Murim Psychopath

Chapter 112

5481 Kata

**Bab 112. Sekte-Sekte yang Musnah**

***

Meskipun ruangan dalam Kedai Nangnang menolak diklasifikasikan sebagai area tempat kejadian perkara pembantaian secara langsung, namun posisinya terletak tepat di dekat jalan raya TKP, dipadu fakta medis bahwa puluhan jasad korban tewas malam kemarin saat ini tengah ditempatkan secara darurat di dalam ruang kedai tersebut.

Tampaknya sang pemilik kedai, seluruh anggota keluarganya, hingga juru masak kedai dilaporkan telah dievakuasi di luar gedung aliansi, menyisakan kerumunan prajurit divisi *Unit Pelindung Dunia Persilatan* saja yang bersiap tegak menyebarkan pancaran hawa membunuh dingin mereka seutuhnya. Seluruh jajaran meja kayu tempat minum arak, deretan kursi, beserta berbagai ornamen pajangan ruangan kedai terpantau telah disapu bersih dari ruangan, digantikan oleh pemandangan puluhan jasad mayat kaku yang berderet rapi menyambut kedatangan Si Aneh Senjata dibarengi aroma amis getaran darah segar yang sangat pekat menusuk hidung.

Sesosok prajurit aliansi yang bertindak memandu langkahnya melintas pintu masuk kedai sejak awal tampak bertindak sebagai penanggung jawab investigasi TKP, secara konstan terus meluncurkan kalimat penjelasan taktis mengupas kronologi temuan kasusnya kepada Si Aneh Senjata.

“Ini merupakan rombongan jasad pendekar yang dilaporkan tewas membeku tepat di sepanjang jalan raya luar kedai malam kemarin.”

Si Aneh Senjata, dengan memosisikan kedua belah telapak tangannya bertumpu menyilang di balik punggung jubahnya, secara lamban melayangkan sepasang matanya menyapu lekat pemandangan barisan jasad mayat yang tidur berderet di atas permukaan lantai, baru kemudian memandu pergerakan telapak kakinya berjalan merapat mendekati jasad mayat yang bersiap di kolom paling ujung kiri.

Serupa menyalin kondisi jasad mayat lainnya di sebelah tubuhnya, jasad mayat tersebut secara nyata telah kehilangan bagian kepalanya yang menggelinding putus secara acak di lantai pasir seutuhnya.

*Bruk.*

Si Aneh Senjata melayangkan geseran ujung kaki sepatunya menyentuh permukaan jasad mayat tersebut secara kasar seolah menolak peduli. Baru kemudian menggunakan nada suara cuek ia bersuara lirih sekejap.

“Satu.”

Selesai melafalkan hitungan pertamanya tersebut, ia kembali melangkah kaki berjalan menyusuri barisan jasad mayat ke arah kanan, melayangkan sekali sentuhan kaki sepatu menyentuh masing-masing jasad mayat secara bergiliran.

“Dua, tiga, empat…….”

Ia secara faktual sedang menyibukkan otaknya menghitung nominal jasad korban pembantaian gerilya.

Pembawaan perangainya di sela investigasi TKP diakui terkesan sangat main-main dan melabrak kesopanan medis biasa, namun entah mengapa visual gerak-gerik main-mainnya tersebut justru bertindak mengunci wibawanya bertransformasi menyandang kelas sebagai seorang ahli tempur yang sangat profesional—sebuah keunikan perangai yang secara nyata diakui wajar di sepanjang kelangsungan dunia persilatan Jianghu yang kejam ini seumur hidup.

**Empat puluh tiga.**

Nominal kepingan kepala manusia yang menggelinding berserakan secara acak di sela barisan jasad mayat di atas lantai saat itu terpantau menyajikan jumlah yang sepenuhnya presisi menyelaraskan nominal jasad mayat tanpa kepala di tempat seutuhnya.

“Pertama, raga tua ini telah berhasil mengonfirmasi nominal korban tewas seutuhnya.”

Berikutnya, Si Aneh Senjata menggeser fokus pengamatannya memeriksa detail kondisi fisik luka jasad korban secara teliti.

Mengingat seluruh korban secara mutlak tewas akibat tebasan putus leher, dideteksi sangatlah sulit bagi matanya untuk bisa memetakan potongan kepala mana yang secara administratif bersanding dengan jasad mayat yang mana di atas lantai.

Meskipun begitu, menyikapi kualitas dari bekas luka potongan leher itu sendiri—.

“Sangat rapi.”

Terlampau halus dan sangat presisi seutuhnya.

Oleh karena kehalusan goresan luka tebas itulah yang memicu kepala Si Aneh Senjata dilingkupi rasa heran murni karena ia kesulitan untuk bisa mengendus letupan ciri khas jurus bela diri tertentu dari bekas luka tebas tersebut. Padahal di sela dugaannya semula, ia meyakini dengan cara meneliti secara mikroskopis ke arah penampang irisan daging leher korban kelak ia dipastikan akan langsung sukses memetakan jenis penguasaan jurus pedang sekte mana yang didelegasikan memenggal leher mereka…… namun kenyataan di lapangan menolak sesuai rencana.

Ia secara konstan terus melanjutkan sesi pemindaian matanya menyapu bekas luka leher korban dalam durasi waktu yang tergolong cukup lama di tempat, namun pada hasil akhirnya kepalanya tetap saja gagal mengunci satu pun kesimpulan jurus seutuhnya. Menimbang tingkat kerapian bekas potongan daging yang tergolong sangat luar biasa halus tersebut, ia murni hanya dibekali kapasitas batin untuk merumuskan dugaan taktis bahwa pelaku pembantaian gerilya dipastikan menyandang kelas status sebagai master puncak dengan penguasaan pedang tingkat tinggi yang tangguh.

“Di mana ketersediaan barang-barang berharga yang melekat menyelimuti tubuh rombongan mayat kroco ini?”

Si Aneh Senjata bersuara keras pasca menyelesaikan sesi pemindaian saku baju jubah salah satu jasad korban yang isinya dideteksi sepenuhnya kosong steril dari barang.

“Menjawab Pendekar Senior, menilik kondisi jasad mereka sejak menit pertama kami evakuasi tadi malam secara nyata memang menolak ditemukan ketersediaan barang apa pun di tubuh mereka.”

Prajurit patroli Unit Pelindung Dunia Persilatan yang sejak mula menyambut langkah perjalanannya melintasi pintu masuk kedai tadi melayangkan kalimat jawabannya patuh sembari tubuh fisiknya tetap berdiri membisu membentengi bagian belakang punggung Si Aneh Senjata seutuhnya.

“Rombongan mayat kroco ini secara hukum dianalisis memendam keunikan taktis yang sangat ganjil seutuhnya. Baik rombongan korban yang tewas menggelinding ini maupun sosok pelaku pembantaian yang melenyapkan nyawa mereka.”

“Ya?”

“Tatap lekat bekas luka jasad korban di depan matamu. Proses penembusan pedang pelaku diakui telah diselesaikan secara sangat bersih seutuhnya. Sel otak tua ini bahkan menderita kesulitan untuk bisa menebak tingkat penguasaan bela diri maupun rumpun aliran jurus pedang apa yang ia peragakan di lapangan, namun satu hal kebenaran tak terbantahkan: bahwa seluruh pembantaian gerilya ini secara mutlak murni dieksekusi oleh kekuatan tangan satu orang pendekar saja seutuhnya. Oleh karena letusan keajaiban tempur itulah yang memicu dadaku dilingkupi rasa heran.”

“Ah, benar sekali, Pendekar Senior.”

Si Aneh Senjata secara konstan terus menyuarakan kalimat analisisnya sembari barisan jemari tangannya bergerak lincah meraba rajutan serat benang jubah pakaian yang menyelimuti tubuh korban.

“Jajaran kroco yang tidur terlantar di tempat ini secara visual terlihat seolah-olah mereka secara kompak sengaja membeli pakaian jubah mereka dari satu toko pakaian zirah yang sama seutuhnya sejak bayi. Kualitas anyaman kain jubah jajaran mayat ini secara mutlak menyajikan penampilan yang sepenuhnya identik tanpa menyisakan riak perbedaan sedikit pun. Detail kesamaan kosmetik tersebut juga bertindak memperkuat dugaan keanehan taktis di kepalaku.”

Seluruh setelan pakaian jubah yang melekat membungkus jasad mayat tersebut secara mutlak menyajikan warna hitam pekat seutuhnya.

Namun di dalam logika pewarnaan kain, menolak berselip kesimpulan bahwa seluruh warna hitam diklasifikasikan menyandang kadar kepekatan warna yang sejajar seumur hidup.

Warna hitam pekat terang, warna hitam kusam redup, warna hitam pekat yang sedikit menyisakan semburat uap warna merah tua……

Terdapat puluhan varian warna hitam alternatif lainnya yang berselip di dunia.

Meskipun begitu, anyaman kain pakaian jubah yang dikenakan oleh jajaran mayat di tempat ini secara mutlak murni menyajikan warna hitam legam pekat seutuhnya, steril dari adanya sisa-sisa selisih uap warna lain sekejap pun. Mereka secara hukum organisasi dipastikan berserikat mengabdi di bawah panji kepemimpinan faksi yang sejajar.

Ulasan gerak-gerik Si Aneh Senjata saat itu memang terkesan hanya sebatas melayangkan sapuan lirikkan mata sekilas saja secara acak menyapu TKP, namun secara esensial otaknya terbukti sedang bekerja keras melacak seluruh penemuan taktis di sekelilingnya secara sangat presisi seutuhnya. Tentu saja, kepingan penemuan kosmetik zirahnya baru saja secara faktual memang telah lebih dulu berhasil diendus oleh Unit Pelindung Dunia Persilatan semenjak semalam.

Serta temuan taktisnya menolak dihentikan di sela-sela penemuan jubah tersebut saja seutuhnya.

Sepasang mata Si Aneh Senjata secara ajaib berhasil menangkap satu keping penemuan baru kembali di tempat kejadian. Faktor kelihaian deteksi ekstrem itulah yang melatarbelakangi alasan taktis mengapa dirinya secara sah dinobatkan benua menyandang gelar kehormatan sebagai *Dewa Senjata Delapan Arah*.

*Plup.*

Si Aneh Senjata secara mendadak langsung merangsek masuk menyelipkan barisan jemari tangan kanannya menusuk masuk sangat dalam melintasi lubang luka potongan urat leher salah satu jasad mayat, baru kemudian menarik tangannya keluar kembali sekejap setelah itu. Permukaan ujung jarinya saat itu terpantau telah basah dilumuri oleh cairan uap darah korban yang telah resmi mengental pekat seutuhnya.

“Ugh.”

“Uek!”

Prajurit patroli Unit Pelindung Dunia Persilatan yang sejak menit pertama bersikeras berdiri memantau gerak-geriknya murni karena diliputi rasa penasaran menyikapi program penyelidikan apa yang bersiap dieksekusi master tersebut secara mendadak langsung meluncurkan aksi muntah-muntah hebat di tempat. Letusan syok tersebut meledak murni dipicu karena sepasang matanya secara sadar menyaksikan Si Aneh Senjata secara santai langsung merangsek masuk menyelipkan ujung jarinya yang berselimut lumuran cairan darah kental mayat tersebut masuk ke dalam rongga mulutnya seutuhnya.

Ia menyelipkan jemarinya sangat dalam melintasi rongga mulutnya baru kemudian mengecap bibirnya perlahan dibarengi gestur menyunyah halus seolah-olah jiwanya sedang menikmati kelezatan rasa darah segar di tangannya seutuhnya.

“Mmm! Benar, persis menyelaraskan analisis dugaanku semula. Riak warna dipadu keharuman uap darah jajaran mayat ini sejak mula dideteksi memendam hawa amis ular yang sangat pekat, dan sure enough, kawanan kroco ini secara nyata memang berasal dari faksi rahasia yang ganjil.”

“Ya? Makna taktis sekelas apa yang berselip di balik kalimat penjelasan Anda baru saja, Pendekar Senior……?”

“Rombongan mayat kroco yang tidur terlantar di tempat ini secara geografis dilaporkan memandu langkah kaki meluncur merapat dari wilayah Provinsi Yunnan seutuhnya. Aliran darah segar di balik pembuluh darah mereka secara mutlak murni menyajikan warna kotoran zirah yang pekat dipadu keharuman amis darahnya yang dideteksi sangat berbau busuk menyerupai aroma kotoran seutuhnya.”

“Ya……?”

Pikiran prajurit patroli Unit Pelindung Dunia Persilatan tersebut terpantau merosot semakin dilingkupi kebingungan mental yang pekat seutuhnya disusul kegagalan total untuk bisa mencerna esensi dari kalimat penjelasan yang disodorkan Si Aneh Senjata sekejap pun.

Meskipun begitu, menolak peduli menyikapi apakah prajurit patroli di dekatnya sedang dirundung oleh rasa penasaran yang pekat menyikapi detail analisanya atau menolak sama sekali, Si Aneh Senjata berkomitmen menutup rapat bibirnya menolak meluncurkan kalimat penjelasan tambahan sekejap pun seumur hidup. Bagaimanapun juga, detail penjelasan medis yang berselip di kepalanya secara hukum dideteksi menolak menyandang nilai guna praktis untuk dicerna oleh nalar prajurit keamanan kelas rendah seutuhnya, serta menolak berselip kebutuhan taktis bagi prajurit tersebut untuk mengetahuinya. Selesai merampungkan program investigasi mandirinya nanti, tugasnya murni hanya terbatas menyampaikan detail temuan ini langsung ke sela ingatan komandan komando Eulji Tae seutuhnya, menyangkut urusan apakah ajudan tersebut bersedia melafalkan penjelasannya ke publik atau menolak seutuhnya murni menjadi hak prerogatif komando.

‘Rombongan prajurit tempur dari unit Pasukan Bayangan Pembunuh asuhan Aula Pengumpul Kejahatan dilaporkan telah tewas dibantai habis secara gerilya tepat di depan pintu gerbang kota Zhengzhou seutuhnya.’

Faksi Aula Pengumpul Kejahatan, berpasangan dengan unit pembunuh Pasukan Bayangan Pembunuh seutuhnya.

Si Aneh Senjata secara ajaib sukses menarik keluar kepingan informasi taktis vital menyangkut esensi identitas asli dari faksi rahasia korban murni ditopang oleh kelihaiannya mengecap rasa darah segar jasad mayat seutuhnya.

Jajaran pendekar asuhan Aula Pengumpul Kejahatan sepanjang sejarahnya memang dilaporkan menyandang kewajiban taktis untuk mengunci keaktifan jurus olah pernapasan dantian internal khusus yang diistilahkan sebagai `[Seni Hati Bayangan Tersembunyi]` (Concealment Shadow Heart Art).

Namun konsekuensi biologis yang wajib ditanggung oleh pendekar mana pun yang bersikeras melatih jurus *Concealment Shadow Heart Art* tersebut secara sistematis diproyeksikan akan memaksa riak warna aliran darah segar tubuh mereka berubah warna menjadi sedikit berkali-kali lipat jauh lebih keruh dibandingkan dengan warna darah manusia normal biasa, disusul terciumnya aroma wewangian racun ular yang sangat khas merembes keluar dari uap darah mereka seutuhnya. Celah keunikan kimiawi darah tersebut meletus murni disebabkan demi bisa menyukseskan program penguasaan jurus *Concealment Shadow Heart Art* tersebut sejak kecil, mereka diwajibkan untuk secara konstan terus-menerus menelan cairan bisa racun dari spesies ular berbisa khusus bernama **Ular Beludak Delapan Panggilan** (Eight-Call Viper), sebuah spesies fauna berbisa yang habitat aslinya dilaporkan murni hanya bersedia tumbuh berkembang biak di sepanjang wilayah Provinsi Yunnan semata seutuhnya.

Dan jurus *Concealment Shadow Heart Art* tersebut bertindak menyandang kedaulatan penuh sebagai satu-satunya ilmu beladiri dantian internal wajib yang wajib dikuasai oleh seluruh personel unit pembunuhan gerilya asuhan Aula Pengumpul Kejahatan, sang unit *Pasukan Bayangan Pembunuh* seutuhnya. Hal itu terpaksa mereka sukseskan murni karena berbekal penguasaan teknik dasar dari ilmu beladiri tersebut, mereka diproyeksikan akan langsung dibekali kemampuan pasif untuk mendongkrak tingkat kekuatan bertarung mereka secara instan di lapangan murni tanpa perlu khawatir wujud riak energi sejati mereka akan dengan mudah diendus oleh indera penguji master lawan seumur hidup.

Fakta medis menyangkut merapatnya unit tempur Pasukan Bayangan Pembunuh di Zhengzhou diakui menyajikan satu buah perkara penting bagi kepalanya.

‘Namun sosok master gila sekelas apa di bawah langit saat ini yang secara nyata memegang kapasitas bertarung untuk melenyapkan seluruh nyawa pembunuh tangguh tersebut dalam kurun waktu satu malam semata?’

Mungkinkah pelaku pembantaian massal gerilya tersebut secara faktual merupakan wujud asli dari hantu pencabut nyawa sejati, menyalin total desas-desus rumor liar publik aliansi sejak semalam?

‘Ridiculous.’

Nalar kepalanya secara mutlak menolak memberikan ruang toleransi untuk mempercayai eksistensi dari makhluk takhayul sekelas hantu pencabut nyawa seumur hidup. Seandainya makhluk takhayul sejenis secara faktual memang terbukti eksis menghuni dunia persilatan benua sekalipun, apakah menurut analisamu sesosok hantu pencabut nyawa menolak memendam tugas lain yang berkali-kali lipat jauh lebih bermanfaat selain murni menyibukkan dirinya menyaring antrean baru kemudian memenggal putus leher jajaran personel unit pembunuh ini seutuhnya? Bukankah di sepanjang area jalan kedai kemarin malam dilaporkan dipadati oleh kuantitas pendekar asing lainnya yang menolak beraliansi dengan unit pembunuh? Dan di luar detail tersebut, bukankah di sepanjang kota Zhengzhou saat ini secara nyata dipadati oleh jutaan nyawa pendekar persilatan yang kadar kesalahan hidupnya berkali-kali lipat jauh lebih layak untuk dilenyapkan nyawanya secepatnya seumur hidup?

‘Khususnya di sepanjang kompleks Aliansi Beladiri saat ini, kuantitas pendekar sampah sejenis dilaporkan sangat melimpah ruah berserakan di segala penjuru arah.’

Dan sosok pemimpin tertinggi dari Aliansi Beladiri tersebut secara administratif didokumentasikan menyandang status sebagai sesosok manusia paling bersalah yang tingkat kejahatannya dianalisis sudah sangat layak untuk ditebas mati sebanyak seratus kali berturut-turut seumur hidup seutuhnya.

Sosok bajingan tua bangkotan tersebut seutuhnya.

‘Pelaku pembantaian malam kemarin secara mutlak dianalisis bukan didominasi oleh hantu takhayul. Bukan.’

Seandainya logika berpikirnya secara kerdil memilih bersikap pasrah menyetujui analisis publik aliansi yang mengunci kesimpulan kasus murni bersandar pada tuduhan hantu pencabut nyawa saja kelak, maka tindakan fisiknya memaksakan diri meluncur merapatkan kaki melakukan penyelidikan di Kedai Nangnang hari ini secara otomatis diproyeksikan murni sebagai tindakan bodoh yang sia-sia seutuhnya. Dan kenyataannya menolak mengarah ke sela kesimpulan sepele sejenis seumur hidup.

‘Pasukan Kastil Iblis Surgawi? Pendekar pilihan takdir Bintang Pembantaian Surgawi Yin Ekstrem? Ataukah kemungkinannya murni tertuju membidik ke arah…….’

Seandainya seluruh personel unit Pasukan Bayangan Pembunuh tersebut dilaporkan tewas dibantai habis murni bertindak sebagai bentuk perlawanan balik defensif pasca mereka meluncurkan aksi penyergapan dadakan sepihak terlebih dahulu kelak, maka identitas pelaku pembantaian gerilya tersebut secara hukum dianalisis sangat besar kemungkinan diwakili oleh pergerakan dari jajaran master asuhan faksi ortodoks seutuhnya.

Namun bersikeras mematangkan alur dugaannya menyelaraskan analisis tersebut tetap saja dirasakan menyisakan kehampaan batin yang ganjil di kepalanya seutuhnya.

Pertama-tama, seandainya letusan pertempuran tersebut secara faktual murni disukseskan bertindak sebagai aksi pertahanan diri membendung serangan faksi iblis hitam sepihak kelak, tidak bersisa kebutuhan praktis yang menuntut pelaku untuk menyembunyikan kelihaian pertempuran gerilyanya secara rahasia sepekat ini, serta menolak berselip alasan hukum bagi aliansi untuk bersikeras mengunci rapat kasus pembantaian ini dari konsumsi publik seumur hidup.

Pelaku pertempuran gerilya tersebut secara nyata terbukti bergerak meluncurkan serangan pedangnya secara sangat rahasia menyerupai kelihaian hantu pencabut nyawa seutuhnya. Namun di balik kehalusan pergerakan gaibnya tersebut, ia secara dingin sukses memamerkan penguasaan teknik pedang yang sangat ringkas, lincah, dan padat untuk memotong putus leher jajaran personel unit Pasukan Bayangan Pembunuh seutuhnya secara instan.

Meskipun menyadari bentangan Jianghu dipadati oleh kepemilikan atas nominal master pedang lincah asuhan faksi ortodoks seutuhnya, namun bekas luka tebas pedang yang tersaji di depan matanya saat ini diyakini sepenuhnya menyajikan cita rasa bertarung yang berbeda seutuhnya. Sangatlah berbeda seutuhnya.

‘Bagaimana mungkin sesosok tebasan bilah pedang panjang di dunia persilatan dianalisis memendam kehampaan emosi yang sangat mutlak steril dari pancaran emosi bertarung sekejam ini?’

Bilah pedang sejati di tangan pendekar bertindak menyandang kedaulatan penuh sebagai sesosok cermin dari wujud jiwa sang pemegangnya seutuhnya. Tepat pada detik pertama telapak tanganmu memutuskan mengayunkan sabetan pedang di sela pertempuran kelak, seluruh kepingan hasrat jiwamu secara otomatis dipastikan akan ikut tersalurkan menyelimuti goresan tebasan pedangmu seutuhnya.

Oleh karena hukum alam persilatan itulah, pendekar mana pun yang telah selesai merampungkan program pelatihan bela diri secara layak secara sejarah dipastikan akan selalu meninggalkan sisa rajutan jejak jiwanya seutuhnya di sepanjang goresan tebasan bela diri mereka seumur hidup. Tidak bersisa satu pun kasus pengecualian yang diizinkan melanggar hukum tersebut seumur hidup.

Secara hukum persilatan menolak diizinkan berselip pengecualian sekejap pun.

Namun kenyataan mengerikan yang tersaji di sela-sela goresan bekas luka tebas pedang jasad korban di atas lantai saat itu terpantau sepenuhnya steril dari adanya……

*Pancaran riak jiwa bertarung sedikit pun.*

‘Sangat aneh. Benar-benar memendam keanehan taktis yang luar biasa mengerikan seutuhnya.’

Wujud hantu pencabut nyawa tanpa identitas yang jelas tersebut secara mutlak dianalisis bertindak menyandang wujud sebagai sesosok pendekar misterius yang seluruh reputasinya dipenuhi oleh hawa kebusukan taktis yang sangat pekat seumur hidup.

“Kalau begitu, apakah menurut analisamu alangkah baiknya seandainya kita berkomitmen memandu kekuatan fisik kita meluncur memburu keberadaan hantu pencabut nyawa ini secara serius terhitung mulai detik ini juga, Pendekar Senior?”

Prajurit patroli Unit Pelindung Dunia Persilatan tersebut terpantau masih bersikeras memusatkan sepasang matanya menatap bingung menyikapi ulasan wajahnya, seolah-olah logikanya masih menderita kegagalan berpikir untuk mencerna isi kalimat gumaman rahasianya sejak awal seutuhnya. Namun Si Aneh Senjata menolak membuang energinya untuk memedulikan kebingungan prajurit kroco tersebut, memilih bangkit berdiri tegak meluruskan lutut fisiknya kembali dari posisi jongkoknya secara tenang.

“Teka-teki taktis menyangkut apakah pelaku pembantaian gerilya tersebut secara biologis diidentifikasi menyandang takdir sebagai sosok hantu pencabut nyawa takhayul maupun sosok monster gila sejati saat ini memang masih menolak diselesaikan seutuhnya di kepalaku, namun mari kita berkomitmen merintis langkah pelacakan guna menemukan koordinat persembunyian fisiknya terlebih dahulu di luar.”

Selesai melafalkan kalimat perintah ringannya tersebut, ia segera memandu pergerakan langkah kakinya meluncur pergi meninggalkan ruangan Kedai Nangnang seutuhnya saat itu juga.

***

“M-Monster!”

“Sesosok monster gila seutuhnya? Hei, melabeli keindahan wujud visual fisiku murni bersandar pada penggunaan kosakata sekasar itu dianalisis diakui terlampau berlebihan bagi kesopanan bahasamu, Paman pendekar. Apakah sepasang sel otakmu sepanjang sejarah hidupmu menolak pernah dipertemukan menyongsong wujud peri monster yang terlahir sangat imut sepekat ini seumur hidup? Ah! Ataukah kemungkinannya dugaanku meleset? Sosok hantu pembantai jalanan malam kemarin secara visual dideteksi menyandang rupa wajah yang tergolong cukup tampan tangguh bukan? Kalau begitu, menyelaraskan detail ketampanan tersebut, aku memutuskan secara sukarela berkomitmen menyandang gelar sebagai sesosok peri monster yang manis malam ini. Hehe.”

*Crat.*

Sesosok telapak tangan mungil halus yang polanya menyalin visual telapak tangan anak kecil polos tampak bergerak meluncur ke depan secara sangat anggun menyentuh permukaan kulit kepala pendekar tersebut, disusul letupan keajaiban di mana batok kepala pendekar di depannya secara instan langsung mencair hancur meleleh tak berbekas saat itu juga murni ditopang oleh sentuhan tangannya semata. Aliran darah kental merah, kepulan cairan otak kuning, dipadu cairan lelehan tulang tengkorak kepala tampak menyatu padu mengalir mengotori tanah membentuk sesosok cairan uap kimiawi berpola warna ganjil yang mengerikan.

*Tetes.*

Cairan lelehan tersebut tampak mengalir deras menyusuri lekukan bahu baju zirah baru kemudian membasahi sekujur permukaan kaki dan tangan pendekar malang tersebut seutuhnya.

*Bruk.*

Sesaat setelah itu, jasad mayat tanpa kepala yang menyedihkan tersebut secara lunglai langsung ambruk mendaratkan kedua belah sendi lutut kakinya menghantam tanah pasir secara kaku seutuhnya.

“Jaga kerapian lubang mulutmu saat bersuara di depan wajahku seumur hidup. Jika tidak, kepalamu dipastikan akan langsung dihantam tebasan maut secepatnya seumur hidup.”

Secara faktual, menolak bersisa bagian dari rongga mulut sedikit pun di jasad mayat di depannya saat itu yang dibekali kapasitas fisik untuk bisa meluncurkan kalimat tanggapan balik seumur hidupnya, serta secara alami menolak bersisa bagian bibir sekejap pun di tubuh korban yang menuntut kesiagaan batin untuk dijaga kelancaran bahasanya kembali seumur hidup.

“Tetua Noh.”

“Bawahan ini bersiap menanti perintah Anda, Nona Muda.”

Mendengar letupan panggilan suaranya baru saja, wujud fisik Tetua Noh yang sejak menit pertama bersikeras berdiri membisu membentengi bagian kegelapan belakang punggungnya secara tergesa-gesa langsung menekuk lutut fisiknya membungkuk hormat seutuhnya.

“Rombongan pendekar asuhan faksi ini secara nyata terbukti menyajikan cita rasa EXP kotor yang sangat berbau busuk dipadu tingkat kebosanan bertarung yang sangat luar biasa menyiksa bagi jiwaku seutuhnya. Langkah tindakan taktis sekelas apa yang bersiap kita eksekusi setelah ini?”

Yeon Yeong-ha menyuarakan kalimat keluhannya manis sembari jemari kelingking mungil tangannya bergerak lincah menunjuk tenang ke arah jajaran pendekar bersenjata asuhan faksi **Sekte Pedang Besar** (Great Sword Sect) yang saat itu terpantau masih memaksakan tangan mereka menggenggam erat bilah pedang panjang masing-masing membidik kaku ke arah tubuh fisiknya dari arah depan koridor aula.

Menyikapi keluhan manis majikannya tersebut, Tetua Noh memosisikan lutut fisiknya membungkuk hormat berkali-kali lipat jauh lebih rendah ke arah bawah seutuhnya. Terlampau rendah hingga memicu lahirnya analisis visual seolah-olah raganya secara sukarela bersedia tiarap merayap menembus permukaan tanah pasir bawah semata seutuhnya jika diizinkan.

“Sosok Pemimpin Sekte tertinggi dari faksi beladiri di tempat ini dilaporkan masih belum memandu langkah fisiknya keluar dari kamar pusaka menemui kedatangan Anda, Nona Muda.”

“Analisis dugaanmu diyakini valid seutuhnya. Sepasang sel otakkku saat ini secara nyata telah selesai mengendus riak getaran energi tempur yang tergolong cukup lezat sedang bergerak lincah merapat memandu pergerakan kakinya merapat menuju ke arah aula ini secepatnya. Karakteristik energinya diproyeksikan bertindak menyandang kedaulatan sebagai Pemimpin Sekte di tempat ini seutuhnya, bukan?”

“Berdasarkan pemetaan taktis bawahan ini, kemungkinannya terkunci mutlak sejajar dengan perkiraan Anda seutuhnya.”

“Kalau begitu, kita secara hukum diwajibkan untuk menyapu bersih totalitas kawanan serangga pengganggu yang berserakan menghalangi jalan ini terlebih dahulu sebelum raga kita diizinkan melangsungkan sesi permainan perang yang sesungguhnya kelak, bukan?”

Kawanan serangga pengganggu kelas teri seutuhnya.

Bagi sela pemikiran batin Yeon Yeong-ha sejak mula, jajaran pendekar bersenjata asuhan faksi Sekte Pedang Besar yang mengepungnya saat itu terpantau sepenuhnya menolak menyandang status kehormatan sebagai manusia biasa, melainkan murni diklasifikasikan bertindak menyandang kelas status sebagai kawanan serangga pengganggu sepele seutuhnya seumur hidup.

“Keparat sialan—! Temui ajal kematian mautmu hari ini juga, monster biadab!”

Salah seorang pendekar pedang senior asuhan faksi sekte tersebut, yang harga diri bertarungnya dilaporkan telah terluka sangat parah akibat terpicu oleh letupan kosakata serangga pengganggu yang dilepaskan Yeon Yeong-ha baru saja, secara mendadak langsung meluncurkan langkah serangannya merangsek maju memotong sela ruang udara sembari memacu totalitas uap energi sejati dantian internalnya ke batas maksimal seutuhnya baru kemudian menebaskan bilah pedangnya ke bawah membidik leher Yeon Yeong-ha. Meskipun sepasang matanya sejak awal secara nyata telah selesai merekam tragedi mengerikan di mana puluhan rekan seperguruan mereka secara gaib telah bertransformasi menjelma sebagai sesosok genangan air busuk di atas lantai aula baru saja, namun logika kepalanya tetap saja secara konsisten menderita kegagalan mendasar untuk bisa membaca esensi takdir monster sekejam apa sebenarnya yang sedang berdiri menyapa nyawa mereka saat ini seutuhnya seumur hidup.

“Cih. Minimal seandainya wujud ragamu memendam hasrat kuat untuk melayaniku bermain pertarungan bela diri hari ini, kau secara mutlak diwajibkan menyandang tingkat kekuatan tempur yang dinilai mumpuni untuk meladeni jurus permainanku seutuhnya. Kualitas pertempuran yang kalian sodorkan di depan wajahku detik ini justru dideteksi menolak menyajikan nilai tempur sejati, melainkan murni terkesan sangat konyol menyerupai program permainan rumah-rumahan belaka di kepalaku seutuhnya.”

Yeon Yeong-ha melayangkan sekali kibasan kelingking mungil telapak tangannya secara sangat ringan belaka menyapu udara, menyalin alur pergerakan yang sejajar dengan gestur jari tangannya saat menyibukkan diri mengorek permukaan lubang telinga mungil cantiknya seutuhnya baru saja.

*Set.*

Separuh dari diameter batok kepala pendekar senior yang sedang meluncur menyerangnya tersebut secara mendadak langsung lenyap tak berbekas dari muka bumi.

Tindakan pemotongan tersebut secara sistematis menolak diklasifikasikan menyandang kelas jurus tebas pedang biasa, menolak dipicu oleh letupan zat cair peleleh racun, serta menolak dipicu oleh adanya hantaman kekuatan fisik penghancur tameng seutuhnya. Melainkan separuh bagian dari batok kepalanya secara harfiah murni hanya dilaporkan lenyap tak berbekas dari dimensi ruang seutuhnya sekejap mata.

“Ugh……”

Pendekar senior tersebut sempat melepaskan sesosok pekikan lolongan ganjil yang memilukan melintasi sela sisa separuh rongga mulut beserta helaian potongan lidahnya yang tersisa di kepala, sebelum akhirnya wujud fisiknya resmi ambruk tewas membeku merapat di atas permukaan tanah TKP saat itu juga seutuhnya.

“Tsk. Menghadapi keaktifan jurus seringan itu saja tubuh fismu sudah menderita kegagalan total untuk meluncurkan pertahanan menghindar, dan kau masih dibekali keberanian gila menuntut diriku meladeni hasrat bermain beladirimu?”

“…… silence.”

“Membosankan. Membosankan seutuhnya. Alur pertempuran sepihak ini secara nyata dirasakan sangatlah luar biasa membosankan bagi batinku seutuhnya seumur hidup. Cepatlah merapat memandu pergerakan kakimu kemari menemuiku secepatnya, mangsa buruan lezatku.”

Sepasang pupil mata Yeon Yeong-ha saat itu terpantau telah bertransformasi berubah wujud menyandang warna hitam legam pekat menyerupai visual keindahan batu obsidian murni seutuhnya, menyebarkan pancaran hawa kegilaan bertarung yang berkilau tajam menggelitik sela jiwanya seutuhnya.

Dan menyusul letupan hawa gila tersebut.

Barisan jemari tangannya secara dinamis tampak mulai bergerak lincah menari-nari meliuk indah di sela udara kosong sekeliling wajah cantiknya, menyalin keanggunan gestur seorang maestro pemusik yang sedang menyibukkan jemari tangannya memetik barisan dawai alat musik kecapi pusaka (`zither`). Dan berbekal keselarasan alur tarian jemari mungilnya tersebut di udara, wujud tubuh fisik dari puluhan pendekar pedang faksi sekte di hadapannya secara simultan tampak langsung meleleh hancur mencair satu per satu secara patuh seutuhnya.

Menolak berselip suara teriakan histeris korban, menolak dibekali kapasitas fisik untuk meluncurkan pertahanan bela diri defensif, serta menolak bersanding dengan jalannya pertempuran bersenjata yang sah sekejap pun.

Sebab seluruh pembantaian massal gerilya tersebut sejak mula secara mutlak murni diklasifikasikan sebagai program permainan game pribadi di balik kepalanya seutuhnya.

Seiring dengan kelihaian sepasang telapak tangan mungilnya menyulam barisan riak uap energi hitam di udara menyalin keanggunan gestur anak kecil polos yang sedang menyibukkan tangannya bermain lempar batu kerikil pasir di pantai sejak mula, rentetan kepingan nyawa pendekar asuhan Sekte Pedang Besar dilaporkan telah resmi disapu bersih tewas menggelinding secara massal seutuhnya tanpa sisa.

Bahkan meluncurkan opsi pelarian diri meninggalkan kompleks aula saat itu juga dianalisis murni sebagai tindakan bodoh yang sia-sia bagi keselamatan nyawa mereka seutuhnya. Riak keaktifan uap hawa murni hitam miliknya saat itu terpantau telah menyebar sangat luas menyelimuti seluruh sudut terluar kompleks Sekte Pedang Besar secara mutlak seutuhnya, disusul letupan ajal kematian massal yang merajalela menyapu seisi sekte secara membabi buta.

Hingga kemudian, sesaat setelah bentangan durasi waktu investigasi tersebut bergulir beberapa saat lamanya, satu-satunya variabel makhluk hidup sejati yang bersedia menyisa mendekam berdiri tegak di sepanjang kompleks aula sekte saat itu secara sah murni hanya tersisa menyasar ke arah wujud Yeon Yeong-ha berpasangan dengan Tetua Noh saja seutuhnya.

*Tap.*

Sesosok pria paruh baya secara gerilya tampak menampakkan wujud fisiknya merangsek masuk melintasi gerbang aula utama, sebelah tangannya tampak menggenggam erat gagang bilah golok raksasa yang panjang bentangan bilahnya dilaporkan menyentuh angka delapan kaki lamanya, secara spasial jauh lebih panjang dan berlipat ganda besar dibandingkan dengan bentangan ukuran tubuh fisiknya sendiri seutuhnya.

**Jang Pil-gang**, sang Pemimpin Sekte tertinggi dari faksi Sekte Pedang Besar seutuhnya.

Meskipun status hukum keanggotaan sektenya secara administratif menolak terdaftar secara resmi di bawah panji kekuasaan Aliansi Beladiri sejak awal, namun reputasi kekuatan tempur pribadinya secara nyata diakui publik benua menyandang kelas status sebagai salah satu master puncak paling tangguh di sepanjang wilayah Provinsi Henan seutuhnya seumur hidup. Memang benar menolak bersisa lembar dokumen informasi taktis yang mumpuni untuk menggambarkan secara presisi level penguasaan energi dantian aslinya saat ini, namun segelintir master senior bahkan berani melayangkan asumsi taktis bahwa ia diproyeksikan dibekali kekuatan tempur yang sejajar untuk meladeni amukan master sekelas Pemimpin Aula (`Hall Master`) Aliansi Beladiri sekalipun seumur hidupnya.

Namun detik ini juga, ulasan ekspresi visual wajahnya terpantau sedang mengeras kaku secara sangat mengerikan dipadu visual kulit wajahnya yang telah resmi berubah warna menjadi asbes abu-abu pekat steril dari aliran darah segar seutuhnya. Kedua belah telapak tangannya yang memikul beban gagang golok raksasa di tangannya terpantau gemetar sangat hebat saat itu, menghantarkan riak getaran kencang yang memicu kekhawatiran taktis seolah persenjataan besinya bersiap menggelinding putus jatuh dari sela jemari tangannya sekejap lagi secara memalukan.

Kemunduran mental tersebut terpaksa ia alami murni disebabkan lubang dadanya secara nyata telah berhasil mengendus riak kebuasan uap hawa murni hitam milik Yeon Yeong-ha yang merembes di sela ruangan sejak mula seutuhnya.

Ia melayangkan sapuan pandangan matanya meneliti ke sekeliling ruangan aula menggunakan sorot mata gelap yang memendam kepedihan batin yang pekat seutuhnya. Sebagian besar dari puluhan nominal murid asuhan terbaiknya saat itu secara mengerikan terpantau telah resmi bertransformasi menjadi sesosok genangan air darah busuk yang menggenang di lantai tanah. Jajaran sisa murid asuhan lainnya yang masih bersisa hidup terpantau sedang menderita cacat fisik permanen akibat sebagian anggota kaki dan tangan mereka meleleh hancur, disusul adanya letupan lubang luka besar yang merobek bagian leher maupun wajah mereka seutuhnya, bersiap menyongsong tibanya ajal kematian maut dalam hitungan detik.

Ia memeras sepasang otot rahang wajahnya berkali-kali lipat jauh lebih keras, memfokuskan sepasang matanya menatap tajam ke arah wajah Yeon Yeong-ha baru kemudian bersuara berat menindas.

“Apakah wujud ragamu secara moral menolak dibekali opsi toleransi untuk bersedia membiarkan sisa nyawa mereka meloloskan diri hidup-hidup hari ini?”

Ia secara taktis bahkan menolak meluncurkan kalimat pertanyaan konyol menyangkut alasan hukum apa yang melatarbelakangi meletusnya pembantaian massal gerilya ini, maupun menolak menuntut informasi menyangkut siapa esensi identitas asli wanita cantik di depannya seutuhnya.

Sebab semenjak detik pertama sepasang matanya dipaksa berpasangan tatap menyongsong kilauan warna hitam legam sepasang pupil mata Yeon Yeong-ha yang menyajikan visual kedalaman jurang jurang maut tanpa dasar tersebut, logikanya secara instan langsung mengunci kesimpulan mutlak bahwa meluncurkan kalimat tanya sejenis murni hanya akan berakhir sebagai tindakan bodoh yang sia-sia seumur hidup.

Secara faktual, bahkan sebaris kalimat permohonan toleransi baru saja ia suarakan dari bibirnya barusan secara taktis dianalisis dipastikan menolak mendatangkan riak pengaruh praktis kelak, namun bertindak mengemban wewenang suci sebagai Pemimpin Sekte tertinggi faksi, ia secara moral terpaksa memikul kewajiban taktis untuk tetap menyuarakannya sekuat tenaga di depan umum. Seandainya ia memilih bersikap diam membisu menolak meluncurkan perjuangan verbal sepele sekelas itu saja kelak, maka eksistensi nama besar Sekte Pedang Besar diproyeksikan akan langsung disapu bersih dari peta persilatan benua secara memalukan tanpa dibekali peluang bertarung sedikit pun seutuhnya.

“Hah? Serangga pengganggu yang cacat kotor di sebelah sana?”

Yeon Yeong-ha meluncurkan kalimat tanya ringannya dibarengi gestur jemari kelingking mungil tangannya yang bergerak lincah menunjuk tenang ke arah jajaran murid sekte yang cacat menderita luka leleh di atas lantai.

“Benar. Nyawa jajaran sisa pengikutku seutuhnya.”

Kawanan serangga pengganggu kotor pilihan jiwanya, bersanding dengan jajaran nyawa manusia pilihan logikanya.

Detail kontradiksi pemilihan kosakata tersebut secara nyata bertindak mengabarkan seberapa jauh selisih takdir perspektif moralitas yang memisahkan antara watak kejiwaan Yeon Yeong-ha berpasangan dengan watak moralitas Jang Pil-gang seutuhnya seumur hidup.

Yeon Yeong-ha melayangkan sekali angkatan kedua belah bahu mungil tubuh cantiknya secara santai baru kemudian meluncurkan baris kalimat jawaban datarnya kembali.

“Bagaimana ya? Arah permintaanmu barusan dianalisis menyajikan tingkat kesulitan taktis yang tergolong cukup tinggi untuk bisa kukabulkan di lapangan kelak. Seandainya raga mereka bersikeras memaksakan diri meloloskan fisiknya keluar meninggalkan kompleks aula ini seutuhnya kelak, detail pelarian tersebut diproyeksikan bersiko memotong jatah kesenanganku untuk bisa berpartisipasi bermain pertarungan bela diri di sela-sela gelaran kompetisi turnamen tarung aliansi yang akhirnya resmi dibuka aktif hari ini, bukan? Hehe.”

“Syarat taktis sekelas apa yang diwajibkan untuk bawahan ini laksanakan demi memicu lahirnya kerelaan batin di dalam dadamu bersedia melepas pergi sisa pengikutku seutuhnya?”

Jang Pil-gang meluncurkan kalimat tanya kelanjutan tersebut kencang menolak menyerah kalah di tempat seutuhnya.

Menyikapi tuntutan syarat bertarung tersebut meluncur, Yeon Yeong-ha seketika mengekspos visual barisan gigi putih rapi manisnya baru kemudian melepaskan ulasan senyuman manisnya yang sangat benderang kencang seutuhnya.

“Sederhana seutuhnya.”

“…… silence.”

“Temui ajal kematian mautmu hari ini juga. Detik di saat wujud raga fisismu secara nyata telah resmi bertransformasi menjadi jasad mayat mati kelak, aku berkomitmen melayangkan jaminan keselamatan melepas pergi seluruh sisa pengikut sekte Anda seutuhnya.”

“…… Analisis syarat beladirimu barusan secara sistematis menolak diklasifikasikan masuk ke dalam parameter melepas pergi secara sah, bukan?”

“Oh? Apakah kenyataannya menolak sejajar dengan teorimu? Dasar pria bodoh seutuhnya. Hehehe.”

Ia melayangkan sekali sentuhan jari mungil tangannya menghantam permukaan kulit dahi cantiknya sendiri secara manis disusul letupan suara tawa kecil gembiranya yang riang. Visual perangai fisiknya saat itu benar-benar murni menyalin total visual dari seorang gadis kecil polos yang terlahir sangat imut seutuhnya, namun menolak bersisa satu pun master di ruangan aula saat itu yang dibekali keberanian gila untuk menyimpulkan visual tersebut sebagai hal yang lucu seumur hidupnya. Perkecualian mutlak murni bersumber dari isi penilaian pribadinya sendiri seutuhnya.

“Kalau begitu murni……”

Yeon Yeong-ha sempat menggantung kalimat penjelasan verbalnya selama beberapa saat kembali dibarengi gestur ujung lidah mungilnya yang menjilat halus permukaan bibir manis merah cerinya secara imut baru kemudian bersuara.

“Murni temui saja ajal kematian mautmu sekarang juga tanpa perlu banyak merengek, paman. Alasan rumit sekelas apa kembali yang memicu wujud jiwamu bersikeras memelihara kelangsungan hidup yang dinilai terlampau rumit dan menyiksa seperti itu seumur hidup? Hah?”

“…… silence.”

Pada hari perjumpaan maut tersebut bergulir, eksistensi dari nama besar Sekte Pedang Besar dilaporkan telah resmi disapu bersih punah dibantai habis dari muka bumi seutuhnya tanpa sisa.

Namun tragedi pembantaian massal gerilya tersebut secara esensial murni bertindak menyandang kedaulatan bertindak sebagai langkah pembuka yang sepele semata dari kelangsungan jalannya teror maut berikutnya kelak.

Desa Keluarga Noh, Sekte Pedang Besar, Kediaman Keluarga Yong (`Yong Family Manor`), Perguruan Tianxing (`Tianxing Dojo`), disusul berbagai faksi sekte kecil lainnya.

Hanya dalam bentangan durasi waktu satu minggu lamanya berjalan seutuhnya, nominal beberapa faksi sekte beladiri tingkat menengah ke bawah yang sepanjang sejarahnya telah sukses membina nama besar dan reputasi tempur di sepanjang wilayah Provinsi Henan dilaporkan telah resmi musnah lenyap tak berbekas seutuhnya dari muka bumi tanpa menyisakan riak getaran sedikit pun.

Seluruh letupan tragedi pembantaian massal yang mengerikan tersebut secara nyata berhasil diredam hening di bawah pekatnya riak kehebohan publik menyambut meletusnya agenda besar kompetisi *Turnamen Tarung Bela Diri Pemuda di Bawah Langit*.....

Dong Bongsu

Dong Bongsu

Karakter Utama
Tang Wu

Tang Wu

Pendukung
Tang Hwa

Tang Hwa

Pendukung

Komentar (...)

Masuk untuk ikut berdiskusi di kolom komentar