Eternally Regressing Knight

Bab 826: Menghalangi Jalan

3337 Kata

Bab 826: Menghalangi Jalan

Di dalam kota, persiapan tengah berlangsung meriah menyambut festival tahunan untuk menandai berakhirnya musim Salamander sekaligus menyongsong datangnya musim panen raya.

Itu berarti lautan manusia dalam jumlah masif akan segera berduyun-duyun memadati jalanan.

Apa jadinya jika kabar mengerikan mengenai kemunculan Salamander dan serbuan monster mendadak diumumkan ke tengah kerumunan kota saat ini?

Kerusuhan massal pasti bakal meletus hebat saat orang-orang berebut menyelamatkan diri, dan sebagian warga sipil bakal tewas terinjak-injak bukan oleh amukan monster, melainkan oleh kepanikan sesama manusia.

'Proses evakuasi yang tertib adalah kemustahilan mutlak.'

Pertimbangan Krais sangat akurat dan tajam.

Kawasan garnisun Border Guard dan kota-kota di sekitarnya telah berkembang pesat melampaui masa-masa sebelumnya.

Kota-kota yang kian membesar itu kini dipadati oleh populasi manusia yang tak kalah melimpah.

Jalur perjalanan yang aman, rute perdagangan strategis bernama Stone Road, serta pembukaan relasi dagang dengan kota-kota niaga besar—semua faktor itu sukses menyedot arus migrasi manusia ke tempat ini.

Lantas apa yang akan terjadi pada negeri ini jika populasi sebesar itu dipaksa menjalani evakuasi darurat secara mendadak?

'Negeri ini bakal langsung hancur lebur, tentu saja.'

Jawabannya sudah teramat gamblang tanpa perlu dianalisis lagi.

'Mungkin sebuah keberuntungan terselubung bahwa bencana ini meletus sekarang.'

Arus manusia selalu tumpah ruah pada periode festival.

Satu-satunya kabar melegakan adalah kenyataan bahwa perayaan festival tahun ini diputuskan untuk dipusatkan di kota Rockfreed.

Kota Rockfreed dibangun di atas hamparan dataran luas yang membentang rata, bukan di ceruk pegunungan terjal.

Sedari awal, kota itu memang dirancang murni sebagai kota perniagaan, bukan benteng militer pertahanan.

Oleh sebab itu, dinding benteng pembatasnya tergolong relatif rendah, dan ruas-ruas jalan utamanya dirancang sangat lebar.

Sumur-sumur air digali merata di berbagai sudut kota untuk menghubungkan saluran air bersih, sedangkan kawasan pergudangan dan distrik komersial ditata terpisah secara rapi.

Pendek kata, itu adalah kota yang sangat memanjakan para saudagar.

Kota itu sama sekali tidak didesain untuk menghadapi skenario invasi perang berskala besar.

Ruas jalan yang lebar dan zonasi distrik yang teratur memang menjadi keunggulan utama di masa damai, namun berubah menjadi kelemahan fatal di masa perang.

Keberadaan sumur-sumur air yang tersebar bebas di berbagai penjuru juga bakal menjadi sumber pasokan logistik yang sangat menguntungkan bagi pasukan musuh.

'Jalanan kota bakal menjelma menjadi jalur perlintasan sempurna bagi serbuan prajurit lawan.'

Gudang-gudang niaga yang luas bakal disulap menjadi pangkalan suplai logistik mereka.

Yah, mereka memang telah menyusun berbagai langkah antisipasi darurat, namun satu kali kobaran perang saja sudah cukup untuk melumpuhkan seluruh fungsi vital kota tersebut.

Bagaimanapun juga, poin terpenting saat ini adalah fakta bahwa Rockfreed merupakan kota yang berdiri di atas tanah datar.

'Jika situasi memburuk, warga sipil akan sangat mudah melarikan diri.'

Mereka sengaja membangun gerbang-gerbang kota dengan ukuran yang teramat lebar.

Lantas bagaimana dengan nasib markas garnisun Border Guard?

'Garnisun Border Guard terletak terlalu dekat dengan Pegunungan Pen-Hanil dan garis perbatasan.'

Demikianlah penilaian taktis yang ada di benak Krais.

Garnisun itu juga merupakan pemukiman yang dibangun di atas kontur medan terjal yang sangat ideal untuk dibentengi dan diubah menjadi pangkalan militer pertahanan.

Oleh karena itu...

'Benteng pertahanan terakhir.'

Jika sang Salamander benar-benar turun menuruni lereng gunung dan mereka gagal membendungnya di garis depan, mereka terpaksa harus bertarung mati-matian di benteng ini hingga prajurit terakhir gugur binasa.

'Situasi ini benar-benar membuat kepala pening.'

Jantungnya berdegup kencang, dan punggungnya mulai dibasahi oleh keringat dingin.

Krais selalu memandang dirinya sendiri sebagai sosok pria duniawi yang agak picik dan berotak dangkal.

Sejujurnya, sangat sulit mengharapkan pembawaan heroik dari sosok seperti dirinya.

Ini bukan soal ekspektasi orang lain terhadap dirinya; dirinya sendiri bahkan tak pernah menaruh harapan muluk semacam itu.

Menjadi pahlawan bukanlah sesuatu yang dia dambakan di dalam hidup.

Namun roda takdir tidak selalu bergulir searah dengan keinginannya.

Oleh sebab itu, dirinya wajib bersiap menghadapi skenario terburuk.

'Jika semuanya berantakan, apa aku harus memerintahkan semua orang untuk mati bersama di tempat ini?'

Krais buru-buru menarik kembali alur pemikirannya yang mulai melantur liar.

Rasa cemas perlahan mulai merayapi relung hatinya.

"Bukankah skenario darurat semacam ini yang sedari awal telah kita persiapkan?"

Tepat pada detik genting itu, Abnaier membuka suara dari samping bahunya.

Krais selalu memandang pria paruh baya ini sebagai separuh figur gurunya.

Abnaier adalah sosok yang diberkahi rasa percaya diri dan bakat kepemimpinan yang tidak dimiliki oleh Krais, serta kedalaman pemikirannya berada di tingkatan yang jauh berbeda.

"Yah, kau benar," sahut Krais pelan.

Di dalam hati, pria itu adalah gurunya; namun di luar, hubungan mereka telah bertumbuh layaknya sepasang sahabat karib, tanpa memedulikan sekat usia.

"Maka campakkan seluruh rasa cemasmu. Anak panah telah dilesakkan dari busurnya."

"Bicara soal para ksatria, mereka terkadang sanggup menangkap anak panah yang melesat lalu melemparkannya balik ke arah penembaknya."

Rasa cemas adalah racun yang selalu menggerogoti ketenangan batinnya.

Abnaier melontarkan jawaban cerdas untuk menepis kekhawatiran tersebut.

"Ksatria perkasa yang kau bicarakan itu berada di pihak kita, Krais."

Krais telah menyaksikan sendiri proses pertumbuhan Encrid dari jarak yang teramat dekat.

Dia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri pria itu mewujudkan berbagai macam keajaiban yang di luar nalar akal sehat.

Maka, perkataan Abnaier memang benar adanya.

"Aku tahu betul."

Oleh sebab itu, dirinya hanya perlu menjalankan tugasnya dengan sempurna.

Tepat saat Krais berusaha menepis secuil rasa cemas di hatinya, pasukan reguler Border Guard mulai bergerak serentak.

Dimulai dari barisan prajurit yang berjaga di pos-pos pengamanan di sepanjang jalur aman, para anggota pasukan membelakangi dinding kota lalu menghunus tombak dan pedang mereka lurus ke arah lereng pegunungan.

Dan pertempuran pun pecah.

Awalnya, musuh yang menampakkan diri hanyalah seekor monster tunggal.

Seekor binatang berkaki empat yang seluruh raganya tersusun dari kobaran api membara menjejakkan kakinya di atas tanah, meninggalkan jejak-jejak hangus berwarna hitam pekat.

Aroma sangit menyengat mulai menguar pekat, disusul kepulan asap tebal yang membubung dari jalur perlintasan yang baru saja dilaluinya.

Ranting-ranting pohon yang terbakar menyala serta hamparan padang rumput hijau yang langsung luluh lantak menjadi abu kelabu membuktikan bahwa kobaran api di sekujur tubuh makhluk itu bukanlah lelucon belaka.

Monster itu tidak memiliki sepasang mata.

Tidak memiliki hidung, maupun mulut.

Makhluk itu murni berupa gundukan api hidup yang membara liar.

"Kita disuruh bertarung melawan makhluk api begitu?" gumam salah seorang prajurit dengan nada ragu.

"Kalau tidak mau, apa kau mau membiarkannya lewat begitu saja lalu pulang tidur ke rumah?" sahut rekannya di samping.

"Bukan, maksudku bukan begitu." Prajurit pertama mengangkat bahunya pasrah lalu bersiap mengarahkan mata tombaknya.

Mereka adalah barisan prajurit tombak panjang (long-spearmen) yang bernaung di bawah pasukan reguler.

Klek, klek.

Prajurit terdepan memutar dan mengunci sambungan tangkai tombaknya, lalu memposisikan mata tombak baja miliknya pada sudut miring yang presisi.

Mata tombak milik dua puluh prajurit yang berdiri di barisan paling depan semuanya telah diperkuat oleh lempengan bilah sihir khusus.

Ke mana sebenarnya Krais menggelontorkan seluruh pundi-pundi emas yang dia kumpulkan selama ini?

Pria itu mengalirkan sebagian besar kekayaannya ke dalam pos anggaran militer.

Dan sebagian dari investasi mahal itu kini mulai memancarkan kilaunya di medan perang.

DHUAR!

Tanpa melontarkan raungan sekali pun, bola api hidup berwujud serigala itu mendadak melesat menerjang ke arah mereka.

Tiga orang prajurit tombak memusatkan titik berat tubuh mereka di antara kedua telapak kaki, lalu menghujamkan tombak panjang mereka secara serentak.

Sebuah tusukan lurus yang teramat stabil, lahir dari kuda-kuda bertarung yang bersih dan sempurna.

Tak ada keraguan sedikit pun dalam gerakan mereka, sebab manuver dasar itu telah mereka latih dan ulang sebanyak lebih dari seribu kali.

Jleb, jleb!

Serigala api yang tengah menerjang kencang itu langsung tertusuk telak di ujung mata tombak sihir, lalu buyar meledak diiringi suara mendesis keras.

Kobaran apinya meredup drastis dan luruh menetes ke atas tanah.

Cairan api yang meleleh menetes itu terasa sangat kental, menyerupai jeroan binatang yang berhamburan keluar.

Di titik di mana lidah apinya padam sempurna, yang tersisa hanyalah segenggam abu hitam pekat.

Memang sangat sulit bertarung jika senjata fisik tak sanggup melukai tubuh musuh, namun jika senjata mereka terbukti efektif mematikan, makhluk-makhluk itu bukan lagi ancaman besar.

Tepat pada detik berikutnya, dari arah puncak pegunungan, puluhan monster yang tersusun dari kobaran api mulai bergerak menuruni lereng sembari menyemburkan lidah api panas ke udara.

"Seluruh unit maju serentak, pertahankan formasi lima saf! Sesuaikan tempo langkah mengikuti aba-aba sinyal mundur! Jangan ada yang merusak barisan!" seru sang komandan lapangan memberi instruksi.

Dia menilai bahwa kawanan bola api yang tengah menyerbu turun itu tidak dibekali kecerdasan taktis yang tinggi.

Sedari awal, makhluk-makhluk itu memang lebih condong menyerupai entitas magis buatan tanpa akal budi.

Jika mereka bahkan tidak memiliki kelicikan tempur setingkat ghoul liar, maka membantai mereka adalah tugas yang jauh lebih mudah.

Formasi lima saf adalah susunan barisan di mana para prajurit berdiri dalam lima lapisan berundak, disusun secara selang-seling agar celah pertahanan di baris terdepan dapat ditutupi secara instan oleh barisan di belakangnya.

Dengan jarak interval yang teratur, selalu ada ruang leluasa bagi prajurit di saf belakang untuk melesakkan tusukan tombak panjang mereka.

"Divisi sihir, bersiap!" seru sang komandan memberi komando lanjutan.

Tidak seluruh prajurit reguler dibekali senjata sihir permanen sejak awal.

Mulai dari saf ketiga ke belakang, ada prajurit yang hanya memegang tombak baja standar.

Tepat di hadapan mereka, para pemantera dari divisi sihir yang dibina langsung oleh Esther serentak mengibaskan telapak tangan mereka ke udara.

Mustahil memburu dan melumpuhkan bola-bola api liar itu satu per satu menggunakan tembakan mantra jarak jauh, namun memberikan enchant sihir pada senjata prajurit adalah perkara yang jauh lebih efisien.

"Terselubung oleh kuasa bintang biru."

Sebuah formula mantra yang dirancang khusus oleh Esther seketika memancarkan pendaran cahaya biru terang di sepanjang mata pedang dan ujung tombak para prajurit.

Itu adalah mantra penguat yang dikenal sebagai Blessing of the Stars.

"Seluruh tombak, bidik ke depan!"

Merespons komando terakhir, ratusan mata tombak tajam serentak terhunus lurus ke arah musuh.

Mereka adalah formasi phalanx tombak panjang yang telah ditempa sedemikian solid hingga sanggup menahan terjangan membabi buta dari barisan kavaleri lapis baja sekalipun.

Membendung serbuan bola api liar di tingkatan ini bukanlah tugas yang mustahil bagi mereka.

"Tusuk!"

"Mampus kau!"

Diiringi teriakan perang yang mencerminkan watak tempur masing-masing, mereka menghujamkan mata tombak mereka ke dalam tubuh monster-monster api tersebut.

Pertempuran itu berlangsung sangat berat sebelah.

Hal yang menarik adalah, di dalam struktur internal pasukan reguler, para prajurit tombak ini masih tergolong sebagai pasukan infanteri biasa.

Kekuatan elit yang sesungguhnya berada di divisi terpisah.

Contohnya seperti divisi Holy Martial Infantry, sebuah unit tempur khusus dengan Audin sebagai komandan utama dan Theresa sebagai wakilnya.

Mengesampingkan nama resmi mereka di atas kertas, para prajurit lain lebih gemar menjuluki unit ini sebagai Fanatic Squad.

"Makhluk-makhluk api itu tampaknya tidak memiliki jiwa murni."

"Kalau begitu, meski kita membantai mereka di sini, kita tidak bisa mengirim sukma mereka menghadap Tuhan, bukan?"

Mereka adalah para petarung taat yang telah berhasil membangkitkan kekuatan suci di dalam raga mereka lewat devosi ibadah yang mendalam.

Jika para petinggi di Kota Suci Legion mengetahui keberadaan unit ini, mereka pasti bakal terperanjat ngeri.

Audin tahu betul bagaimana menempa dan melatih manusia menurut caranya sendiri.

Selain dalam urusan memodifikasi ketahanan fisik prajurit di lingkungan ordo ksatria, dalam hal mendidik kader petarung, pria itu adalah yang terbaik.

Pihak Legion memang memiliki angkatan bersenjata suci yang serupa, namun para prajurit di bawah asuhan Audin memiliki karakteristik yang sedikit berbeda.

Mereka semua memiliki otot-otot tubuh yang teramat padat, kekar, dan berurat kencang.

Setiap prajurit yang diberkahi fisik luar biasa itu mengenakan pelindung tangan baja termodifikasi (gauntlets) di kedua lengan mereka.

Senjata khusus yang terkunci rapat di atas pergelangan tangan itulah yang menjadi senjata utama mereka di medan laga.

Mereka juga mengenakan jubah zirah kain berwarna putih bersih dengan bagian pergelangan tangan dan mata kaki yang terikat erat oleh tali pengencang.

"Seluruh unit, tempur bebas!"

Inilah barisan pria perkasa yang ditempa oleh Audin dan Theresa dengan segenap daya upaya mereka.

Pendaran cahaya suci redup memancar anggun dari sepasang gauntlets yang mereka kenakan.

Mereka memang telah membangkitkan kekuatan suci, namun belum sanggup memanipulasinya secara bebas di luar tubuh.

Oleh karena itu, mereka mengandalkan senjata khusus yang telah diberkati secara langsung oleh kekuatan suci milik Audin dan Theresa.

Dengan begitu, saat genderang perang bertalu, mereka sanggup bertarung sembari menyelimuti kedua kepalan tinju mereka dengan lapisan kekuatan suci murni.

Dan itulah yang tengah mereka lakukan saat ini.

Mereka menghantam, meremukkan, dan menghancurkan kepala bola-bola api yang menerjang hanya dengan kepalan tinju telanjang.

Jumlah monster dan binatang buas berkobar api itu mencapai lebih dari beberapa ratus ekor.

Sebagian dari kawanan monster itu berhadapan langsung dengan regu penyerbu milik Rem, sementara regu pendekar pedang kecil di bawah komando Ragna turut melangkah maju ke garis depan.

Unit khusus yang dikenal sebagai regu pengawal kehormatan Encrid pun ikut diterjunkan ke medan laga.

"Tidak ada yang bakal terluka oleh monster kroco di level ini, kan? Benar, kan?!"

Mantan squire yang dulunya dijuluki sebagai Fallen Clemen kini menjabat sebagai komandan utama dari regu pengawal kehormatan Encrid.

Di lingkungan Border Guard, wanita itu juga kerap dijuluki sebagai Clemen si Mesum (Pervert Clement).

Sebuah julukan aneh yang melekat erat setelah rumor liar menyebar bahwa dirinya memiliki hobi buruk gemar menyiksa dan melatih anak buahnya secara kejam.

"Awas saja kalau sampai ada yang tergores luka."

Ucapannya meluncur dingin tanpa secuil pun senyuman di wajahnya.

Para prajurit pengawal kehormatan yang berdiri di belakang punggungnya serentak merapatkan gigi mereka.

Jika mereka sampai menderita luka goresan kecil saja di tempat ini, wanita gila itu pasti bakal memeras tenaga mereka sampai mati dalam sesi hukuman nanti.

Jika total kapasitas kekuatan tempur pasukan reguler diibaratkan bernilai sepuluh, Krais sejauh ini baru mengerahkan sekitar enam bagian saja.

Sisa empat bagian lainnya sengaja disiagakan di pangkalan utama demi mengantisipasi segala kemungkinan darurat yang tak terduga.

Dan hanya dengan enam bagian kekuatan itu saja, banjir gelombang monster api yang menuruni lereng pegunungan telah berhasil dibendung secara mutlak.

'Situasi ini sangat tidak biasa.'

Demikianlah pemikiran Encrid sembari terus melangkah maju mendaki bukit, menggenggam erat pedang Dawnforged di tangannya.

Dia tengah bergerak menuju ke pedalaman Pegunungan Pen-Hanil, tepatnya ke arah lokasi yang sebelumnya telah dipantau oleh Garrett dan Finn.

Tepat di tengah jalur pendakiannya, sesosok raksasa api mendadak berdiri menghadang jalannya.

Postur tubuhnya jauh lebih masif dibanding fisik milik Audin, dan kobaran lidah api di sekujur raganya memancarkan hawa panas menyengat meski dirasakan dari jarak lebih dari dua puluh langkah.

Alih-alih membakar habis pepohonan di sekitarnya, makhluk itu justru berdiri mematung dalam keheningan.

Lalu, seolah menyadari kedatangan Encrid, kepalanya mendadak menoleh lurus ke arahnya.

'Dia berdiri dengan kedua kakinya.'

Sebuah postur tubuh yang menyerupai anatomi seorang manusia.

Dan bukan hanya itu saja.

Lidah api mendadak menyembur dari kedua telapak tangannya lalu memadat membentuk sebuah wujud senjata.

'Pedang besar?'

Bentuk tongkat panjang yang digenggam oleh kedua tangannya, dengan sebuah gundukan bulat masif di ujung kepalanya.

'Sebuah gada.'

Encrid tidak berlari kencang.

Tangan kirinya memegangi sarung pedang, sementara tangan kanannya bertengger santai di atas gagang Dawnforged, sembari terus melangkah maju.

Sebuah tempo langkah yang tidak terlalu cepat, namun juga tidak lambat.

Raksasa api itu memadatkan sebuah gada api raksasa di kedua tangannya, dengan ukuran yang teramat besar hingga bahkan tidak akan terasa janggal andai digenggam oleh raksasa seperti Audin.

Wuuush!

Segala hal pada makhluk itu tersusun murni dari unsur api.

Pemandangan itu mengingatkan Encrid pada sihir Walking Fire, serta sosok sang iblis Beelrog.

Saat berbagai macam memori melintas kilat di benaknya, Encrid mengubah aliran Will yang tengah bergolak liar di dalam rongga dadanya.

'Pelepasan daya ledak dalam satu garis lurus.'

Laksana hembusan angin ribut, atau sambaran badai dahsyat.

BLAAR—!

Bersamaan dengan suara dentuman internal yang meledak dari dalam jiwanya, dia menyalurkan seluruh kekuatannya ke telapak kaki yang berpijak di atas tanah lalu melesat menjejak bumi.

Encrid membelah celah waktu dan melesat maju ke depan.

Siapa pun yang menyaksikan pemandangan itu pasti bakal terperangah takjub.

Sebuah akselerasi kecepatan ekstrem yang diluncurkan langsung dari posisi tubuh yang tengah berjalan santai.

Pusat gravitasi tubuhnya hampir tidak bergeser sama sekali, dan tak ada ancang-ancang gerakan awal yang terlihat.

Dia bahkan tidak perlu memamerkan otot-otot pahanya yang menegang untuk mengumpulkan tenaga.

Apa sebenarnya rahasia di balik manuver pergerakan abnormal semacam itu?

Jawabannya tentu saja adalah penguasaan Will.

Keahlian Encrid dalam memanipulasi aliran Will telah berkembang pesat melompat jauh ke depan.

Faktanya, andai dirinya tidak mengalami lonjakan kemampuan sedahsyat itu, dia mustahil sanggup berdiri hidup di tempat ini sekarang.

Pengalaman bertarung membantai Beelrog tempo hari tidak menguap sia-sia begitu saja.

Tubuhnya menjelma menjadi sekelebat garis biru terang dan melesat melintasi sang raksasa api.

WUUUSH!

Angin kencang mendadak bertiup membubung tinggi.

DHUAAR!

Suara dentuman udara terkompresi meledak hebat tepat di titik perlintasan yang baru saja dilalui oleh langkah kaki Encrid.

Fuuush!

Dan gada api raksasa milik sang monster berayun hampa membelah udara kosong.

Saat dirinya melesat melewati punggung sang raksasa api, Encrid melihat percikan lidah api membubung dari mata bilah Dawnforged yang terhunus, sebelum akhirnya buyar berhamburan dan lenyap menguap.

Itu adalah satu tebasan pedang tunggal yang sempurna.

Raksasa api yang terbelah menjadi dua bagian itu seketika hancur berkeping-keping menjadi serpihan abu kelabu.

Hembusan angin panas yang berhembus kencang menerpa dan mengibaskan helaian rambutnya.

Rambut hitamnya tersibak menyingkap keningnya, memperlihatkan sepasang manik mata biru yang berkilau indah layaknya batu permata berharga.

'Tubuhku terasa sangat ringan.'

Tak ada rasa sakit ataupun cedera sedikit pun.

Sebuah sensasi ganjil yang menenangkan.

Ini bukan perasaan kemahakuasaan semu, melainkan...

'Rasanya seolah aku sanggup melakukan apa saja.'

Tubuh fisiknya bergerak selaras persis seperti apa yang dia perintahkan di dalam pikiran.

Encrid kembali melangkahkan kakinya menapaki jalur pendakian.

Hanya dengan menggerakkan kedua kakinya bergantian, sosoknya tampak sangat santai tanpa beban, namun pada setiap jengkal langkahnya, dia menekan dan menjejak tanah dengan kekuatan yang teramat mantap.

Kecepatan melangkahnya bahkan jauh lebih cepat dibanding lari cepat milik orang biasa.

Ini bukanlah kecepatan lari penuhnya, namun tampaknya tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang sanggup menghalangi laju langkahnya.

Namun mendadak, Encrid menghentikan langkah kakinya.

Sebuah tanjakan terjal membentang di hadapannya, dan kawasan itu bukanlah rute jalan setapak yang biasa dilalui oleh manusia, sehingga ranting-ranting pohon liar serta semak belukar berduri menghadang jalurnya. Namun sedari tadi dia selalu melompati dan menerobos rintangan-rintangan tersebut dengan mudah.

"Siapa kau?" tanya Encrid datar.

Di sisi kanannya, berdiri tepat di samping sebatang pohon yang tumbuh miring tak beraturan, tampak sesosok pria asing tengah berdiri mematung.

Mengenakan pakaian kain tipis berwarna pucat, menggenggam sebilah pedang putih panjang tanpa pelindung tangan (guardless sword) yang menyerupai sebatang tongkat kayu, dengan sepasang mata sipit yang memiliki pupil celah vertikal layaknya mata seekor reptil.

Siapa pun yang melihat sosoknya mustahil bakal mengira dirinya sebagai seorang manusia biasa.

Sosok itu menatap tajam ke arah Encrid selama beberapa saat, lalu membuka mulutnya.

"Mati. Pergi. Sini. Aku. Bisa mati."

Lafal pengucapannya tidak terdengar terlalu kaku, namun susunan kalimat di dalamnya benar-benar janggal dan membingungkan.

Namun, siapa sebenarnya sosok Encrid?

Bukankah dia adalah seorang pakar pendengar ulung yang sanggup menyerap dan memahami seluruh ajaran gila dari rekan-rekan ordonya?

Dia sanggup menangkap maksud tersembunyi di balik untaian kata yang patah-patah tersebut dalam sekejap.

"Kau bilang kau akan membunuhku? Atau maksudmu aku bakal mati kalau nekat melangkah melewatimu?"

Pria bermata reptil itu terdiam sejenak untuk berpikir, lalu kembali menyahut.

"Kau. Mati. Olehku."

Meskipun masih terdengar kaku, makna di dalam ucapannya kini menjadi jauh lebih jelas dan terarah.

Hal yang paling ganjil adalah...

'Tak ada hawa pertarungan, tak ada pula niat membunuh.'

Namun pria asing ini pasti bakal menepati setiap patah kata yang baru saja dia ucapkan.

Ini murni berupa intuisi batin, namun sosok pria itu memang memancarkan kesan mutlak semacam itu.

"Kedengarannya itu seperti sebuah ancaman terbuka."

Encrid menyahut santai lalu mencabut pedang Dawnforged dari sarungnya.

Sring!

Mata bilah berwarna biru cerah terhunus lurus membidik ke arah sang lawan.

Hingga detik itu, sang musuh misterius hanya menatap tajam ke arah Encrid tanpa mengubah posisinya.

Lalu bibirnya kembali terbuka.

Encrid sedari awal sudah bersiap untuk melesat maju menerjang tanpa memedulikan apa pun yang hendak diucapkan oleh lawannya, namun...

"Berhenti. Diam."

Tepat saat dua patah kata itu terucap, raga fisik Encrid mendadak terhenti kaku di tempatnya berdiri.

Segala hal terjadi di luar dugaannya.

Dalam wujud yang sama sekali berbeda dari aura intimidasi luar biasa yang dipancarkan oleh Beelrog tempo hari, getaran kata-kata dari lawan di hadapannya secara paksa mengunci dan membelenggu pergerakan fisiknya.

Aliran Will yang tengah bergolak liar di dalam tubuh Encrid seketika memberontak hebat melawan kekuatan koersif yang berusaha menindasnya, dan Will of Rejection aktif secara refleks membuyarkan belenggu kata-kata sang lawan seketika.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.