Bab 842: Musuh Alami
Rem mengamati sang penyihir kerdil dari sektor kiri yang sengaja memperlebar jarak tempur sembari melangkah memutar ke samping, bergerak seolah hendak mengepung dirinya dari sudut buta.
Rem menyesuaikan derap langkah kakinya, melangkah santai demi menghadang rute gerak sang lawan.
Sang penyihir kerdil seketika memperlebar jarak tempurnya kian jauh.
Niat liciknya teramat jelas: memisahkan Rem dari rombongan ksatria lainnya.
Rem membaca siasat tersebut dan memilih untuk meladeni permainannya dengan senang hati.
Keahlian khusus milik sang penyihir yang terbungkus oleh setelan zirah pelat perak ini adalah menghujani musuhnya menggunakan rentetan formula sihir tak kasat mata.
Gelar kehormatan yang dia sandang adalah sang 'Kematian Tak Kasat Mata (Invisible Death)'.
Sang penyihir berhenti tepat di titik koordinat yang dia dambakan, menakar jarak serang, lalu membidik pergelangan kaki Rem menggunakan sihir bernama Tangan Tak Kasat Mata (Invisible Hand).
Kapasitas daya hantam seorang pendekar pedang dipastikan bakal terpangkas separuh andai kedua kakinya berhasil dibelenggu.
Itu adalah doktrin taktik standar yang sangat lumrah.
Meskipun para penyihir ini minim pengalaman tempur nyata dan dipadati oleh kesombongan buta, mereka tetap memahami dasar-dasar cara bertarung.
Satu-satunya bencana fatal bagi mereka adalah fakta bahwa lawan yang kini mereka hadapi bukan sekadar petarung berpengalaman biasa, melainkan barisan mahaguru pembantai di medan laga.
Rem mengangkat telapak kaki kirinya dengan santai.
Cengkeraman tangan tak kasat mata seketika menyapu ruang hampa udara tepat di titik di mana telapak kakinya berpijak sesaat lalu.
Permukaan tanah meledak dahsyat diiringi hamburan gumpalan tanah yang membubung ke udara.
Rem menyunggingkan seringai lebarnya.
Bajingan kerdil ini rupanya tengah memperagakan trik murahan yang teramat menyedihkan?
Sang penyihir di balik helm bajanya turut menangkap raut wajah sang pria barbar tersebut.
'Pria biadab itu berani tersenyum mengejek diriku?'
Tersenyumlah sepuas hatimu sekarang, sebab sebentar lagi aku bakal membuatmu meratap menangis sembari meneteskan ingus dan darah segar.
Jarak di antara mereka terbentang sangat ideal.
Sekitar lima belas langkah kaki.
Seorang penyihir yang telah merengkuh tingkatan keheningan tanpa suara (tacitus) sanggup merapalkan formula sihir tanpa perlu melafalkan sepatah kata pun.
Dan itulah yang tengah dia eksekusi.
Dia merajut segel tangan magisnya lalu menjentikkan jemarinya dengan luwes.
Kali ini proyektil Panah Tak Kasat Mata (Invisible Arrow) yang meluncur.
Wuuush!
Diiringi suara desingan udara yang terkoyak tajam, sebilah proyektil tembus pandang melesat membidik tubuhnya.
Hal yang menggelikan adalah fakta bahwa Rem telah akrab dan terbiasa memanipulasi ilmu perdukunan shamanisme sejak masa kanak-kanaknya, sehingga dirinya teramat sangat piawai dalam berhadapan dengan 'hal-hal yang tak kasat mata'.
Pengalaman tempurnya dalam menghadapi entitas gaib semacam ini bahkan kemungkinan besar melampaui jam terbang milik Jaxon.
Rem mengangkat kapak tempurnya lalu mengayunkannya dengan buas.
DHUAAR!
Tekanan udara meletup keras, dan anak panah tak kasat mata itu seketika pecah berkeping-keping di udara.
Serpihan-serpihan dari formula mantra yang hancur itu tetap bersifat tembus pandang.
Sang penyihir rupanya telah menyuntikkan satu jebakan licik tambahan di dalam serangannya.
Pecahan-pecahan mantra yang hancur itu mendadak memutar arah dan melesat kembali menghujani tubuh Rem layaknya proyektil liar.
'Sebuah formula sihir yang sedari awal dirancang dengan kalkulasi bahwa serangannya bakal berhasil ditangkis oleh musuh.'
Para penyihir memang terkenal sangat licik dan manipulatif.
Mereka selalu menikmati seni melancarkan serangan yang dibekali oleh dua atau tiga lapisan jebakan tersembunyi.
Itu adalah salah satu doktrin sihir yang telah dipelajari oleh Rem dari sosok Esther.
Sepasang lengan kekar milik Rem bergerak sibuk di udara.
Wuuush-wuuush-wuuush!
Tepat saat dirinya mengayunkan kapak tempurnya dengan kecepatan supersonik, sebuah dinding pembatas alami seolah tercipta membentengi bagian depan tubuhnya.
Serpihan-serpihan panah gaib menghantam dinding ayunan kapak tersebut, meledak remuk, lalu berhamburan musnah menjadi debu.
Sang penyihir di balik helm baja peraknya mengernyitkan sebelah alisnya heran.
Pria barbar itu sanggup memblokir jebakan pantulan tersebut?
Kecepatan kedua tangannya benar-benar sangat mengerikan.
Pikiran takjub semacam itulah yang mendadak melintas di kepalanya.
Sementara itu, Rem murni menilai bahwa bajingan kerdil di depannya ini benar-benar sangat mahir dalam memperagakan trik-trik picik yang menggelikan.
"Kau boleh bersuara jika memang membutuhkan bantuanku."
Jaxon membuka suaranya dari belakang punggung Rem.
Membaca dan menangkap anomali tak kasat mata menggunakan ketajaman indrawi adalah keahlian spesialisasi milik seorang Jaxon.
Itulah sebabnya mengapa dirinya melontarkan tawaran tersebut.
Tentu saja jika kau mencermatinya secara mendalam, kalimat tawarannya terdengar sangat menyerupai sebuah sindiran ejekan.
Apa lagi label yang pantas disematkan selain sebuah provokasi ejekan kala melontarkan tawaran semacam itu kepada sosok seperti Rem?
"Jika kau berani mencampuri urusanku, aku bakal membelah tengkorak kepalamu dengan sama indahnya."
"Kurasa aku jauh lebih mahir dalam urusan membelah kepala manusia secara indah. Aku bisa membantumu mengeksekusi hal itu jika kau memang menginginkannya, jadi kau cukup mengatakannya padaku."
Rem memamerkan senyuman narsis yang serupa lalu menimpali, "Pria yang sanggup membelah tengkorak kepala manusia dengan cara yang paling indah, itulah diriku!"
Itu adalah intonasi nada narsis yang baru saja dia serap murni setelah menyimak celotehan Esther sesaat lalu.
Setelah pertarungan berdarah ini resmi berakhir nanti, Esther dipastikan bakal melontarkan kutukan sihir maut kepada sosok Rem dengan penuh kesungguhan hati.
"Terserah apa maumu saja," sahut Jaxon sembari menarik langkah mundur.
Sedari awal pria pembunuh itu memang sama sekali tidak berniat turun tangan membantu.
Dia kini telah resmi berubah menjadi seorang penonton yang santai.
Dia yang memulai provokasi tersebut, namun setelahnya sama sekali tak ada ruang baginya untuk ikut campur.
"Berani-beraninya kalian para bajingan mengabaikan diriku?!"
Sang penyihir yang terkurung di dalam baju zirah perak meledak murka sembari terus merapalkan formula mantranya.
Taktik tempurnya sejatinya teramat sangat sederhana dan monoton.
Dia murni berniat memperlebar jarak sejauh mungkin lalu menghujani lawannya menggunakan instrumen tak kasat mata layaknya tangan gaib, panah tembus pandang, serta bilah pisau angin.
Dengan kata lain, seluruh strateginya murni berfokus pada upaya mengulur waktu tanpa pernah membiarkan sang lawan memangkas jarak.
Baju zirah pelat perak yang dia kenakan pun berfungsi murni demi membentengi keselamatan raganya sendiri.
Dan atas dasar itulah dirinya mulai merapalkan sebuah formula sihir skala besar yang baru.
'Mengulur waktu.'
Rem hanya berdiri mematung menatap lurus ke arah sang lawan sembari menikmati rentetan trik yang tengah dimainkan oleh pria kerdil tersebut.
'Apa bajingan ini tengah mempersiapkan sebuah mantra pamungkas?'
Bukanlah perkara sulit untuk menebak arah gerakannya.
Apakah para penyihir selalu bertarung menggunakan serangkaian manuver taktis yang rumit?
Tidak, di tingkatan penyihir semacam ini, sama sekali tak ada manuver taktis yang berbobot.
'Dibandingkan dengan ilmu pedang ortodoks milik komandan yang teramat menjengkelkan itu.'
Bukankah pola serangan penyihir ini berkali-kali lipat lebih mudah untuk dibaca?
Ilmu pedang tipu daya milik Encrid adalah mahakarya dari sebuah taktik pertarungan yang teramat menyebalkan, memadukan manipulasi psikologis dan eksploitasi refleks saraf lawan secara simultan.
Oleh sebab itu, setelah berulang kali digembleng dalam sesi sparring melawan sosok Encrid, berhadapan langsung dengan musuh monoton semacam ini terasa tak ubahnya sebuah liburan yang menyenangkan.
Rem menyipitkan kedua matanya.
Kala mengamati permukaan baju zirah perak tersebut secara mendalam, dia samar-samar sanggup melihat seberkas lapisan energi sihir yang menyelimuti permukaannya.
'Itu pasti formula mantra proteksi.'
Persis seperti Ragna yang menyerap ilmu menebas mantra murni lewat mengamati aksi rekan-rekannya, Rem pun telah mempelajari konsep serupa melalui pengamatan visual.
Dia memutar tali ketapelnya di udara.
Wuuush-wuuush!
Bahkan belum sempat satu tarikan napas berlalu, sebuah piringan putaran berkecepatan tinggi telah tercipta berputar di atas kepalanya.
Dia merapalkan formula mantra perdukunan penguat kekuatan fisik yang dikenal sebagai Jantung Binatang (Heart of the Beast).
Lalu dia menyerap luapan tenaga buas tersebut dan menyalurkannya berputar dengan engsel pundak lengannya sebagai poros putarannya, dan dalam sekejap mata seluruh persiapannya telah tuntas sempurna.
Rem melepaskan proyektil ketapelnya melesat ke depan.
Memanfaatkan lengannya layaknya sebatang cambuk elastis, dia membaca ritme putaran ketapel menggunakan kepekaan indrawinya lalu melontarkannya lurus ke sasaran.
Sebutir proyektil batu bulat yang bersarang di dalam kantong kulit meluncur deras merobek atmosfer.
DHUAAR!
Suara dentuman udara yang meletup dahsyat seketika menggema di udara.
BLAAR!
Proyektil batu yang dilontarkan oleh Rem meremukkan kepadatan udara dan seketika meremukkan formula sihir pelindung yang tertanam di baju zirah perak sang penyihir.
Cairan berwarna perak kental tampak mengucur menetes di sepanjang pelat zirahnya.
Dia tidak tahu pasti efek sihir apa yang tertanam di dalam cairan tersebut, namun yang pasti salah satu lapisan pertahanan sang musuh baru saja pecah berantakan.
Pada saat yang sama, formula mantra skala besar yang tengah dirapalkan oleh sang penyihir seketika buyar terganggu.
"...A-apa yang baru saja terjadi?!"
"Apa katamu barusan? Kau mengira dirimu memegang keunggulan mutlak murni karena senjataku tidak sanggup menjangkaumu? Dasar manusia bodoh yang tolol!"
Rem yang tengah menikmati momentum kemenangannya melontarkan ejekan tajam menggunakan untaian kata yang telah melekat di bibirnya.
Sang penyihir kerdil berzirah perak seketika menembakkan rentetan Panah Tak Kasat Mata secara membabi buta.
Guyuran hujan panah gaib meluncur deras layaknya badai angin topan.
Rem berkelit menghindarinya dengan cara melemparkan tubuhnya meliuk ke samping.
Itu bukanlah manuver yang sulit untuk dieksekusi.
Terlepas dari karakteristiknya yang tidak kasat mata, kuantitas proyektil yang meluncur sama sekali tidak melampaui angka seratus batang.
Di medan perang kolosal yang sesungguhnya, ratusan anak panah beracun meluncur menghujani langit secara serentak. Menghindari serangan semacam ini berkali-kali lipat lebih mudah.
Dan andai dirinya tidak menghancurkan panah-panah tersebut di udara, proyektil gaib itu tidak bakal pecah memantul menjadi serpihan liar.
Sang penyihir terus melancarkan dinding pembatas tak kasat mata, jeruji gaib, serta di sela-selanya melepaskan segumpal bola api membara, namun Rem dengan sangat lincah menghindari apa yang sanggup dia hindari dan mencegat sisanya di udara menggunakan ayunan kapaknya.
TRANG! DHUAAR! CRIIING!
Rentetan suara dentuman keras meletup bersahut-sahutan memekakkan telinga.
Proyektil batu yang disuntik oleh kekuatan perdukunan shamanisme sanggup menindas dan membuyarkan eksistensi formula sihir itu sendiri.
Itu membuktikan bahwa proyektil yang dia lontarkan telah dibekali oleh mantra perdukunan kuno yang bertugas mencerai-beraikan aliran mana.
Proyektil yang kini dia hujankan tanpa henti menyimpan daya magis untuk membungkam dan meredam apa pun trik licik yang tersembunyi di balik formula sihir lawan.
Sang penyihir kerdil kini telah resmi terjerembap ke dalam jurang krisis darurat.
Dia berusaha keras membantai sang lawan dengan merapalkan sebaris mantra terlarang.
Namun seluruh proses perapalan mantra maut tersebut menuntut ketersediaan waktu yang memadai.
"Apa?! Aku tidak bisa mendengar suaramu! Kau sebenarnya mau bicara apa, hah?!"
Sang lawan sama sekali tidak memberinya celah ruang bernapas sedetik pun.
Sang penyihir berzirah perak teramat sibuk murni hanya demi memblokir rentetan proyektil yang menghujani tubuhnya.
Dan pada satu detik berikutnya, sosok sang pria barbar mendadak lenyap menguap dari garis pandang matanya.
"Hei kerdil, kau mengira dirimu telah berada di jarak yang aman murni hanya bermodalkan celah sejauh ini?"
Sebuah suara dingin berbisik tepat di belakang tengkuk lehernya.
Seluruh bulu kuduk di sekujur tubuh sang penyihir seketika berdiri meremang ketakutan.
Momentum serangan balik ini dieksekusi dengan tingkat ketepatan waktu yang teramat luar biasa.
Itu adalah celah detik di mana formula mantra pelindung yang tertanam di baju zirahnya telah terkuras habis setelah berulang kali dihantam oleh proyektil berdaya shamanisme milik sang lawan.
Meskipun demikian, dirinya sejatinya masih sanggup menanamkan formula mantra pertahanan baru ke baju zirahnya hanya dalam tempo satu atau dua tarikan napas singkat.
Ada segudang formula sihir pertahanan yang terinspirasi dari anatomi seekor kura-kura yang bersembunyi di balik cangkang kerasnya.
Dia memiliki rasa percaya diri yang tinggi perihal kapasitas bertahannya, bahkan andai dirinya tidak sanggup membalas serangan dalam sekejap, namun sosok pria perkasa yang menyelinap masuk ke dalam celah detik tersebut telah mengayunkan kapak tempurnya.
Objek visual terakhir yang tertangkap oleh sepasang mata sang penyihir adalah seberkas lintasan garis abu-abu yang teramat dingin.
Rem mengayunkan kapak tempurnya dan memenggal tuntas kepala sang penyihir dalam satu sabetan bersih.
Dia menarik langkah kaki kirinya ke belakang lalu memuntir engsel pinggangnya dengan kekuatan penuh.
Bilah kapak yang dipadati oleh momentum kinetik dahsyat itu turut diselimuti oleh pancaran mantra perdukunan shamanisme.
KRAAAK!
Mata kapak baja yang meremukkan pelat zirah perak menuntaskan tugasnya dengan teramat sempurna.
Senjata itu menghantam tepat ke arah leher sang lawan.
Kepala sang penyihir, lengkap bersama helm baja peraknya, berputar melayang di udara lalu jatuh berdebam menghantam tanah.
Bagi sosok seperti Rem, hasil akhir pembantaian ini adalah sebuah keniscayaan yang sangat alami.
Dirinya telah terlatih dalam seni berburu satwa liar sejak usia belia, dan bahkan hingga detik ini, dia terus mengasah taktik bertarungnya dengan cara memburu celah kelengahan sesaat kala melangsungkan sesi sparring hidup-mati melawan sosok Encrid.
Menghancurkan leher seorang penyihir tepat di celah detik kala mantra pelindungnya luntur adalah tugas sepele yang mustahil gagal dia eksekusi.
Jaxon yang menyaksikan trik pembunuhan yang diperagakan oleh Rem berdecak kagum di dalam relung hatinya.
'Pria biadab ini benar-benar musuh alami bagi siapa pun yang mengandalkan formula sihir.'
Tentu saja ada sosok pria lain yang berkali-kali lipat jauh lebih mengerikan dibanding sang pria barbar tersebut.
"Kenapa sihirku sama sekali tidak mempan padamu?!" teriak sang penyihir pasir besi hitam sembari memuntahkan gumpalan darah kental.
Dia telah menerbangkan nampan hitamnya, mengayunkan bilah pedang pasirnya, serta menciptakan peti mati besi hitam demi mengubur raga sang lawan hidup-hidup.
Dan Encrid telah menebas dan memotong seluruh formula mantra tersebut hingga hancur berkeping-keping.
Tepat pada detik sihir-sihir itu bersentuhan dengan mata pedang Dawnforged miliknya, efek magis dari mantra tersebut seketika padam tuntas.
Menebas Mantra Sihir (Spell Slaying).
Sebuah keahlian sakral yang bahkan seorang ksatria jenius seperti Ragna tidak sanggup menirunya secara instan, serta sebuah teknik yang bahkan seorang master shamanisme seperti Rem tidak sanggup mengaplikasikannya secara murni.
Encrid merasakan denyut aliran mana di udara, membedahnya, lalu membelahnya dengan presisi mutlak.
Itu adalah sebuah pencapaian ilmu yang bahkan sosok Jaxon yang mengajarkan teknik sensor indrawi kepadanya pun mustahil sanggup mengeksekusinya.
Pada kenyataannya, tak ada seorang pun manusia di muka bumi yang memiliki pengalaman tragis berulang kali terbakar mati oleh mantra terlarang api berjalan lalu berulang kali menebas denyut sihir tersebut dalam ratusan siklus kematian, sehingga kapasitas pemuda ini adalah sebuah kewajaran mutlak.
Bagi orang awam yang tidak memahami rahasia di baliknya, ini adalah kilasan dari bakat tersembunyi tanpa batas yang bersemayam di dalam jiwa pria bernama Encrid.
Jika Encrid merasa sangat gembira kala tak sanggup menakar batas kapasitas kekuatan milik sang Dragonkin Themares tempo hari, maka sang lawan di hadapannya merasakan kengerian yang bertolak belakang.
Sang penyihir pasir besi hitam dilanda oleh rasa teror yang teramat luar biasa.
'Seluruh sihirku sama sekali tidak berguna.'
Pria berambut hitam itu menebas dan mematikan setiap formula mantra yang dia rapalkan.
Dan pria itu terus memangkas jarak mendekat dengan derap langkah kaki yang teramat tenang dan stabil.
Encrid sejatinya sama sekali tidak memiliki niat untuk meneror mental lawannya.
Hanya saja...
'Sensasi menebas ini terasa sangat menyenangkan.'
...dirinya murni merasa sangat terpikat oleh tindakan membelah formula sihir itu sendiri.
Terlebih lagi, sang lawan di depannya terus-menerus merapalkan mantra pasir besi hitam tanpa kenal lelah.
Gumpalan serbuk besi hitam berkumpul padat lalu memadat membentuk siluet anatomi seorang prajurit manusia.
Postur tubuhnya, bilah pedang di genggamannya, serta kuda-kuda tempurnya tampak persis meniru perawakan fisik milik Encrid.
"Ini adalah sosok ksatria kembarmu!" seru sang penyihir pasir hitam sembari menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
Encrid mengayunkan pedangnya dan menebas tiruan tersebut seketika.
Apa pun bentuk rupa yang kau tiru dari luar, kau mustahil sanggup meniru kemurnian kehendak Will yang bersemayam di dalam jiwanya.
Bilah pedang yang meliuk berkat akselerasi satu titik meluncur sedemikian cepatnya hingga mustahil tertangkap oleh sepasang mata sang penyihir.
CRIIING!
Ksatria pasir besi hitam itu terbelah dua secara simetris lalu buyar berhamburan menjadi butiran serbuk debu.
Pertarungan ini sedari awal bukanlah laga yang pantang diselesaikan secara berlarut-larut.
Pedang milik Encrid secara harafiah menebas dan mencabut nyawa dari formula sihir itu sendiri.
Oleh sebab itu, dirinya adalah sesosok musuh alami yang paling sejati bagi segenap bangsa perapal mantra di muka bumi.
"Mustahil ada manusia monster gila seperti dirimu di dunia ini..."
Sang penyihir pasir besi hitam meregang nyawa tepat setelah melontarkan sebaris kalimat terakhirnya tersebut.
Dia ambruk berdebam ke tanah dengan sekujur raganya yang memelintir patah secara mengerikan, murni akibat memforsir penggunaan sihir secara membabi buta bahkan sebelum bilah pedang Encrid sempat menyentuh kulitnya.
Itu adalah tragedi yang meletus kala sebagian dari dimensi formula sihir jiwanya hancur luluh lantak akibat kelebihan beban sihir (magical overload).
Kedua lengan bawahnya tertekuk meliuk ke arah luar, serat-serat otot betisnya meletup pecah, serta kedua engsel pergelangan kakinya berputar terbalik hingga ujung-ujung jemari kakinya menghadap lurus ke arah belakang.
Lelehan darah merah pekat mengucur deras keluar dari setiap lubang di paras wajahnya.
Menguras dan melepaskan seluruh cadangan mana hingga menemui ajal kematian?
Tragedi ini pun merupakan bencana yang meletus murni akibat ketiadaan pengalaman tempur nyata.
Pria tua itu terlalu minim pengalaman dalam melangsungkan pertarungan hidup-mati dengan mengerahkan segenap jiwa raganya.
Sehingga dirinya memforsir kekuatannya jauh melompati batas aman tubuhnya dan berakhir dengan kebinasaan tragis semacam ini.
Itu adalah konsekuensi maut yang mustahil pernah dia rasakan kala dirinya membantai mangsa-mangsa lemah di masa lalu.
Tentu saja mengingat Encrid tidak memahami proses medis di balik fenomena tersebut...
"Pria ini mendadak mati sendiri?"
Encrid murni hanya sanggup memiringkan kepalanya dengan tatapan heran.
Esther yang menyimak suara selesainya pertempuran di sektor samping membuka suaranya datar, "Mari kita tuntaskan bagian kita juga."
Ini adalah kali pertama bagi seorang Esther untuk berhadapan langsung melawan sesosok penyihir wanita yang menguasai seni mengendalikan kawanan ular berbisa.
Lantas apakah hal itu menjadi sebuah kendala besar baginya?
Tentu saja tidak.
Sang penyihir wanita memutasi sebagian organ tubuhnya menjadi seekor ular dan melepaskan kawanan binatang sihir yang telah dia ternak menggunakan mana murni sebagai pakan tempurnya.
Esther memanggil kembali sosok Bonehead keluar ke medan perang setelah sekian lama.
Golek daging yang awalnya diciptakan dari jasad mayat kini telah bermutasi sempurna menjadi sesosok Penjaga (Guardian) elit.
Entitas pelindung itu terbungkus oleh setelan baju zirah pelat hitam pekat, dan di kedua tangannya yang masif, dia menggenggam sepasang gada besi berkepala tumpul yang pendek.
"Bantai mereka."
Bonehead mengayunkan gada besinya dan meremukkan setiap kepala ular berbisa yang melata di tanah.
Merespons pembantaian itu, sang penyihir wanita memuntir kedua lengannya dan memanggil seekor ular raksasa dari dimensi lain.
Ular raksasa itu meliuk membuka rahangnya hendak menelan raga Bonehead bulat-bulat, namun Esther mengayunkan Sabit D'Mulle (D'Mulle's Scythe) dan membelah raga sang ular raksasa secara vertikal dari kepala hingga ekornya.
Di permukaan, pertarungan ini tampak layaknya bentrokan elemen sihir biasa, namun sang penyihir wanita yang berhadapan langsung dengan Esther merasakan jurang pemisah kapasitas ilmu yang teramat mencolok.
'Kualitas kemurnian energi sihir miliknya berada di tingkatan yang sama sekali berbeda.'
Inikah sosok sang Anak Bintang yang melegenda itu?
Pikiran penuh rasa iri dan ngeri seketika merayapi benaknya.
Tentu saja kedahsyatan ilmu sihir milik Esther adalah buah manis yang dia bayar lunas melalui cucuran keringat dan kerja kerasnya sendiri.
Gelar Anak Bintang murni hanya merujuk pada anugerah bakat alami terlahir membawa kapasitas cadangan mana yang melimpah ruah.
"Sialan!"
Sang penyihir wanita bergegas menarik langkah mundur terbirit-birit.
Dia sama sekali tidak sudi meregang nyawa menjadi mayat di tanah tandus ini.
Dia melarikan diri dan bersembunyi di balik punggung pria yang dulu telah menyeret dirinya bergabung ke dalam lingkaran organisasi Astrail.
Sang mahaguru penyihir bernama Penadex.
Sosok yang telah berdiri mematung di medan perang mengedarkan pandangan matanya menatap ketiga jasad rekan penyihirnya yang telah tewas mengenaskan.
Ini adalah situasi keterdesakan yang teramat mutlak.
Dia wajib menjatuhkan sebuah pilihan krusial detik ini juga.
Apakah dirinya bakal pasrah meregang nyawa di tempat ini?
Ataukah melarikan diri menyelamatkan nyawanya?
Sanggupkah dirinya meloloskan diri dari kepungan barisan ksatria ini?
Kemungkinan besar dirinya mustahil sanggup melarikan diri hidup-hidup.
Esther, sang gadis cilik yang dulu menggenggam sebutir bintang sihir, kapasitas ilmunya kini telah berkembang melompat jauh hingga ke tingkatan yang mustahil sanggup dia kenali lagi.
Di mata Penadex, dia sanggup menyaksikan aliran energi spiritual murni yang menyelimuti sekujur raga Esther dengan teramat megah.
Terlepas dari rumor gelap yang menyebutkan bahwa gadis itu tengah terbelenggu oleh kutukan maut, kapasitasnya kini berada di tingkatan yang mustahil bisa dibandingkan dengan masa-masa kala dirinya dulu menatap sang gadis.
Dimensi formula sihir milik sang murid buronan telah berubah menjadi sedemikian luas dan agungnya hingga sanggup memicu rasa pusing di kepalanya.
'Kita telah kalah secara mutlak.'
Namun dirinya adalah seorang penyihir sejati.
Sosok penipu yang sanggup mencurangi logika hukum alam semesta.
Dia menatap sekelilingnya lalu berujar dingin, "Apakah kalian mengetahui misteri apa yang bersemayam jauh di ujung wilayah selatan benua?"
Pria yang melontarkan pertanyaan teka-teki tersebut seketika menumbalkan seluruh sisa cadangan energi sihir di dalam raganya.
Bahkan andai dirinya berhasil keluar hidup-hidup dari neraka ini, kesadaran ego jiwanya dipastikan bakal bermutasi total dibanding sebelumnya.
Namun nasib itu berkali-kali lipat jauh lebih baik dibanding harus meregang nyawa menjadi mayat.
'Setelah berhasil menelan sang Anak Bintang ke dalam ragaku nanti.'
Dia cukup menjelajahi dan merintis kebenaran formula sihir yang baru.
Dia menjatuhkan pilihannya, dan dia melancarkan ritual pemanggilan terlarangnya.
"Memangnya ada benda apa di ujung selatan sana?"
Tepat saat Rem melangkah mendekat sembari melontarkan pertanyaan balasan, sepasang bola mata sang penyihir seketika bermutasi menjadi hitam pekat tanpa celah.
"Guaaaarrgghhh!"
Diiringi suara erangan yang teramat mengerikan dan ganjil, tubuh pria tua itu seketika membungkuk melengkung ke belakang.
KRAAAK!
Serat-serat otot punggungnya terkoyak robek, dan suara gemeretak ruas tulang yang saling bertubrukan menggema ngilu di udara.
Apakah pria tua ini pun bakal meregang nyawa sendiri layaknya penyihir pasir besi hitam tadi?
Tepat kala Encrid tengah merenungkan kemungkinan tersebut di dalam batinnya.
"Bajingan ini telah gila!" teriak Esther memperingatkan.
Sang penyihir wanita telah membaca pergerakan aliran mana dan menyadari kekejian apa yang baru saja dieksekusi oleh pria tua tersebut.
"Ketamakan, nafsu birahi, hasrat untuk menelan bulat-bulat. Seluruh emosi kelam itu meluap penuh di dalam jiwanya," tutur sang Dragonkin yang telah membaca kehendak batin sang lawan.
Encrid yang sedari tadi menyimak mendadak mengayunkan pedangnya tanpa ragu.
Dia mengambil satu langkah maju lalu menghunus pedangnya kilat.
Ilmu pedang penghubung (connecting sword).
Sebuah tebasan pedang berkecepatan tinggi yang sanggup memangkas jarak dalam sekejap mata lalu menyambar turun dengan daya hantam mutlak.
TRANG!
Sebuah telapak tangan hitam pekat yang berukuran raksasa seketika menangkis bilah tajam milik Dawnforged.
Ukuran telapak tangan itu berkali-kali lipat lebih masif dibanding tangan seorang raksasa, cukup besar untuk meremas dan menelan seisi paras wajah manusia dengan teramat mudah.
Dan lengan hitam raksasa itu mencuat keluar dari sela-sela tulang belikat sang penyihir, serta kecepatan saat dirinya menembus robekan daging manusia itu meluncur secepat tebasan pedang seorang ksatria.
'Hmm?'
Encrid yang menyaksikan tonjolan urat-urat darah hitam pekat yang menggeliat di sepanjang lengan raksasa yang menangkis pedangnya seketika menyuntikkan gelombang tenaga tambahan ke dalam senjatanya.
Dia mengerahkan seluruh sisa kehendak Will murni ke dalam mata pedangnya.
SRAAAK!
Lapisan kulit hitam legam yang alot itu seketika tersayat dan terpotong tuntas.
"Akulah sang penguasa agung dari Demon Realm, tunggu—kuaaaaarrgghh!"
Sang penyihir telah mempertaruhkan nyawanya demi memanggil sesosok iblis agung dari neraka, namun sang iblis penguasa justru langsung melolong menjerit histeris kesakitan tepat pada detik pertama kemunculannya ke dunia fana murni karena salah satu lengan kebanggaannya baru saja ditebas putus oleh sang ksatria berambut hitam.











