Chapter 227: Kolam Jenis Apa yang Dijadikan Tempat Tinggal Seekor Naga! (2)
"Ah. Peristiwa bertarung tadi benar-benar sangat merusak harga diri tuaku! Memikirkan bahwa jasad kuperkasa ini dipaksa menerima kekalahan memalukan murni dari seekor ular liar. Cuihh! Ugh, pasir ini mengotori mulutku! Cuih, cuih!"
Chung Myung tiada hentinya menyemburkan keluar sisa butiran tanah pasir yang menyumbat rongga mulut mudanya.
Setiap kali ia menyemburkan pasir tersebut, seberkas aliran darah segar berwarna merah pekat terlihat ikut merembes keluar membasahi dagunya melalui lubang hidungnya yang terluka.
"...Sasuk menyarankan agar kau segera mengusap noda darah di hidungmu terlebih dahulu, Chung Myung."
"Apakah urusan remeh sepele sekelas aliran darah hidung memiliki nilai guna penting untuk dicemaskan pagi ini, Geol...? Apa? Mengapa volume rembesan darah merah ini malah mengalir semakin deras keluar dari hidungku? Ya Tuhan! Ular keparat itu benar-benar berniat merampas nyawa kecilku pagi ini!"
Menyaksikan kegaduhan kekonyolan di depannya tersebut, Yu Iseol menggelengkan kepalanya pasrah, tangannya bergerak mengambil selembar kain saputangan bersih dari dalam lipatan lengan jubahnya dan mulai melangkah berjalan mendekati posisi berdirinya.
Ah, ia melangkah mendekat kemungkinan besar ditujukan murni murni hanya untuk mengusap noda darah di wajahnya secara lembut...
*Syuuut.*
*Syuuutt!*
"Agh! Akh, ugh!"
Yu Iseol secara luar biasa langsung menyodorkan saputangan tersebut kasar dan menyumbatnya masuk ke dalam lubang hidung Chung Myung.
Chung Myung sempat mencoba meluncurkan gerakan penolakan fisik untuk menghindar, namun Yu Iseol secara dingin langsung mencengkeram erat bagian tengkuk jubah leher mudanya, dan dengan menggunakan ekspresi wajah yang teramat sangat datar tanpa emosi sedikit pun, ia terus mendorong paksa saputangan tersebut masuk semakin dalam menusuk lubang hidungnya.
"..."
Apakah gerakan penyumbatan paksa barusan diklasifikasikan sebagai sebuah bentuk tindakan kepedulian seorang kakak perempuan yang hangat, ataukah merupakan perwujudan dari sebuah aksi penyiksaan fisik terselubung?
"..."
Meneliti dari gerak kerutan otot di wajah Chung Myung yang tampak megap-megap menahan sesak, tindakan barusan dipastikan 100% merupakan aksi penyiksaan fisik murni.
Dengan kondisi saputangan yang menyumbat rapat kedua lubang hidungnya, Chung Myung menggertakkan deretan giginya geram.
"Ugh. Tidak ada satu pun titik di sepanjang jasad tuaku saat ini yang terbebas dari rasa pening."
Tuan Istana Binatang Barbar Selatan yang sejak tadi diam mengawasi kegaduhan murid Gunung Hua tersebut, akhirnya membuka mulut bersuara.
"Makhluk Ular Sanca Darah Sisik Tinta pada dasarnya menyandang status sebagai entitas Binatang Spiritual yang paling teramat sangat berbahaya sekali di sepanjang perbatasan Provinsi Yunnan. Merupakan takdir keberuntungan yang luar biasa bagi rombongan kalian karena ia dibekali oleh watak spiritual yang cukup tenang nan pasif, sehingga tidak akan pernah meluncurkan serangan pembantaian kecuali seandainya wilayah teritorialnya dilanggar secara paksa oleh manusia. Seandainya ia juga dibekali oleh watak keliaran hewani yang buas sejak lahir, daratan Yunnan kita dipastikan sudah lama menjelma menjadi lautan darah."
"Watak spiritual yang cukup tenang nan pasif, katamu?"
"Benar sekali. Watak aslinya terbukti berada di kasta yang teramat tenang nan bersahabat sekali."
"Keh."
"Namun di balik ketenangannya tersebut, ia memelihara watak kemelekatan yang teramat sangat ekstrem sekali terhadap batas wilayah teritorialnya. Ia bersumpah tidak akan pernah bersedia memberikan toleransi hukum bagi objek luar mana pun murni untuk menyentuh sebutir batu karang ataupun selembar tanaman rumput liar di sepanjang area perairan Kolam Suci. Sangat mustahil bagi pedang rombongan kalian untuk meluncurkan rencana penipuan mengelabui kepekaan insting hewani miliknya murni untuk mencabut keluar benih tanaman Rumput Roh Ilahi dari sana."
Rincian informasi pertahanan teritorial sevital itu sewajarnya sudah kau suarakan sejak hari pertama rombongan kita melintasi gerbang Shaanxi, paman raksasa...
"Jika seluruh variabel pertahanannya tersaji sekejam itu, maka arah kesimpulan akhirnya secara sah menegaskan bahwa rombongan kita diwajibkan oleh takdir murni untuk memusnahkan jasad naga air itu terlebih dahulu demi mengamankan Rumput Kayu Ungu."
"Analisis hukummu itu memang 100% akurat sekali."
Tuan Istana Binatang menganggukkan kepala raksasanya mantap.
"Jasad tuaku secara pribadi menaruh rasa penyesalan yang mendalam karena terpaksa menyuarakan kalimat penolakan ini di hadapan para penerus sah dari Santo Pedang Bunga Plum yang agung, namun aturan adat klan kami melarang keras tangan Istana Binatang murni untuk menyalurkan bantuan militer bersenjata sedikit pun bagi misi kalian pagi ini. Langkah penyelesaian tempurnya wajib kalian selesaikan secara mandiri menggunakan kekuatan pedang kalian sendiri."
Setelah merampungkan sesi penjelasan diplomatik tersebut, Baek Cheon melangkahkan kaki kanannya mendekati posisi Chung Myung dengan raut garis wajah yang bertransformasi menjadi teramat sangat serius.
"Chung Myung, batin tuaku menyarankan agar rombongan kita memilih opsi untuk segera membatalkan rencana pencarian komoditas obat ini dan bersiap pulang kembali menuju ke sekte."
"Membatalkan rencana? Kalimat pengecut jenis apa yang sedang coba kau suarakan dari mulut tampanmu itu, Sasuk?"
"Tidak ada jalan keluar tempur yang aman bagi pedang kita bukan? Bagaimana caranya kau merancang pertarungan bersenjata seandainya bilah pedang baja terbaikmu sekalipun terbukti tidak sanggup menembus ketebalan sisik pelindungnya? Pertunjukan tempurmu tadi murni terselamatkan karena takdir keberuntungan baik sedang menyelimuti jasadmu saja. Seandainya takdir keberuntunganmu bergeser buruk satu inci saja, jasad mudamu pagi ini dijamin sudah resmi lenyap menjelma menjadi bahan pakan pencernaan di dalam perutnya."
"Ugh."
Chung Myung melepaskan sebutir suara erangan penderitaan fisik di dadanya.
Ia di dalam batinnya secara jujur mengakui bahwa jarak antara jasad mudanya dan pintu kematian pada pertempuran singkat tadi memang murni hanya dibatasi oleh ketebalan selembar benang tipis saja.
Seandainya pendekar yang berdiri di bibir pantai danau tadi merupakan praktisi lain selain jasad mudanya, satu kali saja kibasan cambuk ekor raksasa tadi dijamin sudah akan langsung mengirimkan arwah mereka melayang pergi menemui Raja Yama di alam baka murni untuk meluncurkan sesi diskusi pertanggungjawaban dosa secara instan.
'Entitas gaib jenis apa sebenarnya monster naga air satu ini?'
Mengabaikan sejenak daya merusak fisik berskala masif yang dilahirkan oleh kebesaran dimensi tubuh raksasanya, variabel yang tersaji puluhan kali lipat jauh lebih mengerikan bagi pedangnya adalah tingkat ketangguhan pelindung dari lapisan sisik hitamnya yang teramat gila luar biasa.
Bahkan setelah ia secara gila mengalirkan seluruh konsentrasi naegang geomgang terbaik yang sanggup dilepaskan oleh kapasitas tubuh mudanya saat ini sekalipun, bilah pedangnya terbukti masih tetap tidak sanggup meninggalkan seujung luka goresan halus di permukaannya.
Tingkat ketajaman pedang Chung Myung saat ini secara teoritis sudah sangat sanggup murni untuk memotong kepadatan Besi Dingin Ratusan Tahun dari utara, yang secara tidak langsung menegaskan bahwa ketebalan masing-masing lapisan sisik hitam naga air tersebut memiliki kepadatan yang tersaji jauh lebih keras dibandingkan Besi Dingin legendaris sekalipun.
Chung Myung menggaruk halus kepalanya kesal menahan pening.
Silsilah penciptaan seni ilmu pedang sejak hari pertama pendiriannya di dunia persilatan pada dasarnya memang sengaja dirancang murni hanya untuk bertarung berhadapan dengan sesama ras manusia fana semata.
Prinsip dasar ilmu pedang dirawat di atas asumsi ilmiah berupa sebilah logam tajam dijamin pasti akan sanggup melukai kulit target setiap kali ujung bilahnya berhasil mendaratkan kontak fisik di tubuh lawan.
Dengan kata lain, seandainya bilah logam tajam tersebut sejak awal terbukti sama sekali tidak memiliki kapasitas biologis murni untuk memotong kulit target, maka segala variasi keindahan seni jurus pedang apa pun di bawah langit secara otomatis dideklarasikan kehilangan seluruh esensi kegunaannya di medan laga.
"Jadi arah kesimpulan akhirnya menegaskan bahwa hambatan utama yang menyiksa pedangku saat ini murni terletak pada urusan ketiadaan volume Qi internal (naegong) yang memadai bagi tubuh mudaku, bukan?"
"Benar sekali. Menimbang sediaan kapasitas naegong yang dimiliki oleh tubuh mudamu saat ini, sangat mustahil bagimu untuk menundukkan pertahanan sisiknya. Rencana terbaik yang wajib kita ambil saat ini adalah melangkah pulang kembali menuju ke Dataran Tengah terlebih dahulu, baru setelah itu kita luangkan waktu bersama Dewan Tetua murni untuk merumuskan jalan keluar..."
"Bagus! Mari kita segera putar arah jubah kita dan berjalan pulang sekarang juga!"
"Hoh?"
Baek Cheon menatap lurus tepat ke arah wajah Chung Myung dengan sepasang kelopak mata dipenuhi oleh kebingungan terkejut yang nyata.
Waduh, mukjizat spiritual jenis apa yang baru saja melanda isi kepala bocah gila ini hingga membuatnya bersedia mendengarkan untaian kalimat nasihat logis rombongan secepat ini untuk pertama kalinya dalam sejarah?
"Rombongan kita secara resmi akan segera kembali melangkahkan kaki menuju ke markas besar Istana Binatang sekarang juga!"
"..."
Ah, ternyata sepasang lubang telinganya murni hanya bersedia menyaring setengah bagian awal dari kalimat nasihatku saja tadi.
Sangat wajar sekali alur perilakunya.
"Seandainya sediaan kapasitas naegong di dalam tubuh mudaku saat ini dideklarasikan tidak memadai untuk menembus sisiknya, maka satu-satunya tugas tunggal yang wajib diselesaikan oleh jasad tuaku adalah mempertebal volume naegong-ku secara instan! Persetan dengan segala variasi keindahan seni jurus pedang sialan, jasad tuaku berjanji akan segera kembali ke danau ini murni murni hanya untuk meremukkan seluruh lapisan sisiknya menggunakan hantaman tenaga murni absolut!"
Chung Myung menggertakkan deretan gigi taringnya erat.
Memikirkan fakta memprihatinkan berupa jasad agungnya di era baru ini dipaksa menelan kekalahan tempur memalukan dan berlari tunggang-langgang murni hanya karena dikejar oleh seekor ular liar—makhluk hewani yang di kehidupan masa lalunya dulu bersumpah dijamin sanggup ia tusuk hingga mati murni murni hanya dengan menggunakan sebatang sumpit bambu bekas saja.
Sebuah rasa kepedihan dan kesedihan batin yang teramat sangat mendalam seketika merayap menyelimuti hatinya.
Wahai Kakak Seperguruanku yang agung! Pemimpin Sekte Sahyung-ku yang terhormat! Saksikanlah sendiri seberapa menyedihkannya kualitas kelangsungan hidup harian yang wajib ditanggung oleh jasad adik kecilmu ini di era baru sekarang!
Chung Myung meluncurkan satu kali tatapan mata kemarahan yang teramat kejam menusuk lurus ke arah permukaan danau kembali, bibirnya bergumam mengeluarkan ancaman dingin yang berkilat.
"Jasad tuaku berjanji rombongan kita akan segera dipertemukan kembali dalam hitungan jam, paman ular."
Dan seketika itu juga ia memutar tubuh mudanya cepat dan mulai meluncurkan lari cepat secepat badai menuju ke arah kompleks markas besar Istana Binatang.
"Tunggu langkah kakimu sejenak, Chung Myung!"
"Hei! Rencana gila macam apa lagi yang sedang kau rancang di dalam kepala kotormu saat ini, bajingan?!"
Keempat murid Gunung Hua secara terburu-buru langsung melesatkan tubuh mereka berlari kencang mengejar bayangan jubah Chung Myung yang telah melesat jauh di depan.
Memandangi kegaduhan lari cepat yang ditunjukkan oleh rombongan tamunya tersebut, Tuan Istana Binatang Barbar Selatan melepaskan tawa renyah bahagianya yang teramat sangat keras membahana memenuhi hutan.
"Segerombolan pendekar muda dari Dataran Tengah yang benar-benar menyajikan keunikan watak yang teramat sangat menarik sekali."
* * *
"Satu pun manusia bersenjata dari kalian bersumpah dilarang keras melangkahkan kaki memasuki bilik kamarku siang ini!"
"Hei! Bocah kurang ajar, rencana gila jenis apa lagi yang sedang coba kau..."
*Brakkk!*
Chung Myung menghempaskan daun pintu kayu bilik penginapannya secara kasar menutup rapat akses masuk dari arah luar.
Baek Cheon hanya bisa melepaskan desah helaan napas panjang yang teramat sangat lelah di dadanya menatap pintu tertutup tersebut.
"...Langkah operasional apa lagi yang sedang ia persiapkan di dalam kamar saat ini?"
Yoon Jong yang berdiri di samping jubah Baek Cheon, bersuara tenang mencoba menenangkan kecemasannya.
"Namun jasad yang sedang terkurung di dalam bilik tersebut bagaimanapun juga adalah Chung Myung bukan, Sasuk? Ia sepanjang tahun ini selalu terbukti sanggup menemukan satu buah jalan keluar taktis yang elok di setiap kali rombongan kita diperhadapkan dengan jalan buntu."
"...Dan kapan sebenarnya jalan keluar taktis ciptaan otak gilanya itu pernah berakhir diselesaikan secara damai nan tenang tanpa meninggalkan bencana kerusakan bagi batin kita?"
"Maaf?"
"Batin tuaku saat ini sama sekali tidak menaruh kecemasan berupa khawatir ia tidak akan sanggup merumuskan jalan keluar tempurnya. Urusan itu sudah pasti akan diselesaikannya. Kecemasan terbesar yang sedang menyiksa batin tuaku saat ini adalah kekhawatiran mengenai fakta berupa area koordinat yang ia pilih murni untuk mengeksekusi jalan keluar gilanya siang ini adalah markas besar Istana Binatang Barbar Selatan."
"...Ah, untuk urusan penempatan koordinat tersebut... analisis Sasuk memang sangat akurat sekali."
Yoon Jong memalingkan sepasang kelopak matanya melirik halus ke arah sekeliling koridor paviliun.
Merasakan adanya belasan pasang sorot mata penuh selidik yang tiada hentinya dilemparkan oleh para prajurit pengawal Istana Binatang ke arah posisi berdiri mereka, seulas senyuman canggung terpaksa ia ukir di wajahnya murni demi mencairkan ketegangan sosial.
"Kuyakin ia setidaknya masih dibekali oleh sisa akal sehat murni murni hanya untuk menolak merusak markas tuan rumah kita sendiri, bukan Sasuk?"
"Batin tuaku sangat berharap asumsi manis sebersih itu benar adanya..."
Mengingat seluruh rekor firasat buruk yang menyelimuti batinnya di masa lalu bersumpah tidak pernah sekalipun meleset dari kenyataan bencana, Baek Cheon kembali melepaskan helaan napas panjang yang teramat sangat mendalam di dadanya.
Sementara itu di dalam kedalaman bilik kamarnya, Chung Myung secara perlahan mulai mengeluarkan dua buah kotak kayu persegi dari dalam buntelan kain perjalanannya dan meletakkannya di atas meja kayu.
Kotak kayu pertama memiliki dimensi ukuran fisik yang cukup besar nan tebal.
Sedangkan kotak kayu kedua memiliki dimensi ukuran fisik yang sedikit lebih mungil.
Dan sebagai tambahan sediaan obatnya, telapak tangan kanannya bergerak meraba halus lipatan bagian dalam jubah sutranya untuk mengeluarkan satu buah kotak kayu cilik ketiga ke atas meja.
Ia kemudian menjatuhkan jasad mudanya duduk bersila secara anggun menghadap lurus ke arah susunan ketiga kotak kayu tersebut di atas meja.
Tarik napas dalam-dalam menstabilkan sirkulasi Qi di dadanya.
'Pilihan operasional ini pada hasil akhirnya bagaimanapun juga merupakan jenis tindakan yang cepat atau lambat wajib dieksekusi oleh kedua belah telapak tanganku di era baru ini.'
Ia sejak hari pertama pendirian kembali Gunung Hua telah menyadari dengan sangat bersih bahwa hari bersejarah pemurnian obat ini pasti akan ditakdirkan tiba di hadapan pedangnya.
Kecepatan pertumbuhan kekuatan tempur yang dilepaskan oleh sasis tubuh mudanya saat ini memang terbukti telah bergulir dalam skala kecepatan yang teramat luar biasa dahsyat sekali jika disandingkan dengan rekor pertumbuhan pendekar fana lainnya, namun untuk ukuran standar militer pribadinya, pencapaian tersebut masih terlampau jauh dari kata cukup.
Tentu saja, kapasitas bertarung Chung Myung saat ini secara teoritis setara dengan kapasitas bertarung jasadnya di kehidupan masa lalunya dulu ketika ia baru pertama kali menempuh porsi latihan fisik dasar di Gunung Hua.
Namun tugas tempur yang wajib diselesaikan oleh kedua tangannya di era baru ini menyajikan tingkat keparahan yang puluhan kali lipat jauh lebih berat nan menuntut pedangnya untuk selalu berdiri tegak berhadapan secara langsung dengan berbagai aliansi musuh besar di luar.
Jiwanya bersumpah sama sekali tidak dibekali sediaan durasi waktu yang melimpah murni murni hanya untuk meluncurkan proses pertumbuhan kekuatan secara perlahan nan santai layaknya kehidupan pertamanya dulu.
Meskipun seandainya ia memilih opsi murni hanya untuk melatih sirkulasi Qi-nya secara normal tanpa bantuan obat, ia menaruh keyakinan akan sanggup menyamai rekor kekuatan bertarung Santo Pedang Bunga Plum di masa jayanya dulu dalam waktu minimal tiga puluh tahun perjalanan latihan, namun...
'Jaminan hukum jenis apa yang sanggup memastikan bahwa dunia persilatan di luar Shaanxi akan tetap berada dalam kondisi aman nan damai tanpa adanya bencana tempur selama tiga puluh tahun ke depan?'
Sekte Southern Edge atau Sekte Wudang sewaktu-waktu dapat saja meledak gila dan meluncurkan serbuan bersenjata menghancurkan gerbang Gunung Hua kita, ataupun sisa-sisa pengikut Sekte Iblis yang bersembunyi di sudut dunia fana dapat secara ajaib bangkit kembali menyebarkan invasi militer menghancurkan kedamaian Dataran Tengah.
Dan seandainya takdir keberuntungannya sedang bergeser buruk seperti pagi ini, jasad mudanya bahkan dapat secara memalukan berakhir tewas dilahap habis menjadi pakan bagi seekor Binatang Spiritual raksasa liar di perbatasan.
Untuk menjamin kelangsungan hidupnya sanggup melompati segala jenis bencana tempur tak terduga di masa depan, Chung Myung secara pribadi berkewajiban untuk bertransformasi menjadi pendekar terkuat terlebih dahulu.
Sebab hanya melalui cara itulah, Sekte Gunung Hua secara otomatis akan ikut bertransformasi menjadi faksi militer terkuat yang tak tertandingi di bawah langit.
'Pada hasil akhirnya, seluruh problem tempur ini murni kembali mengerucut pada urusan ketiadaan volume naegong yang memadai.'
Proses adaptasi penyelarasan seluruh jenis ilmu jurus bela diri di dalam kepala tuanya dengan sasis tubuh mudanya saat ini secara teoritis sudah selesai dirampungkan dengan sangat bersih.
Kini, satu-satunya komponen vital tambahan yang wajib ia suntikkan ke dalam tubuh mudanya murni hanyalah sediaan volume naegong raksasa saja, barulah setelah komponen tersebut terpenuhi, ia secara otomatis akan kembali sanggup meluncurkan seluruh kedahsyatan ilmu pedang masa lalunya secara instan.
"Baiklah, kalau begitu..."
Chung Myung membasahi bibirnya yang sedikit kering menggunakan lidahnya dan memandangi susunan ketiga kotak kayu di depannya secara bergantian.
*Klek.*
Kotak kayu pertama yang berdimensi paling besar seketika diayunkan terbuka halus.
Di dalamnya menyajikan keberadaan butir ramuan obat Pil Asal Mula merah delima yang beberapa bulan yang lalu berhasil ia rampok (?) dari tangan Pemimpin Sekte Hyeon Jong.
Setelah memandangi keindahan pendaran cahaya merah obat dewa tersebut menggunakan sorot mata yang teramat jernih nan mendalam selama beberapa detik, Chung Myung memindahkan fokus matanya menatap kotak kayu kedua.
Dimensi fisiknya tersaji sedikit lebih mungil nan ringkas jika dibandingkan dengan kotak pertama, namun dihiasi oleh ornamen ukiran kayu yang teramat sangat mewah sekali.
*Klek.*
Detik pertama ketika daun penutup kotak kayu kedua diayunkan terbuka, seberkas aroma harum obat yang diselimuti oleh getaran hawa dingin yang teramat tajam nan mengintimidasi mental seketika melesat keluar menusuk lubang hidungnya dengan sangat keras.
Sebutir obat berwarna hitam pekat yang pendaran hawanya memancarkan aura mistis yang teramat pekat sekali bagi siapa saja yang melihatnya.
Komoditas obat ini tidak lain adalah ramuan obat rahasia tertinggi milik Keluarga Tang, yaitu Pil Seribu Racun.
Pil Seribu Racun secara hukum adat Keluarga Tang menyandang status sosial sebagai salah satu dari komoditas obat spiritual klan tertinggi yang tidak boleh diserahkan kepada orang luar, namun karena Kepala Keluarga Tang Gun-ak saat itu memikul utang budi yang teramat sangat besar di dadanya kepada Chung Myung, ia secara khusus bersedia menyodorkan obat pusaka tersebut ke dalam telapak tangannya secara gratis.
Sangat bertolak belakang dengan kepekatan hawa hitam mistis yang menyelimuti seluruh permukaannya, Pil Seribu Racun pada dasarnya merupakan jenis obat spiritual legendaris yang memiliki khasiat medis untuk mempertebal volume naegong penggunanya secara instan berskala masif.
Setiap praktisi bela diri yang secara sukses mengonsumsi obat ini dipastikan akan langsung mengantongi ketahanan tubuh tingkat tinggi untuk menolak pengaruh dari sebagian besar variasi racun di dunia fana, dan bahkan seandainya jasadnya tidak sengaja terkena racun tingkat tinggi sekalipun, tingkat kerusakan fisik yang dialami oleh organ tubuhnya dijamin akan menyusut drastis.
Sebuah komoditas pusaka tak ternilai yang sanggup membangun ketahanan racun absolut bagi tubuh penggunanya murni hanya dalam satu kali konsumsi bersih.
"Haaaaah."
Chung Myung melepaskan sebutir desah helaan napas panjang di dadanya.
Kemudian ia memutar kepala mudanya menatap lurus tepat ke arah kotak kayu cilik ketiga yang tersisa di atas meja.
Secara teknis, proses pemurnian medis bagi kedua butir obat pertama tadi sama sekali tidak menyajikan tingkat kerumitan yang berarti bagi keselamatan jiwanya.
Sangat tidak masuk akal bagi kapasitas penguasaan naegong milik Chung Myung saat ini—yang sirkulasi logikanya telah berhasil mencapai tingkat master tertinggi—untuk dideklarasikan tidak sanggup menjinakkan sirkulasi khasiat dari kedua obat tersebut dengan selamat.
Namun masalah terbesar yang sesungguhnya pagi ini murni terletak pada keberadaan kotak kayu cilik ketiga ini.
"Ugh."
Bahkan seorang Kepala Keluarga Tang Gun-ak sekalipun saat menyerahkan kotak ini kemarin sempat menunjukkan bahasa tubuh yang teramat sangat ragu nan canggung sekali, akibat sirkulasi otaknya sama sekali tidak mengantongi informasi sedikit pun mengenai apa sebenarnya kegunaan medis dari komoditas racun ini.
Dengan menggunakan gerakan jari tangan kanan yang sedikit canggung, Chung Myung membuka penutup kotak kayu cilik tersebut perlahan.
Berbeda dengan kedua kotak sebelumnya yang langsung memamerkan bentuk fisik butir obat, isi di dalam kotak ketiga ini murni hanya menyajikan keberadaan satu buah botol porselen cilik berwarna putih bersih layaknya giok.
Ia menarik nafas dalam-dalam menstabilkan mentalnya, dan membuka sumbat penutup botol porselen tersebut secara perlahan.
*Syuuu.*
Detik pertama sumbat penutupnya dibuka, seberkas aroma harum yang teramat segar menusuk rongga hidung meluncur keluar dari dalam botol porselen.
Sebuah perpaduan aroma harum yang menyajikan cita rasa sedikit manis namun diselimuti oleh kesegaran dingin yang jernih.
Murni dinilai berdasarkan parameter aroma udaranya saja, keharuman cairan di dalam botol ini bahkan dirasa sanggup memamerkan tingkat kemurnian yang jauh lebih anggun nan jernih jika dibandingkan dengan keharuman Pil Asal Mula sekalipun.
Namun jasadnya bersumpah tidak diperbolehkan oleh akal sehat murni murni hanya untuk tertipu oleh keindahan aroma harum luar tersebut.
Sebab cairan yang tersimpan di dalam botol porselen cilik ini tidak lain merupakan salah satu dari jenis komoditas racun paling mematikan yang pernah diciptakan oleh peradaban Keluarga Tang.
Sebuah racun mematikan legendaris yang menyandang sebutan Air Mata Jelita.
"Hoo."
Chung Myung menatap diam permukaan halus botol porselen tersebut selama beberapa saat, mendekatkan lubang hidungnya kembali menyerap samar hawa racunnya murni untuk mengunci parameternya di kepala.
"Uuuugh."
Detik ketika aroma tajam yang menusuk rongga hidung tersebut terdeteksi oleh sarafnya, sebutir pertanyaan batin mengenai kelayakan apakah jasad mudanya memang benar-benar berkewajiban untuk menempuh jalan pemurnian medis seekstrem ini pagi ini seketika melintas di kepalanya.
"Apakah jasad tuaku saat ini memang diperbolehkan oleh akal sehat murni untuk menaruh rasa percaya penuh pada untaian kalimat penjelasan dari bajingan itu di masa lalu?"
Sebuah kehangatan memori masa lalu seketika kembali melintas halus di dalam batin Chung Myung.
* * *
"Kakak seperguruan (Sahyung) Pendekar Taois suci."
"Urusan gawat apa lagi yang ada di dalam mulutmu, Bo?"
"Apakah ingatanmu saat ini mengantongi informasi mengenai apa sebenarnya jenis obat spiritual terhebat nomor satu yang pernah diciptakan di sepanjang daratan Dataran Tengah?"
Menerima pertanyaan spontan tersebut disuarakan di udara, Chung Myung mengernyitkan kening mudanya sedikit kesal.
Sangat wajar terjadi, mengingat bajingan bernama Tang Bo tersebut sepanjang hidup harian mereka memang selalu memiliki kebiasaan buruk untuk memulai sesi obrolan menggunakan pertanyaan pancingan sejenis.
"Pil Pemulihan Agung milik Sekte Shaolin? Atas Pil Kemurnian Agung milik Sekte Wudang? Tidak. Kebesaran khasiatnya dijamin pasti akan kalah telak seandainya disandingkan dengan Pil Asal Mula milik sekte Gunung Hua kita."
"Analisis pilihan obatmu itu 100% salah sasaran, Kakak. Ketiga jenis obat yang baru saja kau sebutkan tadi bersumpah demi langit bahkan tidak layak untuk diklasifikasikan ke dalam kasta obat spiritual sejati bagi lidahku."
"...Bait kalimat omong kosong jenis apa lagi yang sedang berusaha kau suarakan dari sela bibirmu siang ini, Bo?"
Menatap lurus ke arah raut wajah kesal yang dipamerkan oleh Chung Myung tersebut, Tang Bo melepaskan suara tawa bahagianya yang teramat sangat renyah.
"Sebab komoditas obat spiritual terhebat nomor satu yang sesungguhnya di bawah langit saat ini secara resmi tersimpan di dalam ruang obat Keluarga Tang kami!"
"Jasad tuaku sepanjang hidup di persilatan murni hanya mengetahui fakta sejarah yang menyatakan bahwa Pil Seribu Racun milik Keluarga Tang kalian menyandang kasta khasiat yang teramat rendah nan memprihatinkan sekali seandainya disandingkan dengan obat spiritual milik sekte lain. Bukankah Keluarga Tang kalian sepanjang abad ini tiada hentinya menjadi bahan lelucon tertawaan di sepanjang rimba persilatan Murim karena terkenal teramat sangat jenius sekali membuat ribuan variasi racun mematikan dan obat penawar, namun secara memalukan terbukti sama sekali tidak memiliki kapasitas medis murni untuk menciptakan sebutir pun obat spiritual peningkatan naegong yang layak?"
"Keh."
Mendapati fakta sejarah klan keturunannya ditelanjangi secara jujur tanpa ampun seperti itu, Tang Bo murni hanya bisa mendecakkan lidahnya canggung pasrah.
"Terlepas dari lelucon kotor aliansi luar tersebut, komoditas obat spiritual tertinggi yang kuajukan tadi sama sekali tidak memiliki kaitan dengan urusan Pil Seribu Racun biasa. Obat spiritual sejati milik Keluarga Tang kami tidak lain adalah Air Mata Jelita."
"Air Mata Jelita? Jasad tuaku sepanjang hayat berkeliling persilatan bersumpah belum pernah sekali pun mendengar nama obat spiritual sejenis."
"Sangat wajar seandainya telingamu menolak mengetahuinya, Kakak. Sebab cairan tersebut secara resmi dilabeli di dalam dokumen klan kami sebagai sejenis Racun Mematikan. Dan racun tersebut menyandang status sebagai racun yang proses pembuatannya terbukti tersaji sangat sulit nan rumit luar biasa bahkan bagi kapasitas tangan Keluarga Tang sekalipun."
"...Mengklasifikasikan sejenis racun mematikan sebagai sebutir obat spiritual tertinggi, katamu? Porsi hantaman pukulan fisik yang mendarat di kepalamu sepanjang minggu ini tampaknya sudah terlampau sangat berlebihan sekali hingga merusak sirkulasi kewarasan otarmu, Bo."
"Di bagian koordinat kepala mana jasadku menerima pukulan fisik sebanyak itu?! Bukankah pelaku tunggal yang tiada hentinya mendaratkan pukulan kejam di kepalaku sepanjang minggu ini murni hanyalah telapak tangan Anda sendiri, Kakak seperguruan Taois?!"
Chung Myung secara luar biasa murni memilih untuk bangkit berdiri dari kursi duduknya tanpa menyuarakan sepatah kata pun.
Menyaksikan gerakan bangkit berdiri tanpa emosi tersebut, wajah Tang Bo seketika memucat ngeri ketakutan dan secara tergesa-gesa langsung meluncurkan langkah kakinya berjalan mundur merapatkan punggungnya di dinding kamar.
"J-Jasadku sama sekali tidak memiliki keluhan moral sedikit pun atas pukulan tersebut, Kakak! Sama sekali tidak ada!"
Chung Myung menyeringai tipis melihat kepanikannya dan kembali menjatuhkan pantat mudanya duduk di kursi tenang.
"Lanjutkan penjelasanmu."
"Cairan racun Air Mata Jelita ini pada dasarnya diciptakan melalui metode pencampuran sari pati dari ribuan jenis racun mematikan yang berhasil diamankan dari seisi penjuru dunia."
"Apakah ia menjelma menjadi racun yang tingkat kematiannya tersaji sangat mengerikan sekali?"
"...Tidak, untuk merumuskannya secara jujur... tingkat kematian yang dihasilkan dari racun ini justru terbukti tersaji sangat rendah nan tidak sekejam perkiraan awal klan kami."
"Hah?"
Tang Bo mengulas senyuman canggung di wajahnya.
"Sirkulasi logika para leluhur klan kami di masa lalu menduga bahwa seandainya seluruh variasi racun mematikan di bawah langit berhasil dicampurkan menjadi satu cairan tunggal, maka ia secara otomatis akan melahirkan daya mematikan yang teramat sangat mengerikan sekali bagi tubuh manusia, namun realitasnya di lapangan justru menunjukkan hasil yang bertolak belakang. Khasiat dari masing-masing racun tersebut secara tidak sengaja justru saling meluncurkan penetralan mandiri satu sama lain, mematikan seluruh efek sinergi racunnya, sehingga pada hasil akhirnya ia murni hanya berakhir menyandang status sebagai produk racun yang gagal setengah jalan."
Santo Pedang Bunga Plum Chung Myung meluncurkan tatapan mata dipenuhi kecurigaan tebal menatap wajah Tang Bo.
"Jika ia berstatus sebagai produk gagal, lalu atas dasar kegunaan apa kau repot-repot menyuarakan namanya siang ini?"
"Kakak seperguruan Pendekar Taois yang agung. Di dalam pemahaman bela diri kita, apa sebenarnya esensi sejati dari naegong itu?"
"...Ia merupakan perwujudan dari energi Qi."
"Benar sekali. Ia merupakan perwujudan dari energi Qi alam. Namun sediaan Qi alam yang tersimpan di dalam jasad binatang atau tumbuhan liar di hutan bagaimanapun juga akan selalu dibatasi secara ketat oleh dimensi ukuran fisik wadahnya masing-masing. Di sisi lain, seorang praktisi bela diri manusia memiliki kapasitas spiritual untuk menumpuk dan merawat sediaan Qi tersebut di dalam tubuhnya tanpa batas, bukan?"
"Benar."
"Namun di antara jutaan spesies binatang liar di hutan, terdapat beberapa spesies unik yang dibekali oleh kapasitas insting untuk sanggup mengunci dan merawat sediaan Qi alam di dalam tubuh mereka secara mandiri. Peradaban persilatan melabeli spesies unik tersebut menggunakan istilah Binatang Spiritual. Seluruh Binatang Spiritual legendaris tersebut secara sukses menciptakan wadah dantian di dalam tubuh mereka dan berhasil melompati batasan fisik hewani mereka. Namun selain Binatang Spiritual biasa, terdapat satu klan binatang lainnya yang juga memiliki kemampuan serupa untuk mengunci sediaan Qi, yaitu kelompok Binatang Berbisa (Poisonous Creature)."
"Hah?"
Tang Bo menyeringai lebar.
"Detik ketika seekor binatang liar tanpa bisa berhasil mengunci sediaan Qi di tubuhnya, ia akan bertransformasi menjadi Binatang Spiritual. Sedangkan ketika seekor binatang liar yang dibekali bisa berhasil mengunci sediaan Qi di tubuhnya, ia secara otomatis akan bertransformasi menjadi Binatang Berbisa. Binatang Spiritual mengumpulkan sediaan Qi-nya di dalam wadah dantian mereka, namun Binatang Berbisa..."
"Mengumpulkan sediaan Qi-nya di dalam organ kantung bisa mereka?"
"Tepat sekali! Seandainya logika pertahanan itu salah, atas dasar alasan biologis apa yang membolehkan tingkat kefatalan racun dari seekor Binatang Berbisa mengalami peningkatan drastis berskala masif murni hanya karena dimensi ukuran fisiknya tumbuh sedikit lebih besar? Dengan kata lain, cairan racun berbisa yang diproduksi oleh seekor Binatang Berbisa legendaris pada dasarnya menyandang status sosial yang sama dengan sebutir obat spiritual tertinggi, karena cairan tersebut merupakan perwujudan dari seluruh akumulasi energi Qi alam yang berhasil dikunci oleh jasad binatang tersebut sepanjang hayat hidupnya!"
Chung Myung memiringkan kepalanya canggung meneliti argumen tersebut.
'Mengapa seluruh penjelasan verbalnya barusan memancarkan aroma transaksi penipuan dagang yang teramat sangat kental sekali bagi hidung tuaku?'
"Itulah landasan ilmiah mengapa di sepanjang sejarah klan Keluarga Tang kami telah berulang kali meluncurkan operasi eksperimen medis murni murni hanya untuk mencoba menyerap khasiat cairan Air Mata Jelita—yang merupakan ekstrak campuran dari jutaan bisa Binatang Berbisa—ke dalam tubuh praktisi murni untuk diubah menjadi naegong!"
"Lalu hasil akhir eksperimennya?"
"Tentu saja seluruh kelinci percobaan manusianya berakhir tewas mengenaskan dalam sekejap."
"..."
Hei, bajingan satu ini benar-benar...
Detik ketika gumpalan urat kemarahan di pergelangan tangan kanan Chung Myung tampak menegang kaku, Tang Bo secara tergesa-gesa langsung mengayunkan kedua belah tangannya di udara dan berjalan mundur teratur.
"T-Tunggu langkah kakimu sejenak, Kakak! Dengarkan seluruh rincian penjelasanku hingga titik kata terakhir!"
"Melanjutkan penjelasan omong kosong tidak berguna ini?"
"Ini sama sekali bukan merupakan omong kosong sejarah! Eksperimen tersebut memang dideklarasikan gagal secara keselamatan medis, namun khasiat peningkatan naegong-nya terbukti tersaji sangat nyata nan dahsyat sekali!"
"Bagaimana caranya kau mengunci kesimpulan klinis tersebut seandainya seluruh manusianya terbukti berakhir tewas?"
Tang Bo memamerkan seulas senyuman manisnya yang teramat lebar.
"Sebab seluruh master bela diri Keluarga Tang saat itu dipaksa melesatkan jasad mereka merapatkan barisan murni murni hanya untuk menundukkan keliaran tempur dari satu orang kelinci percobaan yang sedang dilanda kegilaan racun tersebut, dan secara memalukan seluruh master klan kami terbukti berhasil dihantam terpental jatuh bergelimpangan di tanah oleh kekuatan fisiknya. Keluarga Tang kami saat itu bahkan hampir saja menemui kehancuran total akibat hantaman tenaga naegong raksasa yang dilepaskan oleh satu orang gila tersebut. Peristiwa sejarah itu terjadi sekitar dua ratus tahun yang lalu."
"..."
"Tentu saja, karena jasad kelinci percobaan tersebut pada hasil akhirnya terbukti sama sekali tidak dibekali oleh kapasitas spiritual untuk menahan gempuran racun dan murni hanya menerima pasokan energinya secara pasif, seluruh organ tubuh fisiknya secara tragis berakhir meleleh hancur menjelma menjadi segenangan darah hitam di atas lantai, namun arah esensi kegunaannya terbukti sangat nyata sekali bukan? Eksperimen tersebut secara sah membuktikan bahwa cairan racun itu sanggup memberikan pasokan volume naegong berskala raksasa yang jumlahnya bersumpah demi langit tidak akan pernah sanggup disamai oleh sediaan obat spiritual mana pun di bawah langit! Air Mata Jelita memang terbukti gagal bertransformasi menjadi racun paling mematikan nomor satu di dunia, namun ia secara luar biasa menyandang kelayakan penuh murni untuk bertransformasi menjadi komoditas obat spiritual terhebat nomor satu di bawah langit! Dengan satu syarat mutlak berupa jasad penggunanya harus sanggup meluncurkan proses pemurnian racunnya secara mandiri!"
Chung Myung melepaskan sebutir desah helaan napas panjang di dadanya.
"Lalu melalui metode sirkulasi seperti apa proses pemurnian racunnya wajib dieksekusi oleh tubuh penggunanya?"
"...Bagaimana caranya otak tuaku bisa mengetahui jawaban atas misteri medis tersebut?"
"..."
"Seandainya jasad tuaku ini sejak hari pertama sudah berhasil memecahkan misteri pemurniannya, menurutmu atas dasar alasan apa aku masih bersedia membiarkan hidup tuaku tersiksa seperti ini? Aku dijamin sudah meminum satu mangkok penuh cairan Air Mata Jelita sejak tahun lalu dan menggunakannya murni murni hanya untuk mematahkan persendian tulang belakangmu, Kakak seperguruan Taois... ah, kalimat terakhir barusan murni merupakan sebutir kesalahan verbal dari sela bibir tuaku saja."
"Mematahkan persendian tulang?"
"..."
"Tulang belakangku?"
Chung Myung mengulas seulas senyuman manis nan hangat di bibirnya dan secara perlahan bangkit berdiri dari kursi duduknya kembali.
"Ha, haha. Ampun, Kakak."
Tang Bo memamerkan raut wajah canggung yang teramat sangat cemas sekali dan secara perlahan meluncurkan langkah kakinya berjalan mundur teratur mendekati pintu keluar.
"Bagus. Mari kita pastikan jasad kotor milikmu itu resmi melintasi kematian siang ini juga!"
Chung Myung secara luar biasa langsung melesatkan tubuh mudanya meluncur deras menyerang ke arah posisi berdiri Tang Bo tanpa adanya penundaan tempo sedikit pun.
"Hiiieeeeek! Kakak seperguruan Taois yang agung! Akhhh! Seluruh ucapanku tadi bersumpah demi langit sama sekali tidak memiliki kaitan dengan motif pembangkangan moral! Hei, bajingan berhidung besar! Atas dasar ajaran suci mana yang membolehkan seorang praktisi Taois murni murni hanya untuk memukuli tubuh seorang tabib secara kejam seperti ini... Akhhh! Tolong selamatkan kelangsungan hidup jasadku siang ini, Kakak!"
"Mati kau! Mati kau siang ini, bajingan! Mati!"
* * *
"..."
Menarik kembali seluruh fokus kesadaran otaknya memindai memori masa lalu tersebut, Chung Myung menatap kosong ke arah botol porselen berisi racun Air Mata Jelita di tangannya dan melepaskan sebutir desah helaan napas panjang yang teramat sangat mendalam di dadanya.
'...Jasad tuaku pagi ini benar-benar merasa seolah-olah sedang dipaksa oleh takdir untuk mempercayai untaian kalimat promosi palsu dari seorang pedagang obat jalanan yang licik.'
Apakah jasad mudaku pagi ini berkewajiban untuk meminum cairan racun mematikan ini? Ataukah menolak meminumnya?











