Eternally Regressing Knight

Bab 805: Timbangan Selalu Adil

3196 Kata

Bab 805: Timbangan Selalu Adil

"Oh."

Marquis Baisar mengulurkan sebelah tangannya yang gemetar.

Kondisinya saat ini begitu lemah hingga sekadar bangkit duduk sendiri pun merupakan sebuah perjuangan yang teramat berat.

Kepala pelayan yang sedari tadi berdiri di samping Kin melangkah mendekat, menggenggam tangannya, lalu membantunya bangkit duduk. Sekadar duduk tegak saja sudah membuat napas sang Marquis terengah-engah semakin berat.

"Uhuk! Khelek!"

Saat sang Marquis terbatuk hebat setelah duduk, sang kepala pelayan buru-buru menyodorkan sebuah baskom logam lebar ke dekat mulutnya, dan sang Marquis memuntahkan dahak bercampur cairan kental dengan batuk yang mengguncang dada.

Cairan hitam dan kuning pekat bercampur dengan semburat warna merah darah.

Setelah batuknya mereda, Kin dengan lembut menyeka sisa darah di sudut bibir sang Marquis.

"Hah..."

Sang Marquis yang akhirnya berhasil mengatur napasnya kembali, menghembuskan napas panjang.

Meskipun posisinya tidak berdiri tepat di samping ranjang, Encrid dapat mengendus aroma pekat kematian yang menguar dari embusan napas sang Marquis.

Bau itu terasa apak, kering, dan teramat tebal.

"Aku sudah menunggumu."

"Kenapa harus saya?"

Encrid tidak membuang-buang waktu dengan basa-basi.

Membuang waktu dengan obrolan remeh dalam percakapan ini hanya akan menjadi bentuk ketidaksopanan kepada sang Marquis.

"Kuyakin kau pasti sudah tahu tujuanku memanggilmu kemari."

Bagi seorang pria yang tengah sekarat di ambang ajal, tatapan mata sang Marquis terlihat luar biasa tajam dan tegak lurus.

Sorot matanya berada pada tingkatan yang sama sekali berbeda dibanding tatapan mata orang tua pikun yang pernah dilihat Encrid sebelumnya, yang bahkan tidak sanggup mengenali wajah istrinya sendiri.

Seorang raksasa dari kalangan wangsa bangsawan agung yang pernah mengguncang sebuah era—itulah sosok sejati Marquis Baisar.

Dia adalah pria yang melindungi keluarganya hingga akhir, terkadang bertindak membantu sang raja, dan terkadang berdiri berseberangan melawan keluarga kerajaan.

Bibir sang Marquis terbuka, memikul seluruh bobot berat dari perjalanan hidupnya yang panjang.

Kekuatan di balik nada suaranya seakan mampu mengusir dewa kematian yang tengah duduk bermain di samping ranjangnya.

"Tolong nikahilah Kin. Ini adalah permohonan terakhirku sebelum aku mati. Akan jauh lebih membahagiakan lagi kalau kau sudi memberikanku seorang cucu yang manis."

Untuk sesaat, Encrid nyaris terperdaya seutuhnya.

Dia bahkan sempat curiga apakah pria tua ini mendadak menjadi pikun, namun kenyataannya jelas bukan seperti itu.

Baru beberapa saat lalu dia terbatuk-batuk hebat seolah hendak mati dan memuntahkan dahak berlumur darah, namun kini sudut bibirnya terangkat membentuk seulas senyuman geli.

"Aku cuma bercanda."

Melihat Encrid yang sempat gelagapan akibat hantaman tak terduga itu, sang Marquis tertawa terbahak-bahak.

Hanya dengan mendengar suara tawanya yang lepas, seseorang pasti bertanya-tanya apakah pria ini benar-benar seorang kakek tua yang tengah sekarat.

Seandainya tipu daya sang Marquis barusan adalah sebuah gaya pedang, maka itu adalah puncak tertinggi dari seni pedang tipu muslihat.

Bukankah hal semacam itu kerap diajarkan di dalam ilmu pedang tentara bayaran beraliran Valen-style?

Bahwa semangat tipu daya, di mana seseorang bahkan berani mempertaruhkan nyawanya sendiri, adalah puncak tertinggi dari kelihaian muslihat.

Itu adalah merangsek maju dengan hawa keberadaan yang membuat sebuah kebohongan tampak bagai kebenaran mutlak.

Tepat seperti apa yang baru saja dilakukan oleh pria tua ini.

Itu memang merupakan sebuah hantaman telak yang sama sekali tak terduga.

Terlebih lagi karena Encrid merasa dirinya sudah kebal terhadap lelucon-lelucon semacam itu selama ini.

Meskipun hanya berlangsung dalam waktu yang teramat singkat, Encrid berhasil menemukan titik kelemahan di dalam dirinya sendiri dari situasi barusan.

'Kalau Jaxon melihat kejadian tadi, dia pasti bakal mengomeliku habis-habisan.'

Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa orang yang paling yakin dirinya tak akan pernah lengah adalah orang yang paling mudah dibunuh?

Apakah dirinya telah menjadi terlalu jumawa akibat serangkaian peristiwa besar baru-baru ini?

Bukan berarti dia merasa serba bisa seperti dewa, namun apakah dia sempat merasa percaya diri bahwa dirinya tak akan lagi terdesak oleh sebagian besar hal di dunia ini?

Meski demikian, seorang manusia tidak akan pernah bisa memprediksi segalanya.

Prinsip itu berlaku sama persis, baik di dalam medan pertempuran maupun di dalam kehidupan normal sehari-hari.

Sebatang duri yang menyelinap menembus celah wawasan seseorang akan selalu sanggup menghunjam jantungnya kapan saja.

'Kalau aku memang tertipu, maka aku harus mengakui bahwa diriku tertipu.'

Dengan kata lain, terkadang seseorang memang harus mengakui bahwa dirinya bisa saja diperdaya.

Seseorang harus menyadari bahwa dirinya bisa terkena hantaman yang tak terduga.

Bahkan di saat-saat genting semacam itu, kau hanya perlu memberikan respons yang tepat.

Bahkan jika sempat merasa gelagapan atau terkejut, kau hanya perlu segera bereaksi.

'Hal yang dibutuhkan adalah latihan keras.'

Para ksatria adalah entitas yang dijuluki sebagai bencana berjalan.

Melalui tempaan latihan semacam inilah, mereka secara bertahap melangkah maju dari sosok biasa menjadi sosok yang luar biasa.

Dan prinsip itu tetap berlaku sama bahkan setelah seseorang resmi menjadi seorang ksatria.

'Agar tidak berakhir menjadi sosok yang setengah-setengah, seseorang tidak boleh hanya pandai mengayunkan bilah pedang belaka.'

Di satu sisi, itu hanyalah sebuah lelucon kecil yang ringan, namun bagi Encrid hal tersebut mendatangkan sebuah pencerahan yang sangat berharga.

Pencerahan ini kemungkinan besar berkat tumpukan pengalaman yang ia serap dari pertempuran di Thorn Briar Fortress dan duel hidup-mati melawan Beelrog.

Percakapannya dengan Luagarne pun pasti memberikan pengaruh yang signifikan.

Konsep seni bela diri bertarung kembali mengapung di benak Encrid.

Ini juga merupakan perluasan dari realisasi pemahamannya sebelumnya.

Statis, Terpusat, Melingkar, Cepat, Mengalir—pada akhirnya sosok yang menggunakan semua teknik itu adalah seorang manusia sejati.

"Kau memulihkan ketenanganmu dengan sangat cepat."

Sang Marquis berujar kagum.

Proses berpikir Encrid teramat berbeda dari manusia biasa.

Rangkaian alur pemikiran yang tampak panjang itu telah tuntas hanya dalam sekejap kedipan mata.

"Saya tadi sempat terkejut."

Mendengar jawaban jujur dari Encrid, sang Marquis menganggukkan kepalanya paham.

Itu bukanlah lelucon yang dilontarkan hanya demi mencairkan suasana belaka.

Sang Marquis sengaja ingin melihat perubahan pada diri pria bernama Encrid ini.

Dia ingin memastikan apakah pria ini masih sama seperti dulu, terus melangkah di jalannya sendiri tanpa memusingkan kekuasaan atau hal-hal duniawi lainnya, ataukah dirinya telah berubah menjadi serakah.

Dia menguji hal tersebut dengan mengguncang emosi lawannya secara mendadak.

Di dalam hati, Encrid merasa sangat kagum.

Seperti kata pepatah, sebilah pedang yang usang pun masih sanggup memiliki mata pedang yang teramat tajam.

Pria tua ini bukanlah seorang ksatria, dan di dalam pertarungan fisik Encrid sanggup membunuhnya hanya dengan menjentikkan satu jari saja, namun kekuatan sejati dari seorang pria yang telah menjalani seluruh hidupnya sebagai bangsawan penguasa takhta kekuasaan sama sekali tidak boleh diremehkan.

Pria tua itu langsung menyambar momen saat Encrid sempat gelagapan, dan kemudian menyadari saat pria itu merebut kembali ketenangannya.

Dan kemudian sang Marquis kembali membuka suaranya.

"Jangan pernah lupa bahwa pergerakan mencurigakan yang tengah terjadi di ibu kota saat ini adalah ulah dari pihak selatan, dan bahwa mereka selalu bersiap-siap untuk mengobarkan perang. Aku sudah menyampaikannya kepada Yang Mulia Raja, namun aku merasa bahwa kau, Sir Encrid, akan jauh lebih kecil kemungkinannya untuk melupakan peringatanku ini."

Sikapnya seolah telah memperkirakan bahwa Encrid akan bertanya kenapa dirinya diberitahu perihal persiapan perang semacam itu.

Apakah ini sebuah wawasan yang lahir dari perpaduan kecerdasan akal dan persepsi tajam, ataukah sebuah intuisi murni yang terbangun dari tumpukan pengalaman hidup puluhan tahun?

Sang Marquis memimpin jalannya percakapan dengan memberikan jawaban yang memangkas proses tanya-jawab biasa.

Arus bawah dari pergerakan berbahaya di ibu kota adalah ulah pihak selatan, dan di wilayah selatan terbentang sebuah imperium besar bernama Lihin-Stetten.

Lihin-Stetten adalah sebuah negara adidaya yang berbatasan langsung dengan Demon Realm, yang telah bertarung melawan monster dan binatang buas dalam jumlah yang jauh lebih mengerikan hingga tak bisa dibandingkan dengan wilayah Benua tengah.

Dan Encrid kini tak lagi mencium aroma pekat yang sempat ia endus dari sang Marquis beberapa saat lalu.

Aroma kematian yang tebal dan apak itu telah sirna, dan sang Marquis berbicara dengan sorot mata menyala yang mengingatkannya pada masa-masa mudanya yang perkasa.

"Jangan sampai kalian kalah oleh bajingan-bajingan selatan itu. Kurasa harga diriku bakal terluka parah kalau hal itu sampai terjadi."

Pria yang dulunya pernah tersohor sebagai pilar agung keluarga kerajaan berbicara dengan lantang.

Tampaknya kisah yang ingin ia ceritakan masih sangat panjang dan mendalam, namun sang Marquis memilih untuk berhenti sampai di situ.

"Anda bisa menontonnya secara langsung dari alam baka nanti."

Itu adalah sebuah serangan balik atas lelucon yang dilemparkan sang Marquis sebelumnya.

Mendengar celetukan itu, Kin menatap Encrid dengan ekspresi terperanjat kaget.

Apakah lelucon sekasar itu pantas dilontarkan kepada seorang pria tua yang tengah sekarat?

Apakah bajingan ini benar-benar seorang manusia berhati nurani?

Sorot matanya seolah bertanya-tanya apakah sosok yang datang ini bukanlah Rem yang tengah memakai topeng wajah Encrid.

Berbanding terbalik dengan keterkejutan Kin, sang Marquis justru tertawa terbahak-bahak sekali lagi.

"Kemampuanku dalam menilai watak seseorang memang tiada duanya."

Lalu, dia membubarkan mereka semua dengan kibasan tangannya yang lemah.

"Kalian boleh pergi."

Encrid datang kemari karena sang Marquis memang ingin bertemu dengannya sebelum meninggal dunia.

Kini, tak ada lagi hal yang perlu disampaikan.

Hal itu seharusnya sudah cukup, namun bibir Encrid kembali terbuka sebelum dirinya melangkah membalikkan badan.

"Apakah ini sebuah dendam masa lalu? Ataukah sebuah perlindungan?"

Apakah kepekaan seorang ksatria yang begitu tajam, ataukah intuisi alami dari pria bernama Encrid ini yang memang teramat luar biasa?

Sang Marquis mengira dirinya sama sekali tidak membocorkan isi hatinya, namun Encrid telah membaca sesuatu di balik kata-katanya dan melontarkan pertanyaan itu.

Sang Marquis memilih kata-katanya dengan saksama.

"Katakanlah ini adalah perpaduan dari keduanya. Aku adalah seorang pria yang sangat serakah. Aku juga ingin menambahkan bahwa aku masih memiliki banyak putri yang cantik jelita selain Kin."

Apakah Marquis Baisar memang selalu sefasih ini dalam bersilat lidah?

Kalau dipikir-pikir kembali, Marcus pun bukanlah tipe pria yang kekurangan kata-kata saat berbicara.

Seperti kata pepatah, seekor harimau tidak akan pernah melahirkan seekor anjing, jadi sikap ini pastilah kepribadian asli sang Marquis.

Atau mungkin begitulah sosok dirinya di masa-masa mudanya yang penuh gelora semangat.

Tetesan waktu sanggup melubangi batu karang dan mengubah watak manusia.

Seiring berlalunya tahun demi tahun dan semakin banyaknya hal yang harus ia lindungi, sang Marquis pasti menjadi sosok yang jauh lebih berhati-hati, tak lagi sanggup berbicara secara sembarangan.

Namun demikian, di momen-momen krusial, dia pasti telah berhasil mencapai posisinya saat ini berkat pilihan-pilihan berani yang ia ambil tanpa ragu.

Seperti apakah sosok sang Marquis setelah menanggalkan seluruh kepura-puraan politik semacam itu?

Teramat sulit untuk mendefinisikannya dalam satu kata saja.

Encrid merasakan gejolak emosi yang aneh saat melangkah melintasi pintu keluar ruangan.

Sang Marquis memandang ke arah jendela luar dengan raut wajah yang tenang tanpa beban.

Secara harfiah ini memang murni keserakahan belaka, namun memandangi sosok Encrid mengingatkannya pada seseorang yang telah meninggal dunia berpuluh-puluh tahun yang lalu.

"Aku akan melindunginya."

Itu adalah kalimat favorit yang selalu diucapkan oleh mendiang sahabatnya itu.

Pria itu dulunya adalah bilah pedang terkuat yang menjaga wangsa Marquis Baisar, sekaligus sahabat karib tempat dirinya menghabiskan masa kanak-kanak bersama.

Sosok yang terlahir dengan bakat pedang bawaan yang luar biasa menakjubkan.

Kepribadian mereka berbeda, penampilan fisik mereka pun berbeda, namun kenapa sosok Encrid begitu mengingatkannya pada sahabat lamanya itu?

'Pria itu tidak pernah menyerah.'

Sahabatnya dulu pun selalu bersikap demikian.

Apakah wangsa sang Marquis tidak pernah diterpa badai prahara sebelumnya?

Tentu saja pernah.

Bahkan teramat sangat banyak.

Satu hembusan angin kencang pernah mengguncang kerajaan bisnis keluarganya, dan gelombang dahsyat pernah menelan banyak orang terkasihnya.

Di tengah pusaran badai prahara itu, sahabatnya melangkah maju ke garis depan hanya berbekal sebilah pedang di tangan.

Itu adalah peristiwa kelam yang terjadi lebih dari 50 tahun yang lalu.

Garis pertahanan depan melawan pihak selatan sempat terdesak mundur, dan keluarga kerajaan bahkan memobilisasi seluruh pasukan pribadi para bangsawan untuk terjun berperang.

Sahabatnya gugur dalam pertempuran berdarah tersebut.

Seandainya itu adalah duel pertempuran yang adil dan terhormat, kematian itu tidak akan terasa begitu menyesakkan dada.

"Ini adalah sebuah duel kehormatan."

Ujar sang pedang pelindung keluarga Baisar kala itu.

"Bukan, ini adalah sebuah perang."

Sahut sang musuh dingin.

Kau bahkan tidak bisa menyebut tindakan itu sebagai tindakan pengecut.

Kekalahan nyata itu terjadi akibat kalahnya keahlian bertarung, kalahnya kekuatan nasional kerajaan, dan minimnya bibit-bibit berbakat.

Itu adalah sebuah era kelam di mana segala hal serba kekurangan.

Seandainya bukan karena keberadaan seorang genius luar biasa bernama Cypress, Kerajaan Naurillia pasti sudah runtuh lebur saat itu juga.

Kerusakan parah yang diderita kala itu membuat Kerajaan Naurillia perlahan-lahan layu mengering, dan seiring berjalannya waktu, kerajaan Aspen mulai bernafsu ingin mencaploknya.

Tahun-tahun yang berlalu memang teramat kejam, namun...

'Timbangan takdir selalu adil.'

Di ujung tahun-tahun yang kejam dan melelahkan itu, dewi keberuntungan akhirnya meletakkan sebuah beban penyeimbang yang teramat berat di satu sisi timbangan.

Setelah kini berhadapan langsung dengan beban penyeimbang tersebut, sang Marquis berbaring kembali dengan raut wajah yang dipenuhi rasa puas.

Hari ini dia akan sanggup tidur dengan sangat lelap.

Dia telah menumpahkan bagian dari isi hatinya yang terdalam yang tak pernah sanggup ia ceritakan kepada siapa pun.

Sang Marquis membaringkan tubuhnya, hatinya merasa teramat damai.

Dia merilekskan seluruh ketegangan di raganya.

"Ayah..."

Kin memanggilnya lirih.

"Pergilah ke Border Guard. Dan jangan pernah kembali lagi kemari."

Ada pepatah yang mengatakan bahwa dari sepuluh jari tangan yang kau gigit, semuanya akan terasa sakit, namun ada satu jari yang rasa sakitnya jauh lebih menyayat dibanding yang lain.

Dulu dia mengadopsi anak yang ditinggalkan oleh mendiang istri sahabatnya lalu mendekapnya masuk ke dalam kehangatan keluarga besar Baisar.

Meskipun dia memperlakukan gadis itu sama persis seperti anak kandungnya sendiri, hal itu pada hakikatnya mungkin telah menjadi sebuah luka tersendiri di hati sang anak.

Bagaimana mungkin sang Marquis tidak menyadarinya?

Dia adalah seorang pria yang telah menua dengan penuh kebijaksanaan.

Dia mengetahui segalanya, namun dia pun tahu betul bahwa hanya itulah hal terbaik yang sanggup ia berikan untuk gadis itu.

"Pergilah, Kin. Putriku tersayang."

Air mata seketika merebak membasahi sepasang mata Kin.

Dia dapat melihat hembusan napas ayahnya perlahan-lahan semakin melemah dan tipis.

Menggantikan ketangguhan yang sesaat lalu sempat mengusir sang dewa kematian, yang tersisa kini hanyalah seorang pria tua renta yang telah menerima ajal kematiannya dengan tenang.

"Baik, Ayah..."

Sang Marquis memejamkan kedua matanya perlahan.

Hari ini, dia pasti akan mengalami sebuah mimpi yang teramat sangat indah.

Saat dia menutup matanya, kegelapan pekat menyergap masuk sesaat, dan kemudian segera berganti dengan pancaran sinar matahari yang hangat, sebuah padang rumput yang hijau membentang luas, gumpalan awan putih yang berarak tenang, serta sebuah pondok jerami sederhana di kejauhan.

Di hadapan padang rumput itu, persis seperti yang ia dambakan, sahabat lamanya melangkah keluar menyambut kedatangannya.

"Kabarmu baik-baik saja selama ini?"

"Bisakah kau tidak memperlakukanku seperti saat kita masih muda dulu?"

"Haruskah aku bersikap begitu?"

Selain sahabatnya, sang Marquis bertemu kembali dengan seluruh orang terkasih yang pernah hilang dari hidupnya.

Mendiang istrinya yang meninggal dunia akibat sakit parah berpuluh tahun lalu menampakkan diri sembari menyunggingkan senyum manis.

Itu adalah sebuah ekspresi wajah yang tampak seolah sanggup menerima keluh kesah apa pun dengan penuh ketenteraman.

Sebuah senyuman yang teramat penuh kasih sayang.

Wanita itu, yang selalu setia mendengarkan setiap ceritanya kapan saja, kini berdiri nyata di hadapannya.

Sang Marquis melangkah maju, berjalan berdampingan di antara sang sahabat karib dan sang istri tercinta.

Encrid membalikkan badan dan merenungkan perihal sosok Marquis Baisar serta keluarganya.

'Untuk memantapkan diri sebagai seorang bangsawan terpandang, kekuatan militer adalah hal yang mutlak.'

Ada pula sebuah cerita yang sempat dibocorkan oleh Marcus tempo hari.

"Bahkan saat ini, pasukan pribadi keluarga Marquis kami memiliki kemampuan bertarung yang sangat hebat, namun ini bukanlah masa keemasan kami. Justru ini adalah masa kemunduran. Masa keemasan sejati keluarga kami adalah saat ayahku masih muda dulu."

Tidak sulit untuk menyimpulkan makna tersirat di balik ucapan tersebut.

'Keluarga mereka dulunya memiliki kekuatan tempur setingkat ksatria sejati.'

Hal itu jelas bukanlah sesuatu yang lumrah di kalangan bangsawan biasa.

Namun berkat adanya kekuatan setingkat ksatria itulah keluarga Baisar sanggup naik takhta menjadi sebuah wangsa Marquis.

Mungkinkah alasan di balik penyesalan mendalam yang diperlihatkan Marquis Baisar saat ini berakar dari kematian sang ksatria pelindung tersebut?

Itu murni hanyalah sebuah firasat intuisi, namun tebakannya tepat sasaran.

Tentu saja, Encrid sendiri yang menarik kesimpulan tersebut tidak ambil pusing untuk memikirkannya terlalu dalam.

Dan tak ada seorang pun selain Krais yang sanggup menembus kedalaman isi pikiran Encrid.

Dan seandainya Krais berada di sini saat ini, pria itu pasti bakal merasa sangat frustrasi.

"Kenapa kau selalu berhenti menggunakan otak pintarmu itu di tengah jalan, hah?! Kau harus memanfaatkannya sampai tuntas, ambil keuntungan sebanyak-banyaknya, dan persiapkan apa saja yang perlu dipersiapkan!"

Tentu saja, andai Krais mengomel seperti itu, Encrid pasti bakal menyahut tenang seperti ini:

"Bukankah untuk itulah kau berada di sisiku?"

Karena ucapan itu tidak salah sama sekali, mulut Krais pasti bakal langsung bungkam seribu bahasa.

Tetes, tetes.

Itu adalah perjalanan kaki pulang dari kediaman marquis, ditemani oleh tetesan air hujan yang membasahi tubuhnya.

"Silakan naik kereta kuda, Tuan."

Seorang pelayan mendekat dan menawarkan bantuan.

"Tidak usah, terima kasih."

Encrid menolaknya dan terus melanjutkan alur pemikirannya sembari melangkah santai.

Keluarga sang Marquis memiliki luka pedihnya sendiri.

Pada kenyataannya, siapa di dunia ini yang tidak memilikinya?

Mereka yang hidup bernapas di atas Benua ini selalu hidup berdampingan dengan perang, monster, dan binatang buas di samping mereka.

'Akhir dari sebuah era dan berakhirnya perang.'

Itu adalah lagu yang dinyanyikan oleh para penduduk Demon Realm beberapa waktu lalu.

Encrid menyenandungkan melodi lagu itu secara perlahan sembari melangkah kembali menuju ke lapangan latihan kerajaan.

Meskipun waktu telah melewati tengah hari, langit di atas tampak gelap pekat.

Itu adalah hari yang mendung berawan.

"Sibuk sekali ya, sibuk sekali. Kau tidak sedang pergi menemui seorang wanita, kan?"

Aishia menyambut kedatangannya begitu Encrid melangkah masuk ke dalam area lapangan latihan.

"Tolong beri aku pelajaran bertarung, Commander Encrid."

Aishia melanjutkan sembari melontarkan candaan akrab.

Encrid menganggukkan kepalanya setuju.

Kedua lengannya sudah kurang lebih pulih cukup baik sekarang.

Ini bukanlah pertarungan hidup-mati, jadi sekadar latihan tanding ringan tidak akan terlalu membebani tubuhnya.

"Seorang wanita? Hmm, apakah ini aroma perpaduan dari seorang kakek tua dan seorang wanita?"

Shinar yang tengah duduk santai di atas sebuah kursi di sudut lapangan latihan—tampak sudah pulih cukup segar—berujar sembari pura-pura mengendus aroma udara.

"Ya, kami semua tahu kau tadi pergi ke kediaman sang Marquis."

Ropord menyahut santai dari sudut lapangan latihan lainnya.

Sang peri dengan telinganya yang teramat tajam mendengar celetukan itu lalu melayangkan tatapan dingin tanpa ekspresi ke arahnya.

Itu jelas merupakan sebuah pelototan tajam.

"Dasar rumput liar tak berguna."

Dan itu adalah sebuah hinaan yang menusuk.

Ropord mendengarnya lalu memilih untuk mengabaikannya seperti biasa.

Mendengar hinaan itu, Fel seketika melontarkan tantangan duel kepada Ropord.

"Hei, rumput liar, ayo maju lawan aku."

"Siapa yang kau panggil rumput liar?!"

"Kalau tanaman tak berguna itu rumput liar, apa kau ini seikat rumput pakan ternak?"

Guyuran air hujan masih terus turun seperti sebelumnya.

Hujan tipis yang panjang dan tampak seolah tak akan pernah berhenti.

Itu adalah hari yang teramat lembap di mana keringat akan mengucur deras dengan sendirinya bahkan jika seseorang hanya berdiri diam mematung.

Bahkan di hari yang basah seperti ini, baik para anggota ordo ksatria maupun pasukan Pengawal Kerajaan, semuanya larut berlatih dengan penuh dedikasi.

Di masa lalu saat dirinya biasa mengayunkan pedang seorang diri dalam kesepian, kini semua orang berkumpul bersama di sisinya.

"Kau belum boleh memaksakan diri terlalu keras."

Audin berujar menasihati sembari berdiri di samping Shinar.

Encrid membalas peringatan itu seolah hal tersebut bukanlah masalah besar.

"Aishia itu cuma seorang Junior Knight. Tidak bakal sampai membebani tubuhku."

Maksudnya adalah bahwa sekadar sesi latihan tanding ringan melawannya tidak akan ada apa-apanya bagi tubuhnya.

Terkadang, sebuah fakta kenyataan yang teramat sederhana sanggup menjelma menjadi sebuah tindakan kekerasan verbal yang kejam.

Krrrk.

Aishia seketika menggertakkan rahangnya kuat-kuat.

Tekad membara yang terukir jelas di wajahnya, dengan otot rahang yang mengeras menonjol, terlihat teramat sangat garang.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.