**Bab 114. Pencerahan (1)**
***
“Ahaam~”
Ha Seon-hyang tampak kembali bersiap menduduki posisinya dengan cara berjongkok santai di atas permukaan atap genteng Paviliun Kediaman Tamu (`Guest Residence Pavilion`) hari ini, menyibukkan sepasang matanya menyapu lekat perlintasan jajaran pendekar asing yang berjalan di bawah. Namun pada saat ini, program pemantauan sepele tersebut terpantau sudah menolak menyajikan ketertarikan batin yang tinggi bagi kepalanya. Untuk merincinya secara lebih presisi, jalannya perlintasan manusia di bawah dideteksi terasa sangat menjemukan bagi jiwanya. Terlampau menjemukan hingga secara berulang kali sukses memicu mulutnya terbuka melepaskan suara kuapan kantuk lebar.
Bentangan luas lautan manusia yang sebelumnya dilaporkan padat memadati Boulevard Utama saat ini terpantau telah hampir sepenuhnya menyusut lenyap tak bersisa, menimbang hari ini secara administratif bertindak sebagai hari terakhir dari pembukaan program pendaftaran kompetisi turnamen tarung aliansi. Murni hanya bersisa segelintir kawanan penonton sipil luar daerah saja yang secara gerilya tampak masih berkeliaran santai di dekat area posko pendaftaran yang kondisinya saat itu telah mulai bergeser sunyi senyap sepi seutuhnya.
Meskipun menyadari situasi di bawah telah sepi, ia berkomitmen menolak menggeser posisi berjongkoknya meninggalkan area genteng sedikit pun, sesekali menyibukkan jemari tangannya menggelitik halus permukaan kulit sendi lutut kakinya sembari sepasang matanya terus tertuju membidik ke arah Boulevard Utama.
‘Apakah pemuda bernama Dong Gwang-cheon tersebut diproyeksikan akan kembali menolak memandu langkah kakinya merapat ke kompleks aliansi hari ini?’
Ia merupakan sosok pemuda misterius yang tubuh biologisnya secara tidak sengaja sempat berbenturan fisik secara langsung—*bruk~*—tepat di atas permukaan atap genteng ini dengannya sekitar sembilan hari yang lalu seutuhnya.
Letupan perjumpaan tak terduga di atas genteng tempo hari dulu diakui menyajikan riak ketakjuban dipadu rasa senang yang sangat luar biasa padat bagi jiwanya, memicu dirinya rela memandu fisiknya meluncur mengunjungi area genteng ini setiap hari murni murni dibalut adanya harapan konyol bahwa letupan kejadian serupa dipetakan bersedia meletus berulang kembali di lapangan kelak, namun keajaiban sejenis menolak bersedia hadir menyapanya sekejap pun.
Ia bahkan menolak dibekali peluang taktis untuk sekadar dipertemukan secara fisik dengan wujud pemuda tersebut kembali sepanjang seminggu terakhir ini.
Di saat jajaran kakak seperguruan laki-laki beserta adik seperguruan wanitanya sedang disibukkan memandu fisik mereka melangsungkan sesi interaksi sosial secara gerilya bersama jajaran pendekar asal sekte beladiri lainnya di aliansi, Ha Seon-hyang sejak awal memang menolak menaruh ketertarikan batin sedikit pun menyikapi eksistensi dari jajaran pendekar elit asuhan Sembilan Sekte Besar maupun master muda asuhan Empat Keluarga Besar Beladiri benua seutuhnya.
Sebab di sela-sela obrolan mereka secara konstan diproyeksikan murni hanya akan terus-menerus melafalkan baris bahasan topik bahasan yang sejajar dipadu penyajian kepingan cerita yang dinilai sangatlah membosankan bagi telinganya. Objek bahasan seputar pendekar muda legendaris mana saja yang telah sukses mendaftarkan diri bertarung di arena turnamen hari ini, pendekar mana yang dianalisis memendam persentase kemenangan tertinggi untuk bisa keluar menyandang gelar juara akhir turnamen, ataukah perkara lainnya……
Serta pancaran sorot sepasang mata berminyak mesum mereka yang secara gerilya secara rahasia terus menyapu lekat lekuk tubuh fisiknya sepanjang jalannya obrolan seutuhnya.
Ia secara mutlak benar-benar sangat membenci perangai menjemukan tersebut seumur hidup.
‘Namun pemuda gila tersebut terbukti sama sekali menolak menyajikan perangai mesum sejenis……’
Ia sepanjang jalannya pertempuran kemarin memang menolak dibekali peluang taktis untuk bisa meneliti keindahan sorot sepasang mata pemuda tersebut secara jelas akibat tertutup poni rambut, sehingga logikanya menolak dibekali dasar pembuktian ilmiah untuk menjamin apakah batin pemuda tersebut memendam perangai mesum sejenis atau menolak seutuhnya, namun insting wanitanya secara kuat meyakini pemuda gila tersebut steril dari perangai buruk tersebut.
Oleh karena rasa percaya halus itulah yang memicu wujud fisiknya terhitung semenjak beberapa hari lalu secara konstan selalu memposisikan wujud tubuhnya mendekam berjongkok kuyu di atas genteng ini setiap pagi, memantau keadaan alur Boulevard Utama seutuhnya.
Pada masa-masa awal ia memanjat ke atas genteng dulu, jajaran personel komando divisi Unit Pelindung Dunia Persilatan aliansi terpantau sempat menaruh kewaspadaan tempur yang cukup tinggi menyikapi keberadaan fisiknya yang bersikeras duduk di atas atap genteng paviliun aliansi, namun khusus untuk situasi saat ini mereka tampaknya telah mengunci asumsi berupa `[Ah, sudahlah, biarkan saja perbuatannya sesuka hatinya]`. Menolak bersisa satu pun prajurit patroli yang menaruh peduli menyikapi keberadaannya sekejap pun hari ini.
Ia secara pribadi juga berkomitmen menolak membuang energi batinnya untuk memedulikan apakah jajaran prajurit patroli aliansi tersebut bersedia melayangkan tatapan mata menatapnya atau menolak seutuhnya. Fokus ketertarikan batin yang bersemayam di dalam rongga dada Ha Seon-hyang saat itu murni hanya terbatas menyasar tertuju mengincar wibawa Dong Gwang-cheon seorang diri saja seutuhnya.
‘Lubang dadaku sebelumnya memendam keyakinan penuh di kepala bahwa ia dipastikan akan meluncur mendaftarkan diri bertarung di arena turnamen aliansi.’
Sebab kemarin sore ia secara sadar sempat meluncurkan kalimat pertanyaan kepada dirinya menyangkut bentangan batas waktu pendaftaran loket aliansi beserta ketetapan waktu dimulainya kompetisi turnamen…….
Ia sempat dirundung kekhawatiran batin menyikapi persentase kemungkinan berupa dirinya secara tidak sengaja sebenarnya telah melepaskan kesempatan emas dipertemukan dengan pemuda tersebut akibat melesetnya durasi waktu kedatangan pendaftaran target di lapangan. Mungkinkah pemuda gila tersebut secara faktual telah merapatkan pergeseran kakinya menuju ke loket aliansi di saat dirinya sedang sibuk menyantap hidangan makan siangnya, ataukah di saat dirinya sedang melarikan diri melintasi toilet guna melunasi kebutuhan biologis dasarnya seutuhnya?
Sungguh menyajikan sesosok penyesalan batin yang tergolong cukup menyedihkan bagi jiwanya.
Seandainya sejak menit pertama ia memutuskan berkomitmen memelihara wujud fisiknya tetap mendekam berdiri diam manis di atas atap genteng paviliun ini tanpa perlu bertingkah bodoh mengekor di sepanjang jalur kepergian adik seperguruan wanitanya kemarin sore…….
“Apakah wujud fisikku akan dibekali peluang taktis dipertemukan dengannya kembali tepat pada hari kompetisi turnamen tarung aliansi resmi dipicu bergulir nanti kelak?”
Intonasi penyampaian kalimat lirih darinya yang meluncur membelah pekatnya hawa dingin peralihan awal musim semi saat itu secara perlahan terpantau membeku menyajikan uap putih tipis di udara, baru kemudian melebur hanyut menyatu menyongsong keindahan visual pancaran uap senja kemerahan di langit barat seutuhnya.
Dalam kurun waktu tidak lama lagi, kepekatan hawa malam dipastikan akan segera merambat turun secara mutlak menyelimuti Zhengzhou seutuhnya, menandai ditutupnya loket registrasi pendaftaran kompetisi *Turnamen Tarung Bela Diri Pemuda di Bawah Langit* secara hukum administrasi aliansi.
Ha Seon-hyang bangkit berdiri tegak meluruskan lutut kakinya kembali, meluncurkan sekali regangan fisik menyapu tubuhnya, baru kemudian menepuk-nepuk halus permukaan pakaian bagian bokongnya guna membuang tumpukan pasir debu genteng yang menempel di tubuhnya. Ia telah mematangkan kesiapan mentalnya bersiap melompat turun berniat memandu langkah fisiknya merapat kembali ke kompleks paviliun wanita aliansi seutuhnya.
Meskipun begitu, sepasang matanya secara mutlak terpantau tetap saja bersikeras tertuju membidik tajam ke arah bentangan Boulevard Utama di bawah.
Bagaimana jika sewaktu-waktu target perburuannya kelak……
Secara tiba-tiba meluncur merapatkan langkah kakinya kemari?
“Persis menyelaraskan dugaan kepalaku semula, untuk hari ini juga diproyeksikan akan kembali menyajikan hasil akhir berupa…… Eh!?”
Detik menegangkan tersebut meletus tepat pada saat ia baru saja selesai melafalkan baris kalimat dugaannya sekejap semata baru saja.
Laju pergerakan telapak tangan mungil cantiknya secara mendadak langsung terhenti kaku di udara seutuhnya. Sesaat setelah itu, barisan jemari tangannya bergerak lincah menunjuk lurus mengincar ke arah sela jalan setapak sepi di samping Boulevard Utama, koordinat lokasi geografis tempat wujud fisik Dong Gwang-cheon bersama Bukgung dilaporkan resmi menghilang ditelan dinding aliansi pada hari pertama perjumpaan mereka kemarin dulu.
“Hah? Pemuda gila tersebut secara nyata telah kembali meluncur menampakkan wujud fisiknya keluar? Namun alasan medis sekelas apa yang memicu wujud visual penampilannya saat ini terlaporkan telah mengalami transformasi kerusakan fisik yang sangat luar biasa parah sekejam itu?”
Di sepanjang sela jalan setapak sepi koordinat tempat sabetan ujung jemari tangannya yang berselimut debu genteng tadi membidik saat itu, sesosok tubuh fisik pria paruh baya tampak sedang memandu pergerakan langkah kakinya meluncur keluar secara sangat lamban.
Persis menyerupai letupan kalimat takjub yang baru saja dilepaskan dari balik bibirnya baru saja, visual penampilan dari tubuh Dong Gwang-cheon saat itu secara mutlak terpantau telah mengalami transformasi kerusakan fisik yang tergolong sangat luar biasa mengerikan seutuhnya seumur hidup. Persentase kemungkinannya sangat besar bahwa dirinya sendiri diproyeksikan dipaksa menolak dibekali kapasitas visual untuk bisa mengenali identitas fisik pemuda tersebut detik ini seandainya lubang dadanya sepanjang seminggu terakhir menolak bersikeras mematangkan rekaman memorinya menimbu bayang fisiknya secara gerilya di kepala seutuhnya.
‘Catatan waktu di aliansi secara nyata murni baru bergulir sepanjang kurun waktu sembilan hari saja seutuhnya……?’
Wujud tubuh fisiknya saat itu tampak sangat kurus kering kerontang menyerupai visual tumpukan kulit kering yang murni hanya bertindak membungkus susunan tulang belulang biologis fisiknya seutuhnya tanpa daging (`skin and bones`), disusul helaian poni rambut panjangnya yang dahulu berwarna hitam legam pekat saat ini terlaporkan telah secara ajaib bertransformasi berubah wujud menyandang warna putih perak legam pekat seutuhnya (`white hair`). Meskipun memendam rentetan kerusakan fisik ekstrem sekejam itu menyelimuti fisiknya saat ini, namun pancaran wibawa aneh kosongnya yang menolak menyandang rasa emosi dantian terpantau tetap dipelihara berdiri kokoh menyelimuti sekujur tubuhnya sejak mula seutuhnya, dipadu dengan menolaknya berseling riak goyah terkecil sekalipun menyelimuti kehalusan gerak ayunan langkah kaki sepatunya menyapu tanah jalanan.
*Set!*
Ia menolak membuang waktu lebih lama lagi untuk memikirkan wewenang logikanya, secara instan langsung menghentakkan kaki sepatunya kencang menghantam genteng baru kemudian meluncur melompat terbang terbang turun dari atap paviliun ke bawah seutuhnya. Sel otaknya di masa itu secara mutlak menolak menyandang persiapan berpikir sejenis `[Aku berkomitmen merencanakan tindakan taktis tertentu di bawah nanti]`. Tepat pada detik pertama batin wanitanya mengabarkan kebenaran bahwa fisiknya diwajibkan meluncur turun saat itu, kesadaran raganya terbukti telah lebih dulu menyelesaikan eksekusi pergerakannya di lapangan secara patuh. Dirinya sendiri bahkan menolak dibekali kapasitas kognitif untuk bisa mencerna alasan taktis sekelas apa yang melatarbelakangi lahirnya refleks kelincahan gerak fisiknya tersebut seutuhnya seumur hidup.
“Hehe—. Selamat berjumpa…… se-selamat sore kembali hari ini. Hehe—.”
Ha Seon-hyang merapatkan pergerakan kakinya berlari lincah merapat mendekati posisi tubuh Dong Bong-su murni hanya dalam sekali hela napas tubuhnya seutuhnya di tempat.
Meneliti wujud ketampanan fisiknya dari sela jarak spasial dekat saat itu, kesadaran raganya secara mutlak dipaksa mengunci rasa percaya penuh di kepala seutuhnya. Pemuda di hadapannya saat ini secara faktual memang benar-benar merupakan sosok target perburuannya sejak awal. Meskipun menyadari nominal jutaan keping transformasi fisik merusak telah selesai merubah penampilannya seutuhnya, namun pemuda gila yang secara konstan selalu sukses memancarkan hawa wibawa ketangguhan pusaka yang menolak masuk akal dipadu pancaran misteri yang pekat seutuhnya ini—Dong Gwang-cheon seutuhnya.
“Sangat senang bisa dipertemukan secara fisik dengan wujud tubuhmu kembali hari ini.”
Kebenaran yang mutlak. Karakteristik intonasi penyampaian kalimat ini. Sebuah tipe pelafalan kosakata yang terkesan sangat polos, datar, namun di saat yang sama memendam hawa misteri yang sangat pekat menyapu jiwa.
“Fuuuh—. Panggil saja wujud fisiku menggunakan nama pendaftaran sebagai Seon-hyang. Ha Seon-hyang.”
Ia secara mendadak langsung memanggil kembali kepingan memori sepele di kepalanya bahwa meskipun sepasang sel otaknya sepanjang petualangan ini telah sukses mengamankan nama pendaftaran pemuda tersebut sejak mula seutuhnya, namun wujud fisiknya sendiri secara hukum tercatat menolak pernah melontarkan nama pendaftaran pribadinya di hadapan wajah pemuda tersebut sekejap pun, sehingga ia berkomitmen melafalkannya kencang sembari dadanya bekerja keras mengatur kelancaran sirkulasi napasnya seutuhnya.
“Namun kendala maut sekelas apa yang secara gerilya telah merusak tubuhmu hingga memaksanya berubah wujud menyedihkan sekejam ini?”
“Aku secara pribadi juga menolak dibekali data informasi untuk mengetahui jawaban ilmiahnya seutuhnya.”
Dong Gwang-cheon meluncurkan kalimat jawaban datarnya menyahuti kalimat tanya kelanjutan juniornya seadanya seolah-olah detail kerusakan fisik ekstrem di tubuhnya menolak menyandang urgensi penting bagi logikanya seumur hidup.
“Ah, apakah kenyataannya memang seperti itu?”
Detail tersebut menolak mendatangkan pengaruh buruk apa pun bagi kelangsungan rencananya. Wujud kepribadian pemuda gila tersebut secara faktual memang terlahir menyandang selisih perbedaan yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan watak pendekar umum lainnya, sehingga keunikan tersebut dirasa sangatlah menyenangkan bagi batinya…… dipertemukan kembali secara fisik bersamanya hari ini dinilai sudah sangat cukup untuk memuaskan hasrat batinnya seutuhnya, murni murni menyajikan kesenangan yang murni bagi jiwanya. Alasan ilmiahnya……
Menolak menyandang bobot nilai guna penting sekejap pun seumur hidup.
Ha Seon-hyang memposisikan sepasang sudut bola matanya merosot semakin menyempit ke bawah, menyalin visual rembulan sabit indah yang memancarkan pendaran cahayanya, baru kemudian melanjutkan kelancaran obrolan lisannya kembali.
“Apakah wujud ragamu hari ini telah secara resmi merampungkan penyerahan dokumen pendaftaran diri bertarung di loket registrasi kompetisi *Turnamen Tarung Bela Diri Pemuda di Bawah Langit* aliansi?”
Ia secara taktis berkomitmen menutup rapat mulutnya menolak menyuarakan kebenaran informasi berupa dirinya sepanjang kurun waktu sembilan hari penuh—sepuluh hari lamanya jika dihitung secara administratif—secara gerilya terus-menerus memposisikan wujud fisiknya mendekam kuyu di atas atap genteng paviliun murni hanya demi menanti kepulangan fisiknya seutuhnya, murni disebabkan karena rongga dadanya seketika dilingkupi rasa canggung yang sangat pekat menyikapi bocornya rahasia tersebut.
“Belum. Raga fisiku terhitung semenjak menit pertama menapakkan kaki di markas hari ini secara nyata memang masih belum melangsungkan sesi penyerahan dokumen registrasi seutuhnya. Apakah bentangan batas waktu operasional pembukaan loket pendaftaran aliansi secara administratif telah resmi ditutup oleh sistem saat ini?”
Gumam Dong Bong-su bersuara.
“Hah? Wujud ragamu sepanjang hari ini secara nyata memang masih belum menyelesaikannya? Kalau begitu kau secara mutlak diwajibkan untuk segera mempercepat akselerasi langkah kakimu meluncur merapat ke loket sekarang juga! Hari ini bertindak menyandang kedaulatan sebagai hari terakhir dari penutupan loket pendaftaran turnamen aliansi!”
Sesaat setelah selesai melafalkan baris kalimat peringatan daruratnya tersebut kencang, telapak tangan mungil Ha Seon-hyang secara otomatis langsung bergerak merangsek masuk menggenggam erat telapak tangan dingin Dong Gwang-cheon seutuhnya murni tanpa sempat disadari oleh logikanya sekejap pun. Sesaat setelah itu, ia memacu kelincahan gerak fisiknya berlari kencang menyeret paksa tubuh Dong Gwang-cheon meluncur mengincar bangunan loket registrasi terdekat yang bersiap di depan mereka, sang **Aula Penakluk Kejahatan** (Conquering Evil Hall).
***
“Haaam—. Giliran nomor antrean berikutnya.”
**Lee I-jeom** melepaskan suara kuapan kantuk lebar dari balik bibirnya baru kemudian memanggil kedatangan nama pendaftaran peserta berikutnya secara kuyu.
Ia secara administratif telah dipaksa menghabiskan bentangan durasi waktu sepanjang sepuluh hari lamanya bersiap menduduki kursi kayu loket registrasi aliansi murni demi memproses barisan dokumen pendaftaran jajaran pendekar peserta turnamen tarung aliansi, sehingga secara psikologis dideteksi sangatlah wajar seandainya rongga dadanya saat itu dipadati oleh letupan rasa jenuh yang sangat luar biasa pekat menyikapi rutinitas tersebut. Ataukah kemungkinannya justru menyajikan kesimpulan taktis berupa intensitas kejenuhan batinnya dilaporkan tumbuh berkali-kali lipat jauh lebih mengerikan murni dipicu akibat sepasang sel otaknya telah terlanjur terbiasa menjalani rutinitas membosankan tersebut sejak lama seutuhnya?
Setidaknya, lubang dadanya saat itu masih dibekali keyakinan penuh untuk bersedia melatih sisa kekuatan fisiknya menahan kejenuhan tersebut murni ditopang oleh kesadaran hukum berupa hari ini secara resmi bertindak sebagai hari terakhir dari operasional pembukaan loket turnamen aliansi seutuhnya.
“Nomor antrean berikutnya! Apakah secara faktual menolak bersisa pendekar asing lainnya yang bersiap mendaftarkan diri di luar pintu?”
Ia kembali meledakkan pekikan suaranya kencang membidik lurus ke arah prajurit patroli aliansi yang bersiap menjaga pintu gerbang masuk aula saat itu.
Prajurit patroli tersebut tampak memiringkan kepalanya sejenak memantau kondisi jalan raya di luar gerbang, melayangkan sapuan mata cepat memeriksa seisi area sekeliling jalan setapak, baru kemudian memutar kembali kepalanya menatap tenang ke arah wajah Lee I-jeom dan bersuara.
“Menolak bersisa satu pun pendekar asing yang bersiap di luar, Ajudan Lee.”
“Fuuuh—. Apakah agenda penyiksaan administrasi ini akhirnya secara resmi telah diselesaikan seutuhnya?”
Tepat di saat Lee I-jeom baru saja bersiap mengangkat bokong fisiknya dari atas kursi kayu berniat meluruskan sisa otot tubuhnya menyambut kepulangan dinasnya seutuhnya kelak—
“Tahan langkahmu sejenak! Masih bersisa satu orang pendekar terakhir kembali di luar pintu!”
Sesosok pendekar asing secara mendadak meledakkan pekikan daruratnya kencang melintasi pintu masuk aula, disusul perlintasan fisiknya yang merangsek masuk merapat ke dalam ruangan secara tergesa-gesa.
Pihak yang memimpin pelarian masuk tersebut tidak lain merupakan sesosok gadis muda cantik yang helaian rambut kepalanya tampak diikat melingkar ganda secara sangat unik menyerupai visual sepasang tanduk domba muda yang terlahir sangat imut seutuhnya. Menimbang dari ritme hembusan sirkulasi napasnya yang terengah-engah kasar saat itu, wujud fisiknya secara taktis dianalisis secara nyata baru saja selesai memaksakan kelincahan gerak fisiknya berlari kencang melintasi kota Zhengzhou secara darurat seutuhnya demi bisa merapat di aula pendaftaran tepat waktu seutuhnya.
‘Hm? Gadis muda yang menyandang kuncir tanduk tersebut?’
Sepasang sel otak Lee I-jeom secara instan langsung mampu memanggil kembali kepingan memori identitas gadis tersebut secara sukses seutuhnya. Keberhasilan pemanggilan tersebut berhasil ia sukseskan bukan murni ditopang oleh adanya keunggulan visual wajah cantik menawan gadis tersebut saja seutuhnya seumur hidup, melainkan karena didukung oleh adanya data silsilah faksi sekte asal yang melekat menghiasi pendaftaran fisiknya tempo hari dulu.
Sekte Huashan (Mount Hua Sect).
Itu merupakan sesosok nama besar sekte persilatan yang memendam kedaulatan pengaruh politik beserta reputasi tempur yang sangat luar biasa disegani di sepanjang luasnya benua, bahkan di saat namamu bersanding di sela-sela jajaran faksi elit Sembilan Sekte Besar benua sekalipun seumur hidup. Menyimpan dan mengingat dengan baik visual wajah dari murid asuhan sekte raksasa sekelas itu dianalisis secara hukum akan selalu mendatangkan nilai guna praktis yang tinggi demi bisa memuluskan langkah perluasan relasi politik aliansi di masa depan kelak.
Namun menyikapi urusan administrasi turnamen saat ini, ia diwajibkan untuk bersikap tegas membedakan antara kepentingan dinas aliansi dengan kepentingan relasi pribadi sekte seutuhnya. Tidak bersisa dasar hukum bagi logikanya untuk membiarkan gadis tersebut melangsungkan sesi pendaftaran diri baru kembali hari ini.
“Tunggu sejenak, bukankah wujud fisik Nona Muda secara administratif telah selesai memproses pendaftaran diri Anda semenjak beberapa hari lalu seutuhnya? Ah!”
Namun sisa keraguan batin yang menghiasi sel otaknya terpantau menolak sanggup bertahan lama seutuhnya.
Murni dipicu karena wujud asli dari pendekar pendaftar terakhir yang sesungguhnya saat itu secara gerilya telah melangkahkan kakinya melintas masuk merapat di belakang tubuh Ha Seon-hyang secara tenang seutuhnya.
Dong Gwang-cheon—tidak, Dong Bong-su seutuhnya.
“Pendekar pendaftar terakhir yang bersiap melangsungkan sesi registrasi hari ini adalah sosok pemuda di dekat tubuhku ini seutuhnya. Bukan diriku seutuhnya.”
Selesai melafalkan kalimat penjelasannya tersebut, Ha Seon-hyang memandu pergerakan langkah Dong Bong-su berjalan cepat mendekati meja loket registrasi koordinat tempat Lee I-jeom sedang menduduki kursi kayunya sejak mula seutuhnya.
Ia memang secara gerilya tampak sedang memaksakan kehalusan ayunan langkah kakinya melangkah selebar mungkin di atas lantai aula saat itu, namun mengingat bentangan panjang langkah kakinya secara biologis murni hanya terbatas menyajikan separuh dari bentangan panjang langkah kaki tegap Dong Bong-su semata, visual pergeseran langkah kakinya dideteksi terkesan sedikit lucu bagi mata orang luar. Namun meski begitu, kelihaian gerak tubuhnya tersebut secara bersamaan tetap dipuji memancarkan kelucuan wajah gadis yang sangat imut seutuhnya.
Lee I-jeom melayangkan sepasang sudut matanya mendongak menatap lekat wujud fisik Dong Bong-su dibalut riak kecemburuan batin pria yang pekat menyikapi kemolekan gadis di dekatnya seutuhnya, baru kemudian mengulurkan selembar kertas dokumen formulir pendaftaran diri yang bersiap tersisa di mejanya sembari bersuara kencang.
“Silakan goreskan kuas menuliskan nama pendaftaran Anda beserta faksi sekte asal yang membentengi bagian belakang punggung Anda di atas lembaran kertas ini seutuhnya.”
Dong Bong-su mengulurkan telapak tangan kirinya meraih lembaran kertas formulir pendaftaran tersebut baru kemudian memutar arah wajahnya memusatkan sepasang matanya menatap tajam ke arah wajah Ha Seon-hyang seutuhnya.
“Bolehkah wujud tanganmu berkomitmen melepas cengkeraman telapak tangan dingin fisiku saat ini?”
“Ah—!”
Barulah pada detik konfirmasi lisan tersebut meluncur menyapa gendang telinganya, Ha Seon-hyang secara sadar terpantau baru menyadari kebenaran medis bahwa barisan jemari tangannya sejak awal di luar gerbang tadi secara nyata terbukti masih bersikeras menggenggam erat telapak tangan pemuda di depannya seutuhnya, memicu dirinya secara tergesa-gesa langsung menarik lepas genggaman tangannya kembali sekejap setelah itu dibalut kepanikan mental yang pekat.
Kehangatan telapak tangannya yang basah dilumuri butiran keringat halus saat itu terpantau sedang meledakkan riak denyutan jantung yang sangat kencang di dalam dadanya. Ini merupakan kali pertama sepanjang sejarah petualangan hidupnya ia dipaksa dipertemukan menyongsong peristiwa canggung menyedihkan berupa mengalirnya butiran keringat dingin membasahi sela kulit telapak tangannya murni akibat dilingkupi rasa malu yang sangat pekat menusuk jantungnya seutuhnya seumur hidup.
“…… M-Mohon maaf……”
“Perkara sepele tersebut menolak menyandang kendala penting bagi kepalaku.”
Dong Bong-su melengkungkan sepasang sudut bibirnya melepaskan sesosok goresan senyuman tipis misterius yang keaslian maknanya dianalisis sepenuhnya mustahil untuk dipetakan secara akurat apakah ia melambangkan kebahagiaan batin maupun menolak seutuhnya, baru kemudian menggerakkan tangan kanannya meraih sebatang kuas menulis yang bersiap di atas batu tinta sebelum akhirnya mulai menyibukkan jemarinya mengisi kolom pendaftaran kertas secara patuh.
Namun pergerakan jemari tangannya secara mendadak terpantau langsung terhenti kaku sejenak baru kemudian memutar kepalanya menatap lekat wajah Lee I-jeom.
“Apakah syarat pendaftaran turnamen bela diri aliansi secara mutlak mewajibkan Player untuk menyandang status keanggotaan sebagai bagian dari faksi sekte yang beraliansi di bawah panji kekuasaan Aliansi Beladiri terlebih dahulu seutuhnya?”
Lee I-jeom melayangkan sepasang gelengan kepalanya tegas menolak setuju baru kemudian bersuara meluncurkan kalimat jawaban administrasinya.
“Tentu saja hal tersebut menolak diwajibkan secara mutlak. Seandainya wujud ragamu secara administratif terbukti sukses mengamankan kepemilikan atas selembar surat rekomendasi resmi yang ditandatangani langsung oleh faksi petinggi Aliansi Beladiri, maupun surat rekomendasi sah yang didelegasikan oleh master ternama asal faksi sekte yang beraliansi dengan aliansi, kau secara hukum tetap diizinkan memproses pendaftaran diri. Apakah wujud ragamu saat ini memendam kepemilikan atas kepingan pusaka surat bukti hukum sejenis seutuhnya di tanganmu?”
Dong Bong-su mematangkan alur dugaannya sejenak di kepalanya baru kemudian mengulurkan sebelah tangannya meraih sebuah lencana Aliansi Beladiri perunggu yang terpasang di sela dada jubahnya baru kemudian menyerahkan lencana perunggu tersebut ke depan wajah Lee I-jeom.
“Apakah lencana bukti perunggu aliansi milikku ini dianalisis sudah sangat mumpuni untuk melunasi syarat tersebut seutuhnya?”
Lee I-jeom mengulurkan tangannya meraih lencana perunggu aliansi tersebut baru kemudian membalik posisi lencananya secara cepat sekejap. Meniru alur pemeriksaan administrasi pada umumnya, kolom bagian belakang lencana aliansi secara konsisten selalu didesain memuat penulisan nama faksi penerbit lencana, dilengkapi jabatan kehormatan beserta nama pendaftaran resmi dari master aliansi penerbitnya seutuhnya.
“Ah!”
Menatap lekat ke arah goresan nama pendaftaran master penerbit lencana yang tercantum kokoh menghiasi kolom belakang logam perunggu tersebut, yang bobot kedaulatan namanya dianalisis berkali-kali lipat jauh lebih mengerikan dibandingkan dengan nominal nama master yang bersiap di kepalanya, sepasang mata Lee I-jeom seketika mendelik lebar dilingkupi rasa syok yang pekat seutuhnya.
“Jadi wujud Pendekar Muda selama ini secara administratif menyandang status hukum kehormatan bertindak sebagai tamu pribadi kehormatan asuhan langsung Komandan divisi Unit Pelindung Dunia Persilatan aliansi seutuhnya!? Ketersediaan lencana komandan ini secara hukum telah jauh lebih dari cukup untuk melunasi seluruh sisa syarat pendaftaran turnamen Anda seutuhnya. Bawahan ini berkomitmen akan segera melangsungkan sesi konfirmasi data hukum ini langsung dengan menghadap Komandan Unit Pelindung Dunia Persilatan secara pribadi kelak, sehingga tidak bersisa kebutuhan praktis yang menuntut ragamu untuk tetap bersiap di ruangan loket ini lebih lama lagi hari ini. Ini merupakan lembaran slip kertas bukti registrasi sah pendaftaran turnamen Anda.”
Lee I-jeom secara tergesa-gesa langsung menggoreskan kuasnya menuliskan nama pendaftaran Dong Gwang-cheon di sepanjang lembaran kertas bukti registrasi yang kolom bawahnya telah dibubuhi segel resmi Ketua Aliansi Beladiri seutuhnya baru kemudian menyodorkan kertas bukti pendaftaran tersebut ke sela jemari tangan Dong Bong-su secara patuh.
Ha Seon-hyang yang sejak menit pertama bersiap membuka bibirnya berniat meluncurkan klaim kebohongan dengan menyuarakan bahwa pemuda di dekatnya bertindak sebagai murid asuhan Si Aneh Senjata seandainya administrasi aliansi sampai meledakkan kendala hukum tadi seketika terpaku kaget mendengar konfirmasi lisan Lee I-jeom baru saja menyangkut status Dong Gwang-cheon bertindak sebagai tamu pribadi komandan Eulji Tae seutuhnya. Bertolak belakang dengan ketiadaan bobot politik yang dimiliki oleh Si Aneh Senjata, nama besar komandan komando Eulji Tae diakui menyandang wewenang kekuasaan beserta reputasi tempur yang sangat luar biasa kolosal menyelimuti seisi kompleks Aliansi Beladiri seutuhnya seumur hidup.
Dong Bong-su, tanpa memedulikan apakah sepasang mata Ha Seon-hyang sedang memusatkan perhatian memantau wujud fisiknya dibalut kebingungan mental yang pekat saat itu atau menolak peduli seutuhnya, murni hanya meraih kertas slip bukti registrasi turnamen tersebut dari sela tangannya, melayangkan sekali sapuan mata tenang sekejap baru kemudian melipat lembaran kertas tersebut secara rapi menjadi dua bagian seutuhnya.
Tepat pada detik peristiwa pelipatan tersebut selesai disukseskan.
“Apakah seluruh jalannya agenda registrasi di ruangan loket ini secara administratif juga telah selesai dirampungkan seutuhnya?”
Sesosok intonasi penyampaian kalimat lirih yang terkesan sangat halus mendadak terdengar bergaung manis menyapu area belakang punggung mereka seutuhnya. Sebuah gema suara lembut yang keindahannya dianalisis sepenuhnya menyalin keanggunan kibasan barisan kelopak bunga plum cantik yang terbang berserakan dihantam embusan angin musim semi seutuhnya seumur hidup.
Lee I-jeom secara tergesa-gesa langsung bangkit berdiri tegak dari kursi kayunya baru kemudian menekuk lutut fisiknya membungkuk hormat melayangkan salam kepalan tangan setinggi dada membidik ke arah koordinat asal suara tersebut seutuhnya. Kebenaran yang mutlak di kepalanya bahwa master asing yang bersiap melintas merapat di belakang tubuhnya saat itu bertindak menyandang kedaulatan penuh sebagai sesosok atasan penting aliansi seutuhnya.
“Ah, selamat sore, Ahli Strategi Namgung. Seluruh jalannya pemrosesan dokumen pendaftaran di ruangan loket ini secara administratif memang telah selesai bawahan ini rampungkan seutuhnya hari ini.”
“Begitu rupanya. Seandainya analisamu benar, apakah penganut Tao miskin ini diizinkan bertindak membawa pergi seluruh tumpukan dokumen formulir pendaftaran peserta turnamen ini ke markas taktis aliansi seutuhnya sekarang?”
“Tentu saja hal tersebut diizinkan, Ahli Strategi Namgung.”
Sembari diiringi oleh kelihaian ayunan langkah kaki sepatunya yang melangkah anggun menyelaraskan kehalusan uap getaran suaranya sejak mula, sesosok wanita cantik yang keindahan postur fisiknya dideteksi terlampau ramping dan terlahir sangat gemulai hingga secara alami memicu lahirnya hasrat protektif dari dalam dada pendekar laki-laki mana pun yang menatapnya saat itu terpantau telah merapat berdiri tegak bersanding tepat di sebelah tubuh Dong Bong-su bersama Ha Seon-hyang seutuhnya.
Sesosok keharuman uap getaran harum bunga plum tipis seketika menyebar sangat luas menyelimuti sela udara kosong sekeliling ruangan seiring melintasnya wujud fisik wanita cantik tersebut, dipadu dengan anyaman kain jubah merah muda pucat yang ia kenakan saat itu terpantau sukses menyajikan visual kulit wajah cantiknya yang terlahir sangat putih bersih merona bersinar berkali-kali lipat jauh lebih benderang seutuhnya di bawah cahaya obor.
Sosok master wanita agung yang baru saja menapakkan kakinya merangsek masuk melintasi pintu gerbang aula tersebut tidak lain merupakan **Namgung Hye** seutuhnya.


