Bab 852: Pantang Ditoleransi
'Kawanan Centaurs (Kentaur).'
Makhluk mitologi separuh manusia dan separuh kuda.
Anatomi tubuh bagian bawah mereka berwujud seekor kuda perkasa, dan tubuh bagian atas mereka menyerupai perawakan manusia, namun...
'Murni karena mereka adalah monster buas, sepasang mata mereka berwarna hitam pekat tanpa celah, serta tekstur lapisan kulit mereka—meskipun tidak sekeras pelat baja—tergolong sangat alot dan padat.'
Dia pernah bertarung menumpas kawanan makhluk ini di masa lampau.
Apakah mereka dulunya sempat menduduki padang rumput luas di depan bentangan hutan selatan benteng Border Guard?
Ingatan memorinya terasa agak samar-samar.
Bukankah telah ada segudang prahara berdarah yang meletus sepanjang masa-masa tersebut?
Betapa pun hebatnya daya ingat yang dia miliki, wajar saja jika peristiwa sekecil itu sempat terlupakan sesaat.
Namun bukan berarti dirinya telah melupakan segalanya secara total.
Encrid menyisir kembali lembaran memorinya.
'Koloni Sarang Tipe Jenderal (General-type Colony).'
Pergerakan gesit dari sang pemimpin koloni yang dulu mengayunkan sebilah golok besar (glaive) seketika melintas di kepalanya.
Pada saat yang sama, dia turut mengingat bahwa monster jenderal tersebut memimpin kawanannya mengandalkan sebuah formasi taktik terstruktur.
Formasi tersebut dikenal sebagai taktik tiga gelombang (three-wave formation).
Gelombang pertama bertugas memancing perhatian, gelombang kedua melancarkan hantaman telak, dan gelombang ketiga bertugas membumihanguskan lawan tanpa sisa.
Itu adalah strategi yang sederhana, namun merupakan sebuah taktik yang teramat ampuh andai kau memegang keunggulan mutlak dalam aspek kekuatan fisik.
'Aku pun sempat menaklukkan hawa membunuh murni yang dipancarkan oleh monster itu kala itu.'
Dia telah membendung hawa membunuh sang monster—yang memiliki karakteristik serupa dengan intimidasi aura milik seorang ksatria—menggunakan kehendak penolakan mutlak miliknya.
Seiring dirinya mengumpulkan serpihan-serpihan memori yang berserakan, rekaman masa lalu kembali menyatu satu per satu.
Beberapa tampak sangat jernih, dan beberapa lainnya terasa agak kabur.
Sebagai contoh, bahkan andai dirinya telah melupakan nama-nama prajurit yang dulu bertempur bersamanya, dia sama sekali belum melupakan dinamika jalannya pertempuran ataupun seluruh pemahaman ilmu yang berhasil dia serap sepanjang pertempuran tersebut.
"Kawanan yang kita hadapi kali ini sangat berbeda dibanding masa lalu," tutur Encrid tenang.
Sama sekali tak terpancar hawa membunuh murni, dan mereka tidak memperlihatkan tanda-tanda agresi tempur frontal.
Jika monster Koloni Tipe Jenderal yang pernah dia hadapi dulu tak ubahnya sebongkah tank tempur lapis baja yang menerjang lurus ke depan, maka musuh yang kini menghadang mereka tak ubahnya sepasukan prajurit infanteri ringan yang teramat lincah dan dipadati oleh kalkulasi kelicikan yang presisi.
"Aku selalu merasa sangat mual setiap kali melihat sosok bajingan-bajingan keparat itu," gumam Dunbakel meluapkan kekesalannya.
Kala bertarung melawan Koloni Tipe Jenderal tempo dulu, bukankah sosok Dunbakel sempat bertindak sebagai umpan hidup demi memancing kawanan Centaurs lalu melarikan diri ke dalam hutan lebat?
"Saatnya tiba bagimu untuk membayar lunas dendam masa lalumu, wahai sang Pelindung Bau Busuk (Guardian of the Stench)," goda Rem sembari menjahili Dunbakel.
Kawanan monster itu berlari kencang mendekat lalu melepaskan rentetan panah tulang beracun, namun tak ada seorang ksatria pun yang dilanda kepanikan.
Sama sekali tak ada petarung di tempat ini yang bakal terkena hantaman serangan murahan semacam itu.
Ragna dengan sepasang mata yang setengah terpejam melompat naik kembali ke atas pelana kudanya.
"Mereka benar-benar sangat mengganggu," hanya sebaris kalimat itulah yang meluncur dari bibirnya.
Bakal menjadi sebuah perkara yang memicu sakit kepala andai mereka dipaksa harus memburu kawanan tersebut.
Pada kenyataannya, monster-monster itu telah kembali mengecil menjadi sebutir noktah hitam di kejauhan dan melesat kabur sedemikian jauhnya hingga garis pandang mata seorang ksatria agung sekalipun tidak sanggup menjangkaunya.
Beberapa ekor kuda tunggangan sempat menghentakkan kuku mereka ke tanah sembari mendenguskan napas gelisah, namun tepat kala Odd-eye meringkik beberapa kali, kawanan kuda tersebut seketika kembali tenang dan patuh.
"Haruskah kita mengejar mereka sekarang?"
Ropord melontarkan pertanyaannya.
Bakal sangat sukar untuk mengejar kawanan monster tersebut murni mengandalkan kecepatan kuda yang dia tunggangi saat ini, namun andai dirinya sanggup memangkas jarak hingga batas radius tertentu, dia sanggup melompat turun dari pelana lalu memangkas sisa jarak mengandalkan kecepatan kedua kakinya sendiri.
Tentu saja pria itu melontarkannya sembari menyadari betul bahwa dirinya tidak bakal benar-benar diutus untuk mengejar.
Ini adalah sebuah gestur yang meluncur alami berlandaskan posisi fungsional yang diemban oleh Ropord di dalam ordo ksatria.
Dia selalu menjadi sosok yang dengan sukarela mengambil alih tugas-tugas koordinasi umum.
"Mustahil untuk mengejar mereka," tegas Encrid sembari menakar akselerasi kecepatan gerak kawanan Centaurs tersebut.
Kekuatan fisik seorang ksatria sejati memang sanggup melompati kecepatan lari seekor kuda dalam adu cepat jarak pendek, namun monster yang baru saja dia saksikan bergerak teramat sangat cepat bahkan setelah mempertimbangkan faktor tersebut.
Sanggupkah Ropord mengejar mereka bermodalkan kuda tunggangannya saat ini?
Hal itu jelas berada di luar batas kemungkinan.
"Tebakan Tuan Komandan memang benar," sahut Ropord sembari menganggukkan kepalanya setuju.
Dia sedari awal memang telah mengetahui bahwa hal itu mustahil untuk dieksekusi.
Dia sengaja melontarkannya murni demi menyamakan persepsi taktis bagi segenap anggota ordo.
Itulah alasan mengapa hal itu dicap sebagai tugas koordinasi umum.
"Bajingan sok suci ini selalu gemar melontarkan ocehan-ocehan yang tidak berguna. Kita semua sudah mengetahuinya bahkan tanpa perlu kau repot-repot membuka mulutmu, dasar pria munafik," sindir Fel mengejek.
"Sudah berapa kali kuingatkan padamu bahwa dialog semacam ini teramat mutlak dibutuhkan demi mencegah tercerai-berainya kesatuan suara kelompok? Sudah tak terhitung jumlahnya. Itulah alasan tunggal mengapa para prajurit enggan berkumpul di bawah kepemimpinanmu. Dan jika harus berbicara jujur, paras wajahmu yang buruk rupa pun menjadi salah satu faktor penyebabnya."
Ctak!
Fel seketika melepaskan pengait sarung pedangnya.
Apakah saatnya telah tiba baginya untuk menorehkan beberapa goresan luka baru di paras wajah bajingan sok suci ini?
Sepasang mata Ropord pun seketika menyipit tajam.
Bukankah sektor garis depan selatan tidak bakal mengalami kendala apa pun andai pria yang selalu mencari gara-gara di setiap kesempatan ini disingkirkan dari barisan?
Bukanlah ide yang buruk untuk menyayat tubuhnya di suatu tempat lalu menelantarkannya di padang rumput ini.
"Kalian para bajingan keparat, kita sedang diburu oleh waktu! Jika kalian berdua memang berniat saling bunuh, pergilah baku hantam di pojokan sana!" bentak Rem membungkam keduanya.
Itu adalah metode penertiban yang sangat berbeda dibanding gaya kepemimpinan Encrid, namun bagaimanapun juga kedua ksatria itu seketika menghentikan perselisihan mereka.
Kala sesosok pria barbar buas menatapmu dengan sorot mata mengerikan seolah dirinya bakal segera membelah tengkorak kepalamu mengandalkan kapak tempurnya, gelora nafsu bertarung biasanya bakal seketika menguap padam.
Rombongan ksatria kembali melanjutkan derap langkah perjalanan mereka.
Mereka terus bergerak mendesak maju.
Kawanan Centaurs melancarkan taktik serang dan lari (hit-and-run), dan Encrid awalnya menduga bahwa manuver licik tersebut murni hanya sebatas itu saja.
Encrid dan beberapa perwira lainnya sempat menimbang apakah membiarkan kawanan monster tersebut berkeliaran bebas adalah keputusan yang tepat, namun mereka menyepakati argumen rasional yang dibisikkan oleh sang katak cerdas Luagarne di samping mereka.
"Berkali-kali lipat jauh lebih mudah untuk membantai kawanan gerilya semacam itu mengandalkan keunggulan kuantitas prajurit. Sebagian divisi pasukan infanteri tetap sanggup dikerahkan untuk memburu dan mengepung mereka secara melingkar."
Mereka adalah tipikal musuh yang teramat menjengkelkan untuk diburu murni mengandalkan sekelompok kecil pasukan elit.
Bukan berarti mereka mustahil untuk ditumpas andai para ksatria benar-benar berniat memburu mereka, namun hal itu murni bakal membuang-buang waktu berharga.
Encrid membaca sebaris intensi taktis tertentu di balik hujan anak panah yang dilontarkan oleh kawanan makhluk buas tersebut.
Racun mematikan, jarak tembak yang aman, serta kuantitas anak panah.
Memadukan ketiga elemen tersebut menjadi satu kesatuan, pemuda itu merasa bahwa dirinya samar-samar sanggup memahami arah tujuan sang musuh.
Tepat saat mereka merapikan formasi dan melangkah maju, kawanan Centaurs kembali menampakkan siluet mereka di kejauhan.
"Lihatlah ulah para bajingan ini," seringai tajam terukir di sudut bibir Rem.
Itu menandakan bahwa situasi saat ini telah membuat batinnya merasa sangat jengkel.
"Hoho, tampaknya Tuhan Yang Maha Kuasa tengah mendambakan sebuah permainan perang yang menyenangkan."
Andai dirinya mengantarkan kawanan divisi Centaurs ini melayang ke haribaan surga, Tuhan dipastikan bakal membelah raga mereka menjadi dua lalu bermain-main bersama jasad mereka dengan riang.
Tentu saja tak ada yang tahu pasti apakah Tuhan memang benar-benar mendambakan hal semacam itu, namun Audin sedari awal meyakini sepenuh jiwa bahwa segala hal di muka bumi ini bersemayam di dalam koridor kehendak Ilahi.
Bagi dirinya, monster-monster buas ini murni hanyalah mainan milik Tuhan.
"Saudariku Theresa, mari kita bersiap."
"Siap, laksanakan."
Sepasang ksatria manusia beruang itu menghentikan laju kuda mereka sembari menarik tali kekang.
Seluruh anggota ordo mengeksekusi hal serupa.
Mereka berhenti mematung dan menunggu peluncuran gelombang serangan dari kawanan monster.
Kali ini andai mereka berani memangkas jarak mendekat, para ksatria bakal meremukkan raga mereka dalam sekejap mata.
Palung hati segenap anggota The Order of the Madmen Knights menyatu dalam satu frekuensi yang sama.
Wuuush-wuuush-wuuush!
Hujan anak panah tulang beracun meluncur deras membelah atmosfer.
Anak-anak panah yang ditembakkan dari jarak tembak yang teramat jauh.
Jika mereka berani melangkah sedikit lebih dekat dari titik ini, kita bakal memburu dan membantai mereka.
Demikianlah kalkulasi yang dirumuskan oleh Encrid.
Kawanan Centaurs, seolah tengah mengejek ketidaksabaran mereka, memacu kecepatan lari mereka, menembakkan anak panah sembari berlari kencang, lalu membelokkan arah dan melesat kabur menjauh.
Manuver gerilya semacam ini benar-benar teramat sukar untuk dibendung.
'Kita tidak sanggup mengejar mereka.'
Akselerasi pergerakan mereka teramat sangat cepat.
Tiga hingga empat kali lipat jauh lebih cepat dibanding seekor kuda perang tempur unggul yang tengah berlari dalam kecepatan penuh.
Andai jarak di antara mereka sanggup terpangkas, sebagian besar perwira ordo ksatria sanggup membantai monster-monster tersebut tepat di radius di mana senjata pusaka mereka sanggup menjangkau sasaran, namun...
'Kawanan monster ini tampaknya sama sekali tidak berniat memberi kita celah jarak tersebut.'
Demikianlah kesimpulan taktis yang ditarik oleh Encrid.
Dan kebuntuan ini terus berlanjut tanpa henti selama tiga hari penuh.
Rem tempo hari sempat memaparkan bahwa kawanan buas ini murni tengah mengulur waktu menunggu rombongan mereka jatuh kelelahan, dan sang katak Luagarne tenggelam ke dalam perenungan mendalam sembari memutar bola matanya perlahan.
Kawanan monster itu secara disiplin menembakkan hujan panah lalu melarikan diri pada waktu pagi, siang, dan malam hari secara berkala.
Akselerasi kecepatan perjalanan rombongan ksatria kini telah merosot lambat secara mengerikan.
'Seekor monster buas yang sanggup bertahan hidup di dalam kegelapan Demon Realm selalu mengalami sebuah titik singularitas evolusi.'
Itu adalah sebuah pemahaman berharga yang berhasil dia serap kala menyambangi benteng Seribu Batu (Thousand Stones), kota benteng yang kini telah resmi berganti nama menjadi Oara.
Sosok Ghoul Jericks tempo dulu adalah sesosok monster buas yang sanggup berevolusi cerdas murni lewat mengamati dan meniru teknik bertarung milik bangsa manusia.
'Bangsa manusia mempelajari konsep intimidasi aura murni lewat mengamati pancaran hawa membunuh milik monster.'
Titik awal dari lahirnya intimidasi aura adalah proses imitasi terhadap hawa membunuh monster, dan embrio dari manifestasi kehendak Will dirintis murni lewat menyaksikan bagaimana raga masif seekor monster buas sanggup meledakkan luapan daya kekuatan yang berada di luar batas logika nalar.
Itu adalah pengetahuan sakral yang dia serap dari dialog mendalam bersama ksatria agung Imperium, Balmung.
Dan Balmung tempo dulu sempat menyuarakan sebuah ramalan:
"Persis seperti bangsa manusia yang mencuri dan menyerap teknik bertarung milik kawanan monster, aku meyakini bahwa saatnya telah tiba bagi kaum monster untuk turut mempelajari tatanan sistem taktis milik bangsa manusia. Kita telah saling mempelajari apa yang perlu kita serap dari satu sama lain."
Maka apakah kawanan monster yang tengah menghujani mereka menggunakan anak panah dari kejauhan ini pun telah menyerap konsep strategi dan manuver taktis yang diperagakan oleh makhluk berakal budi?
"Analisis taktismu seratus persen tepat," puji Luagarne sembari menganggukkan kepalanya kala Encrid membeberkan teorinya.
"Jika kita terus membiarkan kawanan keparat ini berbuat sesuka hati mereka, kita dipastikan bakal tiba di medan perang selatan bukan sekadar setelah pertempuran berakhir, melainkan dua puluh lima tahun kemudian! Aku sendiri yang bakal membereskan bajingan-bajingan ini," seru Rem, sang pemburu berdarah dingin alami.
Pria barbar itu melesat memburu sarang kawanan Centaurs.
Rem yang berangkat menyusup di tengah pekatnya malam buta kembali melangkah pulang pada pagi hari berikutnya.
Sama sekali tak ada hasil yang diraih.
"Bajingan-bajingan itu rupanya telah menempatkan pos-pos pengintai dari jarak yang teramat jauh?!"
Kondisi medan pertempuran memang sangat merugikan dalam berbagai macam aspek.
Andai ini adalah kawasan hutan belantara yang lebat, menyelinap mendekati sarang mereka bakal menjadi perkara yang sangat mudah.
Namun medan ini adalah hamparan padang rumput terbuka yang terbentang lapang.
Mustahil untuk melangsungkan pendekatan rahasia kala puluhan pasang mata monster terus mengawasi ke segala penjuru mata angin tanpa henti.
"Haruskah kita memboyong serta sang kucing liar pembunuh itu kemari?" gumam Rem meluapkan kekesalannya.
"Sebagai gantinya, kau masih memiliki diriku, Dunbakel!"
Di belahan wilayah timur, aktivitas berburu adalah sebuah rutinitas harian yang mendarah daging.
Terutama sesi permainan kejar-kejaran melawan kawanan monster buas meletus berkali-kali lipat jauh lebih sering.
"Aku yang bakal berangkat menumpas mereka."
Tak ada seorang ksatria pun yang melangkah maju hendak mencegahnya.
Dunbakel melangkah kembali dalam tempo kurang dari setengah hari.
"Mereka menembakkan anak panah lalu seketika melarikan diri bahkan sebelum aku sempat mendekati mereka?!"
"Tuan Komandan, gadis manusia beruang itu tampaknya bermutasi menjadi berkali-kali lipat jauh lebih bodoh setelah pulang dari wilayah timur," cibir Rem sembari menggelengkan kepalanya pasrah.
Ketajaman indra penciuman milik Dunbakel memang teramat sangat luar biasa.
Bahkan tergolong sangat istimewa di kalangan bangsa beastkin sekalipun.
Namun di tengah hamparan padang rumput terbuka di mana kedua belah pihak sanggup saling bertatapan secara gamblang, indra penciumannya sama sekali tidak memiliki nilai guna.
Keahlian itu sangat berguna demi melacak musuh yang tengah bersembunyi atau melarikan diri di dalam kegelapan, namun menyelinap mendekat secara senyap bukanlah keahlian spesialisasi miliknya.
Sang musuh sama sekali tidak bersembunyi, melainkan murni memanfaatkan keunggulan kelincahan kaki mereka demi menjaga jarak aman dan menghujankan anak panah.
Tentu saja Dunbakel sempat merenungkan sebuah opsi alternatif di dalam kepalanya.
'Kurasa aku sanggup mengejar mereka andai kukerahkan wujud transformasi binatang buasku.'
Wujud transformasi binatang buas miliknya telah mekar berevolusi di wilayah timur.
Andai dirinya memacu kecepatan lari mengandalkan wujud transformasi keduanya...
'Aku pasti sanggup menangkap mereka.'
Namun kawanan monster itu sama sekali tidak memberinya celah jarak tersebut sejak awal.
Dan kemudian mereka melesat kembali lalu menghujankan anak panah.
Wuuush-wuuush! TRANG!
Rem mengikatkan seutas tali pada kapak lemparnya lalu memutarnya berkecepatan tinggi di udara.
Putaran kapak itu menjelma menjadi selembar kubah pelindung yang memayungi kepala segenap anggota rombongan dan menepis setiap anak panah yang meluncur.
Beberapa anak panah yang menyelinap menembus celah seketika ditepis tuntas oleh lecutan cambuk milik Luagarne.
Sebuah ancaman bahaya yang mematikan?
Sama sekali bukan.
Namun derap langkah kaki mereka telah resmi terbelenggu.
Tak ada satu pun ksatria yang bakal terkena panah tersebut, bahkan murni akibat ketidaksengajaan sekalipun, namun proyektil-proyektil itu adalah anak panah yang telah dilumuri racun maut.
Goresan luka sekecil apa pun yang mengenai raga kuda tunggangan mereka dipastikan bakal bermutasi menjadi sebuah beban logistik yang berat.
Seluruh perbekalan yang terikat di atas pelana terpaksa harus dipikul manual oleh para prajurit, dan ritme perjalanan mereka dipastikan bakal kian merosot lambat.
Medan perang selatan membentang teramat sangat jauh.
Bukan berarti mereka mustahil untuk menempuh perjalanan mengandalkan kedua kaki mereka sendiri, namun keterlambatan waktu tiba mereka di medan perang dipastikan bakal menjadi sebuah kepastian mutlak yang tak terhindarkan.
Haruskah mereka menelantarkan seluruh perlengkapan tenda dan logistik mereka di tempat ini?
Encrid terdiam merenung sesaat.
"Jika aku berada di posisimu, aku bakal memecah formasi pasukan," Luagarne melontarkan saran taktis yang realistis.
Bagaimana cara mengungkapkannya?
Mereka adalah sekelompok mangsa yang sanggup dicengkeram lehernya dan dibantai dalam sekejap mata andai mereka berani mendekat, namun sama sekali tak ada sarana untuk menjangkau mereka saat ini.
Persis seperti yang dipaparkan oleh Luagarne, andai mereka memecah formasi dan memburu kawanan tersebut keluar dari hamparan padang rumput, monster-monster itu sanggup ditumpas.
'Kita setidaknya membutuhkan tiga ksatria agung untuk mengeksekusinya.'
Haruskah mereka menempuh manuver tersebut?
Terdengar teramat gamblang perihal apa yang sesungguhnya didambakan oleh sang lawan.
Jika kawanan monster ini memang telah menyerap konsep taktis dan tujuan utama mereka murni demi membelenggu derap langkah garnisun Border Guard, bukankah menuruti skenario tersebut tak ubahnya melangkah masuk ke dalam jebakan mereka?
'Bagaimana jika kita mengabaikan mereka seutuhnya dan terus melangkah maju?'
Hal itu sangat mungkin untuk dieksekusi andai mereka rela menelantarkan kuda-kuda tunggangan mereka, namun...
Hiiiii-ring!
Tepat kala pemuda itu tengah tenggelam dalam perenungan batin, Odd-eye mendadak mendorong punggung Encrid menggunakan kepalanya.
Kala pemuda itu menolehkan badannya ke belakang, sorot pandangan mata Odd-eye terpampang teramat garang sembari menyodorkan kepalanya maju ke depan.
Haruskah disebut sebagai pancaran hawa membunuh murni dan intimidasi aura liar?
Aktivitas apa sebenarnya yang telah dilalui oleh kuda liar ini sepanjang masa-masa kala Encrid mengulang ratusan siklus 'hari ini' dan membantai sosok Beelrog tempo dulu?
Hii-ring!
Dia tidak tahu pasti.
Namun kuda jantan ini pun dipastikan tidak menghabiskan waktunya murni untuk mengunyah rumput liar dengan santai.
Odd-eye adalah sesosok kawan sejati yang bertabiat luar biasa semacam itu.
"Ya, wahai Indomitable. Ada hal krusial yang ingin kau sampaikan padaku?" Encrid memanggil nama baptis yang pernah dia sematkan padanya untuk kali pertama setelah sekian lama.
Odd-eye, meskipun berwujud seekor kuda, mengernyitkan dahinya rapat-rapat.
Raut ekspresi wajahnya terpampang sedemikian hidupnya menyerupai ekspresi manusia biasa.
Seraut wajah yang seolah tengah membentak, 'Ocehan omong kosong macam apa lagi yang tengah kau bicarakan saat ini?!'
Encrid berpura-pura tidak melihat ekspresi tersebut.
Dia telah menyerap seni bersikap tidak tahu malu semacam ini sejak masa-masa kala dirinya masih berkecimpung di dunia tentara bayaran di masa lampau.
Siapa nama kapten tentara bayaran yang dulu mengajarkan doktrin licik ini kepadanya?
Tom?
Ataukah nama lain yang serupa?
Kemungkinan besar namanya jauh lebih panjang.
Ingatan memorinya terasa agak samar-samar murni karena hal itu telah berlalu sedemikian lamanya.
"Ya, ada apa sebenarnya?"
Hngh!
Encrid sanggup berkomunikasi secara batin bersama Odd-eye.
Namun teramat mustahil untuk melangsungkan dialog komprehensif dan merancang strategi perang secara mendalam. Betapa pun luar biasanya kapasitas Odd-eye, binatang itu bagaimanapun juga tidak sanggup melafalkan bahasa manusia.
Namun di tempat ini, tersimpan sesosok entitas mitologi yang sanggup membaca alur kesadaran batin dari bangsa manusia, ras raksasa, peri elf, para penyihir, hingga binatang buas sekalipun. Bagi seekor Dragonkin, bahasa verbal murni hanyalah sebuah instrumen sekunder belaka.
"Kuda ini menyuruhmu untuk segera naik ke atas punggungnya."
"Hmm?"
"Dia menegaskan bahwa dialah sosok yang bakal memburu dan menangkap seluruh kawanan monster itu untukmu."
Sang Dragonkin telah menaruh rasa ketertarikan yang teramat mendalam kepada sosok kuda liar yang setia mengiringi langkah Encrid.
Dari dalam jiwa kuda jantan tersebut, luapan kehendak Will dan gelora hasrat membara tengah meledak membuncah layaknya orang gila.
Objek apa sebenarnya yang tengah memenuhi relung batin sang kuda?
Sang Dragonkin membaca alur kesadaran batin milik Odd-eye secara mendalam.
Lebih cepat dibanding diriku?
Seekor kuda liar perkasa yang telah menghabiskan segenap lembaran hidupnya berlari kencang membelah padang rumput liar, bentangan pegunungan terjal, jalanan berbatu tajam, kubangan lumpur pekat, serta tebing-tebing karang yang curam, pantang mentoleransi eksistensi makhluk hidup apa pun yang berani berlari jauh lebih cepat dibanding dirinya.
Pffrrhk!
Odd-eye mendenguskan napas panasnya.
Keteguhan kehendak Will yang bersemayam di dalamnya terpampang teramat sangat jernih.
Encrid pun sanggup menangkap kemurnian kehendak tersebut secara presisi.
Sama sekali tak ada muatan barang bawaan yang terikat di atas punggung Odd-eye.
Sedari awal pemuda itu memang sama sekali tidak berniat menaruh barang di sana, dan Odd-eye pun dipastikan pantang mengizinkan barang bawaan diletakkan di atas punggungnya.
Sebagai gantinya, Encrid mengenakan ransel perbekalannya sendiri dan menitipkan sisa logistik lainnya kepada rekan-rekan ordonya.
Encrid melepaskan ikatan ranselnya lalu melemparkannya ke arah Fel.
"Pegang barang bawaanku ini."
Lalu pemuda itu melompat naik ke atas punggung Odd-eye.
Gelombang hawa panas yang membara seketika menyengat raganya tepat pada detik dirinya menjejakkan tubuhnya di atas punggung sang kuda.
Torehan luka lebam merah tua pekat yang mengukir punggung Odd-eye tampak kian menggelap, dan sekujur anatomi tubuhnya kini tengah dipadati oleh luapan hawa panas yang mendidih.
"Jadi maksudmu sama sekali tak ada seekor kuda pun di kolong langit ini yang sanggup berlari lebih cepat dibanding dirimu, begitu kan?"
Encrid melontarkan pertanyaannya.
Odd-eye memberikan jawabannya dengan cara mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi ke angkasa sembari meringkik megah!
HIIIIIII-RIIING!
"Tebakanmu seratus persen tepat," sang Dragonkin menyisipkan penjelasan tambahannya.
Tepat pada detik tersebut, kawanan Centaurs kembali melepaskan hujan anak panah dari kejauhan.
Anak-anak panah tulang yang berlumuran racun maut, sebuah kawanan monster buas yang telah menyerap sistem taktik dan doktrin perang milik bangsa manusia.
Menerjang lurus ke arah mereka, seekor kuda liar bermata belang yang telah berhasil menaklukkan garis darah monster di dalam raganya melesat membelah angin, mengangkut sosok sang Pembantai Beelrog (Beelrog Slayer) di atas punggungnya.











