Bab 878: Senyuman Layaknya Anak Laki-laki
Jika seseorang bertanya apakah tidur di atas punggung Odd-eye terasa nyaman, jawabannya tentu saja tidak.
Namun bukan berarti kondisinya begitu buruk sampai-sampai ia tidak sanggup memejamkan mata dan terlelap tidur.
Seorang pendekar pedang sejati harus tahu bagaimana cara beristirahat bahkan di atas ranjang berduri sekalipun.
'Haruskah aku tidur sebentar?'
Berapa lama mereka akan terbang melintasi angkasa?
Sekitar setengah hari perjalanan?
Jika ia sanggup memejamkan mata bahkan hanya beberapa jam saja, kondisi fisiknya pasti akan jauh lebih prima saat tiba di medan pertempuran nanti.
Encrid memutuskan hal tersebut lalu memejamkan kedua matanya.
Odd-eye tidak terbang dengan mengepakkan sayapnya terus-menerus.
Kuda itu membentangkan kedua sayapnya yang berukuran jauh lebih lebar daripada tubuhnya sendiri lalu menangkap aliran angin.
Ia meluncur menunggangi arus udara layaknya seekor elang raksasa yang ukurannya melampaui tubuh manusia.
Jubah kebesaran pemberian klan Driads dari kota elf Kiraheis menutupi punggung dan kepalanya dengan rapat.
Terpaan angin kencang yang menderu liar tak ubahnya lesatan tombak sihir yang dirapalkan seorang penyihir, sehingga ia terpaksa membungkukkan tubuhnya serendah mungkin.
Encrid memejamkan matanya dalam posisi tiarap tersebut.
Gemuruh suara angin yang bekerja siang dan malam seolah hendak merobek gendang telinganya menjadi lagu pengantar tidur yang akrab baginya.
Jika ada orang lain yang menyaksikannya, mereka pasti akan menyebutnya sebagai atraksi akrobatik yang mencengangkan, sebuah mukjizat, dan bakat istimewa tersendiri.
Keahlian khusus Encrid memang sanggup terlelap tidur di mana pun, namun ia sama sekali tidak pernah menyangka bakal tidur di atas punggung kuda terbang di tengah angkasa luas.
'Setidaknya tubuhnya terasa sangat hangat.'
Punggung Odd-eye memancarkan hawa hangat yang pekat.
Kehangatan tubuh kuda itu berpadu dengan jubah bangsa elf menjaga suhu tubuhnya tetap stabil.
Dan dengan begitu, Encrid terlelap pulas.
Tepat setelah ia jatuh tertidur.
Kecipak air mengalun pelan.
Itu adalah sebuah dimensi sunyi di mana sungai hitam pekat memenuhi seluruh penjuru pandangan.
Encrid membuka matanya selagi duduk di atas sebuah perahu penyeberangan kecil lalu memandang lurus ke depan.
Sebuah lentera temaram berwarna ungu, jemari tangan yang pucat legam bagaikan tanah tandus yang menggenggamnya, serta raut wajah yang tidak mudah terlihat akibat bayangan gelap yang bersemayam di balik tudung kepalanya.
"Sungguh luar biasa kau sanggup tidur di ketinggian seperti itu."
Sang Ferryman membuka suara.
"Seseorang jarang sekali mendapatkan kesempatan tidur di atas ranjang terbang di langit luas, jadi aku tidak boleh melewatkan pengalaman berharga itu."
"...Begitukah?"
Ferryman hari ini terasa kuno dan santai.
Encrid menyadarinya hanya dalam satu kali pandang.
"Haruskah kusebut dirimu sebagai manusia yang teramat menarik, atau haruskah kusebut dirimu sebagai sebuah penjara yang mengurung kita semua di sini? Atau sebenarnya makhluk apakah dirimu ini?"
Encrid berpikir ada hal lain yang perlu ditambahkan pada sosok Ferryman hari ini selain pembawaannya yang kuno dan santai.
'Ferryman hari ini terasa agak...'
Melankolis dan sentimentil?
Ia tidak bisa memastikannya hanya dari mendengar nada suaranya, namun jika merenungkan isi pertanyaannya, tampaknya memang seperti itu.
"Kau tidak sedang bertanya apakah aku ini manusia atau bukan, namun jika aku harus menjawabnya, hanya itulah kenyataannya."
Menjawab dengan "Encrid dari Border Guard" terasa tidak tepat untuk pertanyaan sang Ferryman saat ini.
Sebab jawaban itu hanyalah menyebutkan nama diri dan afiliasi organisasinya.
Terlebih lagi, karena Encrid tidak pernah sekalipun kehilangan jati diri sejatinya, ia tidak perlu melontarkannya keras-keras demi menancapkan jangkar batin agar tidak terseret oleh pusaran arus yang berguncang.
"Anggaplah ini sebagai sebuah peringatan atau nasihat berharga."
Encrid melihat sekilas wajah seorang wanita di balik tudung kepala sang Ferryman.
Itu tidak sepenuhnya pasti.
Ketika ia mencoba menatapnya lebih lekat sekali lagi, kegelapan pekat yang dingin segera menutupi wajah sang Ferryman bagaikan sehelai kain cadar.
"Ia akan datang saat kau paling tidak bersiap."
"Apa yang akan datang?"
"Ia akan datang dalam wujud yang paling tidak kau inginkan."
"Apakah itu sebuah Tembok pembatas, sebuah Wall?"
"Kau tidak akan sanggup menyebutnya semata-mata sebagai sebuah Wall belaka."
Sebuah nubuat dari sang Ferryman.
Kata-kata sang Ferryman mengenai nasib buruk selalu memiliki tingkat akurasi yang teramat tinggi.
Jika bukan sebuah ramalan, mungkin itu adalah niat terselubung untuk menanamkan rasa takut pada setiap hari esok yang akan ia hadapi mulai hari ini.
"'Aku' tetap berharap kau sudi tinggal di hari ini selamanya."
Sedari tadi nada bicara sang Ferryman terdengar tenang tanpa fluktuasi emosi, namun hanya kata-kata yang merujuk pada dirinya sendirilah yang bergema dengan intonasi berlapis.
"Jatuhlah sebaik mungkin. Ini benar-benar sebuah nasihat berharga. Dan kau pasti akan sangat membutuhkannya untuk 'sebuah peristiwa dalam waktu dekat'."
Encrid tidak memiliki kesempatan untuk membalasnya.
Duum!
Suara yang menyerupai tabuhan genderang perang bergema dari kejauhan, dan ia seketika terbangun dari tidurnya.
Dari atas langit luas, segala peristiwa yang terjadi di atas permukaan tanah terpampang sangat jelas dalam satu kali pandang.
Begitu membuka matanya, Encrid langsung menundukkan pandangannya ke bawah demi memastikan koordinat posisinya.
Malam panjang telah berlalu dan pagi hari telah terlewati.
Ia telah terbang melintasi langit sepanjang malam penuh.
Di sela-sela waktu terbangnya, ia mengunyah potongan dendeng daging yang disiapkan Aurelia serta olahan buah manis yang disebut Elven Grace yang diberikan oleh Shinar.
Di kota elf Kiraheis, kuliner olahan buah memang benar-benar ada dan ia telah beberapa kali mencicipinya, namun olahan buah yang diberikan Shinar jauh lebih kaya akan nutrisi jika dibandingkan dengan masakan buah elf lainnya.
Rasanya sangat manis, dan hanya dengan melahap satu butir saja, rongga perutnya seketika terasa hangat bertenaga.
'Marcus dulu pernah menyajikan racikan teh seperti ini.'
Apakah itu terjadi saat pria itu masih menjabat sebagai komandan batalionnya?
Itu adalah seduhan teh hangat yang direbus bersama beberapa butir buah beri kering yang dipetik dari lereng pegunungan.
Warnanya hitam pekat, dan pria itu mengaku bahwa resep seduhan itu dipelajari dan disempurnakan dari wilayah North.
Sejujurnya rasa seduhan teh itu sangat mengerikan.
Pahit dan pedas menyengat.
"Kau harus meminumnya selagi mendidih panas."
Terlebih lagi, seduhan itu baru terasa khasiatnya jika diminum saat suhunya cukup panas hingga sanggup membuat lidahmu mati rasa.
Bukankah pria itu menyebutnya sebagai teh obat herbal yang secara alami sanggup memicu panas di dalam tubuh mereka yang bertahan di wilayah bersuhu dingin?
Teh yang satu itu memang terasa mengerikan, namun di antara sajian teh yang dihidangkan sang marquis pada hari-hari lainnya, ada begitu banyak teh berkualitas luar biasa.
Karena Marcus adalah satu-satunya orang di sekitarnya yang gemar menikmati teh dan piawai menyeduhnya dengan nikmat, melihat pria itu mati tentu bukanlah hal yang menyenangkan baginya.
Dan ia pun sama sekali tidak mendambakan wanita berambut jingga yang setia mengikutinya itu tewas bersimbah darah.
Wuuush!
Hembusan angin yang masih berusaha merobek gendang telinganya menyapu melintasi pelipisnya.
"Odd-eye, ayo terbang lebih cepat lagi."
Berbicara selagi meluncur terbang membebaskannya dari kekhawatiran lidahnya bakal tergigit.
Semata-mata karena meluncur terbang dalam posisi melayang tidak membuat tubuhnya berguncang naik dan turun.
Memang sulit bagi suaranya untuk tersampaikan menembus deru angin, namun satu-satunya anggota The Madmen Knights yang memiliki spesialisasi bergerak dengan empat kaki dan kini menguasai keahlian meluncur terbang di angkasa sanggup mendengar isi hati Encrid.
Faktanya, hal itu pun berkat Encrid yang memompa aliran Will ke kedua telapak tangannya lalu menarik surai si kuda demi menyampaikan kehendak tekadnya dengan segenap daya.
Inilah lokasi titik tujuan yang berhasil mereka capai setelah terbang melintasi jarak yang teramat jauh.
Encrid tidak menelan seluruh pemandangan ke dalam benaknya, tidak pula memeras tenaga demi memahami situasi perang secara mendalam.
'Aishia.'
Ia mengunci keberadaan ksatria wanita berambut jingga tersebut, memastikan posisi Marcus beserta barisan pasukan sekutu, lalu menandai koordinat dari dua sosok bencana hidup yang menggenggam pedang dan tombak.
Informasi itu sudah lebih dari cukup baginya untuk menetapkan arah pergerakannya.
Encrid menjepitkan kedua kakinya kuat-kuat di perut Odd-eye.
"Mulai dari sebelah sana..."
Sebuah kalimat yang ditujukan agar terdengar oleh telinga Marcus, sekaligus kata-kata yang menyampaikan tekadnya kepada ksatria musuh di depan.
Sebuah teknik mentransmisikan getaran suara yang diselimuti aliran Will.
Latihan kerasnya yang tiada henti selama ini membuahkan hasil yang manis.
Encrid yakin suaranya telah menjangkau telinga Marcus dan sang ksatria penombak yang sedang melangkah maju di barisan depan.
Ketika Encrid menyalurkan tenaga ke kedua kakinya, sang rekan cerdas Odd-eye seketika memahami maksud tuannya.
Dari posisi meluncur anggun, kuda itu menukikkan ketinggiannya terjun bebas lurus ke bawah.
Rasanya seolah-olah organ-organ di dalam tubuhnya tersentak membubung ke atas, namun agar organ tubuhnya benar-benar melompat keluar dari raganya, organ-organ itu harus lebih dulu menembus otot-otot terlatih dan kulitnya yang tebal, dan bahkan itu belum cukup; mereka harus merobek zirah kulit War God yang terbuat dari kulit monster Beelrog.
Karena ia hanya perlu berhati-hati agar tidak memuntahkan isi mulutnya, Encrid hanya perlu mengatupkan gigi gerahamnya rapat-rapat.
Tentu saja, peristiwa konyol seperti organ tubuh yang melompat keluar tidak pernah benar-benar terjadi.
Itu hanyalah sensasi fisik dari sebuah manuver menukik tajam yang teramat mendadak.
Sebatang tombak lempar melesat deras ke arahnya selagi ia meluncur turun.
Itu adalah keahlian melempar tombak dari seorang master berpengalaman, yang bahkan telah memperhitungkan kecepatan menukik dari Odd-eye secara presisi.
Jika dibiarkan begitu saja, waktu intervensinya pasti akan tertunda, dan ia kelak hanya akan sanggup menemui rekannya yang berambut jingga itu di depan batu nisannya.
Encrid membaca situasi genting tersebut lalu melemparkan tubuhnya melompat lepas dari pelana.
Odd-eye meliukkan pinggangnya lincah demi membantu dorongan jatuh tuannya.
Kibar jubah berderu memekakkan telinga lalu menempel rapat di punggungnya.
Seiring melesatnya kecepatan jatuh tubuhnya, tombak lempar yang dihunjamkan dari bawah mendekat tepat di depan matanya laksana sambaran petir.
'Jatuhlah sebaik mungkin.'
Encrid menerima dan menerapkan nasihat dari sang Ferryman.
Bilah pedang Dawn yang telah terhunus menyabet telak tombak lempar yang melesat bagai kilat tersebut.
Klang!
Sekadar menepis proyektil maut itu saja sudah merupakan pencapaian yang mencengangkan, namun Encrid memanfaatkan benturan itu untuk melontarkan momentum tubuhnya lebih deras lagi.
Tubuhnya berputar lincah di udara, dan kecepatan terjun bebasnya melesat semakin ganas.
Target sasarannya adalah ruang tepat di atas kepala sang pemilik greatsword raksasa, yang bilah pedangnya tampak hampir menyentuh leher ksatria wanita berambut jingga tersebut.
'Pertahanan terbaik adalah melancarkan serangan.'
Ia tidak tahu apakah peribahasa kuno itu cocok diterapkan di sini, namun selama maknanya tersampaikan dengan baik, bukankah cara apa pun sah-sah saja?
'Bisa dibilang penyelamatan terbaik adalah melancarkan serangan mematikan.'
Sebuah pemikiran menyusup ke dalam ruang percepatan pikirannya yang meregang.
Jika ksatria wanita musuh itu mengabaikan tebasan Dawn yang meluncur ke kepalanya, Aishia pasti akan mati terpenggal.
Namun sang pemilik greatsword itu terpaksa harus merelakan satu lengannya buntung atau bersiap menerima luka tusukan yang teramat dalam di tubuhnya.
Jika ia mempercayai kekokohan pelindung pundak dan zirahnya lalu nekat bertahan, hal mengerikan itu benar-benar akan terjadi, namun sang pemilik greatsword bertindak sangat rasional.
Ksatria Mattia pantang mempercayai teknik bertahan yang semata-mata bertumpu pada ketebalan zirah baja.
Sebagai gantinya, ia selalu menaruh keyakinan mutlak pada bilah pedang raksasanya yang sanggup menggantikan fungsi sebuah perisai benteng.
Dan keyakinannya terbayar lunas.
Duaaaarrr!
Dawn menghantam telak bilah greatsword Rock Cutter.
Ksatria Mattia secara cermat menyesuaikan sudut kemiringan pedang raksasanya demi membelokkan dahsyatnya daya hantam lawan.
Itu adalah sabetan pedang dari sosok manusia gila yang terjun bebas dari langit bagaikan sebuah batu meteor jatuh.
Menerima tebasan semacam itu secara frontal dengan kekuatan otot murni tanpa memedulikan keselamatan tubuh sendiri adalah tindakan yang teramat bodoh.
Keputusannya sangatlah tepat.
Bilah pedang Dawn milik Encrid meluncur tergelincir di sepanjang permukaan Rock Cutter milik Mattia.
Trang-trang-trang!
Kedua inscribed weapon itu saling menolak begitu bertemu dan seketika berpisah.
Pertemuan mereka berlangsung sangat singkat dan perpisahan mereka teramat cepat.
Mattia membelokkan sisa daya hantam dengan kasar lalu mendorong greatsword-nya ke depan demi mementalkan lawannya menjauh.
Encrid tidak menolak dorongan tenaga tersebut dan melayang terpental ke belakang.
Jatuh tersungkur dengan punggung membentur tanah tentu akan menimbulkan rasa sakit, namun jika hal itu sanggup menyelamatkan nyawa Aishia, itu adalah pertukaran yang sangat menguntungkan baginya.
Namun perkiraan Encrid sedikit meleset.
Alih-alih membentur tanah keras dengan punggungnya, sepasang telapak tangan hangat menempel di punggungnya, meredam dahsyatnya daya benturan tersebut.
Bantuan itu sudah lebih dari cukup, sehingga Encrid memanfaatkan dorongan tersebut untuk menjejakkan kedua kakinya kokoh di atas tanah.
Sreeeeet!
Sol sepatu bot tempurnya menahan sisa momentum gaya tolak dengan mantap.
Encrid dan Aishia yang merentangkan tangannya di belakang punggung pemuda itu terdorong mundur cukup jauh.
Empat alur parit tanah tergores dalam di tempat kedua pendekar itu berpijak.
"Kau..."
Aishia bersuara lirih dari belakang punggungnya.
Penampilannya tampak cukup memprihatinkan.
Luka sayatan berdarah terlihat di sana-sini, rambut jingganya acak-acakan berdebu, dan terutama luka robek yang cukup parah di lengan bawah kirinya.
Luka yang cukup parah hingga membuatnya harus segera membalutnya rapat-rapat, mencari seorang high priest suci, menyumbangkan keping donasi tiga kali lipat lebih banyak dari biasanya, berlutut khusyuk melantunkan puji-pujian akan keagungan Tuhan, dan memohon pancaran kekuatan suci-Nya.
"Kalau kau tidak merawat penampilanmu dengan benar, mustahil bagimu untuk bisa menikah, Aishia. Seorang pria tidak akan pernah jatuh cinta padamu cuma gara-gara kau memukulinya."
"...Dasar keparat sialan."
Sapaan bernada mengejek yang dilontarkan kepada kawan lamanya yang baru ia temui setelah sekian lama itu seketika membakar kembali semangat tempur yang sempat padam di dada sang gadis.
Karena detik ini adalah saat di mana ia wajib berhadapan langsung dengan musuh dan bertarung hidup-mati, tindakan tersebut merupakan langkah psikologis yang teramat tepat.
Aishia baru saja melintasi garis batas kematian.
Dan bahkan lebih dari tiga kali berturut-turut.
'Aku benar-benar sangat beruntung.'
Dewi Keberuntungan yang penuh teka-teki, Goddess of Luck, tampaknya sedang berpihak padanya hari ini.
Keberuntungan pertama adalah bahwa inspirasi jurus baru mendadak melintas di benaknya belakangan ini, dan ia telah mengasahnya dengan baik.
'Bisa saja arah inspirasi itu keliru.'
Jika seluruh inspirasi manusia selalu benar, tidak akan ada satu pun manusia di dunia ini yang bukan seorang jenius.
Itulah untaian kata bijak dari seorang filsuf tersohor—yang namanya sudah lupa ia ingat.
Beruntung inspirasi jurus ini bagaikan setelan pakaian yang pas melekat di tubuhnya, tak ubahnya sebuah papan petunjuk usang dengan tulisan pudar yang mengarahkan jalannya menuju sebuah tingkatan agung yang disebut sebagai ksatria sejati.
Bagaikan sebuah tanda yang memberitahunya bukan ke mana ia harus melangkah ke depan, melainkan menegaskan bahwa jalan terjal yang ia tempuh selama ini sudah berada di jalur yang benar.
'Ikat dan belenggu.'
Bertumpu pada bobot pedang berat, memberikan efek kekangan magis pada sekujur tubuh ksatria musuh.
Mengaktifkan aliran Will untuk melangkah melampaui sekadar visualisasi niat membunuh, dan menebarkan jaring laba-laba tak kasat mata yang teramat lengket.
Mengibaratkannya sebagai manifestasi kehendak tekad, mendesak musuh dengan momentum murni demi mengulur waktu berharga.
Keberuntungan pertama itulah yang berhasil mencengkeram ujung celana salah satu ksatria bencana tersebut.
Keberuntungan keduanya adalah bahwa ksatria musuh menaruh ketertarikan untuk menguji kemampuannya.
Ksatria wanita itu tidak langsung menghantamnya dengan kekuatan penuh dalam satu tebasan.
Ia menyerang seolah-olah sedang menguji dan menakar batas kemampuannya.
Hanya dengan serangan pengujian itu saja Aishia telah menghadapi ancaman maut yang nyata, namun sebuah keberuntungan tetaplah keberuntungan.
Dan keberuntungan ketiga berlangsung jauh lebih murni daripada dua keberuntungan sebelumnya.
Di tengah pertukaran sabetan pedang, ia membelokkan daya hantam lawan lalu menggetarkan ujung pedangnya demi membuyarkan fokus tatapan mata musuh. Namun ksatria wanita pembawa greatsword itu membaca triknya dalam sekejap dan menendang pergelangan kakinya kuat-kuat.
Aishia memanfaatkan momentum tendangan itu untuk berputar di udara dan menyabetkan pedangnya ke bawah secepat kilat.
Bersamaan dengan sabetan itu, getaran ujung pedangnya melukis lintasan yang jauh lebih dahsyat daripada yang semula ia rencanakan.
Teknik nekat yang ia lancarkan dengan mempertaruhkan separuh nyawanya itu berhasil mengunci tangan dan kaki ksatria musuh untuk sesaat.
Kemudian barulah ia menyadari untuk pertama kali dalam hidupnya bahwa sebuah greatsword raksasa ternyata sangat mematikan saat digunakan untuk gerakan menusuk, dan akibat tusukan itu, lengan kirinya nyaris mengucapkan selamat tinggal pada raganya dan terputus melayang.
Sejujurnya ia bahkan tidak menyadari kapan goresan luka berdarah di lehernya tercipta.
Seorang ksatria tetaplah seorang ksatria sejati.
Sanggup bertahan hidup sejauh ini sudah merupakan mukjizat yang teramat agung baginya.
Tepat pada detik di mana ia telah bersiap pasrah menyambut maut, keberuntungan terakhir jatuh meluncur dari langit laksana sebuah batu meteor.
Pada waktu yang sama sekali tak terduga, dalam wujud kemunculan yang paling mustahil dibayangkan.
Mendengar kata-kata ejekan yang menyusul setelahnya, Aishia mendidih marah alih-alih melepaskan tawa lega.
Dan reaksi itulah yang memang sedari awal diinginkan oleh Encrid.
Apakah ini bisa disebut sebagai suntikan semangat khas gaya Encrid agar ia pantang menyerah?
Tampaknya kata-kata manis klise seperti 'Semangatlah', 'Ini belum berakhir' tidak akan pernah sudi keluar dari mulut bajingan gila tersebut.
Sosok manusia gila yang akan tetap bertarung bahkan jika dirinya bakal mati sebentar lagi, dan akan terus merangkak maju bahkan jika pada akhirnya ia terpaksa harus menyeret tubuhnya di atas tanah.
Aishia mengatur ritme napasnya dan memusatkan seluruh konsentrasi pada dua sosok yang kini berdiri mengepung mereka di depan dan di belakang.
Di depan berdiri sang ksatria wanita penggenggam greatsword Rock Cutter, dan di belakang, sosok ksatria pembawa tombak panjang yang tadi sempat melangkah maju kini telah berbalik arah dan mengepung dari belakang.
Dengan kata lain, ada dua orang ksatria sejati yang siap menerkam mereka.
Jika ada yang bertanya apakah dua orang ksatria sanggup disebut sebagai sebuah formasi pengepungan, maka ia akan menceritakan kisah nyata tentang seorang ksatria yang sanggup mengepung seribu prajurit seorang diri.
"Apa itu tadi, seekor Pegasus? Kau menunggangi makhluk itu ke mari?"
Ksatria wanita penggenggam greatsword bertanya seraya menatap heran.
Rambutnya yang pendek dan rahangnya yang tegas memberikan kesan maskulin yang begitu kokoh hingga siapa pun sanggup mempercayainya jika diberitahu bahwa sosoknya adalah seorang pria dalam sekali pandang.
Aishia diam-diam merasa sangat terperangah melihat makhluk tunggangan yang dinaiki Encrid tadi, namun karena detik ini bukanlah saat yang tepat untuk terkesiap takjub, ia mengabaikan rasa penasaran itu dan memusatkan pikirannya pada pertimbangan taktis yang paling mendesak.
Yaitu bertanya pada dirinya sendiri apakah ia masih sanggup mengulur waktu untuk membantu rekannya.
'Mustahil.'
Bahkan di saat kedua tangannya masih utuh tanpa luka tadi, ia hanya sanggup bertahan hidup berkat mukjizat keberuntungan.
Kini dengan satu tangan terluka parah, hal itu sepenuhnya mustahil.
'Bagaimana jika aku mempertaruhkan seluruh sisa nyawaku?'
Lalu apakah ia benar-benar sanggup mengulur waktu hanya demi mengayunkan pedangnya satu kali saja?
Bahkan hal itu pun terasa teramat sulit untuk diwujudkan.
Bukankah tekanan aura membunuh yang dipancarkan oleh kedua ksatria musuh ini terasa berkali-kali lipat lebih pekat daripada sebelumnya?
"Kau mundur ke belakang," Encrid berujar tenang.
Aishia mengatupkan gigi gerahamnya rapat-rapat.
Ia menyuarakan fakta yang wajib ia sampaikan.
"Musuhmu ada dua orang ksatria."
Encrid menanggapi peringatan itu dengan sikap yang teramat santai dan acuh tak acuh.
"Iya, lalu kenapa?"
Ia memutar tubuhnya perlahan, memposisikan dirinya tepat di depan Aishia.
Sebuah kuda-kuda bertarung dengan musuh berada di sisi kiri dan kanannya.
Dengan mengambil posisi itu, ia secara halus menyembunyikan dan melindungi tubuh Aishia di balik punggungnya.
Jika mereka adalah ksatria yang berada pada tingkatan kekuatan yang setara, pihak yang memiliki dua orang ksatria tentu memegang keunggulan mutlak yang tak terbantahkan.
Itu adalah hukum alam yang sangat mendasar di medan pertempuran.
Namun tepat di tengah situasi terjepit yang mematikan ini, sosok manusia bernama Encrid justru mengukir seulas senyuman di wajahnya.
Kedua sudut bibirnya terangkat naik secara perlahan.
Itu adalah senyuman cerah layaknya seorang anak laki-laki yang sedang menanti-nanti petualangan mendebarkan apa yang bakal terjadi selanjutnya.











