Eternally Regressing Knight

Bab 857: Abu-Abu Berselimut Jelaga Hitam

3449 Kata

Bab 857: Abu-Abu Berselimut Jelaga Hitam

Kawanan monster buas itu benar-benar sama sekali tidak pernah berhenti berdatangan.

"Ada apa ini? Sebuah penyergapan dadakan?"

Rem membuka suaranya, telah mengunci posisi musuh murni berlandaskan getaran halus yang merambat menyentuh telapak kakinya.

Itu adalah sekawanan monster Scalers yang telah bersiap menanti di dalam liang tanah.

Mereka adalah tipikal kawanan predator yang melancarkan serbuan sembari menunggangi cacing-cacing tanah raksasa.

Murni akibat guyuran air hujan yang membanjiri tanah, manuver penyergapan mereka seketika kehilangan nilai guna.

Tentu saja para ksatria dipastikan bakal menyadari keberadaan mereka bahkan andai hari tidak tengah dilanda hujan.

Kawanan monster itu mencuat melesat keluar dari dalam perut bumi lalu berupaya mengepung rombongan ksatria, namun aksi tersebut murni berakhir sia-sia.

Rem melangkah maju ke depan, menyayat dan membelah raga monster-monster tersebut hingga tewas seketika kala dirinya melintas.

Serbuan gerombolan kawanan ghouls serta Drowned Ones yang menerjang membabi buta adalah sebuah pemandangan harian yang lumrah.

Di sela-sela formasi mereka, para ksatria kerap menyaksikan kemunculan versi mutasi mengerikan di mana beberapa ekor ghouls telah melebur menyatu menjadi satu entitas tunggal.

Ukuran raga monster mutasi tersebut teramat sangat masif, sanggup disejajarkan bersama besarnya serigala purba Dire Wolf.

Siapa pun sanggup melabeli mereka sebagai monster raksasa yang terbuat dari gumpalan daging busuk.

"Hei, wahai sang fanatik agama! Apakah makhluk-makhluk menjijikkan itu adalah kawan-kawan karibmu?!"

Rongga mulut Rem terus mengoceh tanpa henti, persis seperti tabiat aslinya.

"Hoho, Tuhan Yang Maha Kuasa menitipkan salam untukmu, saudaraku. Oh Bapa di surga, haruskah diriku mengantarkan salah satu bocah malang dari belahan barat ini melayang ke haribaan-Mu?"

Theresa seketika menyambar untaian kalimat sang kakak.

"Haruskah kita mengeksekusinya detik ini juga, saudaraku?"

Percakapan tersebut membuat siapa pun bertanya-tanya topik obrolan macam apa sebenarnya yang kerap dibahas oleh Audin dan adik perempuannya di waktu luang mereka.

Apa maksudnya dengan mengeksekusinya detik ini juga?

"Apakah kalian berdua diam-diam tengah merancang rencana pembunuhan berencana atasku di waktu luang kalian?! Lihatlah kelakuan para bajingan ini."

Menelantarkan perdebatan konyol di antara kedua ksatria tersebut, sosok Fel dan Ropord melangkah maju ke depan.

"Bagaimana kalau kita bertaruh siapa yang sanggup membantai monster terbanyak?"

Fel melontarkan tawarannya sembari menggerakkan tubuhnya.

"Dan kita bakal menghitung salah satu kerabat dari Tuan Audin bernilai setara sepuluh poin pembunuhan?"

"Sepakat."

Tentu saja Audin menyimak seluruh isi percakapan mereka secara gamblang.

Rem tertawa terbahak-bahak sembari Audin menatap punggung kedua ksatria yang melangkah pergi tersebut lalu berujar dingin dengan penuh ketenangan:

"Tolong pastikan kalian berdua kembali melangkah pulang dalam keadaan bernyawa."

Untaian kalimat itu terdengar sedemikian dingin merindingkan bulu kuduk.

Bagi sosok Fel dan Ropord, bisikan lembut yang dilontarkan oleh Audin berkali-kali lipat jauh lebih mengerikan dibanding pekatnya hawa pertanda buruk yang menyelimuti tanah ini.

"Kembalilah, menuju ke dalam dekapan suci Tuhan; kembalilah, menuju ke haribaan suci Tuhan."

Theresa melantunkan senandung melodi dari penggalan bait lagu pujian yang dia hafal di luar kepala.

Dunbakel terkekeh geli.

Entah mengapa, nada tawa dari sang gadis beastkin belakangan ini perlahan mulai menyerupai gaya tawa milik Rem.

"Guyuran air hujan ini sama sekali belum kunjung berhenti," keluh Ragna.

Sama sekali tak tersirat secuil pun ketegangan di dalam intonasi suaranya.

Namun nada suaranya dipadati oleh rasa ketidakpuasan yang mendalam.

Murni akibat guyuran air hujan yang tiada henti, mustahil bagi mereka untuk memasak hidangan makanan panas di tengah jalan.

Satu-satunya asupan logistik yang sanggup mereka kunyah murni hanyalah potongan dendeng daging yang basah dan liat.

Sosok Ragna mendambakan sepotong hidangan makanan berkualitas tinggi.

"Hujan lebat ini tampaknya masih bakal terus mengguyur selama beberapa waktu ke depan."

Sesosok pemandu jalan yang andal sanggup membaca ramalan cuaca murni lewat mengamati corak awan di langit.

Encrid tempo dulu pernah mengemban tugas sebagai seorang pemandu jalan.

Pemuda itu mengkalkulasi bahwa guyuran hujan badai ini tidak bakal mereda setidaknya selama tiga hari ke depan.

Secara alami sosok Ragna sama sekali tidak memahami seluk-beluk ilmu navigasi cuaca semacam itu.

Dia meyakini sepenuh jiwa bahwa seorang pemandu jalan sejati murni cukup melangkahkan kakinya mendesak maju, baik di tengah terpaan hujan maupun terik mentari.

Dia pantang tersesat kehilangan arah.

Dia murni bakal terus mengembara hingga dirinya tiba di titik destinasi tujuan.

Sesi pertaruhan berdarah di antara Fel dan Ropord berakhir dengan hasil imbang.

Fel berhasil membantai salah seekor 'sepupu' milik Audin, namun Ropord melesat menyapu bersih seisi medan laga dan membantai kuantitas ghouls serta Drowned Ones yang jauh lebih masif dibanding Fel.

Tepat setelah momen tersebut, kawanan monster buas terus mencuat keluar dari berbagai celah tanah.

Entitas yang paling mengesankan di antara gerombolan tersebut adalah sesosok monster gnoll tunggal.

Penampilannya terasa sangat mengesankan terlepas dari fakta bahwa dirinya melancarkan serangan sendirian, bukan bernaung di dalam kawanan.

Itu adalah seekor monster yang dibekali oleh kapasitas keahlian tempur yang luar biasa.

Demikianlah penilaian taktis yang ditarik oleh Encrid.

Monster itu memang tidak sanggup memanipulasi kehendak Will secara alami, namun keunggulan kapasitas fisik monsternya yang teramat mengerikan serta kekuatan otot bawaan lahirnya yang berada jauh melampaui manusia biasa menambal ketiadaan Will tersebut.

Makhluk buas itu telah membuntuti rombongan ksatria dengan keahlian menyelinap yang teramat senyap dan presisi.

Tempo hari beberapa ekor monster Owlbear sempat melancarkan serangan dadakan mengandalkan kegelapan malam sebagai perisai, namun tak ada seorang ksatria pun yang merasa terkejut saat itu.

Namun sosok gnoll ini berada di tingkatan yang terpisah.

Monster itu menyembunyikan hawa keberadaannya hingga ke tingkatan yang mengingatkan Encrid pada sosok Jaxon, bahkan memperhitungkan arah hembusan angin dan menyelinap mendekat tepat dari arah hilir angin.

Makhluk itu tidak menerjang maju secara membabi buta, melainkan dengan sangat tenang memangkas jarak selangkah demi selangkah hingga dirinya berada tepat di dalam radius jangkauan tangannya.

'Monster ini pun dibekali oleh kesabaran yang luar biasa.'

Itulah kesimpulan mutlak yang dirumuskan oleh Encrid.

Ini jelas bukan seekor monster liar rendahan biasa.

Kesabaran yang dingin, serta instrumen taktis demi memanfaatkan segenap kapasitas keahliannya secara optimal.

'Seekor monster yang menggunakan otaknya demi berpikir.'

Seekor monster buas yang telah menyerap sebuah pemahaman ilmu dari bangsa manusia ataupun makhluk berakal budi lainnya.

Petuah sakral yang dulu disuarakan oleh sang ksatria Imperium, Balmung, seketika kembali melintas di dalam memorinya.

Apa pun faktanya, sang monster gnoll yang bertabiat menyerupai sosok Jaxon itu membidik sosok Ragna yang menunggang kuda di barisan paling belakang.

Itu adalah sebuah manuver penyergapan maut yang menguar aroma insting pemburu alami yang teramat pekat.

Tepat pada detik Ragna mengendus pancaran hawa membunuh murni tepat di belakang punggungnya, ksatria berambut perak itu seketika bereaksi secara refleks dalam sekejap mata.

Dia memutar tubuhnya lalu melepaskan sabetan pedang yang terasa seolah-olah sanggup membelah dimensi waktu.

Akselerasi kecepatan berpikir kilat, pemusatan konsentrasi batin yang melangkah masuk ke dalam dimensi keheningan mutlak dalam sepersekian detik, serta watak sikap mental yang selalu siaga demi menebas putus leher bajingan Rem di setiap kesempatan.

Itu adalah sebuah sabetan pedang pamungkas yang menyatukan seluruh elemen tersebut.

Seiring pinggang Ragna berputar eksplosif, kedua kaki kuda tunggangannya seketika patah remuk tak sanggup menopang daya putar.

Sebuah konsekuensi fatal dari pergerakan tubuh yang terlampau liar kala bertengger di atas pelana kuda.

KRAK! HIIII-RING!

Suara patahnya tulang kaki sang kuda seketika disusul oleh lolongan jeritan ngilunya.

Meskipun kuda tunggangannya telah runtuh limbung, bilah pedang Sunrise milik Ragna melesat tanpa cela, membelah raga sang monster penyergap menjadi dua bagian yang simetris!

Titik pusat gravitasi tubuhnya memang sempat bergeser miring, namun pria itu menambalnya menggunakan kekuatan otot inti tubuh serta kekuatan liat di kedua lengan bawahnya.

Itu adalah sebuah teknik pedang serta penguasaan tingkatan ilmu pedang yang sedemikian sempurnanya hingga mustahil dipercaya bahwa hal itu merupakan sebuah tebasan refleks sesaat.

Itulah alasan tunggal mengapa pria berambut perak ini dinobatkan sebagai sesosok jenius sejati.

"Benar-benar ada berbagai macam keanehan di tempat ini," tutur Ragna sembari mempertahankan pose tebasan pedangnya.

Sensasinya tak ubahnya seolah-olah tanah kerajaan selatan tengah menyuguhkan sebuah sesi upacara penyambutan yang teramat kasar kepada mereka.

"Monster itu benar-benar makhluk yang sangat aneh. Apa kau yakin makhluk tadi bukan sang kucing liar pembunuh yang tengah menyamar?" kelakar Rem melontarkan leluconnya.

Pendekatan sang monster memang berlangsung sedemikian senyapnya.

Bahkan sang putri elf dan sosok Encrid yang dibekali oleh ketajaman indra yang luar biasa sekalipun sempat kecolongan dari mendeteksi pergerakannya.

Guyuran air hujan yang menyulap lingkungan sekitar menjadi lembap dan berkabut tebal turut memegang andil dalam mengaburkan indra.

Bukankah mereka pernah melintasi pengalaman yang serupa di masa lalu?

Murni lewat berdiri di dekat kawasan sebuah Domain Iblis (Demonic Domain), panca indra dari makhluk berakal budi dipastikan bakal terdistorsi.

Belahan wilayah selatan adalah tanah perbatasan yang bersinggungan langsung dengan sebuah Demonic Domain.

Dan terlepas dari fakta bahwa mereka tidak mengetahuinya, populasi kawanan monster telah berlipat ganda secara masif baru-baru ini, memungkinkan rembesan atmosfer racun Demon Realm merayap meluas hingga sejauh ini.

Kepekatan hawa di wilayah selatan saat ini terasa sama pekatnya dengan atmosfer di balik Dinding Benteng Belukar Berduri (Thornbriar Fortress Walls).

"Tampaknya tersimpan banyak sekali hiburan menarik di belahan wilayah selatan," timpal Fel menyuarakan antusiasmenya.

Encrid memeriksa jasad bangkai gnoll yang telah terbelah dua.

Monster itu berada di tingkatan kelas yang setara dengan sosok Ghoul Jericks.

'Seekor monster yang sanggup mengendalikan kehendak Will.'

Haruskah disebut bahwa pemandangan semacam ini kini telah terasa sangat familier di matanya?

Mereka sejatinya tengah bertolak melangkah demi mengobarkan perang melawan kerajaan selatan, namun situasinya terasa tak ubahnya seolah-olah kawanan monster buas lah yang tengah menghadang jalur mereka.

Apa pun kondisinya, titik destinasi tujuan mereka kini telah terpampang tepat di depan pelupuk mata.

"Tepat saat kita menginjakkan kaki di sektor Garis Depan Selatan nanti, bukankah kita murni bakal mendapati tempat itu telah dipadati oleh kawanan monster yang merayap liar?"

Rem kembali memamerkan keahliannya dalam menyuarakan firasat-firasat buruk.

"Semua orang meyakini bahwa untaian kalimatmu barusan adalah sebuah ocehan sial yang pantang diucapkan," sang Dragonkin seketika menerjemahkan isi pikiran rekan-rekannya.

Luagarne membatin bahwa guyuran air hujan yang membawa hawa menjijikkan semacam ini benar-benar teramat sangat langka di dunia.

'Tetesan air hujan dari Demon Realm.'

Air hujan ini telah terdistorsi dan diselimuti oleh kepekatan energi racun milik Demon Realm.

Terlepas dari seluruh rintangan tersebut, rombongan ksatria terus melangkahkan kaki mereka dengan penuh kedisiplinan dan akhirnya resmi tiba di pos perbatasan wilayah selatan.

"Garis pertahanan depan ini telah berhasil bertahan kokoh selama puluhan tahun lamanya," gumam Ropord sembari merasakan detak jantungnya berdegup kencang di dalam rongga dadanya.

Gejolak emosi macam apa sebenarnya yang tengah bergolak di dalam batinnya saat ini?

Pria itu tidak sanggup membedahnya secara utuh, namun ada satu kepastian mutlak yang terpateri jelas: gelora rasa bangga.

Dia tempo dulu pernah bernaung sebagai seorang perwira terhormat dari The Order of the Crimson Cloak Knights.

Cypress adalah sebuah nama agung milik sesosok pahlawan legendaris, dan ordo Ksatria Jubah Merah yang membentengi garis perbatasan selatan adalah dinding benteng pertahanan serta tanggul bendungan hidup bagi keselamatan bangsa.

Nama besar dari sebuah ordo ksatria yang telah berdiri kokoh sebagai dinding dan tanggul selama puluhan tahun lamanya teramat sangat pantas untuk dilabeli sebagai sebuah legenda hidup.

Rombongan ksatria menyaksikan puluhan tenda militer yang berdiri terpancang rapi.

Dan di sela-sela formasi tenda tersebut, pandangan mata mereka seketika tertuju mengunci sehelai panji bendera agung yang menjulang tinggi, melukiskan lambang Pohon Matahari dan Tiga Pedang (Sun Tree and three swords).

Itu adalah lambang kebesaran suci milik keluarga kerajaan Naurilia.

Wuuuush—!

Suara desiran halus menggema dari sela-sela tirai guyuran air hujan yang lebat.

"Siapa yang berani melangkah mendekat?!"

Sesosok prajurit yang telah kehilangan sebelah lengannya berdiri menghadang jalur mereka.

Prajurit buntung itu tengah bertugas mengamankan pintu gerbang pagar kayu yang dipancangkan mengitari perkemahan tenda.

Encrid membaca bahwa hawa kelam yang sama muramnya dengan guyuran air hujan telah mengendap pekat menyelimuti seisi perkemahan militer.

Bagi sebuah divisi angkatan perang yang telah bertahan hidup sekian lamanya, moral tempur mereka saat ini benar-benar telah merosot jatuh ke titik nadir.

Bukanlah perkara yang sulit untuk membedah akar penyebabnya.

Bangkai-bangkai monster buas bergelimpangan berserakan di segala sudut tanah, dan noda genangan darah hitam pekat mengotori lumpur di sekeliling mereka.

Pancaran aura hawa keberadaan yang menguar dari seisi pasukan militer ini berwarna abu-abu kusam.

Warna abu-abu berselimut jelaga hitam pekat (black and soot-filled ash-gray).

"Aku adalah Encrid dari garnisun Border Guard."

Itu adalah sebaris kalimat perkenalan diri yang teramat sederhana.

Prajurit penjaga gerbang itu mengerjapkan sepasang matanya bingung.

Siapa orang ini sebenarnya?

Prajurit itu menatap sosok Encrid dengan raut wajah kosong lalu memilih untuk mengunci mulutnya dalam keheningan.

"Mereka adalah divisi bala bantuan," sahut prajurit lainnya yang berdiri berjaga di sampingnya.

Sama sekali tak tersirat secuil pun nada sukacita di dalam untaian kalimatnya.

Hanya pancaran warna abu-abu kusam yang merayap dingin.

Kedatangan sebuah divisi bala bantuan militer seharusnya menjadi sebuah momentum agung yang dirayakan dengan sorak-sorai sukacita, namun sama sekali tak ada secuil pun tanda-tanda perayaan semacam itu di tempat ini.

Kala Encrid tengah melangsungkan dialog bersama para prajurit penjaga pos, sosok Audin memeriksa beberapa tiang Artefak Pusaka Suci (Holy Relic) yang tertancap di sela-sela pagar kayu pembatas.

'Pancaran daya kesuciannya telah teramat redup.'

Sebuah Artefak Pusaka Suci adalah instrumen sakral yang memuat berkah keilahian murni.

Andai pusaka-pusaka suci tersebut sanggup menjalankan fungsi sakralnya secara optimal, insiden bentrokan senjata melawan kawanan monster buas di dalam area perkemahan dipastikan bakal menjadi peristiwa yang sangat langka.

Namun kenyataan yang tersaji di depan matanya bertolak belakang total.

Tersaji segudang jejak bentrokan fisik berdarah di dalam perimeter kamp.

Kondisi kritis saat ini mengindikasikan fakta apa sebenarnya?

'Pancaran daya racun yang disemburkan oleh Demon Realm telah mengguncang stabilitas artefak suci.'

Hawa pertanda buruk telah mengikis dan mengonsumsi kemurnian daya keilahian yang bersemayam di dalam artefak-artefak suci tersebut secara agresif.

Pria manusia beruang itu menyimpulkan alur prosesnya murni berlandaskan hasil akhir yang dia saksikan, sebuah deduksi taktis yang murni sanggup ditarik berkat pemahamannya yang teramat mendalam perihal hakikat keilahian.

'Artefak-artefak suci ini mutlak membutuhkan sesi pemeliharaan berkala.'

Persis seperti lempengan besi yang bakal berkarat andai dibiarkan terendam di dalam genangan air, artefak-artefak suci ini dipastikan bakal memulihkan keagungan daya sejatinya andai dirawat dan disucikan secara tepat.

'Dengan asumsi tersimpan sesosok pendeta suci agung yang sanggup menyalurkan aliran daya keilahian tersebut, tentu saja.'

Dan bagaimana jadinya andai tidak ada pendeta semacam itu?

Maka mereka terpaksa harus memancangkan artefak-artefak suci yang baru.

Kedua prajurit penjaga gerbang saling bertukar pandang lalu mengirimkan utusan laporan ke bagian dalam markas.

Salah seorang perwira komandan yang mengawasi dari belakang para prajurit mulai melangkahkan kakinya sembari berjalan pincang.

Ritme langkah kakinya sama sekali tidak gesit.

Prajurit penjaga gerbang kehilangan sebelah lengannya, dan sang perwira yang bertugas menyampaikan pesan berjalan dengan kaki pincang.

Salah satu dari kedua prajurit itu terus mengernyitkan dahinya rapat-rapat sepanjang waktu.

Pria itu memancarkan raut wajah yang tampak siap memuntahkan rentetan sumpah serapah kotor andai dirinya berani membuka rongga mulutnya.

Seraut wajah yang dipadati oleh rasa ketidakpuasan dan keputusasaan yang mendalam.

Atmosfer yang menyelimuti seisi divisi militer ini benar-benar berada di tingkatan yang paling buruk.

Tepat saat mereka tengah menanti siapa figur perwira yang bakal melangkah keluar menyambut mereka, sesosok figur yang teramat tak terduga mendadak menampakkan siluetnya.

"Kita akhirnya kembali ditakdirkan untuk bersua di tempat ini."

Ingis.

Sang ksatria agung dari The Order of the Crimson Cloak Knights melangkah keluar secara langsung menyambut mereka.

Helaian rambut pirang kusam miliknya yang basah kuyup oleh guyuran air hujan merepresentasikan kondisi fisiknya saat ini secara sempurna.

Tak ubahnya seekor tikus yang baru saja tercebur ke dalam kubangan air bah.

Namun meski begitu, binar cahaya keteguhan yang bersemayam di sepasang matanya sama sekali belum kunjung padam.

Encrid mengamati gerak-gerik sang ksatria dengan saksama.

"Kapasitas keahlian pedangmu tampaknya telah mengalami kemajuan yang sangat pesat?"

Pemuda itu melontarkan pengamatannya berlandaskan berbagai macam indikator, layaknya kestabilan postur tubuh serta ketajaman sorot pandangan matanya.

"Aku murni dinaungi oleh secercah keberuntungan. Kudengar bahwa Anda sendiri, Tuan Encrid, telah mekar berkembang hingga ke tingkatan yang bahkan mustahil sanggup kukenali lagi."

Ingis membalas untaian kalimat tersebut dengan penuh rasa hormat.

Kedua prajurit penjaga gerbang murni memutar bola mata mereka sembari menyaksikan interaksi tersebut dari samping dengan takjub.

Ada apa sebenarnya ini?

Mengapa ada sesosok ksatria agung yang sudi melangkah keluar menyambut mereka secara langsung?

Dan figur yang melangkah keluar adalah Tuan Ingis sendiri?!

Para prajurit jelata yang terisolasi di garis depan selatan sedari awal memang buta informasi terhadap perkembangan berita yang meletus di seantero benua.

Mereka terlalu disibukkan oleh pertarungan hidup-mati setiap hari.

Mereka memang pernah mendengar selentingan nama besar dari The Order of the Madmen Knights, namun mereka tetap dilanda keterkejutan yang teramat sangat kala menyaksikan sosok Ingis melangkah menyambut mereka secara personal.

Di sektor Garis Depan Selatan, kemasyhuran nama besar milik The Order of the Crimson Cloak Knights berada di tingkatan yang sejajar dengan sosok dewa perang pelindung.

"Kondisi medan pertempuran di tempat ini tergolong teramat sangat buruk," tutur Ingis sembari mengulurkan tangannya memandu jalan mereka.

"Tampaknya memang demikian adanya," sahut Encrid sembari melangkahkan kakinya mengiringi di belakangnya.

Pandangan mata Ingis menyapu seisi barisan ordo ksatria, bermula dari sosok Encrid hingga ke barisan belakang.

Gelar kehormatan yang melekat pada namanya adalah sang Topeng Besi (Iron Mask), murni karena dirinya teramat sangat jarang memperlihatkan ekspresi emosi di wajahnya dan hampir mustahil untuk diguncang.

Namun detik ini sepasang pupil mata milik Ingis pun tampak bergetar halus sesaat.

'Seekor katak cerdas dan seorang putri bangsawan peri elf.'

Kedua figur tersebut memang sangat tidak lazim, namun dirinya sedari awal memang telah mengetahui perihal eksistensi mereka.

Dia pun telah mengetahui perihal reputasi kehebatan sosok Rem, Ragna, serta sang ksatria manusia beruang.

Pria itu sedari awal memang telah menaruh harapan besar sejak detik pertama dirinya mendengar kabar bahwa The Order of the Madmen Knights bakal diterjunkan sebagai divisi bala bantuan.

'Lantas entitas macam apa sebenarnya sosok yang satu itu?'

Bahkan di mata seorang ksatria agung sekalipun, terselip sesosok figur luar biasa yang teramat abnormal di tengah barisan mereka.

Celah pupil matanya terbelah secara vertikal, anatomi tubuhnya jelas-jelas bukan merupakan ras manusia biasa, serta pria itu melangkah santai sembari membiarkan guyuran air hujan membasahi sekujur tubuhnya tanpa memusingkannya sedikit pun.

Helaian rambut pirang lemon miliknya tetap memancarkan binar kemilau halus bahkan kala basah kuyup oleh guyuran air hujan beracun milik Demon Realm.

'Benar-benar sebuah perkumpulan yang teramat sangat ganjil dan abnormal, persis seperti reputasi mereka.'

Kemasyhuran nama besar The Order of the Madmen Knights memang teramat sangat agung.

Dan nama ordo yang menyandang kemasyhuran semegah itu adalah 'Kaum Gila (Madmen)'.

Mereka sedari awal memang bukan merupakan entitas yang bersemayam di dalam koridor kewajaran normal.

Ingis mengibaskan segenap lamunan pikirannya lalu dengan cepat memulihkan kembali ketenangan batinnya.

Terguncang oleh rasa heran bukanlah sebuah watak sikap mental yang baik bagi seorang ksatria.

Seseorang wajib selalu menegakkan sebuah pilar keteguhan yang kokoh di dalam relung hatinya.

Itulah bakat keunggulan terbesar yang dimiliki oleh sosok Ingis.

'Ini bukan merupakan wewenang tugasku untuk mempertanyakan keanehan mereka.'

Sektor Garis Depan Selatan saat ini tengah berada dalam kondisi darurat yang sedemikian kritisnya hingga mereka rela meminjam bahkan sepasang tangan milik seorang anak kecil sekalipun.

Dukungan bala bantuan dari sebuah ordo ksatria sejati dipastikan bakal menyuntikkan kontribusi yang teramat masif.

Terlepas dari apakah ordo tersebut dihuni oleh sekumpulan orang-orang gila ataupun entitas lainnya.

'Meskipun kehadiran mereka seorang diri tidak bakal sanggup mengubah konstelasi perang secara drastis.'

Andai ini adalah sebuah medan pertempuran konvensional yang sanggup dibalikkan keadaannya murni mengandalkan kehebatan seni bela diri seorang ksatria agung, maka Tuan Guru Cypress dipastikan telah mengeksekusinya sejak lama.

Faktor apa yang menjadi malapetaka terbesar di sektor Garis Depan Selatan detik ini?

Sang musuh terbang bebas melayang di atas langit tinggi, sementara satu-satunya instrumen pertahanan yang mereka miliki murni hanyalah melempar lembing ke udara.

'Dan itu sama sekali bukan merupakan satu-satunya prahara krisis yang melanda.'

Jika seluruh rangkaian malapetaka ini memang merupakan konspirasi taktis yang dirancang oleh pihak kerajaan selatan, maka strategi mereka telah berhasil menghantam sasaran secara teramat brilian.

Guyuran air hujan lebat masih belum kunjung berhenti.

Tetesan air hujan yang menghantam tanah membasahi kedua pundak mereka.

Menggantikan divisi Gryphon Riders, air hujan turun mengguyur, kawanan monster Drowned Ones mencuat keluar dari bumi, pancaran kesucian artefak suci di dalam perkemahan kian meredup pudar, angka korban prajurit terluka melonjak drastis, serta sebuah wabah penyakit mematikan mulai menyebar liar.

Sama sekali tak ada hal yang berjalan mudah di tempat ini.

Sektor Garis Depan Selatan saat ini tengah mengerahkan segenap jiwa raga mereka murni demi sanggup bertahan menyambung napas hidup belaka.

'Dan bahkan kapasitas ketahanan itu pun mengantongi batas toleransi yang teramat nyata.'

Kerajaan Lihin-Stetten pantang sudi melancarkan perang terbuka secara konvensional.

Menakar dari rentetan laporan yang dia dengar langsung dari mulut sang raja serta segenap jam terbang pengalamannya di garis depan, Ingis sanggup membaca arah tujuan licik yang tengah dibidik oleh pihak kerajaan selatan.

'Menguras habis segenap darah dan membiarkan kita mati kekeringan secara perlahan.'

Sebuah perang atrisi yang melelahkan.

Ataukah mereka tengah menanti hingga segenap konsentrasi kekuatan tempur milik keluarga kerajaan dan negara Naurilia terhimpun memadat di tempat ini sebelum melancarkan hantaman mematikan.

Langkah taktis apa yang wajib dieksekusi di sektor Garis Depan Selatan ini?

Serta sumpah sakral macam apa yang baru saja dipatrikan oleh sang Tuan Guru Cypress ke dalam relung hatinya?

Alur perenungan batin Ingis kian tenggelam teramat dalam ke dasar palung kepalanya.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.