Eternally Regressing Knight

Bab 840: Kemerosotan, Kemunduran, Kehancuran

3613 Kata

Bab 840: Kemerosotan, Kemunduran, Kehancuran

"Seberapa sering sebenarnya mereka terjun langsung ke dalam pertempuran hidup-mati?"

Esther dulunya pernah menyandang julukan terhormat sebagai sang Penyihir yang Berjuang (The Struggling Witch).

Alasannya?

Murni karena di antara barisan manusia yang memanipulasi formula sihir, dirinya adalah sesosok anomali yang sangat langka.

Teramat jarang bagi seorang penyihir untuk rela mempertaruhkan nyawa mereka demi menguji batas kapasitas keahlian sihir mereka.

Mereka telah terbiasa mengeksploitasi dan menjarah kaum yang lemah, namun pertempuran yang mengancam nyawa adalah hal yang teramat canggung bagi mereka.

Mereka adalah tipikal manusia yang bakal langsung melarikan diri terbirit-birit pada tanda bahaya sekecil apa pun.

Itulah sebabnya mengapa julukan 'yang Berjuang' terasa sedemikian istimewanya.

Itu pula yang mendasari mengapa para penyihir lain memperlakukan Esther layaknya sesosok makhluk aneh.

"Mereka kemungkinan besar belum pernah mencicipi pertempuran yang sesungguhnya selama berpuluh-puluh tahun."

Gadis itu menyuarakan keyakinannya dengan nada yang teramat tegas.

"Mereka telah mengalami kemerosotan moral dan fisik."

Esther memahami tabiat asli kaumnya dengan sangat baik.

"Karena mereka tidak sanggup saling mempercayai satu sama lain, mereka murni hanya sibuk menyembunyikan kartu as masing-masing. Sesi sparring persahabatan? Jangan harap. Mereka pantang menyingkap keahlian mereka di hadapan rekan sendiri, dan selalu mengunci rapat-rapat ilmu rahasia mereka untuk diri mereka sendiri."

Setangkai bunga dipastikan bakal layu andai dirinya terus berada di bawah naungan bayang-bayang gelap, dan mata air yang enggan mengalir dipastikan bakal mengering tandus.

Oleh karena itu, kemunduran dari kelompok para penyihir tersebut adalah sebuah keniscayaan yang mutlak.

Itu adalah liang lahad yang mereka gali menggunakan tangan mereka sendiri.

Namun sungguh ironis, hanya mereka sendiri yang tidak menyadari kebobrokan tersebut.

'Jika mereka memang berniat membentuk sebuah organisasi, seharusnya mereka saling membagikan apa yang mereka miliki.'

Encrid telah berhasil mendongkrak standar kapasitas tempur pasukan reguler garnisun Border Guard, bahkan lewat cara membagikan seluruh ilmu berharga miliknya kepada orang lain.

Dia membagikan setiap pemahaman yang berhasil dia rengkuh kepada setiap ksatria yang melangkah mengiringi di belakang punggungnya.

Dia sama sekali tidak pernah pelit dalam belajar, tidak pula pernah pelit dalam membagikan ilmu.

Lantas bagaimana dengan organisasi Astrail?

Mereka teramat sangat kikir, baik dalam urusan belajar maupun dalam hal mengajar.

Satu-satunya hal yang mereka dambakan hanyalah aksi penjarahan semata.

Mereka memandang dunia luas murni hanya melalui sudut pandang sempit yang mereka pahami.

Mereka tak ubahnya kawanan katak di dalam tempurung.

Dunia mereka hanyalah sepetak kubah langit bundar yang teramat kerdil.

"Astrail sama sekali tidak memahami apa itu ksatria sejati. Lebih presisi lagi, mereka buta terhadap tingkatan standar tempur yang dimiliki oleh ordo ksatria benteng perbatasan Border Guard."

Bahkan andai Esther sendiri mempersiapkan seluruh formula sihirnya dengan kesungguhan penuh, mustahil baginya untuk sanggup menghadapi amukan seluruh anggota ordo ksatria ini seorang diri.

Terlebih lagi, kelompok terkutuk yang tengah meneteskan liur ketamakan itu murni hanya memandang barisan ksatria layaknya pendekar pedang biasa.

Mereka tidak paham bahwa bahkan di dalam kategori penyandang gelar ksatria sekalipun, terdapat jurang tingkatan kekuatan yang teramat mencolok.

Jika meminjam istilah yang kerap dilontarkan oleh Encrid, mereka hanyalah sekumpulan perapal mantra linglung yang kehilangan arah.

Esther sempat menyunggingkan senyuman tipis kala menyuarakan fakta tersebut.

Dan Krais sempat menatap paras Esther yang mendadak tersenyum dengan ekspresi wajah yang agak ganjil.

"Mereka hanyalah sekumpulan perapal mantra linglung yang kehilangan arah."

"Akan sangat memusingkan kepala andai barisan orang linglung itu menyandera warga kota lalu melancarkan serangan," timpal Krais mengutarakan kekhawatirannya.

"Mereka tidak bakal berbuat demikian."

Esther memahami tabiat alami para penyihir.

Sesosok penyihir yang sudi melindungi keselamatan nyawa warga kota?

Mereka dipastikan bakal menganggap eksistensi sosok pelindung semacam itu tidak pernah ada di muka bumi.

Mereka bukanlah manusia yang sudi memikirkan nasib orang lain, melainkan murni budak-budak pemuja yang telah ditelan bulat-bulat oleh iblis bernama haus ilmu pengetahuan.

Oleh sebab itu, mereka tidak bakal repot-repot menyandera warga sipil.

Meskipun memang sangat mungkin ada bajingan di antara mereka yang berniat menyerang kota demi memuluskan ambisi pribadi mereka.

"Mereka telah tiba."

Kala operasi penyergapan ini dimulai, Jaxon telah mengerahkan seluruh personel serikat pembunuh bayaran Georg's Daggers yang tersebar di berbagai penjuru kota.

Seorang anggota serikat tersebut membuka suaranya menyampaikan laporan.

Mereka bukan sekadar pembunuh yang bermata tajam dan bertelinga awas, melainkan barisan pembunuh bayaran kelas satu yang sanggup mengendus aroma bahaya murni mengandalkan indra keenam mereka.

"Terima kasih atas bantuanmu, Saudaraku. Kau pasti telah berlari menguras tenagamu hingga ke batasnya."

Sebuah perawakan tubuh yang teramat masif.

Dari jarak sedekat ini, postur tingginya sedemikian menjulang hingga kau dipaksa mendongakkan kepala demi menatap lurus ke dalam manik matanya.

Sang anggota serikat pembunuh mengetahui dengan sangat baik julukan kehormatan yang disandang oleh sosok raksasa di depannya.

'Sang Manusia Beruang, Audin (The Bear-Beastkin).'

Secara biologis dirinya memang bukan bagian dari kaum beastkin, namun proporsi raganya sudah lebih dari cukup untuk disematkan julukan tersebut.

Kala diamati dari jarak dekat, konstruksi tubuhnya tampak berkali-kali lipat lebih destruktif.

Sang anggota serikat pembunuh pun merupakan seorang petarung yang selalu melatih fisiknya secara konstan tanpa henti.

Dia sanggup melihat guratan tekstur otot-otot padat yang terpahat sempurna di sekujur raga Audin.

Sang manusia beruang merapatkan kedua telapak tangannya tepat di depan dahinya lalu melafalkan sebaris doa batin.

"Ya Tuhan, hari ini hamba berniat mengirimkan lebih banyak jiwa pendosa ke haribaan sisi-Mu."

Untaian doa suci yang dia lantunkan terdengar teramat haus darah.

Tepat saat dirinya mengangkat kedua tangannya ke atas, sebagian dari otot perutnya tersingkap dari balik kemeja longgarnya. Patahan otot perut yang terpahat padat itu tak ubahnya selembar baju zirah baja alami.

'Baju zirah otot (muscle armor).'

Haruskah disebut sebagai sebuah raga yang telah berulang kali meremukkan dan melangkahi batas tertinggi yang sanggup dicapai oleh tubuh manusia biasa?

Kondisinya bahkan telah mencapai tingkatan di mana permukaan kulitnya tampak sekeras lapisan sisik monster buas.

'Seorang Ksatria Suci.'

Definisi perihal sosok seorang ksatria suci di dalam benak sang pembunuh bayaran seketika berubah total detik itu juga.

Audin menuntaskan doa singkatnya, melepaskan tautan kedua tangannya, lalu menundukkan pandangannya menatap pria di hadapannya.

Di permukaan, bantuan ini memang tampak layaknya peran dari sebuah serikat informasi intelijen, namun pria perkasa itu sanggup membaca identitas aslinya murni dari pola derap langkah kaki sang lawan kala mendekat.

'Pola langkah kaki yang memiliki kebiasaan alami untuk membungkam suara gesekan.'

Audin telah mengetahui identitas sejati sang kawan sedari awal.

Namun meski begitu, dia cukup menyunggingkan senyuman hangatnya yang menyerupai sebongkah batu karang atau seekor beruang besar, bersikap seolah dirinya sama sekali tidak menyadari kejanggalan tersebut.

Theresa yang berdiri tegap di sampingnya turut menuntaskan doa serupa lalu berujar datar, "Kita harus segera berangkat."

Mereka saat ini tengah bersiaga di dalam pos penjagaan yang mengawal gerbang benteng Rockfreed.

Tata kota benteng ini sejatinya cukup rentan terhadap serbuan mendadak, dan sektor Rockfreed berkali-kali lipat lebih berisiko.

Dengan kata lain, membiarkan pertempuran meletus di dalam pemukiman ini bakal menjadi bencana yang sangat memusingkan kepala.

Oleh sebab itu, cetak biru dasar dari rencana pertahanan yang dirumuskan oleh Krais kali ini adalah operasi pencegatan di luar tembok benteng (interception).

Namun mereka mustahil bisa memetakan seluruh rute pergerakan para penyihir yang melangkah mendekat dari berbagai penjuru secara terpisah.

"Tentu saja kita wajib membentengi kota ini. Cukup dengan bersiaga mengawal di depan dinding benteng dan gerbang utama. Menilik dari analisis Esther."

Krais yang melontarkan instruksi tersebut sempat terdiam sejenak tempo hari.

Pria bermata besar itu tampak tengah merapikan kilasan ide yang mendadak melintas di kepalanya.

Setelah perenungan singkat, pria itu melanjutkan penjelasannya.

"Orang-orang yang angkuh dan sombong tidak pernah sudi menyembunyikan identitas keberadaan mereka."

Audin sangat menyetujui kebenaran kalimat tersebut.

Dan detik ini, analisis Krais telah terbukti menjadi kenyataan nyata di depan mata.

Mereka bahkan sempat mengerahkan seluruh agen Georg's Daggers demi mengantisipasi skenario terburuk, namun para penyihir Astrail bertindak teramat congkak tanpa tedeng aling-aling.

"Benda apa itu sebenarnya?" gumam salah seorang prajurit di pos penjagaan sembari mengernyitkan dahinya cemas.

"Ada apa di depan sana?"

Dua orang prajurit garnisun mengamati lanskap di depan gerbang.

Jauh di kejauhan, jeritan histeris mulai menggema di udara, dan barisan warga sipil tampak berlarian panik menyelamatkan diri.

Sebuah iring-iringan karavan saudagar yang menelantarkan kereta dagang mereka dan melarikan diri terbirit-birit turut terlihat nyata.

"Mari kita mulai tugas kita."

Audin dan Theresa melangkah keluar meninggalkan pos penjagaan.

Beberapa sosok yang tengah berlari mundur tersebut adalah prajurit reguler garnisun.

Mereka bukan sekadar melarikan diri secara membabi buta, melainkan memecah barisan ke sisi kiri dan kanan, menggenggam senjata mereka erat-erat, lalu menata ulang formasi tempur mereka.

Audin pun kerap terlibat aktif dalam sesi pembinaan pasukan reguler.

Dia mendeteksi sebuah anomali taktis di dalam pola pergerakan pasukan tersebut.

"Itu bukan formasi tempur yang dirancang untuk menghadapi sekelompok kecil musuh elit," komentar Theresa dingin.

Audin pun menganggukkan kepalanya setuju.

Pasukan reguler garnisun yang telah memecah barisan dan menarik langkah mundur seketika bernapas lega kala menyaksikan dua sosok raksasa tengah melangkah mendekat dari arah belakang.

Bahkan tanpa perlu melontarkan sepatah kata pun, gelombang rasa aman terpancar nyata dari sepasang mata para prajurit tersebut.

"Mundurlah sembari mempertahankan formasi dinding pertahanan!" suara menggelegar milik Audin memiliki volume yang teramat luar biasa, terlepas dari intonasinya yang tenang. Gelombang suaranya menggema luas melintasi medan perang. Sebagian pasukan reguler serentak melayangkan salam hormat militer lalu bergerak mundur teratur.

"Kehadiran Ksatria Ordo telah terkonfirmasi! Kita menarik langkah mundur sembari mempertahankan barisan formasi! Kalian para tentara bayaran, lekas mundur ke belakang!" seru seorang bintara garnisun kepada sekelompok tentara bayaran yang sempat terjebak di tengah kekacauan.

Mereka adalah sekelompok petarung udik asal wilayah selatan yang baru saja bergabung mengawal karavan dagang.

"Kalian berniat menelantarkan mereka berdua menghadapi pasukan monster itu sendirian?!" tanya salah seorang tentara bayaran terbelalak heran.

"Bukankah kalian melangkah ke kota benteng ini murni karena mendengar rumor kehebatan The Order of the Madmen Knights?" sahut sang bintara sembari terus menggerakkan kakinya mundur.

"Tapi tetap saja..."

Daratan benua terbentang teramat luas.

Bahkan andai mereka telah berulang kali mendengar desas-desus rumor kehebatan ordo tersebut, ada banyak orang yang pantang mempercayainya sebelum menyaksikannya secara langsung menggunakan mata kepala mereka sendiri.

Namun apa lagi yang sanggup mereka perbuat?

Memaksakan diri bertarung di tempat ini tak ubahnya melemparkan nyawa mereka ke liang kubur secara sia-sia.

Mereka pun bergegas menarik langkah mundur.

Raut wajah salah seorang tentara bayaran masih tampak teramat tegang dan pucat.

Dia adalah pria pribumi asal Zaltenbuck di bawah wilayah kekuasaan Duke of Okto, dan telah lama berkiprah sebagai seorang tentara bayaran di sektor perbatasan selatan hingga saat ini.

Dia memang sempat mendengar rumor perihal kehebatan The Order of the Madmen Knights, namun dirinya tak sanggup merasakannya secara nyata.

Dunia para ksatria legenda itu terlalu berbeda jauh dari realitas hidup yang dia jalani selama ini.

Dia selama ini murni hanya disibukkan oleh kecamuk perang lokal antarklan serta perburuan binatang buas di wilayah selatan.

'Apakah situasi ini benar-benar bakal baik-baik saja?'

Dan tepat di hadapan mata mereka, ancaman mengerikan yang sedari tadi dicemaskan oleh sang tentara bayaran akhirnya menampakkan wujud aslinya.

Segerombolan legiun mayat hidup (undead).

Monster-monster terkutuk yang dibangkitkan paksa dari kematian—entitas yang dikenal sebagai kaum Draugr—menyerbu maju secara serentak layaknya sebuah gelombang pasang.

Pemandangannya sedemikian pekatnya hingga memicu ilusi optik seolah sebongkah batu karang raksasa yang tersusun murni dari tumpukan daging busuk dan serpihan tulang tengah berguling deras menerjang ke arah mereka.

Aroma busuk bangkai seketika menusuk rongga hidung kala lapisan kulit yang membusuk robek dan berhamburan jatuh ke tanah.

Murni karena tumpukan mayat-mayat busuk telah bangkit berdiri demi melangsungkan pembantaian.

Di antara barisan gelombang kematian itu, kawanan prajurit kerangka (Skeleton Soldiers) yang menopang raga mereka menggunakan tulang-belulang putih serta barisan ksatria kerangka (Skeleton Knights) yang terbungkus oleh zirah daging busuk turut terlihat berbaris rapat.

Perisai pelindung mereka dipahat dari tengkorak kepala manusia, sementara senjata tempur mereka adalah bilah pedang yang diasah dari tulang belulang.

Dan di tengah-tengah kawanan tersebut, berbaris puluhan sosok monster raksasa bernama Flesh Golems (Golem Daging).

Draugr, sebuah terminologi umum yang disematkan bagi segenap entitas mayat hidup.

Kawasan di depan gerbang benteng kini dipadati oleh barisan monster mengerikan yang dibangkitkan melalui seni sihir terlarang necromancy.

Tepat di poros pusat barisan, sesosok entitas tampak duduk angkuh di atas sebuah takhta megah yang tersusun dari jalinan tulang belulang sembari memandang rendah ke arah kerumunan manusia di bawah.

Takhta tulang tersebut dipikul tegak oleh empat sosok prajurit kerangka perkasa.

"Aku tidak akan bertele-tele melontarkan banyak kata. Serahkan sang Anak Bintang (Child of the Stars) ke tanganku sekarang juga. Maka takkan ada bencana apa pun yang menimpa kalian. Setidaknya kalian sanggup meloloskan diri dari takdir pembantaian yang mengerikan. Kalian pasti sudah tahu persis siapa sosok sang Anak Bintang tanpa perlu kujelaskan lagi, bukan?" titah sang penyihir necromancer yang bertengger di atas takhta tulang.

Audin menatap lurus ke arah gerombolan legiun kematian tersebut.

Mengapa makhluk-makhluk terkutuk semacam ini terus bermunculan tanpa henti, tak peduli sebanyak apa pun mereka dihancurkan, diremukkan, dan dikirimkan ke haribaan Tuhan?

Apakah dirinya benar-benar dipaksa harus meremukkan tengkorak kepala sang 'Bapak dari Segala Kematian' yang bersemayam di dasar Demon Realm agar makhluk-makhluk busuk ini musnah selamanya dari muka bumi?

"Aku sanggup mendengar kidung ratapan dari jiwa-jiwa yang telah mati," bisik Theresa pelan.

Audin pun sanggup mendengar suara jeritan batin mereka dengan sangat jelas.

Mereka adalah jiwa-jiwa malang yang mendambakan kematian sejati.

Jasad-jasad mayat yang merindukan peristirahatan abadi tengah melolong menangis di dalam belenggu sihir gelap.

"Mari kita bersihkan seluruh kekotoran ini," titah Audin dingin.

Daftar barang persembahan yang bakal dia kirimkan ke haribaan sisi Tuhan tampaknya telah bertambah banyak hari ini.

Para necromancer pemuja kematian adalah komoditas kotor yang paling didambakan oleh Tuhan untuk segera diadili.

Dia wajib mengirimkan bajingan ini ke hadapan-Nya secepat mungkin.

"Ya Tuhan, demi kemuliaan asma-Mu yang agung, hamba mengangkat kedua tinju hamba!"

Theresa mulai melantunkan kidung kidung sucinya.

Pendaran cahaya putih benderang mulai memancar meluap menyelimuti sekujur raganya.

Sang penyihir necromancer yang menyaksikan fenomena tersebut berujar sinis, "Rupanya kalian tetap bersikeras menenggak cawan murka kematian. Akulah sang penguasa necromancy yang mengomandoi seratus arwah kematian (Master of a Hundred Phantoms)!"

Krais telah memperhitungkan bahwa di antara jajaran anggota Astrail, dipastikan bakal ada fraksi yang secara khusus menargetkan penyerbuan ke arah benteng kota.

Bukankah Esther telah membeberkan bahwa hobi sang penyihir untuk membangkitkan tumpukan mayat hampir mustahil bakal berubah?

Krais telah menggerakkan divisi ksatria berlandaskan informasi intelijen berharga yang disampaikan oleh sang penyihir wanita.

Dan bentrokan mereka kini meletus tepat di depan dinding benteng kota.

Dengan kata lain, ada segudang pasang mata yang tengah mengamati jalannya laga hidup-mati ini.

Pasukan reguler garnisun dan kelompok tentara bayaran yang telah menarik langkah mundur, para saudagar karavan yang tengah melarikan diri, barisan warga sipil yang tengah mengantre masuk di depan pos gerbang, serta para pedagang kaki lima yang menggelar lapak di luar benteng.

Di bawah tatapan ribuan pasang mata tersebut, lima ekor Flesh Golem raksasa melesat menerjang secara simultan.

Diiringi suara ledakan tanah yang terkoyak dahsyat, kelima monster daging itu menyerbu lurus ke arah sang pria raksasa.

Sepasang mata sang tentara bayaran seketika terbelalak lebar saking terkejutnya.

Dia bahkan tidak sanggup menangkap pergerakan kelima golem raksasa tersebut secara utuh menggunakan matanya.

Dia bahkan belum sempat mengerjapkan matanya, namun kelima monster itu telah melompat membubung tinggi ke angkasa lalu menghujam deras ke depan.

Di matanya, adegan maut itu tersaji layaknya rekaman bingkai gambar yang patah-patah.

Seekor golem melompat menerkam dari atas, seekor golem menyerbu dari arah depan, serta golem-golem lainnya menerjang buas dari arah kiri dan kanan.

Dia terpaku menyaksikan adegan tersebut tanpa sanggup menelan ludah, bahkan tanpa berani menghembuskan napasnya.

'Pria raksasa itu dipastikan mati tercabik-cabik!'

Kelima ekor Flesh Golem itu bukanlah kawanan monster liar kelas teri.

Mereka adalah senjata pembunuh biologis yang sengaja dirancang khusus demi membantai seorang ksatria lapis baja.

Monster-monster modifikasi yang telah melampaui serangkaian eksperimen sihir gelap yang tak terhitung jumlahnya.

Dan sang tentara bayaran menyaksikan sebuah pemandangan ajaib yang seketika menghancurkan seluruh ekspektasi logikanya berkeping-keping.

BLAAR-BLAAR-BLAAR!

Tekanan udara yang terkompresi meledak dahsyat diiringi suara dentuman halilintar. Proses serangannya sama sekali tidak tertangkap oleh mata telanjang. Yang terpampang nyata di depan matanya hanyalah gumpalan-gumpalan daging busuk yang seketika tersedot terlempar ke dalam pusaran badai cahaya putih menyilaukan.

Bruk-bruk-bruk!

Guyuran hujan serpihan daging busuk seketika berjatuhan membasahi bumi.

"...Teknik gila macam apa itu barusan?!" gumam sang tentara bayaran tercekat, dan seorang prajurit garnisun di sampingnya menyahut bangga, "Memangnya apa yang kau harapkan? Pria perkasa itu adalah sang Ksatria Dewa Perang (Knight of the War God)!"

Audin, sang petarung fanatik suci yang mengabdi di bawah panji The Order of the Madmen Knights.

Namanya telah melegenda harum di antara barisan pasukan garnisun.

Tepat di sampingnya, sang ksatria wanita half-giant yang bersenjatakan pedang dan perisai baja mulai bergerak melancarkan serbuannya.

Dia bergerak lincah sembari meninggalkan barisan bayangan ilusi di belakangnya, mengayunkan pedang dan perisainya dengan keluwesan yang teramat kontras dibanding postur tubuh raksasanya.

Di setiap lintasan yang dia lalui, sekelompok monster Draugr seketika meledak remuk dan ambruk bergelimpangan menjadi abu.

"Bawa ke hadapan Tuhan sang penguasa sepuluh ribu arwah! Jumlah ampas sebanyak ini sama sekali tidak memadai!" geram Audin sembari memanggil kembali rekaman memori pertempuran dahsyatnya di perang saudara Naurilia tempo dulu.

Kedua telapak tangan sang penyihir yang mengklaim diri sebagai penguasa seratus arwah seketika gemetar hebat tak terkendali.

'Bencana macam apa sebenarnya ini?!'

Kelima ekor Flesh Golem andalannya dihancurkan luluh lantak semudah membalik telapak tangan?!

Pada saat yang sama, puluhan pasukan mayat hidupnya lenyap menguap dalam sekejap.

Dia selama ini selalu membanggakan dirinya sebagai sebuah divisi militer berjalan tunggal (one-man army).

Itu adalah klaim yang sangat wajar mengingat dirinya sanggup mengomandoi seratus legiun arwah seorang diri.

Itu adalah kapasitas tempur yang bahkan diakui oleh para rival terkuatnya yang menggunakan metode sihir berbeda.

Dan kini, simbol kekuatan militer kebanggaannya tengah dihancurkan dan diremukkan berkeping-keping di depan matanya.

Persis seperti apa yang telah diperingatkan oleh Esther, mereka telah melangkah menyerbu tanpa pernah menakar kapasitas kekuatan sejati dari sang ordo ksatria.

Dan hasil akhirnya teramat sangat tragis.

Tentu saja tragedi itu murni dirasakan dari perspektif sang penyihir necromancer.

"Namaku adalah Worhope. Aku sejatinya tidak menaruh dendam pribadi kepada kalian, namun jasad raga kalian adalah material berharga yang teramat sangat kudambakan."

Ropord, Fel, dan Dunbakel bergerak maju bersama-sama sebagai satu regu trio.

Ketiganya tengah berdiri berhadapan langsung melawan sesosok penyihir di sisi yang bertolak belakang dari posisi Encrid, dengan benteng Border Guard sebagai titik pusat porosnya.

Medan laga mereka bertempat di kaki bukit pegunungan selatan yang membentengi wilayah Green Pearl di ujung jalur pegunungan.

Pria yang baru saja menampakkan diri dari balik rimbunnya semak belukar musim panas itu membawa dua sosok Ksatria Kematian (Death Knights) mengiringi di sampingnya.

Dua sosok ksatria mayat hidup yang perkasa, satu mengenakan setelan baju zirah pelat hitam pekat dan yang lainnya terbungkus oleh zirah putih bersih.

Sang penyihir bernama Worhope tidak memanipulasi pasukan arwah dalam jumlah massal, melainkan murni bertualang hanya dengan mengandalkan dua sosok Death Knights elit tersebut.

Faktanya, Worhope telah menemukan artefak peninggalan ksatria mayat hidup kuno di sebuah situs reruntuhan lalu menyerap dan melatih formula sihirnya.

Dia pun telah memodifikasi anatomi tubuhnya sendiri menggunakan sihir gelap, sehingga dirinya adalah sesosok penyihir tempur (battle magician) yang memiliki rasa percaya diri tinggi terhadap keahlian fisiknya yang setara dengan seorang ksatria.

"Kurasa tidak perlu sampai kita bertiga turun tangan bersamaan untuk membereskan bajingan ini."

"Tuan Krais memang selalu mencemaskan hal-hal secara berlebihan."

Tepat saat Fel dan Ropord melontarkan kelakar santai mereka, Dunbakel turut menimpali dengan celetukannya sendiri. "Pria di tengah itu tampaknya adalah ampas yang paling lemah di antara mereka. Aroma tubuhnya tercium sangat busuk."

Worhope mendambakan untuk merenggut bukan hanya sang Anak Bintang semata, melainkan jasad para ksatria The Order of the Madmen Knights itu sendiri.

Dia adalah satu-satunya penyihir di dalam organisasi Astrail yang menaruh taksiran tinggi terhadap keahlian tempur The Order of the Madmen Knights.

Itu sangat alami mengingat fokus ilmu utamanya adalah seni memanipulasi barisan Death Knights.

'Jika musuhku hanyalah tiga ksatria, bukan seisi ordo ksatria secara utuh.'

Worhope menjilat bibirnya yang kering dengan penuh ketamakan.

Dia tidak bakal repot-repot melangkah sejauh ini andai organisasi Astrail tidak menggelar penyerbuan, namun karena genderang perang telah bertalu, dia berniat memperkaya koleksi boneka kematian miliknya.

"Kurasa aku sanggup membereskan dua ksatria mayat hidup itu seorang diri."

"Apa ada urgensi bagimu untuk bertindak pamer seperti itu?"

"Bajingan di depan kita tampaknya bukan tipe musuh yang sudi diajak berdiskusi perihal kehormatan."

Terlepas dari perdebatan santai yang dilontarkan oleh ketiga ksatria di hadapannya, Worhope menyembunyikan telapak tangan kirinya di balik punggung lalu menarik seutas tali kantong racun yang terpasang rahasia di pergelangan tangannya.

Merespons gestur tarikan tersebut, serbuk racun tak kasat mata seketika berhamburan dan menyebar menyatu ke dalam udara.

Pada saat yang sama, dia merapalkan formula sihir pemanggil hembusan angin sepoi-sepoi yang lembut.

Dia menebarkan racun mematikan tersebut secara teramat senyap dan licik.

Keahlian andalannya adalah menaburkan serbuk racun tak terlihat sembari berpura-pura melancarkan tebasan pedang pembuka.

Ketiga ksatria di hadapannya saat ini tengah asyik saling berdebat satu sama lain.

Dengan kata lain, ini adalah momentum emas yang teramat sempurna untuk melancarkan racun mautnya.

Ketiga ksatria itu mendadak menghentikan percakapan mereka secara serentak lalu menolehkan kepala mereka bersamaan.

Lalu mereka menatap lurus ke arah sosok Worhope, dan sepasang mata dari ketiga ksatria itu serempak memancarkan kilatan binar yang teramat tajam dan mematikan.

"Aroma racun ini tercium sangat menjijikkan."

Di antara mereka, sang gadis beastkin membuka suaranya dingin, dan kedua ksatria manusia di sampingnya serentak mengambil satu langkah mundur secara tenang.

Ketiga ksatria perkasa ini adalah barisan petarung tangguh yang telah berulang kali dihajar babak belur oleh ayunan kapak brutal milik Rem, telah melangkahi siksaan teror mematikan milik Jaxon, serta telah ditempa secara sempurna melalui ratusan sesi sparring hidup-mati melawan sosok Encrid.

Ketajaman indra keenam yang bersemayam di dalam jiwa mereka berada di dimensi tingkatan yang sama sekali berbeda.

Seorang ksatria sejati adalah sosok petarung yang selalu melangkahi batas ketahanan mereka melalui rutinitas latihan disiplin tanpa henti, sehingga reaksi refleks ini adalah sebuah kewajaran mutlak.

Pada kenyataannya, sepanjang hidupnya sosok Worhope belum pernah sekali pun berhadapan langsung dengan seorang ksatria sejati yang ditempa oleh neraka kehidupan.

Dua sosok Death Knights yang dia banggakan selama ini hanyalah sekadar artefak peninggalan masa lalu yang kebetulan dia pungut kala menjelajahi sebuah situs reruntuhan kuno.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.