Murim Psychopath

Chapter 93

2997 Kata

**Bab 93. Dong Gwang-cheon**

***

Setelah menempuh perjalanan menyusuri arus sedikit lebih jauh, area lembah ngarai Sanmenxia akhirnya berakhir dibelah, ditandai oleh kemunculan sebuah dermaga pelabuhan feri yang ukurannya tergolong cukup besar yang menempel rapat di sela-sela pemukiman desa nelayan.

Meskipun wilayah desa tersebut dideteksi kurang ideal untuk dijadikan pemukiman warga sipil biasa akibat terjalnya kontur tanah, namun berkat keunggulan geografisnya sebagai jalur utama transit kapal pengangkut biji-bijian kekaisaran, kondisi desanya terlihat sangat ramai dan sibuk.

Memang benar tingkat keramaiannya tidak akan mampu dibandingkan dengan megahnya kota-kota besar Dataran Tengah, namun fasilitas desanya sudah dideteksi lebih dari cukup untuk menghibur letihan fisik beserta kejenuhan batin dari para pelaut serta pelancong penyeberangan sungai.

Kini, selama mereka sukses berganti menaiki kapal feri berukuran besar di tempat ini dan meluncur lurus menuju ke kota Zhengzhou, sisa perjalanan panjang mereka dipastikan akan resmi diselesaikan seutuhnya.

Eulji Tae menyerahkan kepingan koin logam ongkos sewa feri kepada sang pemilik perahu baru kemudian melangkah kaki memimpin jalan memasuki wilayah pemukiman desa. Pemuda berambut panjang terurai di belakangnya tampak melangkah kaki mengikuti tepat di sepanjang jalur pergerakannya.

Kondisi desa penyeberangan tersebut pada hari-hari biasa sekalipun dideteksi bukan merupakan tempat yang sepi. Namun saat ini, dibandingkan dengan kondisi kunjungan sebelumnya, tingkat kepadatan manusianya terdeteksi berkali-kali lipat jauh lebih padat dan penuh sesak.

Menyaksikan sebagian besar manusia yang berkeliaran di jalanan desa tampak mengenakan pakaian jubah bela diri (`martial robes`) lengkap dengan persenjataan pedang di pinggang mereka, ia merumuskan kesimpulan bahwa sebagian besar pelancong yang baru tiba di tempat ini merupakan golongan pendekar dunia persilatan. Dan didominasi oleh golongan pendekar usia muda.

Eulji Tae mengetahui dengan sangat baik detail alasan medis mengapa begitu banyaknya jajaran pendekar muda dunia persilatan secara mendadak berhimpun memenuhi desa ini saat ini.

‘Mereka adalah para peserta seleksi turnamen.’

Gumamnya dengan nada suara yang sangat rendah baru kemudian melangkah kaki melewati kerumunan pendekar muda tersebut menuju ke arah penginapan terdekat yang bersiap di jalan depan. Pemuda di belakangnya tampak terus mengikuti laju kakinya secara patuh.

“Selamat datang di penginapan kami! Apakah rombongan Anda hanya terdiri dari dua orang saja saat ini?”

Sesosok pelayan penginapan yang visual wajahnya masih menyisakan karakteristik kekanak-kanakan menyambut kedatangan mereka berdua dengan teriakan suara yang sangat lantang. Tepat di bagian belakang punggungnya, sebuah plang papan nama berukuran besar dengan baris huruf bertuliskan `[Qingqing Pavilion]` (Paviliun Qingqing) ikut terpampang mentereng menarik perhatian batin pengunjung.

Eulji Tae memilih tidak menyuarakan kalimat tambahan dan segera melangkahkan kakinya memasuki bagian dalam penginapan.

Kondisi di dalam ruangan lantai satu penginapan dilaporkan telah dipenuhi oleh bisingnya pengunjung. Karena kapasitas meja di lantai satu dideteksi telah terisi penuh tanpa menyisakan ruang kosong, pelayan penginapan memandu langkah kaki mereka berdua menaiki tangga menuju ke ruangan lantai dua.

Di area lantai dua, masih menyisakan banyak kepingan meja kosong yang layak untuk ditempati oleh dua orang pengunjung.

Titik area meja yang dipilih oleh pelayan penginapan untuk menempatkan mereka berada tepat di sela jendela luar penginapan. Meskipun visual di luar jendela menyajikan kebisingan jalanan desa yang sangat sibuk, namun Eulji Tae dideteksi bukan merupakan jenis pendekar yang akan terusik oleh riak kebisingan ringan seperti itu. Berdasarkan analisanya, pemuda di hadapannya juga tampak menaruh reaksi ketenangan batin yang sejajar. Meskipun ia tidak bisa memastikan kebenaran dugaannya tersebut.

Eulji Tae murni hanya memesan hidangan Babi Panggang Lima Bumbu (`Five-Spice Braised Pork`) kepada pelayan.

“Bawa porsi hidangan yang sama satu lagi untukku.”

Ucap pemuda di hadapannya datar menggunakan nada suara yang sepenuhnya rata tanpa emosi. Itu merupakan gema suara dari mulut pemuda tersebut yang baru pertama kali ia dengar kembali setelah menempuh perjalanan hening selama seminggu terakhir.

Apakah karena ia baru saja mendengar suara dari seorang pemuda yang biasanya selalu memilih bungkam tanpa menyuarakan satu kosakata pun bahkan di saat mereka singgah di beberapa penginapan kemarin? Eulji Tae melepaskan suara tawa kecilnya perlahan karena geli. Nilai ketertarikan apa sebenarnya yang tersimpan di balik watak pemuda ini hingga mampu memicu letupan tawa dari mulut sang master *Byeonggwae* kemarin? Mungkin karena watak pendiamnya yang tergolong ekstrem. Analisis dugaan yang tidak penting tersebut secara mendadak melintas memenuhi kepalanya.

‘Mengingat kembali kejadian kemarin, pemuda ini ternyata mampu memicu letupan tawa dari mulutku juga setelah sebelumnya sukses memicu tawa dari mulut master Byeonggwae.’

Di beberapa aspek, pemuda di depannya dideteksi sebagai sosok manusia yang nominal senyumannya jauh lebih minim jika dibandingkan dengan keheningan master Byeonggwae. Sejak awal, ia memang dideteksi sangat malas untuk bersuara, sehingga sangat wajar jika watak batinnya terbentuk seperti itu. Namun tidak peduli apa pun alasannya, pemuda tersebut terbukti telah sukses memicu tawa di bibirnya hari ini.

Ia menganalisis pemuda ini merupakan objek yang sangat menarik.

Tepat di saat sesosok senyuman tipis yang tergolong sangat langka mulai mengembang di sela sudut bibir Eulji Tae—

“Dong Gwang-cheon.”

Gema suara datar dari mulut pemuda di hadapannya seketika tertangkap oleh lubang telinga Eulji Tae, tepat di saat ia bersiap memutar arah pandangan matanya menatap keluar jendela untuk menyembunyikan senyuman canggungnya baru saja.

“……?”

“Itu merupakan nama pendaftaranku. Aku menganalisis bahwa kau sejak tadi sedang dilingkupi oleh rasa penasaran untuk mengetahuinya.”

Akhirnya, ia berhasil mengamankan nama asli dari identitas pemuda misterius di hadapannya.

Di saat ia menyuarakan kalimatnya tadi, garis rahang wajah pemuda tersebut yang tergolong ramping dan sangat halus sesekali terekspos menyembur dari balik celah rambut poninya. Ia secara visual diakui menyandang wujud fisik sebagai seorang pemuda yang sangat tampan. Namun alasan apa sebenarnya yang memicu logikanya untuk sengaja membiarkan helaian rambut poninya tumbuh terurai panjang menutupi visual wajahnya seperti itu?

Begitu nama pendaftaran pemuda tersebut telah resmi ia kantongi, rangkaian pertanyaan baru lainnya secara otomatis mulai merayap memenuhi rasa penasaran batinnya. Pendekar di depannya secara alami dideteksi sebagai jenis objek yang secara konstan terus memicu lahirnya rangkaian pertanyaan di kepala orang lain. Watak yang sangat menjengkelkan bagi logikanya, namun di saat yang sama dirasa sangat menarik.

“Eulji Tae.”

Sebut Eulji Tae.

“………”

“Itu adalah nama pendaftaranku.”

Meskipun durasi untuk saling memperkenalkan nama di antara mereka saat ini—setelah menempuh perjalanan bersama selama seminggu penuh—diduga akan memicu nuansa canggung yang pekat, namun kecemasan tersebut terbukti sama sekali tidak meletus di antara mereka berdua. Proses pengenalan nama yang sangat terlambat tersebut berakhir diselesaikan dengan sangat hening seolah-olah kejadian tersebut merupakan perkara yang paling wajar untuk terjadi di dunia.

Begitu proses perkenalan nama selesai dieksekusi, kedua orang pendekar tersebut kembali terdiam sembari sepasang mata mereka menatap tenang menikmati visual pemandangan jalanan di luar jendela.

Jajaran pendekar muda dunia persilatan yang melintas hilir mudik di jalanan bawah didominasi oleh golongan pendekar asal sekte-sekte kecil tanpa nama yang reputasinya tidak pernah terdengar di dunia persilatan. Namun di sela-sela kerumunan tersebut sesekali juga tampak melintas jajaran murid asal sekte besar seperti Sekte Huashan (Mount Hua), Sekte Kunlin (Kunlun), maupun Sekte Kongtong. Mereka kemungkinan besar merupakan jajaran murid asuhan langsung dari Sembilan Sekte Besar (`Nine Great Sects`) dipadu dengan anak keturunan dari Lima Keluarga Besar (`Five Great Families`) yang secara kolektif sengaja dimobilisasi penuh untuk ikut bersaing di turnamen tarung aliansi kali ini.

Meskipun begitu, Eulji Tae sama sekali tidak menaruh ketertarikan batin untuk memantau pergerakan mereka. Bagaimanapun juga, begitu ia melangkah kaki kembali ke markas Aliansi Beladiri kelak, ia dipastikan akan disuguhi oleh pemandangan kawanan pendekar muda tersebut dalam kuantitas yang melimpah setiap harinya.

Namun reaksi Dong Gwang-cheon terdeteksi berbeda. Ia secara sangat teliti terus memantau pergerakan dari masing-masing pendekar muda yang melintas di bawah jendela dengan sorot mata penuh ketertarikan. Kemungkinan besar karena didorong oleh rasa penasaran batinnya menyangkut kualitas bela diri dari jajaran pendekar yang usianya sejajar dengan usianya.

Selesai menanti beberapa saat di meja mereka, sepiring hidangan babi panggang lima bumbu akhirnya tiba disajikan di atas meja—sebuah hidangan potongan daging babi yang dimasak matang menggunakan kuah kecap pekat ditopang oleh aroma rempah wangi adas manis beserta kayu manis. Aroma harum yang menguap dari hidangannya sangatlah memikat selera makan, menandakan koki dapur penginapan ini dibekali oleh tingkat keahlian memasak yang sangat mumpuni.

Cairan ludah secara alami mulai berkumpul di balik lidahnya. Tepat di saat telapak tangan Eulji Tae telah bergerak memungut sumpit kayu terlebih dahulu dan bersiap mengambil potongan daging babi panggang di piring, Dong Gwang-cheon terdeteksi masih terus melayangkan fokus pandangan matanya menatap ke arah luar jendela.

“Apakah bersiap sebuah objek pertunjukan yang menarik di luar sana saat ini? Segera ambil sumpitmu dan makanlah hidanganmu. Semakin cepat kita menyelesaikan santap makan kita saat ini, bukankah perjalanan kita menuju ke kota Zhengzhou dipastikan akan bisa diselesaikan jauh lebih cepat nanti?”

Kemungkinan besar karena sekat kecanggungan di antara mereka telah resmi pecah baru saja, ia saat ini sudah mampu menyuarakan kalimat tanya dengan intonasi yang terasa jauh lebih santai dan nyaman.

Namun tepat di saat kalimat tanya tersebut menyembur keluar dari mulut Eulji Tae, seolah-olah kalimatnya secara instan dikonversi menjadi kenyataan di lapangan, sesosok “objek hiburan pertarungan” secara fisik mendadak menampakkan dirinya meletus di sela-sela jalan luar jendela.

*Brak—!*

Konstruksi dinding kayu di ruangan lantai satu penginapan seketika hancur jebol berkeping-keping, disusul oleh melesat jatuhnya sesosok tubuh manusia meluncur bebas ke arah tengah jalanan desa dengan akselerasi kecepatan yang sangat luar biasa cepat menyerupai sambaran petir. Beberapa kepingan meja makan yang hancur dipadu serpihan dahan tanaman hias tampak ikut berhamburan mengotori jalanan luar penginapan menyertai jatuhnya tubuh tersebut. Objek yang terpental tersebut dideteksi sebagai seorang manusia.

‘Apakah telah meletus bentrokan duel fisik di bawah?’

Hanya dihuni oleh kawanan pendekar muda berdarah panas yang berhimpun di satu lokasi yang sama, memicu letup bentrokan fisik memang diakui merupakan variabel pertikaian yang sepenuhnya mustahil untuk bisa dihindari. Terlebih lagi musuh yang berhimpun saat ini merupakan jajaran pendekar muda dunia persilatan yang ambisi bertarungnya sangat kompetitif, sehingga detail bentrokan ini bahkan sudah tidak membutuhkan kalimat tanya tambahan untuk mendefinisikan penyebabnya.

Sosok pemuda yang baru saja terpental keras menjebol dinding kayu Paviliun Qingqing tersebut merupakan seorang murid asuhan Sekte Kunlun berusia dua puluhan yang visual wajahnya tergolong sangat tampan, mengenakan pakaian jubah bela diri berwarna putih bersih. Desain rajutan hiasan berbentuk awan putih yang terpasang di sela bahu jubahnya merupakan bukti mutlak yang mengunci identitas asal sektenya.

*Set!*

Meskipun benturan fisik yang ia terima saat menjebol dinding kayu tadi tergolong sangat keras hingga mampu menghancurkan kayu tebal, pemuda tersebut secara luar biasa lincah mampu memutar posisi tubuhnya di udara dan mendaratkan kedua belah telapak kakinya secara tegak di atas tanah pasir jalanan. Kualitas keringanan tubuhnya diakui sangat mengagumkan.

“Pemuda tersebut merupakan pendekar yang menyandang julukan *Kunlun White Dragon* (Naga Putih Kunlun).”

Eulji Tae berhasil mendeteksi identitas asli pemuda tersebut hanya dalam sekali sapuan mata saja.

Naga Putih Kunlun, sang pemilik jurus *Hundred-Shattering Sword* (Pedang Penghancur Ratusan), bernama **Woo Sim-gi**.

Ia diakui menyandang status sebagai salah satu dari jajaran pendekar muda bergelar **Tiga Bintang, Lima Phoenix, dan Sembilan Naga** (`Three Stars, Five Phoenixes, and Nine Dragons`)—sebuah baris gelar kehormatan yang diciptakan oleh mulut-mulut usil penggosip dunia persilatan yang sangat gemar merumuskan urutan peringkat kekuatan pendekar. Gelar Tiga Bintang, Lima Phoenix, dan Sembilan Naga tersebut merujuk pada tujuh belas orang pendekar muda berbakat yang reputasi tempurnya paling mentereng di sepanjang dunia persilatan saat ini.

Namun Eulji Tae dideteksi bukan merupakan jenis pendekar yang akan menaruh kepercayaan penuh terhadap kebenaran dari urutan peringkat kosong seperti itu. Dirinya sendiri bahkan tidak merasa bangga sedikit pun meskipun namanya secara resmi dimasukkan ke dalam daftar kehormatan **Dua Puluh Master Agung di Bawah Langit** (`Twenty Great Masters Under Heaven`). Di luar eksistensi faksi *Dua Dewa dan Tiga Eksentrik* yang kehebatannya mustahil untuk disangkal, daftar peringkat *Lima Tetua dan Sepuluh Master Besar* di bawahnya diakui terlampau berlebihan. Kenyataannya masih eksis banyak sekali pendekar tangguh lainnya di sepanjang dunia persilatan yang tingkat kekuatannya berada jauh di atas tingkat kekuatan master yang bersiap di daftar tersebut.

Dunia persilatan Dataran Tengah secara esensial sangatlah luas tanpa batas, sebuah rimba belantara yang secara konstan selalu menyembunyikan keberadaan master tangguh di sela sudut-sudut wilayah terpencilnya. Secara alami, kuantitas pendekar luar biasa yang tingkat kekuatan aslinya sangat sulit untuk diukur secara rasional dideteksi melimpah. Namun golongan penggosip dunia persilatan dengan sangat ringannya merumuskan urutan peringkat. Bahkan di sela-sela jajaran tetua asuhan masing-masing sekte besar sekalipun, minimal bersiap satu atau dua orang master yang tingkat kekuatannya setara dengan kekuatan jajaran sepuluh master di daftar tersebut.

Dan tidak hanya sebatas kemunduran analisis itu saja.

Daftar urutan peringkat kekuatan tersebut sebagian besar didominasi oleh penempatan nama-nama pendekar asal faksi jalan lurus (ortodoks) saja, sehingga parameter penilaiannya dinilai sama sekali tidak mewakili peta kekuatan dunia persilatan seutuhnya secara adil.

Nilai perbedaan apa sebenarnya yang membatasi antara faksi ortodoks maupun faksi iblis menyangkut tingkatan pencapaian bela diri seseorang?

Kecuali bagi beberapa orang master puncak seperti Penguasa Kastil Iblis Surgawi yang kualitas bela dirinya memang mustahil untuk disangkal oleh siapa pun, hampir seluruh slot daftar Dua Puluh Master Agung di Bawah Langit dipadati oleh penempatan nama jajaran master asal faksi ortodoks sejati. Serta daftar Tiga Bintang, Lima Phoenix, dan Sembilan Naga seutuhnya diisi oleh anak keturunan asuhan faksi ortodoks semata.

‘Kemungkinan besar, dalam kurun waktu tidak lama lagi, seluruh parameter peringkat kosong tersebut dipastikan akan dijungkirbalikkan seutuhnya.’

Eulji Tae merumuskan keyakinan batin tersebut secara mutlak di kepalanya. Sepanjang beberapa dekade terakhir, perkembangan dunia persilatan diakui mengalami stagnasi karena mereka terbiasa hidup tenang tanpa ada bentrokan skala besar melawan faksi Kastil Iblis Surgawi, Aula Pengumpul Kejahatan, maupun faksi hitam lainnya, sehingga banyak sekali master asal faksi iblis maupun faksi tidak ortodoks yang kualitas kekuatannya tidak pernah terdengar di sepanjang wilayah Dataran Tengah.

Namun, ditopang oleh letusan peperangan maut di perbatasan utara sepanjang tahun terakhir, eksistensi master asal faksi iblis secara perlahan mulai menampakkan dirinya di hadapan faksi ortodoks. Kemungkinan besar dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan, sebagian besar nama yang tertera di sepanjang daftar Dua Puluh Master Agung di Bawah Langit dipastikan akan digantikan oleh nama baru lainnya.

Tentu saja hal serupa juga dipastikan akan melanda kelangsungan daftar Tiga Bintang, Lima Phoenix, dan Sembilan Naga.

Terlepas dari suka atau tidak sukanya Eulji Tae menyikapi detail peringkat tersebut, Woo Sim-gi secara faktual saat ini menyandang status sebagai salah satu bagian dari daftar tersebut. Ditopang oleh statusnya tersebut, kualitas beladiri yang ia miliki di sela-sela jajaran pendekar generasi muda faksi ortodoks diakui berada di level yang sangat mentereng.

Namun seorang pendekar muda berlevel mentereng seperti dirinya saat ini justru baru saja terpental menjebol dinding penginapan akibat serangan musuh?

‘Apakah sosok lawan yang mementalkan dirinya saat ini juga merupakan salah satu bagian dari pendekar muda bergelar Tiga Bintang, Lima Phoenix, dan Sembilan Naga lainnya?’

Eulji Tae merumuskan analisis dugaan tersebut di kepalanya. Meskipun desas-desus penggosip jalanan dideteksi kurang mumpuni untuk dijadikan acuan, namun setidaknya untuk wilayah kota ini yang secara geografis bertindak sebagai halaman depan markas Aliansi Beladiri, detail informasinya dinilai cukup layak untuk dipercayai. Sangat tidak masuk akal jika seorang pendekar muda asal faksi hitam maupun faksi iblis secara mendadak menampakkan dirinya di tempat ini dan langsung mementalkan salah satu dari Sembilan Naga jalan lurus di pertempuran.

Sembari ia memicu keaktifan indera penglihatannya sedikit lebih tajam guna menyongsong kemunculan sosok penyerang misterius tersebut, sesosok pemuda yang mengenakan pakaian jubah bela diri berwarna biru pudar tampak melangkah keluar perlahan menembus celah runtuhan dinding kayu penginapan.

*Tap, tap.*

Langkah kakinya dideteksi bergerak sangat tenang dan sangat santai, menyerupai ketenangan langkah dari seorang master paruh baya veteran yang berpengalaman. Irama pergerakan, atau apakah istilah itu yang paling tepat? Ada sesosok pola pengaturan napas yang sangat unik yang menyertai setiap jengkal pergeseran langkah kakinya, dengan telapak tangan kirinya tampak memosisikan diri menggenggam gagang pedang di pinggangnya secara alami.

Mengingat target penyerangnya adalah seorang laki-laki, ia secara otomatis dicoret dari daftar Lima Phoenix……

Apakah ia menyandang status sebagai bagian dari Tiga Bintang atau Sembilan Naga? Ia sempat menganalisis pemuda tersebut merupakan salah satu dari sisa sepuluh orang di daftar yang belum ia temui—diluar Bintang Bilah Do Heo-ok yang dilaporkan telah tewas di masa lalu serta Woo Sim-gi yang sedang berdiri bersiap di tanah pasir bawah—namun dugaannya kembali meleset sepenuhnya.

Eulji Tae memang belum pernah bertemu secara langsung dengan seluruh personel yang terdaftar di sela Tiga Bintang, Lima Phoenix, dan Sembilan Naga, namun ia telah selesai menghafal seluruh visual ciri fisik mereka dengan sangat matang di luar kepala.

Sesosok tinggi tubuh kekar yang dideteksi melampaui ukuran delapan cheok. Helaian rambut panjangnya yang lebat dibiarkan tumbuh liar berkibar tanpa dicukur, hanya diikat seadanya ke bagian belakang kepala. Beberapa helai rambut tampak mencuat acak berkibar tersapu embusan angin perbatasan. Sesosok jubah bela diri lusuh yang material kain penyusunnya kemungkinan besar awalnya berwarna biru pekat namun saat ini telah merosot pudar berubah warna menjadi biru muda pucat akibat luntur, lengkap dengan tambalan kain serta serat benang yang koyak di beberapa sudut jubahnya. Sesosok janggut tebal yang tidak dicukur tampak menyelimuti seluruh permukaan garis dagu dan rahang bawahnya.

Meskipun berpenampilan sangat berantakan menyerupai gelandangan, wujud wajahnya terbukti sama sekali tidak memaparkan hawa penuaan fisik. Sepasang matanya memancarkan binar kehidupan yang sangat tajam dan berkilau—sepasang mata sehat khas milik pemuda usia muda.

Sama sekali tidak ada satu pun nama di sela Tiga Bintang maupun Sembilan Naga yang visual penampilannya berantakan seperti pemuda ini. Mustahil bagi anak keturunan sekte besar maupun keluarga bangsawan persilatan untuk membiarkan fisik mereka berkeliaran di luar wilayah kekuasaan mereka menggunakan pakaian compang-camping seperti ini.

Meskipun demikian.

Bertolak belakang dengan penampilan fisiknya yang berantakan menyerupai kain lusuh, sesosok bilah pedang panjang yang digenggam di tangan kirinya memancarkan wibawa keagungan yang sangat kuno dan sangat karismatik. Panjang bilah pedangnya ditaksir berkisar sekitar tiga cheok delapan chon, dengan lebar diameter bilah setebal bentangan tiga jari tangan orang dewasa. Konstruksinya dideteksi telah berusia sangat tua, namun ia secara faktual merupakan sebilah pedang asli yang memancarkan pesona ketajaman yang sangat mentereng. Tidak ada ukiran pola artistik maupun permata berharga yang tertanam di sepanjang permukaan sarung maupun gagang pedangnya, namun riak pendaran cahaya biru tipis yang shimmer menyelimuti bilahnya memancarkan hawa misterius yang pekat. Selama lapisan debu putih tipis yang menempel di permukaannya dibersihkan kelak, bilah pedang ini dipastikan akan mengekspos pesona pedang legendaris yang memiliki kilau ketajaman murni.

“Pedang tersebut adalah……?”

Eulji Tae berhasil mengenali identitas pedang panjang tersebut. Meskipun ini merupakan kali pertamanya melihat wujud fisik pedang tersebut setelah puluhan tahun berlalu, pesona pedangnya terlampau mentereng untuk bisa dilupakan begitu saja dari ingatannya.

“Pedang Baja Surgawi Agung (`Great Heavenly Steel Sword`)!?”

Dong Bongsu

Dong Bongsu

Karakter Utama
Tang Wu

Tang Wu

Pendukung
Tang Hwa

Tang Hwa

Pendukung

Komentar (...)

Masuk untuk ikut berdiskusi di kolom komentar