal.'

Kutipan terkenal dari sebuah novel yang dulu sempat mengguncang seantero Benua, bahwa manusia bukanlah makhluk tunggal, merujuk pada manusia yang eksis bukan sekadar sebagai individu biologis melainkan di dalam jaringan hubungan sosial.

Namun kesimpulan yang kini muncul dari dalam benak Encrid memiliki makna yang jauh lebih harfiah dari itu.

'Sang Ferryman tidak hanya satu.'

Dia adalah segumpal massa yang tercipta dari pengikatan begitu banyak sisa pikiran dan jiwa masa lalu.

Itulah alasan kenapa dia begitu plin-plan dan kenapa isi pikirannya teramat mustahil untuk ditebak.

Tepat pada saat alur pikirannya akhirnya saling terhubung dan hendak menyadari sesuatu yang lebih jauh di baliknya.

Wusss.

Sang Ferryman mengangkat tangan yang tidak memegang lentera lalu melancarkan tebasan lurus dari atas.

Mata telapak tangannya sebenarnya tidak terlalu mengancam, namun Encrid membaca garis yang dilukiskan serangan itu lalu memiringkan tubuhnya ke samping untuk menghindar.

"Cukup sampai di situ."

Rangkaian alur pikirannya seketika terputus.

Gagasan yang tadinya saling menyambung mendadak terhenti.

Sang Ferryman sangat licik.

Bukan, dia harus meralat kalimat itu.

Sang Ferryman hari ini sangatlah licik.

Gerakan tangannya tadi tampak menyerupai ilmu pedang tingkat tinggi.

Itu mendekati sebuah gerak tipu, namun sudah lebih dari cukup untuk memancing rasa penasarannya.

"Kau tidak perlu tahu lebih banyak dari ini."

Encrid menyetujui kata-kata tersebut.

Sejak awal dia memang tidak mengejar hal ini karena rasa haus ingin tahu.

Itu hanyalah hasil dari alur pikirannya yang mengalir alami mengikuti akumulasi pengalamannya dan tindakan yang diambil sang Ferryman.

"Kemungkinan..."

Kata-kata sang Ferryman seolah meninggalkan gema yang teramat mendalam.

Penyesalan dari emosi yang terkandung di dalam kata itu sungguh teramat pekat, sesuatu yang sanggup ia rasakan bahkan tanpa perlu merenungkannya.

Setelah itu, sosok sang Ferryman perlahan-lahan menjauh.

Lebih tepatnya, Encrid merasakan tubuhnya sendiri mulai melayang naik ke atas.

"Ingatlah. Dan teruslah berjuang. Aku akan menonton perjalananmu dengan senang hati."

Mimpi itu pun pecah.

Aliran sungai hitam lenyap, dan sebuah langit-langit kamar bercat putih yang asing mulai tampak di depan matanya.

Langit-langit itu kemungkinan besar dibuat dengan merekatkan panel-panel tipis menggunakan lem hewani, memakukannya dengan kuat, lalu mencampurkan serbuk kapur ke dalam plester gamping.

Secuil ingatan dari masa-masa saat dirinya bekerja kasar di proyek konstruksi demi mencari beberapa keping Krona di masa lalu dengan jelas memberitahunya di mana posisinya berada saat ini.

Mimpi dan identitas sang Ferryman bisa ia kesampingkan untuk sementara waktu.

Selama dia tahu alasan kenapa zirah iblis itu tidak memberikan efek buruk pada dirinya, maka sisa informasi lainnya adalah hal yang belum perlu ia ketahui saat ini.

Setelah tidur nyenyak dan bangun di pagi hari, Encrid mengisi perutnya dengan daging bebek rebus yang empuk serta telur bebek panggang yang gurih, lalu melakukan pemanasan ringan di lapangan latihan kerajaan.

Orang-orang yang biasanya giat berlatih di sana melangkah mendekatinya, menganggukkan kepala memberi salam atau melakukan penghormatan militer resmi.

Encrid adalah seorang Knight Commander yang diakui secara sah oleh keluarga kerajaan.

Statusnya sendiri sudah sangat bergengsi.

Terlebih lagi, reputasi kemasyhurannya jauh lebih mencengangkan lagi.

Dan jika dipandang dari dekat, kenapa wajah pria ini begitu tampan rupawan?

Belum lagi, bukankah kali ini dia melangkah masuk ke dalam istana kerajaan sembari menyandang julukan 'Monster Slaughterer'?

Semua orang mengamatinya dari jarak tertentu dengan penuh rasa segan.

Encrid sendiri sama sekali tidak memedulikan tatapan-tatapan orang di sekitarnya.

Sikapnya ini sudah mendarah daging sejak dulu kala.

Hanya saja bedanya, dulu orang-orang mencibir bahwa pria tanpa keahlian dan bakat ini juga tidak tahu diri.

Dan sekarang?

Yang tersisa hanyalah rasa hormat dan takzim.

Tak ada seorang pun yang berani menantangnya.

Tak ada seorang pun yang memelototinya dengan dengki atau iri hati.

Dia kini telah meraih reputasi sebesar itu.

Tentu saja, Encrid pun tidak memusingkan hal tersebut.

Bahkan andai ada orang-orang yang merasa iri padanya, dia tidak akan sudi melayangkan pandangan walau hanya sekali.

Dia hanya fokus pada apa yang harus ia kerjakan.

Dengan kata lain, dia tetaplah sosok yang sama seperti biasanya.

Luagarne telah berulang kali menegaskan bahwa bakat terbesar yang dimiliki Encrid adalah pengulangannya yang tanpa henti.

Ketekunan luar biasa itu, untuk secara tenang dan konsisten melakukan apa yang perlu dikerjakan di dalam situasi apa pun, adalah senjata terhebatnya, begitulah penuturan sang manusia katak.

Saat kemampuannya tiba-tiba melonjak pesat selagi mengulang hari, Luagarne sempat merasa heran namun turut mengakui bahwa hal itu adalah buah manis dari pengulangan tanpa henti setiap harinya.

Ketajaman wawasan seekor katak memang tidak boleh diremehkan.

'Kedua lengan belum boleh dipaksakan bekerja terlalu keras.'

Encrid mengulang gerakan mengencangkan dan merilekskan otot-ototnya, memusatkan latihan pada tubuh bagian bawah.

Di tengah latihan itu, sang manusia katak melangkah mendekat, memutar-mutar bola matanya yang besar, lalu berujar mendadak.

"Mari kita rapikan semuanya."

Tanpa sapaan basa-basi, tanpa menanyakan kabar kondisi tubuhnya.

Mengenai kondisi fisiknya, Audin dan Theresa sudah datang memeriksanya sejak pagi-pagi buta.

Encrid kini sudah mulai agak terbiasa dengan spesies yang disebut manusia katak ini.

Lebih tepatnya, dia sudah terbiasa dengan sosok katak bernama Luagarne.

Bahkan tanpa perlu menggembungkan pipinya, cara bola matanya berputar liar seperti itu menandakan bahwa rasa antusiasmenya tengah membubung begitu tinggi sampai-sampai dia ingin menancapkan belati ke kaki lawan bicaranya hanya demi menahan mereka di tempat dan mengajaknya mengobrol.

Keinginan dan hasratnya terpancar jauh lebih gamblang dibanding sebelumnya.

Dan Encrid merasa hal itu bukanlah sesuatu yang buruk.

"Baiklah."

Dia menganggukkan kepalanya dengan santai.

Mendengar ajakannya untuk 'merapikan semuanya,' Encrid merangkum seluruh cerita yang sempat mereka perbincangkan di sepanjang perjalanan menuju ke Naurillia menjadi satu alur pemikiran tunggal.

Itu adalah kisah-kisah yang sempat mereka celotehkan selagi melangkah kemari.

Luagarne menyarankan agar dia memadatkan, menata, dan menyelaraskan seluruh proses pemahaman itu di dalam dirinya sendiri.

Itu adalah sesuatu yang sempat ia renungkan sembari berjalan kaki, namun dia pun telah beristirahat dengan sangat baik selama sehari penuh, membersihkan diri dengan air hangat, dan makan dengan kenyang.

Sekarang adalah waktu terbaik untuk menyelami kedalaman batinnya dan memantapkan sebuah konsep.

'Sang Minotaur.'

'Gerombolan monster dan binatang buas tingkat Colony-class.'

'Petir hitam dan sang penyihir, Thorn Briar Fortress beserta sang Lord penguasanya.'

'Labirin Beelrog, ksatria wanita Oara yang terperangkap olehnya, serta sosok Beelrog itu sendiri.'

Bahkan andai dipecah ke dalam kategori-kategori garis besar saja, dia telah melewati serangkaian peristiwa besar yang luar biasa banyak.

Dan hal-hal berharga yang berhasil ia serap di sepanjang proses tersebut sama sekali tidak sedikit.

Secara khusus, seni pedang yang mencapai puncaknya di bawah nama 'Extinguishing Embers' adalah buah dari perkembangan luar biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dan sebelum itu, bagaimana dengan Induless, transformasi dari sifat dasar Will miliknya?

'Sosok yang mengayunkan pedang adalah seorang manusia sejati.'

Di atas semua pemahaman ini, ada pula perubahan mendasar dalam caranya mengayunkan bilah pedang.

Konsep-konsep ilmu pedang yang dulunya terbagi menjadi Statis, Terpusat, Melingkar, Cepat, dan Mengalir kini kembali berbaur menyatu, bertemu pada satu titik fokus utama di dalam tubuhnya.

'Mengayunkan pedang yang dibutuhkan di saat yang tepat.'

Semua hal itu harus ditopang penuh oleh kepekaan inderanya.

Dia mengesampingkan ingatan tentang pengulangan hari lalu menata dan merenungkan kembali apa yang telah ia alami secara nyata.

Itu adalah sebuah sesi evaluasi mendalam.

Luagarne membantunya dari samping dengan setia.

"Perlihatkan padaku."

Mendengar perintahnya untuk mencoba menciptakan tiga lapis dinding tekanan demi menundukkan lawan, Encrid seketika menggerakkan Will miliknya.

'Manifestasi dari tekanan.'

Lebih tepatnya, itu adalah mengikat lawan hanya dengan mengandalkan hawa keberadaan semata.

Sama seperti seekor tikus yang tak berdaya di hadapan seekor kucing pemangsa, itu adalah meremukkan semangat juang lawan murni menggunakan niat membunuh.

Makhluk-makhluk berakal budi, termasuk manusia, mendalami konsep ini jauh lebih dalam lagi.

Mereka melangkah melampaui sekadar menggunakan niat membunuh dan turut memanfaatkan alam bawah sadar lawannya.

Melalui gerakan-gerakan halus seperti menggeser posisi telapak kaki atau membiarkan kedua tangan menjuntai santai, sang musuh akan melihat ilusi bahwa leher mereka telah terpenggal putus.

Mereka melihat ilusi bahwa tubuh mereka telah tertebas.

Tiga lapis dinding kastel penindas itu tidak jauh dari prinsip dasar tersebut.

Itu adalah memperlihatkan sebuah dinding kokoh dalam setiap gestur dan langkah kakinya yang tak akan mudah ditembus oleh siapa pun.

"...Luar biasa hebat."

Luagarne terus-menerus berdecak kagum.

Selagi mereka berdua asyik berlatih, Theresa yang telah pulih cukup baik turut melangkah bergabung.

"Aku juga belajar sangat banyak kali ini."

Menyusul setelahnya, Ropord dan Fel.

Setelah mereka, Rem duduk santai di satu sisi sembari menonton, dan Jaxon yang menampakkan diri entah sejak kapan dengan pose khasnya, bersandar di salah satu pilar lorong lapangan latihan dengan kedua tangan bersedekap di dada.

Sepasang matanya yang sedikit terbuka terarah lurus menatap Encrid, dan hanya dengan memandangnya saja, pria itu tampak bagai sosok yang keluar dari lukisan mahakarya.

Sangat wajar jika beberapa pelayan wanita istana tampak berbisik-bisik kagum sembari mencuri pandang ke arahnya.

Ragna, di sudut lain, tengah mencoba sesuatu, mengayunkan Sunrise yang masih tersarung rapat di dalam sarung pedangnya.

Sulit untuk menebak apa yang tengah ia latih.

Meskipun mereka semua telah diperintahkan untuk beristirahat, entah bagaimana mereka semua malah berkumpul lengkap di tempat ini.

Marcus yang kebetulan melintas melihat pemandangan itu dan langsung memerintahkan para pelayan untuk menyiapkan meja makan tepat di area lapangan latihan tersebut.

Itu karena satu pandangan saja sudah cukup baginya untuk menyadari bahwa orang-orang gila ini tidak akan sudi berhenti berlatih bahkan saat jam makan malam tiba.

Di tengah keramaian itu, Encrid sempat melihat kapten Pengawal Kerajaan yang ia kenal melintas sekilas.

Pria itu berujar bahwa dirinya memiliki banyak urusan yang harus diselesaikan, hanya memberikan anggukan hormat, lalu bergegas pergi.

Mereka menyantap makan malam di tempat itu juga dan terus melanjutkan latihan hingga matahari terbenam, dengan setiap orang memperagakan gerakan mereka masing-masing dan saling berbagi wawasan.

Sesuatu yang terasa alami bagi satu orang bisa menjadi hal yang teramat istimewa bagi orang lain.

Bahkan di dalam lingkungan keluarga kerajaan sekalipun, para ksatria akan saling berbagi ilmu demi meningkatkan kemampuan satu sama lain.

Namun hal itu hanya berlaku sampai pada batasan tertentu saja.

Mereka tidak akan sudi membocorkan detail-detail rahasia atau inti terdalam dari teknik andalan mereka.

Tetapi orang-orang ini sama sekali tidak seperti itu.

Mereka membeberkan dan membagikan segala hal yang mereka miliki secara terbuka tanpa pamrih.

Bagi mereka yang menyaksikan dari luar, seluruh pemandangan ini tampak teramat sangat istimewa.

Meskipun bagi kelompok ksatria gila ini, hal tersebut hanyalah rutinitas sehari-hari belaka.

Dan begitulah, salah seorang prajurit istana yang sedari tadi menonton memberanikan dirinya melangkah maju.

"Bolehkah hamba ikut bergabung di samping?"

Tingkatan kemampuannya jelas tidak sebanding.

Namun kelompok ksatria gila ini tidak pernah mencemooh orang lain hanya karena alasan semacam itu.

"Kau pikir kau bisa memahaminya cuma dengan menonton saja?"

Bukan, sebenarnya ada satu orang yang mencemooh dengan kata-kata pedas.

Sosok itu adalah Rem.

Namun dia tidak menolak kehadiran prajurit tersebut.

Karena sudah terlanjur bicara, dia bahkan memberikan beberapa petunjuk perbaikan pada kuda-kuda sang prajurit.

Dengan kata lain, karena prajurit itu tidak akan paham hanya dengan menonton, Rem turut menjelaskannya.

Tentu saja, penjelasannya sama sekali tidak bisa dibilang ramah, namun Rem pun telah belajar banyak dari pengalamannya mengajari Encrid selama ini, sehingga dia sanggup memainkan peran sebagai seorang instruktur yang cukup berguna.

Terlebih lagi, jurang perbedaan kemampuan antara para prajurit di lapangan latihan kerajaan ini dan para anggota ksatria gila sudah teramat sangat jauh.

Memberikan sedikit koreksi pada kuda-kuda mereka bukanlah hal yang sulit.

"Kenapa kau melebarkan kedua kakimu selebar itu?"

Tanya Rem dengan nada ketus seolah meludahkan kata-katanya.

Prajurit dari Pengawal Kerajaan itu merasa ciut menghadapi sosok orang barbar ini, namun tetap memaksakan diri menjawab.

Seseorang tak akan pernah bisa menjadi anggota Pengawal Kerajaan tanpa memiliki nyali sebesar ini.

"Begitulah cara hamba diajarkan selama ini."

"Katakan padaku apa yang dipahami oleh kepalamu, bukan apa yang diajarkan padamu."

Itu adalah prinsip dasar yang kini telah banyak dilupakan orang, namun jika kau memahami alasannya satu per satu, dasar-dasar itu akan terlihat sangat berbeda.

Metode pengajaran yang paling cocok untuk mendongkrak kemampuan seseorang dalam waktu singkat adalah tepat hal ini: mengubah sudut pandang berpikir mereka.

Itu sama seperti memberitahu seseorang yang tengah tersesat berjalan ke utara dan selatan padahal seharusnya menuju ke timur, bahwa arah timur sebenarnya berada di sebelah sini.

Itu adalah proses menentukan arah dan membuka sebuah jalan baru.

Tentu saja, mereka sendiri yang harus melangkah menggunakan kedua kaki mereka masing-masing.

Rem pun mendapati bahwa hal ini ternyata cukup menyenangkan.

Bersama pasukan penyerangnya dulu di Border Guard, jika bawahannya tidak sanggup melakukan hal semacam ini, dia akan memulainya dengan menghajar mereka hingga babak belur, namun membimbing dengan kata-kata memiliki keasyikan tersendiri yang berbeda.

"Hei, kau sedang berdoa agar musuh membunuhmu, ya? Melonggarkan genggamanmu pada gagang pedang? Kau pikir kau bisa menyambut serangan musuh dengan mulus memakai cengkeraman lembek seperti itu? Hah, coba saja kalau berani. Tapi kalau kau sampai gagal menahannya, kubelah kepalamu itu sampai pecah, paham?!"

Menyusul julukan 'Noble Killer', daftar julukan Rem kini bertambah satu lagi: 'Skull Smasher'.

Meskipun dia mengaku membimbing dengan kata-kata, tingkatannya sama sekali tidak santai.

Meski begitu, para prajurit istana memperlihatkan keberanian mereka dan tetap bertahan menelan seluruh cercaan itu.

Ini adalah sesuatu yang sungguh luar biasa.

Lebih tepatnya, metode pengajaran Rem-lah yang teramat luar biasa.

Seandainya anggota pasukan penyerang Rem melihat pemandangan ini, mereka pasti bakal yakin bahwa kapten mereka tengah dirasuki oleh roh jahat dan bakal menerjangnya menggunakan kapak karena kebaikan hatinya yang tak lazim ini.

Hanya dalam kurun waktu satu hari sejak kelompok ksatria gila itu tiba, sebuah demam latihan dahsyat berhembus melanda seantero lapangan latihan kerajaan.

Dan latihan gila itu terus berlanjut hingga rembulan naik tinggi ke angkasa.

Tak ada seorang pun yang berhenti atau beristirahat.

Namun tak ada paksaan apa pun di sana.

Para prajurit pergi menjalankan tugas giliran jaga mereka atas kesadaran sendiri, beristirahat saat lelah atas kehendak sendiri, dan kembali bergabung dalam latihan atas kemauan mereka sendiri.

Hal yang sama pun berlaku bagi kelompok ksatria gila.

Mereka yang ingin beristirahat cukup pergi beristirahat.

"Membuat keributan besar begini begitu kalian tiba di sini, ya."

Di salah satu sudut lapangan latihan tersebut, seorang pria berambut pirang melangkah masuk.

Dia mengenakan kemeja tipis berwarna merah menyala dan celana panjang berwarna nila.

Meskipun bahan kainnya berkualitas sangat tinggi, pakaian itu tak lebih dari sekadar pakaian santai sehari-hari.

Siapa yang bakal mengira sosok yang muncul dengan setelan sesantai itu adalah seorang raja agung?

Pertemuan resmi kenegaraan sebenarnya baru dijadwalkan dalam tiga hari ke depan, namun sang Raja Naurillia telah melangkah mendatangi lapangan latihan kerajaan malam ini.

Sudah cukup mencengangkan mendengar mereka membuat keributan besar di tempat ini, dan dia sengaja datang karena ingin melihat wajah sahabatnya yang baru saja tiba.

Di sisi lain, malam ini pun adalah malam di mana tumpukan rasa lelah tengah membebani pundaknya.

Kepalanya telah dihantam sakit kepala beruntun selama beberapa hari terakhir.

Mayoritas dari tumpukan pekerjaan itu memang dimulai oleh dirinya sendiri, namun hal itu tidak membuat beban kerja kerasnya menjadi lebih ringan.

"Hei."

Krang memanggil sosok Encrid.

Waktu sudah larut malam.

Sinar rembulan menyinari tanah lapang, dan di sekitar dudukan obor, serangga-serangga malam mengeluarkan bunyi gemertak terbakar saat menyentuh lidah api.

Itu adalah malam di mana banyak ngengat yang melihat kobaran api melesat menuju pada kematian mereka sendiri.

"Yo."

Encrid menyeka keringat di dahinya lalu mengangkat sebelah tangannya menyambut sapaan sang raja.

Sang raja memegang sebotol minuman keras yang baru saja ia ambil dari gudang penyimpanan rahasia kerajaan beberapa saat lalu.

"Mau minum bersamaku?"

Itu adalah minuman keras langka yang tak akan pernah dikeluarkan kecuali ada perayaan kemenangan besar yang luar biasa agung, salah satu dari hanya tiga botol tersisa yang tersimpan di dalam gudang kerajaan.

Minuman keras yang dijuluki sebagai Founding Liquor.

Sebuah julukan yang disematkan karena minuman itu diracik saat kerajaan ini pertama kali didirikan dan kini hanya menyisakan beberapa botol saja, dan minuman itu bahkan memiliki legenda kuno bahwa Sun Tree, sang dewa pelindung keluarga kerajaan, yang telah mewariskan metode peracikannya secara langsung.

"Boleh juga."

Encrid sekali lagi menyahut sederhana.

Dia sama sekali tidak terkejut melihat kemunculan mendadak sang raja di hadapannya.

Tak ada alasan baginya untuk merasa terkejut menyambut kedatangan seorang sahabat.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.