Return of the Mount Hua Sect

Chapter 224: Mengapa Kalian Sama Sekali Tidak Mengetahui Hal Itu? (3)

5945 Kata

Chapter 224: Mengapa Kalian Sama Sekali Tidak Mengetahui Hal Itu? (3)

"Ugh... Apakah jumlah cairan arak yang kutenggak tadi malam terlampau berlebihan bagi tubuhku?"

Jo Geol mengangkat kepala mudanya dan meluncurkan tatapan mata yang teramat lelah menatap ke arah langit malam.

Kegelapan malam di sepanjang kompleks markas besar Istana Binatang saat ini sudah merambat sangat pekat hingga tanda-tanda fajar menyingsing di ufuk timur bersiap untuk segera menampakkan dirinya dalam hitungan jam.

Pesta perjamuan makan malam mewah yang disajikan khusus oleh wewenang Tuan Istana Binatang tadi malam secara luar biasa terbukti terus dilangsungkan hingga menyentuh waktu fajar dini hari.

Atau untuk merumuskannya secara lebih akurat, kompetisi pertarungan minum arak gila yang diselenggarakan di antara Tuan Istana Binatang dan Chung Myung yang dipaksa terus bergulir hingga fajar tiba.

Siapa pendekar yang keluar sebagai pemenang pertarungan tersebut, tanyamu?

'Bagaimana caranya otak tuaku bisa mengetahui jawaban atas kegilaan itu?'

Detik ketika mereka menyadari bahwa kedua monster tersebut sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda atau niat spiritual sedikit pun murni untuk menghentikan cengkeraman botol arak mereka, seluruh jajaran murid dan prajurit pengawal lainnya secara perlahan memilih opsi rasional untuk melangkah mundur kembali ke bilik kamar peristirahatan mereka masing-masing.

Rombongan murid Gunung Hua lainnya juga sepakat memilih untuk menyeret jasad mereka yang teramat sangat lelah menuju ke arah kompleks bilik penginapan tamu yang telah disediakan khusus oleh Istana Binatang murni untuk meletakkan barang bawaan dan mengistirahatkan otot mereka.

"Ugh. Aku sangat berharap tidak akan ada satu pun prajurit yang memiliki nyali untuk mengetuk bilik tidur kita sebelum jarum jam menyentuh waktu makan siang besok."

Memikirkannya kembali, volume cairan arak yang mengalir masuk ke dalam perut Jo Geol malam ini juga bersumpah demi para leluhur sudah terlampau banyak melewati batas wajarnya.

Setelah membersihkan permukaan wajahnya menggunakan siraman air sumur dingin di halaman bilik dan mengibaskan sisa tetesan airnya kasar, Jo Geol melangkah berjalan sempoyongan mendekati pintu kamar penginapannya dan mengayunkan daun pintunya terbuka halus.

Di dalam ruangan bilik tersebut terlihat sosok Yoon Jong yang jasadnya sudah dibungkus rapi oleh pakaian tidur longgar, namun alih-alih meletakkan tubuhnya di atas ranjang, ia justru tampak sedang duduk diam di samping jendela terbuka sambil meluncurkan pandangan matanya menatap sunyinya halaman luar.

"Apakah Kakak belum merancang rencana untuk segera meletakkan jasadmu di atas ranjang tidur, Sahyung?"

"Aku bersumpah akan segera melakukannya dalam beberapa menit ke depan."

Yoon Jong memutar arah kepalanya menyahut sapaan Jo Geol menggunakan nada suara yang teramat sangat halus nan ramah.

"...Apakah saat ini sedang ada sebutir kecemasan batin yang teramat mengganggu pikiranmu, Sahyung?"

"Ini sama sekali bukan merupakan sejenis kecemasan yang layak kau cemaskan, Geol..."

Yoon Jong mengulas seulas senyuman manis nan tipis di wajahnya.

Sangat konyol nan tidak tahu diri bagi batinnya seandainya ia menyuarakan kalimat keluhan berupa memiliki kecemasan batin di saat rombongan mereka secara luar biasa telah berhasil melintasi Yunnan dengan selamat dan sekarang bahkan dijamu secara terhormat di dalam markas besar Istana Binatang Barbar Selatan.

Terlepas dari seberapa hangatnya sambutan perjamuan yang disajikan oleh Tuan Istana Binatang kepada jubah mereka malam ini, tempat asri ini bagaimanapun juga bukanlah merupakan tanah kelahiran Shaanxi yang aman bagi pedang mereka untuk melonggarkan pertahanan sepenuhnya.

Namun Yoon Jong menyadari dengan sangat baik bahwa arah pertanyaan yang baru saja disuarakan oleh Jo Geol tadi sama sekali tidak memiliki kaitan dengan urusan keamanan wilayah perbatasan tersebut.

"Geol."

"Ya, Sahyung."

"Aku memohon maaf yang sebesar-besarnya kepadamu. Seluruh kerumitan misi ini sempat terjadi murni akibat kelakuan bodoh dari jasad tidak berguna milikku ini."

"Kalimat pembelaan macam apa sebenarnya yang sedang kau suarakan itu, Sahyung?!"

Ekspresi wajah Jo Geol seketika berubah menegang kaku nan serius.

"Bukankah seluruh kerumitan operasional tersebut saat ini sudah resmi diselesaikan dengan sangat elok oleh pedang kita?"

"Memang benar adanya bahwa takdir baik sedang menyelimuti rombongan kita sehingga semuanya berakhir dengan elok malam ini. Namun seandainya di sepanjang jalannya peristiwa kemarin terjadi sedikit saja kelalaian taktis, seluruh jasad murid Gunung Hua di tempat ini dijamin sudah akan berakhir tewas mengenaskan murni karena menanggung konsekuensi hukum atas kelakuanku."

Garis wajah Yoon Jong tampak menegang kaku memikirkan konsekuensi tersebut.

"Bahkan seandainya situasi kemarin terlanjur bergeser menuju ke arah kehancuran tempur sekalipun, bajingan kecil bernama Chung Myung itu dijamin pasti akan selalu menemukan jalan keluar taktis murni untuk menyelamatkan nyawa kita."

"Fakta itulah yang menjadi sumber penyesalan terbesar bagi batin tuaku saat ini."

"Maaf?"

Yoon Jong menggelengkan kepalanya pasrah.

"Karena keberadaan fisik Chung Myung selalu berdiri kokoh mendampingi jubah kita di setiap pertempuran, entah bagaimana caranya batin tuaku ini secara tidak sadar secara bertahap mulai memelihara watak manja berupa berasumsi bahwa segala jenis bencana tempur di dunia pasti akan selalu sanggup diselesaikan oleh tangannya. Tugas utama yang wajib dipikul oleh jubahku selaku murid senior di sekte adalah bertransformasi menjadi pilar penopang yang bersedia memikul sebagian beban hidupnya, bukan justru bertindak sebaliknya menjadi beban tambahan bagi pundaknya. Namun realitasnya sepanjang misi kemarin, aku secara memalukan justru terbukti murni menjadi beban tambahan bagi pedangnya bukan?"

"Sahyung..."

"Itu adalah sebuah bentuk tindakan yang teramat sangat bodoh nan kekanak-kanakan sekali. Aku bersumpah demi kehormatan leluhur tidak akan pernah lagi membiarkan watak manja sejenis merusak konsentrasi bertarungku di masa depan nanti. Aku memohon maaf."

"Seluruh urusan tersebut sudah dimaafkan dengan sangat bersih sejak kemarin, Sahyung."

Jo Geol melepaskan desah helaan napas panjang di dadanya.

Batinnya ikut merasakan kehangatan yang teramat sangat berat nan sesak, menyadari bahwa untaian kalimat hiburan verbal sekeras apa pun yang ia suarakan saat ini tidak akan pernah sanggup untuk melunakkan beban rasa bersalah yang sedang mencengkeram erat lubuk hati Yoon Jong sore ini.

"Namun... atas dasar motivasi apa kau di masa lalu rela melakukan tindakan nekat membahayakan nyawa sekejam itu? Aku sepanjang sejarah latihan kita di sekte bersumpah belum pernah menyaksikan ekspresi wajahmu bertransformasi menjadi teramat sangat serius nan keras kepala seperti kemarin."

"Alasan dibalik kelakuanku kemarin murni karena..."

Yoon Jong seketika membungkam mulutnya rapat-rapat.

Ia tampak terdiam merenung membidik kegelapan malam di luar jendela selama beberapa menit, sebelum akhirnya melepaskan sebutir desah helaan napas panjang yang teramat sangat mendalam dari dadanya.

"Apakah kau sepanjang hidup bersamaku di bilik sekte sudah mengetahui fakta bahwa aku dilahirkan ke dunia ini menyandang status sebagai seorang anak yatim piatu?"

"Benar, Sahyung. Kau sudah pernah menceritakan selingan kisah tersebut kepada kami di masa lalu."

"Lalu apakah ingatanmu juga mengantongi informasi bahwa aku di masa kecil dulu sempat menghabiskan kelangsungan hidup harian sebagai seorang pengemis jalanan?"

"Maaf?"

Sepasang kelopak mata Jo Geol seketika melebar tebal menahan terkejut.

Yoon Jong memandangi wajah terkejut rekannya selama beberapa detik, sebelum akhirnya kembali bersuara menggunakan nada yang teramat sangat datar nan tenang.

"Sejauh batas ingatan memori masa kecil yang sanggup dijangkau oleh otak tuaku saat ini, jasad fisiku murni hanya dibesarkan oleh belaian kasih sayang dari ibu kandungku seorang. Rombongan kami sama sekali tidak memiliki jalinan kerabat dekat, ataupun rekan kenalan yang bersedia mengulurkan bantuan ekonomi di masa sulit. Detik ketika ibu kandungku melintasi takdir kematian meninggalkanku sendirian, jasad kecilku tidak dibekali pilihan bertahan hidup lain selain melangkahkan kaki mengemis makanan di sepanjang emperan pasar, menjelma menjadi seorang pengemis cilik jalanan."

"...Sahyung."

"Seluruh memori kepedihan di masa dingin tersebut bersumpah demi langit masih tersaji sangat jelas nan nyata di dalam ingatan batin tuaku hingga malam ini. Sebuah periode kelam di mana jasad kecilku dipaksa terlentang sekarat menahan dingin di sudut jalan raya di tengah-tengah guyuran badai salju musim dingin yang teramat menusuk tulang, murni tanpa adanya satu pun manusia yang peduli untuk mengulurkan tangan pertolongan. Dan bagian yang tersaji paling konyol nan memprihatinkan dari ingatan tersebut adalah fakta bahwa rasa lapar yang menghimpit dinding lambungku saat itu terbukti menyajikan siksaan fisik yang puluhan kali lipat jauh lebih menyiksa batin jika dibandingkan dengan dinginnya badai salju. Setelah dipaksa menahan lapar tanpa kemasukan satu butir beras pun selama lebih dari sepuluh hari berturut-turut, batin cilikku secara luar biasa mulai dirasuki oleh bisikan iblis berupa memiliki hasrat untuk mencuri makanan pedagang pasar bahkan seandainya tindakan pencurian tersebut wajib diselesaikan dengan cara membantai nyawa pemiliknya terlebih dahulu. Seandainya takdir usiaku saat itu sudah melewati batas usia anak-anak, aku berani menjamin jasadku hari ini sudah lama membusuk di dalam penjara kekaisaran menyandang label sebagai seorang bandit kejam."

Jo Geol memilih untuk tetap mempertahankan keheningan bibirnya rapat-rapat.

Ini adalah kali pertama bagi sepasang telinganya diperkenankan untuk mendengarkan rincian sejarah masa lalu Yoon Jong secara sekomprehensif dan sejelas ini sepanjang sejarah persahabatan mereka di Gunung Hua.

Dan ini juga merupakan pertama kalinya ia mendengarkan untaian kalimat yang teramat sangat keras nan emosional meluncur bebas dari bibir Yoon Jong, sosok senior yang sepanjang tahun ini selalu dikenal tiada hentinya berjuang keras merawat wibawa dan kesopanan etika selaku murid tertua generasi ketiga di sekte.

"Seandainya sosok Tetua Agung Hyeon Sang yang kebetulan sedang melintasi Shaanxi sore itu menolak meluangkan waktu perjalanannya murni untuk memungut tubuh kecilku yang sekarat, jasad tuaku ini dipastikan sudah lama menjelma menjadi tumpukan tulang belulang kering di emperan pasar Shaanxi seratus tahun yang lalu. Bagi kelangsungan hidupku, Sekte Gunung Hua bukan sekadar sekte latihan bela diri biasa, melainkan merupakan sang juru selamat tunggal yang telah menyelamatkan nyawaku dari jurang kematian. Di tengah-tengah himpitan krisis finansial yang teramat sangat parah melanda internal sekte saat itu, jajaran Tetua Agung secara luar biasa tetap bersedia menyisihkan sebagian jatah nasi mereka murni demi membesarkan seorang bocah pengemis kecil yang sekarat."

Yoon Jong secara perlahan memejamkan sepasang kelopak matanya halus.

Sangat sulit bagi Jo Geol untuk mengidentifikasi apakah ekspresi wajah seniornya saat ini sedang memindai kembali kehangatan memori masa lalunya, ataukah sedang berjuang keras mengunci rapat emosi jiwanya agar tidak meledak runtuh.

Jo Geol memilih opsi bijak untuk tidak terburu-buru membuka mulutnya menyela keheningan perenungan Yoon Jong sore ini.

"Sejak hari bersejarah penyelamatan tersebut hingga detik ini, setiap kali sepasang mataku dipaksa menyaksikan keberadaan warga sipil yang sedang sekarat menahan lapar di sepanjang perjalanan luar, batin tuaku secara otomatis akan langsung ditarik kembali memindai kegelapan masa kecilku dulu. Kemungkinan besar karena aku secara biologis telah merasakan sendiri seberapa perih nan mengerikannya siksaan fisik menahan lapar tersebut... sirkulasi logika di kepalaku seketika akan langsung lumpuh total tanpa sanggup kukendalikan kembali. Aku merasa seolah-olah jasad kecilku saat itu sedang dipaksa oleh takdir untuk kembali merangkak sekarat di atas tanah dingin menyapu kelaparan."

"Aku sangat memahami landasan moral kelakuanmu tersebut, Sahyung."

"Kau benar-benar sanggup memahaminya?"

"Benar sekali, Sahyung."

"Apakah kau akan tetap menyuarakan kalimat pemahaman yang sama seandainya jasad fisikmu terlanjur menemui ajal kematian di lereng gunung kemarin?"

"..."

"Apakah kau dari balik pintu alam akhirat nanti akan tetap bersedia membuka mulutmu menyuarakan bahwa kelakuanku kemarin adalah hal yang wajar dimaafkan?"

"Sahyung."

Yoon Jong bersuara dengan getaran nada yang teramat sangat tegas nan kokoh.

"Tindakan penyelamatan mandiri yang kulakukan kemarin pada dasarnya merupakan sebuah bentuk kelakuan gila yang teramat sangat bodoh nan tidak bertanggung jawab bagi kelangsungan hidup kelompok. Meluncurkan aksi penyelamatan murni demi membantu warga asing yang namanya bahkan sama sekali tidak tercatat di dalam ingatan kita memang merupakan perwujudan dari jalan suci Dao yang sesungguhnya, namun di saat yang sama menjaga keselamatan fisik dari saudara seperguruan dekat yang hidup berdampingan dengan jasad kita juga merupakan esensi suci dari jalan Dao yang tidak kalah mulianya. Atas dasar kesombongan moral apa yang membuat isi kepala tuaku secara sepihak menyimpulkan bahwa hanya opsi pertama saja yang layak dilabeli sebagai jalan suci Dao? Aku bahkan secara memalukan kemarin telah tega menggadaikan bilah pedang warisan sekte kita murni demi menebus kesalahan moralku."

Rasa penyesalan yang teramat sangat mendalam terpancar sangat jelas menyelimuti seluruh lekukan wajah tua Yoon Jong.

Seandainya di sepanjang jalannya insiden kemarin terjadi bencana tempur yang merampas nyawa adik seperguruannya, ia bersumpah demi para leluhur tidak akan pernah sudi memejamkan sepasang matanya dengan tenang bahkan seandainya jasad fisiknya sudah dikubur tanah sedalam sepuluh meter.

Yoon Jong menggigit pelan permukaan bibir bawahnya erat menahan sesak.

"Begitu rombongan kita berhasil menapakkan kaki kembali di markas besar Gunung Hua nanti, aku berjanji akan langsung berlutut di hadapan Pemimpin Sekte Hyeon Jong dan mengakui seluruh dosa kelalaianku secara jujur. Aku secara pribadi sama sekali tidak mengantongi jaminan apakah wewenang sekte masih akan bersedia memberikan izin bagi kedua belah telapak tanganku untuk memegang kembali bilah Pedang Bunga Plum di masa depan nanti... namun seandainya hak kepemilikan pedang tersebut terpaksa dicabut dari tanganku selamanya, hak hukum apa yang dimiliki oleh jasad berdosa sepertiku ini murni untuk menyuarakan kalimat keberatan?"

Jo Geol yang sepanjang malam ini setia mendengarkan untaian kalimat keputusasaan seniornya tersebut, secara perlahan mengayunkan telapak tangan kanannya di udara menyuruhnya berhenti.

"Sahyung. Anda kemungkinan besar memang akan menerima hukuman disiplin fisik yang teramat berat murni karena kelalaian taktis kemarin, namun untuk urusan keputusan menggadaikan bilah Pedang Bunga Plum, aku berani bertaruh 100% Pemimpin Sekte tidak akan pernah menjatuhkan hukuman apa pun kepadamu."

"Atas dasar alasan hukum apa kau menaruh keyakinan sebersih itu?"

"Sebab pada kenyataannya, bilah Pedang Bunga Plum memang merupakan salah satu bilah pedang baja berkualitas tinggi milik sekte kita, namun pedang tersebut bersumpah demi para leluhur sama sekali tidak pernah menyandang status sosial sebagai sebuah Benda Suci yang sakral bagi Gunung Hua."

"Hmm?"

Jo Geol mendeham halus merapikan tenggorokannya yang sedikit kering.

"Seandainya kalimat penyesalan mengenai hilangnya kesucian pedang tersebut terdengar oleh lubang telinga bocah gila bernama Chung Myung itu saat ini, ia dijamin pasti akan langsung membuka mulut lancangnya menyuarakan kalimat berupa: 'Apa? Benda Suci katamu? Benda Suci rahasia macam apa sebenarnya yang sedang kau bicarakan itu, Sahyung?! Seandainya sebilah pedang besi biasa secara otomatis langsung menjelma menjadi benda suci sakral murni hanya karena permukaan logamnya diukir gambar bunga plum kecil, maka apakah kain celana jubah yang sedang membungkus pantat tuaku saat ini juga wajib disembah sebagai benda suci sakral hanya karena memiliki bordiran bunga plum di sudutnya?! Seandainya aku besok pagi sengaja menempelkan stiker bunga plum di atas botol guci arakku, apakah arak persik di dalamnya secara hukum juga wajib kau sembah sebagai arak suci?!'"

"..."

Jo Geol mengulas seulas senyuman manis nan hangat menatap lurus ke arah wajah Yoon Jong.

"Komponen terpenting yang wajib kita rawat di dalam sekte ini bukanlah keberadaan benda-benda mati di luar jasad kita seperti pedang baja tersebut, Sahyung. Melainkan seberapa besarnya ketulusan batin yang kau miliki di dalam dadamu murni untuk selalu menyayangi kelangsungan hidup Gunung Hua itu sendiri. Bukankah analisis pertahanan moral itu jauh lebih vital bagi kita?"

Yoon Jong mengulas seulas senyuman pasrah yang teramat tipis di bibirnya.

Senyuman manis tersebut muncul sama sekali bukan karena isi kepalanya saat ini telah berhasil diyakinkan sepenuhnya oleh untaian argumen logika yang disuarakan oleh Jo Geol tadi.

Melainkan murni karena batinnya secara luar biasa sanggup merasakan kehangatan kasih sayang dari Jo Geol yang sedang mengerahkan seluruh kemampuan verbalnya malam ini murni hanya untuk meredakan badai kecemasan di kepalanya.

"Bukankah iblis kecil bernama Chung Myung itu juga pernah menyuarakan filsafat berupa: Variabel terpenting bagi seorang pendekar bela diri bukanlah perkara seberapa sering ia melakukan kesalahan taktis di masa lalu, melainkan pelajaran hidup berharga apa yang sanggup ia petik dari kesalahan tersebut demi masa depannya. Apakah Sahyung saat ini sudah berhasil memetik pelajaran berharga tersebut bagi batinmu?"

"...Benar, Geol. Aku bersumpah telah memetik pelajaran hidup yang teramat sangat berharga malam ini."

"Jika demikian kenyataannya, bukankah hasil tersebut sudah tersaji jauh lebih dari cukup bagi kelangsungan batinmu?"

Yoon Jong melepaskan desah helaan napas panjang yang teramat rileks di dadanya dan secara perlahan mulai merebahkan jasad fisiknya di atas permukaan ranjang kayu penginapan.

'Apakah kau baik-baik saja, anakku? Cobalah buka sepasang kelopak matamu perlahan.'

'Tetua Agung.'

Visual ingatan mengenai kehangatan wajah Tetua Agung Hyeon Sang yang di masa lalu secara lembut mendekap erat jasad kecilnya yang sekarat di jalan salju seketika kembali melintas halus di dalam batin Yoon Jong.

'Aku memohon maaf atas seluruh kelalaian kepribadianku selama ini, Tetua.'

"Segera matikan lilin kamar itu dan tidurlah, Sahyung. Rombongan kita masih mengantongi teramat banyak daftar tugas tempur yang wajib diselesaikan besok pagi. Fokuskan sisa pikiranmu murni hanya untuk mensukseskan misi pencarian tanaman Rumput Kayu Ungu besok pagi agar kita bisa segera kembali melangkahkan kaki pulang menuju ke Gunung Hua."

"Benar. Aku berkewajiban untuk segera mengistirahatkan pikiranku."

Yoon Jong menganggukkan kepalanya pelan menyetujui, menarik selimut katunnya tebal membungkus dada, dan mulai memejamkan sepasang matanya merayu kedatangan rasa kantuk yang terbukti tidak kunjung sudi menyambangi kepalanya hingga fajar tiba.

Namun tepat pada detik kesunyian kamar baru bersiap mengunci kesadarannya.

"Sahyung."

"Hmm? Ada urusan darurat tambahan, Geol?"

"Kelakuan penyelamatan yang kau eksekusi di lereng gunung kemarin lusa secara taktis memang merupakan kesalahan militer yang teramat bodoh."

"...Benar."

"Namun terlepas dari seluruh kesalahan militer tersebut."

"Ya?"

"Batin tuaku secara pribadi merasa sangat bangga dan bersyukur luar biasa memiliki sosok kakak seperguruan tertua yang memiliki kemurnian hati nurani sepertimu di sekte, Sahyung."

"..."

"Selamat beristirahat, Sahyung."

Keheningan malam yang teramat damai seketika kembali mengunci rapat seisi ruangan bilik tidur tamu tersebut.

Yoon Jong secara perlahan meregangkan lengan tangan kanannya menyapu sisa tetesan air mata kebahagiaan yang merembes keluar di sudut kelopak matanya yang terpejam erat.

Ia menarik kesimpulan pasrah bahwa sisa malam ini dipastikan tidak akan pernah lagi memperbolehkan kesadarannya untuk melintasi tidur hingga matahari pagi resmi terbit menyapu perbatasan.

* * *

"...Apakah jasad gila di depan kaki kita ini sebenarnya masih menyandang status sebagai makhluk hidup?"

"Menilai berdasarkan bau alkoholnya yang terlampau pekat, jasad ini terlihat jauh lebih menyerupai wujud mayat busuk di mataku."

"Tidak, tolong dekatkan lubang hidungmu ke arah dadanya. Sirkulasi nafas di paru-parunya terbukti masih berfungsi secara berkala meskipun sangat lambat."

Seluruh murid Gunung Hua saat ini sedang berdiri melingkar merapatkan barisan di depan teras bilik penginapan mereka dengan ekspresi wajah yang teramat sangat prihatin nan berat, memandangi jasad Chung Myung yang saat ini sedang terkapar tengkurap tak berdaya di atas lantai kayu dengan pakaian jubah yang teramat berantakan.

Jo Geol membungkukkan badannya sedikit dan menggunakan sebilah ranting pohon kecil yang ia dapatkan dari halaman untuk menusuk-nusuk permukaan pinggang Chung Myung pelan.

"Apakah ia benar-benar sudah mati?"

"Seharusnya ia sudah resmi mati secara klinis saat ini. Seandainya ada manusia biasa yang nekat menenggak cairan alkohol dalam volume raksasa sebanyak itu tadi malam dan secara ajaib masih sanggup bernafas pagi ini, maka jasadnya sudah tidak layak lagi diklasifikasikan sebagai ras manusia."

"Secara kalkulasi biologis dasar, kapasitas volume lambung seorang manusia bagaimanapun juga tetap memiliki batasan maksimal yang teramat ketat. Bagaimana caranya sirkulasi perutnya sanggup menampung cairan arak sebanyak itu? Bukankah prajurit pengawal tadi malam sempat menyuarakan bahwa persediaan peti kayu yang mereka angkut adalah arak pusaka yang disimpan khusus murni untuk pesta pernikahan cucu Tuan Istana?"

"Dasar monster pemabuk gila."

*Cocol.*

*Cocol, cocol.*

Detik ketika Jo Geol secara keras kepala tiada hentinya menusukkan ranting pohon kecil tersebut ke arah pinggangnya, jasad Chung Myung yang sebelumnya terkapar kaku layaknya mayat secara mendadak menunjukkan guncangan refleks halus di otot bahunya.

"Ia secara mukjizat ternyata masih hidup, Sasuk!"

"Rombongan kita sepanjang tahun ini tiada hentinya menuntut bocah gila ini agar segera menyempurnakan jalan suci Dao di sekte, namun ia pada kenyataannya justru terbukti berhasil menyempurnakan jalan mabuk arak secara ekstrem terlebih dahulu. Dan dengan menggunakan metode pemurnian yang teramat sangat sesat luar biasa pula."

"Lalu siapa pendekar yang keluar sebagai pemenang tunggal dari pertarungan minum tadi malam?"

Tepat pada momen perdebatan tersebut bergulir.

"Guuuuuuh..."

Sebuah suara erangan penderitaan fisik yang teramat sangat mengerikan nan pekat—sebuah getaran suara yang terdengar seolah-olah dirilis secara langsung dari dasar jurang neraka terdalam—seketika merembes keluar dari celah bibir Chung Myung yang masih menempel di lantai kayu.

"Jasad tuaku... aku yang memenangkan pertarungan minum... guh..."

"Silakan kembalikan kepalamu tidur di atas lantai kayu kembali, Pendekar Agung. Perjuangan tempurmu tadi malam bersumpah demi langit sudah tersaji sangat spektakuler sekali."

"Benar, benar. Rekor kemenangan minummu sudah resmi tercatat di ingatan kami, jadi sekarang kau diperbolehkan oleh hukum untuk segera melintasi kematian dengan tenang."

"Sialan demi langit! Jasad tuaku belum mati!"

Chung Myung mengerang keras menahan pening di kepalanya, secara perlahan mendorong jasad mudanya bangkit berdiri menggunakan kedua belah telapak tangannya secara canggung, dan menghempaskan pantatnya duduk bersandar di pinggir lantai teras kayu paviliun.

"Air... tolong sediakan segelas air sumur dingin untuk tenggorokanku sekarang..."

"Struktur organisasi sekte kita saat ini benar-benar memamerkan keindahan hukum yang teramat luar biasa hebat sekali bukan? Di mana seorang paman guru (Sasuk) wajib meluangkan tenaganya murni hanya untuk mengantarkan segelas air minum bagi keponakan murid juniornya sendiri?"

Meskipun mulut Baek Cheon tiada hentinya menyuarakan omelan kesalnya, telapak tangannya secara luar biasa tetap menyodorkan segelas besar air sumur dingin yang telah ia persiapkan sejak tadi pagi ke hadapan dada Chung Myung secara patuh.

Murni tanpa menyuarakan sepatah kata terima kasih pun, Chung Myung menyambar gelas kayu tersebut cepat, menenggak habis seluruh isinya dalam satu kali tegukan bersih, meletakkan kembali wadahnya kasar ke lantai, dan mencengkeram erat pelipis kepalanya yang terasa seperti mau pecah.

"Ugh... kepalaku... sirkulasi otak tuaku terasa seperti mau terbelah dua..."

"...Pada tingkat keparahan pening sekejam itu, bukankah akan jauh lebih mudah bagimu untuk segera mengalirkan energi Qi internalmu murni untuk menguapkan seluruh sisa racun alkohol di tubuhmu? Bukankah kau di masa lalu sering memamerkan keahlian medis sejenis di sekte?"

"Seandainya jasad tuaku bersedia meluangkan energi Qi-ku murni hanya untuk melakukan tindakan penguapan arak yang teramat bodoh seperti itu, atas dasar motivasi apa aku repot-repot memeras cadangan koin perakku murni untuk membeli arak kemarin?! Aku dijamin akan jauh lebih memilih untuk meminum air sumur biasa sejak hari pertama!"

"Benar, benar. Kalimat penolakan medis yang teramat sangat keras kepala itu juga pernah kau suarakan di masa lalu."

Sebuah desah helaan napas panjang yang teramat lelah kembali meluncur bebas dari sela bibir Baek Cheon.

Sangat mustahil bagi sirkulasi nafasnya untuk menolak melepaskan helaan napas panjang setiap kali dipaksa meneliti wujud fisik Chung Myung yang saat ini tersaji menyerupai wujud mayat hidup yang teramat sangat menyedihkan.

Namun terlepas dari seluruh kejanggalan kelakuannya tersebut...

'Bagaimanapun juga, anak gila satu ini telah berhasil menyelesaikan tugas diplomasinya dengan sangat luar biasa sukses.'

Metode taktis yang paling cepat nan efisien untuk mengunci kerja sama diplomatik yang kokoh dengan klan Istana Binatang adalah dengan cara mengamankan keakraban pribadi dengan sang penguasa tunggal mereka terlebih dahulu.

Sebab sistem kekuasaan yang berlaku di dalam klan perbatasan ini menempatkan status Tuan Istana sebagai pemegang wewenang absolut tertinggi yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapa pun.

Entah kelakuan gila tadi malam dieksekusi oleh Chung Myung karena ia mengantongi kalkulasi diplomatik yang matang di kepalanya, ataukah murni murni karena hasrat liarnya yang teramat sangat menyukai minum arak... terlepas dari apa pun motif aslinya, fakta hukum yang tersaji hari ini adalah Chung Myung telah resmi mengunci jalinan persahabatan yang teramat sangat erat dengan Tuan Istana Binatang Barbar Selatan secara sah.

"Ugh, jiwaku terasa seperti hampir melayang terbang melintasi langit."

Tepat saat Chung Myung menggeleng-gelengkan kepalanya kasar beberapa kali mencoba mengusir pening dan mengangkat pandangan matanya ke depan, sesosok murid senior Istana Binatang terlihat sedang meluncurkan langkah kakinya berlari cepat mendekati teras paviliun mereka.

"Apakah rombongan Tamu Agung dari Gunung Hua sekalian saat ini sudah resmi merampungkan persiapan bangun pagi kalian?"

Pola perilaku verbal dan bahasa tubuh yang ditunjukkan oleh prajurit perbatasan tersebut hari ini memamerkan perubahan tingkat kesopanan yang teramat sangat drastis nan bertolak belakang jika dibandingkan dengan kekasaran mereka kemarin sore.

Sebuah courtesi kesopanan formal yang teramat khidmat terasa sangat kental mengiringi gerakan bungkukan punggungnya.

Tentu saja hal ini wajar terjadi, mengingat Tuan Istana Binatang secara pribadi tadi malam telah menjatuhkan maklumat resmi di depan umum yang menetapkan kelima murid Gunung Hua sebagai Tamu Agung kehormatan yang wajib dilindungi oleh seisi klan.

"Benar. Rombongan kami sudah bangun."

"Wewenang Tuan Istana yang agung saat ini secara resmi mengundang jubah kalian untuk segera merapat menemui beliau di balai utama sekarang juga."

"Apa?"

Sepasang kelopak mata Chung Myung seketika terbelalak lebar menahan heran mendengar undangan tersebut.

"Pria raksasa itu sudah resmi terbangun dari tidurnya pagi ini? Setelah menenggak volume arak pusaka raksasa sebanyak itu tadi malam?!"

Meneliti ekspresi wajah tidak percaya yang teramat sangat jenaka yang dipamerkan oleh Chung Myung tersebut, ujung bibir Baek Cheon secara refleks bergetar halus menahan tawa kemenangan.

"Tampaknya kapasitas rekor minummu pagi ini telah resmi dideklarasikan kalah telak oleh kekuatan fisiknya, Chung Myung. Dasar pecundang arak."

"...I-Ini... analisis kekalahan itu bersumpah demi langit tidak mungkin terjadi?!"

"Selamat menikmati status barumu selaku pecundang minum."

Baek Cheon mengulas senyuman manisnya dan mulai melangkahkan kaki kanannya mengekor di belakang jubah prajurit pengawal Istana Binatang secara ceria.

Memikirkan fakta manis berupa ada satu hari di sepanjang sisa hidupnya di mana ia diperkenankan untuk menyaksikan kekalahan telak dari kesombongan Chung Myung menyajikan kepuasan batin yang teramat sangat luar biasa indah bagi dadanya pagi ini.

'...Namun sepertinya dugaan kemenangan itu terlampau terburu-buru disimpulkan oleh kepalaku.'

Rasa kegembiraan batin di dada Baek Cheon seketika menguap lenyap tanpa sisa dalam sekejap mata berikutnya tepat saat rombongan mereka menapakkan kaki memasuki balai utama.

Di hadapan pandangan mata mereka, di atas sebuah kursi singgasana batu raksasa yang dilapisi oleh keindahan kulit harimau sumbu liar, terlihat sosok Tuan Istana Binatang sedang duduk menyadarkan jasad raksasanya dengan ekspresi wajah yang tampak sangat bugar...

Bukan bugar, melainkan tersaji dalam kondisi yang teramat sangat mengerikan nan memprihatinkan sekali.

"Guuuh... ugh..."

'Seberapa raksasanya sebenarnya volume arak yang berhasil ditelan masuk oleh kedua monster ini tadi malam?'

Dimensi garis siluet wajah Tuan Istana Binatang yang kemarin terlihat sangat kokoh nan perkasa seolah sanggup menyangga keruntuhan langit sekalipun, pagi ini secara tragis terlihat menyusut drastis hingga tersisa separuh dari ukuran aslinya.

Lingkaran di sekeliling kelopak mata raksasanya tampak menghitam pekat nan cekung ke dalam layaknya mayat, dengan kedua belah pipinya yang tampak sangat kempot layaknya jasad seorang pasien yang baru saja divonis menderita penyakit kronis stadium akhir.

Ia meluncurkan pandangan matanya menatap Chung Myung dan bersuara menggunakan getaran nada suara yang teramat pecah nan serak.

"...Apakah... apakah jasad mudamu pagi ini... benar-benar berada dalam kondisi yang baik-baik saja, anak muda?"

"Haha. Tentu saja jasad tuaku ini saat ini sedang berada dalam kondisi kebugaran fisik yang teramat sempurna sekali. Bagaimana seandainya kita kembali meluncurkan pertarungan minum arak kedua siang ini... Ugh! Arak... Uuuuup!"

Ekspresi wajah keempat murid Gunung Hua seketika memucat ngeri ketakutan dalam hitungan detik dan secara serentak langsung melesatkan jasad mereka menerkam Chung Myung erat.

Mereka dengan sangat cepat menempelkan telapak tangan mereka menyumbat lubang mulut Chung Myung rapat-rapat dan berteriak histeris menahan panik.

"Jangan pernah berani membiarkan cairan muntahan itu keluar melewati bibirmu, bajingan gila!"

"Area koordinat tempat berdirimu saat ini adalah balai utama Istana Binatang, bukan toilet sekte kita! Telan kembali seluruh cairan asam itu ke dalam perutmu sekarang juga!"

"Ember! Pengawal, cepat sediakan satu buah ember kayu di sebelah sini sekarang juga!"

Menyaksikan kegaduhan penyelamatan muntah yang sedang melanda rombongan tamunya tersebut, Tuan Istana Binatang melepaskan tawa hampa yang teramat lemah.

"Hahaha. Tebakan tuaku terbukti benar adanya. Sangat tidak masuk akal bagi kapasitas lambung anak muda sepertimu untuk sanggup mempertahankan kebugaran fisik setelah menenggak arak pusaka sebanyak... Uuueeerghhh!"

"Aaaaah! Tuan Istana yang agung! Anda bersumpah demi para leluhur tidak diperbolehkan untuk meluncurkan aksi muntah susulan di atas singgasana pagi ini!"

"Ember! Cepat geser ember logam itu ke bawah wajah Tuan Istana sekarang juga!"

Kondisi seisi ruang balai utama seketika bertransformasi menjadi teramat sangat kacau nan berisik dalam sekejap.

Salah seorang murid senior Istana Binatang yang bertugas mendampingi di samping kursi singgasana akhirnya berteriak kesal karena sudah tidak sanggup lagi menahan rasa canggungnya.

"Seandainya rasa pening di kepala Anda memang terbukti menyajikan siksaan fisik sekejam itu, atas dasar keras kepala apa yang melarang Anda untuk segera menggunakan sirkulasi energi Qi internal guna menguapkan racun alkohol di tubuh?!"

"Apa?! Dasar prajurit junior bodoh yang tidak tahu estetika minum! Seandainya jasad tuaku ini bersedia mengalirkan energi Qi-ku murni hanya untuk melakukan tindakan penguapan arak yang teramat bodoh seperti itu, atas dasar motivasi apa aku repot-repot memeras kas klan murni untuk meminum cairan alkohol kemarin?! Aku dijamin akan jauh lebih memilih untuk meminum air sumur biasa sejak awal!"

Melihat respon verbal tersebut disuarakan kembali secara presisi, Baek Cheon hanya bisa mengulas seulas senyuman manis nan pasrah di wajahnya dan melirik ke arah Yoon Jong.

"...Aku bersumpah rasanya baru saja mendengarkan bait kalimat penolakan medis yang teramat identik disuarakan oleh orang lain beberapa menit yang lalu, namun analisis ingatan tuaku ini kemungkinan besar murni hanyalah merupakan sebutir ilusi batin belaka, bukan?"

"Itu 100% murni merupakan ilusi batin yang dipicu oleh kelelahan fisik Sasuk saja. Sangat tidak mungkin ada dua orang gila yang memiliki kesamaan argumen sebodoh itu di satu ruangan."

Setelah dipaksa melewati drama penyumbatan muntah yang teramat menyiksa selama beberapa menit, Chung Myung dan Tuan Istana Binatang akhirnya secara bersamaan menyapu sisa air di sela bibir mereka, menegakkan kembali kepala mereka, dan saling menatap satu sama lain dengan sorot mata yang teramat canggung.

"Seandainya realitas kondisi fisik kita pagi ini tersaji seimbang seperti ini..."

"Maka hasil pertarungan kemarin malam secara sah dideklarasikan Seri, bukan?"

Kompetisi pertarungan minum arak di antara kedua monster tersebut tadi malam pada akhirnya terpaksa dihentikan murni karena persediaan tong Arak Bunga Persik di perbendaharaan klan telah habis dikonsumsi sepenuhnya hingga tetes terakhir tepat pada detik fajar menyingsing.

Oleh karena itu, penentuan pemenang tunggal dari pertarungan tersebut secara hukum wajib dinilai berdasarkan tingkat kebugaran fisik yang ditunjukkan oleh masing-masing peserta pada pagi hari berikutnya, namun realitasnya pagi ini kedua jasad tersebut terbukti sama-sama menunjukkan kondisi kerusakan fisik yang teramat sangat parah nan memprihatinkan sekali tanpa adanya perbedaan kasta.

"...Kapasitas pertahanan minum yang dimiliki oleh tubuh mudamu benar-benar sangat mengerikan sekali."

"Pujian yang sama juga sangat layak disematkan kepada ketahanan lambung raksasamu, Tuan Istana."

Keempat murid Gunung Hua memandangi interaksi acungan jempol hangat yang saling dilemparkan oleh kedua mayat hidup di depan mereka tersebut dengan senyuman pasrah yang teramat geli di bibir.

'Mereka berdua tampaknya sedang menikmati kebersamaan gila ini dengan sangat bahagia.'

'Filsafat mengenai gerombolan burung yang memiliki warna bulu sejenis akan selalu memilih untuk terbang berkelompok dalam satu kawanan yang sama terbukti benar adanya hari ini.'

'Pemandangan visual yang teramat sangat mengerikan nan merusak mata.'

Dan di dalam batin mereka yang terdalam, mereka secara bersamaan memikirkan hal yang sama.

Masa depan kelangsungan hidup para murid Istana Binatang di Yunnan ini tampaknya sama sekali tidak mengantongi porsi kebahagiaan finansial yang elok seumur hidup mereka.

Menyadari fakta mengerikan berupa sosok pemimpin tertinggi klan mereka terbukti mengantongi kadar kegilaan watak yang teramat sangat identik menyerupai watak iblis kecil Chung Myung, kehidupan harian para prajurit di tempat ini dijamin dipenuhi oleh porsi siksaan mental yang tersaji menyerupai neraka jahanam.

Sebuah rasa empati persaudaraan dan kasihan yang teramat sangat mendalam seketika merayap hangat menyelimuti batin keempat murid Gunung Hua menatap ke arah jajaran prajurit pengawal Istana Binatang pagi ini.

"Terlepas dari urusan rekor seri tersebut, atas dasar urgensi misi apa yang membuat Tuan Istana bersedia menjatuhkan undangan memanggil rombongan kami sepagi ini?"

"Ah, benar sekali. Ingatan tuaku hampir saja melupakan motif undangan pagi ini akibat pening alkohol."

Tuan Istana Binatang mendorong ember logam di depannya menjauh menggunakan kaki raksasanya dan kembali membetulkan posisi duduk singgasananya tegak.

"Ini mengenai komoditas tanaman herbal medis bernama Rumput Kayu Ungu yang kau tanyakan kemarin sore."

"Ya, bagaimana perkembangannya?"

"Tampaknya salah satu murid pengawal yang mendengarkan detail pertanyaanmu kemarin tadi pagi-pagi sekali telah berinisiatif meluncurkan penyelidikan mandiri menanyakan detail fisiknya kepada jajaran serikat pedagang lokal Yunnan. Dan tak lama kemudian, salah seorang pedagang yang mengaku memiliki pengetahuan akurat mengenai lokasi keberadaan tanaman tersebut saat ini telah resmi tiba di markas kami, itulah landasan utama mengapa aku memanggil kalian."

"Wah. Tingkat efisiensi kerja klan kalian benar-benar tersaji sangat luar biasa cepat sekali."

"Hahahah! Seluruh warga Provinsi Yunnan sejak hari pertama peradaban memang selalu dikenal memiliki etos kerja militer yang teramat sangat cepat nan presisi di dalam setiap tindakan!"

Murid Gunung Hua hanya bisa melepaskan desah helaan napas panjang di dalam jubah mereka memandangi cara kedua monster itu saling meluncurkan kalimat pujian satu sama lain secara akrab.

Bagi orang asing yang baru pertama kali melintasi ruangan ini pagi ini, interaksi keakraban yang mereka pamerkan di meja singgasana dijamin akan langsung melahirkan kesimpulan palsu berupa kedua orang ini telah menjalin hubungan persahabatan dekat selama minimal dua puluh tahun lamanya.

Untungnya bagi kelangsungan batin mereka, keakraban gila tersebut tidak diperbolehkan oleh takdir untuk bergulir terlampau jauh akibat langkah masuk dari sosok pedagang lokal yang dinantikan ke dalam balai utama.

"Jasad hamba yang kecil ini menyampaikan salam penghormatan yang setinggi-tingginya kepada Sang Surya Agung Provinsi Yunnan, Tuan Istana yang agung."

"Hentikan seluruh bait kalimat formalitas kesopanan yang teramat membosankan itu sekarang juga! Langsung jawab pertanyaan tuaku, apakah ingatanmu benar-benar mengantongi informasi lokasi mengenai keberadaan tanaman Rumput Kayu Ungu?!"

Sebuah gaya interogasi militer yang teramat sangat berapi-api nan tidak sabar, murni tanpa memberikan porsi waktu bagi lawan bicaranya bahkan hanya untuk menyuarakan nama identitas dagangnya terlebih dahulu.

Pedagang lokal Yunnan tersebut tampak sudah sangat terbiasa menghadapi karakteristik interogasi kasar sejenis dari pemimpinnya, dan secara luar biasa langsung menyahut lurus ke titik koordinat masalah tanpa adanya penundaan tempo.

"Komoditas tanaman medis yang di sepanjang wilayah Dataran Tengah dilabeli sebagai tanaman Rumput Kayu Ungu, di sepanjang peradaban Provinsi Yunnan kami secara resmi dikenal menyandang nama sebagai Rumput Roh Ilahi."

"Apa katamu?!"

Getaran suara bass Tuan Istana Binatang seketika meledak keras memenuhi seisi balai utama.

"Apakah pendengaran tuaku tadi tidak salah menangkap ucapanmu berupa nama Rumput Roh Ilahi?!"

"Benar sekali, Tuan Istana yang agung. Informasi tersebut 100% akurat."

"Kalian kelompok anak muda dari Gunung Hua datang mendaki perbatasan kami murni hanya demi mencari lokasi tumbuhnya tanaman Rumput Roh Ilahi?!"

Sepasang kelopak mata raksasa Tuan Istana Binatang seketika melebar sangat lebar.

Pancaran wibawa energi spiritual yang sebelumnya sempat meredup padam akibat pening alkohol pagi ini secara tidak masuk akal terlihat langsung berkobar tebal menyelimuti jasadnya kembali dalam sekejap.

Tunggu sebentar, ada keanehan apa sebenarnya dibalik reaksi wajahnya itu...

"...Apakah jenis tanaman medis bernama Rumput Roh Ilahi tersebut menyandang status sebagai sejenis tanaman pusaka yang teramat sangat luar biasa hebat bagi klan kalian?"

Chung Myung meluncurkan pertanyaannya menggunakan getaran nada suara yang dibumbui oleh firasat ketidaknyamanan batin yang teramat samar.

Reaksi perubahan ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh pria raksasa di depannya saat ini benar-benar tidak menyajikan impresi yang elok bagi kelangsungan misi mereka.

"...Sama sekali tidak. Tanaman itu sama sekali bukan merupakan sejenis komoditas tanaman pusaka legendaris yang memiliki nilai kegunaan medis yang luar biasa."

Tentu saja hal itu benar adanya.

Bukankah di masa lalu dokumen sekte mereka secara sah mencatatkan bahwa tanaman Rumput Kayu Ungu merupakan jenis barang impor biasa yang secara rutin dikirim masuk ke Dataran Tengah melalui jalur perdagangan Yunnan? Seandainya tanaman tersebut terbukti menyandang status sebagai tanaman pusaka sakral klan, sangat tidak mungkin hukum adat Yunnan akan meluncurkan izin ekspor bebas bagi pengirimannya ke Dataran Tengah di masa lalu.

Namun terlepas dari seluruh kebenaran fakta tersebut, gumpalan kecemasan yang teramat tebal saat ini tampak sedang menyelimuti raut garis wajah Tuan Istana Binatang.

Ia mengayunkan telapak tangan kanan raksasanya kasar menggaruk halus permukaan kulit kepalanya yang tidak gatal.

"Ugh. Bagaimana caranya alur takdir misi ini bisa berakhir menemui titik kerumitan yang teramat sangat canggung seperti ini...? Pertama-tama, aku berkewajiban untuk menegaskan kebenaran hukum berupa komoditas tanaman Rumput Kayu Ungu yang kau sebutkan tadi, yaitu tanaman Rumput Roh Ilahi kami, memang benar-benar tumbuh subur di sepanjang wilayah Provinsi Yunnan kita saat ini. Tetapi..."

Tuan Istana baru bersiap menguraikan kalimat penjelasan kelanjutannya, sebelum akhirnya memilih untuk menggelengkan kepalanya pasrah membatalkan niatnya.

"Tidak. Penjelasan verbal murni dari sepasang bibir tuaku saat ini dijamin tidak akan pernah cukup untuk membantu logika berfikir kalian memahami kerumitan masalahnya. Segera gerakkan kaki kalian mengikuti jubah tuaku ke belakang sekarang juga. Aku secara pribadi akan bertindak selaku pemandu jalan murni untuk mengantarkan sepasang mata kalian menyaksikan sendiri di titik koordinat mana tanaman Rumput Roh Ilahi tersebut saat ini sedang tumbuh."

Tuan Istana Binatang secara luar biasa langsung melesatkan jasad raksasanya bangkit berdiri meninggalkan kursi singgasana batunya.

Meneliti kebesaran dimensi fisik jasad raksasanya yang teramat tebal nan kokoh berdiri tegak di depan mata, seberkas rasa kepercayaan batin yang teramat kokoh secara alami...

"Segera ikuti... Oop! Ember logam itu! Cepat geser embernya kemari! Uuueeerghhh!"

...menguap lenyap tanpa sisa dari dalam kepala murid Gunung Hua dalam hitungan detik.

Benar-benar lenyap tanpa menyisakan sebutir pun rasa percaya diri di dalam dada mereka pagi ini.

Chung Myung

Chung Myung

Karakter Utama
Baek Cheon

Baek Cheon

Pendukung
Yu Iseol

Yu Iseol

Heroine
Yoon Jong

Yoon Jong

Pendukung
Jo Gul

Jo Gul

Pendukung
Tang Gunak

Tang Gunak

Pendukung
Hyeyeon

Hyeyeon

Pendukung
Lim Sobyeong

Lim Sobyeong

Pendukung
Jang Ilso

Jang Ilso

Antagonis
Hyun Jong

Hyun Jong

Pendukung
Hyun Young

Hyun Young

Pendukung
Tang Soso

Tang Soso

Pendukung

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.