Chapter 128: Pedang Gunung Hua Sangat Kuat (3)
"A-Apa…… Kejadian macam apa ini sebenarnya?"
Barisan adik seperguruan Wudang yang sebelumnya 'menerjang maju' melompati dinding pagar sekte tadi mendadak secara ajaib 'terbang melayang' kembali ke arah luar halaman sekte seutuhnya.
Dengan laju kecepatan terhempas yang terhitung mencapai kisaran angka dua kali lipat lebih dahsyat dibandingkan dengan laju masuk awal mereka seutuhnya kelak.
Barisan murid Sekte Wudang yang sedang berjaga di luar jalanan secara refleks langsung melemparkan tubuh fisik mereka ke depan murni bertujuan untuk menangkap jasad dari rekan seperjuangan mereka yang sedang meluncur deras di udara baru saja seutuhnya.
"Ugh."
"Agh…… Serangan mengerikan macam apa sebenarnya yang baru saja menghantam tubuh jasad kami tadi?"
Berkat berkah keberuntungan yang menyelimuti mereka saat ini, jasad mereka tampaknya sama sekali tidak menderita luka fisik yang tergolong fatal atau mematikan seutuhnya kelak.
Meskipun jika dinilai berdasarkan laju kecepatan terhempas mereka yang begitu dahsyatnya tadi, wujud tubuh fisik mereka secara mengejutkan terbukti sama sekali tidak terluka sedikit pun seutuhnya.
"Insiden macam apa sebenarnya yang terjadi di dalam halaman sekte tadi?"
"……Aku pribadi sama sekali tidak mengetahui kronologinya secara pasti saat ini, Sahyung. Aku sebelumnya murni hanya sempat menangkap kelebatan visual transparan samar belaka di depanku, dan setelah itu……."
Raut wajah Jin Hyeon langsung memancar mengeras kaku seketika itu juga seutuhnya.
'Mereka bahkan terbukti sama sekali tidak sanggup mendeteksi datangnya arah serangan fisik lawan mereka tadi?'
Itu adalah sebuah keanehan besar yang teramat sangat tidak masuk akal sekali seutuhnya di bawah langit.
Jika tragedi kelalaian semacam itu hanya melanda keselamatan satu orang murid saja di lapangan, hal tersebut dipetakan masih bisa dianggap wajar seutuhnya. Manusia bagaimanapun juga dipetakan kelak pasti akan selalu melakukan kesalahan di sepanjang hidupnya.
Meskipun demikian bagi tiga orang murid utama Sekte Wudang secara bersamaan untuk secara kompak terbukti gagal mendeteksi arah datangnya serangan fisik lawan di saat yang sama, merupakan sebuah kemustahilan besar yang sama sekali tidak akan pernah bisa diterima oleh logika berpikir manusia mana pun seumur hidupnya kelak.
Hal luar biasa semacam itu baru akan sangat mungkin terwujud nyata kelak jika tingkat kapasitas keahlian bela diri dari sang penyerang terbukti menyandang kapasitas kekuatan bertarung yang berada puluhan kali lipat jauh di atas tingkat kapasitas kekuatan bela diri yang dimiliki oleh ketiga muridnya selama ini seutuhnya kelak, meskipun begitu…….
'Pendekar yang saat ini sedang menetap di dalam kediaman sekte tersebut hanyalah merupakan barisan murid didikan dari Sekte Bayangan Api beserta utusan Gunung Hua belaka seutuhnya.'
Kerja pikirannya yang sebelumnya sempat berlari kencang memikirkan ribuan kemungkinan baru saja, secara cepat akhirnya berhasil mengamankan satu buah kalimat jawaban logis di dalam kepalanya seutuhnya.
"Tampaknya pihak lawan kita telah memasang jalinan perangkap formasi misterius di balik dinding pagar halaman sekte mereka semenjak kemarin. Meskipun bagian kepalaku saat ini masih sangat kesulitan menduga jenis perangkap macam apa yang mereka pasang selama ini."
"Apakah Sahyung sedang mencoba menegaskan secara resmi ke hadapan kami bahwa insiden tadi bukan merupakan wujud dari serangan fisik murni dari pendekar lawan?"
"Jika tragedi tadi benar-benar merupakan wujud dari serangan fisik murni dari seorang pendekar lawan sejati di bawah langit, menurutmu apakah tragedi mengerikan tersebut dipetakan kelak pasti akan berakhir dengan sangat baiknya hanya bermodalkan menelan kerugian fisik sepele semacam ini belaka kelak? Bahkan jika salah satu bagian anggota tubuh fisik mereka terbukti berakhir dengan tragedi buntung terpotong sekalipun, kejadian mengerikan semacam itu dipastikan sama sekali tidak akan pernah dinilai aneh bagi pandangan mata dunia persilatan kelak."
"Ah……! Analisis pikiran Anda barusan bersumpah terbukti sepenuhnya benar seutuhnya, Sahyung!"
Jin Hyeon menggigit bibir bawahnya pelan dalam keheningan seutuhnya.
'Sebuah jalinan perangkap formasi? Ataukah jangan-jangan?'
Ia pribadi memang sama sekali tidak mengetahui metode perangkap macam apa yang sedang dipasang oleh pendekar lawan di dalam halaman sekte mereka selama ini seutuhnya. Meskipun demikian, ada satu kenyataan konkrit yang terbukti sangat jelas terpampang nyata bagi inderanya saat ini: pihak lawan mereka dipetakan memelihara keberadaan dari seorang pendekar licik yang sangat ahli sekali di dalam hal memperagakan trik-trik tipuan kotor seutuhnya kelak.
Tampaknya wujud eksistensi trik kotor itulah yang melatarbelakangi alasan logis mengapa mereka kemarin fajar dengan begitu percaya dirinya berani memaksakan opsi perang terbuka fisik habis-habisan menghadapi rombongan kita kelak, alih-alih bersedia meluncurkan sesi pertarungan persahabatan sepele belaka seutuhnya kelak.
"Segerombolan tikus gembel yang hanya sanggup memperagakan trik tipuan murahan belaka seumur hidup mereka."
Jin Hyeon dengan gerakan gagah tampak menarik keluar pedang tajam miliknya dari sarungnya kencang dan melangkah mengambil dua langkah maju ke depan seutuhnya.
"Rapatkan barisan kalian kencang dan ikuti terus di belakang punggung jasad pribadiku kelak. Aku pribadi sama sekali tidak memedulikan detail perangkap kotor macam apa yang sedang mereka persiapkan di halaman sekte tersebut saat ini, aku dipastikan kelak pasti akan bertindak di barisan paling depan murni bertujuan untuk menghancurkan seluruh perangkap kotor mereka seutuhnya kelak nanti!"
"Baik, Sahyung!"
Jin Hyeon memusatkan sepasang bola matanya menatap tajam ke arah pintu gerbang utama Sekte Bayangan Api yang saat ini sedang tertutup dengan sangat rapatnya seutuhnya, bagian dadanya memelihara ketegangan saraf yang tipis seutuhnya.
Ia pribadi sejujurnya sama sekali tidak mengetahui bahaya macam apa yang sedang menanti kedatangannya di balik pintu gerbang utama tersebut seutuhnya kelak.
Meskipun demikian, bertindak terlampau cemas dan berhati-hati secara berlebihan dipetakan kelak pasti hanya akan berakhir dengan menyerahkan pergerakan fisiknya masuk ke dalam cengkeraman jalinan perangkap lawan seutuhnya kelak nanti.
"Maju pertempuran!"
Tanpa bersedia meluangkan waktu berharganya murni bertujuan untuk menanti kalimat respons jawaban dari adik seperguruannya baru saja seutuhnya, Jin Hyeon melesat menerjang maju kencang dan melayangkan satu pecutan tendangan kakinya menghantam daun pintu gerbang sekte kencang seutuhnya.
Brakkk!
Dengan diiringi oleh ledakan suara hantaman yang teramat sangat keras sekali seutuhnya, daun pintu gerbang sekte langsung hancur berkeping-keping memuntahkan serpihan kayu tajam ke segala penjuru arah di udara seutuhnya.
Kelebatan debu pekat yang membubung tinggi akibat ledakan tersebut secara perlahan mulai turun mereda, digantikan oleh keheningan mencekam yang merayap menyelimuti seluruh penjuru area seutuhnya kelak.
'……Di mana sebenarnya posisi perangkap misterius yang mereka banggakan selama ini?'
Ia sebelumnya telah memaksakan bagian hatinya bersiap sekuat tenaga menghadapi wujud perangkap mengerikan apa pun di balik pintu gerbang sekte tadi saat ia menerjang masuk. Namun di luar dugaannya, sama sekali tidak ada bahaya pertahanan apa pun yang menyambut kedatangan rombongan mereka saat ini seutuhnya.
Satu-satunya pemandangan nyata yang sedang disaksikan oleh sepasang bola matanya saat ini tidak lain adalah murni menyajikan wujud barisan murid Sekte Gunung Hua yang sedang berdiri santai di area tengah halaman sekte yang letaknya terhitung berada cukup jauh dari pintu gerbang utama, sembari memusatkan pandangan mata kosong mereka menatap heran ke arah kedatangan rombongannya seutuhnya dalam keheningan.
"Hei, alasan konyol macam apa sebenarnya yang membuat lubang kepalamu meluncurkan tendangan tendangan kasar untuk menghancurkan daun pintu gerbang sekte orang lain baru saja, hah? Pintu gerbang utama sekte ini bahkan bersumpah sama sekali tidak berada dalam kondisi terkunci sejak kemarin fajar baru saja seutuhnya. Barisan pendekar muda generasi zaman sekarang benar-benar terbukti sama sekali tidak pernah diajarkan perihal nilai etika kesopanan yang layak sepanjang hidup mereka belaka rupanya."
Chung Myung melepaskan suara decakan lidahnya sinis seutuhnya.
Yoon Jong di dalam hatinya saat ini bersumpah sangat ingin melayangkan ratusan kalimat teguran keras murni bertujuan untuk mengoreksi kejanggalan sikap moral dari anak gila di samping badannya tersebut saat ini juga. Meskipun demikian, mengingat wujud pasukan musuh saat ini terbukti telah resmi berada di depan mata kepala mereka seutuhnya kelak, ia terpaksa memilih menahan seluruh kata teguran tersebut rapat-rapat dalam keheningan.
Jin Hyeon melayangkan pandangan mata tajam memindai seluruh rombongan di depannya dari arah ujung kiri hingga ke ujung kanan halaman sekte, sembari melipat kening dahinya kesal seutuhnya kelak.
"Apakah total pasukan gembel kalian hari ini hanya diisi oleh kalian berlima belaka seutuhnya?"
"Kosakata sampah macam apa lagi sebenarnya yang sedang disemburkan oleh lubang mulut malko yang satu ini saat ini?"
Sembari Chung Myung menyuarakan kalimat jawabannya dengan nada suara yang teramat sangat acuh tak acuh belaka seutuhnya baru saja, Jin Hyeon melontarkan kalimat ucapannya menggunakan intonasi suara yang terdengar layaknya geraman seekor binatang buas yang lapar kencang seutuhnya.
"Kalian sekalian secara nyata benar-benar memelihara tekad bulat ingin berhadapan langsung secara fisik menghancurkan rombongan kami murni hanya bermodalkan mengandalkan kekuatan jasad kalian berlima belaka hari ini? Kualitas kepercayaan diri kalian bersumpah terbukti teramat sangat tinggi sekali seutuhnya di luar batas nalar kemampuannya. Meskipun begitu, aku pribadi sejujurnya sama sekali tidak mengetahui secara pasti apakah tindakan konyol kalian hari ini layak disebut sebagai wujud rasa percaya diri yang tinggi ataukah murni didasari atas wujud keangkuhan gila belaka seutuhnya kelak."
Chung Myung memalingkan wajahnya menatap lurus ke arah Yoon Jong dengan ekspresi wajah cemberut masam seutuhnya.
"Kalimat bahasa asing macam apa lagi sebenarnya yang sedang dicoba disuarakan oleh malko itu ke hadapan kita saat ini, Sahyung?"
"Aku pribadi sama sekali tidak mengetahui detail jawabannya secara pasti saat ini, Sajae. Meskipun jika bagian hatiku merasakannya kembali, wujud intonasi kalimat sombong yang dilontarkannya baru saja terasa agak sedikit akrab seutuhnya bagi lubang telingaku."
Chung Myung terkekeh sinis seutuhnya saat ia kembali membuka suara.
"Bukankah wujud keangkuhan dari malko di depan kita saat ini terlihat teramat sangat identik sekali dengan kualitas kepribadian dari Paman Guru Baek Cheon kita di masa lalu kehidupannya dahulu, Sahyung?"
Baek Cheon, yang kebetulan sedang berdiri diam di dekat posisi badan mereka dan secara tidak sengaja terpaksa harus menerima wujud serangan verbal tidak sopan tersebut baru saja, langsung menggertakkan sepasang gigi gerahamnya sangat kencang seutuhnya kelak.
"……Hentikan ucapan kasarmu itu sekarang juga."
"Hentikaaan, kau mengatakannya?"
"Hei!"
Sekujur raut wajah Baek Cheon langsung memancar merah padam layaknya buah bit matang seketika seutuhnya akibat menahan rasa malu yang mendalam di depan umum.
Meskipun demikian, bahkan bagi diri Baek Cheon sendiri sekalipun saat ini, bagian hatinya sama sekali tidak akan pernah sanggup melayangkan kalimat penyangkalan logis untuk membantah kenyataan riil bahwa seluruh rangkaian kalimat ucapan beserta perilaku yang sedang diperagakan oleh Jin Hyeon di depannya saat ini benar-benar terlihat sangat mirip sekali dengan wujud kepribadian aslinya di masa lalunya dahulu seutuhnya.
'Inilah wujud tragedi mengerikan yang kelak pasti akan menimpa keselamatan jiwa siapa pun pendekar di bawah langit yang tidak pernah diajarkan untuk menyadari dengan baik fakta riil bahwa di atas langit yang tinggi masih ada hamparan langit suci lainnya yang jauh lebih tinggi seutuhnya kelak.'
Detik di saat ia pertama kali menapakkan kaki menemui kehadiran Chung Myung di masa lalu kehidupannya dahulu, bagian ulu kepala dari Baek Cheon terbukti secara nyata telah dihancurkan berkeping-keping…… bukan murni dalam wujud majas kiasan belaka seutuhnya, melainkan bagian batok kepala fisiknya secara fisik benar-benar telah dihancurkan berkeping-keping oleh kekuatan pukulan anak gila tersebut saat itu, dan melalui tragedi fisik yang teramat sangat menyiksa itulah ia akhirnya dipaksa tersadar menyadari kenyataan realitas persilatan yang sesungguhnya terjadi seutuhnya kelak.
Meskipun begitu, tidak peduli seberapa pesatnya kualitas perkembangan sifat kedewasaan yang berhasil ia amankan di dalam dadanya selama dua tahun terakhir ini, menyaksikan wujud kebodohan masa lalunya kembali mewujud nyata di depan mata kepalanya sendiri hari ini bersumpah sama sekali tidak memberikan rasa nyaman sedikit pun bagi lubang dadanya seutuhnya kelak.
"……Mari kita selesaikan pertempuran fisik ini secepat mungkin kelak."
Sembari Baek Cheon menyuarakan kalimat tegasnya baru saja dengan sekujur wajah memancar merah padam, Yoon Jong beserta Jo Gul tampak memalingkan wajah mereka sedikit ke arah samping seutuhnya demi bisa menahan ledakan tawa geli mereka kencang dalam keheningan seutuhnya.
Dan menyaksikan kejanggalan interaksi di antara barisan pendekar Gunung Hua tersebut terpampang nyata di depan matanya saat ini, sebuah raut wajah yang memancarkan keguncangan mental yang hebat tampak merayap menyelimuti sekujur wajah Jin Hyeon seutuhnya kelak seketika.
Kejadian aneh macam apa ini sebenarnya? Wujud respons ketenangan santai macam apa yang sedang mereka peragakan di depan jasad kami saat ini?
'Apakah mereka saat ini sedang mempersiapkan perangkap formasi misterius lainnya di halaman ini?'
Meskipun begitu, tidak peduli seberapa kerasnya ia mencoba memindai seluruh penjuru halaman sekte dengan ketajaman sepasang matanya saat ini, ia bersumpah sama sekali tidak mampu menemukan tanda-tanda jalinan perangkap formasi ataupun mekanisme pertahanan misterius terkecil pun di tempat ini seutuhnya.
Bagaimanapun juga, jenis perangkap formasi tingkat tinggi macam apa sebenarnya yang akan sanggup dipasang secara rahasia di dalam area halaman sekte cabang kecil yang bersahaja semacam ini seutuhnya di bawah langit?
Meskipun demikian, mereka terbukti masih bersikeras melontarkan respons sikap santai yang meremehkan semacam ini ke hadapan jasad kami saat ini?
Sekujur raut wajah Jin Hyeon secara perlahan mulai memancar memerah padam dipenuhi oleh emosi amarah yang membara seutuhnya kelak.
'Rombongan bajingan ingusan tidak tahu diri!'
Menghancurkan seluruh pertahanan fisik tubuh jasad mereka saat ini juga tanpa perlu membuang-buang waktu melontarkan kata basa-basi tambahan dipetakan merupakan salah satu jalan keluar terbaik yang wajib segera ia selesaikan hari ini kelak. Meskipun begitu, murni menyelesaikan pertikaian fisik dengan metode damai semacam itu dirasa sama sekali tidak akan pernah sanggup memberikan rasa kepuasan batin yang ia dambakan di dalam dadanya seutuhnya kelak.
Lubang mulut Jin Hyeon secara perlahan kembali didorong terbuka kencang seutuhnya.
"Aku pribadi benar-benar sama sekali tidak mengetahui secara pasti dari mana sebenarnya wujud keyakinan diri gila semacam ini berhasil kalian dapatkan di dalam dada kalian hari ini. Apakah pihak Sekte Gunung Hua, sekte gembel yang di sepanjang sejarah panjangnya seumur hidup tidak pernah sekali pun mampu mengamankan satu kali kemenangan bertarung menghadapi Sekte Wudang kami di masa lalu, secara nyata benar-benar memelihara asumsi konyol meyakini rombongan gila kalian akan sanggup berdiri kokoh mengimbangi kapasitas kekuatan kami hari ini?"
Chung Myung melepaskan suara tawa hampa yang tipis dari balik bibirnya seutuhnya.
"Siapa pendekar bodoh di dunia luar yang berani menyebarkan kebohongan publik menyatakan sekte kami tidak pernah sekali pun mengamankan kemenangan bertarung menghadapi Sekte Wudang di masa lalu, hah? Sekitar kurun waktu seratus tahun yang lalu di masa lalu kita, tingkat kapasitas kekuatan bertarung yang dikuasai oleh sekte kami terbukti secara mutlak berdiri jauh lebih perkasa melampaui batas kekuatan sekte kalian seutuhnya, kau mengetahuinya?"
Meskipun kenyataan sejarah emas tersebut memang tidak pernah sekali pun mendapatkan pengakuan resmi secara tertulis dari pihak Sekte Wudang sepanjang sejarah persilatan seutuhnya kelak.
"Ha? Kurun waktu seratus tahun yang lalu?"
Jin Hyeon menyunggingkan senyuman ejekan yang tipis di wajahnya seutuhnya.
"Ya, benar sekali. Masa keemasan seratus tahun yang lalu tersebut. Sebuah aliran waktu yang dipenuhi oleh wujud kebesaran dari Plum Blossom Sword Saint, nama kehormatan leluhur gila yang hingga detik ini terus kalian bangga-banggakan dengan sangat angkuhnya di depan umum."
"Huh?"
Sepasang kelopak mata Chung Myung tampak sedikit membelalak lebar seketika seutuhnya.
Mendengarkan sebutan nama gelar kehormatan 'Plum Blossom Sword Saint' disuarakan secara resmi dari lubang mulut malko di depannya baru saja bersumpah terasa menyajikan sensasi keunikan yang sangat asing sekali bagi inderanya seutuhnya saat ini.
Ia bahkan terbukti sangat jarang sekali mendengarkan sebutan nama gelar kehormatan masa lalunya tersebut disuarakan di lingkungan Sekte Gunung Hua sendiri selama ini, namun hari ini nama gelar kehormatan tersebut justru terbukti meluncur bebas dari lubang mulut seorang murid Sekte Wudang seutuhnya kelak.
"Apakah isi kepalamu saat ini secara nyata benar-benar telah menyadari dengan sangat baiknya sebuah catatan sejarah tersembunyi yang menegaskan bahwa sosok Plum Blossom Sword Saint yang sangat kalian dewa-dewakan selama ini sebenarnya telah menelan kekalahan bertarung secara mutlak dihantam oleh kekuatan Kaisar Pedang Taiji dari Sekte Wudang kami di masa lalu?"
"Apa?"
Sebuah teriakan amarah yang teramat sangat tajam sekali tampak meluncur bebas dari balik belahan bibir Baek Cheon seketika seutuhnya.
"Omong kosong tidak berguna macam apa sebenarnya yang sedang dicoba disemburkan oleh lubang mulut kotormu baru saja, hah?!"
"Hahaha. Omong kosong tidak berguna, kau menyatakannya? Kedua belah sosok leluhur agung kita tersebut terbukti secara sah telah melangsungkan satu sesi pertarungan meditasi rahasia satu lawan satu di masa lalu mereka seutuhnya. Dan sosok Kaisar Pedang Taiji kami saat itu murni memilih opsi untuk secara rahasia menyembunyikan detail hasil akhir kekalahan mutlak tersebut murni bertujuan demi menjaga harga diri tinggi dari Plum Blossom Sword Saint seutuhnya sepanjang sejarah."
"Kau bajingan……."
"Anda sekalian sudah sewajarnya wajib melatih fungsi otak kalian untuk mengingat dengan sangat baiknya mulai detik ini bahwa segerombolan tikus gembel sekelas Gunung Hua sama sekali tidak akan pernah diperbolehkan memelihara kelancangan untuk sekadar disandingkan namanya sebagai saingan Wudang kelak untuk selamanya."
Detik di saat untaian kalimat ancaman kasar tersebut resmi disuarakan baru saja, sekujur raut wajah dari seluruh murid Gunung Hua langsung memancar memerah padam dipenuhi oleh emosi amarah yang membara hebat seutuhnya seketika.
Mereka dipetakan masih akan sanggup menahan kadar kesabaran mereka jika kualitas diri mereka sendiri secara pribadi yang menjadi sasaran penghinaan dari pihak luar selama ini. Meskipun begitu, melayangkan kalimat penghinaan yang merendahkan martabat Sekte Gunung Hua adalah sebuah pantangan besar yang sama sekali tidak akan pernah mereka toleransi seumur hidup mereka kelak di bawah langit seutuhnya.
Sebutan nama kehormatan dari sang Plum Blossom Sword Saint adalah merupakan wujud simbol kebanggaan dan harga diri mutlak yang menyokong kelangsungan hidup dari seluruh murid Sekte Gunung Hua seutuhnya kelak.
"Beraninya sesosok serangga kecil sepertimu memiliki kelancangan mulut melontarkan kalimat meremehkan ke hadapan nama kehormatan beliau di depan umum hari ini!"
"Kami sebelumnya terbukti telah bersedia meluangkan segenap batas kesabaran kami murni bertujuan untuk mendengarkan seluruh detail ocehan sampahmu sedari tadi, namun kelakuan mulutmu saat ini terbukti telah terlampau melampaui batas kewajaran sekali seutuhnya!"
"Beliau sama sekali bukan merupakan sesosok manusia biasa yang diperbolehkan untuk diseret masuk ke dalam lubang mulut kotormu dengan begitu mudahnya di depan umum hari ini, bajingan."
"……Tindakan kasarmu hari ini bersumpah sama sekali tidak akan pernah mendapatkan ampunan dari pedang kami kelak."
Sembari memusatkan sepasang bola matanya menyaksikan ledakan respons amarah yang begitu dahsyatnya dilayangkan secara kompak oleh seluruh rekan seperguruannya baru saja seutuhnya, sebuah rasa kesedihan melankolis yang teramat sangat janggal sekali mendadak merayap memenuhi bagian lubang dada terdalam Chung Myung seutuhnya saat itu juga.
Tolong peragakan wujud pembelaan moral yang begitu megahnya ke hadapan jasad pribadiku saat ini juga minimal sekali seumur hidup kalian, keparat! Hei, kalian sekalian! Pendekar yang sedang berdiri di samping badan kalian saat ini tidak lain adalah sosok Plum Blossom Sword Saint yang sesungguhnya yang sedang kalian bela mati-matian tersebut, namun mengapa kalian semua justru terbukti secara konsisten terus melayangkan siksaan mental dan memaki diriku sepanjang hari di sekte selama ini, hah?! Sialan, persetan dengan takdir kehidupan konyol ini seutuhnya. Kenyataan gila yang bahkan seumur hidupku sama sekali tidak diperbolehkan untuk kusuarakan secara jujur ke hadapan kalian sendiri saat ini! Keanehan takdir macam apa sebenarnya di bawah langit ini yang sanggup menandingi kadar kesedihan jiwaku saat ini!
Meskipun begitu, di luar dari wujud pergolakan batin yang teramat sangat menggelikan sekali di dalam lubang dadanya baru saja, Chung Myung sama sekali tidak memelihara emosi amarah terkecil pun di dalam dadanya saat mendengarkan kalimat kebohongan sejarah yang disemburkan oleh Jin Hyeon baru saja. Ia murni hanya merasa teramat sangat terperangah linglung saja seutuhnya kelak.
'Wah, jadi seperti inilah metode nyata yang digunakan oleh para sejarawan palsu untuk mengacak-acak catatan sejarah kejayaan masa lalu rupanya.'
Sosok bajingan tua Wudang di masa lalu kehidupannya dahulu, sosok pendeta Taois munafik yang raut wajahnya terpampang nyata seolah-olah sanggup melesat terbang naik menuju ke alam surga dan menunggangi gumpalan awan mistis kapan pun ia menginginkannya selama ini, di masa lalu terbukti telah bersumpah memohon dengan sangat histerisnya meminta jasadku untuk bersedia melangsungkan sesi pertarungan meditasi rahasia secara privat, dan aku pribadi saat itu murni hanya menyetujui usulan tersebut murni disebabkan karena bagian kepalaku merasa teramat sangat malas sekali meladeni detail perdebatan panjang dengannya seutuhnya. Apa? Siapa sebenarnya sosok yang berhasil menumbangkan siapa di dalam pertarungan privat tersebut, hah?
- Tindakan kelicikan dan kekejaman sifat perilaku yang kau peragakan selama ini bersumpah terbukti telah terlampau melampaui batas toleransi moral kemanusiaan seutuhnya kelak. Sebagai sesosok rekan Taois seperjuangan di bawah langit, aku hari ini membulatkan tekad kelak pasti akan mengajari fungsi otokmu untuk memahami esensi jalan kebenaran Taois yang sesungguhnya kelak. Jangan pernah sekali pun melayangkan kalimat keluhan menyalahkan genggaman pedang tajamku yang tidak memiliki belas kasihan hari ini kelak, melainkan segeralah melatih fungsi kesadaran batinmu untuk merenungi seluruh perbuatan dosa yang telah kau laksanakan selama ini seutuhnya kelak.
- ……Aku, aku pribadi secara resmi bersedia melayangkan pengakuan jujur di depan umum mengakui secara sah bahwa tingkat kapasitas pencapaian bela diri yang kau kuasai saat ini terbukti telah berada jauh melampaui batas nalar kapasitas kemampuanku seutuhnya kelak. Aku saat ini akhirnya berhasil menyadari secara nyata bahwa porsi latihan meditasi dan pemahaman spiritual yang kukuasai di dalam dadaku terbukti masih teramat sangat dangkal sekali belaka seutuhnya kelak, oleh karena itu aku secara sepihak memilih opsi untuk segera angkat kaki menarik mundur seluruh kekuatanku kelak. Tidak…… bukankah sudah kukatakan kepadamu secara jelas baru saja bahwa aku pribadi bersedia mengambil keputusan menarik mundur pasukanku kelak? Ah, tidak, tunggu sebentar, tolong berikan aku sedikit waktu luang sebentar!
- Tolong hentikan pukulan brutalmu itu sekarang juga! Jasad pribadiku bersumpah telah menerima porsi hantaman fisik yang terlampau lebih dari cukup untuk membuatku mati lebur hari ini! Apakah di dalam aturan ajaran Taois suci yang kau imani selama ini diajarkan wujud metode penyiksaan fisik yang teramat sangat kejam sekali semacam ini ke hadapan sesama pendeta, hah?…… Uwaaak! Uwaaak! Tidak, meluncurkan pukulan fisik brutal di saat lawan bicaramu sedang melangsungkan kalimat penjelasannya bersumpah terbukti teramat sangat…… Uwaaaaak!
- Kakak Besar! Tolong ampunilah keselamatan jiwa adikmu ini hari ini, kumohon!
"Ia di masa lalunya dahulu adalah sesosok adik seperguruan yang sangat baik seutuhnya."
Meskipun jika dinilai berdasarkan parameter usia fisik yang sesungguhnya terjadi di lapangan saat itu, usia fisiknya dipetakan berada dalam rentang angka yang jauh lebih tua dibandingkan dengan usia fisikku sendiri seutuhnya. Meskipun demikian, mengingat ia sendiri sosok pertama yang bersedia merapatkan kedua belah telapak tangannya memohon ampun sembari memanggilku menggunakan sebutan Kakak Besar di depan umum, apa lagi sebenarnya tindakan lain yang sanggup kulakukan untuk merespons ketulusan pengakuannya saat itu, bukan?
"Huh?"
"Sama sekali tidak ada hal luar biasa apa pun. Bukan merupakan masalah besar yang penting seutuhnya kelak."
Chung Myung melayangkan lambaian satu tangannya santai seutuhnya.
Dan setelah hari pertarungan bersejarah itu berlalu di masa lalu, setiap kali langkah kakinya kebetulan berkesempatan melintasi area perbatasan wilayah Sekte Wudang, ia dipetakan kelak pasti akan langsung memanggil keluar jasad pemuda tersebut murni bertujuan untuk merampok habis-habisan seluruh modal uang perak di dalam kantong celananya seutuhnya kelak sepanjang jalan. Wilayah Wuhan di masa lalu adalah merupakan sebuah kota komersial yang teramat sangat makmur sekali di bawah langit, sehingga sangat mudah sekali bagi siapa pun untuk menemukan keberadaan dari puluhan tavern mewah yang menyajikan barisan menu makanan termahal di sana. Dan bagian hatinya selalu memelihara kenangan manis di sepanjang sisa kehidupannya tentang seberapa menyenangkannya wujud kegembiraan yang ia dapatkan di saat ia secara konsisten terus meluncurkan aksi menyewa paksa seluruh lantai teratas dari tavern mewah murni bermodalkan menguras modal uang perak milik Sekte Wudang sepanjang hari seutuhnya kelak. Membayangkan kembali wujud raut wajah dari sang Kaisar Pedang Taiji yang langsung memancar menggelap suram layaknya jasad membusuk setiap kali ia dipaksa menyaksikan aksi perampokan finansial tersebut di masa lalu bersumpah selalu terbukti sanggup menyajikan secuil kepuasan batin yang sangat indah di dalam lubang dadanya seutuhnya sepanjang sejarah kelak. Ah, masa-masa indah itu benar-benar merupakan aliran waktu yang sangat menyenangkan sekali seutuhnya kelak.
Tidak……. Aliran waktu saat ini dipetakan sama sekali tidak diperbolehkan untuk disia-siakan murni bertujuan untuk menghanyutkan fokus pikiran di dalam rawa kenangan masa lalu seutuhnya kelak.
"Wah, jadi catatan sejarahnya berakhir terdistorsi dengan wujud konyol semacam ini belaka rupanya kelak."
Sama sekali tidak ada satu orang pun pendekar di seluruh penjuru dunia persilatan saat ini yang mengetahui kebenaran sejarah yang sesungguhnya terjadi, dan sama sekali tidak ada selembar pun sertifikat bukti sejarah yang tersisa untuk membuktikannya seutuhnya kelak, bukankah begitu kenyataannya?
Tepat pada momen keheningan tersebut melanda Chung Myung baru saja, Jin Hyeon yang terbukti secara sepihak telah salah menafsirkan keheningan sikap yang ditunjukkan oleh Chung Myung tampak menyunggingkan senyuman ejekan yang tipis di wajahnya saat ia menyuarakan teriakan lantangnya seutuhnya kelak.
"Bahkan Sekte Gunung Hua di masa keemasan puncaknya seratus tahun yang lalu sekalipun terbukti sama sekali tidak akan pernah sanggup mengimbangi wibawa kekuatan Sekte Wudang kami kelak. Apakah kau sekalian tidak memelihara secuil pun logika berpikir sehat di dalam kepala kalian hingga dengan beraninya memelihara keangkuhan gila berniat menghancurkan rombongan kami hari ini? Kualitas kehormatan diri yang kalian banggakan barusan dipetakan sama sekali tidak lebih dari sekadar sampah tidak berguna di hadapan kewibawaan Sekte Wudang kami……."
"Hei. Apakah rombongan kita dipetakan sudah diperbolehkan untuk segera menghentikan seluruh detail basa-basi verbal tidak berguna dari lubang mulutmu itu sekarang juga dan langsung meluncurkan pertempuran fisik kita saat ini juga, hah?"
"……"
Chung Myung melepaskan helaan napas panjang yang teramat sangat berat sekali seutuhnya di dalam dadanya kelak.
"Secara jujur seutuhnya. Alasan logis macam apa sebenarnya yang melatarbelakangi alasan mengapa kalian sekalian harus bersikeras menyeret masuk perihal siapa sosok yang berhasil menumbangkan siapa di dalam pertempuran seratus tahun yang lalu, hah? Apakah di dalam isi kepala kotormu saat ini kau memelihara asumsi bodoh meyakini jasad dari para leluhur yang hidup seratus tahun yang lalu dipetakan kelak pasti akan melompat keluar dari dalam liang lahat mereka murni bertujuan untuk melayangkan sorak-sorai bantuan di belakang punggung jasad kalian hari ini? Mereka semua telah terlanjur mati membusuk di dalam permukaan tanah kotor sejak lama, bajingan! Jika bagian hatimu memang terbukti teramat sangat mencintai wujud eksistensi dari jasad-jasad tua membusuk semacam itu sepanjang hidupmu, mengapa kau kemarin fajar bersikeras melangkahkan kakimu dididik sebagai seorang pendeta Taois, bukannya memilih opsi untuk…… Ah, kau bagaimanapun juga merupakan seorang murid dari Wudang seutuhnya."
Apakah karena alasan silsilah sekte tersebut yang melatarbelakangi kebodohannya selama ini?
"……Beraninya makhluk gembel sepertimu melontarkan kelancangan ucapan semacam itu ke hadapanku?!"
"Bagaimanapun juga, inilah alasan utama mengapa bagian hati pribadiku seumur hidup selalu teramat sangat membenci sekali wujud eksistensi dari segerombolan monster tua kolot yang cara berpikirnya terlampau kuno sekali sepanjang sejarah……."
Meskipun bagian jiwanya menyadari dengan sangat jelas perihal catatan sejarah masa lalu pribadinya telah diacak-acak dan diputarbalikkan secara sepihak oleh Sekte Wudang selama ini, Chung Myung sama sekali tidak memelihara emosi amarah terkecil pun di dalam dadanya kelak.
'Apa peduliku terhadap detail kebohongan sejarah semacam itu seutuhnya kelak. Jasad pribadiku di masa lalu bagaimanapun juga terbukti tetap berakhir dengan tragedi mati lebur dihantam secara bersamaan oleh kekuatan dari sang Heavenly Demon seutuhnya kelak.'
Satu-satunya kenyataan yang memegang peranan terpenting di dunia fana tidak lain adalah wujud kapasitas kekuatan yang dikuasai oleh tangan jasad kita saat ini seutuhnya. Dan juga…….
'Hanya pihak yang tangguh dan menyandang kapasitas kekuatan mutlak saja di tangan mereka yang kelak pasti akan diberikan hak istimewa untuk menyuarakan apa pun kebenaran sejarah yang mereka inginkan kelak di bawah langit seutuhnya.'
Jika Sekte Gunung Hua saat ini terbukti menyandang kapasitas kekuatan bertarung yang berada jauh melampaui batas kekuatan Sekte Wudang kelak nanti, para bajingan Wudang di depannya saat ini dipetakan sama sekali tidak akan pernah memiliki keberanian mental untuk sekadar melontarkan kalimat omong kosong semacam ini di depan umum seumur hidup mereka kelak. Sebaliknya seutuhnya, jika kualitas kekuatan Gunung Hua saat ini terbukti berdiri secara mutlak jauh lebih perkasa melampaui batas kekuatan Wudang kelak, seluruh dunia persilatan dipetakan kelak pasti tidak akan melayangkan kalimat bantahan apa pun sekalipun pihak sekte kita melontarkan klaim sepihak mendeklarasikan bahwa tingkat keahlian bela diri dari Plum Blossom Sword Saint terbukti berdiri jauh lebih perkasa melampaui batas kekuatan dari Jang Sambong (Zhang Sanfeng) sekalipun sepanjang sejarah kelak.
Catatan sejarah emas, aliran uang perak, hingga hak suara di dunia persilatan—pada kenyataannya di lapangan, seluruh hal luar biasa tersebut tidak lebih dari sekadar hak istimewa yang hanya akan bisa dinikmati secara sah oleh pihak yang kuat seutuhnya di bawah langit. Dan bagi diri Chung Myung sendiri saat ini, ia sama sekali tidak memelihara kalimat keluhan atau keberatan terkecil pun terkait dengan cara kerja hukum rimba persilatan tersebut seutuhnya sepanjang hidup.
'Karena pendekar yang diproyeksikan kelak pasti akan tumbuh menyandang kapasitas kekuatan terkuat di bawah langit tidak lain adalah jasad pribadiku sendiri seutuhnya!'
Seluruh kejayaan dan hak istimewa tersebut dipetakan kelak pasti akan kembali menjadi milik jasad pribadiku seutuhnya kelak. Ini adalah sejenis masalah sederhana yang dipetakan kelak pasti akan segera terselesaikan secara otomatis segera setelah pihak Sekte Gunung Hua berhasil memukuli seluruh jasad murid Sekte Wudang hingga babak belur kencang seutuhnya kelak. Dan yah, sebenarnya sama sekali tidak menjadi masalah besar yang penting sekalipun detail catatan sejarah tersebut terbukti berakhir tidak pernah diluruskan kembali seumur hidupnya kelak. Wujud Chung Myung di kehidupannya saat ini murni hanya perlu melatih kapasitas bela dirinya dengan sebaik-baiknya agar kelak pasti akan sanggup mengamankan reputasi nama harum yang berada jauh lebih agung melampaui batas kejayaan yang pernah diamankan oleh sang Plum Blossom Sword Saint di masa lalunya dahulu seutuhnya kelak.
"Jika kau sekalian memang benar-benar diwajibkan untuk menyaksikan pertumpahan darah secara nyata terlebih dahulu hari ini baru akan sanggup mengembalikan fungsi akal sehat di dalam lubang kepala kalian kelak……"
"Tuan Muda Wi! Tuan Muda Wi!"
Tepat di saat Jin Hyeon bersiap melayangkan kalimat ancaman penindasan lanjutannya baru saja, Chung Myung dengan sangat tenangnya langsung memotong kalimat ucapannya secara sepihak seutuhnya, sembari memalingkan wajahnya ke arah belakang memanggil keras keberadaan Wi Sohaeng seutuhnya.
Wi Sohaeng, yang sedari tadi berdiri diam menyimak jalannya ketegangan di halaman sekte dari arah barisan paling belakang, melayangkan pertanyaan cemasnya menggunakan ekspresi wajah yang dipenuhi kebingungan seutuhnya.
"Ya, ada apa, tuan?"
"Apakah kau pribadi terbukti telah selesai melangsungkan seluruh detail instruksi tugas yang kulayangkan ke hadapanmu kemarin fajar?"
"Apakah tugas menyangkut penyebaran rumor sengketa wilayah tersebut yang sedang Anda tanyakan baru saja, tuan? Y-Ya, benar sekali! Aku pribadi telah meluncurkan segenap usaha terbaikku demi bisa menyebarkan seluruh detail informasi sengketa tersebut ke hadapan seluruh masyarakat di penjuru wilayah Namyang sejak kemarin fajar."
"Kerja kerasmu bersumpah terbukti berjalan dengan sangat luar biasa indahnya seutuhnya. Baiklah kalau begitu, pasang kuda-kuda fisik kalian kencang sekarang juga!"
Chung Myung dengan gerakan gagah tampak menarik keluar pedang tajam miliknya dari sarungnya kencang seutuhnya. Menyaksikan ditariknya pedang tajam tersebut baru saja, seluruh murid Sekte Wudang secara refleks tampak tersentak cemas sedikit dan mengambil satu langkah mundur ke belakang kencang seutuhnya. Sebuah serangan yang meluncur dengan sangat mendadak sekali seutuhnya…….
Seiring dengan diayunkannya pedang tajam di tangan Chung Myung baru saja, kelebatan energi pedang (Sword Qi) tampak meledak hebat memancar keluar dari arah ujung mata pedangnya kencang seutuhnya. Meskipun demikian, arah tebasan dari energi pedang dahsyat miliknya barusan terbukti sama sekali tidak diarahkan murni bertujuan mengincar jasad dari murid Sekte Wudang yang sedang berdiri di depannya saat ini. Melainkan tebasan energi pedang dahsyat milik Chung Myung terbukti secara sepihak meluncur deras menebas hancur permukaan dinding tembok pagar batu Sekte Bayangan Api berulang kali dengan sangat kasarnya seutuhnya kelak.
Kurururung!
Dalam kurun waktu satu kelebatan napas belaka seutuhnya, dinding tembok pagar batu yang kokoh melingkari Sekte Bayangan Api langsung runtuh lebur seutuhnya memuntahkan tumpukan puing batu kotor ke segala penjuru arah seutuhnya.
"Perbuatan gila macam apa sebenarnya yang baru saja Anda lakukan di tempat ini, tuan?!"
Sepasang kelopak mata Wi Ripsan langsung membelalak lebar seketika seutuhnya akibat dirundung keguncangan mental yang hebat. Alasan logis macam apa sebenarnya yang melatarbelakangi alasan mengapa bocah ingusan yang wataknya tidak berbeda jauh dengan seekor ikan glodok (mudskipper) lumpur ini mendadak melayangkan tebasan pedang murni bertujuan untuk meruntuhkan dinding pagar batu milik sekte orang lain secara sepihak hari ini?
"Ah……."
Meskipun begitu, seiring dengan sepasang bola matanya yang berhasil menangkap kelelebatan pemandangan nyata yang tersaji tepat di balik reruntuhan dinding pagar batu yang baru saja runtuh lebur baru saja, Wi Ripsan secara cepat akhirnya berhasil memahami esensi dari tujuan tindakan gila Chung Myung seutuhnya kelak.
Tepat di balik reruntuhan pagar batu tersebut saat ini, puluhan ribu penduduk sipil setempat dari wilayah Namyang tampak telah berkumpul padat bergerombol memenuhi jalanan luar sekte seutuhnya. Mengingat lubang telinga mereka telah mendengar desas-desus hangat yang beredar sejak kemarin fajar yang menyatakan bahwa Sekte Wudang beserta Sekte Gunung Hua diproyeksikan kelak pasti akan melangsungkan sesi pertempuran fisik habis-habisan di halaman Sekte Bayangan Api hari ini, mereka semua terbukti telah secara kompak sekuat tenaga menepis rasa ketakutan dingin di dalam dada mereka murni bertujuan agar bisa berkumpul di luar pagar menyaksikan jalannya pertempuran secara langsung hari ini seutuhnya. Bagaimanapun juga, sesosok manusia fana mana di bawah langit ini yang dipetakan akan sanggup menahan kadar rasa penasaran mereka untuk sekadar melewatkan kesempatan emas menyaksikan wujud pertempuran legendaris di antara kedua belah sekte Taois raksasa semacam ini kelak?
"Kebetulan bagian hati pribadiku selalu teramat sangat menyukai sekali wujud pertunjukan pertempuran yang panggung pertunjukannya sengaja dirancang dengan ukuran yang jauh lebih megah dan luas di depan umum kelak seutuhnya."
Chung Myung menyeringai lebar menyajikan senyuman seringai yang sangat licik seutuhnya.
Tujuan utama dari keputusan keberangkatan rombongan mereka menempuh perjalanan jauh mengunjungi tempat ini sejak awal mula bagaimanapun juga sama sekali tidak pernah terbatas hanya murni bertujuan untuk mengamankan keselamatan Sekte Bayangan Api belaka seutuhnya di bawah langit. Melainkan rombongan mereka diwajibkan sekuat tenaga memastikan bahwa ada sebanyak mungkin pasang mata pendekar luar yang kelak pasti akan menyaksikan secara nyata bagaimana takdir kehancuran mutlak kelak pasti akan menimpa jasad murid Sekte Wudang dihantam secara brutal oleh kekuatan pedang Gunung Hua kelak seutuhnya. Reputasi nama harum yang dikumpulkan sedikit demi sedikit melalui jalinan kemenangan riil semacam inilah yang kelak di masa depan nanti diproyeksikan pasti akan menyokong kokoh kembalinya wibawa kejayaan Gunung Hua yang sesungguhnya di bawah langit seutuhnya kelak.
"……Tindakan penyambutan penonton ini bersumpah terasa agak sedikit terlampau heboh sekali belaka rupanya."
Mendengar gumaman cemas yang dilontarkan oleh Baek Cheon baru saja, Chung Myung murni hanya menyajikan senyuman seringai tipis di wajahnya seutuhnya.
"Bukankah kau sendiri sosok pertama yang kemarin fajar menegaskan kepadaku bahwa jika rombongan kita memang berniat melayangkan serangan fisik hari ini, laksanakan seluruh pembantaian tersebut dengan segenap usaha terbaik kita seutuhnya kelak?"
"Argumen penjelasanku kemarin memang berjalan dengan wujud semacam itu belaka seutuhnya."
"Jika kenyataannya demikian, maka tugas operasional yang tersisa bagi kita hari ini hanya tinggal satu hal sederhana belaka seutuhnya kelak."
Arah pandangan mata Chung Myung tampak berputar tajam menatap lurus ke arah barisan murid Sekte Wudang di depannya seutuhnya kelak.
"Sahyung sekalian. Berapa jumlah total kepala murid Wudang di depan sana yang dinilai sanggup dihancurkan oleh kekuatan pedang kalian masing-masing hari ini?"
"……Mm. Dua orang kepala pendekar."
"Aku pribadi meyakini bagian tanganku kelak pasti akan sanggup menghancurkan sekitar tiga orang kepala pendekar seutuhnya kelak."
"Berarti total nominal yang sanggup kalian selesaikan adalah sebanyak lima orang kepala pendekar seutuhnya."
Chung Myung mengarahkan satu tangannya mengusap bagian dagu fisiknya perlahan seutuhnya dalam keheningan.
"Bibi Guru Yu diproyeksikan kelak pasti akan sanggup menyelesaikan sekitar empat orang kepala pendekar secara sendirian kelak. Sementara bagi tugas Paman Guru Baek Cheon sendiri kelak dipetakan kelak pasti harus bertanggung jawab secara penuh murni bertujuan untuk menghancurkan kepala dari bajingan gila yang satu itu kelak."
"Jika pembagian target pertempurannya dipetakan dengan wujud semacam itu kelak, lalu target musuh mana lagi yang kelak pasti akan diselesaikan oleh kekuatan pedangmu sendiri kelak?"
"Bagian tanganku?"
"……Lupakan saja pertanyaanku barusan. Mengingat ada puluhan ribu pasang mata penduduk setempat yang saat ini sedang berdiri mengamati jalannya halaman ini, kuharap kau bersedia melatih fungsi kesadaran batinmu sekuat tenaga murni bertujuan untuk menjaga batas kewajaran perilakumu kelak, bajingan."
"Baiklah kalau begitu, mari kita mulai pertempuran fisiknya sekarang! Paman Guru! Bibi Guru! Sahyung sekalian!"
"Haa……."
"Ugh."
"Sigh!"
Barisan murid Sekte Gunung Hua secara kompak melepaskan helaan napas panjang yang teramat sangat berat sekali seutuhnya, sebelum akhirnya secara perlahan melangkah berjalan kencang menghampiri medan pertempuran di halaman sekte seutuhnya.
"Meskipun wujud pembagian target pertempuran ini terasa agak sedikit terbalik posisinya bagi kenyamanan jiwaku, namun."
Sebuah kilatan cahaya yang teramat sangat dingin dan tajam sekali tampak berkilat jelas menghiasi sepasang bola mata Baek Cheon seutuhnya kelak.
"Mengingat jasad musuh di depan kita hari ini terbukti menyandang status kehormatan sebagai murid didikan Sekte Wudang yang agung, kapasitas kemampuan bertarung mereka dipetakan kelak pasti akan teramat sangat lebih dari cukup sekali kelak murni bertujuan untuk membuktikan secara nyata kepada dunia persilatan perihal seberapa dahsyatnya hasil porsi latihan fisik gila yang telah kita lalui selama ini seutuhnya! Mari meluncur pertempuran, rekan seperjuangan sekalian! Tunjukkan kepada seluruh dunia persilatan keagungan pedang Gunung Hua yang sesungguhnya kelak!"
"Baik, Paman Guru!"
"Kami dipastikan kelak pasti akan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya kelak, Sahyung!"
Tepat pada momen pembakaran tekad bertarung yang begitu indahnya tersebut meledak hebat di halaman sekte baru saja, sesosok volume suara malas yang terdengar sangat datar tampak menyela ucapan mereka kembali dari arah belakang punggung badan mereka seutuhnya kelak.
"Alasan konyol macam apa sebenarnya yang melatarbelakangi alasan mengapa wujud respons kepatuhan yang mereka layangkan saat ini terlihat teramat sangat berbeda kualitasnya sekali di saat aku pribadi yang menyuarakan instruksi perangnya selama ini, hah?"
Kuharap kau bersedia melatih keahlian mulut kotor jasadmu untuk diam membisu di tempat itu saat ini juga seumur hidupmu kelak, bajingan ingusan keparat seutuhnya…….











