**Bab 89. Mimpi Buruk Medan Perang (2)**
***
Itu sama sekali bukan merupakan visual ilusi mata.
Beberapa perwira komandan di sekelilingnya dipastikan telah menyaksikan keajaiban terbang tersebut secara nyata. Pandangan kepala mereka sempat berputar menatap ke arah langit udara selama beberapa saat. Namun tidak ada sisa waktu bagi mereka untuk mencari tahu detail objek terbang tersebut saat ini. Laju lari dari kuda-kuda yang mereka tunggangi sudah terlanjur memicu akselerasi kecepatan penuh dan tidak bisa dihentikan kembali. Jika mereka sampai berani mengendurkan tali kekang sedikit saja saat ini, tubuh mereka dipastikan akan langsung jatuh terkapar dan hancur terinjak-injak oleh derap kuku kaki kuda prajurit di belakang mereka tanpa menyisakan jasad yang utuh.
“Hyaaa!”
Salakat memecut kudanya secara jauh lebih keras.
Tidak peduli objek aneh apa sebenarnya yang meluncur terbang di atas langit tadi, detail tersebut tidaklah penting bagi logikanya. Tindakan membahayakan apa yang mampu dieksekusi oleh satu orang musuh seorang diri?
Dan itulah kesalahan analisis pertamanya.
*Brak—!*
Barisan terdepan kavaleri Salakat akhirnya berbenturan sangat keras dengan barisan pertahanan bagian belakang pasukan ekspedisi kekaisaran.
*Brak! Jleg! Akh!*
Kepala prajurit tampak beterbangan terputus, dengan potongan lengan beserta kaki yang terobek kasar berkedut di atas tanah pasir. Jasad-jasad mayat prajurit berjatuhan bertumpuk satu per satu, hancur tergilas kuku kuda. Gema kematian mengalir sangat panjang menyapu barisan.
“Apa yang sedang kalian lakukan, bajingan! Segera rapatkan celah kosong di barisan depan saat ini juga! Apakah kalian semua sudah bosan hidup, hah?!”
Mendengar teriakan gila penuh umpatan dari Salakat, jajaran kavaleri nomaden secara konstan terus memacu kuda mereka merapatkan celah barisan kosong yang terbentuk di barisan depan.
Pertempuran meletus sangat sengit di lapangan, namun karena kedua belah faksi sama-sama mengerahkan prajurit tempur elite, tidak ada faksi yang mampu menindas kekuatan faksi lawan secara sepihak.
Khususnya karena di sela-sela formasi pasukan ekspedisi kekaisaran ditempatkan divisi pemanah dalam jumlah yang melimpah, sangat sulit bagi kavaleri Salakat untuk memutar arah melarikan diri mencari celah lambung pertahanan musuh.
Dan tidak hanya sebatas kemunduran itu saja.
Di sela prajurit infanteri yang sesekali merangsek maju dari barisan belakang, eksis jajaran prajurit yang membawa senjata sabit panjang pemotong kaki kuda (`leg-severing hook`). Setiap kali sapuan bilah sabit panjang pemotong kaki tersebut meluncur deras menyapu permukaan tanah pasir, pergelangan kaki dari kuda kavaleri nomaden seketika terpotong tembus tanpa ampun. Penunggang kuda yang kudanya mendadak pincang jatuh terkapar ke tanah pasir, dan sesaat setelah jatuh, kepala mereka dipastikan akan langsung ikut menggelinding tertebas pedang musuh.
Sangat jelas terlihat bahwa komposisi penempatan barisan pasukan ekspedisi kekaisaran bentukan Lee Ja-song hari ini memang sengaja disusun bukan untuk mengeksekusi penyerangan benteng, melainkan murni dirancang untuk melumpuhkan kavaleri padang rumput.
Meski begitu, divisi sepuluh ribu kavaleri nomaden di bawah komando Salakat sama sekali tidak bisa dibilang lemah. Kualitas tempur mereka memang tidak berada di tingkat kelas yang sejajar dengan kebuasan Pasukan Serigala Abu-Abu, namun mereka tetap dideteksi sebagai jajaran pendekar veteran padang rumput utara yang reputasi tempurnya sangat terkenal.
Jajaran anak buah Salakat terbukti tidak terdorong mundur dan secara konstan terus meluncurkan tekanan tempur yang hebat ke arah pasukan Lee Ja-song. Di arah seberangnya, pasukan utama Timur Khan di dalam benteng dipastikan juga sedang meluncurkan pembantaian massal membantai jajaran prajurit kekaisaran secara membabi buta.
Jika ada sesosok master yang sedang menyaksikan jalannya bentrokan maut hari ini dari atas langit, ia dipastikan akan merumuskan kesimpulan bahwa faksi Timur Khan beserta Salakat berada di posisi yang jauh lebih diuntungkan. Setidaknya, hingga detik ini berjalan.
‘Benar. Selama kita secara konstan terus menekan pertahanan mereka seperti ini, kemenangan akhir dipastikan berada di tangan kita! Meskipun mereka unggul secara kuantitas, posisi mereka saat ini telah terkepung rapat dari dua arah! Selama kita mampu bertahan beberapa saat lagi, Jenderal Timur Khan dipastikan akan menyapu bersih mereka semua!’
Dan itulah kesalahan analisis keduanya.
“Bantai! Akh! Tolong!”
Berbagai macam gema teriakan kesakitan seketika mengacaukan garis pertahanan kedua belah faksi, mengekspos banyaknya nyawa prajurit yang melayang tewas secara konstan. Secara alami, ketebalan beserta panjang dari barisan depan pertempuran secara bertahap mulai menyusut dan memendek secara drastis.
Namun secara aneh, gema teriakan kesakitan justru terdeteksi ikut meletus dari lokasi di luar barisan depan pertempuran. Awalnya jalannya bentrokan maut seharusnya hanya meletus di area depan tempat berdiri Salakat saat itu, namun gema suaranya……
‘Apa? Dari arah barisan belakang?’
Salakat melemparkan sebilah belati terbangnya secara presisi menancap tembus di bagian dahi prajurit sabit pemotong kaki yang sedang mencoba membidik kaki kudanya, baru kemudian memutar kepalanya menatap ke arah belakang. Sesuatu yang sangat aneh dipastikan sedang meletus di belakang pasukannya. Kavaleri nomaden yang seharusnya memanfaatkan kelincahan berlari mereka untuk menghancurkan lambung infanteri kekaisaran saat itu justru terdeteksi terjebak menumpuk di barisan belakang perkemahan.
“Pergi ke barisan belakang sekarang juga dan cari tahu kekacauan apa sebenarnya yang sedang berlangsung di sana.”
“Siap laksanakan, Jenderal!”
Ia mengutus salah seorang perwira wakil komandannya yang sejak tadi bertarung di sampingnya untuk meluncur memantau kondisi di belakang. Karena kondisi perang saat itu telah bergeser menjadi duel jarak dekat dengan barisan pertempuran yang membentang sangat luas, menyelinap meluncurkan satu ekor kuda menuju ke barisan belakang bukan merupakan hal yang sulit untuk dieksekusi.
‘Mungkinkah kekacauan ini dipicu oleh objek terbang aneh tadi? Namun bagaimanapun juga situasi perang saat ini jelas memihak ke arah faksi kita.’
Dan itulah kesalahan analisis ketiganya.
Ia kembali mengayunkan bilah pedangnya deras membelah udara.
Apakah itu merupakan sesosok sinyal bertarung?
Secara mendadak, jajaran prajurit kekaisaran yang bertugas mempertahankan bagian tengah formasi tampak bergerak mundur teratur secara cepat. Salakat beserta jajaran komandan prajurit nomaden lainnya segera memacu kuda mereka mengejar pelarian tersebut dan merangsek masuk sangat dalam menerobos ke dalam pertahanan musuh. Mereka menganalisis tidak ada risiko kepungan kosong bagi faksi mereka, dan berpikir jika anomali terjadi, mereka hanya perlu menarik mundur pasukannya kembali ke luar.
Dan itulah kesalahan analisis keempatnya, sebuah kecerobohan fatal yang mengunci akhir nasib dari dua puluh ribu kavaleri nomaden miliknya hari ini.
“Bantai mereka!”
Tepat di saat Salakat beserta jajaran perwira komandannya telah merangsek masuk sangat dalam menembus ke dalam formasi pertahanan kekaisaran.
Secara mendadak, arah formasi pertahanan pasukan ekspedisi kekaisaran berputar balik.
Jajaran prajurit kekaisaran yang tadinya tertinggal lamban di barisan paling belakang dengan sangat cepat memisahkan diri memutar ke arah lambung kanan dan kiri, baru kemudian bergerak melingkar mengepung rapat barisan kavaleri Salakat secara bulat. Sejak awal, kuantitas pasukan di bawah komando Lee Ja-song memang memimpin sangat mutlak, sehingga selama kavaleri nomaden menolak menarik mundur pergerakannya, mereka dipastikan tidak akan mampu menghindari taktik jebakan kepungan melingkar menyerupai bantalan kasur tersebut. Begitu formasi kepungan terpasang rapat, struktur pertempuran satu lawan satu secara instan bergeser menjadi struktur bentrokan satu lawan dua maupun satu lawan tiga sekaligus, membentuk garis pertahanan melengkung menyerupai bulan sabit yang posisinya sangat diuntungkan bagi pasukan ekspedisi kekaisaran.
*Brak! Klang! Akh!*
Hanya dalam sekejap mata, seluruh barisan dari divisi sepuluh ribu kavaleri Salakat seketika menyusut kaku. Barulah pada detik itu Salakat mencoba menarik mundur pasukannya demi menata kembali garis pertahanan mereka, namun sisa waktu untuk mengendalikan mental prajurit nomaden yang telah terlanjur terpicu amarah bertarung sudah sangat terlambat untuk dieksekusi.
“Sialan! Kita telah masuk ke dalam jebakan perang mereka!”
Pada akhirnya, Salakat mencoba meluncurkan gerakan melarikan diri memotong celah belakang seorang diri, namun kondisi permukaan tanah padang rumput saat itu dilaporkan telah dipenuhi oleh tumpukan jasad mayat prajurit beserta bangkai kuda yang bergelimpangan hingga tidak menyisakan ruang kosong bagi pijakan kaki kudanya.
*Set!*
Ia melompat keluar dari atas pelana kudanya, menjejakkan kakinya keras di atas punggung kudanya baru kemudian melenting tinggi di udara melompati barikade kepungan melingkar menuju ke arah barisan belakang.
Secara alami, bidang pandang matanya yang tadinya terhalang oleh bisingnya pertempuran seketika terbuka sangat lebar di udara.
Barulah pada detik itu Salakat bisa menyaksikan dengan sangat jelas malapetaka apa sebenarnya yang sedang menimpa barisan belakang dari divisi kavaleri nomaden miliknya.
“……!”
Ada sesosok manusia di sana.
Sesosok pria yang bergerak menyapu bersih celah pertahanan pasukannya layaknya sambaran badai maut, dengan helaian rambut poninya yang panjang tampak berkibar menyapu wajahnya menyerupai bilah pedang tajam. Dan tepat di sampingnya, sesosok serigala raksasa yang visualnya sangat mirip dengan Kaiji tampak bergerak lincah menemaninya.
Tidak ada satu pun prajurit nomaden miliknya yang memiliki kemampuan fisik untuk menahan laju tebasan pedang pemuda itu. Perwira komandan yang diutus oleh Salakat beberapa menit lalu dideteksi telah resmi tewas menggelinding menjadi jasad mayat sejak lama. Terlebih lagi, pemuda tersebut secara sengaja memusatkan target tebasan pedangnya hanya menyasar leher jajaran perwira komandan militer saja.
*Tap.*
Salakat mendaratkan kakinya di area barisan belakang medan pertempuran. Kini, meskipun ia murni hanya berdiri diam di tempat sekalipun, ia bisa merasakan dengan sangat jelas riak hawa maut yang dilepaskan oleh pemuda itu. Di tengah-tengah neraka pertempuran di mana semburan darah merah segar menyembur deras layaknya deburan ombak menyapu tanah pasir, pemuda itu sedang berdiri tegak bersiap.
*Brak!*
Tepat di titik area di mana divisi kavaleri nomadennya sedang berjuang setengah mati mencari celah pelarian, jasad-jasad mayat prajurit kavaleri terdeteksi secara konstan terus beterbangan ke udara.
“Apakah faksi yang terkepung sejak awal…… sebenarnya adalah faksi kita?”
Murni mengandalkan kekuatan fisik dari satu orang pemuda saja, seluruh barisan belakang dari divisi dua puluh ribu kavaleri nomaden miliknya seketika diseret ke dalam kekacauan total. Pemuda itu memang tampak menderita beberapa luka sayatan di sekujur tubuh jubahnya, namun kondisi fisiknya sama sekali tidak memperlihatkan hawa dari sesosok manusia yang akan segera tewas.
“Aku telah salah merumuskan analisis taktis sejak awal……”
Ia akhirnya menyadari detail kemunduran perang yang sedang menimpa pasukannya saat ini, namun sisa waktu penyesalan di dalam kepalanya sudah terlanjur terlambat.
Memang benar bahwa kuantitas musuh misterius di belakangnya hanya berjumlah satu orang saja, namun kekuatan fisik satu orang tersebut terbukti sudah lebih dari cukup untuk memutus total jalur pelarian dari dua puluh ribu pasukan kavaleri nomaden miliknya. Faksi yang berada dalam kondisi terkepung saat ini bukanlah faksi kekaisaran, melainkan faksi miliknya sendiri. Peta pertempuran hari ini dengan sangat cepat telah berbalik menguntungkan faksi kekaisaran. Kini posisi pasukannya sudah terlanjur merangsek masuk terlampau dalam ke dalam formasi musuh hingga menyulitkan mereka untuk melarikan diri. Pasukan kekaisaran secara bertahap terus memperlebar diameter kepungan melingkar memanfaatkan keunggulan kuantitas prajurit mereka.
Jika ia hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri saja, ia dipastikan akan mampu meloloskan diri menggunakan teknik meringankan tubuhnya. Namun keuntungan taktis apa yang bisa ia dapatkan dengan melarikan diri seorang diri meninggalkan pasukannya?
*Ting—!*
Salakat menarik keluar sepasang bilah kembar miliknya yang tersilang membentuk huruf 十 di bagian belakang punggungnya. Karena peta pertempuran hari ini memang sudah terlanjur berakhir pada kekalahan mutlak pasukannya, ia setidaknya berkomitmen untuk melenyapkan nyawa musuh yang paling membahayakan keselamatannya sebelum dirinya tewas menggelinding di padang rumput. Bukankah tindakan tempur tersebut setidaknya bisa dijadikan sebagai bentuk pelunasan utang budi kesetiaannya terhadap sosok Timur Khan?
Ia meluncur berlari kencang menuju ke arah pusaran badai pertumpahan darah di kejauhan. Kerapatan posisi prajurit kavaleri yang bertempur menyulitkan langkah larinya, sehingga di saat kondisi mendesak, ia bahkan tega menebas leher dari prajurit bawahannya sendiri tanpa ampun demi membuka jalan baginya.
“Maju kau! Tunjukkan wajahmu di depanku, bajingan!”
Sosok Dong Bong-su saat itu dilaporkan telah basah kuyup berlumuran darah merah pekat hingga menyulitkan orang lain untuk mengenali visual penampilan aslinya sejak awal.
Jajaran kavaleri nomaden di sekelilingnya saat itu bahkan sudah mulai menunjukkan keraguan mental untuk berani menggeser langkah kaki mendekati wujud monsternya.
*Klang.*
Salakat melangkah kaki mendekati tempat berdiri Dong Bong-su baru kemudian membenturkan sepasang bilah kembar di tangannya keras untuk memancing fokus pemuda itu.
*Sret.*
Dong Bong-su melenyapkan nyawa satu orang prajurit nomaden lagi di depannya.
Baru kemudian ia memutar tali kekang serigala Kaiji dan melayangkan pandangan matanya menatap ke arah wajah Salakat. Menyelaraskan wujud fisik jubah Dong Bong-su yang basah kuyup oleh darah, lapisan bulu perak indah milik Kaiji saat itu juga telah resmi berubah menjadi merah pekat berlumuran darah segar musuh.
*Sret—.*
Salakat mempertemukan permukaan dari sepasang bilah kembar di tangannya, menggesekkan permukaan tajam bilahnya kencang baru kemudian menurunkan sudut bilahnya bersiap di bawah sepasang lutut kakinya. Itu merupakan jurus kuda-kuda tempur berkuda khas miliknya.
Dong Bong-su juga tampak mengangkat bilah pedang *Wanderer's Sword* miliknya secara perlahan bersiap lurus di hadapan wajahnya. Baru kemudian setelah menatap wajah Salakat beberapa saat lagi, ia melompat turun dari atas punggung serigala Kaiji.
“Terlampau sayang jika aku terpaksa harus mengonsumsi kepingan mangsa seindah dirimu dalam kondisi kapasitas tenaga fisik yang hanya tersisa enam puluh persen saja saat ini.”
Selesai menyuarakan kalimat gumaman tersebut, ia secara instan memicu keaktifan keahlian gerakan sistemnya meluncur deras menyerang ke arah posisi Salakat saat itu juga.
***
*Brak.*
Ia sudah tidak mengetahui lagi berapa ribu nyawa prajurit bawahannya yang telah resmi melayang tewas menjadi jasad di padang rumput hari ini. Satu nyawa melayang tewas, disusul oleh kematian nyawa berikutnya dalam sekejap……
Sama sekali tidak ada ujung akhirnya.
Bahkan gema bisingnya pertempuran dari arah belakang benteng, lokasi di mana Salakat seharusnya sedang meluncurkan penyerangan kavaleri, terdeteksi secara bertahap mulai mereda lamban. Detail meredanya suara tersebut sama sekali bukan dipicu karena pasukannya berhasil memenangkan pertempuran. Jika pasukannya berhasil keluar sebagai pemenang, ia dipastikan akan melihat laju pelarian prajurit kekaisaran mundur ke arah tersebut. Namun kenyataannya jajaran prajurit pasukan ekspedisi kekaisaran justru terdeteksi bergerak merapat mengepung Benteng Guisui semakin ketat.
Sepertinya sisa pasukan kavaleri terakhir yang ia pimpin meluncur ke luar gerbang benteng tadi saat ini kuantitasnya telah merosot tajam hingga hanya menyisakan beberapa ribu orang prajurit saja.
‘Apakah faksi kita telah resmi kalah?’
Ia tidak pernah sekali pun menaruh pemikiran bahwa pertahanan bentengnya akan berakhir pada kekalahan mutlak seperti ini sepanjang hidupnya, namun…… Timur Khan terpaksa harus berlapang dada menerima kenyataan pahit tersebut di kepalanya saat ini.
Mereka telah kalah. Rencana perang mereka telah gagal total.
Ini merupakan kekalahan mutlak bagi dirinya.
Di dalam keheningan batinnya yang sangat singkat, kosakata “melarikan diri” beserta kalimat “menyusun kembali kekuatan di masa depan” sempat meluncur melintasi sel otaknya.
Namun ia segera menghapus paksa rangkaian rencana pemikiran tersebut dari kepalanya.
Tidak ada lagi wilayah padang rumput yang aman bagi jalur penyelamatan dirinya saat ini, tidak ada lagi sisa prajurit tempur yang bisa dikumpulkan kembali, dan tidak ada lagi perwira komandan militer yang tersisa hidup di sampingnya. Mamorota telah dipastikan tewas, dan Salakat kemungkinan besar juga telah resmi menyusul tewas saat ini. Seluruh perwira komandan tangguh lainnya saat ini sedang bersiap di bawah benteng, bertumpah darah demi bisa bertahan hidup di pertempuran. Tidak dibutuhkan durasi waktu yang lama bagi tubuh mereka semua untuk berakhir menyatu dengan tanah pasir padang rumput.
Timur Khan telah melangkah kembali memasuki Benteng Guisui dan memilih berdiri tegak di atas tembok benteng, tepat di saat persentase kemenangan perang secara mutlak mulai bergeser memihak faksi kekaisaran.
Embusan angin perbatasan yang sangat tajam berembus kencang menusuk sepasang mata heterokromia miliknya, namun ia memilih tidak memicingkan matanya seperti biasa. Ia tidak mampu melakukannya.
Ia melayangkan pandangan matanya menatap ke bawah ke arah medan pertempuran maut selama beberapa saat lagi, baru kemudian memutar kepalanya menatap ke arah bagian dalam benteng. Itu bukan merupakan sebuah arena perang yang megah, namun tempat tersebut merupakan tanah kedaulatan miliknya. Benteng Guisui. Sebuah benteng pertahanan kokoh yang telah sukses melindungi eksistensi masyarakat Padang Rumput Utara selama puluhan tahun lamanya.
‘Perjalanan hidupku dipastikan akan berakhir di tempat ini juga.’
Kemungkinan besar karena seluruh penduduk pria usia lima belas hingga enam puluh tahun telah dimobilisasi penuh menyusul perang di luar gerbang benteng tadi, kondisi bagian dalam benteng saat itu terdeteksi sangatlah sepi dan sunyi. Hanya menyisakan suara lenguhan dari kawanan sapi, babi, beserta domba peliharaan tanpa majikan yang berkeliaran mencari makan di sepanjang jalan benteng. Sisa penduduk wanita beserta anak-anak dipastikan sedang bersembunyi menahan napas di dalam rumah mereka masing-masing—tidak ada satu pun aktivitas manusia yang tertangkap oleh matanya.
Ia menggigit bibir bawahnya kencang, baru kemudian mendongakkan kepalanya menatap lurus ke arah langit udara. Embusan angin perbatasan masih terus berembus kencang menusuk wajah beserta bagian belakang punggungnya. Meski begitu, ia tetap memilih berdiri terdiam dengan sepasang tangannya tersilang kokoh di balik punggungnya.
Kondisi langit di atasnya terdeteksi sangat bersih, dengan hamparan awan putih tebal yang terlihat sangat lembut menyerupai visual kawanan domba peliharaannya di jalan bawah.
“Apakah hari ini merupakan sesosok hari yang baik?”
Untuk mati……
Berapa lama durasi waktu penantian tersebut berlalu? Garis pertahanan pasukan kekaisaran dilaporkan telah merangsek naik mencapai area pintu gerbang utama Benteng Guisui saat itu.
*Wusss—.*
Disertai gema embusan angin perbatasan yang bertiup sangat kencang, dari arah kejauhan, sesosok perpaduan manusia-serigala (`人狼`) meluncur terbang dengan sangat luar biasa cepat mengincar langsung area atas tembok benteng tempat ia berdiri. Timur Khan memilih tidak menolehkan pandangan matanya, namun indera batinnya menyadari kedatangan tersebut. Meski begitu, ia memilih tetap menatap ke arah langit atas tanpa memutar kepalanya ke arah datangnya musuh.
*Tap.*
Serigala raksasa tersebut mendaratkan sepasang cakarnya dengan sangat mulus di atas tembok benteng tanpa menemui hambatan pertahanan sedikit pun. Jarak pendaratannya terpisah sekitar sepuluh zhang dari tempat berdiri Timur Khan saat itu.
“Kau akhirnya tiba juga?”
Ucap Timur Khan tanpa menurunkan arah tatapan matanya dari langit atas, seolah-olah ia memang telah menanti kedatangan pemuda tersebut semenjak lama. Bergantung dari sudut pendengaran orang yang mendengarnya, intonasi kalimatnya barusan terdengar sangat ramah menyerupai sapaan hangat untuk seorang sahabat lama.
Dong Bong-su menunggangi punggung serigala Kaiji dan bergerak melangkah mendekati posisinya dari arah belakang.


