Chapter 131: Pekerjaanku Baru Saja Dimulai! (1)
Raut wajah Yoon Jong, pendekar yang menyaksikan secara langsung barisan pendekar didikan Sekte Wudang yang sedang melesat menerjang maju menghampiri jasad badannya saat ini, langsung dipenuhi oleh guncangan kebingungan yang luar biasa seutuhnya.
"Heh! Kejadian konyol semacam ini bersumpah dipetakan sama sekali tidak boleh terjadi hari ini, kawan?!"
"Apakah kau saat ini sedang berniat melayangkan makian verbal melabeli rombongan kami sebagai segerombolan pendekar pengecut di depan umum, hah?"
"Bukan hal konyol semacam itu yang menjadi dasar kecemasanku saat ini!"
Mari kita hitung bersama sejenak.
Total nominal lawan bertarung di depannya saat ini ada sebanyak empat orang pendekar didikan Wudang secara bersamaan?
"Tidak boleh demikian! Penumpukan lawan tanding semacam ini bersumpah terbukti teramat sangat tidak masuk akal sekali seutuhnya di bawah langit!"
Yoon Jong dengan terburu-buru melangkahkan kaki fisiknya melompat mundur menjauh seutuhnya kelak.
Tampaknya murni disebabkan karena dirinya terpantau merupakan sosok pendekar pertama dari kelompok kami yang berhasil mengamankan kemenangan bertarung secara resmi baru saja, seluruh sisa murid Wudang di halaman tampak secara kompak memusatkan target serbuan fisik mereka murni bertujuan menghancurkan tubuh jasadnya seutuhnya kelak.
"Hal gila ini benar-benar tidak adil sekali seutuhnya!"
"Kosakata ucapanmu terlampau banyak sekali belaka seutuhnya……"
"Bukan! Bukan hal konyol semacam itu maksud ucapanku, keparat!"
Yoon Jong menyuarakan teriakan lantangnya kencang seutuhnya.
"Jasad pribadiku bersumpah sama sekali bukan merupakan sosok pendekar terkuat tunggal di antara rombongan kami saat ini! Aku pribadi sebenarnya menyandang tingkat kapasitas kekuatan bertarung yang terhitung paling lemah dan suram sekali seutuhnya di antara kami berlima hari ini!"
"……"
"Jika sasaran penilaianmu diarahkan lurus ke arah Paman Guru Baek Cheon, hal tersebut dipetakan masih bisa dianggap wajar seutuhnya kelak. Namun jika kalian memang bersikeras meluncurkan metode serangan gabungan memalukan semacam ini hari ini, sudah sewajarnya bagi kalian sekalian untuk mengerahkan seluruh kekuatan kalian murni bertujuan untuk mengeroyok sosok pendekar terkuat nomor dua di kelompok kami kelak!"
Menerima luapan respons penolakan yang begitu histeris dan memancar penuh rasa ketidakadilan dari lubang mulut Yoon Jong baru saja seutuhnya, barisan murid Sekte Wudang di depannya murni hanya bisa berdiri terpaku menatap kosong ke arah wajahnya seutuhnya kelak.
Menyaksikan wujud raut wajah Yoon Jong yang saat ini terlihat seolah-olah diproyeksikan akan segera mati lebur murni murni disebabkan karena menahan siksaan rasa tidak adil yang mendalam di dalam lubang dadanya baru saja, bagian hati mereka bahkan bersumpah sama sekali tidak sanggup memelihara letupan emosi amarah terkecil pun ke hadapannya saat ini.
"Siapa sosok pendekar terkuat nomor dua yang kau maksudkan baru saja?"
Detik di saat salah satu murid Wudang melayangkan pertanyaannya lirih akibat didera kebingungan seutuhnya kelak, Yoon Jong secara instan langsung mengangkat satu tangannya menunjuk lurus ke arah sesosok pendekar di sudut halaman seutuhnya kelak.
"Di sana! Tepat di seberang sana! Apakah sepasang bola mata di dalam lubang kepalamu itu terbukti telah terlanjur buta seutuhnya, hah?!"
Raut wajah dari seluruh murid Wudang yang secara refleks memalingkan wajah mereka menatap lurus ke arah arah tunjuk tangan Yoon Jong baru saja tampak langsung diselimuti oleh keraguan yang teramat sangat mendalam sekali seutuhnya kelak.
Apakah jasad pendekar yang satu itu yang dimaksudkannya?
Sebuah tebasan bilah pedang tajam tampak memotong ruang kosong angkasa kencang seutuhnya. Sebuah daya serang tebasan pedang didikan Gunung Hua, jenis keilmuan pedang suci yang menyajikan wujud keindahan yang teramat sangat berbeda jauh sekali seutuhnya jika dibandingkan dengan apa yang sempat mereka saksikan di sepanjang pertempuran fajar ini baru saja tampak sedang mekar menghiasi udara seutuhnya kelak.
Sebuah laju gerakan langkah kaki (footwork) yang dinamis, membelah angkasa raya dengan laju gerakan tubuh yang teramat sangat mengalir lancar sekali seutuhnya, menyerupai keindahan visual dari sesosok manusia fana yang sedang berenang bebas melintasi pekatnya langit fajar seutuhnya kelak. Sebuah tebasan pedang tajam yang sama sekali tidak memancarkan kemegahan jurus yang berlebihan di depan umum, namun justru murni murni didasari berbekal kesederhanaan jurus itulah keindahan wibawa pedangnya terpancar tumbuh semakin anggun sekali seutuhnya di bawah langit.
Tebasan bilah pedang tajam di dalam genggaman tangan Yu Iseol tampak secara ajaib sanggup melipat dimensi ruang kosong di sekitarnya seutuhnya kelak.
Area pertempuran fisik tempat di mana bilah pedang tajamnya sedang menari-nari membelah udara saat ini bersumpah terasa berada dalam jarak spasial yang teramat sangat jauh sekali seutuhnya bagi pandangan mata dari seluruh penonton yang sedang berdiri menyaksikan jalannya pertarungan seutuhnya kelak.
Sepasang bola mata dari seluruh murid Sekte Wudang tampak bergetar halus seketika seutuhnya.
"Oleh karena itu sejak tadi sudah berkali-kali kubegaskan kepada kalian sekalian bahwa jasad target yang kalian incar saat ini sama sekali bukan merupakan jasad pribadiku, keparat!"
Yoon Jong, akibat sudah tidak sanggup lagi menahan rasa frustrasi yang membara di dalam dadanya tampak melepaskan suara teriakan lantangnya kencang seutuhnya kelak.
Kapasitas kekuatan bela diri Yu Iseol bagaimanapun juga sejak awal mula memang telah terlanjur berdiri pada tingkat kedahsyatan yang teramat sangat luar biasa sekali seutuhnya kelak. Pada rancangan awalnya dahulu, jasad Yu Iseol sudah sewajarnya menyandang kedudukan resmi sebagai salah satu dari sekian banyak perwakilan pendekar didikan generasi kedua terbaik yang wajib diutus secara resmi murni bertujuan untuk berlaga di sepanjang peristiwa Ancestral Flame Conference kemarin fajar seutuhnya kelak.
Meskipun secara fisik parameter usia hidupnya terhitung masih berada dalam rentang usia yang teramat sangat muda sekali selama ini, ia bagaimanapun juga terbukti telah melangkah masuk mendaftar sebagai murid Gunung Hua sejak usianya masih sangat dini sekali sepanjang sejarah, lengkap dengan dibekali oleh bakat alami dalam memahami esensi pedang yang teramat sangat luar biasa jenius sekali seutuhnya kelak di bawah langit.
Jika bagian hatinya bersedia melayangkan penilaian logis yang dingin di lapangan fana kelak, bahkan pada kurun waktu masa lalu kehidupannya yang terdahulu sekalipun selama ini, dipetakan hanya akan ada sangat sedikit sekali jumlah pendekar muda di bawah langit yang kelak pasti akan sanggup menumbangkan kekuatan pedang Yu Iseol kelak seutuhnya, di luar dari wujud ketangguhan yang dikuasai oleh Baek Cheon seorang diri belaka seutuhnya kelak.
Dan jasad pendekar yang bakat alaminya telah terlanjur sejenius itu di masa lalu kini terbukti secara konkrit telah selesai menerima secara utuh seluruh asupan bimbingan latihan penyiksaan gila dari seorang Chung Myung seutuhnya kelak.
'Pendekar perempuan yang satu itu juga bersumpah sama sekali tidak menyandang fungsi kewarasan akal sehat terkecil pun di dalam kepalanya seumur hidupnya kelak.'
Di saat seluruh murid didikan Gunung Hua lainnya terbukti secara kompak terus memeras fungsi otak mereka murni bertujuan memikirkan metode pelarian diri terbaik demi bisa menyembunyikan jasad fisik mereka agar terhindar dari jangkauan sepasang mata kejam Chung Myung sepanjang hari selama ini seutuhnya, jasad Yu Iseol secara luar biasa justru secara konsisten terus menerus memburu kemanapun arah langkah kaki Chung Myung melangkah pergi sepanjang hari, murni murni didasari murni hanya karena ingin mengamankan tambahan satu buah ilmu pedang baru kelak seutuhnya. Dan ia terbukti secara membuta terus menelan dan menyempurnakan seluruh asupan materi pengajaran gila yang dilayangkan oleh anak gila tersebut tanpa pernah sekali pun melontarkan suku kata kalimat keraguan verbal apa pun di depan umum seutuhnya.
Setelah menghabiskan kurun waktu perjalanan penyiksaan fisik tersebut selama dua tahun penuh lamanya secara konsisten selama ini, tingkat pencapaian keilmuan pedang yang berhasil ia amankan di dalam dadanya saat ini secara nyata benar-benar telah mencapai batas kasta keilmuan spiritual yang teramat sangat tangguh sekali, jenis kedahsyatan yang sama sekali tidak akan pernah sanggup diimbangi oleh siapa pun pendekar didikan luar seumurnya kelak seutuhnya.
Ia pribadi bagaimanapun juga tidak memiliki kapasitas untuk merumuskan wujud penilaian kekuatan yang akurat menyangkut perbandingan kekuatan di antara dirinya dengan Baek Cheon saat ini murni disebabkan karena keduanya selama ini memang belum pernah sekali pun melangsungkan sesi pertarungan meditasi rahasia satu lawan satu di sekte utama seutuhnya kelak. Meskipun begitu, Yoon Jong di dalam dadanya meyakini bahwa jasad Yu Iseol dipetakan kelak pasti tidak akan pernah sanggup didesak mundur sedikit pun sekalipun ia dipaksa bertarung menghadapi kekuatan pedang Baek Cheon kelak seutuhnya.
Bruk.
Pendekar Sekte Wudang yang saat ini sedang menempatkan tubuh fisiknya bertempur menghalau serbuan dari Yu Iseol pada akhirnya terbukti secara mutlak sama sekali tidak sanggup mempertahankan ketahanan tubuh fisiknya lebih lama lagi kelak dan berakhir roboh pingsan tersungkur kotor di atas permukaan tanah seutuhnya kelak saat itu juga.
Sebuah keheningan dingin yang mencekam tampak mendominasi seluruh penjuru halaman sekte seutuhnya seketika.
"Uwaaaaak!"
Dan sebuah teriakan kesakitan yang teramat sangat nyaring sekali seutuhnya tampak meledak memecah keheningan dingin tersebut seutuhnya kelak.
Pendekar Wudang yang saat ini sedang menempatkan tubuh fisiknya bertempur menghalau serbuan dari Jo Gul juga terpantau telah resmi menerima satu hantaman pedang maut yang telak dan saat ini sedang sibuk mencengkeram erat bagian kaki fisiknya kencang seutuhnya. Aliran darah segar tampak mengalir deras menyembur keluar membasahi celananya dari balik luka sayatan memanjang yang menghiasi bagian paha kanan fisiknya kencang seutuhnya kelak saat itu juga.
Empat orang kepala pendekar.
Dalam kurun waktu satu kelebatan napas belaka seutuhnya kelak, total ada sebanyak empat orang pendekar didikan Sekte Wudang yang terbukti telah resmi tumbang tidak berdaya di atas tanah kotor halaman seutuhnya kelak.
Dan fakta yang paling menyajikan guncangan mental yang dahsyat bagi keselamatan jiwa mereka tidak lain adalah kenyataan konkrit yang menegaskan bahwa di antara barisan jasad yang telah runtuh tersungkur kotor di atas tanah tersebut saat ini, ada sosok sang Naga Pedang, Jin Hyeon yang menyandang gelar kehormatan *Unbreakable Sword* seutuhnya kelak.
'S-Sahyung Jin Hyeon……' 'Hanya bermodalkan bertarung menghadapi satu orang pendekar saja seutuhnya.'
Seluruh sisa murid Sekte Wudang secara refleks tampak terus menggigit bibir bawah mereka kencang dalam keheningan seutuhnya.
Jin Hyeon bagaimanapun juga menyandang status kehormatan sebagai sosok pendekar terkuat nomor satu di antara kelompok mereka, sosok pendekar master yang kasta kekuatannya terbukti berdiri kokoh minimal satu kasta generasi jauh lebih tinggi melampaui batas kekuatan mereka seutuhnya selama ini. Dengan kata lain di lapangan fana kelak, seiring dengan tumbangnya jasad Jin Hyeon saat ini juga seutuhnya, hal tersebut menyampaikan pesan penting yang menegaskan secara resmi bahwa sama sekali tidak akan ada satu orang murid pun di antara sisa kelompok mereka yang kelak pasti akan sanggup menumbangkan kekuatan pedang dari pemuda bernama Baek Cheon tersebut di dalam sesi pertarungan satu lawan satu kelak seutuhnya.
Dan…… seluruh rekan tanding mereka lainnya saat ini terbukti telah selesai dibantai habis tanpa tersisa martabat sedikit pun seutuhnya.
Hanya tersisa sebanyak enam orang pendekar saja seutuhnya saat ini. Sementara empat orang pendekar didikan mereka telah resmi runtuh tumbang tidak berdaya seutuhnya kelak.
Jika parameter penilaiannya hanya diarahkan lurus murni bertujuan demi mengamati total perbandingan nominal kuantitas pasukan bertarung di antara kedua belah pihak saat ini juga seutuhnya, nominal sisa pasukan mereka dipetakan masih terhitung cukup logis untuk mengamankan kemenangan pertempuran kelak.
Meskipun begitu sangat disayangkan, seiring dengan roboh tersungkurnya jasad Jin Hyeon di dalam barisan jasad yang tumbang saat ini juga seutuhnya, sama sekali bukan merupakan wujud hal yang berlebihan kelak di dunia persilatan jika ada pendekar luar yang melayangkan klaim menyatakan bahwa kadar kapasitas kekuatan bertarung dari sisa enam orang pendekar Wudang saat ini sebenarnya berada pada tingkat kedahsyatan yang terhitung jauh lebih lemah dan suram seutuhnya kelak.
Terlebih lagi di seberang sana, barisan pendekar Gunung Hua yang sedang berdiri santai di hadapan mereka saat ini bersumpah sama sekali tidak menunjukkan adanya secercah luka sayatan fisik sekecil kulit ari sekalipun yang menghiasi sekujur jasad mereka seutuhnya kelak sepanjang pertempuran fajar ini meledak.
Apakah sisa enam orang pendekar Wudang di halaman tersebut diproyeksikan kelak pasti akan sanggup membalikkan keadaan pertempuran fisik yang ketimpangannya telah berjalan sejauh ini kelak?
Detail perhitungan logis di dalam kepala jasad mereka bersumpah sama sekali tidak tergolong rumit untuk dirumuskan seutuhnya kelak.
Barisan murid Wudang yang tersisa tampak secara refleks langsung tersentak cemas sedikit, sekujur otot jasad mereka tampak mematikan fungsinya akibat sudah tidak lagi memiliki keberanian mental terkecil pun murni bertujuan untuk sekadar melayangkan langkah serbuan fisik baru fajar ini seutuhnya.
Mendeteksi secara instan berbekal pengamatan matanya perihal bagaimana arah pergerakan fisik dari sisa jasad musuh di depannya saat ini secara nyata benar-benar telah kehilangan seluruh nafsu bertarung mereka seutuhnya fajar ini, Baek Cheon secara perlahan mulai membuka lubang mulutnya lirih seutuhnya kelak.
"Apakah bagian kaki jasad kalian sekalian dipetakan masih memelihara ketertarikan untuk melanjutkan jalannya pertempuran fisik ini kelak?"
"……"
Sesosok tikus got yang terbukti telah terlanjur terdesak masuk ke dalam celah sudut ruangan yang sempit pada akhirnya dipetakan kelak pasti tetap akan memaksakan sisa gigi tajamnya murni bertujuan untuk menggigit kaki dari seekor kucing pemburu seutuhnya kelak. Baek Cheon di dalam dadanya bersumpah sama sekali tidak memelihara niat buruk terkecil pun murni bertujuan untuk mendesak keadaan psikologis musuhnya hingga ke batas keputusasaan yang ekstrem semacam itu kelak seutuhnya.
"Meskipun jika kalian bersikeras memilih opsi melanjutkan jalannya pertempuran fisik hari ini kelak, sekte utama kalian yang agung dipetakan tentu saja masih akan sanggup mengamankan secercah peluang kemenangan bertarung kelak seutuhnya. Meskipun begitu, barisan jasad dari saudara seperguruan kalian yang saat ini sedang terkapar pingsan bersimbah darah kotor di atas tanah tersebut diproyeksikan kelak pasti hanya akan berakhir dengan tragedi kematian yang mengerikan seutuhnya kelak jika jasad mereka terus ditelantarkan keselamatannya tanpa menerima asupan pengobatan medis darurat saat ini juga seutuhnya. Urusan perebutan hak kekuasaan wilayah Namyang yang kecil bersahaja semacam ini bersumpah sama sekali tidak menyandang nilai penting yang cukup tinggi kelak murni bertujuan untuk menuntut kalian membuang sisa masa depan berharga dari barisan saudara seperguruan kalian seutuhnya kelak, bukan?"
"Umm."
"Segeralah menarik mundur seluruh sisa pasukan kalian seutuhnya kelak. Rombongan kami secara resmi mendeklarasikan diri sebagai pihak pemenang tunggal dari jalannya pertempuran fisik fajar ini seutuhnya. Bopong jasad saudara seperguruan kalian yang terluka fisik parah saat ini juga, layani kebutuhan medis jasad mereka dengan sebaik-baiknya kelak, dan segeralah angkat kaki memindahkan seluruh sisa pasukan kalian keluar dari perbatasan wilayah Namyang selambat-lambatnya sebelum musang matahari terbenam pekat malam hari ini kelak seutuhnya. Mengingat sosok sang *Unbreakable Sword* kemarin fajar telah secara resmi mempertaruhkan seluruh sisa nama kehormatan pribadinya di depan umum kelak demi menjamin jalannya janji pertempuran ini kelak seutuhnya, maka jasad pribadiku dipetakan kelak pasti akan melayangkan keyakinan mutlak meyakini bahwa pihak Sekte Wudang yang agung ke depannya nanti dipastikan sama sekali tidak akan pernah memelihara kelancangan untuk sekadar mengusik kembali kelangsungan operasional Sekte Bayangan Api kita kelak seutuhnya. Dan silsilah kepengurusan dari biara tiruan Aula Jalan Leluhur juga diwajibkan secara hukum untuk segera angkat kaki meninggalkan area tanah kotor wilayah Namyang ini untuk selamanya kelak nanti seutuhnya."
Menerima banjir sorot pandang cemas yang secara bersamaan tampak terfokus menatap lurus ke arah wajah pribadinya seutuhnya kelak baru saja dari arah seluruh jajaran adik seperguruannya seutuhnya, Jin Mu secara perlahan mulai menggigit bibir bawahnya kencang seutuhnya.
Seiring dengan tumbang pingsannya jasad Jin Hyeon di dalam barisan jasad yang roboh saat ini juga seutuhnya, ia pribadi dipaksa secara resmi harus bangkit memikul tanggung jawab moral sebagai sosok pembuat keputusan akhir yang tertinggi seutuhnya kelak di dalam kelompok utusan mereka hari ini.
Tugas rahasia menyangkut makam pedang yang dipikul oleh jasad pundak mereka bagaimanapun juga diwajibkan hukumnya secara mutlak untuk diselesaikan dengan kesuksesan yang riil kelak di bawah langit seutuhnya kelak.
Meskipun begitu sangat disayangkan saat ini……
'Ketahanan mental bertarung dari seluruh sisa kelompok kami bersumpah telah resmi runtuh hancur lebur tanpa sisa seutuhnya fajar ini.'
Memaksakan diri bertempur lebih jauh lagi di tempat sulit ini fajar ini murni hanya akan berujung mempercepat terkikisnya nominal kuantitas pasukan jasad kami seutuhnya kelak di medan pertempuran.
Setelah menghabiskan kurun waktu beberapa saat lamanya murni bertujuan untuk mendiskusikan seluruh wujud opsi penyelamatan di dalam kepalanya seutuhnya kelak, Jin Mu secara perlahan merapatkan kedua belah telapak tangannya memperagakan salam kepalan tangan dan telapak tangan yang disiplin seutuhnya kelak.
"Aku pribadi mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya ke hadapan kemurahan hati Sekte Gunung Hua hari ini kelak seutuhnya. Aku secara resmi bersedia melayangkan pengakuan jujur di depan umum mengakui secara sah bahwa rombongan kami telah resmi menelan kekalahan bertarung secara mutlak fajar ini seutuhnya kelak."
Baek Cheon menganggukkan kepalanya khidmat dalam keheningan seutuhnya kelak.
"Kami dipetakan sama sekali tidak akan meluangkan waktu berharga kami murni bertujuan untuk mengawal perjalanan pulang kalian kelak."
"Jika demikian."
Detik di saat Jin Mu melayangkan sinyal pergerakan tangannya kencang seutuhnya kelak, barisan murid Sekte Wudang yang tidak menderita luka fisik parah tampak melangkah bergerak sigap membopong jasad dari saudara seperjuangan mereka yang terluka parah, lengkap dengan menggendong erat jasad dari saudara seperguruan mereka yang terkapar pingsan tak sadarkan diri di atas punggung jasad mereka seutuhnya kelak. Dan setelah melayangkan satu kilatan pandangan mata terakhir yang dipenuhi oleh kebingungan yang mendalam ke arah barisan murid Sekte Gunung Hua seutuhnya kelak baru saja, mereka mulai melangkahkan kaki mereka berjalan kencang meninggalkan halaman Sekte Bayangan Api dalam keheningan yang dingin tanpa bersedia melontarkan satu suku kata basa-basi verbal tambahan apa pun lagi seutuhnya kelak sepanjang jalan.
"Buka jalan kalian sekarang juga kencang!"
Sembari memaksakan jasad fisik mereka menerobos membelah kerumunan padat dari puluhan ribu penduduk sipil setempat yang saat ini telah terlanjur memenuhi area luar pintu gerbang utama sekte seutuhnya selama ini baru saja, barisan murid didikan Sekte Wudang tampak terburu-buru memecut laju langkah kaki mereka melesat kencang berjalan menuju ke arah kediaman biara Aula Jalan Leluhur seutuhnya kelak.
Dan seluruh penduduk sipil setempat di penjuru Namyang yang saat ini sedang sibuk berdiri mengamati jalannya kepulangan lesu tersebut dari luar jalanan bersumpah sama sekali tidak sanggup merapatkan kembali lubang mulut mereka yang langsung terbuka lebar akibat dirundung keguncangan mental yang hebat seutuhnya kelak seketika.
Kapasitas kerja pikiran fana mereka bagaimanapun juga dipetakan sama sekali tidak akan memiliki keahlian khusus murni bertujuan untuk memahami detail silsilah kasta bela diri pedang tingkat tinggi yang diperagakan oleh mereka selama ini seutuhnya kelak. Satu-satunya wujud penampilan visual yang berhasil dicerna oleh sepasang bola mata mereka sedari tadi murni hanyalah menyajikan kelebatan cahaya pedang yang berkilauan sangat megah sekali lengkap dengan diiringi oleh kelebatan angin badai yang bersiul kencang membelah halaman sekte sepanjang pertempuran seutuhnya kelak.
Meskipun demikian di bawah langit, siapa pun manusia fana yang dilahirkan menyandang kepemilikan sepasang bola mata yang sehat di dalam lubang kepala mereka dipastikan kelak pasti sama sekali tidak akan pernah terbukti gagal untuk mencerna fakta riil yang menegaskan bahwa rombongan murid Sekte Wudang yang agung saat ini telah resmi melarikan diri meninggalkan kediaman Sekte Bayangan Api dalam kondisi menelan kekalahan bertarung yang memalukan dihantam secara brutal oleh kekuatan pedang Gunung Hua seutuhnya kelak.
'Astaga, Dewa langit merestui, wibawa suci Sekte Wudang……' 'Memikirkan catatan takdir sejarah hari ini di saat pihak Gunung Hua terbukti secara nyata sanggup menumbangkan dominasi kekuatan Sekte Wudang seutuhnya.'
Siapa pendekar hebat di seluruh penjuru dataran tengah yang memelihara keahlian ramal tingkat tinggi hingga sanggup meramalkan secara akurat perihal takdir kemenangan mutlak Gunung Hua menghadapi Sekte Wudang hari ini kelak?
Tentu saja, hasil akhir dari jalannya pertempuran fajar ini bagaimanapun juga dipetakan sama sekali tidak menyandang kapasitas mutlak murni bertujuan untuk membuktikan secara resmi ke hadapan dunia persilatan luar bahwa Sekte Gunung Hua saat ini telah tumbuh menyandang kapasitas kekuatan yang jauh lebih perkasa melampaui batas kekuatan Sekte Wudang seutuhnya kelak. Sama sekali tidak dibenarkan hukumnya bagi siapa pun pendekar di bawah langit untuk mendiskusikan perbandingan kasta kekuatan di antara biara Sekte Gunung Hua dengan biara Sekte Wudang secara keseluruhan murni didasari berdasarkan parameter perbandingan sengketa wilayah sepele yang hanya diperagakan oleh barisan murid generasi kedua mereka belaka seutuhnya kelak.
Meskipun begitu, terlepas dari seberapa minimnya kadar signifikansi strategis dari pertempuran fajar ini kelak bagi dunia persilatan Murim secara luas kelak, fakta konkrit yang menegaskan bahwa pihak Gunung Hua telah berhasil meremukkan harga diri Sekte Wudang hari ini tetap terpampang nyata dengan sangat jelasnya seutuhnya kelak di depan umum.
"Heo. Jauh hari sebelum fajar hari ini meledak baru saja, bagian telinga pribadiku sebenarnya telah berulang kali mendengar kabar angin hangat yang mengklaim bahwa pihak Gunung Hua belakangan ini sedang bersiap sekuat tenaga merebut kembali seluruh sisa kejayaan emas masa lalu mereka seutuhnya kelak. Dan menyaksikan jalannya pertempuran hari ini baru saja sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kebenaran konkrit dari kabar angin tersebut seutuhnya kelak."
"Perkataanmu itu bersumpah sangat benar adanya seutuhnya kelak, kawan. Bukankah seluruh jalannya pertempuran fisik hari ini terlihat teramat sangat menakjubkan sekali seutuhnya di luar batas nalar kemanusiaan? Memikirkan keberanian mental mereka yang bersedia meluncurkan perang terbuka menghadapi kekuatan Sekte Wudang murni murni didasari demi mengamankan keselamatan hidup Sekte Bayangan Api kita hari ini!"
"Memelihara silsilah loyalitas berharga mendaftarkan diri sebagai sekte cabang bawahan dari sekte yang kualitas moralnya sedahsyat itu bersumpah dipetakan akan menyajikan nilai kebanggaan yang teramat sangat tinggi sekali kelak bagi keselamatan hidup sekte kita seutuhnya kelak, bukan? Ahem. Keyakinanku menyangkut komitmen tersebut dipastikan sepenuhnya benar adanya seutuhnya kelak!"
Seluruh penduduk sipil setempat yang saat ini sedang berdiri bergerombol di balik reruntuhan dinding pagar batu tampak secara konsisten terus menerus menyuarakan bisik-bisik pujian khidmat mereka seutuhnya kelak.
Baek Cheon melayangkan satu kilatan pandangan mata tenangnya memantau kegaduhan obrolan di luar jalanan tersebut sejenak sebelum akhirnya memalingkan tubuh fisiknya perlahan seutuhnya kelak. Dan dengan langkah kaki yang teramat sangat tenang sekali seutuhnya, ia mulai melangkahkan kakinya berjalan menghampiri posisi berdirinya Wi Ripsan seutuhnya kelak.
"Pemimpin Sekte Wi."
"Ah…… Ah? Ah!"
Wi Ripsan dengan terburu-buru memaksakan fungsi kesadaran batinnya terbangun dari lamunannya baru saja dan memusatkan pandangan matanya menatap tajam ke arah wajah Baek Cheon seutuhnya kelak. Meskipun begitu sangat disayangkan, lubang mulutnya saat ini tetap saja terasa teramat sangat kaku sekali murni bertujuan untuk sekadar memuntahkan rangkaian kosakata kalimat yang layak seutuhnya kelak.
"Sekte Gunung Hua secara resmi telah berhasil mengamankan keselamatan hidup Sekte Bayangan Api hari ini seutuhnya kelak."
"……"
Tepat di samping area kanan dan kiri badan Baek Cheon saat ini juga seutuhnya, barisan saudara seperguruannya tampak melangkah berdiri tegak merapatkan barisan mereka membentuk garis barisan pertahanan yang sangat kokoh dan disiplin sekali seutuhnya kelak. Sembari memusatkan sepasang bola matanya menatap lurus ke arah wujud ketangguhan dari seluruh murid utusan Gunung Hua yang sedang berdiri tegak di depan matanya saat ini juga seutuhnya, Wi Ripsan menggigit bibir bawahnya teramat sangat kencang sekali seutuhnya kelak. Rasa hangat yang menjalar di dalam ulu dadanya secara alami terus menerus merambat naik menyiksa sepasang ujung matanya hingga terasa memancar sangat perih sekali seutuhnya saat ini murni akibat menahan kucuran air mata haru yang mendalam kelak.
"Jasad pribadiku hari ini, dengan menyandang kedudukan resmi sebagai Pemimpin Sekte Bayangan Api secara nyata benar-benar menundukkan kepalaku sangat dalam murni bertujuan untuk mengekspresikan rasa syukur dan terima kasih yang tiada tara ke hadapan wibawa luhur Sekte Gunung Hua seutuhnya hari ini."
Detik di saat Wi Ripsan secara nyata benar-benar merapatkan kedua belah telapak tangannya meluncurkan salam kepalan tangan dan telapak tangan yang teramat sangat khidmat sekali di depan umum baru saja seutuhnya, Baek Cheon beserta seluruh rekannya secara kompak langsung membalas salam khidmat tersebut dengan gerakan tubuh yang tidak kalah disiplinnya seutuhnya kelak.
"Kuharap Anda tidak perlu melontarkan kalimat apresiasi yang terlampau mewah semacam itu ke hadapan rombongan kami, Pemimpin Sekte Wi. Rombongan kami saat ini murni hanya sedang melangsungkan apa yang sudah sewajarnya wajib diselesaikan oleh kewajiban moral didikan kami seutuhnya."
Wi Ripsan, sesosok pria paruh baya yang saat ini masih bersikeras menundukkan wajah fisiknya sangat dalam di atas tanah kotor akibat dirundung keharuan batin yang mendalam seutuhnya kelak, lengkap dengan diiringi oleh barisan murid didikan Gunung Hua yang saat ini sedang berdiri tegak menyajikan senyuman tipis yang hangat di wajah mereka seutuhnya kelak saat memandangi jasad badannya. Itu benar-benar menyajikan wujud dari sebuah pemandangan persahabatan yang teramat sangat indah sekali seutuhnya, jenis pemandangan indah yang dipetakan kelak pasti akan memicu siapa pun pendekar di bawah langit untuk menganggukkan kepalanya khidmat tanda menyetujui kesucian moralnya seutuhnya kelak.
"Kuh, pemandangan kehangatan moral semacam ini bersumpah terbukti secara nyata telah terlanjur memicu timbulnya rasa gatal yang teramat sangat menyiksa sekali bagi kenyamanan isi lubang dada pribadiku sejak tadi, kawan."
"……"
Seandainya saja pendekar keparat pembawa petaka yang satu itu terbukti telah berhasil dieksekusi keselamatan jiwanya sejak awal mula kelak, maka kenyamanan hidup rombongan kita dipetakan kelak pasti akan berjalan dengan wujud yang ratusan kali lipat jauh lebih indah sekali kelak seutuhnya.
* * *
"Aku secara pribadi melayangkan ucapan selamat yang sebesar-besarnya ke hadapan Anda, Pemimpin Sekte Wi."
"Pertunjukan bela diri yang Anda sekalian sajikan esok fajar baru saja bersumpah benar-benar berjalan dengan sangat luar biasa indah dan spektakuler sekali seutuhnya kelak."
"Hahahaha! Jauh hari sebelum fajar hari ini meledak baru saja, bagian telinga pribadiku sebenarnya telah terbiasa mendengarkan lubang mulut Anda secara konsisten terus menerus menyuarakan nama Gunung Hua, Gunung Hua sepanjang hari di jalanan Namyang ini seutuhnya kelak. Dan hari ini, seluruh loyalitas dan kerja keras Anda mempertahankan kesetiaan tersebut akhirnya secara resmi benar-benar telah membuahkan hasil manis yang teramat sangat layak sekali seutuhnya bagi kelangsungan hidup sekte kalian kelak!"
Wi Ripsan, sesosok pria paruh baya yang saat ini sedang menyajikan senyuman lebar dari ujung telinga kanan hingga ke ujung telinga kiri fisiknya tampak secara konsisten terus menerus merapatkan kedua belah telapak tangannya membalas salam khidmat dari barisan tamu yang berkunjung ke kediamannya seutuhnya kelak.
"Terima kasih yang sebesar-besarnya kuucapkan ke hadapan Anda sekalian. Terima kasih banyak atas doa baik kalian hari ini."
Terlepas dari kenyataan konkrit yang menegaskan secara resmi bahwa seluruh jajaran murid Sekte Wudang saat ini telah resmi angkat kaki melarikan diri meninggalkan kediaman sekte mereka seutuhnya kelak, Wi Ripsan hingga detik ini terbukti tetap sama sekali tidak memiliki kesempatan luang sedikit pun untuk sekadar merilekskan ketahanan tubuh fisiknya seutuhnya kelak. Gelombang kunjungan dari puluhan ribu penduduk sipil setempat di penjuru Namyang terpantau secara konsisten terus menerus berdatangan membanjiri gerbang utama sekte murni bertujuan untuk melayangkan ucapan selamat atas kemenangan persilatan mereka seutuhnya kelak sepanjang hari.
Padahal mayoritas dari para penduduk sipil yang sedang sibuk menyajikan senyuman manis di depan matanya saat ini tidak lain adalah merupakan sekelompok manusia egois yang kemarin fajar murni memilih opsi berdiri diam mengamankan diri di sudut jalanan, sama sekali tidak memiliki keberanian mental untuk sekadar melayangkan bantuan darurat di saat kondisi Sekte Bayangan Api kita sedang didera oleh ancaman penindasan kejam biara Aula Jalan Leluhur seutuhnya kelak sepanjang sejarah. Meskipun demikian saat ini, seiring dengan berhasil diamankannya kendali kekuasaan atas wilayah Namyang secara mutlak di bawah genggaman telapak kaki Sekte Bayangan Api kita seutuhnya kelak, barisan manusia munafik tersebut secara alami tampak berbondong-bondong melayangkan wajah manis mereka murni bertujuan agar bisa mengamankan sedikit jalinan koneksi bisnis yang menguntungkan kelak bagi kenyamanan hidup mereka masing-masing kelak nanti.
Meskipun bagian otaknya terbukti telah berhasil mengidentifikasi secara mendalam perihal detail kemunafikan watak yang disembunyikan di balik raut wajah manis mereka selama ini baru saja seutuhnya, Wi Ripsan tetap memilih opsi untuk menyambut hangat kedatangan seluruh tamu tersebut menggunakan seulas senyuman ramah yang lebar di wajahnya seutuhnya kelak. Bagaimanapun juga, apa sebenarnya arti penting dari kemunafikan watak mereka di mata hukum rimba persilatan saat ini, hah?
Hal luar biasa semacam ini bagaimanapun juga tidak lebih dari sekadar wujud hak istimewa khusus yang selamanya hanya akan bisa dinikmati secara eksklusif oleh sang pemenang pertempuran seutuhnya kelak di bawah langit. Siapa pun pendekar sejati di bawah langit dipetakan kelak pasti akan melayangkan pengakuan jujurnya menyatakan bahwa memosisikan jasad badannmu berada di dalam kedudukan yang sangat terhormat menerima banjir ucapan selamat palsu semacam ini bersumpah tetap menyandang nilai kenikmatan yang mencapai kisaran angka ratusan bahkan ribuan kali lipat jauh lebih indah sekali kelak seutuhnya, dibandingkan dengan harus dipaksa menelan kekalahan bertarung memalukan dan berakhir didepak kasar angkat kaki meninggalkan kediaman wilayah Namyang yang dicintainya kelak seutuhnya.
"Jasad pribadiku bersumpah selama ini sama sekali tidak pernah memiliki kapasitas pikiran untuk sekadar menduga bahwa tingkat kapasitas kekuatan bela diri Sekte Gunung Hua benar-benar telah terlanjur tumbuh sedahsyat ini hari ini kelak."
Detail kenyataan persilatan tersebut bersumpah bahkan bagi diri Wi Ripsan sendiri sekalipun seumur hidup kehidupannya selama ini juga sama sekali tidak pernah ia ketahui secara pasti seutuhnya sejak awal mula kelak.
"Pantas saja Anda sebelumnya secara konsisten terus memelihara rasa percaya diri yang begitu tingginya di depan umum selama ini, Pemimpin Sekte Wi!"
Rasa percaya diri keparat dari mana lagi sebenarnya yang sedang dicoba dibahas oleh lubang mulut kotor pria paruh baya yang satu ini saat ini, hah?
Wi Ripsan memaksakan sisa otot wajahnya menyajikan seulas senyuman lebar yang sangat kaku seutuhnya kelak. Ia di dalam dadanya murni hanya bisa berdoa sekuat tenaga berharap agar ulasan senyuman kaku di wajahnya saat ini setidaknya dipetakan akan sanggup terlihat menyerupai seulas senyuman penuh rasa percaya diri yang matang di mata lawan bicaranya seutuhnya kelak.
Setelah menghabiskan kurun waktu perjalanan waktu yang terhitung cukup menyiksa sekali murni bertujuan menyambut kedatangan seluruh tamu penting luar lengkap dengan melayani permohonan maaf yang dilayangkan secara tertulis oleh barisan murid didikan sektenya yang kemarin sempat memilih opsi melarikan diri menjauh seutuhnya baru saja, Wi Ripsan pada akhirnya secara ajaib berhasil menuntaskan seluruh detail urusan administratif sektenya seutuhnya fajar ini, dan melangkahkan kakinya berjalan kembali menuju ke arah bangunan aula utama kediaman Sekte Bayangan Api seutuhnya kelak. Sekujur ketahanan tubuh fisiknya, yang saat ini terbukti masih belum pulih seutuhnya secara medis dari dampak kerusakan luka internal yang didapatkannya sepanjang sesi pertarungan persahabatan kemarin fajar, secara konsisten terus menerus memancarkan deru rasa pegal dan keletihan fisik yang luar biasa kencang menyiksa kesadarannya seutuhnya kelak. Meskipun begitu di seberang sana, bagian hati terdalam dari Wi Ripsan saat ini bersumpah telah terlanjur diselimuti oleh kelegaan batin yang teramat sangat luas sekali seutuhnya kelak.
'Satu hari yang teramat sangat indah sekali semacam ini pada akhirnya secara nyata benar-benar telah berkunjung menghiasi sisa hidup jasad pribadiku hari ini seutuhnya kelak.' Bagaimana mungkin bagian jiwanya tidak akan memelihara kegembiraan yang luar biasa dahsyat di dalam dadanya hari ini, hah? Ada terlampau banyak sekali jalinan berkah keuntungan yang berhasil ia amankan di dalam genggaman telapak tangannya fajar hari ini seutuhnya kelak. Pertama-tama, ia pribadi telah berhasil menyaksikan menggunakan sepasang bola mata kepalanya sendiri secara nyata tentang wujud pemulihan kekuatan yang teramat sangat sempurna sekali memancar menyelimuti Sekte Utama Gunung Hua, sekte utama yang di masa lalu sempat ia yakini telah resmi hancur lebur tanpa sisa seutuhnya kelak. Dan ia juga telah berkesempatan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri perihal bagaimana rombongan pendekar utama sekte utama tersebut rela memecut laju langkah kaki mereka menempuh perjalanan sejauh seribu li melintasi jalanan terjal murni didasari murni hanya karena ingin mengamankan keselamatan hidup jasadnya seutuhnya kelak.
'Ayah. Segenap keyakinan moral yang Anda wariskan ke hadapan jasad pribadiku selama ini bersumpah terbukti sama sekali tidak salah sedikit pun seutuhnya kelak.' Murni didasari murni karena jasad pribadinya secara konsisten terus mencengkeram erat dan mematuhi seluruh wasiat wasiat suci mendiang Ayah kandungnya hingga ke batas akhir kemampuan hidupnya selama inilah yang pada akhirnya secara ajaib sanggup melancarkan jalannya takdir mempertemukannya dengan hari keindahan semacam ini seutuhnya hari ini kelak. Wi Ripsan melangkahkan kaki besarnya berjalan menghampiri bangunan aula utama sekte dengan langkah kaki yang teramat sangat ringan dan lincah sekali seutuhnya kelak.
Tepat di balik daun pintu bangunan aula utama tersebut saat ini, ada sekelompok pahlawan ksatria muda penyelamat sekte yang saat ini diproyeksikan sedang berkumpul lengkap seutuhnya. Mereka semua saat ini diproyeksikan pasti sedang sibuk mengangkat cangkir minuman keras lezat mereka tinggi-tinggi ke udara, merayakan jalannya kemenangan pertempuran fisik legendaris fajar ini dengan segenap kegembiraan yang meluap-luap seutuhnya kelak di dalam ruangan.
'Jasad pribadiku diwajibkan hukumnya secara mutlak mulai detik ini untuk segera meluncurkan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya ke hadapan mereka seutuhnya kelak!' Ia berkewajiban melayangkan permohonan maaf yang jujur murni bertujuan untuk mengoreksi kesalahan sikapnya di masa lalu yang sempat memelihara keraguan moral atas kapasitas bertarung rombongan mereka, lengkap dengan meluruskan detail kekesalan batin tersembunyi yang sempat ia pendam di dalam lubang dadanya sepanjang jalan seutuhnya kelak. Dan setelah urusan permohonan maaf tersebut resmi terselesaikan dengan baik kelak, ia diproyeksikan kelak pasti akan ikut mengangkat cangkir minuman kerasnya tinggi-tinggi bersama-sama dengan mereka seutuhnya, mendiskusikan secara serius wujud masa depan kejayaan Gunung Hua kelak nanti di bawah langit fana seutuhnya kelak. Wi Ripsan dengan segenap kebahagiaan yang membara di dalam dadanya tampak meluncur deras mendorong terbuka daun pintu bangunan aula utama sekte kencang sembari menyuarakan teriakan lantangnya seutuhnya kelak.
"Aku memohon maaf yang sebesar-sebesarnya karena telah membuat Anda sekalian menanti kedatanganku terlampau lama seutuhnya di tempat ini……"
Meskipun begitu sangat disayangkan bagi kenyamanan jiwanya kelak, laju deru volume suaranya tampak mendadak terhenti kaku di tengah jalan seutuhnya kelak saat ia menyaksikan pemandangan riil di dalam ruangan aula utama sekte baru saja seutuhnya seketika.
"Tidak boleh demikian, tidak boleh! Bajingan gila keparat! Hentikan tindakan gilamu itu sekarang juga, keparat!"
"Perbuatan gila macam apa lagi sebenarnya yang sedang dicoba diselesaikan oleh lubang kepala kotormu saat ini juga, bajingan ingusan!"
"Tahan pergerakan tubuh fisiknya kencang! Cengkeram jasad bajingan gila itu sekarang juga kencang jangan biarkan ia melarikan diri menjauh seutuhnya kelak!"
"……"
Tumpukan perabotan mebel kayu berkualitas tinggi tampak hancur lebur berserakan membanjiri seluruh penjuru lantai ruangan seutuhnya kelak saat itu juga. Sesosok kursi kayu tampak melayang bebas membelah udara ruangan kencang seutuhnya, lengkap dengan diikuti oleh runtuhnya satu buah lentera hias ruangan yang sebelumnya tergantung kokoh di langit-langit atap ruangan tampak jatuh terhempas kencang menghantam lantai dan memicu letupan kobaran api kecil yang membakar sebagian karpet ruangan seutuhnya kelak saat itu juga. Satu-satunya wujud penilaian mental yang sanggup ditarik oleh fungsi otak Wi Ripsan saat menyaksikan jalannya kegaduhan konyol di dalam kamarnya baru saja tidak lain adalah:
'Apakah seluruh murid Sekte Wudang secara tidak sengaja terbukti telah meluncurkan aksi serangan balasan fajar kedua mereka menghantam kediaman aula utama sekte kita saat ini juga seutuhnya kelak?'
Meskipun jika parameter penilaiannya diarahkan lurus mengamati jalannya kegaduhan tersebut secara saksama kelak, asumsi buruk tersebut dipetakan sama sekali tidak mengandung kebenaran riil seutuhnya kelak. Jika kenyataannya tidak berjalan demikian kelak, lalu musibah bencana gila macam apa sebenarnya di bawah langit ini yang sedang melanda kelangsungan hidup jasad mereka saat ini juga di dalam ruangan aula utama sekte ini, hah?
Bugh!
Tepat pada satu detik ketegangan tersebut melanda kesadarannya baru saja, Jo Gul yang saat ini terpantau sedang melesat menerjang maju menghampiri posisi tubuh Chung Myung tampak secara kejam menerima satu pecutan tendangan kaki belakang yang mendarat telak menghantam bagian pantat fisiknya kencang seutuhnya kelak, memicu jasad tubuhnya meluncur terbang bebas membelah ruangan sembari melepaskan teriakan kesakitan yang teramat sangat memilukan sekali seutuhnya kelak sebelum akhirnya roboh tersungkur kotor menghantam lantai ruangan kencang seutuhnya kelak saat itu juga.
'Jasad pribadi pendekar yang barusan baru saja terhempas meluncur dihantam tendangan pantat tersebut bukankah merupakan sosok pendekar pedang tangguh yang baru saja menumbangkan murid utama Sekte Wudang beberapa jam yang lalu baru saja di halaman sekte, bukan?' Sesosok pendekar master sehebat itu saat ini justru terbukti secara konyol sanggup terhempas melayang murni akibat dari pecutan tendangan pantat sepele dari sesama murid didikan sekte utamanya seutuhnya kelak?
'Apakah kejadian buruk yang sedang disaksikan oleh sepasang mataku saat ini hanyalah merupakan wujud dari sebuah mimpi buruk di dalam tidurku belaka seutuhnya kelak?'
Tentu saja tidak demikian seutuhnya kelak. Rangkaian kegaduhan konyol ini adalah wujud kenyataan realitas yang sesungguhnya terjadi fajar ini seutuhnya kelak.
Di tengah-tengah rentetan kegaduhan konyol yang sedang menyelimuti isi ruangan tersebut saat ini, Chung Myung dengan gerakan tubuh yang teramat sangat lincah sekali tampak menepis kasar seluruh cengkeraman tangan dari barisan Kakak Seperguruan di sekelilingnya, meraih kasar buntelan kain perbekalan pribadinya kencang seutuhnya, dan mulai melangsungkan aksi pencarian barang di dalam buntelan tersebut dengan sangat hebohnya seutuhnya kelak.
'Pakaian kain biasa?' Jubah pakaian kain jenis macam apa lagi sebenarnya yang sedang ditarik keluar secara paksa oleh tangan kotarnya saat ini hingga ia dipaksa harus meluncurkan aksi keributan gila semacam ini di dalam ruangan, hah? Rahasia keistimewaan macam apa sebenarnya yang disembunyikan di balik jahitan jubah pakaian kain tersebut selama ini……
Huh?
Jubah jinjing pakaian tersebut bersumpah terpantau berwarna hitam pekat secara keseluruhan seutuhnya kelak. Dan wujud ukurannya terhitung sangat ketat membungkus tubuh fisiknya seutuhnya kelak?
Heh heh.
Siapa pun pendekar di seluruh penjuru dataran tengah yang menyaksikan jasad manusia fana mengenakan pakaian ketat hitam pekat semacam itu dipetakan kelak pasti akan secara refleks melayangkan penilaian menilai jasad badannya sepenuhnya terlihat menyerupai sesosok pencuri malam kotor ataupun sesosok pembunuh gelap (assass……) seutuhnya kelak di bawah langit.
Bukan hal itu yang memegang peranan terpenting saat ini, bajingan! Alasan gila macam apa sebenarnya yang melatarbelakangi alasan mengapa lubang kepalamu bersikeras mengenakan jubah pakaian hitam ketat semacam itu hari ini, bajingan ingusan keparat!
Dalam kurun waktu satu kelebatan napas belaka seutuhnya kelak, jasad Chung Myung yang saat ini telah selesai berkemas membungkus ketahanan tubuh fisiknya menggunakan jubah hitam ketat pencuri malam tampak menggenggam erat satu buah benda berwarna hitam pekat di tangannya sembari memusatkan sepasang bola mata gilanya menatap lurus ke arah jasad seluruh saudara seperguruannya seutuhnya kelak.
Baek Cheon, dengan diiringi oleh banjir tetesan keringat dingin yang membasahi sekujur dahi fisiknya saat ini, tampak secara terburu-buru mengangkat kedua belah telapak tangannya tinggi-tinggi ke udara, memperagakan gestur tubuh menenangkan jasad Chung Myung layaknya sesosok manusia fana yang sedang berjuang sekuat tenaga murni bertujuan untuk meredakan gejolak amarah seekor anjing liar yang sedang menyalak kasar seutuhnya kelak.
"Ch-Chung Myung-ah. Tolong tenangkan kembali gejolak pikiran kasarmu sejenak seutuhnya kelak dan cobalah melatih keahlian otakmu untuk mencerna kembali situasi darurat ini dengan ketenangan kepala yang matang kelak seutuhnya. Rombongan murid Sekte Wudang saat ini telah resmi angkat kaki melarikan diri meninggalkan kediaman sekte kita seutuhnya kelak. Sama sekali tidak ada kebutuhan mendesak terkecil pun bagi jasadmu untuk meluncurkan tindakan ekstrem yang berada jauh di luar batas nalar kemanusiaan semacam ini hari ini kelak."
"Telah resmi angkat kaki melarikan diri, kau menyatakannya?"
"Y-Ya, benar sekali, mereka semua telah resmi angkat kaki pergi menjauh saat ini juga seutuhnya. Seluruh tugas penyelamatan sekte cabang kita saat ini dipetakan telah resmi terselesaikan secara tuntas seutuhnya kelak. Satu-satunya tugas administratif yang tersisa bagi rombongan kita mulai detik ini tidak lain adalah segeralah berkemas melangkahkan kaki kembali pulang menuju ke Sekte Utama Gunung Hua seutuhnya kelak nanti. Pemimpin Sekte Utama kita kemarin fajar telah berkali-kali melayangkan pesan tertulis yang ketat melarang keras jasad rombongan kita meluncurkan aksi kekacauan brutal di luar sekte seutuhnya kelak sepanjang jalan, kau tidak melupakannya, bukan?"
Chung Myung menyajikan senyuman cerah yang sangat ramah di wajahnya sembari menganggukkan kepalanya khidmat seutuhnya.
"Ah, tebakanmu itu sangat tepat sekali seutuhnya kelak, Paman Guru. Seluruh tugas pertempuran fisik yang diemban secara resmi oleh Paman Guru, Sago Yu, beserta barisan Kakak Seperguruan pribadiku hari ini bersumpah memang telah resmi berakhir dengan kesuksesan yang mutlak seutuhnya kelak. Kalian sekalian dipetakan sama sekali tidak perlu lagi mencurahkan fokus pikiran kalian murni bertujuan memikirkan detail sisa urusan pertikaian fisik di tempat ini kelak seutuhnya. Meskipun jika bagian hati pribadiku melayangkan penilaian jujur menyangkut kualitas pertunjukan bela diri yang kalian sajikan fajar ini baru saja, kualitas pertarungan kalian bersumpah sama sekali tidak berada pada tingkat kepuasan bertarung yang kudambakan seutuhnya sejak awal mula kelak, namun mengingat jasad kalian pada akhirnya terbukti secara ajaib masih sanggup mengamankan kemenangan pertempuran fisik kelak, aku bersedia meloloskan kelalaian kalian kali ini seutuhnya kelak tanpa memperpanjang urusannya seutuhnya kelak nanti. Di luar dari wujud kelalaian Kakak Seperguruan Jo Geol seorang diri belaka seutuhnya kelak tentunya."
"……Alasan konyol macam apa lagi sebenarnya yang mengharuskan jasad pribadiku menerima pengecualian hukum penyiksaan semacam itu hari ini, keparat?!"
Sama sekali tidak memedulikan luapan protes keras yang disuarakan secara histeris oleh Jo Gul yang sedang terkapar di lantai baru saja seutuhnya kelak, Chung Myung menyunggingkan senyuman seringai tipis di wajahnya seutuhnya kelak.
"Meskipun begitu, Paman Guru."
"Ya?"
"Seluruh sisa tugas pertempuran yang diemban oleh jasad kalian sekalian memang telah resmi berakhir dengan sukses fajar ini seutuhnya. Meskipun demikian di seberang sana."
Chung Myung secara perlahan tampak menarik kain penutup wajah hitam (mask) di genggaman tangannya kencang, membungkus ketahanan wajah fisiknya secara rapi, dan mempererat lilitan tali pengikatnya sangat kencang seutuhnya kelak di belakang kepala.
Seketika seutuhnya, sepasang bola mata gilanya yang kini terpantau menjadi satu-satunya bagian tubuh fisiknya yang tersisa menyembul keluar di balik pekatnya jubah hitam pencuri malam tampak melotot tajam menyajikan kilatan bahaya yang teramat sangat mengerikan sekali seutuhnya kelak saat ia melayangkan kalimat lanjutannya lirih.
"Pekerjaan fisik yang wajib diselesaikan oleh tangan jasad pribadiku saat ini justru baru saja secara resmi dimulai seutuhnya kelak!"
"……"
"Aku secara pribadi dipetakan kelak pasti akan memeras dan melucuti seluruh pakaian dalam dari barisan murid Wudang keparat itu hingga mereka dipaksa bersujud telanjang bulat kotor di atas tanah kelak, murni murni didasari murni hanya karena aku pribadi sangat mendambakan informasi intelijen rahasia menyangkut skema konspirasi kotor macam apa sebenarnya yang sedang dicoba dirajut oleh biara keparat mereka di wilayah Namyang ini selama ini seutuhnya, jadi tolong pastikan jasad kalian sekalian bersedia duduk manis menanti kepulanganku di tempat ini dengan tenang kelak seutuhnya!"
Jika bagian hatiku diperbolehkan melayangkan penilaian jujur menilai kualitas penampilan fisizmu saat ini juga seutuhnya kelak, pendekar yang saat ini penampilannya sepenuhnya terlihat menyerupai sesosok pelaku konspirasi kotor yang sesungguhnya di bawah langit tidak lain adalah jasad pribadimu sendiri seutuhnya kelak, bajingan gila keparat!
"Aku berangkat meluncur pembantaian!"
"Cengkeram jasad bajingan gila itu sekarang juga kencang!"
"Tahan pergerakan jasad tubuhnya kencang! Hentikan pergerakan jasad monster gila itu sekarang juga kencang jangan biarkan ia melompat pergi menjauh seutuhnya kelak!"
Meskipun demikian sangat disayangkan bagi mereka semua, terlepas dari seberapa histerisnya langkah penerjangan fisik gabungan yang diluncurkan secara kompak oleh seluruh jajaran murid didikan Gunung Hua di dalam ruangan baru saja seutuhnya kelak, jasad Chung Myung secara luar biasa dengan sangat tenangnya tampak sanggup menepis kasar seluruh cengkeraman telapak tangan mereka sepanjang jalan, meliuk-liukan tubuh fisiknya dengan laju gerakan tubuh yang teramat sangat ringan sekali sebelum akhirnya secara gagah melemparkan tubuh fisiknya melesat terbang keluar membelah pintu bangunan aula utama sekte kencang seutuhnya kelak saat itu juga.
"……"
Tepat pada momen kelelebatan pergerakan tubuh fisiknya melompat keluar pintu gerbang aula utama baru saja seutuhnya, ia sempat melayangkan satu kerlingan mata nakalnya ke hadapan Wi Ripsan yang saat ini sedang berdiri mematung kaku layaknya patung batu tepat di samping daun pintu aula utama seutuhnya kelak, sebelum akhirnya jasad tubuh fisiknya resmi lenyap tak berbekas menyatu dengan pekatnya kegelapan malam hari ini seutuhnya kelak sepanjang jalan.
Dan selang beberapa detik berikutnya berlalu, suara tawa kegilaan yang memancar sangat melengking nyaring sekali khas milik Chung Myung tampak berkumandang hebat membelah keheningan malam di kejauhan seutuhnya kelak.
"……Silsilah kehormatan dari Sekte Gunung Hua kita diproyeksikan kelak pasti akan segera berakhir hancur lebur tanpa sisa seutuhnya kelak untuk selamanya."
"Ah, tidak boleh demikian, dewa langit merestui……"
Banjir gumaman putus asa yang dilontarkan secara histeris oleh barisan murid didikan Gunung Hua, pendekar didikan luar yang saat ini murni hanya bisa berdiri lemas menatap kosong ke arah kegelapan malam di luar pintu aula utama tempat di mana jasad Chung Myung baru saja resmi lenyap tak berbekas seutuhnya baru saja bersumpah secara instan terbukti sanggup meningkatkan kadar keanehan situasi di dalam aula utama sekte berubah menjadi teramat sangat janggal dan membingungkan sekali bagi akal sehat manusia fana seutuhnya kelak saat itu juga.
Wi Ripsan secara perlahan mengadahkan pandangan kepalanya menatap lurus ke arah kubah langit malam fana yang pekat sembari menyajikan seulas senyuman tipis yang sangat hampa sekali di wajahnya seutuhnya kelak.
'Ayah. Bagian hati terdalam pribadiku malam ini meyakini ada sebuah kejanggalan takdir yang teramat sangat serius sekali seutuhnya yang sedang melanda kelangsungan hidup Sekte Utama kita saat ini juga seutuhnya kelak.'
Ia merasa seolah-olah arwah suci mendiang Ayah kandungnya saat ini sedang membisikkan untaian kalimat lirih tepat di samping telinga fisiknya seutuhnya kelak, menyuarakan argumen serupa menyatakan bahwa bagian hatinya di alam sana juga memelihara kecemasan moral yang kurang lebih serupa seutuhnya kelak sepanjang sejarah.











