Seisi jalannya pagelaran Kompetisi Nasional sebenarnya memungkinkankan sistem Satisfy diselenggarakan secara virtual penuh di dalam game.
Namun kedaulatan pemerintah Korea Selatan bersikeras mengundang kedatangan fisik seisi atlet perwakilan menuju Seoul murni demi mendongkrak sektor pariwisata lokal, memutuskan pemicuan barisan agenda secara luring (*offline*) termasuk upacara pembukaan. Trik bisnis tersebut sukses besar. Lonjakan turis asing yang merapat di Korea menyentuh angka 800.000 jiwa menyodorkan perolehan ekonomi fantastis yang melampaui taksiran awal pemerintah Korea.
“Berkat kesuksesan pagelaran ini, pengaruh wibawa Grup SA resmi melonjak tajam.”
Telah banyak delegasi dari berbagai kedaulatan negara luar yang melayangkan proposal diplomatik memohon ditunjuk selaku tuan rumah Kompetisi Nasional edisi berikutnya. Barisan petinggi SA Group tersenyum lebar menatap grafik kepemilikan saham mereka yang meroket tajam, menggelar sesi bersulang malam di kantor pusat.
“Sebuah kesepakatan yang melimpahkan keuntungan bagi kedua belah pihak.”
Kedaulatan Korea Selatan sukses mengamankan hak penyelenggaraan Kompetisi Nasional berkat sokongan penuh Grup SA, memicu pertumbuhan ekonomi yang pesat sekaligus meraup dukungan politik yang masif dari masyarakat.
Kenaikan saham Grup SA mendongkrak pengaruh kekuasaan mereka di industri global. Selaras dengan regulasi komitmen mereka ‘mendedikasikan 3,6% total profit perusahaan bagi masyarakat’, skala yayasan amal mereka diperluas secara makro guna memikul jaminan kesejahteraan kalangan miskin yang membutuhkan bantuan.
Kalangan ranker global memanen tumpukan koin emas fantastis murni sebagai komisi kunjungan pariwisata mereka ke Seoul, didampingi miliaran penonton global yang disajikan tontonan hiburan yang teramat menakjubkan. Realitas yang menguntungkan seisi pihak, memicu gelak tawa gembira.
Satisfy terbukti sukses memuaskan seisi penjuru belahan dunia nyata, selaras dengan visi awal ilmuwan Lim Cheolho saat menetapkan nama game tersebut.
“Jerih payahku dirasa terbayar lunas.”
Sebagaimana keagungan para dewa merintis penciptaan dunia demi menjamin kebahagiaan makhluk hidup, sang ilmuwan transenden sukses menempa semesta realitas virtual tanpa batas yang menjamin kebahagiaan umat manusia. Lim Cheolho mengunci takhta namanya terukir emas di sepanjang sejarah peradaban sains dunia.
***
Kawasan elit Cheongdam-dong, Seoul.
“Kota ini benar-benar dipenuhi oleh kelimpahan gadis cantik. Proporsi tubuh ramping mereka sangat selaras dengan seleraku.”
Pon melangkah lebar diliputi suasana hati yang sangat gembira.
Berkat pemicuan Kompetisi Nasional ini, tangannya dibekali peluang menembakkan tombaknya berduel PvP menghadapi jajaran ranker papan atas, memanen tumpukan uang hadiah komersial, didampingi kemewahan matanya dimanjakan oleh pesona kecantikan gadis Asia Timur. Sensasi riang yang membuatnya merasa seolah melayang di atas awan.
“Hai Gadis cantik, bersediakah kau meluangkan waktumu menikmati segelas minuman bersamaku? Aku bersedia menebus minuman termahal di bar demi mengamankan durasi kebersamaan kita.”
Visualisasi wajah Pon di dunia nyata diakui sama tampannya dengan visualisasi karakter Satisfy miliknya, mendongkrak rasa percaya dirinya meluncurkan rayuan di sepanjang trotoar jalanan Seoul. Menepis kelancaran bahasa Inggrisnya yang terdengar canggung, tangannya dengan mudah mengamankan nomor kontak gadis lokal.
Jishuka yang sedang bersantai menyeruput kopinya di teras kafe terdekat seketika mematung cemas menatap keliaran Pon.
*Apakah pemuda preman tersebut adalah Pon?* Di sepanjang keanggotaan Serikat LTS didampingi sirkulasi Satisfy selama ini, Pon menolak pernah menampakkan ketertarikan asmara menghadapi lawan jenis. Menepis masa kecilnya yang rutin didera perkelahian konyol bersama Vantner, Pon memegang reputasi selaku petualang teladan yang murni memfokuskan jiwanya berburu monster demi melesatkan level karakternya.
Celah kepribadian Pon di dunia nyata yang bertolak belakang memicu kecanggungan batin Jishuka.
*Aku telah menjalin kemitraan dengannya selama lebih dari tiga tahun, namun menolak menyadari perangai aslinya sekeliar ini.*
Regas menyunggingkan senyuman tenangnya dari balik kursi meja sembari menyantap hidangan parfait buahnya. “Kekencangan sirkulasi nafasnya di Satisfy menyapu habis waktu luangnya memikirkan asmara, memicu hasratnya melampiaskan kelonggaran dada sepuasnya sesaat setelah kakinya merapat di dunia nyata. Rata-rata ranker global memendam kelakuan serupa.”
“Rasionalisasi yang cukup masuk akal... Eh?”
Jishuka melayangkan anggukan kepalanya setuju sebelum sepasang matanya terpaku menyapu pakaian yang membalut tubuh Regas.
“Bagaimana bisa? Sejak kapan ragamu berselimut baju seragam Taekwondo putih seperti ini?”
“Aku menyelimuti baju Taekwondo ini semenjak langkah kakiku mendarat di Seoul. Jishuka, ada apa dengan kepalamu? Bagaimana bisa sepasang matamu menolak menyadari pakaian yang kuselimuti di tubuhku sepanjang jam kebersamaan kita sejak pagi tadi? Hal penting kasta apa yang sedang membelah fokus pikiranmu?”
Jishuka mendesis ketus menepis pertanyaan Regas.
“Segera tanggalkan pakaian konyolmu tersebut. Menepis kenyamanan jalan bertiga kita, visualisasi pakaian putihmu terlampau mencolok mengundang perhatian luar.”
*Bisik-bisik.*
Kebenaran yang nyata, lautan pejalan kaki Seoul tiada henti memusatkan sorot mata mereka menatap Jishuka didampingi pakaian putih Regas. Kerumunan pejalan kaki berdesakan memendam hasrat ingin mengamankan tanda tangan didampingi sesi foto bersama. Namun seberapa hebat pun kepungan massa, apakah pasangan ranker global perwakilan Brasil yang kas keuangannya sanggup menyamai modal korporasi besar tersebut menolak dikawal pengawal pelindung? Keberadaan 10 unit bodyguard bersafari hitam di sekeliling mereka memutus celah kerumunan mengusik ketenangan kafe.
“Sepanjang ragaku sedang menduduki teritorial negara Taekwondo, baju apa lagi yang layak kuselimuti selain seragam Taekwondo suci ini?”
“...”
Jishuka membisu kaku menatap kepolosan batin Regas, menolak memperpanjang perdebatan bungkuknya.
“Ya sudahlah, lakukan apa pun kemauan kepalamu sembari melumat habis parfait-mu.”
Di sepanjang analisis Jishuka mengklasifikasikan spesies pria, rumpun pria murni dibagi menjadi dua kasta saja.
Pria bertingkah kekanak-kanakan atau pria yang berotak kejam.
*Sedangkan Grid memadukan kedua kasta tersebut: kekanak-kanakan sekaligus berotak kejam...*
Kesan awal pertemuannya menghadapi sosok Grid dulu di Winston diakui bertengger di rapor terburuk. Pemuda tersebut bertingkah bodoh, keras kepala, didampingi fokus matanya yang murni hanya terkunci menyapu keindahan dada besar wanita.
Namun kelogisan berpikirnya secara ajaib perlahan matang dewasa seiring bergulirnya waktu, didukung sirnanya perangai kejamnya pasca merayakan pernikahan suci bersama Irene. Kesetiaan asmaranya terkunci penuh bagi Irene, memosisikannya menolak bergetar kaku di saat sepasang matanya kembali disodorkan keindahan lekuk dada Jishuka.
Apakah ketertarikannya terpicu murni akibat dirinya mendeteksi perubahan dramatis kepribadian Grid secara *real-time*? Entahlah, namun Jishuka menyadari sepasang matanya tiada henti mengekor memantau pergerakan Grid. Pasca diselamatkan dari krisis kematian di sepanjang pertempuran Bairan kemarin, fokus batinnya terkunci mengagumi sosok Grid. Namun visualisasi Grid yang didekap memorinya murni sebatas wujud avatar Satisfy semata. Dia menolak memendam petunjuk mengenai wujud fisik asli pemuda tersebut di dunia nyata.
*Sepanjang takdir mempertemukanku bersua dengannya secara langsung... aku mencemaskan wujud aslinya bertingkah preman layaknya Pon.*
Apakah dirinya bersiap didera kekecewaan? Rasa-rasanya menolak memedulikannya.
*Ragaku saat ini sedang menduduki tanah Korea Selatan, menyodorkan peluang emas berkunjung menemuinya. Baik, keputusanku telah bulat.*
Jishuka bergegas memulihkan posisi berdirinya. Rombongan pria kafe seketika meledak menatap kemolekan proporsi tubuh seksinya yang menyembul dari balik kursi.
“Aku bersiap kembali merapat ke hotel.”
“Untuk alasan apa mendadak pulang? Ini merupakan kunjungan perdanamu di Seoul, bukankah meluncurkan pariwisata menyusuri kota menyajikan agenda yang menyenangkan?”
“Korea Selatan dibebaskan untuk kukunjungi kembali di lain waktu, namun detik ini hasrat jiwaku bersikeras merapat masuk menerobos Satisfy secepatnya.”
“Sebuah dedikasi yang sangat patut kuapresiasi.” Regas seketika meledak diliputi motivasi tempur yang membara sembari bergegas bangkit mengikuti langkah Jishuka. “Di setiap detik waktu Satisfy menyodorkan kelayakan pertumbuhan yang vital. Bagus! Mari meluncur berburu menaikkan level sepanjang sisa waktu luang hari ini! Kebetulan jadwal perlombaan kita berdua kosong hari ini.”
“Silakan meluncur berburu menaikkan level tempurmu sendirian. Target penjelajahan masukku murni dirancang demi melacak koordinat alamat tinggal asli Grid di tim pengelola.”
Regas mengernyitkan dahinya heran. “Alamat rumah aslinya? Untuk alasan apa kau nekat meluncur ke kediaman pribadinya? Bukankah kita bersiap dipertemukan secara alami di sepanjang benturan turnamen sepanjang jadwal perlombaan kita bertabrakan nanti? Bukankah nama ID-nya terdaftar di sirkulasi data peserta? Mengapa kau bersikeras menyambangi rumah pribadinya? Kelakuan tersebut tergolong kurang tertib secara sosial.”
“Grid bahkan menolak menampakkan hidungnya di sepanjang jalannya upacara pembukaan kemarin. Probabilitas dirinya menolak bertanding di turnamen Kompetisi Nasional ini sangatlah tinggi.”
Jishuka melayangkan kalimat dinginnya sembari bergegas melangkah pergi meninggalkan kafe.
“Perangainya bertransformasi menjadi sangat berbeda dari biasanya.”
Regas mengedikkan bahu kepalanya heran sembari melangkah mengekor di belakangnya didampingi unit pengawal.
“Tunggu sejenak.”
Pon yang bersiap menerobos masuk ke gerai butik mewah didampingi kepungan 5 gadis cantik seketika mematung mendeteksi kelintasan raga Jishuka didampingi Regas.
*Apakah mereka berdua meluncur merintis perburuan menaikkan level?*
Tingkat ranker global sangat rentan tergelincir jatuh sepanjang pemain didera kelengahan. Bukankah durasi penjelajahan Satisfy mereka didera reduksi penyusutan yang masif sepanjang menetap di Korea? Kewaspadaan Pon seketika bangkit siaga, bergegas menepis rombongan gadis cantik di sekelilingnya demi melangkah lebar mengekor kepergian sepasang rekannya.
***
“*Hah... Hah...* akhirnya ragaku resmi merapat.”
Pemicuan sihir melayang, menenggak cairan ramuan mana, meluncur melayang kembali, merapatkan kaki di tanah benteng sepanjang durasi CD mana belum pulih, memicu sihir kembali, rutinitas menyiksa fisik tersebut tiada henti digulirkan Grid hingga akhirnya sepasang kakinya resmi menginjak tanah Pulau Cork.
“Sisi positifnya, parameter stat ketekunan pribadiku sukses terdongkrak naik.”
Durasi 46 jam penuh dihabiskannya terbang membelah angkasa tanpa henti, memotong habis pasokan stamina fisiknya menyentuh batas kosong berkali-kali. Rasa letih sempat merayunya berulang kali merintis sesi istirahat, namun komitmennya menepis kelengahan menyergap kebangsahuan Hell Gao mengunci kelanjutan langkahnya. Sebuah penjelajahan menyiksa fisik yang tingkat keletihannya diakui melampaui olahraga triathlon, namun keteguhan mentalnya memuluskannya merapat tepat waktu.
*Kapasitas fisiku terbukti tangguh.* Sebuah kepuasan batin yang menakjubkan berkecamuk di dadanya. Keberhasilan menaklukkan keletihan fisik menyodorkan sensasi kepuasan batin yang nilainya disetarakan dengan keberhasilan menempa persenjataan rating tertinggi. *Sensasi kepenuhan jiwa pasca sukses meruntuhkan batas limit fisik... Apakah variabel kepuasan ini yang mendorong manusia dunia nyata gemar merintis pendakian gunung maupun olahraga maraton? Aku bersumpah bersiap mendaki perbukitan depan rumahku besok pagi.*
Grid terbang melayang membelah angkasa Pulau Cork didampingi kesegaran wajahnya yang memukau. Sepasang matanya menyapu lanskap pulau di bawahnya.
“Sebuah kota pelabuhan yang cukup makmur.”
Luas wilayah Pulau Cork diprogram sistem menyamai seperempat dari luas Pulau Jeju di dunia nyata. Skala wilayahnya menolak dicap kecil didukung kehangatan iklim tropis yang bersahabat, menyulap kota pelabuhan yang bertengger di tengah pulau mekar berkembang sangat pesat.
*Tingkat kemakmurannya tergolong setara dengan Desa Bairan... Populasi penduduk pulau diproyeksikan dihuni puluhan ribu jiwa NPC? Bukankah field ini memendam kelimpahan area berburu didampingi komoditas mineral logam yang melimpah?*
Grid meluncur turun merapatkan kakinya di tanah pinggiran kota. Berkat sokongan opsi Stealth jubah Hooded Zip Up miliknya, dia dibebaskan menyusup melintasi pos penjaga tanpa perlu melayangkan data diri didampingi keluwesannya berbaur di tengah lautan penduduk. Detik berikutnya, langkah kakinya terhenti merapat di depan sebidang kedai makan yang posisinya berdekatan dengan mulut dungeon Hell Gao demi melunasi rasa lapar fisiknya.
“Hidangan labi-labi (kura-kura cangkang lunak) berpadu daging paus? Aku seumur hidupku menolak pernah menyantap menu eksotis seperti ini. Apakah cita rasanya lezat?”
Pemilik kedai menyahut penuh percaya diri menyodorkan rekomendasi menunya.
“Kelezatannya dijamin melimpah, anak muda. Menyantap perpaduan daging labi-labi didukung kelembutan daging paus dalam satu suapan menyajikan cita rasa surga dunia. Kau wajib mencicipinya secepatnya.”
Melayangkan pertanyaan manis kepada NPC merupakan trik mendasar guna memicu peningkatan afinitas kedekatan (Affinity) secara berkala. Dan taktik paling efisien memanen kedekatan pedagang NPC tak lain adalah memborong komoditas dagangan mereka dalam jumlah besar.
Grid di masa lalu menolak memahami kelogisan taktis tersebut. Dirinya di masa lalu murni membangun afinitas murni mengandalkan durasi obrolan panjang yang menyiksa waktu. Namun kesetiaan Huroi mendampinginya selama ini melimpahkan kelimpahan trik bersosialisasi menghadapi NPC secara taktis.
“Aku melimpahkan rasa percayaku menyetujui rekomendasi menumu, Pak Tua. Tolong sajikan satu porsi hidangan labi-labi berpadu daging paus ke mejaku secepatnya... Ah, sajikan hidangan khas teragung yang merepresentasikan pulau pelabuhan ini ke hadapanku sepuasnya! Kas perutku bersiap melumat porsi ganda hari ini!”
“Ohh, sesosok petualang muda yang sangat dermawan! Baik, instruksimu segera kuproses! Aku bersiap membawakan hidangan terbaik yang dimasak dengan matang secepatnya!”
Selera makan Grid pada dasarnya didominasi oleh rumpun masakan panggang, tumis, gorengan, didampingi kuah hotpot berempah pekat. Namun rata-rata rumpun kuliner di kawasan utara Kerajaan Eternal murni didominasi oleh kuliner kukus tawar yang menolak bersahabat dengan indra pengecapnya.
“Semenjak ragaku memindahkan pangkalan tinggal meluncur ke utara, indra lidahku terlanjur merindukan kebahagiaan menyantap masakan berempah pekat...”
Menu kedai makan di Pulau Cork secara bersahabat didominasi oleh hidangan gorengan didampingi bakar berempah.
“Aku bersiap makan sepuas hatiku!”
Air liur Grid menetes tipis menunggu datangnya hidangan. Detik berikutnya, pemilik kedai merapat menyajikan tumpukan masakan harum. Disokong parameter stat ketahanan fisik didampingi ketekunannya yang tebal, lambung perutnya dibekali kelonggaran menampung pasokan makanan dalam jumlah jumbo. Sepasang mata pemilik kedai seketika membelalak takjub menyaksikan kelincahan mulut Grid menyapu bersih piring saji dalam sekejap.
“Melumat habis porsi masakan setara konsumsi tiga orang dewasa sekaligus dalam satu sesi... Sebuah lambung ksatria yang menakjubkan.”
*Sepanjang skenario ini berjalan...*
Taktik kasta apa yang bersiap digulirkan Huroi sepanjang berada di posisinya saat ini? Ulasan taktis melintas di kepalanya sembari menyunggingkan senyuman manisnya bersuara.
“Kelakuanku melumat porsi berlebih hari ini murni dipicu oleh kehebatan keahlian memasakmu yang teramat lezat, Pak Tua.”
“Hahaha...”
Ketinggian parameter stat Dignity (Martabat) Grid menyodorkan tekanan wibawa yang cukup kuat bagi lawan bicaranya, namun di saat yang sama dibekali fungsionalitas memantik afinitas kesukaan secara dinamis sepanjang tutur bahasanya diselaraskan secara santun. Pemilik kedai seketika terpesona menaruh simpati menatap ketampanan wajah Grid.
“Wujud fisikmu memancarkan citra sesosok petualang pengembara, untuk urusan apa langkah kakimu merapat di Pulau Cork?”
“Taktikku sukses.”
Grid menyahut ramah menatap simpati sepasang mata pemilik kedai. “Target kunjunganku kemari dirancang demi memindai wujud bos monster Hell Gao sang penguasa api neraka. Bersediakah kau menunjukkan koordinat dungeon bawah tanah sarangnya mendiami pulau ini?”
“Apa? Rencanamu mengincar kediaman Hell Gao?!” Pemilik kedai seketika tersentak panik. “Lorong dungeon bawah tanah tempatnya mendiami pulau diprogram sistem terkunci di perbatasan utara kota... Namun akal sehatku menolak sanggup mencerna motifmu. Untuk urusan apa kau bersikeras melacak sarangnya? Bukankah langkah tersebut setara dengan aksi bunuh diri?”
“Apakah keagungan dayanya diprogram sekokoh itu?”
Tubuh pemilik kedai gemetar cemas memaparkan legenda sejarah pulau.
“Dia memegang wewenang selaku sesosok raja iblis penguasa pulau yang di masa lalu tiada henti memangsa peradaban leluhur kami. Lembaran sejarah kuno mencatat total korban tumbal jiwa yang dijarahnya menembus kisaran ribuan jiwa... Hingga akhirnya pendekar pedang legendaris Muller merapat meluncurkan sabetan pedangnya melumat fisik iblis tersebut menjadi abu abu sistem, namun jiwa jahat Hell Gao diprogram menolak sanggup disegel mati, memicu kebangkitannya secara berkala menerobos dimensi. Warga pulau tiada henti didera kecemasan di setiap harinya cemas kebangkitan sempurnanya bersiap mengubah pulau makmur ini bertransformasi menjadi neraka dunia.”
Sebuah untaian kalimat sejarah kuno yang sarat makna.
*Apakah sistem Satisfy sedang merintis pemicuan quest tersembunyi? Jangan bilang pemilik kedai ini bersiap mendelegasikan quest menyegel jiwa Hell Gao ke pundakku, sebilah quest penumpasan iblis yang bahkan pendekar pedang legendaris Muller sekalipun menolak sukses menyegelnya?*
Sebuah asumsi gila yang menolak logis. Pemilik kedai menyodorkan sebaris informasi berharga menepis kepanikan Grid.
“Semburan api hitam iblis tersebut memendam tingkat kehangatan suhu yang jauh lebih mematikan dibanding pendaran api giok ras iblis biasa, memosisikanmu wajib meluangkan kewaspadaan tingkat tinggi. Sepanjang langkahmu bersedia menyambangi kediaman pandai besi wanita bernama ‘Ellen’ yang mendiami koordinat selatan kota dan menyuarakan rekomendasiku, dirinya bersedia melukis set baju zirah besarmu dibalur pewarna mineral Flame Stone... Sebelum nekat menantang bahaya Hell Gao, hamba menyarankan Anda merapat menemui Ellen Halmand secepatnya guna mendongkrak status ketahanan elemen api (*Fire Resistance*) milikmu.”
“Pewarna zirah yang diracik menggunakan mineral Flame Stone?”
Ketertarikan Grid seketika teraktifkan, bergegas memulihkan posisi berdirinya. Dia memindai detail koordinat kediaman Ellen dari pemilik kedai sebelum melangkah lebar merapat ke lokasi.
“Silakan masuk.”
Nenek Ellen Halmand memendam perangai ramah. Sesaat setelah menyimak ulasan rekomendasi pemilik kedai makanan, dirinya menyambut hangat kedatangan Grid sembari mengarahkan telunjuk tangannya menunjuk sebidang baskom kayu besar yang terparkir di halaman belakang kediamannya.
“Visualisasinya memang menolak memancarkan kemewahan, karena racikan pewarna ini murni diolah menggunakan Flame Stone. Aku murni hanya merendam bongkahan Flame Stone ke dalam air baskom yang dicampur dengan resep racikan rahasiaku sendiri.”
“Ohu...”
Di dalam baskom kayu besar tersebut tampak terendam satu keping batuan Flame Stone yang ukurannya murni setara dengan kepalan tangan bayi. Namun satu fosil merah kecil tersebut secara ajaib sanggup menyulap seisi warna air baskom bertransformasi memancarkan warna merah menyala yang pekat. Ellen memaparkan khasiatnya kepada Grid. “Sihirnya menolak sebatas memicu pergeseran visualisasi warna zirah belaka, anak muda. Set baju zirah besi maupun pakaian yang sukses diwarnai menggunakan racikan air ini diprogram sistem memanen pelesatan stat ketahanan elemen api secara permanen.”
Grid bergegas menarik keluar set pelindung Holy Light Armor didampingi Holy Light Gloves miliknya ke udara.
“Struktur jubah luar pelindungku terbuat dari jalinan serat kain, mempermudahnya menyerap resapan warna air. Namun set baju zirah besarku ditempa menggunakan logam mithril murni, apakah logam mithril dibekali kelonggaran menyerap pewarna ini?”
Ellen mengangguk santai.
“Flame Stone memegang status sebagai simbol peleburan absolut... Opsi energinya sanggup melebur menyatu dengan rumpun logam apa pun.”
Sangat selaras dengan keagungan mineral logam tingkat tinggi yang lazim difungsikan dalam pengerjaan item sihir.
*Status imunitas abnormal milik kelas asliku menjamin ragaku menolak sanggup didera status terbakar (*burn status*), namun opsi ketahanan elemen api tambahan ini bersiap meminimalisir reduksi damage murni yang dipicu oleh semburan api Hell Gao secara fisik. Kelampangan warna hitam boots Braham's Boots di kakiku diproyeksikan bersiap memancarkan estetika keindahan yang gagah pasca dipadukan dengan kilau merah Flame Stone... Pilihan yang sangat menawan.*
Grid bersuara santun melayangkan permohonannya. “Bersediakah Anda meluangkan keahlian Anda melukis pewarna merah ini di set baju zirah didampingi sarung tanganku?”
Ellen mengangguk santai melayangkan persetujuannya. “Hamba menyanggupinya. Pengerjaan pewarna zirah bersiap kurampungkan secepatnya sepanjang dirimu bersedia melunasi biaya komisi sebesar 500 koin emas.”
“...Hah?”
Grid awalnya menaksir status Ellen memegang wewenang selaku NPC tersembunyi (*hidden NPC*). Asumsinya meyakini kedekatan hubungannya bersama pemilik kedai makan bersiap melimpahkan bonus pengerjaan gratis padanya. Namun siapa sangka nenek tua di depannya tetap menuntut pembayaran tunai? Di sela-sela kebingungan Grid, rombongan pemain luar tampak melangkahkan kaki menerobos masuk ke halaman kediaman Ellen.
“Apakah Anda Nenek Ellen? Aku menerima informasi keberadaan Anda dari nenek pemilik toko kelontong kota.”
“Aku merapat kemari berkat arahan instruksi pandai besi kota. Apakah benar kediaman ini menyajikan jasa mendongkrak opsi Fire Resistance zirah?”
Grid yang memindai kedatangan rombongan pemain luar seketika menarik ulasan kesimpulan logisnya.
“Rekomendasi dari pemilik kedai makanan tadi menolak memeluk status selaku quest eksklusif.”
Ellen menolak memegang wewenang hidden NPC. Dirinya tak lebih dari sekadar merchant jasa biasa di Pulau Cork, di mana warga kota pelabuhan diprogram sistem bekerja sama mengarahkan turis pemain merapat ke kediamannya demi membagi komisi.
*Peradaban bisnis Satisfy terbukti bertengger sangat kejam menghadapi kepolosan dompet pemain.*
Grid menarik keluar kantong uangnya menyerahkan 500 koin emas didampingi getaran tipis di tangannya. Pengeluaran 500 koin emas demi menjamin tambahan stat Fire Resistance di kedua item legendarisnya dirasa masih menyajikan nilai transaksi yang adil baginya, meskipun parameter angka stat tambahan tersebut menolak ditunjukkan sistem secara rinci.





