Chapter 122: Akan Kutunjukkan Kepadamu Apa yang Terjadi Jika Kau Berani Mengusik Gunung Hua! (2)
Sembari Hyun Jong menyaksikan kelompok utusan tersebut berjalan keluar meninggalkan pintu gerbang sekte fajar ini, bagian matanya memancarkan rasa cemas yang sangat mendalam dan sama sekali tidak bisa disembunyikannya sedikit pun seutuhnya.
"Apakah mereka semua dipastikan akan baik-baik saja di sepanjang perjalanan nanti?"
"Mengingat Baek Cheon dan Yoon Jong ikut pergi mendampingi pergerakan kelompok tersebut, bukankah nasib keselamatan mereka dipastikan kelak pasti akan aman?"
"Apakah kita sebaiknya tetap mengirimkan satu orang pendekar senior tambahan untuk menyusul mereka sekarang juga?"
"……Kita saat ini sudah tidak memiliki sisa pendekar senior tambahan yang bisa dialokasikan untuk tugas luar, Pemimpin Sekte."
Hyun Jong memalingkan wajahnya menatap ke arah Un Am.
Un Am, dengan menunjukkan ekspresi wajah acuh tak acuh belaka seutuhnya, memalingkan kepalanya sedikit ke arah lain demi menghindari adu tatap mata secara langsung dengan Pemimpin Sekte saat ini.
"Kau melontarkan kalimat penolakan tersebut bukannya karena bagian hatimu tidak memiliki keinginan untuk ikut pergi mengawal mereka, bukan?"
"Ini bukan merupakan wujud pertikaian luar daerah yang diperbolehkan untuk dicampuri secara langsung oleh para pendekar senior sekelas kita. Jika kita bertindak ceroboh hari ini, situasi konfliknya dipetakan kelak pasti akan meluas ke tingkat yang sangat mengerikan dan tidak akan bisa dikendalikan kembali seutuhnya kelak."
"Dan jika kita hanya mengirimkan barisan anak-anak muda itu pergi sendirian ke sana hari ini, apakah situasi konfliknya dipastikan tidak akan meluas kelak?"
"……"
Itu adalah sebuah pertanyaan sulit yang sama sekali tidak sanggup kujawab dengan mudah saat ini, Pemimpin Sekte.
Secara jujur seutuhnya, mengingat bocah gila bernama Chung Myung itu ikut terlibat langsung di dalam kelompok perjalanan tersebut hari ini, bukankah justru akan terasa sangat aneh sekali jika situasi konfliknya sampai berakhir tidak meluas kelak?
"Aku merasa sangat cemas sekali. Benar-benar merasa teramat cemas."
Hyun Jong melepaskan suara helaan napas panjang yang sangat dalam seutuhnya.
Tepat pada momen kecemasan tersebut melanda dirinya, Hyun Sang yang sedari tadi berdiri diam mengamati dari samping mendadak melepaskan suara tawa kecil yang lembut seutuhnya.
Hyun Jong memalingkan wajahnya menatap ke arah Hyun Sang dengan ekspresi wajah cemberut masam.
"Tampaknya adik seperguruan pribadiku ini menganggap situasi darurat ini sebagai sesuatu yang sangat menghibur sekali belaka saat ini."
"Aku memohon maaf yang sebesar-besarnya kepadamu sebelumnya, Sahyung Pemimpin Sekte. Namun bagaimana mungkin bagian hatiku tidak merasa terhibur saat ini?"
"Urusan macam apa sebenarnya yang dinilai menghibur dari masalah ini?"
Hyun Sang menyunggingkan senyuman cerah seutuhnya.
"Bukankah kita semua adalah sekelompok pendekar tua yang baru saja dua tahun yang lalu dirundung rasa cemas setengah mati karena takut nama baik murid sekte kita akan dihancurkan habis-habisan oleh kekuatan Southern Edge? Namun saat ini, bukankah wujud kecemasan baru yang sedang melanda lubang dada kita tidak lain adalah murni disebabkan karena kita takut anak-anak sekte kita kelak pasti akan memukuli murid Sekte Wudang dengan terlampau brutalnya kelak?"
"……"
Jika dipikir-pikir kembali dengan saksama, argumen penjelasan tersebut terbukti sepenuhnya benar adanya seutuhnya.
Jika ada pendekar luar sekte yang kebetulan berkesempatan menyaksikan wujud kecemasan aneh mereka saat ini, mereka dipetakan kelak pasti akan memaki mereka habis-habisan karena dinilai telah kehilangan akal sehat mereka setelah berhasil mengamankan satu kali kemenangan keberuntungan menghadapi Sekte Southern Edge di masa lalu.
Meskipun demikian, bagi mereka yang telah menyaksikan secara nyata di depan mata kepala mereka sendiri perihal siksaan latihan fisik macam apa yang dipaksakan untuk dilalui oleh murid generasi Baek dan generasi Cheong di sepanjang kurun waktu dua tahun terakhir ini, kecemasan aneh semacam ini dirasa merupakan wujud kecemasan yang teramat sangat wajar sekali untuk muncul seutuhnya.
"Taruhlah rasa percaya penuh kepada mereka dan nantikan kepulangan mereka dengan tenang kelak. Mereka bukanlah sekelompok anak-anak bodoh yang tidak tahu cara berpikir dewasa kelak. Mereka dipetakan kelak pasti akan segera kembali pulang ke sekte setelah berhasil menyebarkan nama harum Gunung Hua ke seluruh penjuru dunia persilatan Murim kelak."
"Oh, mereka dipastikan kelak pasti akan menyebarkan nama baik sekte kita ke dunia luar, tebakanmu itu sangat tepat sekali."
"Maaf?"
"Bagaimanapun juga, sebuah reputasi yang buruk juga merupakan salah satu bentuk wujud kepopuleran nama baik di dunia persilatan kelak."
"……"
Hyun Jong kembali melepaskan suara helaan napas panjang yang sangat berat seutuhnya sembari memusatkan pandangan matanya menatap ke arah bayangan kepergian barisan murid sektenya di kejauhan.
"Mereka semua diwajibkan hukumnya untuk kembali pulang ke sekte ini dengan selamat seutuhnya kelak, tidak peduli apa pun rintangan yang harus mereka hadapi nanti."
Mendengar kalimat doa khidmat tersebut baru saja, Hyun Sang sama sekali tidak memiliki keberanian mental untuk menyuarakan fakta logis bahwa peluang kepulangan mereka secara damai dirasa teramat sangat tipis sekali untuk terwujud kelak seutuhnya.
* * *
Pada awalnya, ia memelihara pemikiran bahwa rencana perjalanan yang diusulkan oleh anak itu adalah sebuah rencana yang dinilai cukup masuk akal seutuhnya.
- Tuan Muda Wi. Bukankah kita diwajibkan hukumnya untuk tiba di wilayah Namyang bahkan satu hari jauh lebih cepat jika memungkinkan kelak? Masalah ketahanan fisik kami sama sekali tidak bermasalah seutuhnya, namun kualitas ketahanan fisik tubuhmu saat inilah yang sedang menjadi masalah terbesar kita saat ini. Jadi bagaimana jika kita mencari opsi transportasi perjalanan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan memaksakan diri berlari kencang menuju ke sana dengan wujud konyol kelak?
Bagi Wi Sohaeng, itu adalah sebuah usulan perjalanan yang tidak memiliki alasan logis apa pun untuk ia tolak saat itu seutuhnya.
Pertama-tama, kondisi tubuh fisiknya saat ini memang terbukti sedang berada dalam kondisi yang sangat tidak ideal seutuhnya.
Kadar Qi murni di dalam tubuh fisiknya telah terlanjur mengalami kerusakan dan kelelahan yang teramat sangat parah sekali akibat dipaksa berlari kencang tanpa jeda dengan segenap kekuatan fisiknya dari wilayah Namyang menuju ke Hwaeum sebelumnya.
Dan terlebih lagi, bahkan jika kondisi Qi murni di dalam tubuh fisiknya berada dalam kondisi ideal sekalipun, hasilnya dipetakan kelak pasti akan tetap berjalan serupa belaka seutuhnya.
Kenyataan fisik yang sesungguhnya adalah tingkat bakat bela diri yang dimiliki oleh Wi Sohaeng saat ini memang terhitung biasa-biasa saja di bawah langit, sehingga bahkan dalam kondisi tubuh fisik paling ideal sekalipun sepanjang hidupnya, ia dipastikan tetap sama sekali tidak akan pernah sanggup mengimbangi kecepatan lari kilat dari para Murid Utama Gunung Hua seutuhnya kelak.
Dan juga rasanya tidak elok bagi seorang pria dewasa sekelas dirinya untuk menempuh perjalanan jauh sembari digendong secara bergantian di atas punggung murid sekte utama sepanjang jalan, bukan?
- Tenang saja. Tenang saja. Aku dipastikan kelak pasti akan menyelesaikan seluruh detail persiapan transportasi ini dengan segenap keahlian terbaikku seutuhnya. Kau sama sekali tidak perlu merasa cemas seumur hidupmu kelak.
Hingga batas kalimat jaminan tersebut diucapkan kemarin fajar, kualitas kepribadian Chung Myung masih terlihat sangat meyakinkan dan bisa diandalkan seutuhnya bagi pandangan matanya.
Bahkan di saat anak gila itu terbukti secara terampil sanggup mengamankan kepemilikan dari dua ekor kuda tunggangan berkualitas unggul beserta satu buah kereta barang berukuran sedang segera setelah mereka melangkahkan kaki menuruni Hwaeum kemarin, bagian hatinya sempat didera oleh rasa bersalah yang mendalam karena telah terburu-buru melayangkan penilaian buruk yang tidak adil hanya didasari oleh kualitas kegilaan sifat perilakunya belaka selama ini.
- Hehe. Hehe! Bukankah sudah kukatakan kepadamu sebelumnya bahwa aku dipastikan kelak pasti akan menyelesaikan seluruh urusan transportasi ini dengan sangat baiknya kelak!
Detik di saat seluruh permukaan kereta barang tersebut terbukti telah ditata dengan sangat rapi dan dipenuhi oleh tumpukan barisan bekal makanan mewah untuk menyokong kebutuhan perjalanan mereka kelak, ia meyakini bagian hatinya saat itu telah bersedia menaruh rasa percaya penuh kepada pendekar bernama Chung Myung tersebut seutuhnya.
- Tidak perlu membantah instruksiku. Bukankah sudah kukatakan kepadamu secara jelas bahwa aku sendiri sosok tunggal yang akan mengurus seluruh detail kebutuhan perjalanan ini kelak? Apakah kau sama sekali tidak memiliki kemampuan intelektual yang cukup untuk mencerna kalimat bahasaku kelak?
Meskipun begitu, detik di saat ia menyaksikan barisan botol minuman misterius yang dibungkus rapi tampak ditumpuk padat tepat di samping tumpukan perbekalan makanan mewah tadi, dan setelah ia berhasil menyadari secara nyata bahwa seluruh botol misterius tersebut tidak lain adalah merupakan botol minuman keras yang memabukkan seutuhnya, barulah ia menyadari dengan sangat menyakitkan bahwa seluruh keyakinan indahnya baru saja adalah sebuah kesalahan besar seutuhnya.
Meskipun demikian, keputusan untuk membatalkan rencana perjalanan dirasa telah terlanjur sangat terlambat sekali untuk dilakukan saat itu seutuhnya.
Dan berkat rentetan keputusan gila tersebut, wujud perjalanan mereka saat ini terpaksa harus berjalan dengan wujud penampilan seperti saat ini.
"Kehidupaaan ma-a-a-nusia yang sesungguhnya baru layak disebut sebagai sebuah kehidupan jika berjalan seperti ini!"
Sembari merebahkan tubuh fisiknya terlentang malas di atas tumpukan jerami kereta barang, Chung Myung meneguk kandungan air minum keras dari botol di genggaman tangannya dengan sangat rakusnya seutuhnya.
"……."
Wi Sohaeng hanya bisa berdiri diam menatap kosong ke arah pemandangan gila tersebut sejenak, sebelum akhirnya memalingkan kepalanya sedikit ke arah Baek Cheon dan melayangkan pertanyaan dengan nada suara yang sangat pelan seutuhnya.
"Seorang pendeta Taois, meminum minuman keras di depan umum……"
"Aturan hukum Sekte Gunung Hua sama sekali tidak pernah melarang keras murid kami untuk meminum air minuman keras sepanjang sejarah."
Ah, tentu saja aku secara pribadi telah mengetahui detail aturan hukum sekte tersebut sejak lama seutuhnya.
Aku sendiri bagaimanapun juga merupakan seorang pendekar yang lahir dan dibesarkan di bawah naungan nama besar sekte cabang bawahan Gunung Hua selama ini.
Meskipun begitu, bukankah tindakan merebahkan tubuh fisik secara malas-malasan di atas kereta barang sembari meneguk minuman keras dengan begitu santainya di saat para Paman Guru sekte sedang berada di tempat yang sama dirasa merupakan wujud tindakan yang terlampau keterlaluan sekali untuk diperagakan di depan umum seutuhnya?
Kejadian aneh macam apa ini? Dan perilaku macam apa lagi yang sedang diperagakan oleh mereka saat ini?
Yu Iseol, yang menempatkan posisi duduk fisiknya tidak jauh dari posisi rebahan Chung Myung saat ini, melemparkan sepotong daging sapi kering dengan gerakan santai tepat ke arah lubang mulut Chung Myung yang terbuka lebar seutuhnya.
Dan dengan sangat alaminya pula, Chung Myung langsung mengunyah potongan daging sapi kering yang berhasil mendarat dengan sempurnanya di dalam lubang mulutnya tersebut dengan ekspresi wajah sangat menikmati seutuhnya.
"……."
Ini benar-benar merupakan wujud pemandangan yang teramat sangat aneh dan tidak masuk akal sekali untuk disaksikan oleh akal sehat manusia mana pun di bawah langit seutuhnya.
Jika kau menilai tindakan penyajian makanan tersebut murni dari sudut pandang visual luarnya belaka, ini mungkin masih bisa dianggap sebagai wujud pemandangan indah yang memaparkan kehangatan hubungan persaudaraan seperguruan di antara saudara seperguruan…… bukan, di antara hubungan kepangkatan Paman Guru dengan keponakan murid seutuhnya di bawah langit.
Meskipun begitu, melayangkan sepotong daging kering dengan metode 'melemparkannya' langsung ke arah lubang mulut dari seorang keponakan murid yang sedang asyik mabuk-mabukan dirasa merupakan wujud tindakan yang agak kurang sopan untuk diperagakan di depan umum, bukan?
Metode pemberian makanan tersebut sama sekali tidak ada bedanya dengan metode melemparkan sepotong biskuit anjing ke arah seekor anjing peliharaan di rumah seutuhnya.
Dan yang jauh lebih gilanya lagi adalah kualitas kepribadian dari sang pelempar makanan, beserta wujud kepribadian dari sang penerima makanan yang terbukti dengan sangat gembiranya menangkap dan melahap potongan makanan tersebut seutuhnya tanpa adanya rasa tersinggung sedikit pun di dalam dadanya.
Sembari Wi Sohaeng terus memusatkan pandangan matanya menatap ke arah Chung Myung dengan wujud ekspresi wajah yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata saat ini, Baek Cheon berbisik pelan mendaratkan kata-katanya di lubang telinga pemuda tersebut seutuhnya.
"Tuan Muda Wi."
"Ya? Ah, ya!"
"Abaikan saja seluruh kelakuan gila yang sedang diperagakan oleh anak itu saat ini. Kelakuannya bukan merupakan jenis tindakan yang akan mampu kau pahami secara logis hanya bermodalkan mengamati wujud perilakunya belaka sepanjang hidupmu kelak seutuhnya."
Wi Sohaeng melayangkan pandangan mata melirik ke arah Yu Iseol cemas sejenak.
Kilatan di dalam pandangan matanya seolah-olah menyampaikan pesan: 'Lupakan saja perihal kelakuan gila dari bajingan yang sedang merebahkan tubuh fisiknya di sana, namun keanehan gila macam apa lagi sebenarnya yang sedang melanda kualitas kejiwaan dari gadis muda yang satu itu saat ini, tuan?'
"Kondisi kejiwaan yang sama juga terbukti berlaku mutlak bagi kelakuan gadis itu saat ini."
"……"
Meskipun rombongan perjalanan mereka saat ini terbukti telah resmi melangkahkan kaki meninggalkan Hwaeum menuju ke arah Namyang, Wi Sohaeng sama sekali tidak mampu menghentikan bagian otaknya untuk terus memelihara pertanyaan cemas yang berulang kali merayap memenuhi isi pikirannya perihal apakah keputusan pribadinya untuk membawa serta rombongan gila ini pergi bersamanya adalah keputusan yang tepat seutuhnya kelak.
"Jadwal perjalanan kita seharusnya dipetakan kelak pasti akan membutuhkan waktu sekitar dua hari perjalanan lamanya sebelum akhirnya kita sanggup menapakkan kaki di wilayah Namyang kelak."
Arah pandangan mata Wi Sohaeng bergeser sedikit menatap ke arah barisan depan kereta barang.
Ia menyaksikan dua ekor kuda tunggangan berkualitas unggul tampak melangkah berjalan kencang menarik beban kereta barang dengan sangat mudahnya, sementara Yoon Jong dan Jo Gul tampak menduduki kursi kusir kereta sembari mengendalikan tali kekang kuda dengan sangat terampilnya seutuhnya.
'Kedua ekor kuda tunggangan tersebut terpampang nyata menyandang nominal harga beli yang teramat sangat mahal sekali di pasaran.'
Itu adalah barisan kuda perang berkualitas tinggi yang sama sekali tidak layak untuk dialokasikan hanya demi menarik beban sebuah kereta barang bersahaja semacam ini seutuhnya di bawah langit.
Meskipun demikian berkat kontribusi besar dari kekuatan fisik kedua ekor kuda unggulan tersebut saat ini, laju kecepatan kereta barang mereka saat ini terbukti sanggup melesat membelah jalanan dengan laju kecepatan yang teramat sangat dahsyat sekali sepanjang jalan seutuhnya.
Laju kecepatannya dipastikan berjalan jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan laju kecepatan lari fisik maksimal dari Wi Sohaeng sendiri seutuhnya di bawah langit.
Mengingat mereka sama sekali tidak memiliki kebutuhan mendesak untuk beristirahat di tengah perjalanan selama ini, keputusan untuk mengamankan moda transportasi ini terbukti merupakan sebuah keputusan yang teramat sangat bijaksana sekali untuk diselesaikan seutuhnya.
Meskipun begitu……
Teguk, teguk, teguk.
"Keeeeuh. Wujud kenikmatan hidup yang sesungguhnya baru layak disebut berjalan seperti ini!"
Entah mengapa bagian hatinya mendadak didera oleh rasa sesak yang sangat aneh sekali seutuhnya saat mendengar suara teriakan puas tersebut.
Sebuah rasa sesak yang teramat sangat aneh sekali seutuhnya.
Wi Sohaeng di sepanjang hidupnya selama ini sama sekali tidak pernah sekali pun memelihara pemikiran buruk bahwa dirinya adalah tipe pendekar picik yang gemar menaruh rasa benci terhadap wujud kebahagiaan hidup yang dinikmati oleh orang lain sepanjang sejarah. Meskipun demikian, pendekar bernama Chung Myung di depannya saat ini terbukti memegang peranan penting yang sangat ahli sekali dalam hal memicu ketegangan saraf emosi dari orang-orang di sekelilingnya sepanjang waktu seutuhnya.
"Tuan Muda Wi."
"Ya, Taois Baek Cheon."
"Sekte macam apa sebenarnya wujud asli dari Sekte Bayangan Api milik kalian selama ini?"
Mendengar pertanyaan mendadak tersebut dilayangkan kepadanya baru saja, Wi Sohaeng sempat tertegun ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya bersiap melayangkan kalimat jawabannya, menyadari hal tersebut Baek Cheon dengan cepat menambahkan kalimat penjelasannya kembali seutuhnya.
"Aku menanyakan hal ini bukan murni didasari oleh rasa penasaran yang tidak sopan belaka seutuhnya. Hanya saja, jadwal keberangkatan rombongan kita kemarin terbukti berjalan dengan sangat terburu-buru sekali hingga kami sama sekali tidak sempat mendengarkan detail cerita terkait dengan sekte kalian secara mendalam selama ini. Aku pribadi memang telah mengetahui sejak lama bahwa ada nama sekte cabang bawahan bernama Sekte Bayangan Api yang bernaung di bawah naungan Gunung Hua milik kita. Namun mengingat tujuan kepergian rombongan kita hari ini tidak lain adalah murni bertujuan untuk turun tangan langsung menyelesaikan pertikaian fisik di sana kelak, aku menilai akan jauh lebih baik bagi kami untuk mengetahui lebih banyak lagi detail informasi terkait dengan sekte kalian kelak seutuhnya."
"Ah, bukan hal konyol semacam itu yang membuatku ragu-ragu baru saja, tuan. Aku sebenarnya murni hanya sedang kebingungan memikirkan metode bahasa macam apa yang paling tepat untuk kugunakan demi menggambarkan wujud sekte kami secara layak kelak……"
Wi Sohaeng menghentikan kalimat ucapannya canggung sembari mengarahkan tangannya menggaruk bagian belakang kepalanya pelan seutuhnya.
"Sekte kami sebenarnya bukan merupakan sebuah tempat bela diri yang tergolong istimewa atau megah di bawah langit."
"Sekte kalian adalah sebuah sekte yang sangat istimewa seutuhnya bagi Gunung Hua milik kita."
Baek Cheon melayangkan kalimat jawabannya menggunakan nada suara yang terdengar jauh lebih serius seutuhnya dari sebelumnya.
"Hingga kurun waktu belum lama ini, menyandang status hukum sebagai sebuah sekte cabang bawahan dari Gunung Hua yang telah runtuh selama puluhan tahun sama sekali tidak akan pernah memberikan keuntungan komersial apa pun bagi sekte cabang mana pun di bawah langit seutuhnya. Meskipun demikian di sepanjang masa-masa sulit tersebut, Sekte Bayangan Api terbukti secara konsisten terus dengan bangganya mendeklarasikan wibawa sekte kalian sebagai sekte cabang bawahan kami di depan umum. Kau dipastikan tidak akan pernah mampu menemukan sekte cabang bawahan yang loyalitasnya setinggi sekte kalian kembali bahkan jika kau bersedia membuang seluruh sisa hidupmu berkelana memindai seluruh penjuru dunia fana di bawah langit kelak seutuhnya."
Mendengar penuturan kalimat serius dari mulut Baek Cheon baru saja, bahkan Chung Myung yang sebelumnya sedang asyik merebahkan tubuh fisiknya terlentang malas di atas jerami tampak memalingkan pandangan matanya sedikit menatap ke arah Wi Sohaeng seutuhnya dalam keheningan.
"Semua pembelaan itu sebenarnya sama sekali tidak kami lakukan murni didasari oleh wujud rasa tanggung jawab agung yang mulia sepanjang sejarah seutuhnya, tuan. Melainkan hal luar biasa itu bisa terwujud nyata murni didasari karena Ayah sejak kecil selalu memelihara rasa kebanggaan yang sangat luar biasa tingginya terhadap status pribadinya sebagai seorang murid keturunan dari Sekte Gunung Hua yang agung seutuhnya."
Raut wajah Wi Sohaeng memancar agak redup dipenuhi emosi haru saat ia melayangkan kalimat penjelasannya baru saja.
'Perjuangan mempertahankan loyalitas tersebut dipastikan telah berjalan dengan sangat berat sekali bagi mereka selama ini.'
Chung Myung, yang mendengarkan penuturan kisah tersebut menggunakan lubang telinganya sembari terus mempertahankan posisi tidurnya terlentang malas, melepaskan suara decakan lidah yang sangat pelan seutuhnya.
Wi Sohaeng dipetakan pasti telah melayangkan kalimat desakan verbal berulang kali di masa lalu meminta Ayahnya untuk segera memutus hubungan hukum dengan nama besar Gunung Hua demi kelangsungan hidup sekte mereka selama ini seutuhnya.
Begitulah cara kerja dunia persilatan Murim yang sesungguhnya di bawah langit sepanjang sejarah.
Para pemuda di luar sana dipetakan kelak pasti akan jauh lebih memilih untuk melatih keahlian bela diri tingkat rendah dari sebuah sekte kecil yang sukses, dibandingkan dengan harus melatih keahlian bela diri tingkat tinggi yang bernaung di bawah naungan nama besar dari sebuah sekte persilatan yang telah runtuh lebur seutuhnya sepanjang sejarah.
Bagi mereka yang telah mengetahui kualitas kemerosotan Gunung Hua di masa lalu dipastikan tidak akan memiliki ketertarikan untuk melatih keahlian bela diri sekte karena alasan kemiskinannya, sementara bagi mereka yang sama sekali tidak mengetahui nama besar Gunung Hua dipetakan tidak akan tertarik karena alasan ketidakpopuleran nama baiknya selama ini.
Jika Sekte Bayangan Api bersedia mengambil keputusan pragmatis untuk menurunkan papan nama sekte cabang bawahan Gunung Hua sejak puluhan tahun yang lalu di depan gerbang mereka, operasional harian dan rekrutmen murid baru dari sekte mereka dipetakan kelak pasti akan berjalan dengan jauh lebih mudahnya seutuhnya sepanjang sejarah.
"Anda sama sekali tidak akan pernah sanggup membayangkan seberapa besarnya luapan kebahagiaan yang dirasakan oleh Ayah di saat beliau pertama kali mendengar kabar kemenangan bersejarah sekte Anda di turnamen Ancestral Flame Conference dua tahun yang lalu. Beliau saat itu menegaskan bahwa Sekte Gunung Hua akhirnya secara resmi telah siap untuk kembali membentangkan sayap kejayaan mereka di bawah langit, dan beliau bahkan rela meluangkan waktunya untuk menenggak habis isi dari dua buah tong minuman keras berukuran besar hari itu juga, jenis minuman keras memabukkan yang seumur hidupnya selalu ia hindari konsumsinya selama ini."
"Hmm."
Baek Cheon menganggukkan kepalanya pelan seutuhnya.
"Kau baru saja menegaskan secara resmi bahwa Ayahmu memelihara rasa kebanggaan yang sangat luar biasa tingginya terhadap status pribadinya sebagai seorang murid keturunan Gunung Hua seutuhnya?"
"Ya. Lebih tepatnya, silsilah keturunan darah dari kakek buyutku adalah merupakan seorang Murid Sekuler yang lulus langsung dari Sekte Utama Gunung Hua di masa lalu, bukannya wujud silsilah dari Ayahku sendiri seutuhnya…… Bagaimanapun juga, sejarah emas kakek buyut itulah yang selalu ia imani sebagai kebenaran mutlak di sepanjang hidupnya. Ia bahkan sering kali melontarkan penyesalan hidup terbesar di dalam dadanya karena tidak pernah diberikan kesempatan fisik yang layak seumur hidupnya untuk bisa diterima secara resmi sebagai Murid Utama dari Sekte Utama kita selama ini."
Baek Cheon menganggukkan kepalanya khidmat seutuhnya.
"Terlepas dari seluruh kesulitan hidup tersebut selama ini, Ayah selalu memelihara rasa kehormatan diri yang sangat tinggi sekali di sepanjang perjalanannya memimpin operasional Sekte Bayangan Api selama ini. Dan berkat berkah keberuntungan yang mengiringi langkah perjuangan kami selama ini, kami dipaksa harus bersyukur karena kelangsungan hidup sekte kami terbukti masih sanggup bertahan hidup tanpa perlu dilanda musibah kelaparan yang mematikan selama ini. Seandainya saja para bajingan keparat dari Aula Jalan Leluhur itu tidak bertindak dengan sangat kejamnya belakangan ini……"
"Kau baru saja menyatakan secara resmi bahwa Pemimpin Sekte kalian berakhir menelan kekalahan telak di dalam pertarungan pertikaian fisik menghadapi Ketua Aula Jalan Leluhur?"
"Tebakan Anda sangat benar seutuhnya, tuan. Meskipun begitu…… jalannya alur kekalahan dalam pertarungan tersebut sejujurnya terasa sangat janggal sekali bagi pemahamanku."
"Terasa sangat janggal?"
Wi Sohaeng menganggukkan kepalanya tegas.
"Ayah seumur hidupnya sama sekali tidak pernah sekali pun melalaikan jadwal latihan bela diri hariannya sepanjang waktu. Merupakan hal yang agak canggung bagiku untuk menyuarakan pujian bela diri ini di depan umum saat ini, namun tingkat pencapaian keahlian bela diri yang dikuasai oleh Ayahku saat ini dipastikan sama sekali tidak berada dalam tingkatan rendah yang akan sanggup dikalahkan dengan mudahnya oleh kekuatan pendekar muda sembarangan di bawah langit."
Itu adalah sebuah kenyataan bela diri yang sewajarnya terjadi di dunia persilatan seutuhnya.
Para pendekar yang secara konsisten terus melatih keahlian bela diri mereka dipetakan kelak pasti akan tumbuh menjadi jauh lebih kuat seiring dengan pertambahan usia fisik mereka sepanjang sejarah.
Di saat tubuh fisik dari manusia biasa dipetakan kelak pasti akan tumbuh semakin lemah dan massa otot mereka menyusut seiring dengan pertambahan usia mereka, tubuh fisik dari pendekar bela diri justru dipetakan kelak pasti akan mengalami penuaan fisik yang berjalan jauh lebih lambat, dan kadar Qi murni di dalam tubuh mereka dipetakan kelak pasti akan terkumpul semakin padat, sehingga mereka secara alami dipastikan kelak pasti akan tumbuh menjadi jauh lebih kuat seiring berjalannya waktu seutuhnya.
Itulah alasan utama mengapa dunia persilatan Murim adalah sebuah tempat luas yang tidak hanya dipenuhi oleh barisan pendekar tua yang lemah belaka seutuhnya, melainkan dipenuhi oleh sekelompok monster tua yang kekuatannya teramat sangat mengerikan sekali di bawah langit sepanjang sejarah.
"Meskipun demikian, Ketua dari Aula Jalan Leluhur yang melayangkan tantangan pertarungan kemarin terbukti menyandang usia fisik yang terhitung teramat sangat muda sekali seutuhnya. Aku secara pribadi benar-benar sama sekali tidak mampu memahami metode bela diri macam apa yang digunakan oleh pemuda tersebut hingga sanggup menumbangkan kekuatan bela diri Ayahku dengan begitu mudahnya di atas panggung kemarin."
"Hmm."
Kening dahi Baek Cheon tampak sedikit terlipat halus seutuhnya saat mendengar penjelasan tersebut.
'Ada lebih dari satu detail kejanggalan yang tersimpan di dalam pertikaian fisik ini rupanya.'
Pada awalnya, ia memelihara pemikiran sederhana bahwa masalah pertikaian ini hanyalah merupakan sebuah kasus pertikaian sepele biasa belaka di antara sesama sekte cabang bawahan di daerah. Namun setelah selesai mendengarkan seluruh detail penuturan sejarahnya baru saja, ada lebih dari beberapa poin kejanggalan nyata yang tidak biasa seutuhnya kelak.
Dan Pemimpin Sekte sendiri kemarin fajar juga sempat menarik badannya ke arah sudut halaman murni bertujuan untuk membisikkan wujud isyarat kecurigaan yang sama di dalam kepalanya seutuhnya kelak.
Wi Sohaeng melayangkan pandangan mata melirik ke arah Baek Cheon sejenak sebelum akhirnya kembali memberanikan diri membuka lubang mulutnya berbicara pelan.
"Sebenarnya, aku pribadi lah sosok tunggal yang sudah seharusnya melayangkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya kepadamu hari ini, tuan."
"Meminta maaf karena alasan apa?"
"Ayahku kemarin memaksakan kehendak pribadinya memintaku berlari kencang menuju ke Gunung Hua murni bertujuan untuk memohon bantuan penyelamatan darurat dari Sekte Utama. Namun di dalam lubang dadaku saat itu, aku sejujurnya sama sekali tidak memelihara keyakinan terkecil pun bahwa Sekte Utama Gunung Hua saat ini akan bersedia mengotori tangan mereka membantu kesulitan kami dengan begitu mudahnya hari ini."
"Ah."
Baek Cheon menganggukkan kepalanya memahaminya seutuhnya.
"Bagaimanapun juga, mengambil keputusan hukum untuk berhadapan langsung secara fisik menghadapi Sekte Wudang bukanlah merupakan sebuah pekerjaan sepele yang mudah untuk diselesaikan bagi sekte mana pun di bawah langit. Alasan krusial itulah yang membuat bagian hati kami juga sempat dirundung keputusasaan yang mendalam di masa lalu. Namun untuk berpikir bahwa sekte Anda hari ini ternyata bersedia secara sukarela mengutus barisan pendekar terbaik kalian pergi demi membantu keselamatan kami saat ini……"
Kalimat ucapan Wi Sohaeng mendadak terhenti di tengah jalan seolah-olah bagian kerongkongan tenggorokannya mendadak tersumbat rapat oleh rasa haru yang teramat sangat mendalam sekali seutuhnya.
Baek Cheon berdiri diam dalam keheningan menanti dengan penuh kesabaran hingga pemuda di depannya saat ini kembali menata emosi jiwanya seutuhnya kelak.
Setelah mengarahkan tangannya menutupi lubang mulutnya dan mendeham keras beberapa kali untuk menstabilkan kembali deru napasnya, Wi Sohaeng kembali melanjutkan ucapannya menggunakan nada suara yang terdengar agak serak dipenuhi oleh rasa haru kebahagiaan seutuhnya.
"Aku saat ini akhirnya benar-benar bisa memahami alasan utama mengapa nama besar Sekte Gunung Hua selalu terpatri kokoh di dalam lubang mulut Ayahku di sepanjang hidupnya selama ini. Terlepas dari wujud hasil akhir apa pun yang kelak akan kita dapatkan dari penyelesaian konflik fisik ini nanti kelak, aku bersumpah di sepanjang sisa hidupku kelak pasti akan selalu memelihara rasa syukur dan rasa hutang budi yang teramat sangat mendalam sekali ke hadapan Sekte Utama untuk selamanya."
Itu adalah sebuah alur percakapan hangat yang sangat menyejukkan hati bagi siapa pun yang mendengarnya seutuhnya.
Meskipun begitu, sangat disayangkan di atas permukaan kereta barang ini saat ini sedang terbaring malas sesosok murid gila yang memelihara alergi kejiwaan kronis yang kelak pasti akan memicu munculnya bentol alergi di sekujur kulit tubuh fisiknya setiap kali lubang telinganya dipaksa mendengarkan untaian kalimat hangat yang menyejukkan hati di depan umum.
"Terlepas dari wujud hasil akhir apa pun kelak?"
Mata Chung Myung berkilat tajam memancarkan kegilaan saat ia mendadak melompat bangkit berdiri tegak dari posisi tidur terlentangnya seutuhnya seketika.
Meskipun begitu, seiring dengan Yu Iseol yang dengan sangat tenangnya menempelkan satu jari telunjuknya tepat di atas ubun-ubun kepala Chung Myung dan menekan tubuh fisiknya ke bawah kencang, wujud tubuh fisik Chung Myung yang baru saja melompat bangkit terpaksa harus kembali turun terdorong ke bawah perlahan seutuhnya pasrah.
Meskipun demikian, lubang mulutnya terbukti sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelak pasti akan berhenti menyemburkan kalimat gila saat ini juga.
"Hasil akhir macam apa yang sedang kau maksudkan dengan istilah 'terlepas dari hasil apa pun' baru saja, hah?! Hanya ada satu wujud hasil akhir mutlak yang diperbolehkan untuk terjadi di bawah langit kelak seumur hidup kita! Yaitu kita wajib pergi ke sana membelah seluruh kepala dari para bajingan keparat itu hingga hancur berkeping-keping seutuhnya kelak!"
"Bukankah Pemimpin Sekte sendiri kemarin fajar telah melayangkan instruksi tegas melarang keras dirimu untuk memperagakan kekerasan fisik brutal semacam itu kelak?"
"Pemimpin Sekte dipetakan saat ini pasti sedang memelihara impian rahasia di dalam dadanya berharap rencana pembantaianku ini benar-benar terwujud nyata kelak. Usia kelangsungan hidup dari Pemimpin Sekte kita saat ini dipetakan sudah tidak memiliki sisa hari yang terlalu panjang lagi di bawah langit, jadi aku berkewajiban untuk menyajikan wujud pertunjukan menarik menyiksa kepala para bajingan Wudang tersebut di depan matanya sebelum ia resmi wafat kelak! Dengan metode itulah beliau kelak dipastikan pasti akan mampu melangkahkan kakinya naik menuju ke alam surga dengan senyuman lebar terpampang nyata di wajahnya, bukankah begitu adanya?"
Bagaimana mungkin sebuah untaian kalimat pendek yang teramat sangat kurang ajar sekali bisa mengandung kombinasi wujud rasa hormat yang mendalam kepada guru dan wujud rencana pembunuhan kejam secara bersamaan di dalam satu alur kalimat yang sama seutuhnya?
Kenyataan gila tersebut benar-benar berada jauh di luar batas nalar akal sehat manusia mana pun di bawah langit seutuhnya.
"Dan terlebih lagi secara jujur seutuhnya, bukankah memukuli tubuh dari para bajingan Wudang sampai babak belur adalah wujud impian terbesar yang paling didambakan oleh seluruh pendeta Taois sejati di bawah langit selama ini?"
Huh?
Uh…… asumsi kasarnya barusan entah mengapa terbukti sama sekali tidak salah seutuhnya.
"Kita wajib menunjukkan kepada mereka wujud kekuatan kita yang sesungguhnya kali ini!"
Mata Chung Myung berkilat tajam menyala dipenuhi oleh tekad bertarung yang membara hebat seutuhnya.
"Aku sebelumnya telah membulatkan tekad pribadiku untuk menjalani sisa kehidupanku di sekte ini dengan wujud ketenangan yang damai seutuhnya jika memungkinkan selama ini!"
Eh, klaim konyol barusan dipastikan sama sekali tidak benar adanya seutuhnya.
Kami semua telah mengenal dengan sangat baiknya wujud asli dari kualitas kemunafikan sifat perilakumu selama ini, bajingan gila.
"Para bajingan keparat itulah yang terbukti secara sepihak meluncurkan genderang perang permusuhan kepada kita terlebih dahulu sejak awal mula. Oleh karena itu, mereka diwajibkan hukumnya untuk menerima hukuman kehidupan yang setimpal seutuhnya kelak. Dae-sahyung! Apa yang sedang kau lakukan saat ini di depan sana! Cepat percepat laju lajunya kereta kita sekarang juga!"
"Laju kecepatan kereta kita saat ini terbukti telah berjalan dengan sangat cepatnya membelah jalanan selama ini. Jika kita memaksakan kuda tunggangan kita melaju jauh lebih cepat lagi dari kecepatan saat ini, kuda-kuda kita dipetakan kelak pasti akan segera kelelahan dan jatuh sakit nanti."
"Menurutmu seberapa besarnya nominal modal uang perak yang kuhabiskan murni bertujuan untuk membeli kepemilikan dari kedua ekor kuda perang unggulan tersebut, hah?! Tenang saja, tenang saja! Ketahanan fisik mereka dipetakan sanggup menempuh jarak perjalanan sejauh dua kali lipat lebih jauh dibandingkan dengan ketahanan fisik dari kuda perang biasa belaka di bawah langit, jadi singkirkan seluruh rasa cemas tidak bergunamu itu dan segera percepat lajunya kereta kita sekarang juga!"
"Ugh."
Yoon Jong menggelengkan kepalanya pasrah seutuhnya sembari melayangkan satu pecutan tali kekang ke arah pantat kedua ekor kuda perang di depannya kencang.
Seiring dengan laju kecepatan kereta barang mereka yang mendadak melesat meroket naik membelah jalanan jauh lebih cepat dari sebelumnya baru saja, tubuh fisik Chung Myung yang sedang terlentang malas di atas jerami tampak berguncang-guncang heboh mengikuti irama guncangan roda kereta seutuhnya.
"Aku pribadi sama sekali tidak memedulikan detail alasan konyol apa sebenarnya yang melatarbelakangi aksi permusuhan mereka kemarin. Namun aku dipastikan kelak pasti akan menunjukkan dengan sangat indahnya kepada seluruh dunia persilatan perihal takdir mengerikan macam apa yang kelak pasti akan menimpa keselamatan jiwa siapa pun pendekar di bawah langit yang berani mengusik nama besar Sekte Gunung Hua kelak!"
Sembari lubang telinganya dipaksa mendengarkan teriakan deklarasi perang yang teramat sangat angkuh dan keras tersebut baru saja, Baek Cheon hanya bisa melepaskan helaan napas panjang yang sangat dalam seutuhnya di dalam hatinya.
'Barisan murid Wudang di depan sana dipetakan sama sekali tidak akan pernah sanggup membayangkan kengerian macam apa yang sedang menanti kedatangan mereka di Namyang kelak.'
Kenyataan mengerikan bahwa sesosok monster anjing gila legendaris yang bahkan tidak sanggup dikendalikan perilakunya oleh pihak Sekte Gunung Hua sendiri saat ini sedang meluncur deras membelah jalanan murni bertujuan untuk menghancurkan keselamatan jiwa mereka di Namyang kelak.
Bagian hati terdalam Baek Cheon secara tulus melayangkan kalimat bela sungkawa yang teramat sangat mendalam sekali ke hadapan para murid Sekte Wudang yang saat ini kemungkinan besar sedang melangkahkan kaki mereka memasuki wilayah Namyang dengan hati yang naif dipenuhi oleh secercah harapan indah masa depan persilatan mereka seutuhnya kelak.











