Eternally Regressing Knight

Bab 850: Menggapai Impian yang Hakiki

3858 Kata

Bab 850: Menggapai Impian yang Hakiki

Pria muda itu memiliki perawakan tubuh yang teramat ramping, dengan segores luka parut yang terukir jelas di pipinya serta sepasang tulang pipi yang tampak agak cekung.

Krais mengamatinya lekat-lekat lalu bertanya, "Siapa tadi kau menyebutkan namanya?"

Mendengar pertanyaan tersebut, Encrid menyahut tenang, "Edin Molsan."

"Penampilan fisiknya telah mengalami cukup banyak perubahan."

Bukan sekadar berubah sedikit, melainkan telah bermutasi sangat masif.

Pemuda itu telah menanggalkan topeng foya-foya yang dulu kerap dia kenakan, dan masa-masa kelam kala dirinya berjuang mati-matian demi menyelamatkan nyawa adik perempuannya kini telah resmi berlalu.

Edin memang telah menyambut panggilan ajakan Encrid, namun pemuda itu menyadari betul bahwa bakal ada segudang aral rintangan berat yang menanti di depan matanya.

Akankah barisan petinggi lainnya sudi menyambut kehadirannya dengan tangan terbuka?

Kemungkinan besar tidak.

'Bagaimana jadinya jika mereka menolak keberadaanku di tempat ini?'

Haruskah dirinya membuktikan kapasitas ilmunya?

Demi tujuan apa?

Demi membela sosok ksatria berambut hitam yang telah menaruh secercah kepercayaan tulus pada dirinya?

'Ataukah aku sudah seharusnya menyadari posisiku dan menarik langkah mundur?'

Layakkah sesosok putra kandung dari gembong pengkhianat negara berdiri tegak di ruangan suci ini?

Itu adalah sebuah pergolakan batin yang teramat rumit dan menyesakkan.

Mungkin memang sudah menjadi takdir yang paling benar bagi dirinya untuk terus hidup meringkuk di dalam persembunyian.

Andai dirinya tidak nekat melangkahkan kakinya keluar ke panggung dunia, masalah serumit ini dipastikan tidak bakal meletus.

'Namun meski begitu...'

Apakah cukup baginya untuk sekadar menyambung napas hidup belaka?

Menanggalkan segala macam alasan dan makna berharga di dalam hidup?

Memalingkan pandangan mata bahkan kala tersimpan hal-hal berharga yang sanggup dia eksekusi mengandalkan kedua tangannya?

Pandangan matanya bertubrukan dengan sepasang mata milik adik perempuannya.

Sepasang manik mata cokelat kemerahan tampak mengerjap lembut sembari menatap lurus ke arahnya.

'Jika diriku diizinkan untuk merajut sebuah impian.'

Jika kesempatan emas yang mungkin merupakan peluang terakhir di dalam hidupnya ini telah berada di dalam genggaman tangannya.

Ini sama sekali bukan murni didorong oleh hasrat picik ingin memamerkan kapasitas keahliannya di depan orang lain.

Terbebas dari naungan bayang-bayang kuasa sang ayah, hal hebat apa sebenarnya yang sanggup dieksekusi oleh sesosok pria bernama Edin?

Ini adalah sebuah pembuktian tantangan menuju ke puncak tersebut.

"Apakah pria muda itu adalah putra kandung dari Count Molsan?!"

Sang kurir utusan resmi dari ibu kota kerajaan turut hadir berdiri di ruangan tersebut.

Sang kurir melontarkan pertanyaannya sembari menatap lurus ke arah sosok Edin dengan raut wajah yang teramat tegang.

Rasa kaget yang menghantam batinnya terpampang sedemikian gamblangnya.

Sepasang matanya bahkan membelalak lebar kala menatap sosok pemuda tersebut.

Kecamuk perang saudara berdarah yang dulu dikobarkan oleh Count Molsen adalah lembaran tragedi kelam yang bakal dikenang abadi selama turun-temurun di dalam lembaran sejarah kerajaan Naurilia.

Sang kurir memang tidak mengetahui bahwa mendiang sang Count tempo dulu telah dirasuki oleh entitas iblis neraka, namun dirinya mengetahui dengan sangat jelas kejahatan makar apa yang telah diperbuat oleh pria tersebut.

Pria pengkhianat itu telah berani berupaya menggulingkan takhta sang Ratu dan merampas mahkota sah milik Yang Mulia Raja.

Krais menatap ke arah komandannya lalu melontarkan pertanyaan bisu melalui sorot pandangan matanya.

Situasi macam apa sebenarnya ini, dan apa yang tengah berputar di dalam kepalamu saat ini?

Alur pemikiran Encrid sedari awal sama sekali belum berubah sejak pertama kali dirinya melihat sosok Edin tempo hari hingga detik ini.

Tidak, terlepas dari eksistensi sosok Edin, pemuda itu telah memelihara pola pikir yang sama sejak masa-masa lampau.

Dia selalu mendukung impian tulus seorang anak kecil yang bercita-cita ingin menjadi seorang ahli herbal.

Dia pun selalu membentengi impian seorang wanita suci yang mendambakan diri ingin menjelma menjadi Obat Penawar (Remedy) bagi segenap umat manusia.

Maka pemuda itu murni mendukung sesosok pria yang bertekad ingin mengerahkan segenap kapasitas ilmunya demi menyelamatkan hidup orang banyak.

Sepasang bola mata sang kurir melirik liar ke kiri dan ke kanan.

Menyaksikan ketegangan atmosfer yang tersaji di ruangan ini, rasanya tak ubahnya seolah ada sebuah bom waktu yang sanggup meledak kapan saja.

"Bersiaplah untuk menaklukkan seisi daratan benua, Krais," ujar Encrid datar.

Sang kurir seketika tercekat hingga tak sanggup menelan air liurnya sendiri.

Apa katanya barusan?!

Sebuah maklumat pengkhianatan makar?!

Apakah atas dasar alasan gila itulah mengapa pemuda ini sengaja membawa pulang putra kandung dari seorang gembong pemberontak?!

Jika kau mencernanya dengan akal sehat sesaat, itu adalah sebuah kesimpulan yang teramat konyol dan menggelikan.

Merancang rencana makar dan memboyong putra seorang pengkhianat adalah dua perkara yang saling terpisah total.

Terlebih lagi, atas dasar apa dirinya mendadak melontarkan deklarasi semacam itu di detik ini?

Kesadaran otak sang kurir seketika membeku kaku dan tidak sanggup berfungsi secara normal.

Namun ada satu kepastian mutlak yang terpatri di kepalanya.

'Berani melontarkan deklarasi gila semacam ini tepat di depan batang hidungku mengindikasikan apa?'

Bukankah itu sama persis dengan maklumat tak terucap bahwa dirinya bakal segera dipenggal mati di ruangan ini detik ini juga?!

"Penaklukan seisi benua? Ah, kau tengah membicarakan perihal rencana yang itu?"

Intonasi nada bicara Krais sama sekali tidak berubah, terdengar teramat santai seolah hal itu bukanlah perkara besar.

Pada kenyataannya, dengan kobaran perang melawan kerajaan selatan yang telah berada tepat di depan pelupuk mata, perkara besar apa sebenarnya yang perlu diributkan murni dari memboyong pulang putra seorang pengkhianat?

Terlebih lagi ini adalah sebuah tindakan yang dieksekusi langsung oleh sosok Encrid.

Pasti tersimpan sebuah alasan logis di baliknya.

Dan pemuda itu baru saja membeberkan secuil dari alasan tersebut ke hadapannya.

"Jika itu adalah hal yang kau dambakan, maka baiklah, mari kita eksekusi rencana tersebut," Krais menganggukkan kepalanya mantap.

Demi memahami makna tersirat dari dialog tak terucap yang baru saja mereka bagi, Encrid telah menginstruksikan kepadanya demi mempersiapkan sebuah posisi resmi bagi sosok Edin, dan Krais telah menyahut bahwa dirinya memahami amanat tersebut.

Edin pun memahami kodenya, dan sang adik perempuan turut memahaminya dengan sangat baik.

Sebagian besar hadirin di ruangan itu murni menganggukkan kepala mereka seolah hal itu adalah sebuah kewajaran mutlak.

Hanya orang-orang yang telah terbiasa dengan gaya berbicara khas milik Encrid yang hadir di ruangan ini.

Selain segelintir ksatria yang sedari awal memang sama sekali tidak menaruh minat pada urusan birokrasi semacam ini layaknya sang Dragonkin ataupun Ragna, sebagian besar dari mereka telah memahami arah tujuannya secara garis besar.

Tentu saja sang kurir kerajaan sama sekali bukan bagian dari lingkaran orang-orang tersebut.

Pria malang itu nyaris tidak sanggup bernapas sembari mengamati ekspresi wajah mereka satu per satu dengan tubuh gemetaran.

"Dari sektor wilayah mana kita bakal memulai genderang penaklukan benua ini?" celetuk Rem melontarkan candaannya di waktu yang teramat pas tepat dari belakang punggung sang kurir.

Jantung sang kurir seketika terasa nyaris copot melompat dari rongga dadanya.

Tentu saja itu murni hanyalah sebuah lelucon iseng, namun andai pria malang itu dibiarkan lebih lama lagi di ruangan ini, dirinya dipastikan bakal meregang nyawa akibat serangan jantung bahkan tanpa perlu ada seorang pun yang menyentuh seujung kukunya.

Krais melirikkan matanya menatap ke arah Rem, lalu dengan santai memperkenalkan figur yang berdiri di hadapannya sembari berujar, "Ah, pria ini adalah kurir utusan resmi yang diutus langsung oleh Yang Mulia Raja. Aku telah menyimak seluruh instruksi laporannya secara komprehensif, dan sang kurir kini telah diizinkan untuk kembali pulang melapor ke ibu kota perihal apa yang baru saja dia saksikan."

Guyuran peluh keringat dingin membasahi sekujur punggung sang kurir.

Pria itu memberanikan diri membuka rongga mulutnya lalu bertanya terbata-bata, "...B-benarkah demikian?"

"Kau boleh menyampaikan langsung kepada Yang Mulia Raja bahwa benteng garnisun Border Guard mulai detik ini resmi menampung eksistensi Edin Molsan."

Sang kurir menggerakkan kedua kakinya yang lemas lalu melangkah keluar meninggalkan ruangan.

"Yang Mulia Raja mengamanatkan agar barisan divisi ksatria segera bertolak menuju ke garis perbatasan selatan tepat setelah seluruh persiapan logistik rampung."

Dan terlepas dari seluruh rasa takutnya, pria itu tetap menuntaskan kewajiban tugasnya dengan sangat profesional.

Dia menyuarakan pesan penutup tersebut sembari menolehkan separuh kepalanya dari balik kusen pintu.

Dahinya tampak basah kuyup oleh cucuran peluh keringat.

Encrid menilai bahwa Raja Krang telah memilih sesosok kurir utusan yang teramat tepat.

Andai nyali keberaniannya yang tipis dinilai sebagai sebuah kekurangan, maka itu memang merupakan kekurangannya.

Tentu saja sangatlah langka di dunia ini bagi seorang perwira hebat untuk sanggup mempertahankan ketenangan batinnya tepat setelah menyimak lelucon gila di tengah-tengah sarang The Order of the Madmen Knights.

Edin yang menyimak seluruh dinamika tersebut dari samping merasa sama terkejutnya dengan sang kurir.

Segala sesuatunya dieksekusi dengan sedemikian mulus dan alaminya.

Encrid menjatuhkan sebuah keputusan, dan segenap jajaran anggotanya seketika mengiringi di belakangnya.

Atmosfer ini terasa sangat mirip, namun pada hakikatnya bertolak belakang total dari masa-masa kala mendiang ayahnya mengendalikan tampuk kekuasaan klan Molsen.

Kala itu pun setiap kali sang ayah menjatuhkan sebuah keputusan, seluruh anggota keluarga wajib mengeksekusi komandonya tanpa bantahan.

Tidak, lebih tepatnya mereka memang dipaksa harus mematuhinya.

'Demi bertahan hidup.'

Bertarung mati-matian demi menyambung nyawa.

'Edin, sebelum kau menyandang status sebagai putra kandungku, haruskah diriku sudi menampung sesosok pria pecundang yang bahkan tidak tahu bagaimana cara bertarung?!'

Lembaran memori masa lalu bermutasi menjadi kepedihan, dan kepedihan itu menjelma menjadi penderitaan batin yang abadi.

Edin telah menelan seluruh racun penderitaan tersebut sebelum akhirnya sanggup berdiri menginjakkan kakinya di tempat ini.

Andai dirinya berniat menjalani sisa hidupnya sembari melupakan masa lalu ayahnya, dia dipastikan tidak bakal sudi melangkahkan kakinya keluar dari persembunyian sejak awal.

Sosok Encrid berada di dimensi yang teramat sangat berbeda dibanding mendiang ayahnya.

Setiap kali pemuda itu membuka suaranya, seisi ruangan secara alami bakal terdorong untuk mengikutinya dengan penuh ketulusan.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita melangsungkan sebuah sesi ujian kompetensi sederhana? Langkah taktis apa yang bakal kau eksekusi pertama kali di benteng ini?"

Krais bersikap sangat dingin dan tanpa kompromi.

Pria bermata besar itu melontarkan pertanyaannya bahkan tanpa perlu membeberkan secuil pun informasi perihal seluk-beluk kondisi internal kota benteng kepada pemuda tersebut.

Abnaier mengamati situasi tersebut dalam keheningan sembari membatin, 'Tampaknya pria bermata besar itu tidak terlalu menyukai kehadirannya.'

Krais paham betul bagaimana cara memanipulasi dan mengelola manusia.

Abnaier mengetahuinya murni lewat mengamati cara pria itu mengendalikan barisan perwira bawahannya, bahkan tanpa perlu memandang status dirinya sendiri.

Mempercayakan sebuah tanggung jawab strategis kepada seseorang yang kapasitas kemampuannya selaras dengan tugas tersebut adalah keunggulan terbesar yang dimiliki oleh sosok Krais.

Apakah melontarkan pertanyaan dadakan ini murni dirancang demi mematahkan mental sang pemuda?

Edin mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali lalu memberikan jawabannya.

Bagaimana pun jalannya dinamika situasi yang tersaji, andai sebuah kesempatan emas telah mendarat di hadapannya, dia wajib mencengkeramnya sekuat tenaga.

Itulah alasan tunggal mengapa dirinya berdiri tegak di ruangan ini detik ini.

"Pertama-tama, tolong fasilitasi sebuah pertemuan negosiasi resmi bersama para pemimpin serikat pasar dari aliansi kota-kota perdagangan."

"Aku bertanya perihal apa yang bakal kau perbuat pertama kali, bukan meminta bantuan koneksi."

"Akan membutuhkan penjabaran yang teramat panjang andai saya harus menguraikannya secara verbal."

"Bukankah menyederhanakan sebuah penjelasan yang panjang menjadi untaian kalimat yang padat, singkat, dan persuasif adalah sebuah keahlian intelektual yang mendasar?"

Edin menatap lekat-lekat ke dalam sepasang bola mata besar milik Krais.

Entah mengapa, sorot mata yang terpancar dari mata pria bermata besar ini terasa sama gilanya dengan sepasang mata milik Encrid.

"Saat ini benteng garnisun Border Guard tengah mengalami krisis kekurangan tiga hal mendasar," ujar Edin sembari mengaitkan jemari kelingkingnya menggunakan ibu jari kanannya lalu menjulurkan telunjuk, jari tengah, dan jari manisnya ke udara.

"Pertama, kejahatan kriminal. Kedua, kemurahan hati dan toleransi sosial. Ketiga, waktu luang (leisure)."

Encrid memiringkan kepalanya heran.

Rem yang tampak sangat tertarik membulatkan bibirnya lalu melontarkan decak kagum sembari menonton jalannya debat.

Tanpa disadari oleh siapa pun, seluruh perwira inti dari The Order of the Madmen Knights telah berkumpul memadati ruangan.

Mendengar kabar perihal kobaran perang dari mulut sang kurir tadi, otot-otot tubuh mereka telah terasa sangat gatal dan enggan berdiam diri.

Jaxon melirik sekilas ke arah Edin lalu membuang pandangannya, sementara Audin menyunggingkan senyuman tipisnya.

Ragna dan Fel adalah representasi dari petarung tempur berdarah panas murni.

Keduanya sama sekali tidak menaruh secuil pun minat pada urusan birokrasi pemerintahan.

Mereka menyimak argumen yang baru saja dilontarkan oleh Edin masuk melalui telinga kanan dan seketika mengeluarkannya melalui telinga kiri.

Ropord yang terlahir dari tradisi ordo ksatria formal telah menyerap segudang pengalaman dan wawasan kemiliteran.

Namun mengingat sebagian besar dari pengalaman hidupnya dilalui di dalam divisi angkatan perang, dia membaca status kemakmuran benteng kota murni menilik dari persenjataan yang membalut divisi prajurit infanteri tetap milik Border Guard.

'Kau mustahil sanggup mendanai divisi angkatan bersenjata tetap semegah ini andai kas kotamu tidak berlimpah ruah.'

Kuantitas prajuritnya teramat masif, dan bahkan persenjataan latihannya dirancang dengan spesifikasi standar militer tinggi.

Apakah pasukan pengawal kerajaan sekalipun sanggup menikmati kemewahan logistik semacam ini?

'Tidak, kau setidaknya harus mengantongi status seorang ksatria pendamping (squire)...'

...demi bisa merengkuh fasilitas perlakuan semewah ini.

Di dalam belantara dunia tentara bayaran, rumor-rumor telah beredar luas menegaskan bahwa divisi prajurit tetap garnisun Border Guard adalah sebuah suaka impian di mana kau bakal diguyur oleh gaji bulanan yang teramat melimpah serta dibekali oleh perlengkapan zirah tempur yang sangat kokoh.

'Tentu saja ada banyak prajurit yang melarikan diri terbirit-birit murni karena sesi pembinaan fisiknya teramat sangat brutal dan tidak manusiawi.'

Ropord paham betul alasan di balik kaburnya para prajurit tersebut.

Sebuah tempat di mana mereka yang merasa memiliki sedikit bakat bakal seketika berubah menjadi prajurit jelata biasa, dan mereka yang pernah mengibarkan nama besar di seantero kota dipaksa harus mempelajari hakikat kerendahan hati.

'Itulah hakikat sejati dari garnisun Border Guard.'

Dan rumor yang beredar sama sekali bukan hanya satu.

Pada kenyataannya, kabar tersebut berakar dari fakta sejarah nyata: bahwa gesekan fisik dan bentrokan senjata meletus hampir setiap hari di tempat ini.

Benteng Border Guard telah melintasi puluhan medan pertempuran berdarah sepanjang eksistensinya.

Baru-baru ini sang Binatang Gaib Salamander purba sempat bangkit mengamuk, dan perkumpulan para penyihir sesat melancarkan agresi militer terbuka.

Sudah sewajarnya jika tempat ini diperlakukan layaknya musuh bebuyutan utama, menimbang fakta bahwa merekalah divisi yang telah membumihanguskan sekte sesat Demon Realm Holy Land Cult yang sempat meneror daratan benua.

'Risiko maut yang wajib kau tanggung di tempat ini berkali-kali lipat jauh lebih mengerikan.'

Demikianlah perspektif yang diyakini oleh belantara dunia tentara bayaran.

Ropord menarik kembali alur lamunan pikirannya.

Apa pun faktanya, sebagian besar manusia memahami betul perihal kemakmuran finansial yang dikantongi oleh benteng Border Guard.

Lantas apa sebenarnya maksud pemuda ini kala menyatakan bahwa kota benteng ini tidak memiliki waktu luang?

Serta apa esensi dari ketiadaan toleransi sosial?

"Jika kau menghabiskan seluruh pendapatan pundi-pundi uangmu murni demi mendanai angkatan perangmu, maka kau wajib memeras otak demi menghasilkan pemasukan yang berkali-kali lipat jauh lebih masif," tutur Edin lugas.

Apakah pemuda itu melontarkannya secara sengaja?

Kemungkinan besar tidak.

Namun untaian kalimat tersebut adalah doktrin pragmatis yang paling disukai oleh sosok Krais di muka bumi.

"Nona Kin Baisar telah merintis sebuah butik pakaian mewah serta sebuah kedai teh eksklusif di kota benteng Rockfreed, dan kedai teh tersebut kini telah menjelma menjadi sebuah panggung simpul di mana berbagai macam informasi rahasia saling bertukar tangan. Gedung perpustakaan megah yang baru saja didirikan itu pun terlihat sangat mengesankan."

Bermula dari titik ini, bahkan sosok Encrid pun murni hanya sanggup memahami separuh dari arah pembicaraan mereka.

Alur narasinya teramat padat dan terkondensasi.

Mengapa nama kedai teh milik Kin Baisar mendadak diseret ke dalam ruangan ini, dan atas dasar apa gedung perpustakaan milik Vanessa diungkit ke permukaan?

"Benteng Border Guard telah mengantongi tiga pilar utama," Krais menyambut untaian argumen Edin.

Pria bermata besar itu, persis seperti Edin, menjulurkan tiga jemarinya ke udara lalu membeberkan, "Stabilitas keamanan, supremasi militer, serta letak geografis yang strategis."

Edin sejatinya tengah membedah peta arah ke mana peradaban benteng kota Border Guard wajib melangkah di masa depan.

Secara sederhana, pemuda itu mengusulkan ekspansi menuju ke sektor industri kultural yang belum pernah eksis sebelumnya.

Metode yang paling mudah adalah dengan cara merintis panggung salon kecantikan, ruang pameran seni, serta simpul kebudayaan.

Alasan mengapa terobosan ini sangat mungkin untuk diwujudkan?

Raja Krang telah menyuarakannya tempo hari.

Dari sudut pandang kerajaan Naurilia, benteng Border Guard memang bertengger di sektor perbatasan timur, namun dalam perspektif lain...

'Sebuah kota benteng yang dinaungi oleh kekuasaan Imperium di atasnya, terhubung langsung ke kerajaan timur, serta terbuka lebar menuju ke belahan barat melalui jalan setapak yang aman dan hamparan Jalan Batu (Stone Road).'

Benteng Border Guard adalah suaka di mana faksi garis keras Imperium bertolak menyambangi kota murni demi membidik sosok Encrid, dan pada saat yang sama sang komandan membina relasi diplomatik yang erat bersama raja wilayah timur, serta berstatus sebagai sahabat karib dari Sri Paus Kuil Legion.

Apakah hanya sebatas itu saja?

Delegasi bangsawan dari klan Yohan sesekali melangkah keluar-masuk benteng, serta akses gerbang terbuka lebar menghubungkan kota-kota perdagangan dan teritorial barat.

Menyempurnakan seluruh keunggulan tersebut, stabilitas penegakan hukum yang sedemikian kokohnya hingga mustahil bagi tindak kriminal untuk berakar telah menyuntikkan rasa aman yang mutlak bagi segenap warga yang bermukim di kota ini, serta eksistensi dari The Order of the Madmen Knights adalah simbol dari supremasi militer agung yang membentengi keselamatan kota.

Edin membaca bahwa benteng Border Guard telah mengantongi segenap prasyarat mutlak yang dibutuhkan agar kekuatan lunak (soft power) kultural sanggup berakar kokoh.

Bagaimana mungkin sosok Krais tidak menyadari potensi emas tersebut?

Pria bermata besar itu murni sengaja menelantarkannya selama ini murni karena dirinya terlalu sibuk memadamkan kebakaran masalah di sana-sini.

Dan detik ini, dirinya telah dianugerahi sepasang tangan dan kaki yang baru.

Sepasang tangan dan kaki yang sanggup berpikir dan bergerak secara otonom mengandalkan otaknya sendiri.

Untaian frasa 'penaklukan seisi benua' yang dilontarkan tadi separuh merupakan lelucon iseng, namun separuhnya lagi adalah sebuah visi yang sangat serius.

Separuh yang serius berpusat pada ambisi menundukkan dan memengaruhi daratan benua mengandalkan hegemoni kebudayaan.

'Kebudayaan.'

Hal itu pun sanggup dilabeli sebagai sebuah mahakarya seni peradaban.

Jika seni rupa, arsitektur tata kota, seni kerajinan kriya, serta melodi musik mekar berkembang pesat, benteng kota Border Guard dipastikan bakal bermutasi menjadi berkali-kali lipat jauh lebih makmur dan adidaya.

Dan andai seseorang terdorong untuk bersikap sedikit lebih serakah...

'Kita bahkan sanggup merebut dan memindahkan hegemoni kekuasaan yang selama ini dikuasai oleh aliansi kota-kota perdagangan ke tangan kita.'

Fondasi dasar dari seluruh keajaiban ini bertumpu pada fakta bahwa kota ini telah berhasil merengkuh kemerdekaan kedaulatannya murni berkat supremasi kekuatan militernya.

Edin berdecak kagum di dalam relung batinnya.

Itu murni karena Krais sanggup mencerna dan membedah seluruh arah pemikirannya secara sempurna.

Panggung salon yang didambakan oleh Krais bukanlah sekadar tempat hura-hura untuk meneguk minuman keras dan berbincang omong kosong belaka.

Itu adalah sebuah suaka agung di mana orang-orang sanggup menikmati simfoni musik berkelas, mendiskusikan filosofi lukisan, serta tempat di mana mahakarya arsitektur dan kerajinan kriya ditegakkan.

'Apakah ini adalah impian luhur yang tercipta berkat kehadiran sosok sang komandan ksatria?'

Kenyataannya memang demikian.

Andai Encrid berhasil mewujudkan berakhirnya seluruh prahara perang sebagaimana yang selalu dia gaungkan, maka di era peradaban berikutnya, bunga-bunga kebudayaan semacam itulah yang bakal mekar bermekaran.

Era kebangkitan seni peradaban bakal tiba.

Demikianlah cara pria itu memandang masa depan.

Namun untuk saat ini, kapasitas mereka masih belum memadai untuk mengeksekusi seluruhnya secara mandiri.

"Sangatlah sulit untuk merintis rencana ini tanpa melibatkan peran serta dari aliansi kota-kota perdagangan. Kita wajib menganugerahkan peluang emas kepada mereka dan hidup berdampingan secara harmonis (coexistence)."

Benteng garnisun Border Guard adalah sesosok penguasa hegemoni.

Kota benteng ini mengantongi supremasi militer yang lebih dari cukup untuk menelan dan meratakan seluruh kota di sekitarnya.

Edin menyarankan agar mereka tidak memamerkan arogansi kekuatan militer tersebut, melainkan memilih untuk merajut simbiosis mutualisme bersama.

"Pada akhirnya kita bakal mengikat mereka agar hidup berdampingan bersama dalam jalinan kerja sama yang tak terpisahkan, bukan membantai mereka di dalam pertarungan hidup-mati."

Pandangan mata Encrid terarah menatap lekat-lekat ke arah sosok Edin.

Ini adalah sebaris deklarasi visi yang teramat sangat tak terduga.

Impian pemuda ini telah resmi menyentuh dan bersinggungan langsung dengan impian pribadinya.

Jika Encrid merintis jalannya mengandalkan sabetan bilah pedang, maka Edin menapaki jalur perjuangan yang berbeda.

Pemuda itu memetakan jalan keluar demi menyatukan peradaban manusia melalui instrumen administrasi tata kelola dan diplomasi politik.

Seorang pria dewasa bertinju besi sanggup memisahkan dua anak kecil yang tengah berkelahi mengandalkan kekerasan fisik.

Namun saat sang pria dewasa memalingkan pandangan matanya sesaat, kedua anak itu dipastikan bakal langsung baku hantam kembali.

Oleh karena itu, demi mencegah anak-anak tersebut saling melukai selamanya, kau wajib mengajarkan kepada mereka seni hidup berdampingan secara damai.

Krais menganggukkan kepalanya puas lalu berujar singkat, "Kau lulus."

Edin entah mengapa merasa bahwa gaya berbicara Krais dan bajingan berambut hitam ini memiliki kemiripan yang teramat identik.

Encrid menatap lurus ke dalam sepasang mata milik Edin lalu berujar tegas, "Bertarunglah mati-matian demi bertahan hidup, Edin. Karena andai dirimu memilih untuk menyerah di detik ini, bukan hanya dirimu seorang yang bakal meregang nyawa."

Bertarunglah demi hidup, dan andai kau telah memulai sebuah langkah, tuntaskanlah hal itu hingga ke titik akhir.

Itu adalah satu-satunya wejangan berharga yang dipatrikan oleh Edin ke dalam relung hatinya dari sekian banyak ajaran yang pernah dijejalkan oleh mendiang ayahnya.

'Dari sekian banyak ocehan ayahku di masa lalu, tampaknya hanya petuah inilah yang terbukti benar.'

Edin adalah sesosok putra pengkhianat yang nama besarnya telah perlahan dilupakan oleh dunia.

Dia menempatkan lengan kirinya tepat di bawah rongga dadanya lalu membungkukkan badannya dengan khidmat.

Sebuah gestur penghormatan sakral dari seorang bangsawan tulen.

"Saya akan melaksanakannya dengan segenap jiwa raga saya, Tuanku."

Tepat setelah momen tersebut, mengingat seluruh anggota Ordo Ksatria Gila telah berkumpul lengkap, Encrid seketika mendeklarasikan maklumat resmi bahwa divisi ksatria bakal segera bertolak menuju ke garis perbatasan selatan.

"Divisi prajurit infanteri tetap bakal membentengi keselamatan kota benteng selama kepergian kita."

Krais telah mengoordinasikan seluruh logistik dan menjatuhkan perintah komandonya.

Dalam kurun waktu kurang dari setengah hari, seluruh persiapan perang telah tuntas sempurna.

Keesokan harinya, Encrid beserta seluruh jajaran The Order of the Madmen Knights melangkahkan kaki mereka bertolak menuju ke medan perang wilayah selatan.

Sementara divisi ksatria tengah bergerak melintasi perbatasan, sang kurir kerajaan yang telah meninggalkan benteng Border Guard melangsungkan audiensi resmi menghadap Yang Mulia Raja.

"Hamba melapor Yang Mulia Raja, perihal putra dari mendiang Count Molsan..."

Kala sang kurir mengangkat topik perihal deklarasi 'penaklukan seisi benua' yang dilontarkan oleh Encrid, Raja Krang seketika tertawa terbahak-bahak memecah keheningan aula istana.

Setelah meluapkan tawa terbahak-bahaknya yang menggelegar, sang raja bahkan sampai meneteskan air mata bahagia di sudut kelopak matanya.

"Pemuda itu benar-benar sesosok pria yang selalu bersikap sangat serius setiap kali menjahili orang lain! Kau telah menjalankan tugasmu dengan sangat baik."

Sang raja sama sekali tidak menaruh secuil pun rasa cemas.

Sang kurir pun sejatinya melangkah pulang membawa segudang keraguan di benaknya.

Andai memang mutlak dibutuhkan, bukanlah perkara sulit bagi barisan ksatria monster itu untuk memenggal kepalanya di tempat, namun bukankah dirinya justru dilepaskan pulang dengan selamat?

"Menampung keberadaan putra dari mendiang pengkhianat Count Molsan dipastikan bakal menempatkan posisi politik kerajaan kita ke dalam jurang kerugian yang besar," ujar Marquis Marcus Baisar menyuarakan pertimbangan logisnya selaku penasihat militer kerajaan.

"Apakah menurutmu bajingan berambut hitam itu pernah mempedulikan urusan intrik politik?"

"Tentu saja tidak, Yang Mulia."

"Jika kita berhasil memenangkan pertarungan berdarah melawan pihak kerajaan selatan nanti, kita bakal memiliki banyak waktu luang untuk memusingkan urusan politik tersebut."

Prahara perang kolosal telah berada tepat di depan pelupuk mata.

Raja Krang bangkit berdiri tegak dari takhtanya diiringi kibasan jubah kerajaannya yang berkibar megah.

"Kumpulkan seluruh divisi Pasukan Pengawal Kerajaan (Royal Guard)!"

Marcus membungkukkan kepalanya khidmat dan setia mengeksekusi titah komando sang raja.

Bahkan andai sang raja tidak diizinkan bertarung di garis paling depan, pria perkasa itu sama sekali tidak memiliki niat untuk murni berpangku tangan dan menonton jalannya pertempuran dari kejauhan.

Raja Krang adalah sesosok raja agung yang bertabiat kesatria seperti itu.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.