*Pahat!*
Leo memangkas jarak ke arah Grid dengan gerakan yang sangat cepat. Grid berniat mundur, tetapi Leo sudah berada tepat di hadapannya.
“Apa?”
Leo melayangkan tebasan cepat ke arah Grid yang panik.
*Kaaang!*
Grid mengangkat belatinya dan nyaris berhasil menahan tebasan pedang Leo. Pergelangan tangan dan pundaknya langsung terasa kebas, membuat lengan kanannya mati rasa untuk sementara waktu. Namun, Grid berhasil bertahan berkat tangkisan yang sukses.
'Aku tidak akan bisa membaca pergerakan Leo sama sekali jika bukan karena bantuan Ideal Dagger.'
Itu adalah kenyataan yang mutlak. Setelah mengaktifkan skill 'Quick Movements' yang tertanam pada Ideal Dagger, Agility miliknya meningkat pesat. Ideal Dagger sendiri memberikan bonus stat Agility sebesar 20 poin. Ditambah lagi, seluruh stats Grid telah meningkat sebanyak 12 poin secara permanen setelah berhasil memproduksi item Unique. Akumulasi stat Agility Grid saat ini mendekati 250 poin, membuatnya sanggup merespons tebasan pedang Leo.
Leo mengernyitkan dahi dengan ekspresi heran, lalu bertanya,
“Kamu berhasil menangkis seranganku? Bukankah kamu hanyalah seorang pandai besi?”
Leo adalah salah satu talenta muda paling berbakat di Winston. Dia bahkan dijuluki sebagai 'Northern Nova' dan reputasi kehebatannya telah tersebar di seluruh wilayah utara. Sangat mustahil bagi seorang pandai besi biasa untuk menangkis serangannya, bahkan jika itu hanya sebuah kebetulan belaka.
Maka, Leo pun mulai bertarung dengan sungguh-sungguh.
“Ternyata kamu memang bukan pandai besi biasa. Apa kamu sengaja berpura-pura bodoh saat di ruang interogasi tadi? Baiklah, aku mengakui kemampuanmu dan akan bertarung dengan seluruh kekuatanku.”
*Hwaruruk!*
Kobaran api merah menyelimuti pedang panjang Leo. Itu adalah sebuah pedang sihir dengan elemen api. Grid yang sebelumnya merasa memiliki sedikit peluang untuk menang langsung dirundung keputusasaan kembali.
'Pedang sihir...! Kenapa orang sekuat dia harus menggunakan senjata curang seperti itu? Ini tidak adil!'
Batas waktu untuk menyelamatkan Huroi kini hanya tersisa 25 menit. Mampukah dia mengalahkan seorang Knight yang dilengkapi dengan pedang sihir? Mustahil. Dia pasti akan terbunuh dalam waktu kurang dari satu menit.
Grid benar-benar kebingungan.
'Aku harus melarikan diri. Jika terus bertarung, aku hanya akan mati konyol layaknya seekor anjing dan quest ini akan gagal. Melarikan diri adalah satu-satunya pilihan. Tapi bagaimana caranya aku bisa kabur?'
Grid tidak akan bisa berlari lebih cepat dari seorang Knight. Kemampuan fisik seorang Knight jauh berada di atasnya. Lain ceritanya jika dia memiliki skill yang bisa memberikan efek status abnormal pada musuh, tetapi Grid adalah seorang pandai besi dan tidak memiliki skill bertarung yang berguna.
Pada akhirnya, takdir Grid tampaknya adalah mati di tangan Leo di tempat ini. Namun tepat pada saat kritis itu, sebuah kejadian yang tidak terduga oleh siapa pun terjadi. Ledakan dahsyat mendadak meledak tepat di tempat Leo berdiri.
*Boommm! Duar! Blarrr!*
“Uakh!”
Grid langsung tiarap di lantai sedatar mungkin demi menghindari dampak dari ledakan tersebut. Namun, gelombang ledakannya terlalu besar hingga tubuhnya tetap saja terkena dampak yang cukup parah.
Health miliknya kini tersisa tepat 1 poin. Perlahan-lahan, asap ledakan mulai mereda.
“Ugh... apa yang sebenarnya terjadi secara tiba-tiba...?”
Grid bangkit berdiri dengan tubuh gemetaran dan segera meminum ramuan untuk memulihkan Health-nya, lalu menatap ke arah Leo yang tergeletak di lantai.
“Uhuk! Uhuk!”
Leo terbatuk-batuk memuntahkan darah. Kondisinya tampak sangat mengenaskan. Armor perak gagah yang dikenakannya telah hancur berkeping-keping, dan seluruh tubuhnya dipenuhi dengan luka bakar yang parah. Sungguh sebuah keajaiban dia masih bisa bernapas dalam kondisi seperti itu.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Saat ledakan itu terjadi, Grid sempat mengira Euphemina datang menolongnya. Dia menduga sihir Euphemina-lah yang menghantam Leo. Namun, tidak ada tanda-tanda kehadiran Euphemina di sekitar sini. Hanya ada dua orang di lantai empat ini: Grid dan Leo.
Grid yang kebingungan segera memeriksa kondisi pedang Leo. Pedang sihir itu telah hancur berkeping-keping. Ini mengindikasikan bahwa pedang itulah yang menjadi pusat dari ledakan dahsyat tadi. Seolah-olah ledakan itu dipicu langsung dari pedang milik Leo.
'Jangan-jangan...' Otak Grid langsung bekerja dengan cepat.
Ini adalah ruang bawah tanah yang tertutup rapat tanpa adanya sistem ventilasi udara. Runtuhnya langit-langit akibat perangkap yang dipicu Euphemina sebelumnya membuat koridor ini dipenuhi oleh debu tebal yang melayang-layang di udara. Apa yang akan terjadi jika seseorang menyalakan api besar di dalam ruangan tertutup yang dipenuhi debu pekat seperti ini?
Grid teringat pelajaran tentang *dust explosion* (ledakan debu) yang pernah diajarkan oleh guru kimianya saat sekolah menengah dulu. Ledakan debu adalah fenomena di mana partikel debu yang terkonsentrasi tinggi di udara menyambar api secara instan akibat panas dan tekanan yang tinggi. Di masa lalu, karena minimnya sistem pencegahan ledakan debu, fenomena ini sangat sering terjadi di dalam tambang batu bara atau pabrik industri.
“Ah! Apa? Hanya karena itu? Pffft! Puhahahahat!”
Grid yang akhirnya memahami situasi langsung tertawa terbahak-bahak layaknya orang gila. Dia benar-benar sangat beruntung karena bisa menyelesaikan quest ini secara cuma-cuma tepat di saat dia mengira akan mati di tangan Leo.
“Ugh... k-kau... apa yang sebenarnya kamu lakukan?”
Leo yang sekarat bersuara dengan sisa tenaganya. Grid menyudahi tawanya dan menoleh menatap dingin ke arah Leo. Dia mencoba memasang ekspresi sekeren mungkin saat berbicara.
“Inilah yang dinamakan perbedaan level di antara kita. Sebenarnya, aku bergerak dengan kecepatan luar biasa yang tidak bisa diikuti oleh matamu, lalu memicu pedangmu untuk meledak. Itulah sebabnya kematianmu tidak bisa dihindari.”
“A-Apa? Hal seperti itu mungkin dilakukan? Kamu... siapa identitas aslimu sebenarnya?”
Grid mengarahkan ujung belatinya tepat di atas jantung Leo dan menjawab, “Aku adalah Pagma's Descendant. Dan sekarang, kamu benar-benar akan menjadi hantu cabul.”
*Jleb.*
Belati Grid menusuk tepat ke jantung Leo. Ucapannya menjadi kenyataan. Leo benar-benar tewas sebelum sempat menikah!
“Uakhhh!”
Tubuh Leo hancur menjadi kilatan cahaya abu-abu, dan puluhan jendela notifikasi langsung bermunculan di hadapan Grid.
Level Leo sang 'Northern Nova' berada di level 188. Berkat mengalahkannya, level Grid langsung melonjak drastis dari level 21 ke level 45 dalam sekejap. Dia juga mendapatkan bonus title baru.
[**Knight Slayer**] * Stamina +100. Strength +30.
“Ohhhhhhhh!!!!”
Title 'Knight Slayer' adalah salah satu title yang relatif sulit didapatkan karena persyaratannya adalah harus membunuh seorang Knight. Rata-rata pemain harus memiliki level tinggi untuk bisa menaklukkan seorang Knight. Namun Grid, yang sebelumnya berada di level 21, berhasil membunuh seorang Knight dan mendapatkan title tersebut secara cuma-cuma.
'Aku berhasil mendapatkan title Knight Slayer, salah satu bukti dari pemain tingkat tinggi...!'
Bahkan di saat dia masih menjadi seorang Warrior dulu, dia tidak pernah bermimpi bisa mendapatkan title sehebat ini. Grid menikmati sensasi kebahagiaan itu sambil berlari cepat menuju ujung koridor tempat suara Huroi terdengar.
“Huroi, aku di sini!”
*Klang!*
Pintu besi sel isolasi dengan mudah dibuka menggunakan kunci yang didapat dari Leo.
“Ugh!” Grid mengernyitkan hidung menahan bau busuk yang menyengat dari dalam sel. Kondisi fisik Huroi tampak sangat mengenaskan, tubuhnya kurus kering menyerupai kerangka hidup. “Apa? Kamu... kamu Huroi, kan? Kenapa wujudmu bisa berubah sekurus ini? Apa saja yang kamu lakukan selama dikurung di sini?”
Awalnya Grid berencana menampar pipi Huroi sebanyak 200 kali setelah berhasil membebaskannya, tetapi melihat kondisi Huroi yang mengenaskan seperti ini, dia mengurungkan niatnya. Tentu saja bukan karena dia memiliki hati nurani.
'Jika aku menamparnya sekarang, dia pasti akan langsung mati, kan? Aku tidak sudi mendapatkan reputasi buruk sebagai pembunuh pemain lain.'
“...Anda?”
Huroi perlahan membuka matanya di dalam kegelapan sel, lalu menatap ke arah Grid. Pada saat itu, Huroi akhirnya berhasil mengingat kembali siapa dirinya, di mana dia berada, dan quest apa yang sedang diselesaikannya.
“Anda... Anda adalah penyelamatku... Terima kasih... terima kasih banyak...”
Sesaat kemudian, jendela notifikasi muncul di hadapan Grid.
Sementara itu, jendela notifikasi yang sangat luar biasa juga muncul di hadapan Huroi.
“Ah...!”
Air mata langsung berlinang di sudut mata Huroi. Dia merasa sangat bahagia karena semua penderitaan neraka yang dilewatinya terbayar lunas dengan hadiah yang sangat luar biasa ini. Huroi mengerahkan sisa tenaganya untuk bangkit berdiri, lalu berlutut dengan khidmat di hadapan Grid.
“Grid, aku tidak menyadarinya saat kita pertama kali bertemu dulu. Namun sekarang aku yakin bahwa kita berdua terikat oleh takdir yang luar biasa. Penyelamatku, Grid! Aku, Huroi, keturunan dari Blue Wolf, bersumpah akan mengikutimu seumur hidupku sebagai Apostle of Justice's Partner!”
'Apa-apaan ini?'
Grid yang tidak tahu detail hadiah quest milik Huroi hanya berasumsi bahwa Huroi telah menjadi gila akibat terlalu lama dikurung. Namun, Huroi berbicara dengan sangat tulus. Meskipun dia sempat meremehkan Grid saat pertemuan pertama mereka dulu, kini dia sangat meyakini bahwa Grid adalah takdirnya. Dia bersumpah akan membalas budi kebaikan Grid seumur hidupnya.
Maka, hubungan takdir yang luar biasa di antara keduanya pun dimulai sejak hari itu.

