**Bab 176. Pahlawan Pembantai (1)**
***
**Geng Dewa Besi (Iron God Gang)**.
Kompleks bangunan megah yang terletak di ujung Jalan Barat kota River Capital itu sepenuhnya merupakan wilayah kekuasaan mutlak mereka. Pintu gerbang utamanya terbuat dari lempengan besi hitam raksasa setinggi tiga zhang, dengan tiga aksara merah bertuliskan *Geng Dewa Besi* yang diukir sangat dalam bagaikan goresan darah segar pekat.
Faksi ini dibangun di atas fondasi pertumpahan darah dan kekerasan selama kurun sejarah yang panjang, menjadikannya sebagai kekuatan terkuat nomor dua di bawah langit River Capital saat ini. Bahkan beberapa narator jalanan di Jianghu menilai bahwa fondasi kekuatan Dantian dalam para pendekar Geng Dewa Besi jauh lebih kokoh dibandingkan Perkumpulan Dewa Tujuh Bintang.
Sesuai dengan reputasinya, markas besar ini dijaga dengan sistem pertahanan yang sangat ketat bagaikan benteng besi. Di kedua sisi pintu gerbang, pendekar elit berbaju zirah besi—yang dikenal sebagai **Pengawal Baja (Steel Guards / Kang-cheol-wi)**—berdiri siaga siang dan malam.
Di balik pintu gerbang besi, terhampar sebuah lapangan pelatihan granite raksasa yang cukup luas untuk menampung ratusan pendekar berlatih secara bersamaan. Di sekeliling lapangan, puluhan paviliun kayu berdiri melingkar, dirancang khusus agar dalam kondisi darurat, ratusan pendekar Geng Dewa Besi bisa langsung keluar mengepung penyusup yang datang.
Di ujung lapangan pelatihan berdiri paviliun utama setinggi lima lantai dengan dinding merah dan genting hitam yang megah. Di lantai dasar paviliun utama, terdapat patung besi raksasa pendiri Geng Dewa Besi yang terus dialiri kepulan asap dupa. Di ujung atap setiap lantai, tergantung genta besi raksasa yang beratnya luar biasa, bahkan menolak mengeluarkan suara sekecil apa pun saat badai topan melanda.
Namun, jika ada penyusup yang terdeteksi masuk, formasi spiritual yang terukir di genta besi tersebut akan langsung aktif secara otomatis, membuat genta-genta besi raksasa itu runtuh menghantam tanah dengan suara memekakkan telinga.
Dan sekarang.
*Trang! Tang!*
*Brak!*
Genta-genta besi raksasa yang sangat berat itu runtuh secara bersamaan dari atap paviliun utama, memancarkan suara alarm darurat yang memekakkan telinga seisi markas.
*Tap, tap.*
Dong Bong-su melangkah dengan tenang di tengah lapangan pelatihan. Sejak awal, dia adalah sosok yang terbiasa bergerak di bawah bayang-bayang kegelapan, bukan pendekar yang mendambakan jalan cahaya yang mulia. Berjalan di bawah kegelapan malam jauh lebih aman dibandingkan jalan cahaya yang penuh dengan jebakan dan bahaya tak terduga.
Meskipun begitu, mengenakan topeng pahlawan di bawah cahaya siang hari untuk melakukan pembantaian di kegelapan ternyata memberikan hiburan yang sangat menyenangkan baginya. Terlebih setelah dia memahami bagaimana hukum rimba dunia baru ini bekerja secara detail.
Bong-su menghentikan langkah kakinya tepat di tengah lapangan pelatihan Geng Dewa Besi.
“Siapa kau, bajingan? Berani sekali menyusup ke markas kami!” bentak seorang pendekar paruh baya yang tampaknya menjabat sebagai Pelindung Geng, tangan kanan kasarnya telah mencengkeram gagang golok di pinggangnya.
“Sesosok **Pendekar Kelana (Wandering Hero / Pendekar Kelana)**.”
“Hah? Pendekar Kelana?!” Pendekar itu mendengus geram. Dia mengira pemuda di hadapannya adalah orang gila yang nekat bunuh diri.
Dong Bong-su melirik ke sekeliling lapangan dengan santai. Di belakangnya, puluhan Pengawal Baja yang sempat menghadangnya di pintu gerbang luar telah terkapar kaku di tanah menjadi mayat. Dan dari segala penjuru paviliun—baik dari depan, samping, hingga dari atas atap—ratusan pendekar Geng Dewa Besi tampak mulai merangsek keluar bagaikan koloni semut yang sarangnya diinjak.
“Jasad tuaku bertindak selaku **Bi Cheok-un (Bi Cheok-un)**, sang **Golok Terbang Naga Besi (Iron Dragon Flying Saber / Cheol-ryong-bi-do)**. Satu dari **Tiga Penguasa (Three Hegemons / Sam-pae)** Geng Dewa Besi!”
Tiga Penguasa adalah gelar hormat untuk tiga pendekar terkuat yang memimpin Geng Dewa Besi: Sang Pemimpin Geng **Cheol Hon (Cheol Hon)**, putrinya **Cheol So-ah (Cheol So-ah / Cakar Besi Wajah Dingin)**, dan Pelindung Utama Geng, Bi Cheok-un.
“Apakah Bukgung Ri yang mengirimmu ke sini untuk memprovokasi kami?” tanya Bi Cheok-un dengan mata menyipit tajam.
“Bukan.”
“Lantas apa tujuanmu menyerbu markas kami sendirian?”
“Tindakan keadilan.”
“Apa? Tindakan keadilan?!” Bi Cheok-un terbelalak mendengar jawaban konyol itu.
Dong Bong-su mengingat kembali rentetan "tindakan keadilan" yang dia lakukan selama jalan-jalan pagi tadi di wilayah kekuasaan Geng Dewa Besi:
- **Distrik 7**: Dia membantai tiga puluh pendekar penyelidik elite (Regu Besi Putih, Hitam, dan Kuning) beserta Penatua Do yang sedang menyelidiki kejadian kemarin malam. Bong-su sengaja meniru gaya bertarung Bukgung Ri agar Geng Dewa Besi mencurigai Perkumpulan Dewa Tujuh Bintang sebagai pelakunya. Sebuah trik sederhana namun sangat mematikan di dunia tanpa hukum ini. - **Distrik 6**: Di ruang bawah tanah markas cabang ini, dia menemukan sekelompok anak kecil yang disekap dalam jeruji besi untuk dijual sebagai budak atau bahan ramuan spiritual. Bong-su langsung meledakkan kepala dua puluh pendekar penjaga menggunakan **[Panah Keimanan (Faith Arrow)]** dan membebaskan anak-anak tersebut. - **Distrik 5**: Di gudang persenjataan ini, dia menemukan ratusan alat penyiksaan mengerikan yang berlumuran darah kering. Bong-su membakar habis gudang tersebut beserta tiga puluh lima pendekar dan tiga Pelindung Geng di dalamnya menggunakan ilmu api dari *Kitab Golok Payung Merah*. - **Distrik 4**: Di aula makan ini, dia melihat lima puluh pendekar sedang asyik memakan daging manusia mutan tanpa rasa bersalah. Bong-su langsung menebas tenggorokan mereka semua di atas meja makan agar mereka bisa menikmati kematian dengan damai. - **Distrik 3**: Di penginapan tersembunyi ini, puluhan wanita disekap dan disiksa dalam kondisi terikat. Bong-su meruntuhkan bangunan tersebut, mematahkan leher para pendekar yang mencoba merangkak keluar dari reruntuhan, lalu membebaskan seluruh wanita yang tersisa. - **Distrik 2**: Di penjara bawah tanah ini, para sipir sedang menguliti seorang tawanan hidup-hidup. Bong-su membantai seluruh sipir penjara dan membebaskan para tawanan yang sebagian besar sudah gila (beberapa tawanan bahkan mulai memakan mayat para sipir karena kelaparan). - **Distrik 1**: Di pos pertahanan ini, dia melenyapkan seratus pendekar elit Geng Dewa Besi yang matanya telah kosong karena terbiasa melakukan pembunuhan setiap hari. Bong-su menebas mereka semua dalam sekali serang sebagai bentuk belas kasihan terdalamnya.
Itulah seluruh rincian dari "jalan-jalan pagi" yang dia katakan kepada Jeon Rahwa tadi. Dan sekarang, dia telah sampai di pusat kekuatan Geng Dewa Besi: lapangan pelatihan utama.
Dong Bong-su melirik genangan darah kering di tanah granite yang telah menumpuk menjadi ratusan lapisan selama puluhan tahun sejarah kekejaman geng ini. Bahkan para anggota geng sendiri pasti tidak tahu sudah berapa ribu nyawa yang melayang di lapangan ini.
Senyuman ramah yang tak perlu dia sembunyikan lagi merekah di bibir Dong Bong-su.
“Ya, tindakan keadilan.”
“Nekat menyerbu markas besar faksi lain tanpa deklarasi perang resmi, lalu berlagak menegakkan keadilan? Sungguh omong kosong!”
*Sring!*
Bi Cheok-un menarik golok pusakanya dari sarung. Bilah golok itu berkilau dingin di bawah terik matahari pagi yang mulai meninggi.
“Toh, jika kau adalah pendekar waras yang bisa diajak bicara, kau tidak akan berbuat bodoh dengan menyerang tempat ini sendirian sejak awal.”
Bodoh, katanya. Dong Bong-su hanya tertawa dingin dalam hati.
*Deg!*
Tiba-tiba, rasa dingin yang tak bisa dijelaskan menjalar di sepanjang tulang punggung Bi Cheok-un. Bukan hanya dia, seluruh pendekar Geng Dewa Besi yang mengepung Bong-su juga merinding hebat. Aura membunuh yang sangat pekat dan mengerikan seketika mengunci tubuh mereka semua, membuat mereka sulit untuk bernapas.
Dong Bong-su membuka bibirnya perlahan.
“Jasad tuaku bersedia membagikan satu rahasia kecil pada kalian seutuhnya kelak.” Kalimat khas pahlawan kelana meluncur dari mulutnya dengan sangat alami.
Matahari tepat berada di atas kepala, membuat bayangan Dong Bong-su yang berdiri di tengah lapangan pelatihan tampak menyusut hanya di bawah kakinya saja.
“Sebenarnya, jasad tuaku berasal dari dunia fana lain seutuhnya kelak…… Di dunia lamaku, aku terkadang melangsungkan sesi pembantaian jasad manusia biasa seadanya semata. Namun tampaknya, di dunia baru ini aku tidak perlu menahan diri lagi sekelumit pun.”
*Wusss-wusss-wusss~*
Lapangan pelatihan Geng Dewa Besi seketika terselimut oleh medan energi **Super True Qi Field** milik Dong Bong-su.
*Trang! Tang!*
Ratusan senjata tajam (pedang, golok, kapak, dan tombak) yang terpasang di rak senjata di sekeliling lapangan mendadak bergetar keras dan melayang naik ke udara secara otomatis. Senjata-senjata itu berputar lambat di atas kepala Dong Bong-su layaknya ratusan bilah senjata Asura di dalam lukisan ranah neraka Asura.
`[Sistem: Misi Berantai Diperbarui: Dendam Geng Dewa Besi]` - Tujuan: Hancurkan Geng Dewa Besi. - Progress: 33.6% (Berhasil melenyapkan sepertiga kekuatan geng saat jalan-jalan pagi) - Hadiah: Sejarah Kepahlawanan +5
Tanpa ada yang menyadarinya, sepertiga dari kekuatan tempur Geng Dewa Besi sebenarnya telah disapu bersih oleh Bong-su hanya dalam waktu beberapa jam saja.
“Dan karena ini adalah tindakan keadilan, mari kita mulai sesi pembersihan sampahnya seutuhnya kelak.”
Sembari bergumam pelan, Dong Bong-su melarikan jarinya.
*Jleb! Jleb! Jleb!*
Puluhan pendekar Geng Dewa Besi yang berdiri paling dekat dengannya seketika roboh dengan dada tertusuk oleh senjata melayang, darah segar menyembur deras membasahi tanah granite.
`[Sistem: Progress Hancurkan Geng Dewa Besi: 33.7%]`
Dong Bong-su menolak untuk menghentikan serangannya. Ratusan bilah senjata tajam meluncur membelah udara dengan suara bising yang memekakkan telinga, berpadu dengan jeritan histeris dari para pendekar Geng Dewa Besi yang mencoba bertahan hidup.
“Bajingan gila sialan!!”
“Mati kau! Mati!!”
Kabut darah merah pekat seketika menyelimuti lapangan pelatihan, memancarkan aroma amis logam yang sangat menyengat hingga ke sepanjang Jalan Barat. Kepala-kepala pendekar terbang terputus layaknya rumpun padi yang dipotong oleh sabit petani, disusul hujan darah segar yang membasahi sekujur tubuh Dong Bong-su.
*Trang! Tang!*
*Jleb!*
Meskipun para pendekar Geng Dewa Besi terkenal memiliki fisik besi yang kokoh, di hadapan ratusan senjata yang dikendalikan oleh *Super True Qi Field* milik Bong-su, pertahanan mereka hancur berkeping-keping layaknya potongan kayu lapuk. Potongan tubuh dan organ dalam berserakan di tengah lautan darah segar pekat.
Sesosok pemuda bertubuh tegap berdiri kokoh di tengah pembantaian tersebut layaknya Dewa Iblis yang turun ke bumi, diselimuti oleh cahaya keemasan tipis dari status pahlawannya.
`[Sistem: Misi Berantai Diperbarui: Dendam Geng Dewa Besi]` - Tujuan: Hancurkan Geng Dewa Besi. - Progress: 72.6% - Hadiah: Sejarah Kepahlawanan +5
“Ternyata sudah mencapai 72.6%.” Dong Bong-su tersenyum puas.
Sistem kepahlawanan ini ternyata sama sekali tidak memedulikan bagaimana prosesnya berjalan, melainkan hanya melihat hasil akhirnya saja. Selama hasil akhirnya adalah menegakkan keadilan (menghancurkan geng sesat dan menyelamatkan budak), maka seluruh proses pembantaian biadab yang dia lakukan tetap dihitung sebagai tindakan keadilan yang mulia.
Dan di dalam paviliun utama Geng Dewa Besi di hadapannya, masih banyak "sampah kejahatan" yang menantinya untuk segera dibersihkan. Bong-su melangkah dengan tenang menuju pintu masuk paviliun utama.


