Bab 887: Empat Melawan Dua
Selagi Venom mendidih dilanda rasa jengkel dan amarah yang meluap, Baric diam-diam merasa sangat terperangah bahwa dirinya sama sekali tidak sanggup menorehkan walau satu goresan luka kecil pun pada tubuh sang lawan.
Kapasitas ilmu bela diri yang sepenuhnya berada di luar batas nalar.
Kenyataannya mencoba memahaminya dengan akal sehat pun terasa tak masuk akal.
Sebenarnya bakat apa yang dianugerahkan kepada pemuda ini sejak lahir dan tempaan neraka seperti apa yang telah ia jalani hingga sanggup melakukan hal-hal mustahil semacam ini?
Di tengah rasa terkejutnya yang mendalam, rasa penasaran yang pekat mendadak merayapi benaknya.
Sang lawan telah memperlihatkan bakat tempur yang teramat mencengangkan.
Namun kenyataan itu sama sekali tidak akan mengubah hasil akhir pertempuran ini.
Seseorang tidak perlu memahami sesuatu hanya demi menghancurkan dan meremukkannya.
Kretek, krak!
Taring-taring tajam mencuat keluar dari sela-sela bibir Baric.
Bulu-bulu kasar yang kaku laksana kawat baja tumbuh lebat mencuat di sekujur wajahnya.
Tetesan darah segar merembes di sela-sela bulu tebal yang merobek lapisan kulitnya.
Krak, gemeretak!
Seluruh struktur tulang-belulang di sekujur tubuhnya bergetar hebat merombak susunan kerangka raganya, dan pelindung zirah yang melekat di tubuhnya terpasang rapat menyesuaikan perubahan bentuk tersebut.
Sedari awal setelan pelindung zirah itu memang dirancang khusus dengan memperhitungkan perubahan wujud binatang buas miliknya.
Baric adalah seorang beastkin beruang sejati.
Sosok beastkin malang yang dahulu kala dibuang dan diasingkan semata-mata karena mewarisi kutukan darah dan wujud monster terkutuk.
Bisa dibilang ia berada dalam garis takdir yang teramat mirip dengan sosok Dunbakel.
Tentu saja kisah masa lalu yang kelam itu tidak diketahui oleh siapa pun di tempat ini.
Dan bahkan Baric sendiri telah lama mengubur dan melupakan memori masa lalunya tersebut.
'Aku adalah Knight Commander dari ordo Mud Knights.'
Ia kerap mendengar pengakuan dari para musuhnya bahwa dirinya adalah sosok lawan yang paling tidak ingin dihadapi oleh siapa pun di medan tempur.
Ia tidak pernah melupakan jati diri sejatinya.
Melupakan masa lalu yang pahit, ia memusatkan seluruh jiwa raganya pada kenyataan saat ini.
Pertempuran hari ini pun memiliki hakikat yang serupa.
Bertarung mati-matian demi sang Kaisar Agung.
Ia menaruh tangannya di atas tekad dan impiannya lalu melangkah maju menerjang.
Dengan melangkah maju seperti itu, ia kelak akan dianugerahi dunianya sendiri dan sebidang tanah kekuasaannya sendiri.
Gerrr!
Bulu-bulu surai yang menyerupai duri-duri tajam tumbuh lebat di sekujur tubuhnya, berpadu selaras dengan pelindung zirah bajanya.
Ia masih menggenggam sebilah pisau falchion di tangannya, namun kini senjata tajam itu hanyalah sekadar perlengkapan tambahan belaka.
Bahkan bilah pisau itu pun sebentar lagi tertutupi oleh lebatnya bulu-bulu di telapak tangannya hingga lenyap tak kasat mata.
Di luar cakar-cakar tajam di kedua tangan dan kakinya, duri-duri runcing yang menyelimuti sekujur tubuhnya sanggup menggantikan fungsi sebuah inscribed weapon.
Tingkat kekerasannya sama kokohnya dengan bilah pisau baja di tangannya.
Singkatnya ia adalah sosok monster aneh yang sanggup menggunakan seluruh tubuhnya sebagai sebuah inscribed weapon hidup.
"Grooo-aaargh!"
Raungan buas sang beastkin beruang menggelegar dahsyat menggetarkan atmosfer udara di sekitarnya.
Sekadar mendengar raungan buas itu saja sudah lebih dari cukup untuk membuat bulu kuduk siapa pun meremang kaku dan merinding ngeri.
Tentu saja efek intimidasi liar itu sama sekali tidak berlaku bagi sosok Encrid.
Ia telah berhasil mengatasi dan mendobrak tekanan aura membunuh dari sang demon lord Beelrog sekalipun.
"Seekor beastkin beruang sungguhan."
Nada bicaranya terdengar teramat tenang dan datar.
Ia wajib menceritakan kisah pertemuan ini kepada Audin kelak.
Dan demi mewujudkan hal tersebut, ia tentu harus bertahan hidup dan memenangkan duel ini.
"Ilmu pedangnya murni berfokus pada pola pertahanan. Cukup desak dan tekan dia terus-menerus!" seru Pustis memberi instruksi.
Ketajaman wawasannya benar-benar sangat luar biasa.
Ia sanggup membaca karakteristik inti dari ilmu pedang sang lawan dalam waktu yang sangat singkat.
Longarm menarik langkahnya mundur satu langkah karena kelincahan gerak kakinya merosot drastis akibat luka tusukan di pahanya.
Darah segar menetes menetes dari paha kirinya yang berlubang.
Itu terjadi semata-mata karena dirinya memaksakan pergerakan fisik yang berlebihan beberapa saat yang lalu.
'Gunakan pergerakan kaki seminimal mungkin.'
Jika celah kelengahan musuh terlihat terbuka, hunjamkan bilah pedang secepat kilat.
Sebuah teknik rahasia yang melipatgandakan daya tebas dengan meliukkan otot-otot lengannya yang terlatih masih tersimpan di dalam dirinya.
Ia sanggup menggunakan kedua belah tangannya layaknya seutas cambuk elastis.
Ia memiliki keahlian khusus yang sanggup menambahkan akselerasi tebasan bahkan tanpa perlu menggerakkan kedua belah kakinya.
Barod menyembunyikan wajahnya tepat di antara sepasang perisai bajanya. Menarik dagunya dalam-dalam dan menyusutkan lehernya ke bawah.
Itu adalah kuda-kuda persiapan untuk mengeksekusi jurus yang disebut sebagai Serangan Kura-kura, Turtle Charge.
Sebuah teknik pertahanan aktif yang sanggup mementalkan dan membelokkan mayoritas tebasan senjata tajam.
Barod sangat menyukai taktik tempur yang menyatukan pola serang dan pola bertahan dalam satu tarikan napas.
Spesialisasi tertingginya adalah memblokir serangan secara beruntun, mendesak maju, lalu meremukkan tubuh sang lawan di bawah bobot perisainya.
Kuda-kuda yang ia ambil saat ini adalah puncak tertinggi dari keahlian bela dirinya.
Encrid menggenggam pedang Dawn di tangan kanannya lalu membiarkan ujung bilahnya menjuntai lemas ke bawah.
Orang-orang awam yang tidak memahami ilmu bela diri pasti akan menganggapnya sebagai kuda-kuda bertarung yang teramat longgar dan penuh celah.
'Sebuah kuda-kuda sempurna yang siap melancarkan tebasan mematikan kapan pun ia menghendakinya.'
Kesadaran akal sehat Baric perlahan-lahan memudar seiring sempurnanya perubahan wujud binatang buasnya.
Naluri buasnya mengangkat kepala dan mengambil alih kendali tubuhnya.
Sumber dari seluruh kekuatannya berakar pada hasrat penghancuran dan pembantaian murni.
Uap panas mendidih mengepul keluar dari rongga mulutnya.
Hembusan napas panasnya membubung ke atas dan tetesan liur menetes membasahi tanah kering.
Pustis mengamati seluruh dinamika pertempuran itu dengan wajah tanpa ekspresi.
Melihat dengan kedua matanya, mendengar dengan kedua telinganya, dan memperhitungkan kalkulasi taktis berulang kali di dalam kepalanya.
'Jumlah kami ada empat orang ksatria.'
Kekalahan adalah hal yang sepenuhnya mustahil bagi mereka.
Sosok pemuda bernama Jaxen dari The Madmen Knights tadi memang teramat hebat, namun pria itu tidak sanggup berkutik saat harus berhadapan langsung dengan tiga orang ksatria sekaligus.
Jika waktu terus bergulir, hasil akhirnya sudah bisa dipastikan dengan gamblang.
Kemenangan mutlak berada di pihak mereka.
Bahkan seandainya sang Knight Commander Baric dan Barod tidak ikut bergabung sekalipun, hasil akhirnya tetap tidak akan berubah.
'Bahkan seandainya Barod tidak memblokir pisau tadi sekalipun.'
Bukankah dirinya pasti sanggup menghindari belati yang mengincar kepalanya tadi dengan caranya sendiri?
Jika ia bereaksi tepat pada detik saat ujung belati itu menyentuh kulitnya, kepalanya tidak akan pernah berlubang tembus.
Karena dirinya tidak mengenakan helm baja, bukankah ia selalu melapisi bagian leher hingga kepalanya dengan konsentrasi Will yang teramat pekat?
Jika pertahanan Iron Skin miliknya sanggup menahan penetrasi belati itu walau sepersekian detik saja, ia pasti sanggup membeli waktu untuk memiringkan kepalanya.
Kala itu ia mungkin saja bakal kehilangan salah satu matanya, namun tidak akan pernah mati terbunuh.
Situasi taktisnya teramat jelas dan benderang.
Pihak sekutu memegang keunggulan mutlak dan pihak musuh berada dalam posisi yang sangat terdesak.
Namun kenapa rasa cemas di dalam hatinya terasa begitu menyesakkan dada?
Pandangan mata Pustis melirik ke kiri dan ke kanan.
Salah satu dari kecemasan terburuknya mendadak menjelma menjadi kenyataan berdarah.
Ketajaman wawasannya meletupkan sebuah sinyal peringatan bahaya maut.
Tatapan matanya secara alami terhenti menatap ke salah satu sudut.
Di titik tempat tatapan matanya terpaku, sosok pemuda bernama Jaxen berdiri di sana.
Pria yang beberapa saat lalu tampak sekarat di ambang maut itu kini membuka mulutnya seraya berbisik dingin.
"Satu mangsa."
Ia melontarkan bisikan itu lalu melemparkan sebilah belati ke udara.
Seolah-olah telah bersepakat untuk menyelaraskan ritme waktu tersebut, sang Komandan Baric menerjang maju menyerang dan dirinya sendiri mengayunkan gada flail sekuat tenaga.
Sosok yang memimpin serbuan frontal di barisan terdepan adalah sang Komandan, Baric.
Baric menghentakkan telapak kakinya kuat-kuat ke tanah.
Bum!
Suara gemuruh menggelegar membelah udara.
Permukaan tanah berguncang hebat layaknya gempa bumi akibat hentakan kaki raksasa tersebut.
Sebuah getaran seismik yang sudah lebih dari cukup untuk merusak keseimbangan tubuh siapa pun.
Namun sang lawan tetap berdiri kokoh tanpa secuil pun kegoyahan.
Ia mengayunkan pedang yang memancarkan pancaran cahaya biru redup lalu menebas cakar-cakar tajam sang Komandan!
Tepat sebelum sang Komandan sempat menuntaskan serbuannya, pemuda itu justru meluncur merangsek masuk terlebih dahulu.
Duaaaarrr!
Dentuman dahsyat dan gelombang kejut seketika menyapu luas ke sekeliling mereka.
Sang lawan meluncur melintasi tubuh Baric begitu saja lalu memutar tubuhnya secepat kilat.
Dalam proses tersebut, Baric mengangkat lututnya melancarkan hantaman ke atas dan menyabetkan sikunya secara menyerong ke bawah.
Pemuda itu memutar bilah pedangnya lincah lalu menguncinya dalam posisi genggaman terbalik, memblokir hantaman lutut lawan menggunakan ujung mata pedangnya, dan menangkis sabetan siku musuh menggunakan pelindung gagang pedangnya!
Sebuah kapasitas ilmu bela diri yang teramat mencengangkan.
Brak! Trang! Suara benturan keras saling bertukar silih berganti di antara keduanya, dan lapisan kulit berduri sang Komandan yang membentengi lututnya mementalkan bilah pedang lawan diiringi percikan bunga api.
Sang lawan memanfaatkan sisa daya tolak benturan itu untuk membelokkan sabetan siku Baric menggunakan pelindung gagang pedangnya.
Penguasaan Gaya Pedang Lunak, Soft Sword Style, yang berada pada tingkatan yang teramat agung.
Terlebih lagi meski belum sedekat jarak di mana kau sanggup merasakan hembusan napas musuh, jarak tempur di antara mereka jauh lebih nyaman untuk melancarkan serangan siku dan lutut daripada pukulan tinju.
Kecuali jika seseorang telah menguasai seni pertempuran jarak dekat hingga ke tingkat master, mustahil baginya untuk sanggup mengeksekusi manuver akrobatik semacam ini.
Longarm tidak sanggup mengintervensi akibat luka parah di pahanya, sementara Barod yang berusaha menyergap punggung sang lawan menyelaraskan gerak sang Komandan terpaksa menarik langkahnya mundur karena posisi sang Komandan dan target sasaran mendadak bertukar tempat dalam sekejap mata.
Hanya Pustis seorang yang sanggup menghantamkan gada flail berduri miliknya ke bawah dengan segenap tenaga!
Ketiga kepala gada besi itu menyebar melebar tanpa saling bertubrukan.
Ia berniat memblokir seluruh rute penghindaran sang lawan lalu meremukkan tubuhnya hingga hancur berkeping-keping.
Dengan niat sederhana untuk membatasi ruang geraknya, ia berencana mencengkeram bilah pedang musuh menggunakan tiga kepala gada rantainya lalu menghunjamkannya ke tanah.
Namun sang lawan memperagakan tindakan yang sepenuhnya menyimpang dari skenarionya.
Pemuda itu menghunus sebilah pedang kedua di tangan kirinya lalu menusukkannya lurus ke depan!
Jika ia memaksakan sabetan flail-nya ke bawah, sebilah mata pedang pasti akan melubangi leher Pustis terlebih dahulu!
Pustis pada akhirnya tidak sanggup melanjutkan serangannya dan terpaksa menarik langkahnya mundur.
Sring! Trang! Trang!
Suara denting bilah senjata yang saling beradu sebanyak tiga kali bergema cepat membelah kesunyian.
"Kkuek..."
Dan tepat saat satu pertukaran serangan kilat itu tuntas diselesaikan, Venom telah mati binasa.
Artinya tepat seperti apa yang telah diperingatkan oleh ketajaman wawasannya beberapa saat yang lalu.
Itu adalah hasil karya berdarah dari sosok pria yang memancarkan aura maut yang teramat kelam.
Jaxen telah menyayat putus tenggorokan sang kurcaci berdarah campuran elf yang telah mengasah seni pembunuhan bayaran selama lebih dari seratus tahun penuh.
Kurcaci elf dengan luka sayatan menganga yang menyerupai mulut kedua di lehernya itu tersungkur ambruk ke tanah, menyeret genangan darah segar di bawah tubuhnya.
Kata-kata yang meluncur dari mulutnya yang memuntahkan buih-buih darah merah diiringi suara desisan teramat sulit untuk dipahami maknanya.
Kedua tangannya menggapai-gapai liar di udara selagi tubuhnya terkapar sekarat di atas tanah.
Kecuali jika ada sesosok dewa surgawi yang turun langsung dari langit, mustahil bagi siapa pun untuk sanggup bertahan hidup dari luka sayatan seekstrem itu.
Jika makhluk itu ingin tetap bernapas hidup, ia terpaksa harus hidup sebagai budak bangkai mayat di bawah kendali seorang penyihir yang menguasai ilmu necromancy.
Entah itu sebuah nasib buruk atau sebuah keberuntungan, sama sekali tidak ada dewa surgawi maupun penyihir necromancy di tempat ini.
Darah segar menyembur deras membasahi permukaan tanah di sekitarnya.
Kemenangan dan kekalahan telah terbagi dengan sangat tegas, dan hasil akhirnya terpampang teramat nyata.
Alasan kenapa hasil tragis ini bisa tercipta sangatlah sederhana.
Semata-mata karena jurang perbedaan kapasitas ilmu bela diri di antara kedua pembunuh bayaran itu teramat jauh.
Jaxen sedari awal memang telah menetapkan tekadnya untuk membantai Venom terlebih dahulu sebelum yang lainnya.
Ia tidak melontarkan kata-kata provokasi dan memancing perhatiannya tanpa alasan.
Seandainya belati yang ia lemparkan ke dahi Pustis tadi berhasil menembus kepalanya, Venom pasti akan memanfaatkan detik kelengahan itu untuk menerkamnya dari belakang.
Ia telah memperhitungkan kemungkinan terburuk itu sedari awal.
Jaxen menerapkan taktik memberikan daging demi merebut tulang lawan.
Itulah hasil akhir yang pasti akan tercipta seandainya tidak ada variabel tak terduga saat ketiga ksatria itu menyerangnya secara serempak tadi.
Seseorang baru akan mengetahui hasilnya setelah berani mencoba segala kemungkinan.
Sebuah jalan yang tidak pernah kau tempuh akan selalu menjadi misteri untuk selamanya.
Oleh karena itu jangan pernah mencemaskan hari kemarin yang telah berlalu, melainkan curahkan yang terbaik untuk hari ini dan hari esok yang akan datang.
Jaxen bertindak persis seperti filosofi hidup tersebut.
'Apa yang telah kupelajari dari sang Kapten.'
Sangat tepat jika dikatakan bahwa dirinya hanya bertindak selaras dengan apa yang telah ia pelajari selama ini.
Mempercayakan empat orang ksatria musuh kepada sang Kapten, ia mengeksekusi kurcaci elf terkutuk yang memang sudah seharusnya mati sedari dahulu kala.
Lengan kirinya kini telah terbebat rapat oleh sehelai perban obat sebelum siapa pun sempat menyadarinya.
Itu adalah perban khusus yang diresapi ramuan obat penghenti pendarahan yang diracik dengan penuh ketelitian oleh Anne—sebuah ramuan pembeku darah sekaligus pereda rasa sakit.
Artinya ia bahkan memiliki ketenangan batin yang cukup luas untuk membebat lukanya selagi meladeni duel maut melawan Venom.
"Mari kita mulai duel kita sekarang," ujar Jaxen dari The Madmen Knights seraya menatap dingin ke arah Pustis.
Sebuah sensasi pusing yang memualkan seketika menyelimuti kesadaran Pustis.
Hampa dan gamang.
Rasanya tak ubahnya berdiri di tepi jurang terjal yang curam seraya menatap ke dasar jurang yang gelap gulita.
Sebuah guncangan mental yang tercipta akibat kegagalannya dalam menakar kapasitas sang lawan menggunakan ketajaman wawasannya.
"Pus-tis!"
Raungan membahana dari sang Komandan Baric seketika menyentak kesadaran batinnya.
"Jumlah mereka cuma ada dua orang! Cukup bantai mereka berdua sampai mati!"
Meski akal sehatnya sempat terdistorsi oleh naluri buas binatang buas, sang Komandan tetap sanggup membuka suaranya.
Bukan sekadar berbicara, melainkan meraung lantang.
Sama sekali tidak ada secuil pun kegoyahan pada kehendak tekad yang terkandung di dalam raungannya.
Hanya satu orang ksatria yang tewas, yaitu Venom.
Itulah pesan mutlak yang ingin disampaikan oleh sang Komandan kepada para bawahannya.
"Ya, saya mengerti, Komandan!"
Pustis yang memahami maksud di balik raungan tersebut menyahut mantap.
Ia berhasil menemukan kembali ketenangan batinnya dalam sekejap mata.
Ia tidak menyandang gelar anggota ordo ksatria pelindung tanpa alasan.
"Longarm, jangan pernah mengendurkan kewaspadaanmu sedikit pun! Pria itu sangat mahir dalam seni pembunuhan senyap!"
Pustis terus melontarkan instruksi taktis secara beruntun.
Sebuah perpaduan harmonis antara ketenangan dingin dan kewaspadaan tinggi.
Apakah pria pembunuh itu memiliki bakat istimewa untuk mengelabui ketajaman indera seorang ksatria?
Lalu apa yang sanggup ia perbuat saat berhadapan dengan lawan yang memperluas jarak pandang penglihatannya dan bertahan dengan ketetapan tekad baja?
Jika seseorang telah bersiap siaga penuh, kewaspadaan itu sudah lebih dari cukup untuk membeli waktu berharga demi merespons sergapan mendadak.
Sehebat apa pun seseorang dalam seni pembunuhan bayaran, hukum alam itu tetap akan berlaku.
Bukankah dirinya menyandang gelar bencana berjalan bukan tanpa alasan?
"Jika kita berhasil membantai pendekar pedang di depan kita ini terlebih dahulu, situasi pertempuran akan kembali sama persis seperti sebelumnya," imbuh Barod mantap.
Perkataannya sepenuhnya benar.
Pustis mengatur ritme napasnya perlahan.
Bagaimanapun juga pertarungan ini bakal tuntas dalam sekejap mata.
Begitu genderang duel berakhir, hanya kematian dan kelangsungan hidup yang bakal terbagi secara tegas.
Oleh karena itu bertarunglah jika kau tidak ingin mati terbunuh, dan berjuanglah sekuat tenaga jika kau masih mendambakan kehidupan.
Bukankah dirinya sanggup bertahan hidup hingga hari ini semata-mata karena memahami hukum rimba tersebut?
Jaxen menarik langkahnya mundur tiga langkah ke belakang secara perlahan lalu mengatur ritme napasnya dalam keheningan.
Suara hembusan napasnya yang tipis dan panjang sama sekali tidak tertangkap oleh gendang telinga siapa pun di tempat itu.
Mengatur aliran napasnya sedemikian rupa, ia mengangkat telapak kakinya lalu mulai melangkah maju.
Siluet tubuhnya seketika mengabur layaknya fatamorgana di ruang udara hampa lalu lenyap tak terlihat di depan mata!
'Trik sihir macam apa lagi itu?!'
Longarm membatin seraya menyaksikan lenyapnya sosok sang pembunuh bayaran.
Ia memusatkan seluruh konsentrasinya tanpa berkedip walau sekali pun.
Sehebat apa pun seorang pembunuh bayaran, ia mustahil sanggup membantai seorang ksatria sejati yang telah bersiap siaga penuh secara diam-diam.
Ia mengulang doktrin kebenaran yang baru saja ia sadari tadi di dalam benaknya sekali lagi.
Dan kemudian Longarm membangkitkan seluruh kepekaan inderawinya ke batas tertinggi.
'Bajingan itu pasti bakal mengincar diriku terlebih dahulu!'
Pancaran aliran Will berkilat terang di kedua bola matanya.
Kehendak tekad menjelma menjadi kekuatan nyata yang berpendar tajam.
'Aku pasti akan bertahan hidup hari ini pun!'
Ordo Mud Knights selalu bertarung berkali-kali lipat lebih buas di tengah situasi krisis maut.
Bukankah mereka sedari awal adalah golongan petarung yang bertahan hidup dengan menjadikan naluri bertahan hidup sebagai senjata utama mereka?
Akal sehat Baric sempat mengabur saat ia berubah wujud menjadi binatang buas tadi.
Naluri pembantaian dan naluri penghancuran yang mendambakan untuk meremukkan segala sesuatu sempat mendominasi jiwanya.
'Batasan takdir dari seekor beastkin terkutuk.'
Adalah sebuah kebohongan besar jika pemikiran pesimis semacam itu tidak pernah melintas di benaknya.
Namun ia berhasil bertahan hidup, mendobrak dinding batas kemampuannya, dan berhasil mencapai kedudukannya yang sekarang.
Dan detik ini Baric kembali melampaui dinding batas kemampuannya sekali lagi.
'Jarak pandang penglihatanku terasa teramat benderang dan jernih.'
Biasanya seluruh pemandangan di sekitarnya akan terlihat berwarna merah darah pekat saat ia berubah wujud, namun hari ini keanehan itu sama sekali tidak terjadi.
Tepatnya pada mulanya pemandangannya memang merah pekat seperti itu, namun kesadaran akal sehatnya seketika pulih begitu ia bertukar sabetan pedang dengan pendekar muda tersebut.
Kobaran semangat tempur yang membara menyentak dan membangkitkan akal sehatnya kembali.
Krisis maut menuntun langkahnya untuk melangkah maju menuju ke tingkatan alamiah yang baru.
'Jika aku bertindak ceroboh sedikit saja, aku pasti akan mati tertebas.'
Ia sama sekali tidak ingin mati di tempat ini.
Ia bertekad untuk mengatasi rintangan maut ini hari ini pun.
Tubuhnya terasa berkali-kali lipat lebih ringan daripada biasanya dan seluruh anggota tubuhnya dipenuhi oleh luapan tenaga yang melimpah.
Kobaran semangat tempur yang terangkat naik memberikan pengaruh mendalam bagi kekuatan fisiknya.
"The Madmen Knights, bukan?" Baric bertanya seraya menatap lurus ke depan.
Sang lawan baru saja mengubah kuda-kuda bertarungnya dari menjuntaikan pedang ke bawah menjadi mengangkat bilah pedangnya sejajar di samping wajahnya.
Sepasang bola mata biru cerah yang bersemayam di balik helaian rambut hitam pekatnya terlihat teramat mengesankan.
Pancaran warna biru itu tertangkap sangat hidup di pelupuk matanya.
Sang lawan membuka mulutnya seraya menganggukkan dagunya sedikit, sebuah gerakan yang nyaris tak terlihat oleh mata.
Gerakan itu tampak layaknya persiapan siaga demi merespons seketika seandainya musuh melancarkan serangan mendadak di tengah percakapan.
Benar-benar sosok lawan yang teramat teliti dan tanpa celah.
"Encrid dari The Madmen Knights."
"Akan kuingat nama agung itu dengan baik."
Tentu saja Baric menyambut interaksi itu dengan pembawaan sikap yang serupa.
Bahkan selagi membuka mulut dan berbicara, ritme napas dan kuda-kuda bertarungnya sama sekali tidak terganggu sedikit pun.
Bersiap siaga penuh untuk bereaksi seketika jika sang lawan melancarkan serangan kilat.
Percakapan di antara mereka berlangsung sangat singkat.
Sebab mereka berdua bukanlah sahabat dekat yang memiliki urusan untuk mengobrol panjang lebar.
Barod sang master seni perisai memperluas kesadaran inderawinya ke seluruh penjuru lingkungan lalu menyelimuti sekujur raganya dengan aliran Will murni.
Sebuah teknik pertahanan pamungkas yang tercipta setelah mengamati perubahan wujud binatang buas milik sang Komandan.
Bertumpu pada sepasang perisai bajanya, ia melapisi sekujur tubuhnya dengan cangkang pelindung magis yang berkali-kali lipat lebih keras daripada zirah baja murni.
'Zirah Emas Sunyi, Armor of Silent Gold!'
Aliran Will beresonansi selaras dengan sepasang perisai dan sekujur raganya.
Demi menyempurnakan jurus ini, ia bahkan sempat meriset sebagian dari teknik pengerasan tubuh milik bangsa raksasa.
Ia telah menjelma menjadi sebuah benteng pertahanan hidup yang mustahil untuk ditembus oleh mayoritas sabetan pedang di dunia.
Sebuah mahakarya pertahanan yang berhasil ia sempurnakan selagi bertarung hidup-mati menghadapi kawanan monster raksasa yang kekuatannya sebanding dengan para ksatria sejati.
'Seekor Ogre.'
Monster buas bertubuh raksasa yang ukurannya jauh melampaui bangsa raksasa.
Bagaimana kedahsyatan kekuatan fisiknya?
Sebatang pohon raksasa purba sanggup patah tumbang dan tercabut dari akarnya hanya dengan satu kali kibasan tangannya yang kasar.
Seekor monster yang menggunakan batang pohon raksasa yang tercabut itu sebagai senjata gada pemukul lalu mengayunkannya membabi buta.
Dan setelan zirah pelindung milik Barod adalah teknik pertahanan mutlak yang terbukti tidak pernah hancur bahkan saat dihantam oleh kedahsyatan tenaga seekor monster Ogre sekalipun.











