Murim Psychopath

Chapter 102

3436 Kata

**Bab 102. Akhir Jam Malam Terakhir**

***

**Jam Malam Terakhir** dilaporkan telah hampir selesai bergulir seutuhnya.

Secara bertahap, kondisi jalanan kota Zhengzhou mulai bergeser sepi, namun kuantitas pendekar persilatan yang meramaikan jalanan dideteksi masih tergolong cukup padat.

Dan kemudian.

Pada satu detik waktu tertentu, Dong Bong-su mulai menggeser langkah kakinya meluncur membaur di sela-sela kerumunan pendekar tersebut.

***

Sesosok pendekar dari unit Pasukan Bayangan Pembunuh bernama **Sepuluh** (`Ten`) saat itu terpantau sedang mendekam menyembunyikan fisiknya di bawah atap genteng sebuah rumah warga sipil, jaraknya berkisar sekitar sepuluh zhang di sebelah selatan Kedai Nangnang.

Ia menolak didelegasikan bertarung sendirian malam ini—jajaran personel unit Pasukan Bayangan Pembunuh (`Killing Shadow Squad`) lainnya dilaporkan ikut mendekam menyebar menyelimuti sepanjang jalan raya kota.

Menggunakan sepasang matanya ia bisa menangkap visual tubuh rekan pembunuh bernama **Dua Puluh Dua** (`Twenty-Two`) yang bersiap menyembunyikan tubuhnya sangat dalam di balik gang sempit arah berlawanan secara sangat presisi. Pancaran cahaya rembulan malam dideteksi sangat benderang, dipadu posisi koordinat bersembunyi Sepuluh yang secara geografis berada di ketinggian yang lebih tinggi dibandingkan dengan posisi bersembunyi Dua Puluh Dua.

Ia sempat melayangkan sapuan mata cepat menatap ke arah Dua Puluh Dua baru kemudian memutar kembali arah pandangan matanya membidik ke arah area pintu masuk Kedai Nangnang, lokasi koordinat tempat target buruan mereka sedang berdiri tegak.

Sosok target buruan mereka, sang pemuda dengan helaian poni rambut panjang yang menutupi separuh diameter wajah cantiknya saat itu terpantau masih berdiri tegak di titik koordinat yang sama.

Apakah ia murni hanya sedang berdiri diam menatap tenang kawanan orang lewat di hadapannya?

Sepuluh seketika dilingkupi rasa jengkel yang cukup padat murni karena ia kesulitan untuk bisa meneliti secara akurat ke arah titik mana fokus sepasang mata target sedang menatap. Meniru alur keahlian mayoritas pembunuh bayaran pada umumnya, ia terbiasa memprediksi ketepatan waktu meluncurkan serangan dadakan beserta arah pergerakan fisik musuh murni ditopang oleh cara membaca pergerakan bola mata target. Namun pemuda di depannya saat ini secara mutlak mematikan taktik perburuan tersebut, menghantarkan riak tidak nyaman di dadanya. Terlebih lagi, tidak bersisa satu pun keping informasi latar belakang kemampuan target yang tersimpan di dalam kepalanya, memicu situasi batinnya merosot semakin tidak aman.

‘Keparat sialan. Alasan bodoh apa yang memicu bajingan itu tetap berdiri diam menolak bergeser sedikit pun?’

Mungkinkah pemuda tersebut sejak tadi sebenarnya telah sukses mengendus keberadaan personel Pasukan Bayangan Pembunuh yang mengepungnya saat ini?

Hal tersebut dideteksi sepenuhnya mustahil terjadi.

Meskipun latar belakang sejarah pembentukan unit Pasukan Bayangan Pembunuh diakui sangat mengerikan dan tergolong sangat hina, namun kerasnya metode pelatihan pembunuh yang mereka lalui dideteksi sepenuhnya sejajar dengan visual siksaan neraka. Menyangkut perkara menyembunyikan wujud fisik seutuhnya, master puncak persilatan sekalipun dideteksi akan menderita kesulitan untuk bisa menandingi kehalusan persembunyian mereka.

Sepuluh menaruh kepercayaan penuh terhadap kemampuan fisiknya sendiri sekaligus menaruh kepercayaan tempur terhadap kemampuan jajaran rekannya. Seluruh personel unit pembunuh telah dimobilisasi penuh mengepung jalanan malam ini. Ditopang oleh melimpahnya kuantitas pembunuh mumpuni saat ini, bukankah kekuatan mereka dinilai sudah sangat mumpuni untuk melenyapkan nyawa pendekar sekelas tetua asuhan Sembilan Sekte Besar sekalipun di dalam jebakan penyergapan?

Unit Pasukan Bayangan Pembunuh berkomitmen menolak melepaskan cengkeraman target buruan yang telah resmi ditandai oleh sistem faksi mereka. Semenjak hari pertamanya terdaftar resmi sebagai bagian dari unit pembunuh ini, Sepuluh tercatat menolak mengamankan satu kali pun kasus kegagalan misi di lapangan. Dan untuk misi pembunuhan malam ini dipastikan tidak akan menyajikan hasil akhir yang berbeda. Lagipula, ketiadaan lembar informasi statistik kemampuan musuh dideteksi tidak lagi mendatangkan nilai guna penting bagi logikanya saat ini.

Sepasang mata Sepuluh yang tenggelam di balik pekatnya kegelapan atap genteng tampak merosot semakin dalam.

‘Gerakkan langkah kakimu. Bergeraklah. Sebab pada detik pertama kau meluncurkan pergerakan kakimu nanti.’

Ragamu secara otomatis dipastikan bertransformasi menjadi jasad mati!

Tepat di saat ia sedang meledakkan teriakan batin ancaman tersebut di dalam dadanya—

‘……!’

Sosok target buruannya akhirnya resmi meluncurkan pergerakan fisiknya.

Target secara mendadak meluncur membaurkan wujud fisiknya di sela-sela padatnya kerumunan manusia di jalanan bawah.

Sepasang mata Sepuluh seketika mendelik lebar. Jalan raya saat itu dilaporkan dipadati oleh ratusan pendekar asing di luar target buruan mereka, memaksanya untuk memicu fokus penglihatan maksimal agar menolak kehilangan jalur pergerakan fisik target sekejap pun.

‘Lima puluh langkah kaki, empat puluh sembilan, empat puluh delapan……’

Demi mencegah terputusnya fokus mata menatap target, Sepuluh secara konstan terus mengukur selisih jarak spasial di antara tubuhnya dengan target di kepalanya. Meskipun ia menolak dibekali kemampuan untuk bisa menatap wujud target secara langsung akibat padatnya manusia, namun jajaran personel Pasukan Bayangan Pembunuh lainnya dipastikan sedang menaruh kesiagaan tempur yang sejajar saat ini. Begitu target merangkak mendekat di sela jarak satu atau dua langkah kaki dari koordinat bersembunyi salah satu di antara rekan pembunuh mereka kelak, riak serangan maut dipastikan akan langsung meledak menghantam fisiknya secara serentak.

Sepuluh terus melanjutkan hitungan jaraknya.

Tiga puluh delapan langkah kaki, tiga puluh tujuh, tiga pu— enam langkah kaki!?

‘Hah!? Hilang?’

Sosok target buruan mereka secara mendadak……

*Lenyap tak berbekas.*

Meskipun intensitas kerumunan manusia di jalanan saat itu tergolong cukup padat, namun visual pakaian jubah beserta rambut poni panjang milik target diakui sangat mencolok sehingga sepenuhnya mustahil bagi mata pembunuh berpengalaman untuk bisa kehilangan jejak fisiknya……

Namun kenyataannya, mereka benar-benar kehilangan jejak target saat ini.

Tidak berhenti di sela kemunduran taktis itu saja, melainkan puluhan pembunuh bayaran dari unit Pasukan Bayangan Pembunuh saat itu dilaporkan sedang secara bersamaan memusatkan fokus mata membidik langsung ke arah tubuh target, namun pemuda gila tersebut secara nyata sukses lenyap tak berbekas dari sapuan mata mereka seutuhnya.

Dilingkupi rasa panik, Sepuluh memutar kepalanya menatap ke arah Dua Puluh Dua yang bersiap di gang seberang jalan. Namun Dua Puluh Dua terdeteksi sedang melayangkan fokus tatapan mata bingung yang sejajar menatap ke arahnya, menandakan ia juga telah kehilangan jalur pergerakan target.

‘Ini nyata! Pemuda gila tersebut secara faktual telah benar-benar lenyap!’

Kedua orang pembunuh tersebut secara serentak memutar kepala mereka menatap lekat ke arah titik koordinat awal lenyapnya target baru saja. Titik tersebut berada tepat di bagian tengah jalan raya umum kota. Tidak bersisa satu pun objek fisik yang mumpuni untuk dijadikan sebagai tempat bersembunyi di sekitar koordinat tersebut. Kecuali jika pemuda tersebut menguasai teknik kamuflase ekstrem di level tingkat penguasaan yang setara dengan teknik milik komandan tertinggi unit Pasukan Bayangan Pembunuh mereka seutuhnya, tidak ada satu pun pendekar di dunia persilatan yang dibekali kemampuan untuk bisa lenyap seketika di tengah jalan seperti itu. Tidak—bahkan sang komandan tertinggi mereka sekalipun dianalisis menolak dibekali kemampuan untuk bisa lenyap secara instan seutuhnya tanpa menyisakan riak getaran udara. Minimal, riak energi dantian dari keaktifan teknik kamuflase dipastikan tetap akan memicu getaran di sekeliling area jalan.

Namun pemuda gila tersebut secara harfiah murni hanya……

*Lenyap seketika!?*

Bagi logika faksi unit Pasukan Bayangan Pembunuh, menderita kegagalan misi akibat kehilangan jejak target buruan diklasifikasikan memiliki tingkat konsekuensi yang sejajar dengan dicabutnya nyawa fisik mereka sendiri seutuhnya.

Maklumat perintah dari komandan tertinggi unit pembunuh dideteksi bersifat mutlak tanpa tawar-menawar.

Serta malapetaka maut seperti apa yang bersiap menjemput nyawa mereka jika mereka sampai menderita kegagalan melunasi perintah pembunuhan yang didelegasikan langsung oleh sosok wanita misterius yang mengendalikan komandan tertinggi mereka layaknya boneka tali?

Maka kelangsungan hidup mereka dipastikan resmi berakhir hari ini.

“Keparat sialan—!”

Kemungkinan besar karena otaknya telah terlanjur dihantam oleh kepanikan maut hingga tega melanggar aturan baku unit pembunuh yang melarang keras personel bersuara melontarkan kosakata sepele di sela misi penyergapan, Sepuluh secara tidak sadar melepaskan sesosok keluhan tipis dari bibirnya di saat fisiknya bergerak meluncur turun sedikit dari balik atap genteng.

Menatap ke arah seberang jalan gang, Dua Puluh Dua juga terpantau telah memosisikan sebagian anggota fisiknya condong keluar dari balik dinding gang sempit. Serta dari arah berlawanan di sela gang sempit lainnya, rekan pembunuh bernama **Tiga Puluh Delapan** (`Thirty-Eight`)—yang memikul tanggung jawab taktis untuk mengunci jalur pelarian target—melangkah kaki lebar merangsek masuk ke tengah jalanan kota.

Apakah pendekar tersebut berhasil mengamankan koordinat penemuan target?

*Bruk.*

Tepat pada detik itu—

Potongan kepala Tiga Puluh Delapan seketika menggelinding putus jatuh di atas permukaan jalan.

“……!”

Sepuluh sama sekali tidak memiliki dasar informasi untuk bisa memetakan kejadian pembunuhan gerilya seperti apa yang baru saja meletus di depannya. Namun identitas pelaku pembunuhan tersebut terpatri sangat jelas di kepalanya.

*Sang target buruan mereka! Pemuda gila tersebut telah mendekam menyembunyikan fisiknya di satu koordinat rahasia baru kemudian meledakkan tebasan pedang maut secara gerilya, lalu kembali lenyap tak berbekas.*

“Akh!”

“A-Apa-apaan itu!?”

“Hiiii!”

Menyaksikan kemunculan sesosok jasad mayat tanpa kepala yang mendadak ambruk mengotori jalanan kota, jajaran warga sipil beserta pendekar asing yang memadati jalanan seketika menjerit histeris ketakutan baru kemudian berlarian meluncur ke segala penjuru arah. Dalam sekejap, kondisi jalan raya kota Zhengzhou merosot kacau diliputi kepanikan massal.

Dampak dari meletusnya kepanikan massal tersebut secara otomatis menyulitkan Sepuluh beserta seluruh personel unit Pasukan Bayangan Pembunuh di sekitarnya untuk bisa melacak wujud asli pergerakan Dong Bong-su di lapangan.

Dan terhitung semenjak detik itu juga, durasi pembantaian sepihak resmi dipicu aktif oleh sistem.

*Bruk.*

Rekan pembunuh bernama **Empat Puluh Satu** (`Forty-One`), yang sejak tadi mendekam menyembunyikan fisiknya di atas atap genteng bangunan di arah berlawanan dilaporkan telah resmi tewas menggelinding. Dan untuk sepersekian detik yang sangat singkat, Sepuluh sempat menangkap visual bayangan hitam yang berdiri tegak tepat di bagian belakang punggung Empat Puluh Satu. Namun kilasan visual tersebut benar-benar murni berlangsung selama sekejap semata.

Sesaat setelah sukses menebas putus leher Empat Puluh Satu, wujud fisik target kembali lenyap tak berbekas dari matanya.

*Bruk. Bruk. Bruk.*

Rekan pembunuh bernama **Tujuh**, **Sembilan**, **Lima Belas**……

Nominal sisa prajurit pembunuh dari unit Pasukan Bayangan Pembunuh terpantau terus merosot turun drastis dalam kurun waktu yang sangat singkat.

“I-Itu……!?”

Detik ini, di sela-sela jalannya pembantaian, mereka sesekali dilaporkan telah dibekali kemampuan untuk bisa menangkap visual tubuh target. Namun di sela detik berikutnya, bayangan tubuh pemuda tersebut kembali lenyap tanpa menyisakan riak getaran sedikit pun. Pergerakannya sepenuhnya mustahil untuk dikunci.

Di saat wujud fisiknya terekspos, akselerasi kecepatan gerak Dong Bong-su dideteksi sangatlah luar biasa cepat. Tidak—kecepatannya terlampau lincah hingga seolah-olah penggunaan kosakata "cepat" dinilai sudah tidak lagi mumpuni untuk menggambarkan kelihaian gerakannya. Semakin banyak kuantitas personel unit Pasukan Bayangan Pembunuh yang sukses ia tebas mati, tingkat kelincahan gerak fisiknya terpantau tumbuh menjadi berkali-kali lipat jauh lebih lincah dan berlipat ganda kencang. Terkadang fisiknya mendadak lenyap seolah-olah ia memicu keaktifan Blink berpindah ruang secara instan di tempat, dan terkadang fisiknya lenyap menyerupai visual menembus masuk ke dalam tiang bangunan secara gaib.

Tidak ada satu pun pembunuh berpengalaman di tempat ini yang dibekali kemampuan taktis untuk bisa melacak arah sabetan pedangnya. Jurus pergerakannya dideteksi bukan merupakan bagian dari teknik kamuflase sejati, teknik meringankan tubuh biasa, maupun keterampilan persilatan lainnya.

Bagaimana cara yang paling ideal bagi otaknya untuk bisa mengategorikan wujud pemuda itu saat ini?

Pemuda di hadapan mereka secara harfiah tidak lebih dari sesosok **hantu sejati**. Sesosok hantu pencabut nyawa.

“H-Hantu! Ada hantu pencabut nyawa!”

Seolah-olah menyuarakan isi keluhan batin dari dalam dada Sepuluh sendiri, salah seorang pendekar asing di sela kerumunan jalan melepaskan teriakan histerisnya kencang. Letupan teriakan tersebut seketika memaksa akselerasi pelarian warga sipil di jalan bertambah berkali-kali lipat jauh lebih gila.

Beberapa orang personel unit Pasukan Bayangan Pembunuh mencoba membaurkan wujud fisiknya di sela padatnya pelarian warga sipil guna meloloskan diri meninggalkan zona pertempuran maut ini. Namun rencana pelarian tersebut murni berakhir sebagai rencana kosong semata. Sang target—tidak, sang hantu pencabut nyawa tersebut—secara mekanis memprioritaskan sabetan pedangnya membantai siapa saja yang menaruh niat melarikan diri terlebih dahulu.

Dampak dari penindasan gerilya tersebut secara otomatis memaksa diameter pergerakan fisik dari jajaran sisa pembunuh menyusut kencang di tempat. Kasus penindasan yang sejajar melanda batin Sepuluh, dan serupa dengannya dialami oleh Dua Puluh Dua yang bersiap di gang seberang jalan. Letupan ketakutan maut menyangkut fakta medis bahwa *siapa saja yang menggeser langkah kakinya terlebih dahulu dipastikan akan langsung tewas dipenggal* saat ini telah terukir kokoh menyelimuti kesadaran batin masing-masing pembunuh seutuhnya.

*Bruk. Bruk. Bruk……*

Namun kenyataannya, memilih tetap berdiri terdiam membisu di tempat persembunyian juga sama sekali menolak mendatangkan jaminan keselamatan nyawa bagi fisik mereka. Tidak peduli apakah kau memilih bergerak aktif maupun tetap diam membatu, alur pembantaian sepihak tetap terus meluncur merambah ke seluruh sudut jalanan kota tanpa ada jeda.

*Bruk. Bruk. Bruk……*

“…….”

Sepuluh murni hanya bisa berdiri terdiam membatu dengan sepasang bibir menganga lebar karena syok, pasrah menanti tibanya giliran pemotongan lehernya sendiri dari arah belakang.

Hingga pada satu detik waktu tertentu—

*Bruk.*

Tepat di seberang jalan gang depannya, Dua Puluh Dua—yang sejak tadi juga berdiri terdiam membisu dengan bibir menganga lebar menyalin reaksinya—terlaporkan telah resmi kehilangan kepalanya.

Sesosok pendekar yang baru saja selesai menebas putus leher Dua Puluh Dua tampak memutar arah tubuhnya perlahan baru kemudian mengarahkan pandangan matanya menatap lurus membidik ke arah fisiknya.

Tentu saja, Sepuluh menolak menggeser anggota tubuhnya sedikit pun saat itu. Hal tersebut ia lakukan bukan didasari oleh analisis dugaan bahwa menggeser langkah kaki hanya akan berakhir sia-sia semata. Melainkan karena seluruh otot biologis tubuhnya—kedua belah kaki, sepasang lengan…… secara harfiah menolak menuruti perintah otaknya untuk bergerak akibat teror ketakutan maut yang luar biasa menyiksa.

*Wusss.*

Sang hantu pencabut nyawa kembali lenyap tak berbekas. Sebuah keahlian jurus pergerakan aneh yang mematikan.

Sesaat setelah itu, sesosok hawa dingin yang sangat tajam seketika merambat deras membasahi tulang belakang tubuh Sepuluh.

*Belakang.* Sang hantu pencabut nyawa saat ini secara fisik telah resmi berdiri bersiap tepat di bagian belakang punggungnya. Ia dibekali kemampuan untuk mengetahuinya secara presisi tanpa perlu memutar posisi kepalanya menatap ke belakang.

Sebab aroma karat amis dari semburan darah segar di sekitarnya saat itu telah tercium menusuk lubang hidungnya secara pekat. Dan tidak lama lagi, aliran darah segar dari dalam tubuhnya sendiri dipastikan akan ikut ditambahkan menyertai keharuman amis darah tersebut seutuhnya.

“Siapa identitas asli dari wanita itu?”

Gumam sang hantu pencabut nyawa datar.

Bahkan intonasi suara yang dilepaskan oleh sang hantu tersebut dideteksi sangatlah ganjil. Apakah secara fisik ia memang benar-benar menolak diklasifikasikan sebagai golongan manusia sejati? Intonasi suaranya memancarkan hawa kekosongan emosi yang sangat mutlak, sepenuhnya steril dari sisa-sisa emosi manusia biasa.

Sepasang mata Sepuluh tampak bergetar sangat hebat karena ngeri. Logika kepalanya murni benar-benar menolak memiliki dasar informasi untuk mengetahui siapa esensi identitas asli dari kata ganti “wanita itu” yang dimaksud oleh sang hantu baru saja. Informasi penting yang bersiap di kepalanya murni hanya terbatas pada fakta bahwa wanita misterius tersebut menyandang wewenang mutlak untuk bisa memerintah komandan tertinggi unit pembunuh mereka layaknya budak suruhan biasa.

“Aku………”

Sepuluh memaksakan otot bibirnya terbuka lebar berniat menyuarakan kosakata `[Aku benar-benar tidak mengetahuinya]`. Namun getaran kosakatanya terbukti menolak dikonversi menjadi riak suara di udara seumur hidupnya.

Murni karena posisi urat leher fisiknya saat itu telah tergeser miring ke arah samping akibat sayatan tebas pedang, memicu diameter sudut pandang matanya merosot semakin rendah mendekati tanah pasir, dengan kesadaran jiwanya yang telah resmi meloloskan diri melayang jauh meninggalkan jasad fisiknya seutuhnya.

Dan terhitung semenjak detik jatuhnya kepalanya tersebut, Jam Malam Terakhir resmi diselesaikan seutuhnya, menyongsong terbitnya hari yang baru.

***

“Aduh, aduh. Durasi hari ini ternyata telah resmi berakhir bergulir. Sungguh sebuah penyesalan maut yang sangat disayangkan.”

Yeon Yeong-ha mengecap bibirnya perlahan menyisakan riak kekecewaan di wajah cantiknya.

Ia saat ini terpantau sedang duduk bersantai dengan kedua kakinya terjuntai di sela dahan pohon ek besar yang bersiap di atas bukit, jaraknya ditaksir berkisar sekitar tiga puluh zhang di sebelah utara Kedai Nangnang. Dari titik koordinat ketinggian bukit tersebut, sepasang matanya secara mutlak telah selesai menyaksikan seluruh jalannya pembantaian gerilya yang meletus aktif di depan Kedai Nangnang sejak awal.

Meskipun ia dianalisis secara berulang telah menyaksikan pemandangan pembantaian yang sejajar sebanyak tiga kali berturut-turut di sepanjang pengulangan “hari ini” kemarin, namun ketertarikan batinnya menyikapi jalannya pertarungan Dong Bong-su tetap terdeteksi sangat melimpah.

Pembawaan gerakan yang melabrak logika.

Pemuda gila tersebut secara esensial merupakan sesosok manusia yang seluruh alur tindakannya telah keluar melenceng dari pakem hukum dunia persilatan. Persis seperti dirinya sendiri…… atau bahkan kadar ketidaknormalan pemuda tersebut dideteksi berkali-kali lipat jauh lebih ekstrem dibandingkan dengan kegilaan dirinya seutuhnya.

Selama ia dibekali peluang untuk bisa menyaksikan jalannya pertempuran pemuda tersebut satu atau dua kali lagi di masa depan kelak, batinnya meyakini dirinya dipastikan akan sukses memecahkan total teka-teki jurus pemuda tersebut…… namun sayangnya, durasi hari ini telah resmi ditutup oleh sistem. Fakta pertukaran waktu tersebut sukses menyisakan kekecewaan batin yang sangat mendalam di dalam lubang dada Yeon Yeong-ha malam ini.

“Tetua Noh, apakah sepasang matamu sukses menangkap jalannya pertunjukan tadi seutuhnya?”

Meskipun ia melayangkan kalimat tanya tersebut, wujud bayangan hitam di sela dahan pohon terpantau tetap diam membatu tanpa melayangkan jawaban verbal balik sedikit pun.

“Ah, benar juga. Mana mungkin sepasang mata Tetua Noh dibekali kapasitas visual untuk bisa memetakan jalannya jurus pemuda itu seutuhnya secara presisi.”

Mendengar baris kalimat cibirannya yang terus mengalir tersebut, wujud bayangan hitam akhirnya tampak memicu kerutan getaran halus perlahan.

“Ya? Karakteristik diriku sendiri? Apakah kau berniat bertanya apakah sepasang mataku sukses menangkapnya seutuhnya?”

“………”

“Aku secara pribadi juga tercatat sepenuhnya gagal menangkap jalannya jurus pemuda itu seutuhnya. Oleh karena kegagalan visual itulah yang saat ini sedang merongrong kewarasan otakku hingga terasa hampir gila. Nominal tiga kali pengulangan hari ini terbukti sama sekali menolak mumpuni untuk memetakan jurus pemuda itu seutuhnya. Masih sangat kurang.”

Hanya berbekal tiga kali pengulangan hari saja, tingkat kesulitan untuk bisa mencerna esensi jurusnya dinilai sepenuhnya mustahil untuk dicapai.

Teknik lenyap seketika baru kemudian menampakkan wujud fisiknya kembali secara acak……

Dan keunikan tersebut menolak dibatasi murni menyelimuti anggota fisiknya saja. Melainkan bilah pedang panjang di telapak tangannya secara gaib terdeteksi eksis di sela tangannya, baru kemudian lenyap secara instan, dan secara ajaib kembali menampakkan ketajamannya kembali di sela tebasan berikutnya…… sebuah fenomena gaib yang sepenuhnya melabrak akal sehat dunia persilatan namun secara faktual sukses disaksikan oleh sepasang matanya secara sadar.

Bahkan detik ini juga, telapak tangan pemuda di kejauhan tersebut terpantau menolak menggenggam sebilah pedang panjang sedikit pun. Namun meski begitu, di saat ia meluncurkan tebasan terakhir memutuskan leher Sepuluh tadi, sebilah pedang tajam secara nyata terdeteksi berada di dalam genggamannya.

`[Bantai mereka. Habisi seluruh kepingan nyawa manusia di hadapanmu saat ini juga tanpa sisa.]`

*Heavenly Slaughter Energy* kembali bergejolak buas membanjiri dadanya.

Sepasang pupil mata Yeon Yeong-ha seketika berubah warna bertransformasi menjadi hitam legam seutuhnya.

Riak tekanannya diakui sangat sulit untuk diredam oleh batinnya. Namun logikanya menolak memberikan ruang bagi keaktifan *Heavenly Slaughter Energy* untuk memicu fase kegilaan bertarung yang merusak rencananya di Zhengzhou saat ini.

“Situasi gila ini secara nyata sedang mengacaukan kewarasan otakku. Aku secara harfiah merasa hampir kehilangan kesadaran sehatku seutuhnya saat ini. Tetua Noh. Hasrat bertarungku untuk bisa bermain fisik bersama pemuda gila tersebut saat ini terdeteksi sangat melimpah hingga rasanya membuat tubuhku ingin mati saja karena penasaran.”

Apakah ia memicu getaran tersebut dipicu karena ketakutan menatap sepasang mata hitam legam Yeon Yeong-ha saat itu? Wujud bayangan hitam di dahan tampak bergetar sangat hebat menyerupai visual dahan pohon yang dihantam embusan angin badai kencang.

“Jika kau melangkahkan kakimu melewati bukit belakang ini baru kemudian menempuh perjalanan sejauh sepuluh ri ke depan, bukankah di sana bersiap sebuah daerah pemukiman yang diistilahkan sebagai **Desa Keluarga Noh** (Noh Family Village)?”

Mendengar baris kalimat tanya darinya tersebut, wujud bayangan hitam kembali meluncur meliuk menyusuri sela dahan pohon ek, bergoyang halus seolah sedang melayangkan anggukan kepala tanda setuju.

*Set.*

Sepasang pupil mata hitam legamnya tampak memancarkan kilauan tajam yang dibalut oleh hawa kegilaan bertarung yang pekat.

Terpantul di balik sepasang mata hitam legamnya saat itu, visual Dong Bong-su yang sedang memandu pergerakan langkah kakinya secara sangat santai meluncur kembali merapat ke kompleks Aliansi Beladiri, dan tidak lama setelah itu rombongan pendekar patroli Aliansi Beladiri yang meluncur cepat setelah berhasil mengendus letusan pembantaian massal di depan kedai tampak melintas memasuki area jalan bawah.

Batinnya secara mutlak menaruh keinginan bertarung yang sangat besar untuk bisa bermain fisik melenyapkan nyawa seluruh pendekar patroli aliansi tersebut saat ini juga, namun logikanya menetapkan keputusan bahwa detik ini bukan merupakan ketetapan waktu yang pas untuk memicu pertempuran.

Dalam kurun waktu tidak lama lagi, sebuah panggung pertempuran berskala sangat raksasa bernama kompetisi *Turnamen Tarung Bela Diri Pemuda di Bawah Langit* dipastikan akan segera digelar di Zhengzhou.

Belum saatnya…… detik ini belum dideteksi sebagai waktu yang pas bagi rencananya. Khusus untuk agenda hari ini, ia memutuskan murni hanya perlu berburu beberapa ekor serangga kelas teri di luar Zhengzhou saja demi bisa meredam gejolak buas dari *Heavenly Slaughter Energy* di dalam dadanya.

Wujud fisik Dong Bong-su tidak lama kemudian dilaporkan telah resmi menghilang sepenuhnya dari jangkauan area penglihatan matanya, menyusul langkah Yeon Yeong-ha yang juga segera melompat turun melompati bukit belakang baru kemudian meluncur pergi meninggalkan area kejadian seutuhnya. Titik lokasi kejadian perkara Kedai Nangnang saat itu murni hanya menyisakan keributan dari jajaran pendekar patroli aliansi yang sibuk mengevakuasi tumpukan jasad mayat tanpa kepala, dipadu dengan riak ketakutan sekaligus hasrat penasaran warga kota menyikapi misteri kemunculan sesosok hantu pencabut nyawa baru saja.

Dan setelah durasi waktu tersebut berlalu beberapa saat lamanya, fajar pagi secara perlahan resmi menyingsing menyelimuti langit Zhengzhou seutuhnya.

Dong Bongsu

Dong Bongsu

Karakter Utama
Tang Wu

Tang Wu

Pendukung
Tang Hwa

Tang Hwa

Pendukung

Komentar (...)

Masuk untuk ikut berdiskusi di kolom komentar