Eternally Regressing Knight

Chapter 151: Regarding the Impossible

2555 Kata

151. Tentang Hal yang Mustahil

Hari masih sangat pagi.

Mungkin itu adalah momen ketika sisa-sisa fajar bersinggungan dengan awal pagi.

Saat matahari mulai terbit, satu sisi lapangan latihan dibasahi oleh cahaya oranye.

Berapa banyak orang yang berada di lapangan latihan pada jam seperti ini?

Jika bukan karena penjaga malam yang sedang berpatroli, Encrid pasti menjadi satu-satunya orang di sana.

Karena itulah, sungguh pemandangan yang langka melihat seseorang sudah berada di lapangan latihan sebelum dirinya pada jam sepagi ini.

Tidak, rasanya ini baru pertama kali terjadi.

Encrid membatin, meletakkan tangan kanannya di pinggang dan memberikan hormat militer.

Orang di hadapannya itu layak mendapatkannya.

Pria itu adalah tuan rumah perjamuan kemarin, sekaligus komandan yang bertanggung jawab atas kota Penjaga Perbatasan.

Sebuah anggukan.

Komandan Batalion Marcus menerima penghormatan itu dengan anggukan kepala.

Marcus tidak sendirian.

Lagi pula, sangat jarang baginya untuk sendirian.

Dua orang lain bersamanya, berdiri di belakangnya.

Keduanya berdiri di kegelapan sudut lapangan latihan.

Salah satu dari keduanya, seorang Frokk, melangkah maju.

Meskipun sulit bagi mata manusia untuk membedakan semua ciri fisik seorang Frokk, setidaknya ia bisa tahu bahwa yang satu ini berbeda dari Frokk yang pernah ia temui sejauh ini.

Tidak ada bekas luka di lehernya.

Tatapannya juga tidak galak.

Sebaliknya, makhluk itu hanya menggembungkan pipi putihnya sedikit karena penasaran.

*Gurggle.*

Frokk itu mengeluarkan suara khasnya, mata besarnya memindai seluruh tubuh Encrid.

Dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Lalu kembali dari kaki ke kepala, sebelum akhirnya tatapannya tertuju pada wajah Encrid.

Menunjukkan dengan sangat jelas ke mana arah tatapan seseorang pastilah sebuah bakat tersendiri.

"Kurasa perkenalan perlu dilakukan."

Ucap Marcus dari belakang.

Itu adalah usul yang tepat waktu.

Frokk itu menghentikan suara gurgling-nya dan membuka mulut.

"Aku Frokk."

*Tidak, aku bisa mengetahuinya hanya dengan melihat wajahmu.*

*Aku bahkan tidak perlu melihat wajahmu, cukup tiga jarimu saja.*

*Sejatina kau memang ras yang berbeda sejak awal.*

"Kau terlalu banyak bicara."

Di belakangnya, orang yang satu lagi melangkah maju.

Tidak, itu lebih dari sekadar melangkah maju.

Untuk sesaat, Encrid melihat sebuah ilusi.

Ilusi lehernya sendiri yang tertebas.

Ilusi itu datang lebih dulu, reaksinya menyusul kemudian.

*Clang!*

Suara logam beradu logam, pedang melawan pedang, menggema di seluruh lapangan latihan.

Encrid menangkis serangan lawan dengan pedang yang baru terhunus setengah.

Kapan wanita itu menghunusnya?

Jika bukan karena insting yang lahir dari kematian yang tak terhitung jumlahnya, apakah ia akan mati? Atau apakah ia akan dihentikan?

Ia tidak bisa memastikan keduanya.

"Kau menangkisnya?"

Ia mendengar suara lawannya.

Suara itu terdengar cempreng dan bernada tinggi.

Pemiliknya adalah seorang wanita berambut pendek yang diikat kencang ke belakang.

Seorang wanita dengan wajah bulat yang tampak lembut, namun pedang di tangannya sama sekali tidak mencerminkan kelembutan itu.

"Mau lanjut lagi?"

Bersamaan dengan suara yang terdengar santai, bilah pedang itu kembali menyerbunya bagaikan badai.

Bagaimana ia harus menggambarkannya? Tidak ada kata lain selain badai.

Dalam sekejap, Encrid melihat sebilah pedang menebas dari atas kepalanya.

Ia juga melihat mata pedang menusuk perutnya.

Lehernya tertebas, lengannya buntung.

Pahanya tertusuk.

Ia bahkan melihat pedang menembus punggung kakinya.

Rasanya seperti berdiri telanjang di tengah badai.

Seperti menghadapi ombak pasang di atas perahu kecil.

*Jika aku tidak segera pergi dari sini, aku akan mati.*

Ketakutan akan kematian menyelimutinya.

Tidak peduli seberapa sering ia mengulang hari ini, tidak peduli apakah ada batu loncatan untuk berkembang di akhir nanti, mustahil bagi seorang manusia untuk sepenuhnya membuang dan melupakan rasa takut.

Encrid hanyalah orang gila yang tahu cara bertarung melawan rasa takutnya.

*Jika aku mundur.*

Di tengah badai bilah pedang, Encrid menyadari bahwa ia bisa menghindarinya jika ia mundur saja.

Yang harus ia lakukan hanyalah mundur, dan semuanya akan berakhir.

Ia tidak perlu lagi berdiri sendirian di tengah badai seperti ini.

Jadi, apakah ia akan mundur?

"Mimpi itu memang untuk direlakan."

"Apakah itu alasan mengapa kau agak memusingkan?"

"Apa kau gila? Apa? Seorang ksatria? Ampas tentara bayaran sepertimu?"

"Maaf, itu pertempuran nyata pertamaku."

"Pulanglah ke desamu. Jadilah petani, dan jika kau tidak menyukainya, bergabunglah dengan penjaga desa. Kau mungkin bisa menjadi kaptennya."

Disertai tawa mencemooh.

Wajah orang-orang yang melontarkan kata-kata seperti itu terlintas di pikirannya.

Jantungnya berdegup kencang seperti orang gila.

Mereka telah memberitahunya.

Untuk menyerah, bahwa semua itu tidak ada gunanya.

Mereka juga bertanya.

Apakah jalan yang ia tempuh adalah jalan yang benar.

Di tengah badai bilah pedang, Encrid tewas berkali-kali.

Namun, dunia tidak menjadi gelap, dan ia pun tidak melihat sang tukang perahu.

Ia hanya mati.

Dan mati lagi.

Ia mati berkali-kali.

Cahaya meredup.

Sebagai ganti sinar matahari fajar, bayang-bayang kematian membayangi.

Segala hal menghantam tubuhnya dengan siksaan dan rasa sakit.

Ia sudah tahu jawabannya.

Ia hanya perlu mundur.

Satu langkah saja sudah cukup.

Satu langkah ke belakang.

Badai bilah pedang mendesaknya untuk melakukan hal itu.

Badai itu menyuruhnya mundur, bahwa ini bukan tempat baginya untuk berdiri.

Dikatakan bahwa jika ia mundur saja, ia akan terbebas dari semua siksaan dan rasa sakit ini.

Ia tahu dan mengerti.

Namun, ia tidak bisa mundur.

Ia juga tahu bahwa mengambil satu langkah mundur di sini sebenarnya tidak akan memengaruhi ilmu pedang, tubuh yang terlatih, atau wujud fisiknya dengan cara apa pun.

Namun, ia tidak bisa mundur.

Bahkan saat tahu bahwa hanya dengan mundur, segalanya akan berakhir.

Namun, ia tidak bisa mundur.

Mimpinya yang memudar dan tercabik bertanya.

"Kau pikir kau bisa menjadi ksatria dengan cara seperti itu?"

Kata-kata orang-orang yang dilewatinya dalam hidup tidak menggoyahkan hatinya.

Karena memang tidak ada alasan untuk itu.

Namun yang ini berbeda.

Ini tidak boleh terjadi.

Momen saat ia memutuskan untuk menjadi ksatria.

Encrid telah memiliki pedang yang paling tajam.

Itu bisa disebut tekadnya, keyakinannya, kekeraskepalaannya.

Jika hatinya hancur, tidak akan ada tempat tersisa baginya untuk berpijak.

Ia tidak bisa menarik kembali langkah kaki yang telah diayunkannya ke depan, entah itu setengah langkah atau pun dengan merangkak.

Encrid bahkan tidak berpikir untuk mundur.

Ia hanya...

*Aku tidak cukup hebat.*

...menyadari kekurangannya sendiri.

Koordinasi tubuhnya, *Sense of Evasion*.

Bagaimana jika ia melatihnya, bagaimana jika ia akhirnya menguasainya dengan benar?

Orang yang mengajarinya? Atau bagaimana dengan *Heart of Power*?

Bahkan Teknik Isolasi dan gaya bertarung Balaph akan sangat membantu.

Bagaimana jika ia dengan setia mengasah dan melatih kemampuan dasarnya, sehingga ia bisa menjulurkan pedangnya lurus dan tepat seperti pria berkumis itu?

Karena semua itu bisa menjadi fondasi untuk mengatasi situasi ini.

Encrid tidak bisa mundur.

"Cukup."

Badai berakhir secepat ia bermula.

Begitu Frokk melangkah di antara mereka, badai itu lenyap seolah terbasuh.

"Huu."

Encrid mengembuskan napas yang sedari tadi ditahannya.

Jantungnya berdebar kencang seakan mau melompat keluar dari mulutnya.

Kakinya gemetar.

Ia ingin ambruk, namun ia menahannya.

Sebaliknya, ia memandang lawannya.

Wanita berambut pendek berwajah lembut itu.

Encrid berfokus pada satu keinginan tunggal.

Ia ingin tahu trik macam apa yang baru saja digunakannya.

"Aku belum pernah melihat orang sepertimu sebelumnya. Kau bahkan tidak tahu cara menghadapinya, tapi kau bisa bertahan? Jika bertahan sedikit lebih lama lagi, kau pasti sudah mati."

Penguasa badai yang melepaskannya dari samping Frokk itu angkat bicara.

"Siapa?"

Tanya Encrid, memaksa bibirnya yang enggan untuk terbuka.

"Aku? Aisha."

Sembari berucap, ia mengambil langkah maju.

*Flutter.*

Wanita yang melangkah maju itu membentangkan jubah yang disampirkan di lehernya dan membungkusnya ke sekeliling tubuh.

Jubah itu mengembang dengan kibasan ringan.

Warnanya merah menyala, membelah pagi yang berwarna oranye.

Jubah merah, seseorang bersama seorang Frokk, dikawal secara pribadi oleh Marcus... kalau begitu siapa dia?

"Ksatria Jubah Merah?"

Encrid bertanya balik, seolah bergumam pada diri sendiri, dan wanita itu mengangguk.

"Ksatria Magang Aisha."

Senyuman yang serasi dengan penampilannya yang lembut; senyum wanita itu tampak cerah dan polos.

Itu adalah akhirnya.

Berdiri kaku dan menatap kosong adalah hal terbaik yang bisa dilakukan Encrid.

Setelah itu, kesadarannya terputus.

Pandangannya menjadi gelap, dan sang tukang perahu pun muncul.

*Apakah aku mati?*

Tidak, rasanya tidak seperti itu.

Ia tidak mati.

Lalu, apakah ini mimpi?

Saat ia mengulang pertanyaan itu dalam hati,

"Ini adalah mimpi."

Ucap sang tukang perahu.

Sungguh luar biasa ia masih bisa mendengar kata-katanya, mengingat makhluk itu tidak memiliki mata, hidung, ataupun mulut.

"Aku akan mengawasinya."

Kata-kata sang tukang perahu berikutnya memicu pertanyaan lain di benak Encrid.

"Kau tidak mengawasinya sampai sekarang?"

Mendengar kata-kata itu, perahu yang terapung di Sungai Hitam tampak sedikit miring.

Secepat ia bermula, mimpi itu pun berakhir.

Kedipan kegelapan dan cahaya.

Di antara keduanya, hanya kata-kata terakhir sang tukang perahu yang menyapu telinganya.

"Jadi kau bolos latihan hari ini, ya?"

Apa? Kenapa kata-katanya terdengar seperti sedang meledekku?

Itu mungkin saja.

Tidak ada aturan yang mengatakan tukang perahu tidak boleh meledek orang.

Namun nada bicara dan kata-kata itu meninggalkan perasaan aneh.

Encrid mengabaikannya.

Jika itu adalah sesuatu yang tidak bisa ia pecahkan dengan merenung, mengabaikannya adalah jalan keluar terbaik.

Lagipula...

*Kurasakan kudengar suara Sachsen sebelum aku pingsan.*

* * *

Menyaksikan Encrid ambruk, Frokk itu mengulurkan tangan, lalu berhenti.

Seseorang telah menangkapnya dari belakang.

Rambut pirang kemerahan dan mata yang tenang.

"Gurauanmu keterlaluan."

*Cara bicaranya juga pelan.*

Frokk itu membatin, mengalihkan pandangannya ke samping.

Di sana, seorang pria yang memancarkan aura kasar sedang memelototinya dengan tajam.

"Apa yang coba kau lakukan sepagi ini?"

Rambut abu-abu dan mata abu-abu.

*Apakah dia dari perbatasan barat?*

Di belakangnya, ada juga seorang pria dengan perawakan besar seperti beruang.

"Ho ho, Kakak-Kakak sekalian, pagi yang indah, bukan? Bolehkah aku bertanya mengapa kalian melakukan ini pada Pemimpin Pasukan kami yang mungil dan berharga?"

*Ada apa dengan bajingan-bajingan ini.*

Frokk itu kembali membatin keheranan.

Di belakang ketiganya, seorang pria berambut pirang dan bermata merah yang memegang pedang juga terlihat.

Dia jelas seorang pria utara dengan ciri fisik yang khas.

Rambutnya acak-acakan dan ada bekas air liur yang jelas di sudut mulutnya.

*'Tapi caranya memegang pedang benar-benar...'*

...sangat kusukai.

Frokk itu datang ke sini atas permintaan Marcus.

Dia berkata bahwa dia ingin Frokk itu menilai bakat seseorang.

Karena dia ingin tahu apakah pria itu benar-benar memiliki kecocokan untuk menjadi seorang ksatria.

Makhluk itu baru saja mampir dalam perjalanan pulang, tepat setelah pertempuran di garis depan berakhir.

Mata seorang Frokk berbeda dari mata manusia atau peri.

Mereka bisa menilai bakat tertentu yang tidak bisa dipenuhi hanya lewat latihan.

Karena wawasan mereka yang unik, orang-orang menyebut Frokk yang berpengalaman sebagai 'Penentu Mampu', atau penilai bakat.

Frokk yang melangkah maju itu adalah seorang penilai bakat.

Bukannya dia bisa mengetahui segalanya hanya dalam sekali pandang, namun terkadang, cukup dengan melihat saja sudah memadai.

Terutama jika itu adalah permata yang bersinar sendirian bahkan di dalam lumpur.

Orang-orang ini persis seperti itu.

Di mata Frokk, mereka adalah individu-individu yang memiliki bakat satu berbanding sepuluh ribu, dan di antara mereka, satu berbanding seribu.

"Orang-orang ini?"

"Anggota Pasukan Gila."

Jawab Marcus dari belakang.

Dia sudah memberikan penjelasan singkat sebelumnya.

Bukankah dia sudah bilang kalau mereka semua adalah bajingan gila?

Dan sungguh suatu keajaiban mereka hanya mau mengikuti Pemimpin Pasukan mereka.

*'Sayang sekali, tapi...'*

Saat ini, dia tidak punya kemewahan untuk membawa mereka masuk.

Terlebih lagi, melihat permusuhan yang mereka tunjukkan sekarang, mereka bukanlah orang-orang yang bisa direkrut begitu saja.

Hanya karena mereka memiliki bakat seperti itu, bukan berarti mereka semua akan menjadi 'ksatria'.

Kenyataannya, tidak perlu menerima mereka.

Apa itu ksatria?

Itu adalah dunia di mana kau hampir tidak bisa melangkahkan kaki masuk bahkan jika kau memenuhi setiap syarat, dan gelar itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang berkumpul di dunia tersebut.

"Mereka sekelompok anak-anak yang menarik."

Ucap Aisha dari belakang.

Dia bukan tipe orang yang suka berperang.

Dia hanya melakukan tes yang diinginkan Marcus, persis seperti yang dimintanya.

Sembari berbicara, Aisha menunjukkan telapak tangannya.

Tanda bahwa dia tidak berniat untuk bertarung.

Jika Encrid tahu, dia pasti akan sangat terkejut.

Setelah serangan pertama, dia telah memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung dan tidak pernah menghunusnya lagi.

Semuanya dilakukan hanya dengan Aura dan tekanannya.

Menggunakan Aura dan tekanan, dengan kata lain, intimidasi, untuk membuat lawan pingsan.

Itu benar-benar sesuatu yang tidak bisa dibayangkan oleh siapa pun di bawah tingkat ksatria magang.

Pada kenyataannya, itu juga merupakan hal yang sangat tidak efisien untuk dilakukan.

Lebih baik memukulnya sekali saja dan membuatnya pingsan.

Apa perlunya bertindak sejauh ini, menyebarkan Aura ke mana-mana?

Energi mental yang terkuras juga sangat besar.

Aisha hanya melakukannya karena dia tidak bisa menolak permintaan Marcus.

Sebuah ujian untuk tunas muda yang menjanjikan, hanya itu saja.

Tidak ada alasan bagi aura ancaman untuk saling dipertukarkan.

Terlebih lagi, satu kata dari Marcus langsung menarik perhatian mereka semua.

"Jadi? Bisakah dia menjadi ksatria?"

Jika ada potensi, dia bisa menjadi seorang Squire.

Itu berarti dia akan segera ditempatkan di bawah naungan seorang ksatria dari ordo tersebut.

Sebuah hadiah dari Marcus.

Memang, nilainya tidaklah rendah.

Apa mimpi Encrid?

Apa yang dia harapkan, apa yang paling dia inginkan.

Bukankah itu yang membuat sebuah hadiah menjadi berharga?

Marcus berpikir bahwa dia memanfaatkan apa yang dipelajarinya di dunia politik dengan baik.

Dia telah mempersiapkan apa yang paling diinginkan oleh orang lain itu.

Pertanyaan pun diajukan.

Aisha berbicara lebih dulu.

"Tidak."

Diikuti oleh sang Frokk.

"Mustahil."

Apa itu ksatria?

Kumpulkan sepuluh ribu orang berbakat.

Dari mereka, saring seribu orang.

Dan dari seribu orang itu, saring lagi dan saring lagi hingga tersisa sedikit sekali.

Mereka yang memasuki dunia tersebut dengan usaha mereka sendiri disebut ksatria.

"Orang ini akan sulit. Bagaimana dengan yang di sebelah sana? Apakah kau tertarik?"

Tanya Frokk, menatap ke arah satu orang secara spesifik.

Tempat di mana mata bulat besarnya yang mirip kodok terfokus adalah Ragna.

Ragna mengerjapkan matanya yang masih lengket karena kantuk dan berkata.

"Tidak tertarik."

Jauh dari Pemimpin Pasukannya, dia hanyalah seorang prajurit pemalas.

Dia tahu betul hal ini, jadi tentu saja, dia menolaknya.

*'Yah, kalau begini...'*

Frokk itu mencecap bibirnya kecewa.

Melihat mereka, mereka tampak seperti tipe pria yang sangat diidamkan oleh para Frokk betina.

Selain itu, mereka sangat terampil, jadi dia pikir akan sangat menyenangkan jika mereka bergabung dengan ordo ksatria.

Dia menolak?

Bahkan tawaran dari Ksatria Jubah Merah?

Dia tidak bisa membawa semuanya, tapi setidaknya dia bisa menerima satu orang.

"Sekelompok teman yang menarik. Aku sudah mengabulkan permintaanmu. Jangan lupakan itu, Tuan Komandan Batalion Marcus."

"Ah, tentu saja."

Aisha dan Marcus bertukar kata di belakang mereka.

Aisha menepuk punggung sang Frokk.

"Apa yang kau lakukan? Ayo pergi."

Mereka berdua sama-sama orang sibuk.

Mereka harus kembali ke ibu kota dan melaporkan perjanjian damai Azpen menyusul berita kemenangan tersebut.

Di samping itu, mereka memiliki segunung urusan lain yang harus diselesaikan.

"Aku akan tinggal beberapa hari lagi sebelum pergi."

"Hah, apa?"

Aisha memiringkan kepalanya.

Kuncir kudanya yang terikat kencang berayun dari satu sisi ke sisi lain.

Apa yang sedang dibicarakannya?

"Kau pergilah duluan."

Ucap sang Frokk.

Aisha hendak mengatakan sesuatu, tetapi menutup mulutnya kembali.

Kenyataannya, tidak akan ada masalah jika dia pergi sendirian.

Keanggotaannya adalah buktinya.

Dia adalah anggota Ksatria Jubah Merah.

Tidak masalah bahkan jika Frokk tidak menambahkan kata-kata apa pun.

Terlebih lagi, bukankah ras Frokk adalah sekumpulan kaum hedonis yang tidak bisa mengendalikan keinginan dan ketertarikan mereka sendiri?

Jadi, membiarkannya saja adalah jalan terbaik.

Dia menduga Frokk itu pasti menaruh minat pada prajurit berambut merah itu.

"Baiklah kalau begitu."

Dengan kata-kata itu, Aisha berbalik pergi.

Dan Benzens, who had coincidentally volunteered for night watch, also watched all of this unfold. (Wait, let's translate this fully: Dan Benzens, yang secara kebetulan mengajukan diri untuk tugas jaga malam, juga menyaksikan semua ini terjadi.)

Dia keluar untuk latihan pagi demi mengatakan sesuatu kepada Encrid, kesal dengan tindakan memalukan yang dilakukannya di perjamuan, tetapi akhirnya malah menyaksikan semuanya.

Tidak ada yang memedulikannya.

Fakta bahwa jalan menjadi ksatria mustahil bagi Encrid—apa hebatnya hal itu?

Dunia ini penuh dengan orang-orang seperti itu.

"Aku akan menumpang di tempatmu selama beberapa hari."

Kata Frokk kepada Marcus.

Marcus mengangguk.

Meninggalkan Encrid yang tidak sadarkan diri, pertemuan pagi itu pun berakhir.

Encrid

Encrid

Karakter Utama
Ragna Zaun

Ragna Zaun

Pendukung
Rem

Rem

Pendukung
Audin Pumrei

Audin Pumrei

Pendukung
Sachsen Benzino

Sachsen Benzino

Pendukung
Kreise Allman

Kreise Allman

Pendukung
Shinar Kirhais

Shinar Kirhais

Pendukung
Esther

Esther

Heroine
Dunbachel

Dunbachel

Pendukung
Finn

Finn

Pendukung
Luagarne

Luagarne

Pendukung

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.

Komentar (...)

Masuk untuk ikut berdiskusi di kolom komentar